📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 32 dokumenHUBUNGAN ANTARA BAURAN ENERGI YANG DIGUNAKAN DALAM PENAMBANGAN BITCOIN DAN KINERJA PASAR BITCOIN SEBAGAI ASET FINANSIAL: RETURN PASAR, VOLATILITAS HARGA, DAN EMISI GAS RUMAH KACA
Bitcoin adalah mata uang kripto terbesar di dunia. Bitcoin mengubah sistem keuangan global lewat teknologi desentralisasi. Tapi Bitcoin juga menimbulkan kekhawatiran tentang keberlanjutan lingkungan. Mekanisme Proof-of-Work (PoW) yang dipakai Bitcoin memerlukan daya komputasi besar. Karena itu, listrik yang dipakai Bitcoin setara dengan konsumsi tahunan beberapa negara menengah. Karena negara-negara berkomitmen pada Perjanjian Paris dan target Net Zero Emission (NZE), saya melihat jejak lingkungan Bitcoin menjadi hal penting bagi pembuat kebijakan, investor, dan pemangku kepentingan teknologi. Berbagai studi sebelumnya meneliti penggunaan energi Bitcoin, dampak lingkungan, dan fluktuasi harga. Namun hanya sedikit yang mengukur hubungan antara bauran energi Bitcoin dan kinerja finansialnya, atau bagaimana kualitas regulasi memengaruhi hubungan itu. Celah penelitian ini sangat penting bagi negara berkembang seperti Indonesia. Indonesia masih mengandalkan batu bara untuk 62 % bauran energinya, meskipun memiliki potensi energi terbarukan yang besar. Pada saat yang sama, adopsi aset kripto tumbuh cepat, dengan nilai transaksi mencapai Rp 296 triliun pada tahun 2024. Penelitian menguji empat pertanyaan. (1) Apakah konsumsi energi Bitcoin memengaruhi kinerja finansial Bitcoin secara signifikan? (2) Apakah komposisi bauran energi terbarukan dan tidak terbarukan memengaruhi kinerja finansial? (3) Apakah kualitas kerangka regulasi memoderasi hubungan antara bauran energi dan kinerja finansial? (4) Strategi apa yang dapat diambil regulator, penyedia energi, investor, dan penambang? Penelitian memakai metode campuran (mixed-methods). Komponen kuantitatif menggunakan data bulanan mulai Januari 2020 sampai Desember 2025 (total 72 observasi). Data bulanan bersumber dari Cambridge Bitcoin Electricity Consumption Index, perkiraan energi berkelanjutan Cambridge Centre for Alternative Finance, Worldwide Governance Indicators (WGI) Bank Dunia, dan pasar Bitcoin. Analisis regresi Ordinary Least Squares (OLS) dan moderated regression didukung uji asumsi klasik. Analisis regresi Ordinary Least Squares (OLS) dan moderated regression menguji sembilan hipotesis. Sembilan hipotesis menghubungkan konsumsi energi, proporsi energi terbarukan, dan kualitas regulasi dengan tiga keluaran: market return, volatilitas harga, dan emisi gas rumah kaca (GRK). Komponen kualitatif melakukan analisis tematik. Komponen kualitatif melakukan benchmarking kasus internasional. Komponen kualitatif melakukan analisis SWOT. Hasil dipakai untuk menyusun rekomendasi strategis. Penelitian menemukan delapan dari sembilan hipotesis null tidak bisa ditolak. Konsumsi energi berhubungan positif dan signifikan dengan market return (? = 1,011; p = 0,011). Namun, hubungan ini mungkin hanya mencerminkan faktor bersama seperti aktivitas jaringan dan adopsi, bukan efek biaya produksi langsung. Karena itu, perlu diwaspadai kemungkinan kausalitas terbalik. Konsumsi energi tidak berhubungan signifikan dengan volatilitas harga atau emisi GRK. Komposisi bauran energi tidak memberi dampak signifikan pada market return, volatilitas harga, atau emisi. Temuan ini cocok dengan sifat fungibilitas Bitcoin dan Efficient Market Hypothesis (EMH) bentuk lemah. Kualitas regulasi (WGI) tidak mengubah secara signifikan hubungan-hubungan itu. Variasi skor tata kelola Indonesia sangat sempit selama periode penelitian (0,423–0,471). Saya lihat temuan ini menunjukkan pasar finansial belum memberi premi imbal hasil atau mengurangi volatilitas untuk penambangan Bitcoin berkelanjutan. Karena itu, keunggulan operasional energi terbarukan masih bersifat jangka panjang dan hanya pada level biaya, bukan nilai yang diakui pasar. Jadi, Indonesia tidak bisa mengandalkan pasar saja untuk beralih ke penambangan berbasis energi terbarukan. Indonesia harus mengaktifkan kebijakan. Kebijakan itu harus mencakup regulasi penambangan yang jelas, penetapan harga karbon, dan insentif energi terbarukan. Penelitian ini membantu membangun kerangka empiris pertama. Kerangka itu menghubungkan profil energi Bitcoin dengan kinerja finansial dan lingkungannya. Penelitian ini juga memberi peta jalan strategis untuk Indonesia. Peta jalan itu menuntun pengembangan penambangan berkelanjutan. Penambangan berkelanjutan harus selaras dengan komitmen NZE 2060. Penelitian ini menarik investasi berorientasi ESG.
