π Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 16 dokumenPERAN DIGITALISASI TERHADAP PENINGKATAN DAYA SAING DAN KEBERLANJUTAN EKONOMI KREATIF DI SENTRA RAJUT BINONG JATI, KWK BINONG, KOTA BANDUNG
Ekonomi kreatif sentra industri kriya tradisional di Indonesia menghadapi penurunan struktural pasca masa kejayaan dan disrupsi era digital, namun tingkat adopsi digitalnya belum banyak dikaji secara empiris. Sentra Rajut Binong Jati di Kota Bandung yang menyusut dari 600-700 industri kecil aktif (1997-1998) menjadi 288 unit (2025) menjadi kasus strategis untuk mengkaji peran digitalisasi terhadap peningkatan daya saing dan keberlanjutan. Penelitian ini bertujuan mengukur tingkat adopsi digitalisasi, mengidentifikasi faktor pendorong dan penghambatnya, serta peran digitalisasi terhadap daya saing dan keberlanjutan ekonomi kreatif sentra. Pendekatan mixed-methods digunakan melalui kuesioner Skala Likert terhadap 110 pelaku usaha yang dianalisis dengan skoring indeks adopsi, statistik deskriptif, SWOT, korelasi Pearson, regresi linear sederhana, serta wawancara mendalam dua narasumber kunci yang dikaji secara deskriptif kualitatif dan ditriangulasi dokumen kebijakan. Tingkat adopsi digitalisasi berada pada kategori Sedang (composite mean 3,09), mengindikasikan pelaku usaha berada pada fase transisi dengan kekuatan pada pemasaran digital dan kelemahan pada manajemen operasional digital. Faktor pendorong utama ialah tolerance dan tekanan pasar, sementara kebijakan menjadi penghambat utama akibat gap implementasi regulasi. Digitalisasi berkontribusi signifikan terhadap daya saing dengan menjelaskan 59,67% variasinya (RΒ²=0,597) dan peningkatan merata pada dimensi Competitive Advantage, serta terhadap keberlanjutan dengan menjelaskan 57,48% variasinya (RΒ²=0,575). Profil Triple Bottom Line menempatkan dampak sosial (People) lebih tinggi daripada dampak ekonomi langsung (Profit), menyiratkan digitalisasi sentra kriya tradisional lebih merupakan fenomena sosialbudaya daripada sekadar fenomena ekonomi. Kontribusi penelitian terletak pada konfirmasi Kerangka 3T Florida yang dirujuk dalam Perda Kota Bandung No. 1 Tahun 2021 menunjukkan pola Tolerance > Technology > Talent pada usaha kriya, bukan pola seragam sebagaimana diasumsikan literatur sebelumnya.
LAB KEKAYAAN INTELEKTUAL BERBASIS KARAKTER JAKARTA
Manusia memiliki kecenderungan untuk mencari pengetahuan melalui cerita. Cerita tidak hanya berfungsi sebagai media penyampai pesan, tetapi juga instrumen emosional yang mampu melibatkan otak secara lebih mendalam dibandingkan sekadar data faktual. Dalam ekosistem industri kreatif modern, satu narasi pusat kini dapat bertransformasi menjadi berbagai cabang karya melalui strategi transmedia yang melibatkan media gambar, teks, audio, hingga video. Fenomena ini memosisikan cerita sebagai aset yang dapat diproteksi dan dikomersialkan dalam bentuk Kekayaan Intelektual atau Intellectual Property (IP). Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Ekonomi Kreatif (2025) telah menegaskan potensi IP sebagai pendorong utama ekonomi nasional, dan diharapkan mampu memperkuat identitas bangsa di kancah global. Hanya saja, industri berbasis IP di Indonesia masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari keterbatasan infrastruktur fisik dan TIK, rendahnya literasi manajemen Hak Kekayaan Intelektual (HKI), hingga minimnya akses pembiayaan dan koneksi antarstudio (Andrian et al., 2021). Meskipun kajian mengenai IP mulai meningkat, masih terdapat kesenjangan besar dalam ketersediaan fasilitas fisik yang mampu menjembatani beragam kebutuhan pengembangan produk IP berbasis karakter secara terintegrasi. Penelitian ini bertujuan untuk merancang sebuah fasilitas yang mampu mengkurasi, memproduksi, serta mendistribusikan IP berbasis karakter secara berkelanjutan. Fasilitas ini dirancang untuk menjadi wadah bagi para kreator yang telah memiliki pondasi konsep (pitch bible) agar siap memasuki tahap produksi dan komersialisasi. Melalui perancangan Jakarta Character-Based Intellectual Property Lab, diharapkan tercipta sebuah ekosistem yang mampu mengakselerasi potensi kreatif menjadi aset ekonomi yang berdaya saing global, sekaligus menjadi solusi atas ketimpangan infrastruktur pendukung industri IP di Indonesia. Kata Kunci: Intellectual Property (IP), Karakter, Cerita, Jakarta IP Lab, Ekonomi Kreatif.
