📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 24 dokumenEKSPLORASI PEMANFAATAN LIMBAH ELEKTRONIK (BUNGKUS KABEL) UNTUK PERANCANGAN PRODUK DESK SETUP
Pertumbuhan perangkat elektronik yang pesat di Indonesia berbanding lurus dengan meningkatnya timbunan limbah elektronik (e-waste). Sebagian besar e- waste berakhir tanpa pengelolaan yang tepat sehingga berpotensi mencemari lingkungan akibat kandungan logam berat dan material beracun. Di sisi lain, material residu non-logam dari e-waste, seperti limbah selubung kabel PVC, memiliki potensi untuk dimanfaatkan kembali sebagai material alternatif. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi dan merancang produk fungsional dengan memanfaatkan karakteristik fleksibilitas serta durabilitas dari limbah selubung kabel PVC melalui pendekatan desain berkelanjutan. Metode penelitian yang digunakan meliputi studi literatur, observasi lapangan, eksperimen pemrosesan termal (hot pressing), hingga pembuatan prototipe. Hasil eksplorasi menunjukkan bahwa limbah selubung kabel PVC dapat diolah menjadi lembaran modular fungsional setebal 1,00–1,50 mm yang memiliki nilai estetika visual abstrak yang unik. Karakteristik lembaran yang tipis dan fleksibel ini diaplikasikan pada perancangan produk desk setup fungsional sebagai upaya mengembalikan material limbah elektronik ke dalam konteks penggunaan yang relevan dengan perangkat digital. Proyek perancangan ini menegaskan peran desain produk sebagai solusi kreatif dalam mendukung penerapan ekonomi sirkular.
PRAKTIK EKONOMI SIRKULAR DAN KONDISI PENDUKUNGNYA PADA UMKM SHIBIRU: PERSPEKTIF TATA KELOLA KEWILAYAHAN DAN KAPASITAS SUMBER DAYA LOKAL
Transisi menuju ekonomi sirkular merupakan salah satu pendekatan untuk mengurangi permasalahan limbah di industri tekstil (Jia dkk., 2020). Meskipun demikian, literatur mengenai transisi ekonomi sirkular masih berfokus pada pengelolaan limbah pascakonsumsi di kawasan perkotaan (hilir), sementara dinamika adopsi praktik sirkular di sepanjang rantai pasok yang berada di perdesaan masih terbatas. Penelitian ini mengidentifikasi bagaimana tata kelola kewilayahan dan kapasitas sumber daya berperan dalam memengaruhi transisi ekonomi sirkular di hulu rantai pasok. Untuk menjawab kesenjangan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis tematik yang mengintegrasikan kerangka Supply Chain Taxonomy, hierarki strategi sirkular 9R, dan Territorial Circular Economy (TCE) dengan kasus studi pada Shibiru sebagai pelaku usaha di hulu rantai pasok batik. Analisis menunjukkan bahwa Shibiru berperan dalam beberapa tingkatan rantai pasok sekaligus (Tier 4 hingga Tier 1) serta sudah menerapkan berbagai strategi 9R meskipun tidak disadari oleh pelaku usahanya. Tata kelola kewilayahan di rantai pasok Shibiru berkembang secara bottomup yang mendorong transisi ekonomi sirkular melalui koordinasi informal, kedekatan geografis, dan kepercayaan antaraktor dalam dukungan institusional formal yang masih terbatas. Kapasitas sumber daya lokal mendukung keberlanjutan transisi ekonomi sirkular melalui inovasi berbasis trial and error, pertukaran pengetahuan, dan kemampuan beradaptasi terhadap keterbatasan tenaga kerja. Temuan ini menunjukkan bahwa implementasi ekonomi sirkular di hulu rantai pasok perdesaan lebih ditentukan oleh kapasitas adaptif pelaku usaha dan tata kelola kewilayahan daripada kepatuhan regulasi, sehingga diperlukan kebijakan berbasis tempat (place-based policies) yang selaras dengan karakteristik tersebut.
