📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 21 dokumenPENGEMBANGAN MODEL INTENSI UNTUK MENGADOPSI E-COMMERCE OLEH UMKM MAKANAN DAN MINUMAN DI PROVINSI JAWA BARAT
Adopsi e-commerce oleh Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan salah satu bentuk transformasi digital yang berpotensi memperluas jangkauan pasar, meningkatkan efektivitas promosi, memperbaiki layanan pelanggan, serta mendukung peningkatan daya saing usaha. Meskipun demikian, tingkat pemanfaatan e-commerce oleh UMKM di Provinsi Jawa Barat belum sepenuhnya merata. Sebagian pelaku usaha telah menggunakan e-commerce sebagai kanal penjualan, tetapi masih terdapat UMKM yang belum pernah menggunakan atau pernah mencoba namun tidak lagi melanjutkan penggunaannya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa proses adopsi e-commerce tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan platform digital, tetapi juga dipengaruhi oleh kesiapan, persepsi, kemampuan, dan karakteristik internal maupun eksternal UMKM. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model intensi adopsi e-commerce oleh UMKM di Provinsi Jawa Barat serta mengidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh signifikan terhadap intensi untuk mengadopsi e-commerce. Model penelitian dikembangkan berdasarkan kerangka Technology-Organization-Environment (TOE) dengan mengintegrasikan faktor teknologi, organisasi, lingkungan, serta dimensi budaya yang relevan dalam konteks adopsi e-commerce. Konstruk eksogen yang digunakan dalam penelitian ini meliputi uncertainty avoidance, long-term orientation, digital literacy, owner/manager innovativeness, perceived cost, perceived benefits, social learning, dan government digital enablement support. Sementara itu, konstruk endogen yang digunakan adalah perceived benefits sebagai konstruk endogen perantara dan intention to adopt e-commerce by MSMEs. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei melalui penyebaran kuesioner kepada UMKM makanan dan minuman di Provinsi Jawa Barat. Data yang berhasil dikumpulkan dan dinyatakan valid berjumlah 143 responden. Mayoritas responden merupakan usaha mikro. Data penelitian dianalisis menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) dengan bantuan perangkat lunak SmartPLS 4.0. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis, dari sepuluh hipotesis yang diuji, terdapat lima hipotesis yang diterima yaitu: Digital literacy terbukti berpengaruh positif signifikan terhadap intention to adopt e-commerce by MSMEs, perceived benefits juga terbukti berpengaruh positif signifikan terhadap intention to adopt e-commerce by MSMEs, long-term orientation terbukti berpengaruh positif signifikan terhadap ii perceived benefits, social learning terbukti berpengaruh positif signifikan terhadap perceived benefits, dan government digital enablement support terbukti berpengaruh positif signifikan terhadap perceived benefits. Kemudian, long-term orientation, government digital enablement support, dan social learning mempunyai pengaruh signifikan tidak langsung terhadap intention to adopt e-commerce by MSMEs. Sementara itu, uncertainty avoidance, long-term orientation, owner/manager innovativeness, perceived cost tidak terbukti secara empiris berpengaruh signifikan terhadap intention to adopt e-commerce by MSMEs. Dalam penelitian ini juga dilakukan analisis multigroup dan clustering untuk memperoleh pemahaman tambahan mengenai karakteristik UMKM. Hasil analisis multigroup menunjukkan bahwa long-term orientation dan owner/manager innovativeness terhadap intention to adopt memiliki perbedaan signifikan antara kelompok adopter dan non-adopter e-commerce. Pada kelompok adopter, hubungan kedua konstruk tersebut terhadap intention to adopt adalah negatif, sementara pada kelompok non-adopter hubungan kedua konstruk tersebut terhadap intention to adopt adalah positif. Selanjutnya, hasil clustering menghasilkan tiga kelompok UMKM, yaitu mayoritas usaha mikro pengguna aktif e-commerce, mayoritas usaha mikro bukan pengguna dan eks-pengguna e-commerce, serta mayoritas usaha dengan omzet lebih tinggi pengguna aktif e-commerce. Hambatan utama pada kelompok bukan pengguna dan eks-pengguna e-commerce yaitu keterbatasan sumber daya manusia, belum memahami cara menggunakan e-commerce, serta persepsi bahwa produk lebih cocok dijual secara offline. Manfaat utama dirasakan oleh kelompok pengguna aktif e-commerce adalah peningkatan penjualan dan kemudahan mengiklankan produk, diikuti oleh kemudahan promosi dan kemudahan pengiriman barang kepada pelanggan.
PENGARUH PERSEPSI KELANGKAAN DAN PERSEPSI KEBUTUHAN MENDESAK TERHADAP PERILAKU PENGABAIAN KERANJANG BELANJA DI E-COMMERCE: BUKTI DARI PENGGUNA SHOPEE
Pengabaian keranjang belanja tetap menjadi isu kritis dalam e-commerce, yang mencerminkan kesenjangan antara minat pembelian konsumen dan penyelesaian transaksi. Isyarat promosi seperti kelangkaan dan kebutuhan mendesak banyak tertanam dalam platform digital untuk memengaruhi pengambilan keputusan konsumen. Namun, bukti empiris yang meneliti pengaruh langsungnya terhadap perilaku pengabaian keranjang belanja masih terbatas. Studi ini menyelidiki pengaruh persepsi kelangkaan dan persepsi kebutuhan mendesak terhadap perilaku pengabaian keranjang belanja di kalangan pengguna Shopee. Penelitian ini mengadopsi desain penjelasan kuantitatif menggunakan survei lintas sektoral terhadap 223 responden yang dipilih melalui pengambilan sampel bertujuan. Data dianalisis menggunakan regresi linier berganda setelah melakukan uji validitas, reliabilitas, dan asumsi klasik. Temuan menunjukkan bahwa baik persepsi kelangkaan maupun persepsi kebutuhan mendesak secara signifikan memengaruhi perilaku pengabaian keranjang belanja, dengan kebutuhan mendesak menunjukkan pengaruh yang lebih kuat. Model ini menjelaskan sebagian besar varians dalam pengabaian keranjang belanja, menunjukkan bahwa persepsi isyarat promosi memainkan peran penting dalam membentuk hasil transaksi. Studi ini memperluas penelitian isyarat promosi dari niat pembelian ke perilaku pembayaran aktual dan memberikan wawasan praktis untuk mengoptimalkan strategi promosi digital.