PENGEMBANGAN MODEL PERUMUSAN STRATEGI MITIGASI RISIKO OPERASIONAL BERBASIS TAHAP PERTUMBUHAN ORGANISASI DAN PROSES BISNIS UMKM: STUDI KASUS HISTORIS PT AJI DAN PT SMI
Ekonomi kreatif dengan sub sektor fashion memiliki kontribusi tinggi terhadap nilai ekspor dan diproyeksikan akan terus tumbuh. Namun, kondisi UMKM fashion menunjukkan rendahnya daya saing yang berkaitan erat dengan keberhasilan proses bisnis sebagai faktor penentu keunggulan kompetitif. UMKM berada dalam tekanan tuntuan stakeholder kunci dan keterbatasan sumber daya yang membuat UMKM sulit merespon secara optimal. Tekanan tersebut memicu berbagai risiko operasional yang dapat mengganggu kelancaran aktivitas usaha. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan model perumusan strategi mitigasi risiko operasional berdasarkan tahap pertumbuhan organisasi dan proses bisnis UMKM dengan mempertimbangkan persepsi risiko operasional, struktur dependensi antara organisasi dan stakeholder kunci, dan ketersediaan dukungan slack resource. Penelitian dilakukan dengan melakukan eksplorasi pada dua perusahaan fashion. Metode yang digunakan adalah studi kasus historis dengan pengumpulan data melalui wawancara semi-terstruktur, dokumen pendukung, dan observasi lapangan. Data tersebut diolah melalui metode analisis tematik dan pemetaan terhadap risiko operasional, struktur dependensi, dan ketersediaan slack resource sebagai dasar perumusan strategi mitigasi risiko operasional. Kemudian dilakukan cross-case analysis pada masing-masing tahap pertumbuhan organisasi dan variabel pengukuran. Berdasarkan hasil studi kasus, ditemukan bahwa objek yang dikaji telah melewati tahap pertumbuhan entrepreneurial, growth, expansion, dan, collaboration. Variasi risiko operasional berbeda antar organisasi seiring dengan kompleksitas proses bisnis di sepanjang tahap pertumbuhan organisasi. Perumusan strategi mitigasi risiko operasional cenderung bersifat dinamis di tiap tahap pertumbuhan organisasi. Di tahap entrepreneurial pola mitigasi risiko operasional bersifat selektif dan pasif. Mulai di tahap growth-collaboration, pola strategi mitigasi risiko operasional mengarah pada pendekatan relasional dan exploit. Selanjutnya, strategi proaktif hanya ada di tahap entrepreneurial dan collaboration, strategi reaktif cenderung ada di semua tahap pertumbuhan organisasi, dan strategi pasif hanya ada di tahap entrepreneurial.
SOFT SYSTEMS THINKING DALAM STRATEGI PEMBERDAYAAN EKONOMI KREATIF DENGAN MEMANFAATKAN KEKAYAAN INTELEKTUAL LOKAL MELALUI PERSPEKTIF SERVICE SCIENCE: KASUS KOTA PALU, SULAWESI TENGAH
Silo Strategis dalam Ekosistem Kewirausahaan Masyarakat Adat berdampak pada penguatan sistematis Ekonomi Kreatif Tenun Donggala pada populasi di Kota Palu. Merupakan "masalah pelik" (messy problems) bagi pengrajin kain tenun Kaili Donggala untuk mengakomodasi warisan budaya selagi melawan "lingkaran kemiskinan pengrajin." Pengetahuan akan membantu sistem bergerak melampaui inisiatif top-down yang melihat adanya kesenjangan kemanusiaan dan sosial. Meskipun terdapat perlindungan hukum bersama dalam IG (Indikasi Geografis), pengrajin masih bergantung pada bahan baku, akses pasar yang terbatas, dan berjuang untuk mewariskan keahlian mereka. Penelitian ini mengasumsikan "kebutaan operasional" oleh institusi dan pendukungnya dengan bertujuan menetapkan bahwa pendekatan sistem lunak yang partisipatif dapat menyeimbangkan sistem untuk menghasilkan nilai ko-kreasi (co- creation value). Dengan demikian, komponen dan desain sistem akan dibatasi pada ekosistem Tenun Donggala serta sistem mono-struktur dan poli-struktur domestik. Penelitian studi kasus kualitatif ini menggunakan Soft Systems Methodology (SSM), Strategic Options Development and Analysis (SODA), dan Service Science. Proses penelitian meliputi evaluasi kontekstual, wawancara semi-terstruktur, dan lokakarya partisipatif dengan pemerintah provinsi dan kota, tokoh desa, distributor, serta pengrajin. Analisis data menggunakan pengkodean tematik, pemetaan kognitif, dan model konseptual CATWOE. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa aturan kota lebih mempromosikan pemasaran hilir daripada mengatasi kelangkaan bahan baku dan penghentian industri akibat adat istiadat setempat. Perlindungan HKI (Hak Kekayaan Intelektual) kolektif dan branding ikon yang dipimpin oleh kota saling bertentangan. Rekomendasi adanya "Badan Kolaboratif" untuk mengoordinasikan stabilitas rantai pasok, pendidikan keuangan, dan branding yang sinergis. Pariwisata budaya menjadi layanan eksperiensial dengan menggunakan Service Science.
