📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 4 dokumen

KONSERVASI REPTIL DAN AMFIBI DENGAN PENDEKATAN BIOKLIMATIK-EDUKASI DI KABUPATEN BANDUNG BARAT

Reptil dan amfibi merupakan kelompok satwa yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem sebagai pengendali populasi hama, indikator kualitas lingkungan, serta bagian dari rantai makanan. Namun, keberadaan kedua kelompok satwa ini terus mengalami penurunan akibat hilangnya habitat alami, perubahan iklim, perdagangan satwa liar, dan rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya sebuah konservasi. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya upaya pelestarian yang tidak hanya berorientasi pada perlindungan spesies, tetapi juga pada penyediaan fasilitas yang mampu mendukung kesejahteraan satwa, penelitian, penangkaran, serta edukasi publik. Oleh karena itu, tugas akhir ini mengangkat topik perancangan fasilitas konservasi reptil dan amfibi sebagai bentuk kontribusi terhadap Sustainable Development Goals (SDGs) 15: Life on Land, yang berfokus pada perlindungan ekosistem daratan, pelestarian keanekaragaman hayati, serta pengelolaan habitat yang berkelanjutan. Isu utama yang diangkat adalah masih terbatasnya fasilitas konservasi reptil dan amfibi di Indonesia yang mampu mengakomodasi kebutuhan biologis satwa secara optimal sekaligus memberikan pengalaman edukatif kepada masyarakat. Sebagian besar fasilitas yang ada masih berorientasi pada fungsi display atau penangkaran, sehingga aspek kesejahteraan satwa, penelitian, serta pembentukan kesadaran publik belum terintegrasi secara menyeluruh. Kondisi tersebut mendorong perlunya sebuah fasilitas yang mampu menghadirkan habitat buatan yang mendekati kondisi alami, sekaligus menjadi wadah konservasi, penelitian, dan pembelajaran dalam satu kesatuan. Tipologi yang dipilih adalah fasilitas konservasi reptil dan amfibi di Kabupaten Bandung Barat dengan fungsi utama sebagai pusat konservasi, penelitian, penangkaran, pelayanan kesehatan satwa, dan edukasi. Pemilihan lokasi didasarkan pada kondisi iklim yang relatif sejuk serta karakter lingkungan yang mendukung penerapan strategi arsitektur bioklimatik. Perancangan menggunakan Concept-Based Approach dengan pendekatan bioklimatik-edukatif. Pendekatan bioklimatik diterapkan untuk menciptakan kondisi mikroklimat yang sesuai bagi berbagai habitat reptil dan amfibi melalui pengelolaan suhu, kelembapan, pencahayaan alami, dan ventilasi, sedangkan pendekatan edukatif bertujuan membangun interaksi antara manusia dan satwa melalui pengalaman ruang yang informatif dan imersif. Metode yang digunakan dalam proses perancangan meliputi studi literatur, observasi lapangan pada tapak, analisis kondisi lingkungan dan pengguna, serta studi komparatif terhadap berbagai fasilitas konservasi reptil dan amfibi sebagai dasar penyusunan konsep desain. Melalui pendekatan tersebut, perancangan ini diharapkan mampu menghasilkan fasilitas konservasi yang berkelanjutan, responsif terhadap iklim lokal, mendukung kesejahteraan reptil dan amfibi, serta menjadi wadah penelitian dan edukasi yang mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian keanekaragaman hayati.

2026
👤 Penulis: Najla Nabila Athallah
🏷️ Konservasi Ekosistem 🏷️ Bioklimatologi 🏷️ Edukasi Lingkungan

PERANCANGAN PUSAT EDUKASI DAN KONSERVASI OWA SEBAGAI PRIMATA ENDEMIK INDONESIA MELALUI PENGALAMAN IMERSIF DAN INTERAKTIF

Dewasa ini, Indonesia berhadapan dengan ancaman kepunahan spesies yang mengkhawatirkan walaupun negara Indonesia dikenal dengan keanekaragaman hayati yang sangat beragam. Owa, sebagai salah satu primata endemik Indonesia menjadi salah satu kelompok yang paling tertekan. Owa memiliki peran penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem hutan. Namun, populasinya terus menurun akibat deforestasi, perburuan liar, perdagangan ilegal, serta masih terbatasnya fasilitas konservasi dan rendahnya kesadaran masyarakat Indonesia. Penelitian ini berupaya merespons masalah tersebut dalam ranah interior, melalui perancangan Pusat Edukasi dan Konservasi Owa dengan pendekatan imersif dan interaktif. Konsep rancangan mengacu pada prinsip Environmental Psychology, yang menekankan interaksi manusia dengan lingkungan binaan, Experiential Learning Theory, yang memungkinkan proses pembelajaran berbasis pengalaman langsung, serta Five Freedoms of Animal Welfare, yang memastikan kesejahteraan satwa dalam lingkungan konservasi yang dirancang. Dari hasil penelitian ini, diharapkan ruang spasial dapat berkontribusi aktif menjadi wadah pergerakan konservasi Indonesia, dan juga mampu merancang ruang edukasi yang mendukung perlindungan owa dan menarik keterlibatan aktif masyarakat dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia.