DAMPAK STRATEGI PROMOSI DAN KUALITAS PELAYANAN DALAM MENUMBUHKAN LOYALITAS PELANGGAN: STUDI EMPIRIS PADA SHOPEE INDONESIA
E-commerce merupakan bagian penting dari ekonomi digital Indonesia, dengan Shopee memegang pasar yang dominan dan memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku pengguna massal. Meskipun terdapat tingkat pertumbuhan yang tinggi di sektor ini, serta ketergantungan yang besar dari Shopee pada strategi promosi berbasis harga, keberlanjutan loyalitas pelanggan dalam lingkungan yang kompetitif untuk jangka waktu yang lama masih menjadi pertanyaan yang belum terjawab. Literatur saat ini cenderung berfokus pada strategi promosi atau penentu kualitas layanan, namun kurang memperhatikan bagaimana kedua kekuatan tersebut saling terkait, terutama dalam konteks pasar berkembang di mana konsumen lebih sensitif terhadap harga tetapi pada saat yang sama semakin menginginkan pengalaman layanan digital yang lebih canggih. Kesenjangan penelitian ini diatasi oleh studi ini, di mana interaksi antara Daya Tarik Promosi yang Dirasakan (PPA), Kualitas Layanan Elektronik (ESQ), dan Kepuasan Pelanggan (CS), serta kontribusi CS terhadap Loyalitas Pelanggan (CL), diteliti secara empiris dalam konteks dua raksasa e-commerce tersebut. Studi ini mendasarkan desain kuantitatif-eksplanatorisnya pada penggunaan data survei yang dikumpulkan di antara pengguna aktif Shopee yang tinggal di Wilayah Metropolitan Jakarta—sebuah mikrokosmos perdagangan online Indonesia karena kepadatan penduduk yang besar, tingkat adopsi teknologi yang kuat, dan perilaku belanja online yang maju. Sekelompok ukuran tercermin yang terdiri dari dua puluh empat indikator dan empat konstruksi (PPA, ESQ, CS, dan CL) digunakan untuk menilai kedua platform oleh responden. Partial Least Squares-Structural Equation Modeling (PLS-SEM) digunakan untuk menganalisis data, yang didukung oleh bootstrapping, uji mediasi, prosedur penilaian prediktif, dan analisis multi-grup untuk membandingkan dan membedakan model pada kedua platform. Hasil penelitian menunjukkan tren yang jelas dan kuat: Kualitas Layanan Elektronik (ESQ) dapat dilihat sebagai faktor yang paling berpengaruh dan paling stabil dalam memprediksi Kepuasan Pelanggan, dan dampaknya secara signifikan lebih kuat daripada promosi. Pada Shopee, ESQ menunjukkan koefisien jalur yang sangat tinggi terhadap CS (Shopee ? = 0,759, p < 0,001). Dimensi responsivitas layanan pelanggan, pemecahan masalah, keamanan transaksi, dan keandalan pengiriman produk muncul sebagai area terkuat dari ESQ, yang menunjukkan bahwa pembeli Indonesia lebih menekankan pada proses penanganan layanan yang fungsional, lancar, dan andal, dibandingkan sekadar hadiah promosi. Kepuasan Pelanggan, pada gilirannya, menunjukkan korelasi positif yang kuat dengan Loyalitas Pelanggan. Jalur CS - CL sangat penting dalam kasus Shopee, yang mengindikasikan bahwa interpretasi kepuasan menjadi perilaku pembelian berulang, preferensi terhadap platform tertentu, dan niat untuk merekomendasikan bergantung pada keunggulan spesifik platform dan keyakinan konsumen mengenai konsistensi. Sebaliknya, Daya Tarik Promosi yang Dirasakan memiliki pengaruh yang rendah terhadap Kepuasan Pelanggan dan Loyalitas Pelanggan. Nilai loading indikator yang rendah (dalam hal insentif finansial, terutama diskon dan pengiriman gratis) dihapus dalam model pengukuran yang divalidasi, dan ini menunjukkan bahwa kategori ini telah menjadi faktor higienis pasar (standar dasar) dan bukan lagi sebagai pembeda. Bahkan elemen promosi eksperiensial seperti gamifikasi dan live commerce memiliki daya jelaskan yang sangat rendah. Analisis mediasi juga mendukung fakta bahwa Kepuasan Pelanggan adalah proses sentral yang menghubungkan ESQ dengan loyalitas, sedangkan promosi tidak memiliki dampak signifikan terhadap pembentukan loyalitas baik secara langsung maupun tidak langsung. Analisis multi-grup menunjukkan bahwa kedua platform menggunakan strategi promosi yang serupa, namun Shopee memiliki keunggulan lebih karena efektivitas konversi kepuasan menjadi loyalitas yang lebih besar. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa kualitas layanan, bukan intensitas promosi, merupakan pendorong utama loyalitas pelanggan yang berkelanjutan dalam duopoli e-commerce di Indonesia. Untuk membangun loyalitas jangka panjang seiring dengan meningkatnya persaingan dan menurunnya keuntungan marjinal dari pengeluaran promosi, platform harus fokus pada investasi dalam transaksi yang aman, dukungan yang responsif, sistem pemenuhan (fulfillment) yang andal, dan pengalaman pengguna berkualitas tinggi. Temuan ini juga memberikan informasi strategis bagi pemasar dan operator platform yang membutuhkan positioning jangka panjang selain program insentif berumur pendek di pasar digital yang berubah dengan cepat.