PERAN MODAL MANUSIA PADA PELAKU USAHA BATIK DALAM MENDUKUNG TRANSISI PRAKTIK EKONOMI SIRKULAR DI KAMPUNG BATIK KAUMAN, KOTA PEKALONGAN
Industri batik sebagai bagian dari industri tekstil menghadapi tantangan lingkungan berupa tingginya penggunaan bahan baku, air, energi, dan limbah produksi. Ekonomi sirkular menjadi pendekatan untuk mengatasi permasalahan tersebut melalui penerapan prinsip 9R. Keberhasilan transisi praktik ekonomi sirkular tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan kebijakan, tetapi juga oleh modal manusia pelaku usaha. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi peran modal manusia pada pelaku usaha batik dalam mendukung transisi praktik ekonomi sirkular di Kampung Batik Kauman, Kota Pekalongan. Penelitian menggunakan pendekatan mixedmethods dengan sifat deskriptif-eksploratif dan pendekatan deduktif. Analisis kuantitatif dilakukan menggunakan statistik deskriptif terhadap 20 pelaku usaha batik untuk mengidentifikasi penerapan prinsip 9R, sedangkan analisis kualitatif dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi, studi dokumen, dan pengkodean tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik ekonomi sirkular telah diterapkan pada seluruh tahapan produksi, namun masih didominasi oleh prinsip reduce, reuse, repair, dan recycle, sedangkan prinsip ekonomi sirkular dengan tingkat hierarki yang lebih tinggi masih terbatas. Modal manusia pelaku usaha didukung oleh pengetahuan praktis, keterampilan teknis, dan pengalaman pelatihan, tetapi belum sepenuhnya berkembang menjadi kapasitas yang sistematis dalam mengelola aliran material, mengukur efisiensi penggunaan sumber daya, serta mengevaluasi proses produksi. Peran modal manusia dipengaruhi oleh faktor pendorong berupa komitmen kepemimpinan, pola pikir organisasi, model bisnis inovatif, jejaring dan kolaborasi, dukungan pemerintah, ketersediaan sumber daya, serta kapasitas modal manusia, sedangkan faktor penghambat meliputi keterbatasan finansial, keterbatasan teknologi, rendahnya pengetahuan dan kesadaran, kompleksitas rantai pasok, keterbatasan regulasi dan insentif, serta keterbatasan infrastruktur. Penelitian ini menyimpulkan bahwa modal manusia telah berperan sebagai modal awal dalam mendukung transisi praktik ekonomi sirkular, namun masih berada pada tahap praktis-transisional sehingga masih memerlukan penguatan kapasitas melalui peningkatan pengetahuan konseptual, keterampilan pengelolaan produksi yang terukur, serta pelatihan yang lebih spesifik.
KESIAPAN KLASTER INDUSTRI BATIK KAMPUNG BATIK KAUMAN, KOTA PEKALONGAN DALAM BERTRANSISI MENUJU EKONOMI SIRKULAR
Kampung Batik Kauman di Kota Pekalongan merupakan klaster industri batik berbasis warisan budaya yang kini dihadapkan pada tuntutan transisi menuju ekonomi sirkular. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bentuk penerapan praktik ekonomi sirkular berdasarkan prinsip 9R, mengevaluasi kesiapan klaster dalam bertransisi, serta menganalisis faktor pendorong dan penghambat yang mempengaruhinya. Analisis dilakukan menggunakan tiga kerangka terintegrasi, yaitu prinsip 9R, kerangka kinerja klaster Razminien? (2021), serta Institutional Isomorphism dan Contextual Interaction Theory. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaku IKM telah menerapkan sejumlah prinsip sirkular secara intuitif dan organik, meskipun tanpa pemahaman konseptual yang memadai. Dari 20 IKM, hanya 9 yang memiliki skor penerapan 9R di atas nol, sementara prinsip Refuse dan Recover belum diterapkan akibat keterbatasan yang ada. Evaluasi kesiapan klaster mengungkap kondisi yang lemah di seluruh dimensi, dengan klaster dikategorikan pada level Reactive dengan indikasi awal menuju Proactive. Faktor penghambat utama terletak pada rendahnya kapasitas kognitif dan belum optimalnya tekanan regulatif maupun normatif, sedangkan motivasi intrinsik pelaku usaha menjadi potensi utama yang dapat dikembangkan. Temuan ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan strategi intervensi yang lebih kontekstual dan berlapis, dengan rekomendasi prioritas yaitu penguatan kapasitas pengetahuan ekonomi sirkular, optimalisasi peran paguyuban, serta pengembangan regulasi dan pembiayaan kolektif yang lebih inklusif untuk mendukung transisi klaster menuju ekonomi sirkular.
