📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 18 dokumenPERUBAHAN PERSEPSI PUBLIK DI RUANG DIGITAL TERHADAP RUANG KOMERSIAL: STUDI KASUS DI KORIDOR BRAGA, BANDUNG
Evolusi era digital telah mengubah cara masyarakat mempersepsikan dan mengonsumsi ruang komersial. Hal ini tidak hanya dirasakan melalui pengalaman fisik langsung, tetapi juga dapat melalui gambaran digital di platform daring. Koridor Braga, Bandung, merupakan satu dari koridor komersial historis yang telah mengalami perubahan tersebut. Sebagai kawasan yang dikenal dengan arsitektur kolonialnya sejak era kolonial Belanda, koridor Braga sempat menjadi sentral perdagangan dan hiburan ternama di Bandung, bahkan dijuluki "Paris van Java." Kini kawasan tersebut tengah mengalami tekanan modernisasi yang bukan sekadar mengubah wajah fisiknya, namun juga cara publik memaknai dan menilai kawasan tersebut. Penelitian terdahulu terkait komersialisasi ruang, telah dijelaskan pengaruh dari teknologi digital terhadap perilaku komersialisasi ruang, namun penelitian tersebut sebagian besar masih menekankan peran elemen fisik kawasan. Hal ini menjadi menarik untuk diteliti karena belum banyak kajian yang menggabungkan elemen fisik dan non fisik kawasan di era digital. Penelitian ini bertujuan untuk mengenali perubahan pola perilaku terhadap ruang komersial di Koridor Braga berdasarkan persepsi digital penggunanya. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan memakai data ulasan digital dari Google Maps Reviews sebagai sumber utama untuk mengidentifikasi pola persepsi dan perilaku ruang. Hasil analisis menunjukkan bahwa terjadi pergeseran fungsi ruang akibat digitalisasi, di mana ruang bukan lagi hanya sebagai tempat transaksi ekonomi, melainkan berkembang menjadi ruang representasi identitas dan konsumsi simbolik. Selain itu, ditemukan kemunculan ruang-ruang baru yang dipicu oleh ulasan digital tesebut, yang mendukung terbentuknya titik-titik aktivitas komersial baru berbasis daya tarik visual dan viralitas konten. Perubahan ini turut membawa transformasi pada pola aktivitas dan konsumsi ruang secara keseluruhan, di mana perilaku pengunjung semakin dipengaruhi oleh narasi digital sebelum dan sesudah kunjungan fisik. Temuan ini menegaskan bahwa kedua elemen tersebut, saling membentuk satu sama lain. Kebaruan penelitian ini terletak pada penggunaan ulasan digital sebagai instrumen interpretasi persepsi ruang komersial yang mencakup penilaian terhadap kondisi fisik kawasan dan juga non-fisik kawasannya, seperti suasana, pengalaman emosional, serta nilai simbolik ruang,v sehingga membuka pendekatan yang lebih menyeluruh untuk memahami dinamika ruang perkotaan berdasarkan data digital.
PERAN DIGITALISASI TERHADAP PENINGKATAN DAYA SAING DAN KEBERLANJUTAN EKONOMI KREATIF DI SENTRA RAJUT BINONG JATI, KWK BINONG, KOTA BANDUNG
Ekonomi kreatif sentra industri kriya tradisional di Indonesia menghadapi penurunan struktural pasca masa kejayaan dan disrupsi era digital, namun tingkat adopsi digitalnya belum banyak dikaji secara empiris. Sentra Rajut Binong Jati di Kota Bandung yang menyusut dari 600-700 industri kecil aktif (1997-1998) menjadi 288 unit (2025) menjadi kasus strategis untuk mengkaji peran digitalisasi terhadap peningkatan daya saing dan keberlanjutan. Penelitian ini bertujuan mengukur tingkat adopsi digitalisasi, mengidentifikasi faktor pendorong dan penghambatnya, serta peran digitalisasi terhadap daya saing dan keberlanjutan ekonomi kreatif sentra. Pendekatan mixed-methods digunakan melalui kuesioner Skala Likert terhadap 110 pelaku usaha yang dianalisis dengan skoring indeks adopsi, statistik deskriptif, SWOT, korelasi Pearson, regresi linear sederhana, serta wawancara mendalam dua narasumber kunci yang dikaji secara deskriptif kualitatif dan ditriangulasi dokumen kebijakan. Tingkat adopsi digitalisasi berada pada kategori Sedang (composite mean 3,09), mengindikasikan pelaku usaha berada pada fase transisi dengan kekuatan pada pemasaran digital dan kelemahan pada manajemen operasional digital. Faktor pendorong