PENGARUH PLATFORM E-COMMERCE TERHADAP PERPUTARAN PERSEDIAAN: STUDI EMPIRIS PADA PERUSAHAAN RITEL DI BURSA EFEK INDONESIA
Transformasi digital telah mengubah industri ritel di Indonesia, seiring dengan meningkatnya pergeseran perilaku konsumen dari toko fisik ke platform belanja online. Transformasi ini telah meningkatkan persaingan dalam industri ritel dan mendorong perusahaan ritel untuk mengadopsi saluran online, termasuk platform e-commerce, sebagai bagian dari strategi penjualan dan distribusi mereka. Penggunaan saluran digital memungkinkan perusahaan untuk menjangkau pasar yang lebih luas, meningkatkan aksesibilitas pelanggan, dan merespons perubahan preferensi konsumen dengan lebih cepat. Pada saat yang sama, perusahaan ritel Indonesia menghadapi tekanan yang semakin besar untuk meningkatkan efisiensi persediaan karena ketidakpastian permintaan, fluktuasi daya beli, dan persaingan yang lebih tinggi. Beberapa perusahaan ritel menggunakan platform e-commerce sebagai respons terhadap perubahan kondisi pasar agar tetap kompetitif. Namun, dampak aktual adopsi platform e-commerce terhadap perputaran persediaan masih belum jelas. Studi sebelumnya tentang perputaran persediaan sebagian besar berfokus pada faktor keuangan dan operasional, seperti margin kotor, intensitas modal, pertumbuhan penjualan, ukuran perusahaan, dan tren waktu, sementara peran adopsi digital hanya mendapat perhatian empiris yang terbatas, terutama di pasar negara berkembang. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh adopsi platform e-commerce dan faktor-faktor lain, seperti margin kotor, intensitas modal, pertumbuhan penjualan, ukuran perusahaan, dan tren waktu terhadap perputaran persediaan di antara perusahaan ritel yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Perputaran persediaan digunakan sebagai indikator utama efisiensi persediaan, karena mencerminkan seberapa efektif perusahaan mengkonversi persediaan menjadi penjualan dari waktu ke waktu. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif dengan menggunakan data sekunder yang diperoleh dari data keuangan historis, laporan tahunan, informasi platform ecommerce, berita, dan literatur terkait, yang mencakup 14 perusahaan ritel selama periode 2016 hingga 2024. Analisis dilakukan menggunakan regresi data panel untuk menangkap perbedaan lintas sektoral antar perusahaan dan variasi dari waktu ke waktu, dengan model efek acak untuk memperkirakan hubungan antara variabel independen dan perputaran persediaan. Temuan menunjukkan bahwa adopsi e-commerce memiliki pengaruh yang tidak signifikan, menunjukkan bahwa mengadopsi platform e-commerce tidak secara langsung meningkatkan efisiensi persediaan. Hasil tersebut juga menunjukkan bahwa margin kotor memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap perputaran persediaan, sedangkan pertumbuhan penjualan memiliki pengaruh positif yang signifikan. Sementara itu, intensitas modal, ukuran perusahaan, dan tren waktu tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan secara statistik terhadap perputaran persediaan selama periode observasi. Penelitian ini memberikan kebaruan dengan memasukkan adopsi e-commerce dalam model perputaran persediaan, memperluas studi sebelumnya yang lebih berfokus pada faktor keuangan dan operasional. Selain itu, penelitian ini memperluas penelitian persediaan berbasis rasio dengan menunjukkan bahwa adopsi e-commerce saja tidak cukup untuk meningkatkan efisiensi persediaan dan harus didukung oleh kemampuan manajerial dan operasional yang tepat. Secara keseluruhan, temuan ini memberikan bukti empiris baru tentang bagaimana transformasi digital memengaruhi perputaran persediaan di industri ritel Indonesia dan menawarkan wawasan berharga bagi akademisi dan praktisi.
PERANCANGAN DESAIN INTERAKSI MOBILE INTERFACE FITUR PERBANDINGAN PRODUK PADA E-COMMERCE UNTUK MEMINIMALKAN COGNITIVE LOAD PENGGUNA
Fitur perbandingan produk menjadi aspek penting dalam proses pengambilan keputusan pengguna di platform e-commerce, namun saat ini masih banyak dilakukan secara manual yang tidak efisien dan membebani beban kognitif pengguna. Hasil studi awal menunjukkan bahwa proses perbandingan produk yang tersedia saat ini belum optimal, ditandai dengan tingginya kebingungan pengguna dalam memahami perbedaan produk serta pengalaman yang tidak efisien. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, penelitian ini merancang ulang fitur perbandingan produk menggunakan pendekatan User-Centered Design (UCD), yang mencakup tahapan user research, specify requirements, perancangan solusi, serta usability testing dalam dua iterasi. Solusi akhir berupa high-fidelity prototype pada antarmuka mobile yang menyajikan informasi perbandingan produk secara ringkas, terstruktur, dan mudah dipahami. Evaluasi dilakukan dengan usability testing menggunakan metrik SUS, SEQ, NPS, time on task, serta pengukuran beban kognitif menggunakan NASA-TLX. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan signifikan dalam efektivitas, efisiensi, dan kemudahan pemahaman, serta penurunan beban kognitif pengguna. Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan desain berpusat pada pengguna dapat meningkatkan kualitas pengalaman pengguna secara menyeluruh dan mendukung pengambilan keputusan pembelian yang lebih tepat dan nyaman.
