πŸ“š Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 20 dokumen

PERANCANGAN BERBASIS PRINSIP KALEIDOSKOPIK UNTUK EKSPLORASI PERSEPSI RUANG TERBATAS MELALUI RUANG IMERSIF SEBAGAI MEDIA RESTORATIF PADA MASYARAKAT URBAN USIA 18–35 TAHUN

Keterbatasan ruang pada hunian modern di lingkungan urban dapat memengaruhi persepsi psikologis pengguna, seperti munculnya rasa sempit, tertekan, dan meningkatkan potensi stres. Kondisi ini memerlukan pendekatan desain yang mampu meningkatkan kualitas pengalaman spasial tanpa menambah dimensi fisik ruang. Penelitian ini bertujuan merancang ruang imersif berbasis prinsip kaleidoskopik sebagai media eksplorasi persepsi ruang terbatas dengan pendekatan Design Thinking yang berpusat pada manusia (human-centered design). Prinsip kaleidoskopik yang melibatkan refleksi, repetisi, simetri, dan fragmentasi visual dimanfaatkan untuk menciptakan ilusi visual yang memberikan kesan ruang lebih luas, dinamis, dan menenangkan. Proses perancangan dilakukan melalui tahapan empathize, define, ideate, prototype, dan test dengan mempertimbangkan pengalaman visual dan respon emosional pengguna. Hasil perancangan diharapkan menghasilkan media visual imersif yang mampu meningkatkan persepsi ruang sekaligus membantu mengurangi stres, serta memberikan kontribusi pada pengembangan pendekatan eksperimental Desain Komunikasi Visual terkait ruang terbatas

2026
πŸ‘€ Penulis: Ayasha Luna Khalila
🏷️ Desain Komunikasi Visual 🏷️ Ruangan Terbatas 🏷️ Design Thinking

PERANCANGAN KAMPANYE IKEA MELALUI PENDEKATAN KOMUNIKASI ASERTIF BAGI PASANGAN BARU MENIKAH DI PERKOTAAN

Konflik kerap muncul dalam hubungan interpersonal romantis, termasuk pada pasangan baru menikah yang sedang beradaptasi dengan kebiasaan domestik satu sama lain. Konflik seperti lupa menata handuk atau pembagian pekerjaan rumah dapat bereskalasi menjadi argumen berulang bila tidak ditangani dengan pola komunikasi yang sehat. Tugas akhir ini menggarap kampanye IKEA untuk pasangan baru menikah guna mendorong audiens membenahi pola komunikasi menuju asertivitas melalui I-Statement. Perancangan didasari design thinking dan metode kualitatif, dengan data yang diolah mengacu pada teori Integrated Marketing Communication dan AISAS agar kampanye relevan, mudah diterima, diakses, dan dipraktikkan audiens

2026
πŸ‘€ Penulis: Nasyareen Nugraha
🏷️ Komunikasi Asertif 🏷️ Hubungan Pasangan Baru Menikah 🏷️ Design Thinking

PENGEMBANGAN PROPOSISI NILAI PADA USAHA MINUMAN SEHAT MELALUI PENDEKATAN DESIGN THINKING UNTUK MENCAPAI KELAYAKAN KOMERSIAL AWAL: STUDI KASUS VSPARK

Penelitian ini membahas pengembangan dan validasi proposisi nilai Vspark sebagai usaha fruit-infused tea tahap awal dalam pasar minuman sehat siap minum. Meskipun Vspark memperoleh respons awal yang positif melalui pengujian kampus, bazar komunitas, aktivasi olahraga, dan siklus pre-order, minat mencoba belum secara konsisten berubah menjadi pembelian ulang. Kondisi ini menunjukkan bahwa proposisi nilai Vspark masih belum tervalidasi secara jelas. Berlandaskan konsep Problem-Solution Fit, Product-Market Fit, perilaku konsumen sebagai lensa pendukung, Design Thinking, dan Value Proposition Design, penelitian ini menggunakan kerangka terintegrasi untuk mendiagnosis dan menyempurnakan proposisi nilai Vspark. Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif berbasis desain melalui 15 wawancara semi-terstruktur dan pengujian prototipe MVP dengan 10 partisipan, yang didukung oleh analisis tematik, SPA Framework, Strategy Canvas, Empathy Map, Value Proposition Canvas, Innovation Trifecta, evaluasi prototipe, wawancara lanjutan, dan Business Model Canvas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa segmen masuk yang paling layak adalah Practical Value Seeker, yaitu konsumen urban Gen Z dan younger Millennial yang mengevaluasi minuman sehat berdasarkan kepraktisan, keterjangkauan harga, kemudahan akses, kejelasan informasi produk, dan kesesuaian untuk konsumsi rutin. Diagnosis kesesuaian nilai mengidentifikasi tiga kesenjangan utama, yaitu pengalaman produk dan kemudahan penggunaan, kepercayaan dan transparansi, serta aksesibilitas dan nilai yang sepadan dengan harga. Hasil pengujian prototipe menunjukkan bahwa Prototype C memperoleh performa terbaik karena lebih mudah diminum, lebih sesuai untuk konsumsi harian, dan lebih sepadan dari sisi porsi. Sementara itu, Prototype B memberikan kontribusi pada sinyal kepercayaan, sedangkan Prototype A memberikan pembelajaran terkait kemudahan penggunaan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Vspark perlu menyempurnakan proposisi nilainya menjadi fruit-infused tea yang ramah untuk konsumsi rutin, menyegarkan, lebih ringan, praktis, transparan, dan sepadan dengan harga untuk konsumsi sehari-hari. Penyempurnaan tersebut perlu didukung oleh informasi label yang lebih jelas, peningkatan kemudahan penggunaan terpilih, saluran distribusi yang terkontrol, dan strategi pilot sebelum ekspansi pasar yang lebih luas.