PENGEMBANGAN INSTRUMEN EVALUASI IMPLEMENTASI EKONOMI SIRKULAR PADA PROYEK INFRASTRUKTUR JALAN TOL: STUDI KASUS JALAN TOL TRANS SUMATRA
Penerapan prinsip ekonomi sirkular pada infrastruktur jalan tol merupakan strategi transformatif untuk mengurangi dampak lingkungan, meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya, dan menciptakan nilai ekonomi berkelanjutan. Studi ini bertujuan untuk merumuskan dan mengembangkan instrumen evaluasi yang komprehensif guna menilai tingkat implementasi prinsip ekonomi sirkular pada proyek Jalan Tol Trans Sumatra (JTTS). Instrumen ini dirancang untuk mengevaluasi lima aspek utama: tingkat kesadaran stakeholder, praktik penerapan berdasarkan tahapan siklus hidup infrastruktur, kesiapan rantai pasok, potensi manfaat ekonomi, dan tantangan implementatif yang dihadapi. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods, dengan pengumpulan data kuantitatif melalui penyebaran kuesioner kepada penyedia jasa, pengguna jasa, pemasok material, dan peralatan konstruksi, serta pendekatan kualitatif melalui wawancara, studi literatur, dan validasi pakar. Hasil pengolahan data menggunakan metode Relative Importance Index (RII) dan pemetaan kuadran digunakan sebagai dasar dalam pembentukan indikator evaluatif. Temuan menunjukkan bahwa pemahaman stakeholder masih dominan pada konsep closed-loop material dan energy & natural resource usage, sementara circular business model belum dipahami. Praktik penerapan ekonomi sirkular paling tinggi ditemukan pada tahap design, operation, dan construction, sedangkan manufacturing dan end of life masih menghadapi berbagai hambatan teknis dan kelembagaan. Potensi manfaat ekonomi terbesar teridentifikasi pada efisiensi desain, penghematan energi, dan pemanfaatan sumber daya lokal dengan estimasi penghematan 10-30% dari biaya proyek. Sementara, tantangan utama mencakup ketiadaan regulasi teknis untuk penggunaan kembali material, belum adanya pasar sekunder, dan rendahnya investasi pada teknologi manufaktur hijau. Instrumen evaluasi yang dikembangkan dalam studi ini dapat digunakan sebagai kerangka penilaian berkelanjutan proyek jalan tol lainnya, dengan catatan perlu adanya adaptasi kontekstual terhadap kondisi lokal. Studi ini merekomendasikan penyederhanaan indikator melalui validasi lanjutan, integrasi ke dalam kebijakan pengadaan hijau, dan pengembangan sistem pemantauan serta pelatihan berkelanjutan bagi seluruh stakeholder guna mendukung transisi menuju infrastruktur yang lebih sirkular dan berkelanjutan.
POTENSI PEMANFAATAN SAMPAH LAMA DAN SAMPAH BARU DI TPA GALUGA MENUJU LAHAN URUK BERKELANJUTAN
TPA Galuga di Kabupaten Bogor menghadapi krisis lahan dan dampak lingkungan akibat timbulan sampah yang terus meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi pemanfaatan sampah lama dan sampah baru di TPA Galuga sebagai strategi menuju TPA berkelanjutan. Melalui karakterisasi sampah, ditemukan bahwa sampah baru didominasi oleh material terurai dengan kadar air tinggi, sedangkan sampah lama didominasi oleh material halus (Soil-Like Material) dengan kadar air lebih rendah. Analisis SAW merekomendasikan teknologi RDF sebagai pilihan optimal untuk sampah baru dan pemanfaatan material landfill mining sebagai bahan penutup harian (cover soil) untuk sampah lama.Implementasi strategi ini berpotensi secara signifikan memperpanjang umur operasional TPA dengan kebutuhan lahan tahunan. Skenario dengan efisiensi sempurna dapat mengurangi kebutuhan lahan hingga 87% dalam 10 tahun ke depan, sedangkan landfill mining berpotensi mereklamasi lahan dalam waktu 1,38 hingga 3,44 tahun. Penilaian risiko lingkungan (Integrated Risk Based Approach - IRBA) mengindikasikan TPA Galuga berada pada kondisi risiko sedang. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa pemanfaatan sampah lama dan baru dapat mentransformasi TPA Galuga dari tempat pembuangan menjadi sumber daya, sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular dan mendukung keberlanjutan operasional.
