π Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 10 dokumenPERANCANGAN KAWASAN WATERFRONT DESA CIJAMBU, KECAMATAN CIPONGKOR, KABUPATEN BANDUNG BARAT SEBAGAI DESTINASI WISATA MELALUI PENDEKATAN EKOWISATA
Kawasan tepi air Desa Cijambu, Kabupaten Bandung Barat, memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata perdesaan karena didukung oleh keberadaan Sungai Cijambu dan lanskap persawahan terasering yang masih terjaga. Namun, kawasan ini masih menghadapi berbagai permasalahan, seperti belum adanya penataan ruang yang terpadu, keterbatasan fasilitas wisata, serta pengelolaan sempadan sungai yang belum optimal. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan dampak terhadap kelestarian lingkungan dan aktivitas masyarakat apabila pengembangan wisata dilakukan tanpa perencanaan yang matang. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan merumuskan strategi perancangan kawasan tepi air Desa Cijambu melalui pendekatan ekowisata yang memperhatikan keseimbangan antara aspek lingkungan, ekonomi, dan kebutuhan wisata. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan perancangan fragmental melalui observasi lapangan, diskusi kelompok terarah (FGD), dan studi preseden. Hasil analisis menunjukkan bahwa kawasan memiliki potensi berupa kualitas air yang baik, iklim mikro yang nyaman, serta partisipasi masyarakat yang mendukung pengembangan wisata. Di sisi lain, ditemukan beberapa permasalahan, seperti penyempitan jalur sirkulasi akibat bangunan yang tidak tertata, persebaran hunian di lahan produktif, keterbatasan lahan parkir, dan pengelolaan sampah yang belum optimal. Berdasarkan temuan tersebut, strategi perancangan yang diusulkan meliputi penataan ruang melalui konsolidasi lahan, penerapan zonasi kawasan, serta penyediaan infrastruktur wisata yang ramah lingkungan sesuai dengan daya dukung kawasan. Penelitian ini menawarkan konsep integrasi antara aktivitas wisata, lanskap pertanian, dan koridor sungai tanpa menghilangkan fungsi agraris masyarakat, sehingga dapat menjadi referensi dalam pengembangan wisata perdesaan yang berkelanjutan berbasis ekowisata.
PENINGKATAN PENGELOLAAN PENGUNJUNG DI GREEN GRASS CIKOLE BERDASARKAN ANALISIS PERILAKU, RISIKO, DAN DAYA DUKUNG
Jasa ekosistem adalah karakteristik, proses, atau fungsi ekologi yang dapat memberikan manfaat baik secara langsung maupun tidak langsung bagi kesejahteraan manusia, salah satunya adalah keindahan seperti pada objek wisata alam Green Grass Cikole yang terletak di Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Jumlah kunjungan ke wisata alam Green Grass Cikole terus meningkat, jika tidak diantisipasi dengan baik maka kunjungan ini dapat memberikan dampak negatif bagi kelestarian lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis perilaku meliputi: faktor yang mempengaruhi kepuasan pengunjung, hubungan antara kepuasan dengan perilaku pengunjung, dan aspek karakteristik pengunjung. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk melakukan analisis risiko, melakukan analisis daya dukung, serta merancang rencana kegiatan peningkatan pengelolaan pengunjung di Green Grass Cikole berdasarkan analisis perilaku, risiko, dan daya dukung dalam upaya mewujudkan ekowisata berkelanjutan. Metode penelitian yang digunakan merupakan gabungan kualitatif dan kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi di lapangan, pengisian kuesioner, dan wawancara. Hasil analisis perilaku adalah: fasilitas dan pelayanan memiliki pengaruh signifikan terhadap kepuasan pengunjung, kepuasan pengunjung berpengaruh terhadap perilaku, dan terdapat juga pengaruh dari faktor lain seperti ekologi perkembangan Bronfenbrenner dan motivasi Maslow. Terdapat 2 (dua) aspek risiko yang perlu diperhatikan oleh pengelola, yaitu risiko terhadap keselamatan dan risiko terhadap kerusakan lingkungan. Kapasitas maksimal pengunjung yang diperoleh dari analisis daya dukung yaitu daya dukung: fisik (1.384 pengunjung), riil (817 pengunjung), dan efektif (545 pengunjung). Kegiatan peningkatan pengelolaan pengunjung di objek wisata alam Green Grass Cikole berdasarkan hasil analisis perilaku, risiko, dan daya dukung dapat dilakukan dengan pendekatan yang bersifat direct dan indirect berdasarkan aspek infrastruktur, sanitasi, kerusakan vegetasi, dan kapasitas pengunjung.