2026
πŸ‘€ Penulis: Vincent Nathaniel Jusuf
🏷️ Design Thinking 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Minuman Sehat 🏷️ Value Proposition Design

INOVASI MODEL BISNIS UNTUK EKSPANSI BISNIS MELALUI PENDEKATAN DESIGN THINKING DAN CUSTOMER JOURNEY: STUDI SEKA LIVING

Pemerintah Indonesia telah meluncurkan Program Tiga Juta Rumah, sebuah inisiatif nasional untuk mempercepat pembangunan hunian terjangkau guna mengurangi backlog perumahan serta meningkatkan akses kepemilikan rumah bagi masyarakat, khususnya generasi Milenial dan Generasi Z. Kebijakan ini membuka peluang bagi pengembang skala kecil dan menengah untuk berkontribusi dalam penyediaan rumah tapak dan klaster perumahan yang sejalan dengan target nasional. Namun demikian, SEKA Living sebagai pengembang properti yang sedang berkembang menghadapi sejumlah tantangan strategis dalam merespons peluang tersebut. Perusahaan mengalami kinerja penjualan yang fluktuatif dan tidak dapat diprediksi, struktur organisasi dan proses bisnis yang masih sangat bergantung pada pihak ketiga tanpa dukungan basis data internal, serta perubahan perilaku konsumen yang semakin menuntut transaksi instan dan skema pembiayaan paylater. Kedua isu tersebut, model bisnis dan pergeseran perilaku konsumen, merepresentasikan permasalahan fundamental yang harus diselesaikan agar SEKA Living dapat tetap kompetitif. Dalam konteks ini, Model Bisnis Inovasi (BMI) dan Pemetaan Perjalanan Pelanggan menjadi konsep yang relevan untuk diterapkan, karena keduanya dapat membantu perusahaan melakukan rekonstruksi model bisnis yang berkelanjutan sekaligus memetakan pengalaman pelanggan yang selaras dengan ekspektasi generasi baru. Penelitian ini mengadopsi pendekatan metode campuran berurutan (sequential mixed method) dengan mengombinasikan data kualitatif (wawancara mendalam) dan data kuantitatif (survei kuesioner). Penelitian ini menggunakan pendekatan sequential mixed method. Data kuantitatif terlebih dahulu digunakan untuk membangun konteks sosio-demografis serta memetakan profil perilaku target pasar SEKA Living. Temuan ini menjadi dasar bagi tahap kualitatif yang dilaksanakan dalam kerangka Design Thinking. Melalui wawancara mendalam, penelitian menggali pengalaman pelanggan pada tahap empathize dan define untuk mengidentifikasi permasalahan inti. Berdasarkan hasil tersebut, ide solusi dikembangkan pada tahap ideate dan selanjutnya divalidasi kembali menggunakan analisis kuantitatif untuk merancang ulang Business Model Innovation (BMI) dan Customer Journey (CJ) SEKA Living. Strategi yang dihasilkan kemudian disempurnakan dan dievaluasi melalui tahap prototype dan testing. Dari isu bisnis menunjukkan bahwa tantangan utama SEKA Living disebabkan oleh ketergantungan pada pihak ketiga dalam akuisisi pelanggan, ketiadaan basis data internal, serta ketidaksesuaian model bisnis saat ini dengan perilaku konsumen yang baru. Penelitian ini mengidentifikasi sejumlah arah strategis bagi SEKA Living, termasuk perancangan ulang mekanisme akuisisi pelanggan, peningkatan kapabilitas pengelolaan data dan informasi, peningkatan pengalaman pembelian properti, serta rekonfigurasi organisasi agar lebih selaras dengan perubahan perilaku pelanggan dan dinamika pasar. Penelitian ini berkontribusi dengan menunjukkan bagaimana pengembang properti skala kecil di Indonesia, seperti SEKA Living, dapat beradaptasi terhadap pergeseran perilaku konsumen dan tekanan persaingan, sekaligus mendukung target nasional penyediaan perumahan melalui integrasi desain perjalanan pelanggan, inovasi model bisnis, dan pendekatan design thinking.

2026
πŸ‘€ Penulis: Claudia Wirahadi
🏷️ Desain Perjalanan Pelanggan 🏷️ Inovasi Model Bisnis 🏷️ Design Thinking

MENINGKATKAN KEPUASAN PENGALAMAN PELANGGAN DAN EFISIENSI OPERASIONAL MELALUI INOVASI MODEL BISNIS DENGAN PENDEKATAN DESIGN THINKING PADA SALEEYA FLORIST