utama ialah tolerance dan tekanan pasar, sementara kebijakan menjadi penghambat utama akibat gap implementasi regulasi. Digitalisasi berkontribusi signifikan terhadap daya saing dengan menjelaskan 59,67% variasinya (R²=0,597) dan peningkatan merata pada dimensi Competitive Advantage, serta terhadap keberlanjutan dengan menjelaskan 57,48% variasinya (R²=0,575). Profil Triple Bottom Line menempatkan dampak sosial (People) lebih tinggi daripada dampak ekonomi langsung (Profit), menyiratkan digitalisasi sentra kriya tradisional lebih merupakan fenomena sosialbudaya daripada sekadar fenomena ekonomi. Kontribusi penelitian terletak pada konfirmasi Kerangka 3T Florida yang dirujuk dalam Perda Kota Bandung No. 1 Tahun 2021 menunjukkan pola Tolerance > Technology > Talent pada usaha kriya, bukan pola seragam sebagaimana diasumsikan literatur sebelumnya.
HUBUNGAN ANTARA INKLUSI DIGITAL DENGAN MODAL SOSIAL DI DESA DIGITAL CANGKINGAN, KABUPATEN INDRAMAYU
Digitalisasi merupakan megatren global yang membuka peluang bagi pembangunan perdesaan, terutama dalam mengatasi keterbatasan geografis dan ketimpangan informasi. Namun, digitalisasi juga memunculkan tantangan berupa kesenjangan dan eksklusi digital, sehingga hubungan antara inklusi digital dan modal sosial masih menunjukkan pola yang belum jelas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode single case study di Desa Cangkingan, Kabupaten Indramayu, untuk menganalisis hubungan antara inklusi digital dan modal sosial secara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan adanya potensi kesenjangan digital tingkat kedua, di mana akses digital relatif telah terpenuhi, tetapi rendahnya keterampilan dan literasi digital, khususnya pada kelompok lansia, memicu risiko eksklusi digital. Analisis lebih lanjut mengungkap adanya hubungan timbal balik antara inklusi digital dan modal sosial. Modal sosial bonding mengalami transformasi menjadi adaptive bonding melalui praktik saling mengajari akibat kesenjangan keterampilan digital. Modal sosial bridging dan linking juga mengalami penguatan melalui terbukanya peluang, perluasan jejaring, transformasi kepercayaan menjadi reputasi digital, serta peningkatan transparansi dan komunikasi dengan pemerintah desa. Temuan ini membuktikan bahwa modal sosial berperan sebagai faktor pendorong sekaligus konsekuensi dari inklusi digital, serta memberikan kontribusi empiris bagi perumusan kebijakan digitalisasi desa yang berkelanjutan.
ANALISIS KELAYAKAN DAN STRATEGI MASUK PASAR JASA PEMETAAN 3D PADA SEKTOR YANG SEDANG BERKEMBANG DI INDONESIA
Teknologi pemetaan saat ini berkembang pesat, dengan pengembangan perangkat keras seperti pemindai laser, fotogrametri UAV, dan pemodelan digital. Adopsi teknologi meningkat secara global di sektor konstruksi, budaya, hiburan, lingkungan, dan lainnya. Namun, di Indonesia, situasinya berbeda. Adopsi teknologi ini masih terbatas, terutama di sektor pertambangan, konstruksi, dan pemerintahan. Industri tesebut secara historis telah membentuk tulang punggung pendapatan perusahaan. Tantangannya adalah perusahaan telah mengalami penurunan pendapatan dari dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk menemukan solusi baru seperti diversifikasi. Studi ini meneliti kelayakan PT Geo Indonesia memasuki beberapa sektor alternatif yang telah berhasil mengadopsi teknologi pemetaan 3D secara global, namun sebagian besar masih belum dimanfaatkan di pasar Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, menggabungkan wawancara dari pemangku kepentingan di berbagai industi, didukung oleh data sekunder tentang tren pasar, peraturan, dan perkembangan teknologi. Temuan penelitian mengidentifikasi tiga segmen pasar utama: pertama, sektor tradisional dengan permintaan yang stabil tetapi melambat; Kedua, sektor teknik yang sedang berkembang yang membutuhkan data dengan akurasi tinggi tetapi menghadapi kendala kemampuan dan biaya; dan ketiga, sektor kreatif yang sedang berkembang yang menunjukkan potensi kuat karena permintaan mereka akan visualisasi dan layanan