PERAN ELEMEN DESAIN UI/UX DALAM MEMBENTUK PENGALAMAN PENGGUNA PADA E-COMMERCE ONLINE INDONESIA: PERBANDINGAN SHOPEE & TOKOPEDIA
Shopee dan Tokopedia adalah platform e-commerce yang menawarkan berbagai macam produk dan layanan di platform mereka. Mereka menawarkan promosi, pengiriman gratis, permainan berbasis aplikasi seluler, pemasaran konten, dan pemasaran influencer untuk meningkatkan pengalaman pengguna dan mempengaruhi niat pelanggan untuk berbelanja online. Namun, meskipun kedua platform e-commerce ini menawarkan penawaran yang hampir sama, mereka masih memiliki jumlah pengguna yang berbeda. Penelitian ini berfokus pada peran Antarmuka Pengguna (UI) terhadap pengalaman pengguna secara keseluruhan di platform e-commerce Indonesia, khususnya membandingkan Shopee dan Tokopedia. Kedua platform telah mengukuhkan diri sebagai pemimpin pasar dengan meningkatkan pengalaman berbelanja konsumen. Temuan penelitian didasarkan pada pendekatan kualitatif, menggunakan survei terbuka untuk mengumpulkan informasi detail dari pengguna mengenai penggunaan kedua platform e-commerce dan preferensi mereka terhadap desain antarmuka pengguna. Setiap platform e-commerce perlu memahami prinsip-prinsip desain antarmuka pengguna untuk mempertahankan keunggulan pasar mereka. Studi ini membandingkan bagaimana masing-masing platform berkinerja terkait fitur desain antarmuka pengguna mereka. Penelitian ini mengungkapkan data yang dapat digunakan Shopee dan Tokopedia untuk meningkatkan situs web atau aplikasi seluler mereka secara khusus untuk pembeli Indonesia. Kesuksesan strategi pemasaran digital mereka akan membantu mereka mengubah niat pengguna untuk menghasilkan pertumbuhan penjualan yang lebih tinggi.
REKOMENDASI STRATEGIS UNTUK MENINGKATKAN ADOPSI BELI SEKARANG BAYAR NANTI PADA TRANSAKSI PENGIRIMAN MAKANAN ONLINE PADA SEGMEN PELANGGAN MAHASISWA
Layanan pemesanan makanan secara daring (Online Food Delivery/OFD) di Indonesia mengalami pertumbuhan signifikan dalam lima tahun terakhir, didorong oleh kemajuan teknologi dan perubahan gaya hidup konsumen. Mahasiswa merupakan segmen pelanggan kunci bagi penyedia layanan OFD karena karakteristik mereka yang cakap teknologi, intense mengunakan ekosistem digital, dan memiliki perilaku konsumsi yang mengutamakan kenyamanan. Segmen ini juga sangat akrab dengan sistem pembayaran digital, termasuk dompet digital (e-wallet) dan alat keuangan baru seperti Buy Now, Pay Later (BNPL), yang penggunaannya semakin meningkat di kalangan anak muda. Namun demikian, mahasiswa juga sangat sensitif terhadap harga, memiliki loyalitas platform yang rendah, serta tingkat perpindahan platform yang tinggi. Di tengah persaingan ketat dari platform seperti GoFood, GrabFood, dan ShopeeFood, diperlukan pendekatan baru untuk meningkatkan penetrasi pasar dan menguasai segmen mahasiswa secara lebih efektif. Penelitian ini menyelidiki korelasi dan dampak adopsi BNPL terhadap perilaku transaksi layanan OFD di kalangan mahasiswa. Dengan menggunakan pendekatan metode campuran—menggabungkan analisis data transaksi historis, survei kuantitatif, dan wawancara kualitatif—penelitian ini mengeksplorasi bagaimana fitur BNPL memengaruhi frekuensi transaksi, nilai rata-rata pesanan, dan retensi pelanggan. Temuan menunjukkan bahwa meskipun penggunaan OFD didorong oleh promosi harga dan kenyamanan, tingkat adopsi BNPL untuk transaksi harian yang bersifat kecil seperti pemesanan makanan masih rendah di kalangan mahasiswa. Hambatan psikologis seperti kekhawatiran terhadap pengeluaran berlebih menjadi salah satu faktor utama. Namun, minat terhadap BNPL dapat muncul secara bersyarat apabila terdapat penawaran seperti promosi, diskon, atau insentif tanpa bunga. Studi ini menyimpulkan bahwa integrasi BNPL dengan strategi pemasaran yang terarah dapat meningkatkan keterlibatan mahasiswa terhadap platform OFD. Rekomendasi praktis diberikan kepada GoFood dan GoPayLater agar dapat menyelaraskan penawaran BNPL mereka dengan pola perilaku dan preferensi keuangan mahasiswa, guna meningkatkan volume transaksi, mempertahankan pelanggan, dan mencapai keunggulan bersaing yang berkelanjutan
PENGEMBANGAN ENTITY RESOLUTION BERBASIS LARGE LANGUAGE MODEL UNTUK IDENTIFIKASI PRODUK SERUPA ANTAR PLATFORM E-COMMERCE
Persaingan e-commerce yang semakin ketat menuntut platform e-commerce merespons dengan strategi yang tepat, salah satunya melalui perbandingan harga pada kompetitor. Akan tetapi, tidak adanya standardisasi format penyajian informasi, terutama pada data teks seperti nama dan deskripsi produk, menyulitkan usaha pencocokan produk antar platform. Salah satu teknik yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan ini adalah entity resolution, yaitu proses untuk menentukan apakah dua atau lebih objek merujuk ke entitas yang sama di dunia nyata. Proses ini terdiri dari dua tahap utama, yakni blocking untuk menyaring kandidat pasangan agar jumlahnya menjadi seminimal mungkin, dan matching untuk mengklasifikasikan apakah pasangan tersebut serupa atau tidak. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan entity resolution menggunakan large Language Model (LLM) untuk mengidentifikasi produk serupa pada e-commerce, serta membandingkan performa dua jenis arsitektur model, yakni encoder dan decoder. Selain itu, penelitian ini juga membandingkan dua pendekatan pelatihan model, yakni fine-tuning dan soft prompt learning. Metodologi yang digunakan adalah CRISP-DM. Dataset yang dipakai berasal dari produk Amazon dan produk Google. Evaluasi pada tahap blocking menggunakan metrik recall@k, sedangkan evaluasi pada tahap matching dan sistem keseluruhan adalah F1-score. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa model all-RoBERTa-large-v1 memiliki kinerja terbaik dengan nilai recall@k mencapai 98,62%, sedangkan model llama-3.1-8B dengan pendekatan soft prompt learning menghasilkan F1-score tertinggi yaitu 91,91% untuk matching. Secara keseluruhan, sistem entity resolution menghasilkan F1- score mencapai 87,64%. Pendekatan soft prompt learning menghasilkan kinerja yang lebih baik daripada fine-tuning pada setiap model.