PERANCANGAN INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH DOMESTIK TERPADU BESERTA PEMANFAATAN LUMPUR DAN EFLUEN SKALA PERKOTAAN DI KOTA SUKABUMI
Instalasi Pengolahan Air Limbah Domestik (IPAL) memiliki tantangan besar dalam pengelolaan lumpur sebagai produk samping yang dapat berkontribusi signifikan terhadap beban operasional maupun pencemaran lingkungan apabila tidak dikelola secara tepat. Kota Sukabumi, sebagai wilayah dengan capaian sanitasi layak yang masih rendah (44,76%), menghadapi urgensi peningkatan sistem sanitasi yang menyeluruh. Volume IV dari laporan tugas akhir ini secara khusus membahas perancangan unit pengolahan dan pemanfaatan lumpur dari sistem IPAL domestik skala perkotaan. Desain teknis dirancang untuk dua tahap pembangunan dengan teknologi utama meliputi gravity thickener (pengentalan lumpur), screw press (pengeringan lumpur), serta aerated static pile composting (ASPC) sebagai metode stabilisasi dan pemanfaatan lumpur menjadi kompos. Desain unit mempertimbangkan karakteristik lumpur, kebutuhan operasional, serta potensi pemanfaatan hasil olahan sebagai pupuk organik yang sesuai dengan standar mutu Pupuk Organik Padat dan Biosolid US EPA 503. Analisis kelayakan menunjukkan bahwa proyek ini layak dari segi ekonomi dan finansial, dengan nilai Net Present Value (NPV) sebesar Rp185,9 miliar dan Benefit-Cost Ratio (BCR) sebesar 1,15. Dengan potensi agronomis dan ekonomis dari produk kompos, serta dukungan dari aspek kelembagaan dan kebijakan lokal, sistem ini diharapkan dapat mendorong implementasi ekonomi sirkular dan ketahanan lingkungan di Kota Sukabumi.
PERANCANGAN PRODUK UNTUK COFFEESHOP DARI LIMBAH KULIT KOPI DENGAN KONSEP EKONOMI SIRKULAR (STUDI KASUS: DESA WARJABAKTI)
Dalam era modern yang semakin mengedepankan keberlanjutan, pemanfaatan limbah sebagai bahan baku alternatif untuk produk ramah lingkungan menjadi semakin penting. Penelitian ini berfokus pada pengembangan material terbarukan dari limbah kulit kopi Indonesia sebagai alternatif material yang berkelanjutan dalam industri desain produk. Limbah kulit kopi, yang dihasilkan sebagai by product dari industri kopi dipilih karena ketersediaannya yang melimpah serta potensi pengolahan yang ramah lingkungan. Tujuan utama dari penelitian ini adalah perancangan produk untuk coffeeshop dari limbah kulit kopi, untuk menciptakan material yang memiliki karakteristik fisik dan mekanik yang sesuai untuk diaplikasikan dalam berbagai produk. Pengembangan material ini diupayakan menghasilkan limbah seminimal mungkin dan mengoptimalkan penggunaan produk ramah lingkungan. Selain aspek teknis. Indonesia sebagai salah satu produsen kopi terbesar di dunia memiliki peluang besar untuk meningkatkan nilai tambah dari limbah yang selama ini kurang dimanfaatkan. Pengembangan material dari kulit kopi dapat membuka peluang bagi industri lokal untuk memproduksi bahan ramah lingkungan dengan biaya produksi yang relatif rendah, sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor, seperti bahan berbasis plastik yang banyak digunakan di industri global. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya memberikan solusi teknis terhadap masalah limbah dan kebutuhan material ramah lingkungan, tetapi juga berpotensi meningkatkan ekonomi lokal melalui pemberdayaan sektor pertanian dan industri kreatif.