Industri florikultura di Indonesia merupakan bagian dari sektor ekonomi kreatif yang terus berkembang. Permintaan tidak hanya dipicu oleh acara tradisional seperti pernikahan dan wisuda, tetapi juga oleh perubahan gaya hidup generasi milenial dan Gen Z. Bunga kini dipandang sebagai medium ekspresi diri, personal branding, dan estetika gaya hidup. Di Bandung, yang dikenal dengan ekosistem ekonomi kreatifnya, Saleeya Florist berdiri pada tahun 2023 dengan konsep unik Omakase, di mana pelanggan mempercayakan sepenuhnya desain rangkaian bunga kepada florist. Konsep ini membedakan Saleeya dari florist konvensional, namun juga menghadirkan tantangan yang menghambat pertumbuhan berkelanjutan. Tiga isu utama yang muncul adalah: pertama, banyak pelanggan kesulitan mengungkapkan preferensi mereka, sehingga terjadi kesenjangan antara ekspektasi dan hasil rangkaian. Kedua, ketergantungan pada pekerja paruh waktu tanpa pelatihan terstruktur atau alur kerja yang jelas menimbulkan inkonsistensi kualitas layanan, terutama pada musim sibuk. Ketiga, bisnis masih sangat bergantung pada puncak musim tertentu seperti Hari Valentine atau periode wisuda, yang mengakibatkan pendapatan tidak stabil dan sulit untuk ditingkatkan skala pertumbuhannya. Tantangan yang saling terkait ini menegaskan perlunya proses inovasi yang terstruktur, yang mampu menyeimbangkan kreativitas, kepercayaan pelanggan, dan efisiensi operasional. Penelitian ini menggunakan Design Thinking sebagai pendekatan metodologis utama dan Business Model Innovation (BMI) sebagai kerangka konseptual. Design Thinking, melalui tahapan iteratifβ€”empathize, define, ideate, prototype, dan testβ€” menyediakan proses berpusat pada manusia untuk mengidentifikasi masalah dan menciptakan solusi. Sementara itu, BMI yang dioperasionalkan melalui Business Model Canvas (BMC) serta pola disrupsi dari The Invincible Company (Osterwalder et al., 2020), memungkinkan konfigurasi ulang secara sistematis pada elemen frontstage (value proposition, customer segments, channels, relationships) maupun backstage (resources, activities, partnerships). Integrasi kedua kerangka ini memastikan solusi yang dihasilkan berorientasi pelanggan, layak secara operasional, dan berkelanjutan secara strategis. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pelanggan, wawancara internal dengan staf, observasi proses pemesanan melalui WhatsApp dan Instagram, serta benchmarking dengan florist dan dekorator acara lain. Analisis data dilakukan menggunakan empathy mapping dan business model mapping. Pendekatan multimethod ini memberikan pemahaman holistik atas pengalaman pelanggan dan praktik operasional, sehingga temuan yang dihasilkan kaya akan wawasan sekaligus relevan secara praktis. Hasil penelitian diharapkan mencakup tiga capaian utama: meningkatnya kepuasan pelanggan melalui alat yang lebih baik untuk menangkap preferensi dan komunikasi yang transparan, konsistensi operasional yang lebih terjamin melalui alur kerja terstruktur dan manajemen pekerja paruh waktu, serta pendapatan yang lebih stabil melalui diversifikasi layanan seperti workshop, langganan korporat, dan kolaborasi acara. Kontribusi penelitian ini terletak pada kemampuannya menunjukkan bagaimana bisnis kreatif skala kecil dapat mengintegrasikan Design Thinking dan BMI untuk menjawab tantangan umum dalam pengalaman pelanggan dan operasional. Secara konseptual, studi ini memperlihatkan bagaimana riset berorientasi empati dapat diterjemahkan menjadi inovasi model bisnis yang nyata. Secara praktis, penelitian ini menawarkan strategi yang jelas bagi Saleeya Florist untuk membangun ketahanan dan skalabilitas di industri yang kompetitif dan musiman.

2026
πŸ‘€ Penulis: Nadya Aisyah Prabowo
🏷️ Design Thinking 🏷️ Business Model Innovation (Bmi) 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

BAGAIMANA AKTIVITAS PEMASARAN MEDIA SOSIAL DI INSTAGRAM MEMBENTUK PERCEIVED VALUE, PERCEIVED QUALITY, DAN KEPERCAYAAN UNTUK MENDORONG NIAT PEMESANAN: STUDI KASUS DESIGN THINKING PADA GRADBYAUNEE DI BANDUNG

Industri fotografi wisuda outdoor di Indonesia berkembang sebagai ekosistem jasa kreatif berbasis freelance yang sangat bergantung pada media sosial sebagai saluran utama untuk penemuan, evaluasi, dan inisiasi transaksi. Untuk jasa berbasis pengalaman seperti fotografi wisuda, Instagram tidak hanya berfungsi sebagai media portofolio, tetapi juga sebagai ruang evaluasi tempat calon pelanggan menilai kualitas layanan, kredibilitas, dan nilai yang dirasakan sebelum memutuskan untuk melakukan kontak. Gradbyaunee, penyedia jasa fotografi wisuda outdoor yang beroperasi di Jakarta, Bandung, dan Semarang, mengalami penurunan kinerja pemesanan yang signifikan di pasar Bandung selama periode 2024-2025, meskipun kinerja di kota lain relatif stabil. Penurunan ini terjadi bersamaan dengan tingkat inquiry yang masih cukup tinggi, sehingga mengindikasikan adanya kesenjangan antara eksposur media sosial dan konversi pemesanan yang aktual. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji mengapa aktivitas pemasaran media sosial Gradbyaunee belum mampu membentuk perceived value, perceived quality, dan trust yang kuat di kalangan audiens Bandung, serta bagaimana persepsi tersebut memengaruhi kepuasan pelanggan dan niat pemesanan. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi elemen aktivitas pemasaran media sosial yang paling berpengaruh dalam membentuk persepsi tersebut sepanjang perjalanan pelanggan dari Instagram hingga keputusan pemesanan. Pendekatan penelitian kualitatif digunakan dengan mengadopsi metodologi Design Thinking yang diintegrasikan dengan kerangka Stimulus-Organism-Response (S-O-R). Aktivitas pemasaran media sosial diposisikan sebagai stimulus, perceived value, perceived quality, dan trust sebagai organism, serta booking intention sebagai response. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan calon pelanggan dan pelanggan terbaru di Bandung, dengan fokus pada persepsi mereka terhadap konten Instagram Gradbyaunee, pengalaman inquiry, dan proses pengambilan keputusan. Temuan wawancara tersebut kemudian dilengkapi dengan sesi pengujian prototipe untuk mengevaluasi perubahan persepsi sebelum dan sesudah penerapan intervensi desain yang ditujukan untuk meningkatkan kejelasan komunikasi dan kesiapan pemesanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendahnya konversi pemesanan tidak terutama disebabkan oleh sensitivitas harga atau keraguan terhadap kualitas layanan, melainkan oleh komunikasi proposisi nilai yang kurang jelas, lemahnya isyarat lokalisasi, serta terbatasnya konten interaktif di media sosial. Meskipun portofolio visual dan konsistensi konten Gradbyaunee berkontribusi positif terhadap perceived quality dan pembentukan trust awal, elemen tersebut belum cukup untuk mendukung kesiapan pemesanan. Audiens sering mengalami ketidakpastian terkait prosedur pemesanan, ruang lingkup deliverables, serta relevansi lokal, yang pada akhirnya melemahkan trust dan menurunkan kepercayaan untuk melakukan pemesanan. Elemen social proof seperti testimoni dan tag klien terbukti meningkatkan kredibilitas, namun dampaknya terbatas akibat kurangnya narasi kontekstual dan pendekatan lokal yang relevan dengan audiens Bandung. Penelitian ini memberikan kontribusi praktis berupa rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti untuk meningkatkan strategi pemasaran media sosial yang terlokalisasi, khususnya melalui komunikasi nilai yang lebih jelas, penguatan isyarat lokal, dan pemanfaatan format konten yang lebih interaktif untuk mendukung pembentukan trust dan peningkatan konversi. Secara akademik, penelitian ini memperluas penerapan kerangka S-O-R dengan mengintegrasikannya ke dalam pendekatan Design Thinking pada konteks jasa kreatif berbasis pengalaman, serta menunjukkan bagaimana insight kualitatif dan prototyping iteratif dapat digunakan untuk mengidentifikasi dan mengatasi kesenjangan persepsi dalam perjalanan pelanggan digital.

