📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 6 dokumen

PERANCANGAN SISTEM PRODUKSI FILLET BANDENG (CHANOS CHANOS) COATED MENGGUNAKAN EDIBLE COATING KARAGENAN DENGAN PENAMBAHAN KITOSAN DAN FILTRAT KUNYIT (CURCUMA LONGA)

Ikan bandeng (Chanos chanos) merupakan salah satu komoditas perikanan unggulan di Indonesia yang memiliki nilai ekonomi tinggi, namun bersifat mudah rusak (perishable) dan memiliki banyak duri halus yang mengurangi minat konsumen. Kondisi tersebut mendorong perlunya penerapan inovasi teknologi pascapanen yang mampu meningkatkan mutu, memperpanjang umur simpan, serta memberikan nilai tambah pada produk. Perancangan ini mengembangkan industri fillet bandeng tanpa duri dengan penerapan edible coating berbasis karagenan yang diperkaya filtrat rimpang kunyit (Curcuma longa) dan kitosan sebagai bahan aktif alami yang berfungsi menghambat pertumbuhan mikroorganisme dan mempertahankan kualitas produk selama penyimpanan dingin. Industri yang dirancang berlokasi di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, dengan mempertimbangkan ketersediaan bahan baku bandeng yang melimpah, akses distribusi yang baik, serta kedekatan dengan pasar potensial. Sistem produksi menggunakan proses batch selama 10 jam kerja per hari dengan kapasitas bahan baku sebesar 857 kg ikan bandeng segar per hari yang menghasilkan sekitar 330 kg fillet bandeng berlapis edible coating atau 1.500 kemasan berukuran 220 gram per hari. Proses produksi meliputi penerimaan bahan baku, pembersihan, filleting dan pencabutan duri, aplikasi edible coating, pengemasan, penyimpanan dingin, dan distribusi menggunakan kendaraan berpendingin. Produk yang dihasilkan merupakan fillet bandeng siap masak dengan lapisan edible coating berbahan alami yang mampu mempertahankan mutu mikrobiologis, kimia, fisik, dan sensori selama penyimpanan dingin suhu 4°C hingga 8 hari. Penerapan teknologi ini memberikan nilai tambah berupa umur simpan yang lebih panjang, keamanan pangan yang lebih baik, serta mengurangi potensi food loss selama distribusi. Produk dipasarkan pada segmen konsumen menengah ke atas melalui supermarket dan ritel modern. Analisis finansial menunjukkan bahwa industri memerlukan investasi awal sebesar Rp4,374,608,625 dengan sistem membeli bangunan. Biaya operasional terdiri atas biaya tetap sebesar Rp2,539,550,262 per tahun dan biaya variabel 4 sebesar Rp10,205,008,555 per tahun. Dengan kapasitas produksi 468.000 kemasan per tahun dan harga jual Rp33,500 per kemasan, industri diproyeksikan memperoleh pendapatan sebesar Rp15,678,000,000 per tahun. Hasil analisis kelayakan menunjukkan bahwa nilai Net Present Value (NPV) positif, Internal Rate of Return (IRR) lebih besar daripada tingkat diskonto, Benefit Cost Ratio (BCR) lebih besar dari satu, Profitability Index (PI) lebih besar dari satu, Payback Period (PP) lebih pendek daripada umur proyek, serta kapasitas produksi telah melampaui Break Even Point (BEP), sehingga industri dinyatakan layak untuk dikembangkan. Selain itu, dilakukan analisis sensitivitas terhadap kenaikan harga bahan baku dan penurunan harga jual untuk mengevaluasi ketahanan finansial industri terhadap perubahan kondisi ekonomi. Secara keseluruhan, perancangan industri fillet bandeng tanpa duri dengan teknologi edible coating berbasis karagenan, filtrat kunyit, dan kitosan menawarkan solusi inovatif dalam meningkatkan nilai tambah komoditas bandeng sekaligus menghasilkan produk yang aman, praktis, berkualitas, dan layak dikembangkan secara teknis maupun finansial. 5

2026
👤 Penulis: Muhammad Ridho Ardiansyah
🏷️ Teknologi Pascapanen 🏷️ Produksi Ikan Bandeng 🏷️ Edible Coating

PERANCANGAN SISTEM PRODUKSI FILLET BANDENG (CHANOS CHANOS) COATED MENGGUNAKAN EDIBLE COATING KARAGENAN DENGAN PENAMBAHAN KITOSAN DAN FILTRAT KUNYIT (CURCUMA LONGA)