EKONOMI SIRKULAR KEPULAUAN: ANALISIS STUDI KASUS SISTEM GUNA-ULANG ‘TOKO CURA’ DI KEPULAUAN SERIBU
Kepulauan Seribu menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan sampah yang berasal dari rumah tangga, laut, dan aktivitas pariwisata, diperparah dengan keterbatasan pembangunan tempat pembuangan akhir karena statusnya sebagai kawasan konservasi. Sebagai tanggapan, Divers Clean Action (DCA) memperkenalkan sistem guna ulang Toko Cura untuk mengurangi sampah dari sumbernya. Namun, belum ada evaluasi formal terkait kinerja dan kelayakan sistem ini setelah masa pilot DCA berakhir. Penelitian ini mengkaji penerapan prinsip ekonomi sirkular melalui sistem guna ulang di Kepulauan Seribu, dengan fokus pada analisis rantai nilai, keterlibatan pemangku kepentingan, dan penilaian keberlanjutan. Pendekatan metode campuran—menggabungkan wawancara, observasi lapangan, analisis biaya-manfaat, dan metrik lingkungan—digunakan untuk mengumpulkan data dari produsen, toko lokal, dan kelompok masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan respon awal yang positif dari masyarakat, terutama melalui upaya edukasi yang dilakukan oleh PKK di Pulau Pramuka. Secara lingkungan, Toko Cura berhasil mencegah 8.930 plastik sachet menjadi sampah selama satu tahun. Namun secara ekonomi, sistem ini mengalami kerugian sebesar Rp25 juta pada tahun pertama, dengan biaya transportasi dan barang sebagai penyumbang utama. Meskipun menunjukkan potensi, sistem ini menghadapi berbagai tantangan seperti rendahnya minat konsumen, logistik yang belum terstruktur, dan belum adanya mekanisme pendanaan berkelanjutan. Penelitian ini merekomendasikan peningkatan edukasi publik, optimalisasi inventori dengan metode EOQ dan ROP, penguatan logistik balik, serta transformasi model bisnis dari konsinyasi ke pembelian langsung. Penelitian lanjutan disarankan untuk mengeksplorasi transportasi laut rendah emisi, perubahan perilaku konsumen, serta mekanisme kebijakan seperti insentif dan regulasi untuk memperluas sistem guna ulang secara berkelanjutan.
PENCIPTAAN NILAI BERSAMA UNTUK MEWUJUDKAN BISNIS LAYANAN MAKANAN SIRKULAR: PERSPEKTIF SISTEMI DENGAN SOFT SYSTEM DYNAMICS METHODOLOGY (SSDM)
Studi ini mengeksplorasi adopsi prinsip Ekonomi Sirkular dalam ekosistem sektor layanan makanan di Indonesia, dengan fokus pada penciptaan nilai bersama (value co-creation) dan kolaborasi antar pemangku kepentingan. Meskipun terdapat ketertarikan yang semakin besar terhadap keberlanjutan, transisi menuju ekonomi sirkular terhambat oleh tantangan sistemik seperti kebijakan yang terfragmentasi, keterbatasan finansial, dan kurangnya kesadaran. Dengan pendekatan Soft System Dynamic Methodology (SSDM) kualitatif, penelitian ini mengkaji bagaimana penciptaan nilai bersama dan kerangka kolaboratif dapat memfasilitasi adopsi ekonomi sirkular di seluruh ekosistem sektor layanan makanan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan SSDM untuk memetakan dinamika ekosistem, mengidentifikasi kesenjangan, dan mengusulkan intervensi. Temuan penelitian ini mengungkapkan hambatan utama seperti kapabilitas teknis yang rendah, visi keberlanjutan yang tidak jelas, dan keterlibatan pemangku kepentingan yang terbatas, sementara juga mengidentifikasi faktor pendukung seperti inisiatif berbasis komunitas, inovasi digital, dan tujuan keberlanjutan yang bersama. Diagram loop kausal (CLD) dikembangkan untuk menangkap saling ketergantungan sistemik dalam pengadaan berkelanjutan, manajemen limbah, dan praktik berbagi pengetahuan dalam ekosistem tersebut. Penelitian ini memberikan peta jalan untuk perubahan yang praktis, layak secara budaya, dan diinginkan secara sistemik untuk meningkatkan adopsi ekonomi sirkular dalam ekosistem sektor layanan makanan, serta menyediakan kerangka komprehensif untuk memandu transisi sirkular di ekonomi berkembang.