2026
πŸ‘€ Penulis: Muhammad Amien Jauhari
🏷️ Design Thinking 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

INOVASI BISNIS PROSES UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI OPERASIONAL (STUDI KASUS: PT. TRITON GLOBAL MARITIM)

Studi ini Adalah tentang PT Triton Global Maritim, perusahaan Offshore Support Vessel (OSV) di Indonesia sedang mengalami masalah terkait efisiensi yang mengakibatkan tambahan biaya yang meningkat secara tidak terduga dalam perusahaan. Investigasi internal dilakukan untuk mencari akar utama dari masalah tersebut, dan hasil investigasi menunjukan bahwa terdapat tambahan biaya terjadi dikarenakan tidak efisiennya proses dokumen yang mengakibatkan prosesnya lebih lama dikarenakan quantitas dokumen yang banyak dan terjadinya kesalahan manusia yang mengakibatkan keterlambatan yang berujung pada terjadinya biaya tambahan. Oleh karena itu, direktur memerintah untuk membuat Enterprise Resource Planning (ERP) yang cocok untuk perusahaan, yang diawali dari divisi pengadaan barang dan logistik. Ini mengarah ke bagaimana secara efektif mencari masalah pengguna yang bisa diatasi dengan ERP. Riset ini menjawab bagaimana cara membuat ERP yang bisa mengatasi masalah efisiensi yang dialami pengguna dan direktur di PT Triton Global Maritim dan cara untuk mengukur apabila ERP yang dibuat terbukti efektif dalam meningkatkan efisiensi operasional tim pengadaan barang dan logistik. Untuk mencari masalah dalam proses dan memecahkan masalah secara efisien, metode pendekatan Design Thinking dan Agile Scrum digunakan. Riset ini menggunakan kombinasi pendekatan Design Thinking untuk menemukan dan memecah isu pengguna, yang kemudian dilanjutkan oleh pendekatan Agile Scrum untuk mengimplementasi fitur yang ada di dalam ERP. Berdasarkan data yang diambil dari diskusi kelompok terarah dengan user tim pengadaan barang dan logistik dan wawancara direktur, fase Design Thinking terdapat beberapa issue yang pengguna temukan di setiap proses kerja pengadaan barang dan logistik yang mengakibatkan inefisiensi dan justifikasi direktur dalam memilih keputusan pembuatan internal ERP. Data akan digunakan untuk membuat simulasi prototipe dengan Figma yang akan dipresentasikan untuk persetujuan sebelum diimplementasikan pembuatannya. Setelah persetujuan, implementasi dengan pendekatan Agile Scrum dilaksanakan dalam waktu 4 minggu sebelum ditunjukan ke pengguna dan direktur dalam bentuk rapat. Terdapat beberapa revisi selama presentasi prototipe ERP, seperti contohnya adalah terdapat revisi pada saat pemberian masukan pada saat mempresentasikan prototipe ERPnya yang berhubungan dengan bisnis proses sekarang, yangdiimana setiap proses dari satu proses ke proses lain dibutuhkan update proses berupa tahap verifikasi dalam berbentuk persetujuan, yang Dimana proses tersebut langsung direvisi karena prioritas yang cukup mendesak, yang dimana perlu diupdate dari bisnis proses yang lama ke bisnis proses yang baru. Selain revisi utama, terdapat beberapa revisi lain, yang bisa digunakan untuk sprint selanjutnya. Secara garis besar, pengguna dan direktur setuju dengan fitur ERP yang ada di divisi pengadaan barang dan logistik. Setelah pendekatan Agile Scrum dilakukan, melakukan pengujian dengan pendekatan lead time dilakukan untuk membandingkan proses dengan ERP yang waktunya diambil dari analisis web dengan menggunakan fitur dashboard yang sudah ada untuk mengitung proses pengerjaan proses yang mendekati proses realistis dengan proses yang sekarang ada, yang diambil datanya dari diskusi kelompok terarah. Hasilnya menunjukan bahwa terjadi peningkatan efisiensi secara waktu dengan menggunakan prototipe ERP yang baru sekitar 307% - 800% per dokumen secara rata-rata dalam menyelesaikan proses dokumen, membuktikan ERP dan fitur baru yang ada di dalamnya untuk divisi pengadaan barang dan logistik dapat membantu pengguna tim pengadaan barang dan logistik dalam meningkatkan efisiensi operational dan memecahkan masalah yang ada sebelumnya di tim pengadaan barang dan jasa.