STRATEGI PENETRASI PASAR DALAM INDUSTRI PERFORMING ARTS DI BANDUNG STUDI KASUS : JUMPWORKS
Industri kreatif di Indonesia memberikan kontribusi sebesar Rp749.58 triliun pada kuartal kedua tahun 2024 berdasarkan laporan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Namun salah satu subsektor dari industri kreatif yakni seni pertunjukan masih memiliki hambatan dalam perkembangannya. Hal ini didasari oleh kurangnya pemahaman atas target konsumen dari para seniman sehingga mereka cenderung membuat karya pertunjukan berdasarkan selera dan idealisme mereka. Fenomena ini dirasakan juga oleh JumpWorks sebagai salah satu organisasi bisnis di industri performing arts yang mengakibatkan pertumbuhan pendapatan JumpWorks stagnan. Salah satu cara untuk meningkatkan pertumbuhan pendapatan bisnis adalah dengan menerapkan strategi penetrasi pasar yang efektif. Penetrasi pasar adalah strategi perkembangan bisnis yang fokus pada peningkatan penjualan dari produk atau jasa yang sudah ada di pasar saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi penetrasi pasar yang tepat untuk JumpWorks menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara mendalam terhadap pakar industri, klein, dan internal tim dari JumpWorks. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa memahami proses bisnis, menganalisis customer journey, mengidentifikasi ekosistem bisnis, serta mempertajam aspek wirausahawan menjadi dasar yang penting dalam merumuskan strategi penetrasi pasar. Variabel-variabel tersebut didapat dari hasil interview mendalam yang kemudian divalidasi melalui proses triangulasi baik dengan sesama narasumber maupun dengan jurnal atau artikel ilmiah. Hasil dari triangulasi mengatakan bahwa peran dari relasi, word-of-mouth, portofolio, personal branding, dan regulasi pemerintah sangatlah penting untuk menunjang keberhasilan JumpWorks dalam melakukan penetrasi pasar. Sehingga dari insight tersebut ditemukanlah aspek-aspek yang perlu dipertimbangkan JumpWorks dalam merancang strategi penetrasi pasar diantaranya yaitu Ekosistem Bisnis, Aspek Wirausahawan, Client Journey, Proses Bisnis, dan Penetrasi Pasar.
CREATIVE HUB PURWOKERTO: PERANCANGAN BERBASIS EKONOMI KREATIF
Creative Hub di Purwokerto dirancang sebagai respons arsitektural yang mendukung pengembangan ekonomi kreatif, kolaborasi komunitas, dan pelestarian budaya lokal. Sebagai Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) yang memiliki potensi unggulan ekonomi kreatif di subsektor seni pertunjukan, Creative Hub bertujuan menjadi ruang publik multifungsi yang mengintegrasikan fungsi sosial, budaya, dan ekonomi. Perancangan ini dilakukan dengan mempertimbangkan keberlanjutan, inklusivitas, dan konektivitas, serta memaksimalkan potensi tapak untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan sekitar. Berdasarkan berbagai persoalan desain yang diidentifikasi, perumusan konsep Creative Hub dilakukan untuk menjawab persyaratan kinerja dengan mempertimbangkan aspek kreativitas, kolaborasi, dan potensi tapak dalam konteks kota Purwokerto. Untuk mendukung kreativitas dan produktivitas, ruang dirancang dengan fokus pada dimensi psikologis, sosial, dan budaya melalui elemen seperti isolasi akustik untuk kenyamanan indera, pencahayaan alami untuk efisiensi dan kesehatan, material alami untuk menciptakan suasana restoratif, serta tata letak fleksibel yang memungkinkan adaptasi terhadap berbagai aktivitas. Dalam mendukung kolaborasi, desain ruang mengadopsi konsep sosiopetal yang mendorong interaksi sosial. Pengaturan ruang melibatkan elemen seperti sentralitas fungsional untuk memastikan aksesibilitas, kompleksitas visual untuk menciptakan daya tarik estetika, ruang komunal sebagai tempat berkumpul, titik fokus yang menarik perhatian, serta aspek fleksibilitas penggunaan. Ruang-ruang ini dirancang untuk menginspirasi sinergi antarindividu maupun kelompok, menciptakan kolaborasi yang dinamis dan inovatif. Creative Hub di Purwokerto mencerminkan kombinasi sempurna antara kreativitas, kolaborasi, dan keberlanjutan. Dengan desain yang berpusat pada pengguna dan tapak, fasilitas ini berfungsi sebagai ikon baru kota yang mengintegrasikan inovasi, pelestarian budaya lokal, dan pemberdayaan ekonomi komunitas secara berkelanjutan. Ruang ini menjadi katalisator bagi pertumbuhan ekonomi kreatif sekaligus tempat inspiratif yang mendukung interaksi sosial, eksplorasi ide, dan pengembangan inovasi bersama.