KERANGKA PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS SMART UNTUK MEMPRIORITASKAN INISIATIF EFISIENSI ENERGI: STUDI KASUS PADA PERUSAHAAN RETAIL DI INDONESIA
ESG menjadi topik penting bagi industri retail karena aktivitas perusahaan retail secara langsung berpengaruh terhadap lingkungan dan masyarakat. Efisiensi Energi merupakan salah satu aspek ESG yang paling penting karena operasional toko bergantung pada fasilitas yang mengonsumsi energi. PT Prima Retail Lestari (PT PRL), perusahaan retail di Indonesia, saat ini menghadapi masalah dan perlu menilai kembali inisiatif Efisiensi Energinya di bawah batasan anggaran dan operasional. Perusahaan telah menerapkan beberapa inisiatif. Namun, masing-masing inisiatif memiliki implikasi dan faktor implementasi yang berbeda. Dengan kondisi ekonomi yang ada saat ini, PT PRL tidak dapat menerapkan semua inisiatif dan perlu menentukan inisiatif mana yang harus diprioritaskan. Masalah utama dari studi ini adalah tidak adanya kerangka kerja pengambilan keputusan yang terstruktur untuk mengevaluasi dan memprioritaskan inisiatif Efisiensi Energi. Proses prioritas ini perlu dianalisis karena prioritas bukanlah hal yang dapat disepakati dari hasil diskusi saja. Tanpa kerangka kerja yang terstruktur, perusahaan akan sulit melakukan komparasi antar alternatif sehingga dapat merugikan pengalokasian sumberdaya dan investasi terhadap ESG. Studi ini bertujuan untuk menganalisis dan kemudian menerapkan prioritas inisiatif ESG melalui kerangka pengambilan keputusan multi-kriteria yang terstruktur, yang mempertimbangkan aspek finansial dan non finansial. Studi ini menggunakan metode SMART untuk membantu dalam prioritas inisiatif Efisiensi Energi di PT PRL. Pendekatan ini akan membantu identifikasi kriteria, dan pengembangan kerangka pengambilan keputusan, serta menentukan inisiatif mana yang harus diprioritaskan. Data pada studi ini diperoleh dari wawancara semi-terstruktur, kuesioner, dan analisis dokumen internal. Studi dimulai dengan memahami proses pengambilan keputusan saat ini dan mengidentifikasi tantangan, kemudian menggunakan SMART sebagai alat pengambilan keputusan. Hasil studi ini adalah kerangka kerja pengambilan keputusan terstruktur dan prioritas yang diusulkan berdasarkan analisis SMART yang dilakukan. Kerangka kerja yang diusulkan dapat diintegrasikan ke dalam proses perencanaan ESG PT PRL untuk mendukung pengambilan Keputusan di masa mendatang.
PELUANG PENGEMBANGAN BISNIS STRATEGIS UNTUK EKSPANSI PASAR ENERGY SERVICE COMPANY (ESCO) DI INDONESIA: ANALISIS STRATEGIS UNTUK PT. DDS INDONESIA
Perubahan dalam transisi energi global, tingginya biaya operasional untuk sumber energi, dan peningkatan perhatian terhadap aspek ESG telah secara signifikan memengaruhi cara manajemen energi di sektor manufaktur dan gedung komersial. Seiring dengan berlanjutnya urbanisasi, pembangunan infrastruktur, dan proses industrialisasi di Indonesia, permintaan energi semakin meningkat secara signifikan di sektor manufaktur serta bangunan komersial. Beban biaya energi yang semakin tinggi, dikombinasikan dengan peningkatan regulasi dari pemerintah Indonesia, perhatian dari investor asing, serta tuntutan pelaporan keberlanjutan, mendorong perusahaan untuk secara konsisten mengoptimalkan penggunaan energi mereka dan juga meningkatkan efisiensi operasional. Oleh karena itu, faktor-faktor struktural yang ada saat ini menciptakan suatu lingkungan yang sangat mendukung bagi perkembangan bisnis ESCO di Indonesia. Penelitian ini memiliki tiga tujuan utama: (1) menilai daya tarik sektor ESCO dan efisiensi energi di Indonesia; (2) mengidentifikasi peluang serta tantangan yang memengaruhi kemajuan ESCO; dan (3) menyusun konsep pengembangan bisnis strategis untuk PT DDS Indonesia. DDS Group adalah perusahaan global terkemuka dalam penyediaan produk dan teknologi untuk efisiensi energi. PT DDS Indonesia merupakan entitas yang telah berpengalaman dalam menawarkan berbagai produk dan perangkat efisiensi energi kepada klien di sektor industri serta komersial. Dengan demikian, PT DDS Indonesia memiliki keahlian teknis yang kuat, keterampilan rekayasa yang mumpuni, serta hubungan baik dengan pelanggan untuk menyediakan layanan ESCO yang menyeluruh dan solusi manajemen energi berbasis kinerja di Indonesia. Penelitian ini mengadopsi pendekatan kualitatif yang menggabungkan data dari sumber primer dan sekunder. Kerangka analisis ini mencakup beberapa metode, termasuk ukuran pasar yang dianalisis melalui Total Addressable Market (TAM), Serviceable Available Market (SAM), dan Serviceable Obtainable Market (SOM). Selain itu, analisis PESTEL serta Pendekatan Lima Kekuatan Porter juga diterapkan dalam evaluasi eksternal. Analysis Summary of External Factors (EFAS), Value Chain Analysis, VRIO Framework, Internal Factor Analysis Summary (IFAS), SWOT Analysis, TOWS Matrix, and Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). Penelitian menunjukkan bahwa pasar ESCO di Indonesia memiliki daya tarik yang cukup tinggi dan menawarkan peluang pertumbuhan jangka panjang yang substansial. Faktor utama yang mendorong pasar antara lain adalah kenaikan biaya listrik dan adanya regulasi konservasi energi yang mengatur fasilitas dengan konsumsi energi di atas 6000 ton TOE setiap tahunnya untuk menjalankan program konservasi energi. Permintaan pelaporan terkait ESG dan keberlanjutan semakin meningkat, bersamaan