Ikan bandeng (Chanos chanos) merupakan salah satu komoditas perikanan unggulan di Indonesia yang memiliki nilai ekonomi tinggi, namun bersifat mudah rusak (perishable) dan memiliki banyak duri halus yang mengurangi minat konsumen. Kondisi tersebut mendorong perlunya penerapan inovasi teknologi pascapanen yang mampu meningkatkan mutu, memperpanjang umur simpan, serta memberikan nilai tambah pada produk. Perancangan ini mengembangkan industri fillet bandeng tanpa duri dengan penerapan edible coating berbasis karagenan yang diperkaya filtrat rimpang kunyit (Curcuma longa) dan kitosan sebagai bahan aktif alami yang berfungsi menghambat pertumbuhan mikroorganisme dan mempertahankan kualitas produk selama penyimpanan dingin. Industri yang dirancang berlokasi di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, dengan mempertimbangkan ketersediaan bahan baku bandeng yang melimpah, akses distribusi yang baik, serta kedekatan dengan pasar potensial. Sistem produksi menggunakan proses batch selama 10 jam kerja per hari dengan kapasitas bahan baku sebesar 857 kg ikan bandeng segar per hari yang menghasilkan sekitar 330 kg fillet bandeng berlapis edible coating atau 1.500 kemasan berukuran 220 gram per hari. Proses produksi meliputi penerimaan bahan baku, pembersihan, filleting dan pencabutan duri, aplikasi edible coating, pengemasan, penyimpanan dingin, dan distribusi menggunakan kendaraan berpendingin. Produk yang dihasilkan merupakan fillet bandeng siap masak dengan lapisan edible coating berbahan alami yang mampu mempertahankan mutu mikrobiologis, kimia, fisik, dan sensori selama penyimpanan dingin suhu 4°C hingga 8 hari. Penerapan teknologi ini memberikan nilai tambah berupa umur simpan yang lebih panjang, keamanan pangan yang lebih baik, serta mengurangi potensi food loss selama distribusi. Produk dipasarkan pada segmen konsumen menengah ke atas melalui supermarket dan ritel modern. Analisis finansial menunjukkan bahwa industri memerlukan investasi awal sebesar Rp4,374,608,625 dengan sistem membeli bangunan. Biaya operasional terdiri atas biaya tetap sebesar Rp2,539,550,262 per tahun dan biaya variabel 4 sebesar Rp10,205,008,555 per tahun. Dengan kapasitas produksi 468.000 kemasan per tahun dan harga jual Rp33,500 per kemasan, industri diproyeksikan memperoleh pendapatan sebesar Rp15,678,000,000 per tahun. Hasil analisis kelayakan menunjukkan bahwa nilai Net Present Value (NPV) positif, Internal Rate of Return (IRR) lebih besar daripada tingkat diskonto, Benefit Cost Ratio (BCR) lebih besar dari satu, Profitability Index (PI) lebih besar dari satu, Payback Period (PP) lebih pendek daripada umur proyek, serta kapasitas produksi telah melampaui Break Even Point (BEP), sehingga industri dinyatakan layak untuk dikembangkan. Selain itu, dilakukan analisis sensitivitas terhadap kenaikan harga bahan baku dan penurunan harga jual untuk mengevaluasi ketahanan finansial industri terhadap perubahan kondisi ekonomi. Secara keseluruhan, perancangan industri fillet bandeng tanpa duri dengan teknologi edible coating berbasis karagenan, filtrat kunyit, dan kitosan menawarkan solusi inovatif dalam meningkatkan nilai tambah komoditas bandeng sekaligus menghasilkan produk yang aman, praktis, berkualitas, dan layak dikembangkan secara teknis maupun finansial.

2026
👤 Penulis: Najma Izzati Azhar
🏷️ Teknologi Pascapanen 🏷️ Produksi Ikan Bandeng 🏷️ Edible Coating

PERANCANGAN SISTEM PRODUKSI FILLET BANDENG (CHANOS CHANOS) COATED MENGGUNAKAN EDIBLE COATING KARAGENAN DENGAN PENAMBAHAN KITOSAN DAN FILTRAT KUNYIT (CURCUMA LONGA)