MENINGKATKAN KEBERHASILAN RESELLER: STRATEGI UNTUK MENINGKATKAN KETERLIBATAN RESELLER DAN KINERJA PENJUALAN PADA PLATFORM CONNECTED COMMERCE: STUDI KASUS EVERMOS
Pertumbuhan pesat e-commerce telah membuka peluang besar bagi bisnis untuk memperluas jangkauan mereka. Namun, bagi platform seperti Evermos, sebuah platform perdagangan sosial di Indonesia, keterlibatan reseller tetap menjadi tantangan penting yang memengaruhi kinerja penjualan. Meskipun memiliki model bisnis yang menjanjikan, Evermos gagal mencapai target penjualan 2024 sebesar 35%. Penelitian ini mengidentifikasi kesenjangan dalam keterlibatan reseller dan kinerja penjualan, serta faktor-faktor utama yang berkontribusi terhadap kekurangan ini. Reseller memainkan peran penting dalam keberhasilan Evermos, namun banyak yang menghadapi tantangan dalam memahami sepenuhnya fitur-fitur platform, yang membatasi kemampuan mereka untuk mengoptimalkan penjualan. Studi ini mengidentifikasi kesenjangan pengetahuan dalam penggunaan platform, serta hambatan eksternal seperti biaya pengiriman yang tinggi dan persaingan pasar, yang berkontribusi terhadap kesenjangan penjualan. Pendekatan metode campuran, yang melibatkan survei dengan 561 reseller dan diskusi kelompok terfokus, mengungkapkan tingkat keterlibatan reseller dengan fitur platform dan menyoroti tantangan utama yang mereka hadapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengusulkan strategi untuk meningkatkan keterlibatan reseller dan mengurangi kesenjangan penjualan. Strategi-strategi ini berfokus pada peningkatan pelatihan, perbaikan komunikasi mengenai manfaat platform, dan mengatasi hambatan eksternal. Rekomendasi termasuk implementasi gamifikasi, penawaran dukungan yang dipersonalisasi, dan klarifikasi struktur komisi. Studi ini menyimpulkan bahwa dengan meningkatkan keterlibatan reseller, Evermos dapat menutup kesenjangan penjualan dan memperkuat posisinya di pasar e-commerce yang kompetitif.
STRATEGI ALTERNATIF UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN ONLINE TRANSAKSI WEBSITE DENGAN PENDEKATAN PROSES ANALYTICAL HIERARCHY DAN INTEGRASI OF TECHNOLOGY ACCEPTANCE MODEL AND THEORY OF PLANNED BEHAVIOR
E-Commerce adalah suatu aktivitas jual, beli dan distribusi produk melalui internet. Di Indonesia, tingginya penetrasi penggunaan perangkat mobile, dominasi populasi muda dan dukungan kuat pemerintah Indonesia terhadap infrastruktur digital menjadi faktor penting yang mendorong pertumbuhan platform E-Commerce. Salah satu bentuk populer dari adanya industri E-Commerce ini adalah marketplaces, situs serbaguna yang menghubungkan penjual dan pembeli dalam satu platform. E-Commerce menyediakan kemudahan akses dan penawaran harga kompetitif. Akibatnya, baik penjual dan pembeli menjadi sangat bergantung pada platform ini. Bagi brand merek ritel, marketplace tentunya memberikan kontribusi besar dalam pertumbuhan penjualan karena mampu memberikan akses brand kepada berbagai segmen pembeli. Namun, ketergantungan ini menyebabkan brand memiliki kurangnya akses atas ekosistem digital, termasuk dalam komunikasi secara langsung dengan konsumen. Decathlon, adalah perusahaan berbasis retail perlengkapan olahraga dari Prancis yang didirikan tahun 1976. Di Indonesia, Decathlon sudah mulai beroperasi sejak 2017. Saat ini Decathlon menjadi salah satu brand yang mengalami kesulitan untuk meningkatkan transaksi pada website: decathlon.co.id karena ketergantungan customer pada marketplace. Maka dari itu, analisa internal dan external berupa perilaku konsumen, trend pasar di industri di kalangan penggemar olahraga perlu dilakukan untuk menentukan strategi yang tepat untuk meningkatkan transaksi di website. Teori Analytical Hierarchy Process akan digunakan untuk menentukan strategi alternatif mana yang paling prioritas. Selain itu, integrasi antara teori Technology Acceptance Model (TAM) dan Theory of Planned Behavior (TPB) diperlukan untuk merumuskan strategi jangka panjang dan jangka pendek berdasarkan masing-masing alternatif
PENGARUH KUALITAS LAYANAN, PERSEPSI NILAI, DAN KEWAJARAN HARGA TERHADAP LOYALITAS MELALUI KEPUASAN PELANGGAN DALAM KONTEKS E-COMMERCE: GREENPLACE
Pertumbuhan signifikan sektor e-commerce di Indonesia memposisikan Indonesia sebagai negara dengan pasar e-commerce terbesar di Asia Tenggara. Fast Moving Consumer Goods (FMCG) pada kategori kecantikan menjadi kategori dengan volume penjualan terbesar di e-commerce Indonesia, mencapai 49% dari seluruh penjualan di e-commerce. Hal ini menyebabkan persaingan yang ketat di sektor e-commerce khususnya pada kategori kecantikan. Perusahaan e-commerce saling bersaing untuk meningkatkan volume transaksi antara penjual dan pembeli, yang secara tidak langsung berdampak pada keuntungan finansial perusahaan e-commerce. Diantara para pesaingnya Greenplace merupakan platform e-commerce terbesar kedua di Indonesia, namun ditengah pertumbuhan positif e-commerce khususnya pada kategori kecantikan Greenplace mengalami penurunan Gross Merchandise Value (GMV) yang diakibatkan penurunan jumlah penjual di kategori kecantikan, hal ini menunjukan bahwa terdapat penurunan loyalitas penjual pada kategori kecantikan Greenplace. Hasil survei awal dengan penjual kategori kecantikan di Greenplace mengungkapkan ketidakpuasan penjual terkait dengan biaya platform yang meningkat, fitur promosi yang dinonaktifkan, dukungan voucher yang berkurang, dan alat periklanan yang kurang efektif dibandingkan dengan pesaing, dan penurunan kualitas pelayanan Greenplace bagi penjualnya. Permasalahan ini menimbulkan risiko terhadap posisi pasar dan kinerja Greenplace secara keseluruhan. Menyadari bahwa kepuasan penjual merupakan anteseden utama loyalitas, dan bahwa kualitas layanan elektronik, persepsi