dengan adopsi yang lebih luas terhadap teknologi bangunan pintar dan solusi manajemen energi digital. Hasil analisis EFAS menunjukkan skor tertimbang 3,41, yang mencerminkan bahwa lingkungan eksternal cukup mendukung. Di sisi lain, analisis IFAS menghasilkan skor 3,58, menandakan bahwa PT DDS Indonesia memiliki posisi strategis internal yang solid. Posisi ini didukung oleh pengetahuan yang mendalam dalam efisiensi energi, jaringan pelanggan industri dan komersial yang luas, serta unggul dalam teknologi otomasi dan manajemen energi digital. Selain itu, merek kami juga memiliki reputasi yang solid di sektor efisiensi energi Indonesia. Namun, penelitian ini juga menemukan beberapa tantangan yang berasal dari dalam, seperti keterbatasan kemampuan pendanaan ESCO, kurangnya pengalaman dalam menerapkan proyek berbasis Energy Performance Contracting (EPC) di Indonesia, serta ketergantungan pada mitra luar dalam pelaksanaan proyek. skala besar, dan model bisnis yang lebih menekankan pada penyediaan alat serta teknologi ketimbang layanan yang didasarkan pada kinerja. Dengan menganalisis TOWS Matrix, telah dirumuskan delapan alternatif strategi yang kemudian diprioritaskan menggunakan QSPM berdasarkan kesepakatan dari para pemangku kepentingan internal. Strategi yang memiliki prioritas tertinggi adalah SO-1 Target Kepatuhan Regulasi (skor QSPM: 6,76). Strategi ini berfokus pada pemanfaatan keahlian teknis serta hubungan pelanggan yang dimiliki DDS Indonesia untuk menargetkan fasilitas industri yang harus mematuhi regulasi terkait audit energi dan konservasi energi. Strategi prioritas kedua adalah SO-2 ESG Digitalization Platform (skor QSPM: 6,42). Strategi ini bertujuan untuk menciptakan sistem pemantauan energi yang berbasis Internet of Things (IoT), menyediakan solusi pelaporan ESG secara otomatis, serta menawarkan layanan manajemen energi dalam format digital. membangun pendapatan yang konsisten sambil memenuhi tuntutan kepatuhan terhadap keberlanjutan yang semakin mendesak. Strategi tambahan lainnya mencakup ST-2 Audit Energi Pre-emptif dan ST-1 Program Edukasi Keuangan Eksekutif. Kedua inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran di pasar serta memperkuat kepercayaan pelanggan terhadap model bisnis ESCO dalam jangka waktu pendek hingga menengah. Sementara itu, inisiatif yang dirancang untuk jangka menengah hingga panjang, seperti Pembentukan Konsorsium Strategis (WO-1), Pengembangan Unit Bisnis ESCO (WO-2), Kemitraan Pendanaan Hijau Alternatif (WT-1), dan Penataan Ulang Mitra Dekarbonisasi (WT-2) menyediakan rencana pengembangan yang terorganisir untuk memperl. Ulasan mengenai kemampuan ESCO di PT DDS Indonesia. Akhirnya, penelitian ini menghasilkan peta jalan untuk penerapan strategi secara bertahap dalam periode 2027–2032. Peta jalan ini memberikan kerangka kerja yang praktis dan dapat diterapkan bagi PT DDS Indonesia guna memperkuat daya saingnya. serta memanfaatkan kesempatan yang ada di pasar efisiensi energi dan transisi keberlanjutan yang berkembang pesat di Indonesia.
PENINGKATAN EFISIENSI DAN KONSERVASI ENERGI PADA GEDUNG BERSERTIFIKASI GREENSHIP EXISTING BUILDING DALAM MENDUKUNG MANAJEMEN ASET: STUDI KASUS GEDUNG X PERKANTORAN JAKARTA
Sektor bangunan berkontribusi sekitar 39% terhadap emisi karbon global, menjadikan efisiensi energi pada fase operasional sebagai aspek penting dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. Meskipun bangunan bersertifikasi GREENSHIP Existing Building telah memenuhi standar keberlanjutan, masih terdapat peluang peningkatan kinerja energi melalui pengelolaan aset yang terintegrasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran manajemen aset dalam mendukung efisiensi energi, mengevaluasi capaian kinerja Energy Efficiency and Conservation (EEC), serta merumuskan rekomendasi optimalisasi energi pada Gedung X, bangunan perkantoran bersertifikasi GREENSHIP Existing Building tingkat Gold di Jakarta Selatan. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan sequential mixed-methods melalui sintesis literatur berbasis pemodelan Input-Process-Output, pemetaan aspek manajemen aset berdasarkan Infrastructure Asset Management Handbook (IAMH), evaluasi kinerja EEC berdasarkan subkriteria P1 hingga EEC 7, serta analisis kelayakan rekomendasi menggunakan Net Present Value (NPV), Annual Value (AV), dan evaluasi manfaat non-finansial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan manajemen aset mendukung efisiensi energi melalui pengelolaan data aset, pemantauan kinerja energi, dan pengambilan keputusan berbasis kondisi aset. Gedung X memperoleh capaian EEC sebesar 38,42 dari 44 poin dengan nilai Intensitas Konsumsi Energi (IKE) sebesar 119,98 kWh/m²/tahun, namun masih memiliki peluang peningkatan pada aspek sistem pendingin dan efisiensi peralatan. Implementasi rekomendasi optimalisasi berpotensi meningkatkan capaian EEC menjadi 42 dari 44 poin dan total nilai GREENSHIP Existing Building menjadi 89 poin, melampaui ambang minimum peringkat Platinum sebesar 83 poin. Meskipun membutuhkan investasi awal yang besar dan belum layak secara finansial berdasarkan penghematan energi langsung, rekomendasi tersebut memberikan manfaat strategis dalam meningkatkan kinerja keberlanjutan bangunan, mendukung penerapan ESG, serta berkontribusi terhadap pencapaian target net zero emission melalui pengelolaan aset bangunan yang berkelanjutan.