PENGEMBANGAN TRANSPORTASI PUBLIK BERWAWASAN EKOWISATA UNTUK MENINGKATKAN AKSESIBILITAS DESA WISATA SITUS GUNUNG PADANG
Sektor pariwisata telah menjadi salah satu penggerak utama perekonomian global, dengan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berbagai negara, termasuk Indonesia. Pada tahun 2023, pariwisata menyumbang sekitar 3,9 persen kepada PDB Indonesia (Kemenparekraf, 2024). Namun, kesuksesan pariwisata erat kaitannya dengan transportasi, dan transportasi tercatat sebagai salah satu sumber konsumsi energi terbesar dalam aktivitas pariwisata, bahkan hingga 90 persen (Gossling, 2002). tingkat konsumsi energi yang ini juga sejalan dengan tingkat kerusakan lingkungan yang dihasilkan oleh transportasi di kawasan wisata seperti polusi air, udara, bahkan suara. Desa wisata merupakan kawasan yang khususnya rentan terhadap dampak dari transportasi yang tidak berkelanjutan. Penggunaan mobil pribadi sebagai moda transportasi wisatawan telah tercatat berkontribusi terhadap penurunan kualitas lingkungan di kawasan wisata dan sekitarnya di Indonesia. Dengan melakukan wawancara dengan stakeholder terkait, serta melakukan studi literatur dan studi lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk merancang kendaraan untuk transportasi umum untuk meningkatkan aksesibilitas dan mobilitas wisatawan sekaligus dengan menurunkan volume penggunaan kendaraan pribadi. Dengan menggunakan prisip ekowisata sebagai acuan, desain akhir menghasilkan kendaraan yang memaksimalkan kepuasan wisatawan dengan meminimalisir dampak buruk ke alam dan warga setempat.
STRATEGI MENAVIGASI EKONOMI SIRKULAR: KASUS MARGO UTOMO ECO RESORT DALAM MEWUJUDKAN EKOWISATA YANG BERKELANJUTAN DI INDONESIA
Studi ini mengeksplorasi integrasi strategis dari prinsip-prinsip ekonomi sirkular (CE) yan terdapat di Margo Utomo Eco Resort, Dimana Maro Utomo merupakan sebuah bisnis agrowisata yang dikelola secara turn temurun oleh satu keluarga di Kalibaru, Jawa Timur, Indonesia. Meskipun resor tersebut telah mengadopsi berbagai inisiatif atau praktik keberlanjutan seperti pengomposan, penggunaan biogas terbatas, melakukan pembelian bahan baku dari vendor lokal, dan mempekerjakan sebaian besar pegawainya yang merupakan penduduk lokal Banyuwangi, upaya-upaya tersebut telah berkembang secara informal dan tidak memiliki pendekatan jangka panjang yang terstruktur. Dengan menggunakan metodologi studi kasus kualitatif yang mencakup wawancara pemangku kepentingan, observasi di tempat, dan diskusi kelompok fokus partisipatif, studi ini menerapkan alat-alat strategis seperti SWOT, PESTLE, dan Circular Economy Business Model Archetypes (Bocken et al., 2016) untuk mengidentifikasi tujuh strategi CE dalam spesifik konteks. Analisis Keputusan Multi-Kriteria (MCDA) kemudian juga digunakan untuk mengevaluasi strategi-strategi tersebut berdasarkan kelayakan, manfaat lingkungan, efektivitas biaya, jadwal implementasi, dan keselarasan dengan nilai-nilai resor. Analisis ini memprioritaskan tiga inisiatif utama: yan pertama memperluas infrastruktur untuk pengomposan, mengadopsi penyediaan amenities untuk tamu pada setiap kamar hotel atau resort fasilitas tamu yang dapat terurai secara alami, dan menerapkan sistem maintenance untuk resort itu sendiri dengan memanfaatkan kayu dari pohon yang menjadi salah satu sumber daya di Plantation Site - Margo Utomo. Tindakan-tindakan ini dipilih karena keseimbangannya antara dampak lingkungan yang nyata, kesesuaian operasional, dan keselarasan nilai yang para tamu inginkan terutama tamu dari mancanegara. Penelitian ini memberikan kontribusi pada literatur CE di sektor pariwisata dengan menawarkan model praktis yang dapat direplikasi oleh pelaku usaha kecil, serta menunjukkan bahwa dengan pendekatan yang kontekstual dan inklusif, resort kecil di daerah pedesaan pun dapat menjadi pelopor dalam transformasi pariwisata berkelanjutan secara autentik dan strategis.