SENTRA KEBUDAYAAN WASTRA PALEMBANG: IKON WISATA TRADISIONAL
Kota Palembang, sebagai salah satu pusat kebudayaan di Indonesia, memiliki warisan budaya yang kaya, terutama dalam bentuk wastra atau kain tradisional. Namun, tantangan dalam pelestarian dan pengembangan kebudayaan di Palembang semakin mendesak, terutama terkait dengan minimnya fasilitas kebudayaan dan rendahnya minat generasi muda terhadap wastra. Perancangan ini bertujuan untuk merumuskan solusi strategis melalui pembangunan pusat budaya yang berfungsi sebagai pusat edukasi dan promosi kebudayaan. Wastra Palembang, yang terdiri dari songket, batik, dan jumputan, tidak hanya memiliki nilai estetika tetapi juga mencerminkan identitas dan sejarah masyarakat. Namun, data menunjukkan bahwa fasilitas kebudayaan di Palembang masih sangat terbatas, dengan hanya tiga pusat kebudayaan yang terdaftar secara resmi. Hal ini mengakibatkan kurangnya transfer pengetahuan dari generasi tua ke generasi muda, serta rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian budaya lokal. Sebagai respons terhadap tantangan ini, proyek pembangunan pusat budaya wastra di Kecamatan Ilir Barat II dirancang untuk menjadi ikon pariwisata tradisional sekaligus mendukung pelestarian, edukasi, dan pengembangan kebudayaan lokal. Pusat budaya ini diharapkan dapat berfungsi sebagai ruang edukasi yang menyediakan fasilitas hands-on learning, di mana masyarakat, khususnya generasi muda, dapat belajar tentang sejarah dan teknik pembuatan wastra. Selain itu, proyek ini juga bertujuan untuk meningkatkan daya tarik wisata Palembang dan mendorong ekonomi kreatif lokal dengan menyediakan ruang bagi pelaku industri kreatif untuk mengembangkan keterampilan dan memperluas pasar.
PERANCANGAN ASPEK MANAJEMEN DAN REKAYASA KONSTRUKSI CREATIVE CENTER DI BINTARO JAYA, TANGERANG SELATAN
Pembangunan Creative Center di Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, sebagai salah satu bentuk komitmen Pemerintah Pusat dalam pengembangan ekonomi kreatif nasional, bertujuan untuk meningkatkan apresiasi terhadap seni itu sendiri. Tugas akhir desain ini bertujuan untuk merancang aspek manajemen dan rekayasa konstruksi proyek yang memenuhi tuntuan biaya, waktu, mutu, dan juga keselamatan. Pekerjaan yang menjadi cakupan analisis tugas akhir desain ini meliputi pekerjaan persiapan, pekerjaan tanah, pekerjaan struktur bawah, pekerjaan struktur atas, serta pekerjaan perkerasan dan prasarana parkir. Creative Center di Bintaro Jaya dengan 2 rubanah dan 4 lantai atas, yang masing-masing lantai memiliki tinggi 4,2 meter, dibangun dengan menggunakan metode bottom-up. Analisis produktivitas alat berat, tingkat produksi pekerjaan dan juga pekerja, bersama-sama dengan hasil quantity take-off, digunakan untuk membuat estimasi biaya dan merancang penjadwalan proyek. Konstruksi Proyek Creative Center ini dimulai pada 1 Januari 2024 dengan perkiraan biaya langsung sebesar Rp103.775.235.730,30 dan biaya tidak langsung sebesar Rp10.704.895.807,64 dan selesai pada tanggal 23 April 2025 (478 hari).