ANALISIS TEKNO-EKONOMI INTEGRASI SISTEM PLTS DAN STRATEGI MANAJEMEN BEBAN SEBAGAI UPAYA EFISIENSI ENERGI MENUJU GREEN BUILDING PADA GEDUNG KOMERSIAL DENGAN DATA TERBATAS
Gedung komersial merupakan salah satu kontributor terbesar terhadap konsumsi energi listrik nasional, terutama karena kebutuhan operasional yang berlangsung terus-menerus. Di antara berbagai jenis bangunan komersial, hotel memiliki intensitas penggunaan energi yang tinggi, terutama pada sistem pendingin udara, pencahayaan, dan peralatan layanan tamu. Namun, sebagian besar penelitian efisiensi energi masih berfokus pada hotel berbintang tinggi dengan sistem manajemen energi otomatis. Penelitian ini dilakukan pada hotel berbintang satu dengan infrastruktur sederhana dan keterbatasan data, untuk mengkaji potensi efisiensi energi melalui pendekatan integratif berbasis sistem energi terbarukan. Metodologi penelitian mencakup rekonstruksi profil beban berbasis data okupansi dan profil beban terbatas, perancangan sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap, penerapan strategi load shifting pada pompa air, serta integrasi electric vehicle (EV) charging station. Studi kasus dilakukan pada Hotel Bumi Sawunggaling, Bandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model profil beban yang dibangun mampu menggambarkan konsumsi energi aktual dengan baik. Integrasi PLTS berkapasitas optimal dapat menurunkan biaya listrik hingga 41–50% dengan nilai Levelized Cost of Electricity (LCOE) yang tetap kompetitif. Selain itu, penerapan load shifting dan integrasi EV charging station mampu meningkatkan pemanfaatan energi surya (self-consumption) tanpa menurunkan kelayakan ekonomi sistem. Pendekatan ini menunjukkan bahwa penerapan PLTS terintegrasi dengan strategi manajemen beban berpotensi menjadi solusi efisiensi energi berkelanjutan pada hotel kecil dan bangunan komersial serupa.
PROYEKSI KEBUTUHAN BIOMASSA SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN HIDROGEN LEWAT JALUR GASIFIKASI UNTUK KEPERLUAN CO-FIRING PLTG
Hidrogen (H2) adalah salah satu bahan bakar alternatif yang banyak dikembangkan untuk menggantikan bahan bakar fosil. Hidrogen dapat langsung dicampurkan dengan gas alam (CH4) untuk keperluan co-firing PLTG. Hidrogen memiliki kelebihan dibandingkan dengan gas alam. Pembakaran hidrogen hanya menghasilkan produk samping air atau tidak menghasilkan emisi karbon. Produksi hidrogen berbasis energi terbaharukan telah banyak dikembangkan sehingga pasokan terjamin. Namun, energi per volume hidrogen sekitar 10,8 – 12,7 MJ/m3 lebih kecil dari gas alam sekitar 35,8 – 39,8 MJ/m3 sehingga diperlukan lebih banyak volume hidrogen untuk mengganti gas alam dengan volume tertentu. Hidrogen (H2) dapat dibuat dengan berbagai cara antara lain Steam Methane Reforming (SMR), gasifikasi batubara, elektrolisis air, fotoelektrokimia dan konversi biomassa. Adapun metode yang banyak digunakan saat ini adalah metode SMR dengan bahan baku gas alam sehingga masih menghasilkan emisi yang tidak ramah lingkungan. Dalam penelitian ini telah dikaji proyeksi kebutuhan biomassa untuk produksi hidrogen. Biomassa termasuk sumber energi terbaharukan yang jarang dimanfaatkan. Padahal Indonesia memiliki potensi biomassa yang sangat besar dari hasil limbah pertanian, perkebunan dan rumah tangga. Adapun jalur pembuatan hidrogen dari biomassa yang telah diterapkan dalam penelitian ini adalah proses gasifikasi biomassa. Penelitian ini adalah salahsatu upaya untuk mengembangkan energi terbaharukan dengan mengaplikasikan sebagai bahan bakar co-firing PLTG sehingga mengurangi emisi karbon PLTG tersebut. Berdasarkan hasil penelitian, bonggol jagung dan wood pellet memiliki potensi sebagai bahan baku pembuatan hidrogen melalui proses gasifikasi, dengan yield masing?masing sebesar 3,5 USD/kg dan 5,5 USD/kg. Yield optimal dapat dicapai pada temperatur 700–1000 °C, rasio steam-to-biomass mendekati 1, serta equivalence ratio 0,2–0,3. Untuk memenuhi kebutuhan cofiring PLTG sebesar 20%v/v, diperlukan pasokan biomassa sekitar 1,8 ton/jam atau 15,7 ribu ton/tahun. Implementasi cofiring ini berpotensi mengurangi konsumsi LNG sebesar 638 ribu MMBtu per tahun serta menurunkan emisi karbon hingga 33.876 ton CO?e per tahun. Gasifikasi biomassa untuk keperluan cofiring menjadi salah satu opsi untuk menekan emisi gas rumah kaca pada pembangkit jenis turbine gas sekaligus memanfaatkan sumber energi lokal yang melimpah dan berkelanjutan.