PENINGKATAN KINERJA DALAM RANTAI PASOKAN SEKTOR KESEHATAN UNTUK MENGADAPTASI TUJUAN EKONOMI SIRKULAR
Sektor kesehatan merupakan salah satu penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca secara global, menyumbang sekitar 4,6% dari total emisi pada sektor jasa. Sebagian besar emisi ini berasal dari rantai pasok sektor kesehatan, termasuk proses produksi, transportasi, dan pembuangan alat kesehatan serta produk farmasi. Mengingat hingga 80% dampak lingkungan suatu produk ditentukan pada tahap perancangan, model ekonomi linear yang saat ini berlaku yaitu “ambil-buat- gunakan-buang” tidak memberikan insentif yang memadai bagi produsen untuk menerapkan praktik ekonomi sirkular (circular economy/CE), sehingga pertimbangan sirkularitas belum terintegrasi dalam fase pengembangan produk. Transisi dari rantai pasokan konvensional ke rantai pasokan sirkular, terutama di sektor kesehatan, menghadapi rintangan yang signifikan. Pengawasan ini semakin diperumit dengan meningkatnya risiko operasional yang melekat dalam transisi CE, seperti potensi kekurangan produk atau masalah kualitas dari bahan daur ulang, di mana strategi manajemen risiko saat ini sering kali tidak memadai. Selain itu, pergeseran ini terhambat oleh kendala peraturan, biaya investasi yang tinggi, dan resistensi organisasi terhadap perubahan. Kesenjangan utama juga terletak pada pengembangan produk yang tidak memadai yang saat ini gagal mengintegrasikan prinsip-prinsip CE sejak awal, karena kurangnya perencanaan tahap awal. Terakhir, kurangnya pengukuran kinerja yang kuat menghambat kemampuan untuk melacak kemajuan, menyelaraskan tujuan, dan terus meningkatkan inisiatif sirkular dalam rantai pasokan layanan kesehatan. Penelitian ini mengeksplorasi potensi adopsi prinsip-prinsip ekonomi sirkular dalam rantai pasok sektor kesehatan untuk meningkatkan keberlanjutan dan kinerja rantai pasok, sekaligus berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Penelitian dilakukan selama tiga tahun dengan pendekatan metode campuran (mixed- methods) yang menggabungkan riset eksploratif dan deskriptif melalui studi kasus kolaboratif. Studi ini melibatkan pemangku kepentingan utama, termasuk penyedia layanan kesehatan, produsen alat kesehatan, institusi akademik, serta mitra riset dari Indonesia dan Norwegia. Fokus utama penelitian ini adalah pengurangan emisi karbon, eliminasi limbah, sirkulasi material pada nilai tertinggi, serta v regenerasi alam. Mengingat implementasi CE masih pada tahap awal dan mengandung ketidakpastian, pendekatan manajemen risiko menjadi sangat penting. Oleh karena itu, penelitian ini selaras dengan standar manajemen mutu ISO 9001 dan standar manajemen risiko ISO 31000 untuk menjamin mutu pelayanan kesehatan. Hasil utama dari penelitian ini meliputi: (1) kajian literatur dan identifikasi hambatan terhadap adopsi CE yang diprioritaskan menggunakan metode Analytic Hierarchy Process (AHP); (2) integrasi manajemen risiko berbasis logika fuzzy untuk mensimulasikan pengetahuan pakar; (3) pengembangan jaringan Bayesian untuk manajemen hambatan secara dinamis; (4) identifikasi dan prioritisasi indikator kinerja utama (Key Performance Indicators/KPI) dengan metode AHP; dan (5) integrasi prinsip CE dalam pengembangan produk melalui perluasan tanggung jawab produsen (Extended Producer Responsibility/EPR). Proses analisis didukung oleh pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang mampu melakukan simulasi fungsi kognitif manusia melalui pendekatan logika fuzzy, jaringan Bayesian, dan AHP. Penelitian ini memberikan kontribusi praktis dalam penyusunan strategi transisi menuju ekonomi sirkular di sektor kesehatan, guna meningkatkan kinerja lingkungan dan ketahanan rantai pasok secara menyeluruh.