2026
πŸ‘€ Penulis: Rifqi Ihsan Nabil
🏷️ Enterprise Resource Planning (Erp) 🏷️ Design Thinking 🏷️ Agile Scrum

PERANCANGAN DAN EVALUASI SISTEM OBJECTIVES AND KEY RESULTS (OKR) BERBASIS DESIGN THINKING UNTUK KESELARASAN STRATEGIS PADA USAHA KECIL DAN MENENGAH

Usaha Kecil dan Menengah (UKM) memiliki peran penting dalam perekonomian, namun sering menghadapi tantangan dalam menerjemahkan visi strategis ke dalam pelaksanaan operasional yang terstruktur dan konsisten. Keterbatasan sumber daya, tingkat kematangan manajerial yang beragam, serta proses perencanaan yang cenderung informal menyebabkan kesenjangan antara strategi dan eksekusi. Kondisi ini berdampak pada rendahnya keselarasan antar fungsi, kurangnya kejelasan prioritas, serta kesulitan dalam memantau capaian kinerja secara terintegrasi. Dalam konteks tersebut, Objectives and Key Results (OKR) muncul sebagai kerangka manajemen kinerja yang adaptif dan berorientasi pada tujuan. Namun, implementasi OKR di lingkungan UKM tidak selalu berjalan efektif karena sering kali dirancang tanpa mempertimbangkan konteks organisasi, kesiapan pengguna, dan dinamika pemangku kepentingan. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan mengevaluasi sistem Objectives and Key Results (OKR) yang kontekstual dan dapat dioperasikan secara efektif oleh UKM melalui pendekatan Design Thinking. Design Thinking digunakan sebagai kerangka perancangan karena menekankan pemahaman mendalam terhadap kebutuhan pengguna, kolaborasi lintas pemangku kepentingan, serta proses iteratif dalam pengembangan solusi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif terapan dengan studi kasus pada Twostrap sebagai representasi UKM. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semiterstruktur dengan pemangku kepentingan kunci, observasi aktivitas organisasi, analisis dokumen internal, lokakarya kolaboratif, serta pengumpulan umpan balik pasca implementasi prototipe sistem OKR. Proses perancangan sistem OKR dilakukan melalui lima tahapan Design Thinking, yaitu empathize, define, ideate, prototype, dan test. Tahap empathize difokuskan pada eksplorasi pengalaman dan tantangan pemangku kepentingan dalam pengelolaan tujuan dan kinerja. Tahap define merumuskan permasalahan inti terkait keselarasan strategis. Tahap ideate menghasilkan alternatif desain sistem OKR yang relevan dengan konteks UKM. Selanjutnya, prototipe sistem OKR dikembangkan dan diuji secara terbatas. Evaluasi sistem dilakukan menggunakan Technology Acceptance Model (TAM) untuk menilai persepsi kegunaan dan kemudahan penggunaan dari perspektif pengguna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan Design Thinking memungkinkan integrasi perspektif pemangku kepentingan ke dalam perancangan sistem OKR, sehingga memperkuat keselarasan antara tujuan strategis dan aktivitas operasional sehari-hari. Evaluasi menunjukkan bahwa sistem OKR yang dirancang dipersepsikan relevan, mudah dipahami, dan mendukung kejelasan arah strategis, akuntabilitas, serta koordinasi lintas fungsi. Penelitian ini memberikan kontribusi praktis berupa model perancangan dan evaluasi sistem OKR yang human-centered dan aplikatif bagi UKM, serta kontribusi akademik dengan memperkaya kajian mengenai adopsi OKR melalui pendekatan Design Thinking dalam konteks organisasi berskala kecil dan menengah.

2025
πŸ‘€ Penulis: Geris Pradhana Anindhiya
🏷️ Design Thinking 🏷️ Objectives And Key Results (Okr) 🏷️ Manajemen Strategis Ukm

INOVASI MODEL BISNIS UNTUK EKSPANSI REGIONAL YANG DAPAT DISKALAKAN PADA LEMBAGA PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS: SEBUAH STUDI PROTOTYPING BERBASIS DESIGN THINKING