nilai, dan kewajaran harga sangat penting dalam membentuk kepuasan dan loyalitas di konteks e-commerce, studi ini bertujuan untuk menyelidiki pengaruh kualitas layanan elektronik, persepsi nilai, dan kewajaran harga terhadap kepuasan dan loyalitas penjual khususnya pada kategori kecantikan di Greenplace. Selanjutnya menyelidiki mana variabel yang memberikan pengaruh terbesar dan terkecil terhadap kepuasan dan loyalitas penjual pada kategori kecantikan di Greenplace. Sehingga Greenplace dapat mengembangkan perbaikan strategis yang meningkatkan loyalitas penjual, dan pada akhirnya memulihkan volume transaksi dan kinerja keseluruhan di segmen FCMG kategori kecantikan. Tugas akhir ini merupakan penelitian kuantitatif yang melakukan analisis statistik dengan teknik analisis data Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM), agar penelitian dapat membuktikan hipotesis yang telah dikembangkan dan memperoleh hasil penelitian. Penelitian ini memperoleh data dengan cara menyebarkan kuesioner secara online. Teknik pengambilan sampel yaitu secara non-probabilitas dengan cara purposive sampling. Adapun kriteria sampel yang ditetapkan yaitu responden merupakan penjual di platform Greenplace, menjual produk di kategori kecantikan, dan merupakan penjual yang aktif berjualan setidaknya selama enam bulan terakhir. Hasil uji hipotesis menunjukan bahwa kualitas layanan elektronik, persepsi nilai, dan kewajaran harga berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan penjual. Kualitas layanan elektronik, persepsi nilai, dan kewajaran harga berpengaruh positif dan signifikan terhadap loyalitas penjual. Kepuasan penjual berpengaruh positif terhadap loyalitas penjual pada kategori kecantikan di Greenplace. Hasil penelitian juga menunjukan bahwa kewajaran harga dan persepsi nilai merupakan determinan yang memberikan pengaruh terbesar bagi kepuasan dan loyalitas penjual, sedangkan kualitas layanan elektronik merupakan determinan yang memberikan pengaruh terkecil bagi kepuasan penjual dan kepuasan merupakan determinan yang memberikan pengaruh terkecil bagi loyalitas penjual pada kategori kecantikan di Greenplace. Terakhir, penelitian melakukan Importance Performance Map Analysis (IPMA) untuk menyusun langkah strategis bagi Greenplace untuk meningkatkan loyalitas penjual. Hasil analisis menunjukkan bahwa kewajaran harga perlu diutamakan oleh Greenplace untuk ditingkatkan kinerjanya dengan mengatasi masalah persepsi harga dan membangun kepercayaan melalui transparansi dan penyesuaian potensial terhadap struktur biaya. Karena menurut penjual, kewajaran harga penting dalam meningkatkan loyalitas penjual. Persepsi nilai menjadi keunggulan kompetitif perusahaan dalam meningkatkan loyalitas penjual, sementara kualitas layanan elektronik dan kepuasan penjual harus dipertahankan kinerjanya seuasi standar untuk mendukung loyalitas penjual pada kategori kecantikan di Greenplace.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI ADOPSI IKLAN E-COMMERCE OLEH PENJUAL DI PLATFORM NAKOMMERCE
Adopsi fitur iklan digital semakin penting bagi platform e-commerce dalam mendorong pertumbuhan serta membantu penjual meningkatkan kinerja bisnisnya. Banyak platform e-commerce yang telah menyediakan fitur iklan di dalam platform sebagai upaya untuk mendukung penjual sekaligus memanfaatkan trafik pengguna untuk meningkatkan pendapatan. Dibandingkan jenis iklan digital lainnya, iklan e-commerce memiliki potensi besar karena dapat ditampilkan langsung di platform belanja, di mana pengguna sudah memiliki niat membeli. Fitur iklan ini telah menjadi bagian penting dari strategi monetisasi dan membantu penjual meningkatkan visibilitas produk serta penjualan. Namun, meskipun memiliki potensi besar, tingkat adopsi Iklan Nakommerce, yang merupakan sebuah fitur iklan digital di salah satu platform e-commerce Indonesia, masih tergolong rendah. Kurang dari 30% penjual menggunakan fitur ini. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara ketersediaan dan pemanfaatannya. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas fitur iklan dan keterlibatan penjual terhadapnya. Oleh karena itu, penting untuk memahami faktor-faktor apa saja yang memengaruhi keputusan penjual dalam mengadopsi iklan e-commerce. Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang berfokus pada jenis pemasaran digital lainnya, penelitian ini mengkaji perilaku adopsi penjual terhadap iklan e-commerce pada platform e-commerce di Indonesia dengan menerapkan kerangka UTAUT3 dengan penambahan literasi iklan digital sebagai variabel baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor utama yang memengaruhi niat penjual menggunakan Iklan Nakommerce, serta memberikan rekomendasi strategis untuk meningkatkan fitur dan mendorong adopsi. Penelitian ini menguji beberapa faktor seperti ekspektasi kinerja, ekspektasi usaha, pengaruh sosial, kondisi yang memfasilitasi, nilai harga, kebiasaan, inovasi pribadi, dan literasi iklan digital sebagai variabel yang diduga memengaruhi keputusan adopsi. Pendekatan yang digunakan adalah metode campuran (mixed method). Data kuantitatif diperoleh melalui survei online terhadap 91 penjual dan dianalisis menggunakan Partial Least Squares-Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Sementara itu, data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara semi terstruktur dengan sepuluh penjual dan dianalisis menggunakan metode analisis framework. Penggabungan dua pendekatan ini digunakan untuk memperkuat validitas dan memperdalam pemahaman terhadap hasil temuan. Hasil analisis menunjukkan bahwa niat penjual dalam menggunakan Nakommerce Ads dipengaruhi secara signifikan oleh ekspektasi kinerja, nilai harga, dan pengaruh sosial. Faktor yang paling