ANALISIS PENGARUH RASIO KOMBINASI WOODCHIP DAN CANGKANG SAWIT TERHADAP EFISIENSI ENERGI PADA PLTBM DELI SERDANG SUMATERA UTARA
Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm) menjadi salah satu solusi dalam pengembangan energi terbarukan berbasis limbah organik, khususnya di sektor industri kelapa sawit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh rasio kombinasi bahan bakar woodchip dan cangkang sawit terhadap efisiensi energi di PLTBm Deli Serdang, Sumatera Utara. Metodologi penelitian dilakukan secara kuantitatif melalui pengumpulan data operasional biomassa dan energi listrik yang dihasilkan selama periode Juni 2024 hingga Mei 2025. Parameter utama yang dianalisis meliputi kadar air, nilai kalor (LHV), Specific Fuel Consumption (SFC), dan Net Plant Heat Rate (NPHR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa efisiensi energi tertinggi tercapai pada rasio cangkang sawit (1-3%), dengan nilai kalor mencapai 2.870 kcal/kg dan SFC terendah 1,03 kg/kWh. Sebaliknya, peningkatan rasio cangkang sawit di atas 5% menyebabkan kenaikan kadar abu dan emisi, serta penurunan efisiensi pembakaran yang ditunjukkan oleh meningkatnya nilai NPHR hingga 4.780 kcal/kWh. Temuan ini menunjukkan bahwa kualitas bahan bakar, khususnya kadar air dan komposisi rasio campuran, lebih berpengaruh terhadap efisiensi pembangkitan dibanding jumlah bahan bakar yang digunakan. Dengan demikian, rasio campuran optimal woodchip dan cangkang sawit untuk operasi yang efisien berada pada kisaran cangkang sawit 1-3%. Strategi pengelolaan bahan bakar yang tepat, termasuk pemantauan kadar air dan pengendalian rasio campuran secara dinamis, sangat penting untuk meningkatkan efisiensi energi dan keandalan operasi PLTBm secara berkelanjutan.
SIMULASI KINERJA PEMBAKARAN MULTI-BIOMASS PADA PULVERIZED COAL BOILER DENGAN METODE COMPUTATIONAL FLUID DYNAMICS (CFD)
Target pemerintah dalam mencapai Net Zero Emissions 2060 harus didukung secara serius. Target terdekat yang akan dicapai yaitu penggunaan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) sebesar 23% pada bauran energi nasional pada tahun 2025. Kebijakan ini dijalankan dengan komitmen Indonesia untuk mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 29% pada tahun 2030, guna menuju sistem penggunaan energi yang lebih bersih dan berkelanjutan. Salah satu bentuk dukungan kepada pemerintah telah dilakukan oleh berbagai perusahaan pembangkit listrik, yaitu dengan melakukan uji coba Co-firing. Batubara dan biomassa dicampur pada stockpile dan dibakar dalam boiler. Pada penelitian ini, penulis melakukan analisis pembakaran campuran batubara dengan beberapa biomassa yaitu sawdust, sekam padi, dan Solid Recovered Fuel (SRF). Komposisi campuran antara biomassa dengan batubara dilakukan dengan 3 variasi, yaitu batubara 50% + sawdust 25% + sekam padi 25% (campuran A), batubara 50% + sekam padi 25% + SRF 25% (campuran B), dan batubara 50% + sawdust 25% + SRF 25% (campuran C). Penulis melakukan studi menggunakan metode numerik dengan bantuan perangkat lunak Computational Fluid Dynamics (CFD) Ansys Fluent 2022 R1 pada laju massa bahan bakar ditetapkan sama dengan laju massa bila menggunakan batubara saja. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan campuran biomassa dapat mengurangi emisi CO2 dengan penurunan terbesar yaitu 45,7% pada campuran C. Untuk emisi SO2 dan NOx diperoleh dari pembakaran campuran A dengan penurunan SO2 sebesar 67,14% dan NOx sebesar 30,71%. Efek derating juga terjadi saat co-firing, namun hal ini merupakan konsekuensi penggunaan biomassa yang memiliki nilai kalor lebih rendah dibanding batubara. Dari ketiga campuran, campuran A memiliki keunggulan yang lebih banyak dibanding campuran lainnya, antara lain penurunan daya (derating) dan emisi yang terendah.
ANALISIS KELAYAKAN TEKNIS DAN EKONOMI SISTEM HIBRIDA PLTS DAN PLTD: STUDI KASUS MIKROGRID OLONG DI PULAU SERAM
Pada sistem mikrogrid terpencil Olong di Pulau Seram, pasokan listrik sepenuhnya masih bergantung pada pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD), yang mengakibatkan biaya operasional tinggi dan emisi karbon yang signifikan. Penelitian ini mengkaji kelayakan teknis dan ekonomi integrasi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan sistem penyimpanan baterai (BESS) pada mikrogrid PLTD berkapasitas 700 kW di Desa Olong, Pulau Seram. Sistem hibrida yang diusulkan, berdasarkan iradiasi matahari setempat sekitar 3,887 kWh/kWp/hari, terdiri atas PLTS sebesar 853 kWp dan sistem penyimpanan energi baterai 2.300 kWh, dengan tetap mempertahankan PLTD sebagai sumber cadangan. Pemodelan keluaran PLTS dilakukan menggunakan PVsyst, optimasi teknis-ekonomi dilakukan dengan HOMER Pro, dan analisis kinerja jaringan dilakukan melalui DIgSILENT PowerFactory. Hasil simulasi menunjukkan bahwa sistem hibrida tersebut dapat memasok lebih dari 82% kebutuhan energi tahunan dari sumber terbarukan, mengurangi konsumsi bahan bakar PLTD sebesar 82% (dari 411.700 L/tahun menjadi 74.825 L/tahun). Net Present Cost (NPC) menurun dari US$4,02 juta menjadi US$3,26 juta (penurunan 18,9%), dan Levelized Cost of Electricity (LCOE) turun dari US$0,2860/kWh menjadi US$0,2315/kWh (penurunan 19%). Emisi CO? turun sebesar 778.942 kg/tahun atau sekitar 80,8% dan periode pengembalian investasi tercapai sekitar 7,2 tahun. Simulasi aliran daya dan dinamik menunjukkan bahwa tegangan bus 20 kV tetap dalam rentang 18–21 kV (Permen ESDM No. 03/2007) dan frekuensi dalam 49–51 Hz (Permen ESDM No. 04/2020), bahkan saat terjadi penurunan mendadak output PLTS, membuktikan kestabilan jaringan pada penetrasi PLTS tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa sistem hibrida PLTS– PLTD–BESS merupakan skenario yang layak untuk memodernisasi mikrogrid terpencil di Indonesia, mendukung target dedieselisasi dalam RUKN 2024 dan RUPTL 2025–2034. Pendekatan pemodelan terintegrasi ini dapat direplikasi di wilayah terpencil lain untuk solusi energi yang bersih, andal, dan terjangkau.