MODEL KOLABORASI DALAM PEMBERDAYAAN PELAKU EKONOMI KREATIF DI KOTA BANDUNG: OPTIMALISASI PERAN TIM KOORDINASI PENANGGULANGAN KEMISKINAN KOTA BANDUNG
Bandung merupakan kota dengan sektor ekonomi kreatif yang kuat dan pariwisata yang berkembang pesat. Kota ini dikenal dengan keindahan alam, kekayaan budaya, bangunan bersejarah, serta daya tarik kuliner dan fesyennya. Sejak masa kolonial Belanda, Bandung telah menjadi destinasi wisata utama, dan saat ini diakui sebagai bagian dari jaringan Kota Kreatif UNESCO. Namun, meskipun potensi ekonominya besar, Kota Bandung masih menghadapi tantangan dalam hal kemiskinan dan pengangguran. Sebagai pusat ekonomi kreatif di Jawa Barat, Bandung memiliki peluang besar dalam pemberdayaan masyarakat miskin melalui sektor ini, tetapi diperlukan model kolaborasi yang efektif untuk memastikan keberhasilannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peluang dan tantangan dalam kolaborasi antara Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) kelompok program III Kota Bandung, yang melibatkan DISKOPUMK, DISBUDPAR, dan BAZNAS, bersama dengan Kanwil KEMENKUM Jawa Barat dan LPPM Perguruan Tinggi. Dengan menggunakan kerangka teori Collaborative Governance, studi ini menganalisis bagaimana berbagai aktor dari sektor yang berbeda dapat berkontribusi dalam menciptakan nilai ekonomi kreatif dan meningkatkan pemberdayaan masyarakat miskin. Pendekatan ini mengacu pada model Collaborative Governance Regime (CGR) yang dikembangkan oleh Emerson, Nabatchi, dan Balogh (2012), yang menekankan pentingnya keterlibatan berbagai pemangku kepentingan dalam proses pengambilan keputusan serta pengelolaan kebijakan publik secara kolektif. Analisis SWOT juga diterapkan untuk menilai kekuatan, kelemahan, kesempatan dan ancaman yang dihadapi TKPK kelompok program III dalam mendukung pelaku ekonomi kreatif di Kota Bandung. Menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini mengandalkan metode wawancara semi-terstruktur dan analisis dokumen guna memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai dinamika kolaborasi antar-stakeholders. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaku ekonomi kreatif yang tergolong dalam Usaha Mikro dan Kecil (UMK), terutama di subsektor kuliner dan fesyen, menghadapi berbagai kendala dalam pengembangan usahanya. Banyak dari mereka yang telah terdaftar di platform marketplace seperti GoFood dan Shopee, tetapi masih harus menghadapi tantangan seperti persaingan ketat, tingginya biaya pemasaran, serta kompleksitas dalam pengelolaan operasional. Sementara itu, koordinasi dari TKPK kelompok program III menghadapi kendala dalam penyelarasan program kerja serta keterbatasan sumber daya yang tersedia. Analisis SWOT terhadap TKPK kelompok program III mengungkapkan bahwa meskipun terdapat peluang besar dalam pengembangan ekonomi kreatif, terdapat ancaman yang signifikan, seperti regulasi yang belum optimal dan permasalahan internal seperti kurangnya koordinasi antar-lembaga, belum adanya penyelarasan program, serta pemberdayaan sumber daya manusia yang belum optimal. Sementara itu, analisis Collaborative Governance Regime (CGR) menunjukkan bahwa sinergi antara DISKOPUMKM, DISBUDPAR, BAZNAS, Kanwil KEMENKUM Jawa Barat, dan LPPM Perguruan Tinggi dapat memberikan dampak positif terhadap pengembangan ekonomi kreatif di Bandung. Namun, untuk meningkatkan efektivitas kolaborasi ini, diperlukan kebijakan yang lebih adaptif, penguatan jejaring antar-lembaga, serta optimalisasi strategi pemasaran digital bagi pelaku UMK di sektor ekonomi kreatif. Untuk meningkatkan efektivitas kolaborasi dalam mendukung pelaku UMK ekonomi kreatif di Kota Bandung, diperlukan penguatan koordinasi melalui forum komunikasi reguler dan penyusunan rencana kerja bersama, serta peningkatan kapasitas SDM melalui pelatihan dan workshop. Pemanfaatan teknologi informasi, seperti pengembangan platform digital, dapat mempermudah akses pelaku usaha terhadap program dan layanan. Selain itu, keterlibatan pelaku usaha dalam perencanaan dan pelaksanaan program harus ditingkatkan melalui forum diskusi, sementara sosialisasi dan promosi program perlu diperluas melalui media sosial, website, dan kegiatan publik. Optimalisasi kebijakan dan regulasi juga diperlukan agar lebih mendukung keberlanjutan UMK dalam menghadapi tantangan ekonomi digital dan regulasi marketplace. Penguatan kemitraan antara pemerintah, akademisi, dan sektor swasta dapat memperluas akses UMK terhadap modal, pelatihan, dan pasar, sedangkan strategi pemasaran digital perlu diterapkan untuk meningkatkan daya saing UMK di marketplace. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap kajian akademik mengenai tata kelola kolaboratif dalam pengembangan ekonomi kreatif, sekaligus memberikan rekomendasi bagi para pembuat kebijakan dalam merancang strategi pemberdayaan ekonomi yang lebih efektif, inklusif, dan berkelanjutan bagi masyarakat di Kota Bandung.