berpengaruh adalah ekspektasi kinerja, yang menunjukkan bahwa penjual lebih tertarik menggunakan iklan jika mereka yakin iklan tersebut dapat membantu meningkatkan visibilitas dan penjualan. Nilai harga juga menjadi perhatian utama karena banyak penjual menganggap biaya iklan cukup tinggi dan masih meragukan apakah hasilnya sebanding. Selain itu, pengaruh sosial, terutama dalam bentuk tekanan kompetitif, juga menjadi faktor penting, karena penjual cenderung terdorong untuk mengikuti langkah pesaing di kategori produk yang sama. Berdasarkan hasil tersebut, diusulkan tiga solusi bisnis. Pertama, fitur Predictive Performance Simulation dapat dikembangkan agar penjual dapat memperkirakan hasil kampanye sebelum iklan dijalankan, sehingga meningkatkan rasa percaya diri mereka. Kedua, Insight Center dapat menyediakan data pembanding dan insight pasar, membantu penjual mengambil keputusan yang lebih tepat. Ketiga, Goal-Based Ads Automation memungkinkan penjual memilih tujuan kampanye iklan yang spesifik, sementara sistem akan mengoptimalkan kinerja iklan secara otomatis. Solusi ini diharapkan mampu meningkatkan persepsi penjual terhadap manfaat dan nilai dari fitur iklan yang ditawarkan.
ADOPSI E-COMMERCE PADA USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH DI INDONESIA: SEBUAH ANALISIS MENGGUNAKAN MODEL MODIFIKASI EXTENDED-UTAUT
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia menyumbang 61% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, menyediakan lapangan kerja bagi 97% tenaga kerja, dan berjumlah 66 juta unit usaha yang mewakili 99,99% dari semua usaha di Indonesia. Tingkat Penetrasi Internet di Indonesia menunjukkan peningkatan dan mencapai 79,50% pada tahun 2024. Jumlah total pengguna smartphone juga mengalami pertumbuhan hingga mencapai 89,86 juta pengguna. Pasar e-commerce Indonesia mencapai USD 73 miliar di tahun 2023 dengan tingkat pertumbuhan tahunan sebesar 22%. Indonesia juga memiliki segmen anak muda aktif secara online yang cukup besar terhadap total populasi 290 juta orang. Meskipun Indonesia memiliki kondisi yang menjanjikan tersebut, penelitian menunjukkan bahwa adopsi TIK di kalangan UMKM masih relatif rendah. Menurut studi International Institute for Management Development (IMD) - Digital Competitiveness Rank pada tahun 2022, Indonesia menduduki peringkat ke-51 dari 63 negara, dengan hanya 22 juta atau 33,6 persen dari UMKM yang telah melakukan transformasi digital dalam operasional mereka dan terlibat dalam bisnis melalui internet atau e-commerce. Oleh karena itu, upaya mendorong adopsi e-commerce di kalangan UMKM Indonesia sangat diperlukan untuk meningkatkan daya saing mereka di pasar global. Dengan demikian, sangat penting untuk meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi niat untuk mengadopsi e-commerce di kalangan UMKM Indonesia dengan data dan kondisi terkini. Studi ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor kunci yang mempengaruhi niat perilaku UMKM Indonesia untuk mengadopsi e-commerce dalam bisnis mereka menggunakan model Modified Extended-Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT). Berdasarkan analisis deskriptif, penelitian ini menghasilkan bahwa UMKM memberikan penilaian yang sangat tinggi terhadap faktor Performance Expectancy (88,51%), Effort Expectancy (84,11%), dan Content (84,59%), yang mencerminkan pandangan yang sangat positif terhadap faktor-faktor tersebut. Selain itu, faktor Social Influence (83,65%), Facilitating Condition (83,72%), Price Value (83,14%), dan Trust (82,33%) juga mendapatkan skor yang tinggi, menunjukkan bahwa faktor-faktor ini berperan penting dalam penerimaan teknologi. Demikian pula Behavioral Intention sebesar 85,33% menunjukkan bahwa kecenderungan minat mayoritas responden untuk menggunakan e-commerce di masa depan sangat tinggi, dan sebagian besar menyatakan rencana untuk memanfaatkan e-commerce dalam jangka pendek (1 tahun ke depan). Berdasarkan 663 responden valid yang dikumpulkan dari 24 provinsi di seluruh Indonesia, dilakukan analisis data menggunakan SmartPLS 4.0 dan menghasilkan bahwa tujuh variable dalam model Modified Extended-UTAUT ini secara signifikan mempengaruhi niat perilaku UMKM untuk mengadopsi e-commerce dalam operasional mereka. Variabel dengan nilai koefisien jalur (path coeeficient) tertinggi adalah Content sebesar 0,248, diikuti oleh Performance Expectancy sebesar 0,168, Price Value sebesar 0,162, Facilitating Condition sebesar 0,159, Effort Expectancy sebesar 0,094, dan Social Influence sebesar 0,093. Adapun variabel Trust sebesar 0,071 menunjukkan dampak terkecil. Analisis terhadap empat variabel moderator yaitu Age, Gender, Scale of Business dan Experience juga dilakukan menggunakan analisis multigrup, dengan hasil menunjukkan bahwa Performance Expectancy, Effort Expectancy, Social Influence, Price Value, dan Content tidak dimoderasi oleh ke empat variabel moderator dalam intention untuk adopsi e-commerce. Namun demikian, Facilitating Condition dimoderasi oleh Experience, terutama pada UMKM dengan lama pengalaman usaha 1 sampai 5 tahun. Demikian juga, Trust dimoderasi oleh Gender dan Experience, dengan dampak lebih besar pada jenis kelamin perempuan dan UMKM dengan pengalaman usaha kurang dari 1 tahun. Model Modified Extended-UTAUT yang digunakan dalam studi ini menghasilkan nilai R-square sebesar 0,752, sehingga dapat disimpulkan model tersebut kuat atau signifikan dimana 75,2% intention UMKM dalam mengadopsi e-commerce dipengaruhi oleh 7 variabel kunci yaitu Performance Expectancy, Effort Expectancy, Social Influence, Facilitating Conditions, Price Value, Content, dan Trust, sementara sisanya sebesar 24,8% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak dianalisis dalam studi ini.