UP Speaking Learning Centre (UP SLC) merupakan sebuah lembaga pendidikan bahasa Inggris yang berkembang pesat di wilayah semi-perkotaan, di mana kebutuhan terhadap pengalaman belajar bahasa yang fleksibel dan terjangkau semakin meningkat. Seiring bertambahnya peluang ekspansi, organisasi menghadapi tantangan strategis yang umum dialami penyedia layanan pendidikan di pasar berkembang: bagaimana memperluas jangkauan secara berkelanjutan tanpa mengorbankan kualitas layanan, efisiensi operasional, dan keselarasan dengan kebutuhan para pemangku kepentingan. Pembukaan cabang konvensional membutuhkan investasi modal yang besar, periode pengembalian yang panjang, serta struktur operasional yang kompleks, sehingga tidak selalu mampu mendukung pertumbuhan yang cepat. Pada saat yang sama, peserta didik, tutor, dan mitra usaha mengharapkan lingkungan belajar yang lebih mudah diakses, menarik, dan terintegrasi dengan komunitas. Kombinasi faktor-faktor ini menciptakan persoalan ilmiah dan manajerial yang perlu dikaji secara sistematis: bagaimana mengidentifikasi strategi model bisnis alternatif dan kerangka operasional yang memungkinkan ekspansi regional secara berkelanjutan tanpa mengulangi keterbatasan model cabang tradisional. Berdasarkan isu tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi, merancang, dan mengevaluasi sebuah inovasi model bisnis bagi UP SLC melalui pendekatan terpadu antara design thinking, wawasan kualitatif, serta prototyping tahap awal. Penelitian ini mengikuti empat tahapan utama. Tahap pertama menggali kebutuhan, keterbatasan, dan aspirasi pemangku kepentingan melalui pendekatan empati, sehingga memungkinkan penelitian menyusun proposisi awal mengenai model nilai yang relevan bagi pasar semi-perkotaan. Tahap kedua menerapkan proses ideasi dan eksplorasi model bisnis untuk menghasilkan alternatif strategi, yang kemudian mengarah pada identifikasi model micro-hub berbasis kafe sebagai konfigurasi yang menjanjikan untuk ekspansi yang dapat diskalakan. Tahap ketiga mengembangkan kerangka operasional yang selaras dengan model tersebut, meliputi alur administrasi, mekanisme kemitraan, adaptasi pengajaran, kesiapan tutor, dan proses digital. Tahap keempat mengevaluasi kelayakan, ketertarikan, dan keberlanjutan model melalui pengujian di lingkungan nyata, penilaian survei, wawancara, serta siklus penyempurnaan. Fondasi metodologis penelitian ini menggabungkan design thinking, logika inovasi model bisnis, serta evaluasi berpusat pada pengguna. Asumsi yang mendasari penelitian mencakup ekspektasi bahwa model pembelajaran berbasis komunitas dapat mengurangi kebutuhan modal, meningkatkan fleksibilitas, dan memperkuat keterlibatan pengguna dibandingkan cabang tradisional. Proposisi yang dirumuskan selama proses eksplorasi menunjukkan bahwa kesiapan operasional, keandalan digital, konsistensi pedagogis, dan keselarasan pemangku kepentingan merupakan faktor penentu keberhasilan adopsi. Proposisi-proposisi ini diuji melalui data kualitatif, pemodelan alur BPMN, pengujian prototipe, serta instrumen evaluasi multi-dimensi. Desain penelitian yang iteratif memungkinkan temuan yang lebih akurat karena mencerminkan pengalaman pengguna secara nyata, bukan sekadar asumsi teoretis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model micro-hub berbasis kafe merupakan pilihan strategis yang layak dan mendukung ekspansi regional. Temuan memperlihatkan tingginya ketertarikan pengguna terhadap lingkungan belajar yang fleksibel dan menyenangkan, kelayakan operasional yang solid, serta indikator keberlanjutan yang positif berkat kebutuhan modal yang rendah dan mekanisme kemitraan yang adaptif. Pengujian operasional juga menyoroti pentingnya desain pengajaran yang terstruktur, alur administrasi yang andal, serta sistem digital yang memadai. Para pemangku kepentingan mengidentifikasi sejumlah kebutuhan termasuk kejelasan komunikasi, koordinasi yang lebih kuat, serta sistem digital yang lebih stabil yang kemudian diintegrasikan dalam refined solution, mencakup penyempurnaan model instruksional, proses operasional, struktur finansial, dan mekanisme dukungan organisasi. Penyempurnaan ini memperkuat dimensi fungsional dan strategis model, memastikan bahwa pendekatan ini tidak hanya inovatif tetapi juga dapat diterapkan dan diskalakan. Kontribusi penelitian ini terletak pada penyajian pendekatan terpadu untuk ekspansi layanan pendidikan yang menggabungkan inovasi model bisnis dengan prototyping operasional serta pengujian berpusat pada pengguna. Penelitian ini menawarkan kerangka yang dapat direplikasi bagi institusi yang ingin berkembang di lingkungan dengan keterbatasan sumber daya, dan menunjukkan bagaimana model berbasis komunitas dan kemitraan dapat meningkatkan keberlanjutan, aksesibilitas, dan kualitas layanan. Studi ini juga memperkaya wacana akademis dengan mengilustrasikan bagaimana design thinking dapat diterapkan secara sistematis dalam menghadapi tantangan pertumbuhan strategis di sektor pendidikan. Temuan ini memberikan arahan praktis bagi UP SLC dalam mempersiapkan implementasi regional, sekaligus menyediakan landasan bagi penelitian lanjutan mengenai kinerja jangka panjang, integrasi digital, dan skalabilitas lintas pasar dari model pembelajaran hybrid.

2025
πŸ‘€ Penulis: Muhamad Rizky
🏷️ Design Thinking 🏷️ Pendidikan 🏷️ Ekspansi Layanan Pendidikan

RANCANGAN SISTEM PEMESANAN TIKET KENDARAAN UMUM SEBAGAI SOLUSI KEMUDAHAN PEMESANAN TIKET BERBASIS MOBILE APPLICATION (STUDI KASUS : KOTA BANDUNG)

Kemacetan yang terjadi di Kota Bandung merupakan dampak dari rendahnya penggunaan transportasi umum oleh masyarakat. Salah satu penyebab utama adalah tidak tersedianya sistem informasi yang terintegrasi mengenai rute, jadwal, dan tiket moda transportasi publik yang tersedia. Tugas akhir ini bertujuan untuk merancang sebuah sistem pemesanan tiket kendaraan umum berbasis aplikasi mobile yang terintegrasi dengan informasi rute, estimasi waktu kedatangan, dan interaksi suara melalui teknologi voice bot. Metodologi yang digunakan adalah design thinking. Pada tahap desain solusi, perancangan model bisnis menggunakan framework Business Model Canvas (BMC), dan desain sistem menggunakan pendekatan Unified Modeling Language (UML) seperti use-case diagram, class diagram, sequence diagram, hingga deployment diagram. Evaluasi dilakukan dengan metode System Usability Scale (SUS) yang menunjukkan nilai rata-rata sebesar 82,12 yang dikategorikan sangat baik (grade A). Hasil validasi terhadap 152 responden menunjukkan bahwa sistem ini berpotensi meningkatkan frekuensi penggunaan transportasi umum, sehingga mampu menjadi solusi digital yang mendukung pengurangan kemacetan di Kota Bandung.