PERANCANGAN SISTEM PENGONDISIAN UDARA PADA BANGUNAN MIXED-USE KANTOR DAN MALL DI JAKARTA PUSAT
Perkembangan infrastruktur perkotaan Jakarta telah mengalami peningkatan yang signifikan dengan penambahan gedung-gedung komersial berkonsep serbaguna (mixed-use). Hal ini memunculkan tantangan baru dalam perancangan sistem pengondisian udara karena keberagaman zonasi, intensitas penggunaan, dan variasi fungsi. Gedung-gedung ini wajib memenuhi standar efisiensi energi, seperti batasan Intensitas Konsumsi Energi (IKE) harus sesuai peraturan yang berlaku. Mengingat sistem pengondisian udara dapat menyerap porsi energi hingga 60% dari total energi bangunan, maka pemilihan sistem yang tepat guna dan efisien menjadi sangat penting. Tugas Sarjana ini merupakan studi kasus untuk merancang dan membandingkan sistem pengondisian udara yang paling efisien berdasarkan konsumsi energi dan biaya siklus hidup pada sebuah gedung serbaguna (kantor dan mal) di Jakarta Pusat. Terdapat empat alternatif yang dianalisis: dua jenis sistem sentral (Water-Cooled Chiller dengan dan tanpa Variable Frequency Drive/VFD) dan dua jenis sistem Variable Refrigerant Flow (VRF) (air-cooled dan water-cooled). Proses perancangan meliputi estimasi beban pendinginan puncak, pemilihan komponen utama untuk setiap sistem, serta analisis konsumsi energi tahunan dan Life Cycle Cost (LCC). Berdasarkan hasil analisis konsumsi energi dan biaya, Alternatif 1 yang menggunakan sistem Water-Cooled Chiller dengan VFD dan debit air berubah merupakan sistem yang paling optimal. Sistem ini menghasilkan konsumsi energi tahunan terendah sebesar 6.203.578,77 kWh/tahun serta biaya siklus hidup terendah selama 20 tahun sebesar Rp267.393.397.800.
OPTIMALISASI EFISIENSI ENERGI DALAM IMPLEMENTASI BANGUNAN HIJAU PADA APARTEMEN MENENGAH–BAWAH MELALUI COST–BENEFIT ANALYSIS (CBA)
Kebutuhan Hunian di Indonesia diprediksi pada 2030 mencapai 14.96 juta unit rumah, Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan penduduk, Urbanisasi dan perubahan gaya hidup. Kebutuhan Hunian yang ada juga didominasi pada masyarakat segmen menengah bawah. dengan banyaknya Kebutuhan yang ada, dibutuhkan pembangunan Hunian yang masif. Namun, Bangunan memiliki peran signifikan dalam menghadapi tantangan global terkait perubahan iklim, penggunaan sumber daya, dan polusi. Proyeksi masa depan menunjukkan bahwa penggunaan energi bangunan kemungkinan akan meningkat dua kali lipat pada tahun 2050. Hal ini disebabkan oleh pembangunan bangunan yang intensif. Perhatian terhadap efisiensi energi dalam pengurangan emisi gas rumah kaca pada industri konstruksi sangat penting untuk mengatasi tantangan global ini. Namun dengan Barrier pada Cost-Premium pada bangunan Hijau. Diperlukan adanya penilaian obyektif untuk menghitung biaya riil pada variabel bangunan hijau. Analisis biaya manfaat menggunakan pareto sampling agar menghasilkan variabel terkait bangunan hijau secara konkrit. Penelitian ini bertujuan menilai kelayakan penerapan variabel desain pasif pada apartemen menengah-bawah melalui Building Performance Simulation (BPS) dan Cost-Benefit Analysis (CBA). Empat intervensi diuji—kaca low-E, insulasi atap, insulasi dinding, dan overstek—pada kondisi eksisting dan skenario perbaikan. Hasil simulasi menunjukkan peningkatan efisiensi energi signifikan, dengan pengurangan beban pendinginan HVAC dan pencahayaan yang menghasilkan Internal Rate of Return (IRR) positif pada skenario terpilih. Analisis ekonomi mengindikasikan bahwa kombinasi variabel tertentu dapat mencapai Benefit-Cost Ratio (BCR) >1, payback period dalam rentang investasi wajar, serta peningkatan nilai kelayakan proyek. Secara kualitatif, implementasi variabel hijau ini dinilai realistis untuk segmen menengah-bawah jika didukung insentif finansial, standardisasi desain, dan sosialisasi manfaat jangka panjang. Penelitian merekomendasikan integrasi desain pasif hemat energi dalam regulasi hunian vertikal dan pemberian insentif bagi pengembang untuk memperluas adopsi bangunan hijau di kawasan perkotaan padat.