2025
👤 Penulis: Rezika Rayya Kily Gustaman
🏷️ Edukasi Lingkungan 🏷️ Konservasi Hewan 🏷️ Manajemen Eksperimen

PERANCANGAN PUSAT KOMUNITAS DAN SELTER KUCING DOMESTIK LIAR SEBAGAI PUSAT EDUKASI DENGAN PRINSIP ANIMAL WELFARE DAN ENVIRONMENTAL ENRICHMENT

Masalah overpopulasi kucing domestik liar di kota-kota besar membawa dampak negatif terhadap ekosistem dan masyarakat, seperti penyebaran penyakit, kerusakan lingkungan, dan penurunan kualitas hidup hewan terlantar. Proyek ini bertujuan untuk merancang pusat komunitas dan penampungan hewan domestik liar yang tidak hanya menyediakan fasilitas bagi hewan, tetapi juga berfungsi sebagai tempat edukasi dan interaksi sosial untuk meningkatkan kesadaran tentang kesejahteraan hewan. Dengan mengadopsi pendekatan desain berbasis prinsip kesejahteraan hewan dan peningkatan lingkungan, proyek ini diharapkan dapat mengurangi masalah overpopulasi serta meningkatkan kualitas hubungan antara manusia, hewan, dan masyarakat..

2025
👤 Penulis: Azzahra Rahmadhania Pratama P.
🏷️ Desain Berbasis Kesejahteraan Hewan 🏷️ Manajemen Populasi Hewan Liar 🏷️ Edukasi Lingkungan

PERENCANAAN DAN PERANCANGAN LANSKAP KAWASAN TELAGA SARANGAN DENGAN PENDEKATAN EDUWISATA

Indonesia memiliki kekayaan alam dan budaya yang menjadikannya salah satu destinasi wisata unggulan di dunia. Namun, pesatnya perkembangan pariwisata seringkali tidak dibarengi dengan perhatian terhadap isu dan tekanan lingkungan yang dihasilkan akibat dampak pariwisata. Telaga Sarangan, salah satu destinasi wisata alam populer di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, adalah salah satu contoh lokasi yang menghadapi tantangan tersebut. Dengan tingginya potensi alam dan juga budaya, pembangunan pariwisata belum dilakukan dengan optimal mengingat masih banyak isu lingkungan yang terjadi pada area tersebut. Lokasi perencanaan dan perancangan berada di Telaga Sarangan, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Dengan luas deliniasi sebesar 75 Hektar yang mencakup area Telaga seluas 30 Hektar, deliniasi ini mencakup area hutan lindung, permukiman, pertanian, area jasa dan perdagangan, serta fasilitas umum. Dalam Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Kabupaten Magetan (RIPPARKAB), Telaga Sarangan masuk dalam KSP 1 dengan tema ‘Pengembangan produk wisata alam dan minat khusus yang didukung dengan wisata sejarah’. Tema ini mencerminkan potensi besar kawasan untuk dikembangkan sebagai destinasi unggulan dengan tetap mengedepankan pelestarian nilai alam dan budaya. Namun meskipun memiliki potensi besar pada nilai ekologis yang tinggi dan lanskap alami yang indah, kawasan Telaga Sarangan saat ini masih menghadapi sejumlah permasalahan yang berdampak pada lingkungan dan ekosistem disekitarnya. Masalah yang timbul akibat dari dampak aktivitas pariwisata, penataan ruang yang belum teratur, overtourism, ancaman bencana, serta kurangnya edukasi lingkungan bagi pengunjung dan masyarakat sekitar menjadi tantangan yang perlu segera diatasi. Perencanaan ini bertujuan untuk merencanakan dan merancang lanskap kawasan wisata Telaga Sarangan dengan pendekatan Eduwisata, yang menggabungkan pengalaman rekreasi dengan edukasi tentang keberlanjutan lingkungan. Rencana ini bertujuan untuk menjaga ekosistem Telaga Sarangan tetap stabil, memaksimalkan keindahan dan fungsi lanskap, serta meminimalkan dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh aktivitas wisata. Selain itu, pendekatan yang digunakan akan berfokus pada Eduwisata, yang tidak hanya meningkatkan kesadaran pengunjung terhadap pentingnya pelestarian lingkungan, tetapi juga menjaga nilai budaya dan sejarah kawasan tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat empat masalah utama yang ada di Telaga Sarangan, yaitu overtourism, isu dan tekanan lingkungan akibat dari dampak pariwisata, pengembangan wisata yang kurang optimal, serta adanya ancaman bencana. Dengan integrasi dari hasil analisis dan prinsip Eduwisata yang dapat diterapkan di Telaga Sarangan, dirumuskan konsep dengan membuat tiga zona perencanaan yang paling bisa mewakili keenam prinsip eduwisata yang dipilih untuk diterapkan dengan tujuan untuk menjaga kestabilan ekosistem kawasan Telaga Sarangan, mengoptimalkan keindahan dan fungsi lanskap sebagai daya tarik pariwisata, mengurangi dampak lingkungan dari aktivitas pariwisata, meningkatkan kesadaran pengunjung melalui edukasi lingkungan, dan melestarikan budaya, sejarah, dan lingkungan di Telaga Sarangan.

2025
👤 Penulis: Dinda Auliana Prastiwi
🏷️ Lanskap Wisata 🏷️ Edukasi Lingkungan 🏷️ Pariwisata Berkelanjutan
💬