2025
πŸ‘€ Penulis: Vincent Winarta
🏷️ Transportasi Umum 🏷️ Sistem Informasi Terintegrasi 🏷️ Design Thinking

PERANCANGAN SISTEM INVENTORY FORECASTING UNTUK OPTIMALISASI PENGELOLAAN STOK OBAT DI FARMASI RUMAH SAKIT (STUDI KASUS : RUMAH SAKIT X)

Perencanaan kebutuhan stok obat yang tidak tepat dapat menyebabkan risiko kekurangan maupun penumpukan stok, yang berdampak pada terganggunya layanan medis di rumah sakit. Permasalahan ini sering kali disebabkan oleh keterbatasan sistem manual dalam pemantauan stok, keterlambatan pelaporan, serta kurangnya integrasi antarunit. Untuk menjawab tantangan tersebut, penelitian ini difokuskan pada pengambangan sistem informasi inventory forecasting yang dapat membantu mengelola dan merencanakan kebutuhan stok obat. Tujuan utama dari pengerjaan tugas akhir ini adalah untuk merancang sistem informasi inventory forecasting stok obat pada Rumah Sakit X yang dapat mendukung proses pengelolaan dan perencanaan pemesanan secara terpadu, dan tetap memperhatikan kemudahan dan kenyamanan pengguna dalam menggunakan sistem di lingkungan rumah sakit. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan Design Thinking, yang terdiri atas lima tahapan, yaitu empathize, define, ideate, prototype, dan test. Rancangan sistem dikembangkan berdasarkan kebutuhan pengguna melalui pemodelan empat lapisan sistem, yaitu business, data, application, dan technology layer, serta divisualisasikan dalam bentuk prototipe antarmuka pengguna. Evaluasi dilakukan melalui proses verifikasi kebutuhan fungsional dan non-fungsional, serta validasi ketercapaian tujuan solusi melalui umpan balik pengguna setelah mencoba prototipe sistem. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa seluruh kebutuhan telah terakomodasi dengan baik, dan prototipe terbukti memenuhi aspek usability dan understandability dengan rerata skor di atas 4,5 dari skala 5. Selain itu, sistem dinilai memberikan manfaat nyata dalam mendukung proses pengelolaan dan perencanaan pemesanan stok obat secara efisien. Dengan demikian, sistem yang dirancang menunjukkan potensi kuat untuk diimplementasikan dalam lingkungan rumah sakit sebagai solusi strategis berbasis data yang mendukung pengambilan keputusan logistik secara lebih adaptif.

2025
πŸ‘€ Penulis: Nadine Aliya Putri
🏷️ Inventory Forecasting 🏷️ Manajemen Stok Obat 🏷️ Design Thinking

PERANCANGAN ADAPTIVE CLOTHING UNTUK PENGGUNA KURSI RODA DENGAN KONDISI PARAPLEGIA

Paraplegia merujuk pada kondisi kelumpuhan total pada bagian tubuh bawah. Pengguna kursi roda dengan kondisi paraplegia menghadapi tantangan dalam proses berpakaian sehari-hari akibat keterbatasan mobilitas pada anggota tubuh bagian bawah. Kondisi ini membuat aktivitas seperti mengenakan pakaian bagian bawah dan menyesuaikan potongan celana di area pinggang membutuhkan usaha lebih. Di Indonesia, akses terhadap adaptive clothing masih terbatas, akibatnya individu dengan paraplegia harus beradaptasi dengan desain pakaian yang tidak dirancang untuk pengguna dengan postur duduk jangka panjang dan mobilitas terbatas. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa posisi dan jenis pembuka pakaian dapat mempermudah proses berpakaian individu dengan disabilitas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan design thinking. Dalam penelitian ini, tiga celana adaptif dengan sistem pembuka yang bervariasi dirancang dan diujikan pada tiga pengguna kursi roda paraplegia. Wawancara semi terstruktur dilakukan untuk mengetahui pengalaman, preferensi dan tantangan individu dengan paraplegia. Pengukuran waktu dan Kuesioner System Usability Scale digunakan sebagai instrumen untuk mengevaluasi tiga celana adaptif yang dirancang. Waktu yang dibutuhkan untuk mengenakan dan melepaskan celana dihitung menggunakan stopwatch. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembuka samping dengan velcro dan magnet menawarkan waktu pelepasan tercepat, sedangkan pembuka samping dengan ritsleting memberikan waktu pemakaian tercepat. Namun, pembuka depan dengan kancing menjadi pilihan yang lebih disukai. Penelitian ini menyoroti bahwa kemudahan penggunaan tidak hanya dipengaruhi oleh waktu namun keakraban dan keamanan sistem pembuka.