INOVASI BATIK FRAKTAL SEBAGAI PRAKTIK EKONOMI KREATIF : KAJIAN DENGAN PENDEKATAN MARKET AGENCEMENT
Ekonomi kreatif telah menjadi pilar penting dalam pembangunan berkelanjutan, terutama di negara-negara yang kaya akan budaya seperti Indonesia. Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memainkan peran signifikan dalam perekonomian nasional dengan menciptakan lapangan kerja dan menjaga stabilitas ekonomi lokal. Meskipun memiliki keterbatasan modal, UMKM dapat berkembang dengan memanfaatkan kreativitas dan inovasi. Perkembangan pesat ekonomi kreatif di Indonesia didorong oleh inovasi teknologi, khususnya penggunaan perangkat lunak untuk menghasilkan produk baru. Penelitian ini fokus pada penggunaan perangkat lunak J-Batik oleh UMKM di Indonesia untuk menciptakan desain batik fraktal, sebuah praktik yang mengubah desain batik tradisional menjadi proses digital, memungkinkan penciptaan motif yang kompleks dan unik. Meskipun inovasi ini membawa banyak manfaat, tantangan juga muncul, seperti kebutuhan untuk investasi dalam teknologi dan pelatihan, serta menjaga keaslian batik sambil mengikuti tren yang berkembang. Meskipun banyak penelitian tentang integrasi teknologi fraktal dalam batik, masih terdapat kekurangan dalam memahami interaksi dalam ekosistem ekonomi kreatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan Market Agencement yang dikembangkan oleh Callon untuk menganalisis bagaimana berbagai elemen pasar, baik aktor manusia maupun non-manusia, berkolaborasi dan bersaing untuk memasukkan produk batik fraktal ke pasar. Dengan menganalisis penggunaan perangkat lunak dalam produksi batik, penelitian ini bertujuan untuk menjembatani kesenjangan antara teori ekonomi kreatif dan aplikasinya di lapangan. Selain itu, penelitian ini juga mengeksplorasi potensi digitalisasi dalam mendorong inovasi, meningkatkan daya saing global, dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi kreatif di Indonesia.
STRATEGI MANAJEMEN PENGETAHUAN UNTUK MENINGKATKAN PEMBELAJARAN DAN PERTUMBUHAN INDUSTRI KREATIF DI INDONESIA
Industri Kreatif mulai popular sejak tahun 1990-an ketika pengambil kebijakan di Departemen Kebudayaan, Media dan Olah Raga (DCMS) negara Inggris mendirikan Satuan Kerja Khusus Industri Kreatif (UNCTAD, 2010). Berdasarkan DCMS (2001, industry kreatif adalah aktivitas yang berasal mula dari kreativitas, keterampilan dan talenta seseorang dan memiliki potensi untuk kesejahteraan dan penciptaan lapangan kerja melalui pembentukan dan penggunaan hak milik intelektual. Di Indonesia Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) didirikan tahun 2015. Tugas dari badan ini adalah membantu Presiden dalam merumuskan, menetapkan, mengoordinasikan dan sinkronisasi kebijakan di bidang ekonomi kreatif. Ekonomi kreatif di Indonesia memberikan kontribusi sekitar 7,44 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2016 (Laporan Bekraf, 2018). Pertumbuhan ekonomi kreatif dari tahun 2015 ke tahun 2016 adalah 4,39 persen. Pada tahun 2015 ekonomi kreatif menyumbangkan PDB sebesar IDR 852,24 triliun, di tahun 2016 kontribusi meningkat menjadi IDR 922.59 trilion (Laporan Bekraf, 2018) Penelitian ini akan terfokus pada perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang ekonomi kreatif. Tiga subsektor tertinggi yang menyumbangkan PDP dalam ekonomi kreatif aadalah kuliner, fashion dan kriya. Namun fashion dan kriya termasuk subsektor yang memiliki inovasi yang rendah (Laporan Bekraf, 2017). Sebagai tambahan, dua subsector tersebut masih memiliki Hak Kekayaan Intelektual yang rendah untuk produk-produknya serta penerapan penelitian dan pengembangan yang rendah. Berdasarkan data di atas, industry kreatif adalah penting untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia namun terdapat beberapa subsector yang masih memiliki inovasi serta penelitian dan pengembangan yang rendah. Untuk meningkatkan kinerja dari Industri Kreatif, Manajemen Pengetahuan dapat dijadikan sebagai alat. Manajemen Pengetahuan didefinikan sebagai manajemen yang sistematis dalam asset pengetahuan suatu organisasi yang bertujuan untuk menciptakan nilai dan memenuhi persyaratan taktis dan strategis; yang terdiri dari inisiatif, proses, strategi dan sistem yang menopang dan meningkatkan penyimpanan, penilaian, pembagian, perbaikan dan penciptaan pengetahuan (Dalkir, 2011). Kinerja organisasi dapat diukur dari beberapa perspektif; salah satunya adalah Pembelajaran dan Pertumbuhan. Penelitian ini akan terfokus pada Pembelajaran dan Pertumbuhan di Industri Kreatif. Terdapat beberapa pendekatan Manajemen Pengetahuan yang telah diterapkan oleh Industri Kreatif untuk meningkatkan kinerjanya. Tujuan dari studi ini adalah untuk menidentifikasi bagaimana Manajemen Pengetahuan diterapkan di Industri Kreatif dan untuk mencari jawabah bagaimana strategi Managemen Pengetahuan dapat meningkatkan Pembelajaran dan Pertumbuhan di Industri Kreatif. Sebagai tambahan, kisah sukses dari penerapan Manajemen Pengetahuan di Industri Kreatif dapat digunakan oleh Industri Kreatif lainnya di masa depan. Beberapa rintangan yang mungkin terjadi pada penerapan Manajemen Pengetahuan juga akan diamati. Kemudian akan dipelajari bagaimana KM Enabler dan Proses KM dapat meningkatkan Pembelajaran dan Pertumbuhan di Industri Kreatif. Penelitian ini akan dilakukan pada beberapa Industri Kreatif di provinsi Jawa Barat. Penelitian dengan Metoda Kualitatif akan diterapkan dengan menggunakan observasi dan wawancara semi terstruktur dalam pengumpulan data. Studi lebih lanjut diperlukan untuk melihat apakah studi ini berlaku secara nasional.