PENERAPAN EKONOMI SIRKULAR DI KAWASAN PESISIR : STUDI KASUS DI KAMPUNG CANGKOL, KOTA CIREBON
Peningkatan konsumsi material global dalam dua dekade terakhir telah mendorong timbulan sampah, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Salah satu respons terhadap masalah ini adalah penerapan ekonomi sirkular, yang bertujuan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya dan meminimalkan limbah. Studi ini menyoroti Kampung Cangkol, sebuah permukiman informal di pesisir Kota Cirebon, yang menghadapi tantangan serius terkait pencemaran lingkungan akibat praktik reklamasi lahan dengan memanfaatkan timbunan sampah domestik, serta keterbatasan sistem pengelolaan limbah yang terintegrasi dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi penerapan ekonomi sirkular di Kampung Cangkol dengan pendekatan 3R (Reduce, Reuse, Recycle) serta menilai keberlanjutan dan ketercapaian indikator ekonomi dan lingkungan. Penelitian ini menggunakan metode campuran (mixed methods), menggabungkan analisis kuantitatif dan kualitatif. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner kepada 150 responden dan observasi lapangan. Analisis data dilakukan menggunakan skoring berbasis indikator ekonomi sirkular dan Importance Performance Analysis (IPA) untuk menilai persepsi masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Kampung Cangkol mulai mengintegrasikan prinsip 3R, seperti pengolahan sampah organik menjadi kompos, pembuatan ecobrick, dan pemilahan sampah. Meskipun demikian, penerapan ini masih belum optimal dan terbatas pada inisiatif komunitas lokal tanpa dukungan kebijakan memadai. Studi ini menemukan bahwa penerapan ekonomi sirkular di Kampung Cangkol berpotensi memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan, namun keberlanjutannya tergantung pada dukungan institusional, pendidikan lingkungan, serta peningkatan kapasitas masyarakat. Keunikan penelitian ini terletak pada fokus kawasan pesisir dengan konteks reklamasi informal, yang jarang dibahas dalam studi ekonomi sirkular di Indonesia. Temuan ini memberikan kontribusi penting terhadap perencanaan wilayah berbasis keberlanjutan dan pengembangan model intervensi terstruktur bagi kawasan pesisir urban lainnya.
IDENTIFIKASI PENERAPAN EKONOMI SIRKULAR PADA INDUSTRI BATIK DI KAWASAN BATIK TRUSMI
Permasalahan limbah industri batik, khususnya di Kawasan Batik Trusmi, menjadi tantangan dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Kawasan ini menghasilkan limbah tekstil yang signifikan, termasuk pewarna sintetis yang mencemari lingkungan. Ekonomi sirkular menjadi pendekatan strategis dalam mengurangi limbah dan mengoptimalkan sumber daya, melalui prinsip 9R. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kesesuaian penerapan ekonomi sirkular dalam menunjang keberlanjutan Kawasan Batik Trusmi. Pendekatan yang digunakan adalah mixed methods, dengan pengumpulan data primer melalui observasi, wawancara, dan kuesioner kepada pelaku industri, serta data sekunder dari dokumen dan literatur. Analisis dilakukan melalui tipologi dan Importance Performance Analysis (IPA) untuk mengukur penerapan 9R dan kondisi keberlanjutan berdasarkan indikator ekonomi, sosial, dan lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar pelaku telah menerapkan prinsip ekonomi sirkular secara parsial, terutama pada aspek Refuse, Rethink, dan Reduce. Kendala utama meliputi keterbatasan bahan ramah lingkungan dan kurangnya koordinasi antar pemangku kepentingan. Keberlanjutan aspek ekonomi dan sosial terjaga cukup baik, namun aspek lingkungan masih memerlukan perhatian lebih. Penelitian ini berkontribusi dalam pemahaman praktik ekonomi sirkular di sektor batik lokal serta memberikan rekomendasi strategis bagi penguatan kebijakan dan inovasi ramah lingkungan.