2025
πŸ‘€ Penulis: Sesilia Katerina C Depari
🏷️ Paraplegia 🏷️ Adaptive Clothing 🏷️ Design Thinking

MODEL BISNIS BARU UNTUK PERUSAHAAN PEMBUATAN FURNITUR DENGAN MENGGUNAKAN KONSEP DESIGN THINKING (STUDI KASUS DI PT MULTI SUPLAI INTERNASIONAL)

Penerapan sistem made to order pada suatu bisnis ternyata dapat menimbulkan masalah di kemudian hari. terutama ketika bisnis tersebut mengandalkan pihak perantara seperti distributor dan e-commerce untuk menjual produk dari bisnis tersebut. Salah satunya adalah PT Multi Suplai Internasional, produsen furniture yang menerapkan sistem made to order sebagai production strategy perusahaan. Ketika pandemi terjadi Pada tahun 2020, disaat orang orang beraktifitas dan bekerja dari di rumah, terjadi peningkatan jumlah pesanan di bisnis PT Multi Suplai Internasional dan disaat itu bisnis dapat memperoleh banyak keuntungan di setiap periode dengan memanfaatkan jaringan sosial media dan e-commerce untuk menjual produknya.Akan tetapi, Pada tahun 2022 ketika pandemi mulai membaik dan orang orang mulai kembali beraktivitas seperti biasa, dan juga pada tahun 2022 terjadi perubahan kebijakan dari pihak e-commerce untuk mempercepat batas waktu pengiriman produk dari penjual ke pihak pengiriman, membuat bisnis PT Multi Suplai Internasional dalam kondisi yang tidak baik, karena kebanyakan produk yang dihasilkan oleh perusahaan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk diproduksi. kejadian ini berdampak pada pengurangan keuntungan penjualan sampai dengan kualitas produksi yang dihasilkan oleh PT Multi Suplai Internasional. Riset ini bertujuan untuk menentukan model bisnis baru yang cocok diterapkan oleh PT Multi Suplai Internasional dengan kondisi pasar di indonesia. riset ini menggunakan konsep design thinking proses yang memberikan empati kepada konsumen, mendefinisikan kebutuhan konsumen, membuat ide model bisnis, membuat prototipe model bisnis dan menguji model bisnis baru. Dengan menggunakan konsep design thinking, dipilih bisnis model baru yaitu made to stock. rencana penerapan dibuat dengan business model canvas yang baru bagi PT Multi Suplai Internasional.

2025
πŸ‘€ Penulis: Arif Rahman Yudiantoro
🏷️ Design Thinking 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Produksi Made-To-Order

PERANCANGAN ENSIKLOPEDIA MENGENAI UBORAMPE DALAM UPACARA DAUR HIDUP JAWA UNTUK DEWASA MUDA USIA 18–25 TAHUN

Upacara daur hidup Jawa merupakan warisan budaya takbenda yang dapat hilang seiring dengan berjalannya waktu. Salah satu unsur penting di dalam pelaksanaan upacara daur hidup Jawa adalah uborampe, yaitu perlengkapan upacara. Namun, seiring perkembangan zaman, pengetahuan dan pemahaman dewasa muda, khususnya mereka yang merupakan keturunan Jawa, terhadap uborampe semakin menurun. Perancangan ini bertujuan untuk membuat sebuah media yang menyajikan informasi lengkap mengenai uborampe makanan dalam upacara daur hidup Jawa untuk dewasa muda usia 18-25 tahun. Perancangan ini memiliki signifikansi dalam meningkatkan pemahaman dan pengetahuan akan informasi budaya Indonesia. Dalam perancangan ini, digunakan metode kualitatif dengan pengumpulan data melalui studi pustaka, wawancara ahli, wawancara responden, dan observasi serta pendekatan design thinking. Hasil dari perancangan merupakan ensiklopedia mengenai uborampe berupa makanan dari seluruh rangkaian upacara daur hidup etnis Jawa. Ensiklopedia ini diharapkan dapat menjadi media yang efektif dan menarik bagi dewasa muda dalam mengenal upacara daur hidup Jawa serta berkontribusi dalam upaya pelestarian budaya Indonesia.

2025
πŸ‘€ Penulis: Nadya Christa Maheswari
🏷️ Kebudayaan Indonesia 🏷️ Design Thinking 🏷️ Manajemen Informasi Budaya

MENTRANSFORMASI RASIONALISASI APLIKASI PADA PERUSAHAAN DENGAN PENDEKATAN DESIGN THINKING UNTUK INOVASI YANG BERFOKUS PADA PENGGUNA

Artikel ini mengeksplorasi kemampuan pendekatan design thinking (DT) dalam mentransformasi proses rasionalisasi aplikasi di perusahaan multinasional. Artikel ini ditujukan bagi para pemangku kepentingan di bidang TI, mulai dari level ahli hingga chief technology officer (CTO) di perusahaan besar yang memiliki mandat untuk menyederhanakan portofolio aplikasi yang kompleks. Studi kasus ini dilakukan di salah satu perusahaan tembakau terbesar di dunia, yang mengelola sekitar 2.600 aplikasi di seluruh dunia untuk mendukung operasional di 180 pasar. Dalam konteks lanskap TI yang penuh ribuan aplikasi, menyederhanakan portofolio menjadi langkah penting untuk memaksimalkan efisiensi dan mempercepat transformasi digital. Penelitian ini menawarkan proses evaluasi aplikasi yang berfokus pada pengguna, yang mencakup aktivitas dekomisioning dan konsolidasi menggunakan pendekatan design thinking melalui tahapan empati, ideasi, dan prototyping. Studi ini menggunakan model UX Honeycomb untuk mengukur kegunaan (usability) dan kepuasan pengguna dalam menggunakan aplikasi, serta menerapkan pengujian A/B untuk memvalidasi efektivitas pendekatan yang diusulkan. Hasil studi menunjukkan bahwa keterlibatan pengguna akhir dalam proses rasionalisasi secara signifikan meningkatkan tingkat adopsi dan menyelaraskan lingkungan TI dengan tujuan bisnis. Penelitian ini menegaskan bahwa pendekatan yang berfokus pada pengguna (customer-centric) diperlukan untuk mencapai inovasi jangka panjang dan keberhasilan operasional yang berkelanjutan.

2025
πŸ‘€ Penulis: Risyad Sungkar
🏷️ Design Thinking 🏷️ Inovasi Digital 🏷️ Manajemen Aplikasi
Halaman 1 dari 2
πŸ’¬