PERANCANGAN FASILITAS TRANSPORTASI CREATIVE CENTER BINTARO JAYA
Sektor ekonomi kreatif di Indonesia tumbuh pesat, mencapai Rp1.236 triliun pada tahun 2022. Meskipun pertumbuhannya signifikan, pemerataan masih menjadi masalah karena pusat ekonomi terkonsentrasi di lokasi strategis tertentu. Untuk mendukung pemerataan dan meningkatkan apresiasi terhadap bidang kreatif, sebuah creative center akan dibangun di Bintaro Jaya dengan fungsi gabungan seperti retail, auditorium, amphitheater, ekshibisi, dan co-working space. Pusat ini akan berlokasi di persimpangan Jalan Emerald Boulevard dan Jalan Boulevard Bintaro Jaya, Tangerang Selatan. Sesuai regulasi Kementerian Perhubungan, analisis dampak lalu lintas diperlukan untuk pusat perdagangan dengan luas lebih dari 500 mΒ² guna mengevaluasi dampak lalu lintas. Perancangan fasilitas transportasi, termasuk parkir dan perkerasan jalan, harus dilakukan agar akses ke gedung mudah dan nyaman. Hasil analisis dan perancangan diharapkan mendukung perkembangan ekonomi nasional sambil menjaga kinerja lalu lintas tetap optimal.
PERANCANGAN PUSAT SENI DI KABUPATEN WAY KANAN, LAMPUNG, DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR ABSTRAK REGIONALISME
Lampung merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang kaya akan keragaman budaya dan keindahan alam. Provinsi Lampung memiliki warisan seni, budaya, dan kreativitas yang sangat unik dan beragam. Kabupaten Way Kanan sebagai salah satu kabupaten di Provinsi Lampung menjadi contoh yang menarik. Pemerintah mengarahkan perhatian pada pengembangan pada industri kreatif, mengingat potensinya dalam menciptakan lapangan pekerjaan dan mempromosikan citra serta nilai budaya nasional. Seni di Kabupaten Way Kanan memiliki jenis yang beragam, mencakup seni tari, seni musik tradisional, dan juga kreativitas lokal. Kreativitas di daerah ini tidak hanya terbatas pada seni visual, melainkan juga mencakup kerajinan tangan dan perayaan budaya. Seniman lokal menciptakan karya-karya kontemporer yang menggabungkan tradisi dengan pandangan baru. Namun, di balik inovasi ini, nilai- nilai budaya yang akarnya kuat tetap menjadi landasan utama. Sebagai contoh kerajinan tangan seperti alat musik gamolan Way Kanan mencerminkan keuletan dan keahlian yang dimiliki oleh masyarakat lokal. Sayangnya pertunjukan seni di Kabupaten Way Kanan hanya dilakukan setahun sekali pada perayaan hari ulang tahun kabupaten, selebihnya para pelaku seni berlatih di sekolah dan di sanggar masing-masing. Untuk mendukung kelangsungan seni dan budaya di Kabupaten Way Kanan dan dalam mendorong ekonomi kreatif, maka diperlukan wadah yang dapat menjadi tempat para pelaku seni mengembangkan minat dan bakatnya, sehingga pendirian sarana Pusat Seni menjadi penting dalam mendukung keberlangsungan seni dan budaya. Perancangan Pusat Seni ini akan mendorong cinta terhadap tanah air, seni, dan budaya masyarakat Way Kanan. Tesis ini berfokus pada Perancangan Pusat Seni dengan pendekatan arsitektur abstrak regionalisme, pendekatan ini bertujuan untuk menghidupkan kembali identitas arsitektur tradisional Lampung, yang kemudian di terapkan pada tapak maupun pada bangunan Perancangan Pusat Seni ini, selain itu pada pendekatan abstrak regionalisme dilakukan penggabungan elemen-elemen tradisional seperti langgam, aksara Lampung, dan ornamen kain tapis Lampung pada bangunan dengan prinsip-prinsip abstrak regionalisme. Konsep perancangan yang diusulkan meliputi bagaimana menghadirkan bangunan Pusat Seni dengan menggunakan transformasi dari bangunan tradisional rumah adat Lampung, dan paduan abstraksi dari ornamen-ornamen lampung dapat menimbulkan semangat jiwa seni dari para pelaku seni serta menarik perhatian para pengunjung untuk datang. Abstrak regionalisme yang diterapkan pada rancangan ini meliputi beberapa bagian, seperti pada tapak dan juga pada ornamen fasad bangunan. Selain itu, bangunan ini menanggapi berbagai aktivitas yang dibutuhkan para pelaku seni, untuk mengembangkan minat dan bakat dalam berseni budaya. Perancangan Pusat Seni ini akhirnya mampu memfasilitasi para seniman untuk memiliki wadah dalam berkegiatan seni. Fasilitas yang dihadirkan dapat mendukung berbagai kegiatan, seperti kegiatan latihan, pentas, plaza, galeri, amphiteater, kafe, toilet dan lain-lain. Semula kegiatan pentas seni ini dilakukan setahun sekali dan di lapangan terbuka, dengan adanya perancangan ini akhirnya mampu menghadirkan kegiatan pentas seni secara terus menerus, terorganisir, dapat dinikmati oleh masyarakat Way Kanan maupun luar daerah Way Kanan, dengan hasil perancangan yang tetap mempertimbangkan kenyamanan pengguna serta diharapkan dapat menjadi sarana rekreasi, edukasi, dan produktif.