PRAKTIK KOLABORASI DALAM PENERAPAN EKONOMI SIRKULAR PADA INDUSTRI TEKSTIL : STUDI KASUS ‘STUDIO SEJAUH’ DI KOTA PEKALONGAN
Industri tekstil berperan dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi kota, namun pada praktiknya industri ini berkontribusi pada pencemaran lingkungan. Konsep ekonomi sirkular dapat menjadi pendekatan alternatif untuk mengatasi persoalan tersebut. Indonesia juga mengadopsi ekonomi sirkular yang tertuang dalam RPJPN 2025 – 2045. Arahan kebijakan diturunkan pada RPJPD Kota Pekalongan yang memiliki arahan pengembangan untuk mewujudkan transformasi ekonomi menuju ekonomi sirkular yang kreatif, merata, dan inklusif. Studi kasus dalam penelitian ini adalah Studio Sejauh yang berperan sebagai salah satu inisiator terdepan dalam mengadopsi konsep ekonomi sirkular di Kota Pekalongan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi praktik kolaborasi ekonomi sirkular yang dapat meningkatkan nilai tambah industri tekstil di Kota Pekalongan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode pengumpulan data berupa wawancara, observasi, kuesioner, dan studi dokumen. Analisis yang digunakan berupa analisis deskriptif kualitatif, analisis pengkodean, dan Social Network Analysis (SNA). Dalam rantai produksinya, Studio Sejauh menerapkan prinsip Kerangka 9R (Refuse, Rethink, Reduce, Reuse, Repair, Refurbish, Remanufacture, Repurpose, Recycle, dan Recover). dan berperan dalam pembangunan kota berkelanjutan. Praktik ekonomi sirkular berpengaruh terhadap tiga kategori yaitu ekonomi, sosial, dan lingkungan yang berpotensi dirasakan Kota Pekalongan. Dalam praktiknya, Studio Sejauh berkolaborasi dengan para pelaku industri tekstil, khususnya di Jawa Tengah. Kolaborasi ini menjadi faktor penting dalam merealisasikan ekonomi sirkular karena dapat memberikan hasil yang lebih besar. Tipe kolaborasi yang paling banyak dilakukan adalah resource sharing yaitu adanya aliran sumber daya dan penggunaan asset bersama. Studi ini menemukan tujuan yang sejalan menjadi faktor utama pendorong berkolaborasi. Hasil penelitian ini dapat bermanfaat untuk memperkaya literatur mengenai kolaborasi ekonomi sirkular, menjadi bahan terjemahan praktik ekonomi sirkular pada industri tekstil, dan juga dapat menjadi referensi bagi pelaku industri lain untuk mengadopsi praktik serupa.
IDENTIFIKASI PERAN PEMERINTAH DAERAH DALAM MEMPERSIAPKAN PENERAPAN KEBIJAKAN EKONOMI SIRKULAR KOTA PEKALOGAN PADA INDUSTRI TEKSTIL
Kota Pekalongan sebagai Kota Batik memiliki jumlah industri yang besar, di mana sektor batik merupakan salah satu produk dari tekstil. Sektor unggulan pada batik memberikan dampak sosial, ekonomi dan lingkungan. Hal tersebut ditunjukkan peningkatan PDRB Kota Pekalongan didukung dari industri tekstil, peningkatan ketersediaan lapangan pekerjaan, dan lingkungan pekerjaan. Adanya potensi sektor unggulan tersebut, juga memberikan isu tersendiri pada Kota Pekalongan. Industri Kota Pekalongan berjumlah banyak sebagian besar berbasis rumahan sehingga tidak luput pada dampak limbah, sektor UMKM, dan kebiasaan masyarakat pada industri tekstil. Dalam hal ini, pemerintah Kota Pekalongan sebagai pembuat kebijakan memasukkan ekonomi sirkular pada RPJPD 2025- 2045. Pengkajian dilakukan dalam ruang lingkup peran pemerintah, tantangan yang dihadapi, dan strategi penguatan peran pemerintah Kota Pekalongan. Pengambilan data dilakukan dengan data primer yaitu wawancara dan FGD serta data sekunder seperti dokumen kebijakan, laporan kegiatan, dan data sekunder numerik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis konten, analisis pengkodean, dan analisis deskriptif. Tantangan yang dirasakan pemerintah dalam mengimplementasikan masih signifikan. Hal ini dibuktikan dari adanya tantangan yang berkaitan dengan pengetahuan, regulasi, dan hubungan antar pemangku kepentingan. Kapabilitas pemerintah dirasa memiliki ruang gerak yang terbatas. Dalam merespon tantangan ini, penguatan strategi sangat penting. Edukasi, regulasi, inovasi, kerja sama, evaluasi kinerja perlu menjadi penegas kebijakan ekonomi sirkular di Kota Pekalongan. Penjelasan terkait penelitian ini tidak luput dari karya tulis yang telah terpublikasikan, namun penelitian ini memiliki kebaruan dalam peninjauan sektor unggulan daerah yaitu industri tekstil. Selain itu, literatur terkait kajian peran pemerintah daerah pada kesiapan implementasi lingkup kota kabupaten di Indonesia masih sedikit dibahas. Sehingga penelitian ini berkontribusi dalam akademik maupun dalam kebijakan. Penelitian ini bermanfaat dalam membantu pemerintah daerah untuk menjembatani dan menerjemahkan RPJPD Kota Pekalongan ke pada regulasi turunannya