STRATEGI PENGELOLAAN EKOWISATA BERBASIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPUTUSAN BERKUNJUNG DAN KEPUASAN PENGUNJUNG DI EKOWISATA KAMPUNG BLEKOK
Kampung Blekok merupakan kawasan berbasis konservasi mangrove dan burung air yang diresmikan menjadi ekowisata pada Tahun 2019. Data kunjungan rata-rata per hari sepanjang Tahun 2022 tercatat sebanyak 39 pengunjung per hari. Di sisi lain, daya dukung kawasan tersebut tercatat sebesar 648 orang per hari. Perbedaan kedua data tersebut menunjukkan diperlukannya upaya optimalisasi guna meningkatkan jumlah kunjungan dalam batas yang wajar, mengingat kegiatan wisata turut berperan sebagai penggerak ekonomi. Dalam praktiknya, kemampuan pemahaman pengelola terkait perilaku pengunjung dapat mendukung upaya tersebut. Kunci utama dalam perilaku pengunjung yakni kepuasan dan pengalaman yang didapatkan di lapang. Keduanya dapat dipahami melalui motivasi selaku faktor internal dan kesiapan destinasi wisata sebagai faktor eksternal sehingga muncul keputusan berkunjung. Pemahaman akan perilaku pengunjung serta kesiapan destinasi wisata memungkinkan untuk digunakan sebagai landasan dalam perumusan strategi guna meningkatkan pengelolaan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk 1) mengidentifikasi kondisi pengelolaan yang sedang berlangsung melalui analisis konten, analisis daerah operasi dan obyek daya tarik wisata alam versi modifikasi, dan balanced scorecard; 2) menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan berkunjung dan kepuasan pengunjung melalui analisis structural equation modeling β partial least square dan importance-performance map analysis; 3) menentukan strategi peningkatan pengelolaan melalui analisis strengths weakness opportunities threats β quantitative strategic planning matrix Hasil analisis menunjukkan kinerja pengelolaan yang sedang berlangsung belum efektif (47.30%). Pengelolaan yang belum efektif tercermin melalui tidak adanya rencana kegiatan serta target pengelolaan, permasalahan keterbatasan anggaran, dan kurangnya komunikasi serta inisiatif dari kelompok sadar wisata selaku pengelola. Di sisi lain, Ekowisata Kampung Blekok memiliki potensi dan layak dikembangkan dengan nilai indeks kelayakan sebesar 74.44%. Faktor yang mempengaruhi keputusan berkunjung yakni kualitas pelayanan (berwujud, keandalan, ketanggapan kepastian, empati, aktivitas berbasis alam dan ramah lingkungan, edukasi berbasis alam dan ramah lingkungan serta praktik berbasis ramah lingkungan, dan bauran pemasaran (produk, harga, lokasi, bukti fisik, promosi, dan proses). Sementara, kepuasan pengunjung dipengaruhi oleh kualitas pelayanan dan keputusan berkunjung. Tiga strategi prioritas peningkatan pengelolaan yakni 1) penguatan komunikasi dan kelembagaan kelompok sadar wisata; 2) penyelenggaraan kegiatan berbasis konservasi maupun lingkungan hidup; 3) peningkatan kesadaran, keterampilan dan kapasitas kelompok sadar wisata.