berbasis proyek. Analisis eksternal menunjukkan bahwa tren digitalisasi di Indonesia menguntungkan, dengan inisiatif pemerintah yang mendukung. Analisis internal menunjukkan PT Geo-Indonesia memiliki keahlian teknis yang kuat dan akses ke peralatan canggih. Namun, terdapat kesenjangan organisasi dalam alur kerja layanan, kemampuan pemasaran, dan SDM, khususnya dalam kompetensi yang diperlukan untuk diversifikasi pasar. Penerapan Tes Porter mengkonfirmasi bahwa diversifikasi ke layanan pemetaan 3D menarik, terjangkau, dan sinergis dengan kekuatan perusahaan yang ada. Studi ini merekomendasikan strategi penargetan ganda: memprioritaskan industri kreatif untuk penetrasi pasar yang cepat dan membangun kemampuan layanan tingkat teknik jangka panjang di bidang arsitektur, properti, dan minyak dan gas. Rencana implementasi mencakup pengembangan alur kerja, edukasi pasar, pembangunan portofolio, dan kemitraan strategis. Penelitian ini memberikan panduan praktis untuk upaya diversifikasi dan meningkatkan pemahaman tentang strategi memasuki pasar di sektor jasa geospasial Indonesia yang sedang berkembang.
MENDORONG NILAI DAN MENINGKATKAN EFISIENSI: STRATEGI PEMASARAN UNTUK MENGURANGI KEHILANGAN BBM MELALUI DIGITALISASI ALAT UKUR
Rantai logistik BBM di Indonesia masih menghadapi kerentanan tinggi terhadap ketidakakuratan pengukuran, inkonsistensi administrasi, dan inefisiensi operasional— tantangan yang semakin diperburuk dalam ekosistem badan usaha milik negara (BUMN). Meskipun distribusi BBM merupakan elemen penting bagi ketahanan energi nasional, praktik lama seperti pengukuran manual menggunakan sounding stick, pencatatan tulisan tangan, dan pelaporan yang terfragmentasi terus menimbulkan risiko kerugian finansial, potensi sengketa, serta tantangan kepatuhan (compliance). Penelitian ini mengkaji implementasi LIMOSIN (Liquid Monitoring System), sebuah platform digital pengukuran BBM yang dikembangkan oleh Elnusa Petrofin, untuk mengeksplorasi bagaimana digitalisasi dapat menurunkan kehilangan BBM, meningkatkan transparansi, serta memosisikan ulang perusahaan secara strategis dalam industri logistik BBM. Penelitian ini diawali dengan menguraikan isu-isu kritis dalam sektor logistik BBM di Indonesia, termasuk terjadinya selisih berulang antara volume pengiriman dan penerimaan, ketiadaan pemantauan secara real time, serta beban tinggi proses rekonsiliasi. Masalah ini terus berlangsung meskipun dunia telah beralih menuju sistem telemetri berbasis IoT, pengukuran otomatis, dan audit digital. Dalam konteks BUMN Indonesia—yang masih menghadapi rigiditas pengadaan, orientasi ROI jangka pendek, dan kesiapan digital yang terbatas—penelitian ini mempertanyakan apakah alat ukur digital dapat berfungsi bukan hanya sebagai kebutuhan operasional, namun juga sebagai aset strategis dan pemasaran jangka panjang. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus kualitatif, dengan mengintegrasikan wawancara mendalam kepada manajemen, pengembang sistem, dan staf operasional, didukung oleh analisis dokumen serta observasi lapangan. Analisis penelitian memanfaatkan kerangka Technology Acceptance Model (TAM), Cost-Benefit Analysis (CBA), Resource- Based View (RBV), dan VRIO untuk menilai implikasi operasional, perilaku, serta strategi dari implementasi alat ukur digital dalam lingkungan logistik BUMN. Temuan penelitian menunjukkan bahwa digitalisasi melalui LIMOSIN secara signifikan meningkatkan akurasi pengukuran, menyediakan visibilitas real time, dan memperkuat auditability pergerakan BBM. Namun, meskipun persepsi kegunaan (perceived usefulness) tergolong tinggi, tingkat adopsi aktual masih rendah akibat beban input manual, integrasi workflow yang belum sepenuhnya matang, serta ketidakkonsistenan kondisi pendukung. Friksi perilaku ini sejalan dengan teori TAM dan UTAUT: persepsi kegunaan saja tidak cukup untuk menjamin adopsi tanpa kemudahan penggunaan, infrastruktur pendukung, serta dukungan kepemimpinan yang kuat. Dari perspektif strategis, penelitian ini menemukan bahwa LIMOSIN memiliki potensi