Ikan bandeng (Chanos chanos) merupakan salah satu komoditas perikanan unggulan di Indonesia yang memiliki nilai ekonomi tinggi, namun bersifat mudah rusak (perishable) dan memiliki banyak duri halus yang mengurangi minat konsumen. Kondisi tersebut mendorong perlunya penerapan inovasi teknologi pascapanen yang mampu meningkatkan mutu, memperpanjang umur simpan, serta memberikan nilai tambah pada produk. Perancangan ini mengembangkan industri fillet bandeng tanpa duri dengan penerapan edible coating berbasis karagenan yang diperkaya filtrat rimpang kunyit (Curcuma longa) dan kitosan sebagai bahan aktif alami yang berfungsi menghambat pertumbuhan mikroorganisme dan mempertahankan kualitas produk selama penyimpanan dingin. Industri yang dirancang berlokasi di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, dengan mempertimbangkan ketersediaan bahan baku bandeng yang melimpah, akses distribusi yang baik, serta kedekatan dengan pasar potensial. Sistem produksi menggunakan proses batch selama 10 jam kerja per hari dengan kapasitas bahan baku sebesar 857 kg ikan bandeng segar per hari yang menghasilkan sekitar 330 kg fillet bandeng berlapis edible coating atau 1.500 kemasan berukuran 220 gram per hari. Proses produksi meliputi penerimaan bahan baku, pembersihan, filleting dan pencabutan duri, aplikasi edible coating, pengemasan, penyimpanan dingin, dan distribusi menggunakan kendaraan berpendingin. Produk yang dihasilkan merupakan fillet bandeng siap masak dengan lapisan edible coating berbahan alami yang mampu mempertahankan mutu mikrobiologis, kimia, fisik, dan sensori selama penyimpanan dingin suhu 4°C hingga 8 hari. Penerapan teknologi ini memberikan nilai tambah berupa umur simpan yang lebih panjang, keamanan pangan yang lebih baik, serta mengurangi potensi food loss selama distribusi. Produk dipasarkan pada segmen konsumen menengah ke atas melalui supermarket dan ritel modern. Analisis finansial menunjukkan bahwa industri memerlukan investasi awal sebesar Rp4,374,608,625 dengan sistem membeli bangunan. Biaya operasional terdiri atas biaya tetap sebesar Rp2,539,550,262 per tahun dan biaya variabel 4 sebesar Rp10,205,008,555 per tahun. Dengan kapasitas produksi 468.000 kemasan per tahun dan harga jual Rp33,500 per kemasan, industri diproyeksikan memperoleh pendapatan sebesar Rp15,678,000,000 per tahun. Hasil analisis kelayakan menunjukkan bahwa nilai Net Present Value (NPV) positif, Internal Rate of Return (IRR) lebih besar daripada tingkat diskonto, Benefit Cost Ratio (BCR) lebih besar dari satu, Profitability Index (PI) lebih besar dari satu, Payback Period (PP) lebih pendek daripada umur proyek, serta kapasitas produksi telah melampaui Break Even Point (BEP), sehingga industri dinyatakan layak untuk dikembangkan. Selain itu, dilakukan analisis sensitivitas terhadap kenaikan harga bahan baku dan penurunan harga jual untuk mengevaluasi ketahanan finansial industri terhadap perubahan kondisi ekonomi. Secara keseluruhan, perancangan industri fillet bandeng tanpa duri dengan teknologi edible coating berbasis karagenan, filtrat kunyit, dan kitosan menawarkan solusi inovatif dalam meningkatkan nilai tambah komoditas bandeng sekaligus menghasilkan produk yang aman, praktis, berkualitas, dan layak dikembangkan secara teknis maupun finansial.

2026
👤 Penulis: Adinda Fadhilla Ramadhani S
🏷️ Teknologi Pascapanen 🏷️ Produksi Ikan Bandeng 🏷️ Edible Coating

PENGARUH VARIASI KONSENTRASI ALGINAT SEBAGAI BAHAN DASAR EDIBLE COATING TERHADAP KUALITAS BUAH NANAS (ANANAS COMOSUS) POTONG SELAMA PENYIMPANAN PADA SUHU DINGIN

Nanas adalah salah satu buah yang banyak dikonsumsi di Indonesia, hal ini ditandai dengan meningkatnya angka konsumsi nanas di Indonesia dari tahun ke tahun. Untuk mengonsumsi buah nanas segar diperlukan waktu yang lama pada proses pengupasan kulitnya, sehingga muncul inovasi untuk menjual nanas segar dalam bentuk sudah terpotong dan siap dikonsumsi. Buah nanas potong memiliki umur simpan yang singkat akibat terjadinya kerusakan fisiologis dan mikrobiologis pascapanen, sehingga dibutuhkan teknologi untuk mempertahankan kualitas nanas potong tersebut seperti edible coating. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi alginat sebagai bahan dasar edible coating terhadap kualitas buah nanas potong selama penyimpanan dingin serta menentukan konsentrasi optimal yang dapat mempertahankan mutu buah. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap satu faktor berupa variasi sodium alginate dengan konsentrasi 0%; 0,5%; 1%; dan 1,5%. Aplikasi pelapisan dilakukan melalui perendaman dan penyimpanan selama 12 hari pada suhu 5±2°C. Parameter yang diamati meliputi susut bobot, kadar air, kekerasan, total padatan terlarut (TPT), total asam tertitrasi (TAT), perubahan warna, serta uji organoleptik dengan parameter warna, aroma, tekstur, rasa, dan hedonik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian edible coating sodium alginate mampu menghambat penurunan kualitas buah nanas potong dibandingkan kontrol. Perlakuan dengan konsentrasi alginat 1,5% menunjukkan hasil terbaik dalam mempertahankan susut bobot, total padatan terlarut, total asam tertitrasi, serta nilai sensoris buah nanas potong selama penyimpanan 12 hari. Dengan demikian, edible coating berbasis sodium alginat berpotensi diterapkan sebagai teknologi pascapanen yang ramah lingkungan untuk memperpanjang umur simpan dan menjaga kualitas buah nanas potong.