RANCANGAN PENGEMBANGAN MODEL BISNIS TWA PANGANDARAN SEBAGAI DESTINASI EKOWISATA BERKELANJUTAN
Taman Wisata Alam (TWA) Pangandaran merupakan salah satu destinasi ekowisata yang berada di Provinsi Jawa Barat. Ekowisata adalah jenis pariwisata yang berfokus pada alam, dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip keberlanjutan, mendukung konservasi alam, dan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang perlindungan lingkungan. Ketidakjelasan pemangku kepentingan dan perannya di TWA Pangandaran menghambat ketercapaian dalam ekowisata yang berkelanjutan sehingga dibutuhkan penelitian pemangku kepentingan. Dengan melibatkan pemangku kepentingan, seperti pemerintah, komunitas lokal, dan pelaku usaha, dapat dipahami dampaknya secara holistik dan mengembangkan strategi berkelanjutan untuk meningkatkan daya tarik ekowisata serta memperbaiki kondisi lingkungan dan ekonomi lokal. Oleh karena itu dibutuhkan analisis terhadap Stakeholders berupa identifikasi, klasifikasi, dan penggambaran hubungan antar Stakeholders. Dalam menganalisis peran Stakeholders tersebut, pengambilan data menggunakan wawancara metode purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan, terdapat enam pihak yang teridentifikasi dalam pengembangan TWA Pangandaran. Pihak-pihak tersebut diklasifikasikan kedalam pihak kunci, primer, dan sekunder. Hubungan antar pihak bernilai positif yang artinya tidak teridentifikasi adanya konflik atau potensi konflik walaupun ditemukan pihak yang tidak saling berhubungan. Hubungan tersebut dinilai dari interaksi, kontinuitas, sinergitas, kekuatan, dan konflik.
RANCANGAN PENGEMBANGAN MODEL BISNIS TWA PANGANDARAN SEBAGAI DESTINASI EKOWISATA BERKELANJUTAN
Peningkatan minat wisata alam di Indonesia menandai pergeseran ke pengalaman wisata yang berfokus pada pelestarian lingkungan dengan tantangan utama yaitu memastikan keberlanjutan ekosistem, sehingga diperkenalkannya konsep ekowisata. Di Provinsi Jawa Barat, Kabupaten Pangandaran memiliki potensi besar sebagai destinasi ekowisata karena dianugerahi dengan keanekaragaman hayati yang tinggi dan keberagaman karakteristik pantai. Salah satu destinasi ekowisata yang telah ada sejak lama adalah Taman Wisata Alam (TWA) Pananjung Pangandaran. Meskipun TWA Pananjung Pangandaran telah berdiri sejak lama, kurangnya inovasi dalam pengelolaan telah menyebabkan kurangnya daya tarik dibandingkan dengan destinasi lain di kawasan tersebut. Dengan pendekatan yang holistik dan berkelanjutan, TWA Pananjung Pangandaran memiliki potensi untuk menjadi model ekowisata yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal sekaligus melindungi keanekaragaman hayati dan lingkungan alam sekitarnya. Hasil Analisis Daerah Operasi Objek dan Daya Tarik Wisata Alam (ADO-ODTWA) yang dilakukan menunjukkan TWA Pananjung Pangandaran memiliki indeks kelayakan tinggi untuk dikembangkan menjadi objek ekowisata. Potensi ini dapat dicapai dengan strategi yang dirumuskan berdasarkan analisis Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM) di mana prioritas utama jatuh kepada pemberdayaan kelompok masyarakat lokal dan kerja sama multi sektor untuk menciptakan, menjalankan, dan mengelola paket wisata tematik yang menggabungkan aspek alam, sejarah, dan religi khas TWA Pananjung Pangandaran agar dapat memberikan pengalaman wisata yang holistik.