untuk memosisikan ulang Elnusa Petrofin bukan hanya sebagai pelaksana operasional, tetapi sebagai penyedia nilai yang mengutamakan transparansi, traceability, dan assurance kepada pelanggan—faktor yang sangat penting dalam logistik BBM B2B. Simulasi CBA juga menunjukkan bahwa sistem ini dapat menghasilkan manfaat jangka panjang melalui pengurangan kehilangan, percepatan proses penagihan, dan peningkatan retensi pelanggan. Namun, dalam ekosistem BUMN, investasi digital sering terjebak dalam “short-term ROI trap,” di mana inisiatif tidak diprioritaskan apabila manfaatnya berada di luar siklus anggaran tahunan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa alat ukur digital memiliki peran ganda sebagai pengungkit operasional sekaligus aset strategis — namun hal ini hanya dapat terwujud apabila terdapat penyelarasan organisasi, integrasi lintas fungsi, serta narasi yang tepat untuk memosisikan digitalisasi sebagai value driver jangka panjang, bukan sebagai beban biaya. LIMOSIN membuka peluang diferensiasi di lingkungan BUMN, terutama apabila dipasarkan sebagai alat transparansi berbasis kebutuhan klien, bukan hanya platform monitoring internal. Kontribusi penelitian ini bersifat dua arah. Pertama, penelitian ini memperluas pemahaman empiris mengenai tantangan adopsi digital dalam perusahaan logistik milik negara di negara berkembang, dengan menekankan bahwa kesiapan teknologi harus diiringi kesiapan institusional. Kedua, penelitian ini mengajukan perspektif pemasaran strategis yang mereposisi digitalisasi sebagai sumber penciptaan nilai bagi pelanggan, sehingga memberikan wawasan praktis bagi BUMN yang ingin melakukan modernisasi sembari menghadapi kendala struktural.
PENGEMBANGAN MODEL KESIAPAN DIGITAL UKM
Perkembangan teknologi digital telah mendorong transformasi bisnis di berbagai sektor, termasuk usaha kecil dan menengah (UKM). Namun, tingkat adopsi digital pada UKM di Indonesia masih tergolong rendah akibat keterbatasan sumber daya, kurangnya pengetahuan, dan minimnya strategi digital yang terencana. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model kesiapan digital yang relevan dengan karakteristik dan keterbatasannya, serta menganalisis hubungan antar faktor yang berpengaruh. Model dikembangkan dengan mengintegrasikan dimensi technological sensemaking, organization, dan knowledge leadership. Penelitian ini menggunakan metode survei terhadap UKM di Indonesia, dengan analisis PLS-SEM untuk menguji model dan hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan seluruh konstruk memiliki pengaruh signifikan, dengan konstruk strategy/plan menjadi yang paling signifikan. Temuan ini memberikan implikasi manajerial berupa pentingnya mengintegrasikan aspek teknologi dalam strategi bisnis jangka panjang.
PENGEMBANGAN APLIKASI PEMANTAUAN PROYEK UNTUK PROJECT MANAGEMENT OFFICE PADA KMPPD BANK INDONESIA
Kelompok Manajemen Program dan Proyek Digitalisasi (KMPPD) serves as the Project Management Office (PMO). KMPPD is responsible for monitoring all digitalization projects within the Departemen Layanan Digital dan Kemanan Siber (DLDS). Currently, the project monitoring process still relies on the use of Microsoft Excel-based worksheets. This dependence on manual processes creates various obstacles. This Final Project aims to design and develop a web-based project monitoring application to accommodate the specific needs of KMPPD. The development methodology used refers to the Waterfall model, starting from the analysis phase through to testing. The application's functionality design is based on the Project Management Body of Knowledge (PMBOK) 6th Edition framework. Technically, the application is implemented using a layered architecture design. The application is composed of main modules, such as project and program management, work breakdown structure, milestone schedule, risk register, issue log, dashboard, and user management. The implementation of 53 functional requirements was successfully carried out and has successfully passed unit testing and integration testing.