PENGARUH SOSIAL MEDIA DAN E-COMMERCE TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN ONLINE UNTUK MENINGKATKAN PENJUALAN PERHIASAN TOKO MAS GAJAH
Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh databoks menyatakan bahwa sebanyak 46% masyarakat Indonesia memilih untuk berinvestasi pada emas. Sepanjang tahun 2024, harga emas mengalami peningkatan sebesar 36% yang mencerminkan bahwa emas semakin diminati oleh masyarakat dengan meningkatnya permintaan emas mencapai angka 12,7 ton. Data survey yang dilakukan oleh Populix menunjukkan bahwa 46% masyarakat menggunakan e-commerce seperti Tiktok Shop sebagai media untuk berbelanja perhiasan secara online. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa Toko Mas Gajah memiliki peluang untuk memasuki pasar yang berpotensi sangat besar. Ketidak selarasan antara minat masyarakat yang besar dalam membeli emas dengan penjualan Toko Mas Gajah yang cenderung tidak stabil perlu dilakukan evaluasi agar dapat memaksimalkan pendapatannya dengan melakukan analisis pada bagian mana Toko Mas Gajah belum berpotensi untuk mengembangkan peluangnya. Seiring perkembangan teknologi dimana saat ini masyarakat gemar untuk berbelanja secara online dan Toko Mas Gajah menyadari bahwa mereka belum memanfaatkan platform online tersebut dengan baik membuat mereka sadar untuk segera memasuki trend berbelanja dengan metode yang baru tersebut. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui platform social media dan e-commerce mana yang memiliki potensi terbaik atau paling disukai oleh konsumen, sehingga Toko Mas Gajah bisa menyesuaikan pemasaran digital yang perlu dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh media sosial dan e-commerce terhadap keputusan pembelian online pada industri perhiasan di Indonesia, dengan faktor eksternal seperti analisis pesaing dan perilaku pelanggan sebagai variabel moderasi. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kuantitatif dengan menyebarkan kuesioner kepada 386 responden dengan menggunakan metode kuantitatif dan analisis SEM-PLS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa promosi, deskripsi produk, keamanan proses transaksi, dan analisis pesaing berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian online. Analisis pelanggan ditemukan memoderasi hubungan ini, khususnya dalam hal meningkatkan efektivitas CTA dan deskripsi produk. Penelitian ini memberikan wawasan tentang potensi strategi pemasaran digital di industri perhiasan, menyoroti pentingnya memahami tindakan pesaing dan perilaku pelanggan untuk meningkatkan keputusan pembelian dan mendorong pertumbuhan penjualan online.
MENGOPTIMALKAN SALURAN ONLINE: MENJELAJAHI PERAN E-COMMERCE DALAM PERJALANAN PELANGGAN DI RITEL SMARTPHONE & GADGET
Pertumbuhan e-commerce telah mengubah industri ritel secara global, dan sektor smartphone serta gadget tidak terkecuali. Di Indonesia, platform e-commerce telah berkembang pesat, menawarkan kenyamanan lebih bagi para pembeli. Namun, merek smartphone masih menghadapi tantangan besar di pasar online. Sejak pasca-pandemi, pangsa pasar online telah menurun karena banyak pelanggan yang masih lebih memilih membeli produk di toko fisik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis lanskap e-commerce dan perjalanan pelanggan khususnya untuk pembelian smartphone dan gadget. Penelitian ini berusaha memahami faktor yang mendorong konsumen memilih belanja online dibandingkan dengan belanja di toko fisik serta memberikan wawasan dan rekomendasi yang dapat digunakan oleh produsen smartphone dan platform e-commerce untuk meningkatkan kehadiran mereka di pasar online. Studi ini menjawab beberapa pertanyaan kunci terkait perilaku konsumen: Apa yang mendorong pelanggan untuk membeli smartphone dan gadget secara online dibandingkan di toko fisik? Bagaimana mereka memandang pengalaman belanja online mereka, dan faktor-faktor apa yang berkontribusi pada kepuasan atau ketidakpuasan mereka? Tantangan apa yang mereka hadapi saat berbelanja online, dan bagaimana mereka mengatasinya? Bagaimana mereka merespons pemasaran dan rekomendasi yang dipersonalisasi? Dan faktor apa yang mempengaruhi loyalitas serta pembelian ulang mereka di pasar online? Dengan menggunakan Customer Decision Journey, Marketing Technology, dan analisis Porter’s Five Forces sebagai kerangka teori, studi ini akan menganalisis dan mengembangkan strategi untuk mengatasi masalah-masalah tersebut. Faktorfaktor kunci yang mempengaruhi perilaku konsumen yang diidentifikasi dalam penelitian ini meliputi pengiriman, promosi, informasi toko, dan kemudahan menemukan informasi. Temuan dari penelitian ini akan digunakan untuk membuat solusi bisnis dan rencana implementasi yang memberikan wawasan dan rekomendasi berharga bagi produsen smartphone dan platform e-commerce untuk secara efektif mengatasi tantangan pasar dan meningkatkan strategi online mereka.