PERANCANGAN INTERIOR EKOWISATA HOTEL RESORT DENGAN PENDEKATAN BIOPHILIC DESIGN DI PANTAI MANDALIKA LOMBOK
Perancangan Interior Ekowisata Hotel Resort dengan Pendekatan Biophilic Design di Pantai Mandalika Lombok merupakan sebuah rancangan hotel resort dengan klasifikasi bintang empat yang berlokasi di Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika. Pemilihan Mandalika sebagai lokasi berdasar pada letaknya yang strategis, dekat dari Bandara Internasional Lombok, infrastruktur memadai, memiliki potensi wisata alam yang bagus dan masih alami, serta dekat dari Kampung Wisata Desa Sade Suku Sasak yang cenderung masih tradisional. Seluruh potensi ini dituangkan ke dalam rancangan melalui konsep ekowisata dan pendekatan biophilic design. Salah satu potensi utama dari Mandalika adalah adanya Sirkuit Mandalika yang dicanangkan sebagai generator penggerak ekonomi kawasan Mandalika. Pemanfaatan wilayah yang diintegrasikan terhadap interiornya sendiri bertujuan untuk memberikan kesan nyaman, rileks, alami, dan βmenyatu dengan alamβ bagi tamu yang datang. Kesan ini didapatkan dengan penerapan elemen biophilic melalui konsep material, pencahayaan, akustik, penghawaan, dan bentuk bangunan. Konsep daur ulang air pun diterapkan agar semakin mengoptimalkan tujuan minimalisasi intervensi lahan pada rancangan. Tidak hanya kondisi alamnya, perancangan ini juga melibatkan warga lokal untuk turut berpartisipasi dalam program aktivitas di dalam hotel resort sebagai bentuk penerapan konsep ekowisata. Fasilitas ini akan menyediakan area khusus bagi warga lokal untuk berinteraksi dengan tamu dan wisatawan yang datang melalui transaksi jual beli hasil produk lokal atau dengan penawaran pelayanan spa. Penelitian ini dapat selesai dengan menggunakan metode kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur, kuesioner, serta analisis lahan bangunan melalui internet. Data digunakan sebagai pondasi acuan rancangan agar dapat mencapai tujuan sebagaimana yang telah direncanakan.