DIGITAL TRANSFORMATION FOR SUPPLY CHAIN IN PHARMACEUTICAL INDUSTRY: CASE STUDY PT ROHTO LABORATORIES INDONESIA
Di era Industri 4.0, berbagai sektor mulai bertransformasi ke arah digital, termasuk industri farmasi yang memiliki peran krusial dalam menjaga kesehatan masyarakat. Untuk memenuhi tuntutan yang semakin kompleks, perusahaan farmasi dituntut berinovasi melalui pemanfaatan teknologi digital. Di Indonesia, industri farmasi menghadapi tantangan besar seperti regulasi ketat, ketergantungan terhadap bahan baku impor, dan ketidakefisienan dalam operasional rantai pasok, yang semakin terasa selama pandemi Covid-19. Transformasi digital dianggap sebagai solusi strategis untuk mengatasi hambatan tersebut. Penggunaan teknologi seperti Artificial Intelligence (AI), Machine Learning (ML), Internet of Things (IoT), dan Big Data Analytics diyakini mampu meningkatkan efisiensi, transparansi, dan ketepatan pengambilan keputusan di seluruh proses rantai pasok, mulai dari pengadaan hingga distribusi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kesiapan perusahaan dalam mengadopsi digitalisasi untuk meningkatkan kinerja rantai pasok. Studi dilakukan menggunakan pendekatan studi kasus pada PT Rohto Laboratories Indonesia, anak perusahaan dari Rohto Pharmaceutical Co., Ltd. Jepang. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi literatur akademik dengan mengisi celah penelitian terkait peran transformasi digital dalam konteks rantai pasok industri farmasi di Indonesia. Selain itu, studi ini juga memberikan rekomendasi praktis bagi pelaku industri dan pembuat kebijakan dalam memanfaatkan teknologi digital guna membangun rantai pasok yang lebih tangguh, responsif, dan berkelanjutan di tengah persaingan pasar global yang semakin dinamis.
USULAN STRATEGI BISNIS UNTUK PERLUASAN INFRASTRUCTUR EV UNTUK MENDUKUNG ADOPSI EV: STUDI KASUS DI PLN JAWA BARAT
Komitmen Indonesia untuk mengurangi emisi dan mempercepat adopsi kendaraan listrik (EV) menempatkan PLN sebagai ujung tombak dalam pengembangan infrastruktur EV. Meskipun memiliki mandat dari pemerintah, PLN menghadapi berbagai tantangan internal dan eksternal, seperti pengalaman digital pengguna yang masih terbatas, persepsi publik yang belum sepenuhnya positif, serta kemampuan ekspansi yang lambat dibandingkan operator swasta yang lebih gesit. Studi ini menganalisis peluang strategis dan tantangan yang dihadapi oleh PLN Unit Induk Distribusi Jawa Barat dalam memperluas SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum), dengan menggunakan kerangka analisis seperti PESTEL, VRIO, Value Chain, SWOT, TOWS, dan STP. Analisis ini juga mengintegrasikan wawasan dari para pemangku kepentingan melalui wawancara dan telaah dokumen. Strategi yang diusulkan dibagi menjadi jangka pendek (peningkatan aplikasi digital, rebranding, dan optimalisasi lokasi urban) dan jangka panjang (ekspansi melalui skema PPP di wilayah perkotaan dan perluasan ke wilayah rural oleh PLN). Pendekatan ini sejalan dengan kekuatan institusional PLN sekaligus mendorong kolaborasi dengan sektor swasta. Studi ini mengusulkan strategi positioning “PLN SPKLU: Layanan Pengisian EV yang Andal, Nyaman, dan Berkelanjutan” sebagai cerminan dari transformasi ini. Pada akhirnya, riset ini memberikan arah yang jelas bagi PLN untuk memperkuat perannya sebagai penyedia utama layanan pengisian kendaraan listrik dalam transisi energi bersih di Indonesia. Selain itu, studi ini juga memberikan wawasan praktis tentang bagaimana PLN dapat memperluas layanannya dan membangun kemitraan strategis di dalam sektor ketenagalistrikan yang teregulasi.