MEREDEFINISI ULANG SEGMEN MASYARAKAT UMUM DI KUSTOMFEST: SEBUAH RISET PADA MOTIVASI PENGUNJUNG DALAM MENGHADIRI FESTIVAL KUSTOM KULTUR
Ekonomi Kreatif indonesia telah mengalami pertumbuhan yang substansial, dengan Pariwisata Kreatif salah satu kontributor utamanya. Penelitian ini berfokus pada Kustomfest - Indonesian Kustom Kulture Festival sebagai salah satu pusat kustom kulture terbesar di Indonesia. Selama rentang tahun 2019 sampai 2023 telah terjadi sebuah perubahan yang signifikan terhadap komposisi pengunjung, dengan segmen masyarakat umum sekarang bertumbuh pesat menjadi segmen mayoritas. Riset ini bertujuan untuk mengidentifikasi motivasi pengunjung segmen masyarakat umum, melakukan klasterisasi berdasarkan motivasi yang dimiliki, dan menganalisis motivasi dan karakteristik yang unik pada tiap-tiap klaster yang telah terbentuk. Penelitian ini akan menggunakan metode Kuantitatif dengan teknik nonprobability dan purposive sampling.Terdapat tiga klaster yang berhasil teridentifikasi melalui penelitian ini bedasarkan hasil dari data 260 responden dengan masing masing memiliki perbedaan terhadap motivasi dan karakteristik yang dimiliki. Hasil penelitian ini dapat membantu pelaku festival kustom kulture serupa dalam mengembangkan pariwisata kreatif di Indonesia. Dengan mengetahui motivasi dan perilaku pengunjung. pelaku festival dapat membuat strategi marketing yang lebih spesifik, mengembangkan pengalaman pengunjung, melakukan kapitalisasi terhadap peluang peluang yang ada pada segmen masyarakat umum. Riset ini memberikan rekomendasi untuk mengakuisisi dan melakukan retensi setiap segmen melalui inovasi dalam model bisnis, sehingga dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi kreatif Indonesia yang berkelanjutan. Penemuan dalam riset ini menggarisbawahi pentingnya memahami motivasi dan perilaku pengunjung untuk mengoptimalkan signifikansi acara budaya terhadap ii ekonomi kreatif yang lebih luas. Melalui temuan riset ini, pemangku kepentingan dapat mendorong perkembangan sektor kreatif Indonesia agar festival seperti Kustomfest dapat terus berkembang.
PERANCANGAN INTERIOR GARUT CRAFT CENTER SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN SEKTOR EKONOMI KREATIF DAN PARIWISATA DENGAN PENDEKATAN KONSEP BUDAYA SUNDA
Garut merupakan salah satu daerah di Jawa Barat yang mempunyai potensi sumber daya alam bagi perekonomian dan pariwisata. Garut cukup terkenal dengan produk kulit dan akar wangi. Kabupaten Garut dengan berbagai potensi alam yang dimilikinya ternyata tidak menjamin kesejahteraan masyarakatnya, terutama dari sisi ekonomi. Pertumbuhan perekonomian di Garut masih rendah dibandingkan pertumbuhan perekonomian rata-rata Jawa Barat. Dengan keberadaan sumber daya alam dan potensi budaya yang kaya seharusnya dapat meningkatkan pendapatan masyarakat lokal dengan menciptakan lebih banyak kesempatan kerja, mengurangi tingkat pengangguran, dan peningkatan pendapatan masyarakat, serta dapat mentransfer pengetahuan mereka kepada generasi mendatang. Maka dari itu penulis mengusung βPerancangan Interior Garut Craft Center sebagai Upaya Peningkatan Sektor Ekonomi Kreatif dan Pariwisata dengan Pendekatan Konsep Budaya Sundaβ. Sebagai peningkatan pemberdayaan sumber daya manusia warga Garut. Metode yang digunakan pada proyek ini yakni menggunakan pendekatan kualitatif yang dilakukan adalah dengan melakukan survey literatur benchmark terhadap buku dan jurnal mengenai perancangan atau fasilitas yang memiliki karakteristik serupa, melakukan observasi lapangan dan wawancara langsung kepada pengelola kerajinan yang ada di Garut.