OPTIMALISASI EFISIENSI ENERGI DALAM ARSITEKTUR HIJAU MELALUI TOOLS BIM PADA PERANCANGAN FASILITAS ASRAMA MAHASISWA ITB CIREBON
Pengembangan fasilitas asrama mahasiswa di ITB Kampus Cirebon merupakan dampak dari strategi multikampus yang ditempuh Institut Teknologi Bandung untuk mengatasi keterbatasan lahan di Kampus Ganesha. Dengan mayoritas mahasiswa berasal dari luar daerah, kebutuhan hunian yang mendukung aktivitas akademik menjadi sangat penting. Asrama tidak hanya berfungsi sebagai akomodasi, tetapi juga sebagai sarana pembinaan karakter, interaksi sosial, dan peningkatan kualitas hidup mahasiswa. Tantangan muncul karena pembangunan berpotensi menambah beban emisi karbon, mengingat sektor bangunan menyumbang ±39% emisi CO? global. Pendekatan green architecture yang mengutamakan efisiensi energi, penggunaan material ramah lingkungan, dan keselarasan dengan lingkungan alam menjadi relevan. Integrasi teknologi Building Information Modelling (BIM) pada tahap desain, yang dikenal sebagai green BIM, memungkinkan analisis performa bangunan sejak awal, seperti simulasi energi, analisis radiasi matahari, pengujian window-to-wall ratio (WWR), serta perhitungan material. Tujuan proyek ini adalah merancang fasilitas hunian kampus berbasis prinsip arsitektur hijau dengan dukungan analisis BIM guna mencapai performa efisiensi energi yang optimal. Metode yang digunakan adalah performance-based design, memanfaatkan tools dari perangkat lunaak BIM untuk menguji parameter desain seperti orientasi bangunan, sistem sunshading, jenis material, pencahayaan alami. Studi preseden, analisis tapak makro dan mikro, serta simulasi energi dilakukan untuk memvalidasi rancangan. Adapun hasil dari proyek perancangan ini adalah konsep asrama mid-rise dengan sistem koridor double-loaded yang tetap mempertahankan pencahayaan dan penghawaan alami di area koridor. Orientasi bangunan yang dipilih menempatkan sisi panjang bangunan pada arah yang meminimalkan paparan sinar matahari langsung dari jalur timur–barat, sehingga mengurangi beban panas yang tidak diinginkan. Strategi sunshading, khususnya penggunaan desain dinding miring (slanted wall), terbukti melalui analisis insolasi mampu mengurangi paparan matahari sebesar 24,9% dibandingkan orientasi awal. Selain itu, rancangan mengakomodasi penggunaan material lokal sebesar ±21% dari total volume material bangunan, mendukung keberlanjutan sekaligus perekonomian lokal. Proporsi WWR optimal ditetapkan pada kisaran ±30%, yang memberikan keseimbangan antara pemanfaatan pencahayaan alami dan pengendalian beban pendinginan. Seluruh simulasi dan analisis kinerja dilakukan secara terintegrasi di dalam lingkungan model 3D BIM, sehingga setiap keputusan desain dapat dievaluasi secara langsung terhadap konsumsi energi. Pendekatan holistik berbasis data ini menunjukkan bahwa kombinasi prinsip arsitektur hijau dan teknologi BIM dapat menghasilkan fasilitas hunian mahasiswa yang tidak hanya fungsional dan nyaman, tetapi juga hemat energi dan ramah lingkungan.
ANALISIS JEJAK KARBON PADA AKTIFITASRANTAI PASOK AIR INSULATED SWITCHGEAR (AIS)PT PLN (PERSERO)
Transisi menuju Net Zero Emission (NZE) 2060 telah menjadi komitmen strategis nasional untuk mengatasi krisis iklim global. Pemerintah Indonesia mendukung agenda ini melalui berbagai regulasi dekarbonisasi sektor energi, seperti Peraturan Presiden No. 98 Tahun 2021 tentang Nilai Ekonomi Karbon dan Permen ESDM No. 16 Tahun 2022 mengenai target penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) di sektor ketenagalistrikan. Penelitian ini mengembangkan metode inventarisasi jejak karbon berbasis Life Cycle Assessment (LCA) dengan batasan tertentu, yang untuk 5 (lima) kategori Air Insulated Switchgear (AIS), yaitu: Circuit Breaker (CB), Disconnecting Switch (DS), Current Transformer (CT), Voltage Transformer (CVT), dan Lightning Arrester (LA). Emisi dihitung pada dua tahap, yaitu fase rantai pasok produksi (supply chain phase) dan fase penggunaan (use phase). Hasil analisis menunjukkan bahwa proses pengujian di pabrik (factory testing) dan transportasi laut internasional merupakan penyumbang utama emisi karbon dalam fase rantai pasok produksi. Sementara itu, emisi pada tahap penggunaan menjadi signifikan untuk peralatan aktif seperti CT dan CVT 500 kV yang beroperasi secara kontinu. Circuit Breaker 500 kV tercatat sebagai varian dengan emisi tertinggi, yaitu sebesar 1.279,58 kgCO e per unit, yang disebabkan oleh bobot besar, struktur kompleks, serta konsumsi energi tinggi saat pengujian. Oleh karena itu, strategi pengurangan emisi sebaiknya difokuskan pada kategori AIS yang menghasilkan jejak emisi karbon terbesar. Penelitian ini merekomendasikan strategi mitigasi berbasis data, seperti pengujian lokal di Indonesia, peningkatan kandungan lokal (TKDN), dan pemanfaatan energi bersih dalam proses pengujian. Potensi pengurangan emisi secara total diperkirakan mencapai ±15% tanpa perlu melakukan perubahan desain teknis peralatan. Temuan ini dapat menjadi dasar pengembangan sistem pengadaan rendah karbon dan mendukung roadmap dekarbonisasi PLN menuju NZE 2060.