USULAN STRATEGI PEMASARAN UNTUK MENINGKATKANDAYA SAING PADA GERAI FRANCHISEE MIXUE(STUDI KASUS: MIXUE MERDEKA LHOKSEUMAWE)
Industri makanan dan minuman di Indonesia mengalami pertumbuhan pesat, model waralaba seperti Mixue yang berkembang agresif di berbagai segmen pasar. Meskipun memiliki kekuatan merek dan harga yang terjangkau, beberapa gerai mitranya termasuk Mixue Merdeka, yang dikelola oleh PT Ciptautama Waralaba Nusantara, mengalami kinerja penjualan dan pengembalian investasi yang belum optimal karena persaingan lokal yang ketat serta kebijakan waralaba yang ketat terkait harga, inovasi produk, dan tidak adanya aturan eksklusivitas wilayah. Dalam keterbatasan ini, strategi pemasaran menjadi satu-satunya alat untuk meningkatkan daya saing. Penelitian ini bertujuan merumuskan strategi pemasaran kompetitif yang relevan dengan kondisi Mixue Merdeka dengan fokus: (1) menganalisis faktor internal dan eksternal yang memengaruhi kinerja toko, dan (2) merancang strategi pemasaran yang sesuai. Metode didominasi pendekatan kualitatif melalui wawancara semiterstruktur dengan pihak internal dan konsumen, observasi kompetitor, serta segmentasi pelanggan berbasis RFM untuk mendukung analisis STP. Analisis internal dengan Marketing Mix dan VRIO mengidentifikasi kekuatan manajemen yang berpengalaman, konsistensi operasional, dan kepuasan pelanggan terhadap harga dan kualitas. Namun, terdapat tantangan seperti keterbatasan inovasi, kurangnya pemanfaatan digital, dan rendahnya upselling. Analisis eksternal melalui PESTEL dan Porter’s 5 Forces menunjukkan peluang digitalisasi, pemasaran lokal, serta ekspektasi konsumen yang meningkat, tetapi juga terdapat ancaman dari persaingan ketat dan sensitivitas harga. Strategi dikembangkan melalui SWOT dan TOWS, lalu disaring dengan Matriks Ansoff. Strategi penetrasi pasar dan modifikasi produk dianggap paling layak lalu disusun menggunakan kerangka 8P: peningkatan pengalaman dine in, bundling, promosi digital tepat sasaran, serta peningkatan proses layanan dan pemantauan kinerja. Penelitian ini menghasilkan strategi pemasaran kontekstual dan aplikatif bagi peningkatan daya saing waralaba. Penelitian lanjutan disarankan untuk mengevaluasi dampak jangka panjang terhadap loyalitas pelanggan dan ROI.
NIAT BERHENTI PELANGGAN DAN STRATEGI RETENSI DALAM PROGRAM LOYALITAS DIGITAL. STUDI KASUS ERASPACE
-
NIAT BERHENTI PELANGGAN DAN STRATEGI RETENSI DALAM PROGRAM LOYALITAS DIGITAL. STUDI KASUS ERASPACE
-
NIAT BERHENTI PELANGGAN DAN STRATEGI RETENSI DALAM PROGRAM LOYALITAS DIGITAL. STUDI KASUS ERASPACE
-
USULAN INITIATIF PEMASARAN UNTUK MENINGKATKAN PENDAPATAN BISNIS KONTRAK PEMELIHARAAN: KASUS PT WILO PUMPS INDONESIA.