2025
👤 Penulis: Zona Kautsar
🏷️ Kontrol Mutu Buah 🏷️ Edible Coating 🏷️ Hidrologi

PENGARUH VARIASI ASAM SITRAT DALAM EDIBLE COATING PATI JAGUNG-GELATIN TERHADAP KUALITAS MELON POTONG (CUCUMIS MELO L.) SELAMA PENYIMPANAN SUHU DINGIN

Melon merupakan buah populer yang banyak dikonsumsi di Indonesia karena kandungan serat, mineral, dan vitamin yang bermanfaat bagi tubuh. Pemrosesan minimal pada melon dapat mempercepat proses pembusukan, sehingga diperlukan upaya untuk mempertahankan kualitas dan memperpanjang masa simpan. Edible coating berbasis pati jagung-gelatin dapat menjadi solusi untuk pengawetan melon potong. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh larutan edible coating pati jagung-gelatin terhadap kualitas melon potong selama penyimpanan 12 hari pada suhu 10°C. Penelitian dilakukan dengan menggunakan perancangan eksperimen Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor dengan lima taraf konsentrasi asam sitrat (b/b total pati) yang digunakan (0%, 0,5%, 1%, 1,5%, dan 2%) dengan lima kali ulangan. Karakteristik fisikokimia dari larutan edible coating meliputi penampakan visual, nilai pH, dan analisis gugus fungsional, sementara kualitas melon potong dinilai berdasarkan susut bobot, kadar air, kekerasan, browning index (BI,) total padatan terlarut, total asam tertitrasi, dan organoleptik. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan analysis of variance (ANOVA) eka arah pada selang kepercayaan 95%, lalu diuji lanjut dan jika berbeda signifikan (P < 0,05), dilakukan uji lanjut Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi asam sitrat 0,5% memberikan pengaruh terhadap keasaman larutan dan pergeseran bilangan gelombang, serta berpengaruh signifikan terhadap parameter susut bobot, total asam tertitrasi, dan browning index (BI) pada melon potong.

2025
👤 Penulis: Jennifer
🏷️ Kontrol Pembusukan Buah 🏷️ Edible Coating 🏷️ Analisis Fisik-Kimia

ANALISIS PENERIMAAN KONSUMEN DAN STRATEGI PEMASARAN IKAN BANDENG COATING DI PASAR MODERN KOTA BANDUNG, JAWA BARAT

Inovasi melalui pemanfaatan edible coating pada produk perikanan masih belum diterapkan di industri pangan Indonesia dan masih diselidiki penerimaannya. Pada penelitian ini, produk Bandeng Coating (ikan bandeng fillet tanpa duri dengan edible coating kitosan 1,61% dan teh hijau ekstrak 2,26%) diciptakan dalam rangka mengatasi masalah duri dan memperpanjang masa simpan produk. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki penerimaan konsumen, faktor-faktor yang mempengaruhinya, dan strategi pemasaran produk Bandeng Coating di pasar modern Bandung. Pengambilan sampel responden dilakukan secara random sampling kepada 101 konsumen kota Bandung menggunakan kuisioner terstruktur. Bandeng Coating dievaluasi penerimaannya menggunakan faktor pendorong penerimaan (1= sangat tidak suka, 4=sangat suka) dan model proses penerimaan. Penerimaan konsumen kemudian dianalisis dengan regresi linier berganda. Perumusan strategi pemasaran Bandeng Coating dikumpulkan secara judgemental sampling dan dianalisis menggunakan SWOT-QSPM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerimaan konsumen terhadap Bandeng Coating tergolong tinggi. Variasi produk yang ditawarkan menjadi faktor kunci dari penerimaan konsumen. Presepsi negatif terhadap warna edible coating dan terbatasnya pengetahuan konsumen menjadi kendala utama penerimaan produk. Strategi pemasaran Bandeng Coating yang perlu dilakukan berdasarkan prioritasnya yaitu 1) pendaftaran nama produk, merek dan sertifikasi, 2) melakukan pengembangan kualitas dengan cara kolaborasi dengan pihak eksternal, 3) penetrasi pasar secara online, 4) menerapkan kampanye brand, dan 5) penetrasi pasar fisik di pasar modern Kota Bandung.

2024
👤 Penulis: Najaah Sabila
🏷️ Pemasaran Produk 🏷️ Edible Coating 🏷️ Analisis Penerimaan Konsumen
💬