ANALISIS BIAYA DAN MANFAAT POTENSI EFISIENSI DAN KONSERVASI ENERGI UNTUK MENINGKATKAN SKOR SERTIFIKASI GREENSHIP: STUDI KASUS GEDUNG CIBE ITB
Emisi karbon global terus meningkat, dengan sektor bangunan menyumbang 39% dari total emisi karbon yang terkait dengan energi, mayoritasnya berasal dari konsumsi energi operasional gedung. Untuk mengurangi dampak lingkungan, penerapan konsep green building menjadi solusi, yang dapat mengurangi konsumsi energi hingga 50% dan emisi karbon hingga 39%. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis biaya dan manfaat dari potensi peningkatan skor sertifikasi Greenship pada Gedung Center for Infrastructure and Built Environment (CIBE) ITB, dengan fokus pada efisiensi energi dan konservasi. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif, dengan menganalisis investasi yang diperlukan untuk implementasi strategi efisiensi energi seperti penggantian lampu konvensional dengan LED, serta pemasangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa investasi sebesar Rp 489.071.842 dapat menghasilkan penghematan energi sebesar Rp 586.471.491, dengan Net Present Value (NPV) positif sebesar REmisi karbon global terus meningkat, dengan sektor bangunan menyumbang 39% dari total emisi karbon yang terkait dengan energi, mayoritasnya berasal dari konsumsi energi operasional gedung. Untuk mengurangi dampak lingkungan, penerapan konsep green building menjadi solusi, yang dapat mengurangi konsumsi energi hingga 50% dan emisi karbon hingga 39%. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis biaya dan manfaat dari potensi peningkatan skor sertifikasi Greenship pada Gedung Center for Infrastructure and Built Environment (CIBE) ITB, dengan fokus pada efisiensi energi dan konservasi. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif, dengan menganalisis investasi yang diperlukan untuk implementasi strategi efisiensi energi seperti penggantian lampu konvensional dengan LED, serta pemasangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa investasi sebesar Rp 489.071.842 dapat menghasilkan penghematan energi sebesar Rp 586.471.491, dengan Net Present Value (NPV) positif sebesar Rp 97.399.650 dan dapat mengurangi emisi karbon sebesar 1.312,62 ton CO? dalam 20 tahun. Penelitian ini menunjukkan bahwa strategi efisiensi energi yang diterapkan tidak hanya memberikan manfaat finansial yang signifikan, tetapi juga berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan dan meningkatkan skor Greenship Gedung CIBE ITB. p 97.399.650 dan dapat mengurangi emisi karbon sebesar 1.312,62 ton CO? dalam 20 tahun. Penelitian ini menunjukkan bahwa strategi efisiensi energi yang diterapkan tidak hanya memberikan manfaat finansial yang signifikan, tetapi juga berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan dan meningkatkan skor Greenship Gedung CIBE ITB. Kata kunci: Greenship, efisiensi energi, penghematan energi, emisi karbon
ESTIMASI BEBAN EMISI POLUTAN VOC, CO, NOX, PM2,5, PM10, DAN SO2 DARI SEKTOR TRANSPORTASI MENGGUNAKAN MODEL MOVES DI KOTA SURABAYA
Kota Surabaya merupakan kota terpadat kedua di Indonesia dengan jumlah penduduk dan kendaraan bermotor yang terus meningkat setiap tahunnya. Peningkatan jumlah kendaraan bermotor berdampak signifikan terhadap peningkatan emisi pencemar udara dari sektor transportasi, yang menjadi kontributor utama pencemaran udara di kota ini. Berbagai polutan seperti CO, NOx, SO2, VOC, PM10, dan PM2.5 banyak dihasilkan dari aktivitas kendaraan, terutama di wilayah padat lalu lintas. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya penurunan emisi melalui strategi yang efektif, salah satunya dengan perbaikan kualitas bahan bakar berupa penggunakan oksigenat. Penelitian ini bertujuan mengestimasi emisi VOC, CO, NOx, PM2.5, PM10, dan SO2 dari sektor transportasi di Kota Surabaya akibat perbedaan jenis bahan bakar bensin menggunakan model MOVES, serta mengidentifikasi jenis kendaraan dan bahan bakar penyumbang emisi terbesar untuk merumuskan rekomendasi kebijakan pengurangan emisi. Penelitian ini meliputi inventarisasi emisi, pembuatan peta sebaran polutan, serta analisis kebijakan sebagai rekomendasi usaha dalam menurunkan emisi polutan. Hasil menunjukkan bahwa bahan bakar R90 menyumbang emisi tertinggi di Kota Surabaya. Sedangkan, bahan aditif (oksigenat) berupa etanol dan eter secara general dapat mereduksi emisi, namun menunjukkan efek yang berbeda bergantung pada jenis polutan. Emisi CO, NOx, dan VOC paling banyak dihasilkan oleh mobil penumpang, sedangkan SO2, PM10, dan PM2.5 didominasi oleh truk besar. Skenario kebijakan berupa peralihan ke kendaraan listrik dan penggunaan bahan bakar bersulfur rendah menunjukkan potensi reduksi emisi hingga 90%. Persebaran emisi di Kota Surabaya dipengaruhi oleh sumber polutan. Emisi CO dan VOC terkonsentrasi di wilayah utara hingga timur. Semengtara itu, emisi NOx dan SO2 terpusat di pusat kota hingga utara serta sepanjang jalan tol dari selatan ke utara, sejalan dengan jalur kendaraan berat yang juga menjadi sumber utama PM10 dan PM2.5.