Industri pompa air adalah faktor penting dalam mendukung infrastruktur, mempromosikan keandalan operasional, dan menjamin pembangunan berkelanjutan di berbagai sektor. PT Wilo Pumps Indonesia (WID), anak perusahaan dari Wilo Group, saat ini mengalami kesulitan dalam menghasilkan pertumbuhan pendapatan yang berkelanjutan dari bisnis layanan mereka, terutama dari bisnis kontrak pemeliharaan, yang menyumbang kurang dari 1% dari total pendapatan perusahaan. Penawaran layanan WID tidak dimanfaatkan dengan baik dan kurang memiliki diferensiasi, mengingat semakin pentingnya industri layanan dalam sektor industri. Penelitian ini berfokus pada identifikasi strategi untuk mengatasi tantangan-tantangan ini dengan memanfaatkan kerangka kerja bisnis yang telah mapan seperti SWOT, VRIO, taktik pemasaran, dan nilai pemasaran untuk melakukan analisis komprehensif terhadap preferensi pelanggan, tolok ukur pesaing, dan kapabilitas internal. Penelitian dimulai dengan analisis faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi bisnis kontrak pemeliharaan WID. Keandalan operasional, kualitas layanan, dan efisiensi harga adalah prioritas utama pelanggan di tiga pasar utama WID—industri umum, manajemen air, dan layanan bangunan—menurut analisis eksternal. Namun, pelanggan sering kali enggan mengadopsi layanan tersebut karena harga yang tinggi, waktu respons yang lambat, dan kualitas layanan yang tidak konsisten. Analisis internal menekankan kurangnya investasi dalam alat digital yang dapat meningkatkan efisiensi operasional dan keterlibatan pelanggan, terbatasnya lokalisasi layanan untuk memenuhi kebutuhan unik pasar Indonesia, dan tidak adanya diferensiasi dalam kontrak pemeliharaan WID. Selain itu, meningkatnya permintaan pasar untuk solusi pemeliharaan proaktif dan preventif bertentangan dengan karakter reaktif dari proses layanan WID saat ini. Benchmarking pesaing menggunakan parameter kapabilitas dinamis dan kelincahan korporat, menunjukkan bahwa pesaing bermerek telah menerapkan strategi branding layanan dan digitalisasi untuk menciptakan penawaran unik, meningkatkan retensi pelanggan, dan memperoleh keunggulan kompetitif. Untuk lebih efektif memenuhi kebutuhan pelanggan mereka, para pesaing ini telah menerapkan sistem pemantauan digital yang canggih, struktur harga yang fleksibel, dan kemitraan layanan khusus. Sebaliknya, alat digital WID saat ini, termasuk iv platform layanan daring dan sistem pemantauan, tidak sepenuhnya dimanfaatkan akibat kurangnya integrasi dengan kontrak pemeliharaannya. Untuk menyarankan inisiatif pemasaran bagi bisnis kontrak pemeliharaan WID, penelitian ini menerapkan taktik pemasaran dan kerangka nilai pemasaran. Hasil penelitian menunjukkan pentingnya strategi yang berfokus pada pelanggan dan digitalisasi dalam meningkatkan daya saing pasar dan mendorong inovasi layanan. Rekomendasi utama termasuk integrasi Wilo Gateway, sebuah sistem pemantauan digital, dengan kontrak pemeliharaan untuk memungkinkan kemampuan pemeliharaan prediktif, penawaran model harga fleksibel yang disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan unik dari berbagai jenis pelanggan, dan kustomisasi paket layanan untuk menyesuaikan dengan kebutuhan spesifik pasar. Penting juga untuk memperkuat platform layanan online WID guna mempromosikan kemampuan layanan dan penawaran produk, yang akan meningkatkan keterlibatan dan aksesibilitas pelanggan. Penelitian tersebut menyarankan agar transisi dari prosedur pemeliharaan reaktif ke proaktif diterapkan untuk mengurangi kelemahan internal. Perubahan ini tidak hanya akan meningkatkan keandalan operasional tetapi juga membangun loyalitas dan kepercayaan pelanggan. Kualitas layanan yang konsisten dan kemampuan untuk berkembang dapat dicapai dengan meningkatkan kemampuan mitra layanan melalui pelatihan dan spesialisasi. Selain itu, penting untuk menciptakan merek yang kuat untuk kontrak pemeliharaan WID, guna secara efektif mengkomunikasikan manfaat emosional dan fungsional dari layanan tersebut kepada pelanggan. Pelaksanaan inisiatif menyoroti perbaikan operasional, edukasi konsumen, dan transformasi digital. Dalam jangka pendek, platform layanan online akan ditingkatkan dan alat pemantauan digital akan diintegrasikan. Dalam jangka menengah, konsentrasi akan pada pengembangan model harga yang fleksibel dan kontrak pemeliharaan yang disesuaikan. Tujuan jangka panjang WID mencakup penyesuaian penawarannya dengan permintaan pasar yang berubah dan pemanfaatan keahliannya di pasar utama untuk menetapkan dirinya sebagai pemimpin di industri layanan. WID dapat mengubah bisnis kontrak pemeliharaannya menjadi generator pendapatan utama dengan menerapkan inisiatif-inisiatif ini, yang akan membuka potensi yang belum dimanfaatkan. Dalam pasar yang semakin kompetitif, WID akan mampu membedakan penawarannya, memperkuat hubungan dengan pelanggan, dan mencapai pertumbuhan berkelanjutan melalui penerapan inovasi yang berfokus pada pelanggan, proses layanan proaktif, dan alat digital. Penelitian ini menawarkan inisiatif bagi WID untuk meningkatkan kemampuan bisnis layanan, menyesuaikan dengan dinamika pasar, dan membuktikan dirinya sebagai mitra operasional yang andal dan efisien.
MENYELARASKAN KOMPETENSI KARYAWAN DALAM MENCAPAI TARGET PERUSAHAAN DALAM BERSAING DENGAN AGENSI (KONSULTAN) LAIN
Perkembangan dunia digital di Indonesia semakin tinggi dimana Indonesia saat ini mencapai posisi ke-29 dibandingkan dengan Negara di seluruh dunia dan mencapai urutan ke 6 diantara Negara Asia Tenggara untuk tingkat penetrasi internet. Tingginya penetrasi internet ini sejalan dengan tingginya penggunaan telepon genggam dimana Indonesia berada di posisi ke 24 diantara Negara lain di seluruh dunia. Hal ini berpengaruh terhadap penggunaan medium digital sebagai alat promosi perusahaan kepada publik. Perkembangan dunia digital sebagai kanal promosi ini juga selaras dengan tumbuhnya agensi digital di Indonesia. Sejak tahun 2008, perkembangan industri digital di Indonesia semakin marak dikarenakan tingginya tingkat penggunaan media sosial sebagai alat promosi perusahaan. PT Komunikasi Maya Bestari (Communicaption) merupakan salah satu start-up agensi digital yang turut berkompetisi dalam tingginya persaingan di industri digital Indonesia. Sebagai agensi yang terbilang cukup baru, Communicaption memiliki 10 karyawan termasuk pemilik perusahaan yang bekerjasama dalam mengerjakan setiap projek dari klien hingga mengerjakan kebutuhan operasional perusahaan. Hal ini membuat manajemen perlu memperhatikan aspek Human Resource agar perusahaan dan karyawan dapat berjalan selaras dengan tujuan perusahaan. Mempersiapkan karyawan agar mampu bersaing dengan agensi digital lainnya memerlukan peningkatan di berbagai aspek, salah satunya adalah aspek kompetensi. Communicaption sering terkendala karena tingginya beban pekerjaan dalam mengerjakan projek-projek klien. Tingginya beban pekerjaan ini merupakan dampak dari ketidakseimbangan kompetensi yang dimiliki oleh karyawan, sehingga di saat tertentu beberapa karyawan mengalami kelebihan beban kerja. Tugas akhir ini fokus kepada analisa kesiapan karyawan dan perusahaan dalam menyelaraskan kompetensi yang dimiliki oleh karyawan dengan tujuan perusahaan untuk mampu bersaing dengan agensi digital lainnya. Thesis ini bertujuan untuk menganalisa posisi Communicaption dibandingkan dengan competitornya di industri digital agensi. Thesis ini juga berfungsi untuk mencari cara untuk meningkatkan kompetensi karyawan serta mencari cara untuk memperkuat psosisi Communicaption agar mampu bersaing dengan agensi lain. Menggunakan berbagai metode seperti analisa beban kerja, analisa kompetensi, Matriks IFE-EFE, Matriks CPM dan analisa SWOT, peneliti menemukan fakta bahwa Communicaption memiliki banyak kekuatan dalam menjalankan bisnis, namun di sisi lain juga memiliki hambatan terutama di dalam internal perusahaan. Hambatan yang dimiliki sangat erat kaitannya dengan kompetensi yang dimiliki karyawan, karenanya peneliti memberikan rekomendasi kepada Communicaption untuk memprioritaskan peningkatan kompetensi karyawan untuk mencapai tujuan perusahaan. Hal lainnya yang juga perlu dipertimbangkan adalah mengenai menyiapkan Communicaption agar mampu bersaing dengan agensi lain melalui berbagai strategi.