IDENTIFIKASI PENGEMBANGAN OBJEK WISATA TAMAN EKOWISATA CIMENTENG (EWIC) BERDASARKAN KOMPONEN 4A SERTA PENDEKATAN PLACEMAKING DAN EKOWISATA
Pemerintah Kota Cimahi menggagas "Ekowisata Budaya Cimenteng Kota Cimahi" di Taman Ekowisata Cimenteng (EWIC) dengan fokus pada edukasi perkebunan, peternakan, budaya, dan lingkungan alam. EWIC, yang dibuka pada tahun 2022, belum optimal dalam menyediakan kegiatan ekowisata. Pendekatan placemaking dan ekowisata, yang menekankan partisipasi masyarakat dan pembangunan berkelanjutan, diintegrasikan dengan komponen 4A dapat menjadi solusi untuk mengidentifikasi nilai-nilai yang diperlukan dan merumuskan rekomendasi pengembangan ekowisata yang lebih efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengembangan objek wisata Taman Ekowisata Cimenteng (EWIC) berdasarkan komponen 4A serta pendekatan placemaking dan ekowisata. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan penelitian normatif di mana bertujuan untuk menganalisis, menginterpretasi, dan mengevaluasi nilai-nilai normatif sesuai pendekatan, serta memahami implikasinya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya studi literatur, analisis skoring, dan analisis deskriptif kualitatif. Penelitian ini berhasil mengidentifikasi 20 variabel placemaking dan ekowisata serta 43 objek penelitian berdasarkan komponen 4A untuk menilai tingkat placemaking dan ekowisata di EWIC. Hasil analisis menunjukkan bahwa EWIC berada dalam kategori βcukupβ dan memerlukan perbaikan pada beberapa variabel dan objek yang masih kurang dan belum tersedia. Penelitian ini dapat mengidentifikasi dan menilai kualitas EWIC lebih mendalam serta menghasilkan rekomendasi yang lebih komprehensif dan terfokus dibanding penelitian sebelumnya pada lokasi ini. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam pengembangan teori dan praktik ekowisata dengan mengintegrasikan konsep placemaking dan komponen 4A, serta memberikan kerangka kerja dan pedoman praktis bagi pengembangan ekowisata yang berkelanjutan dan berorientasi pada masyarakat.
PENERAPAN PRINSIP EKOWISATA PADA REVITALISASI KAWASAN KONSERVASI MANGROVE PERAIRAN PULAU PRAMUKA
Pemanasan global adalah salah satu penyebab atas peningkatan suhu permukaan bumi dan perubahan iklim yang tidak menentu. Ekosistem pesisir seperti pohon mangrove dan padang lamun memiliki kemampuan untuk menyerap karbon yang terkandung pada atmosfer. Kepulauan Seribu yang terdiri dari banyak area pesisir memiliki potensi yang besar menjadi kawasan perdagangan karbon, wisata edukasi, dan pelestarian lingkungan. Pulau Pramuka yang merupakan salah satu pulau bagian dari Kepulauan Seribu diarahkan sebagai pusat pelayanan pemerintah kabupaten administrasi, pariwisata, dan permukiman berdasarkan RTRW Provinsi DKI Jakarta Tahun 2030. Pulau Pramuka mengalami perkembangan dan pembangunan sejak ditetapkannya sebagai wilayah Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu yang terlihat dari bertambahnya jumlah penduduk dan jumlah wisatawan. Perkembangan Pulau Pramuka tidak disertai dengan adanya peningkatan kualitas lingkungan, pengelolaan kawasan wisata, dan penataan ruang yang baik menyebabkan penurunan kualitas ekosistem perairan, alih fungsi lahan yang tidak tepat, dan permasalahan lainnya. Untuk menanggulangi permasalahan yang terjadi pada Pulau Pramuka khususnya Kawasan Konservasi Mangrove Pulau Pramuka sebagai area yang potensial, maka perlu adanya perencanaan, perancangan, serta kesiapan yang baik. Pendekatan perancangan dengan prinsip ekowisata menjadi salah satu metode untuk meningkatkan vitalitas kawasan dengan mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif potensi, masalah perancangan tapak, dan pemenuhan prinsip ekowisata pada tapak, serta analisis internal dan eksternal tapak. Analisis yang dilakukan berdasarkan pada data primer seperti wawancara dan observasi serta data sekunder seperti dokumen perancangan, dokumen kebijakan, dsb yang kemudian diolah dengan metode perancangan fragmental. Hasil analisis dan perancangan yang telah dilakukan menunjukkan bahwa belum adanya pemanfaatan ruang yang maksimal, pengelolaan yang baik, serta banyak fasilitas wisata yang tidak terpelihara dan rusak. Untuk itu, pada penelitian ini akan diberikan beberapa panduan, rekomendasi, desain, dan konsep perancangan untuk membantu pengelola kawasan, pemerintah daerah, stakeholder, perencana dan masyarakat setempat sebagai bahan pertimbangan perancangan Kawasan Konservasi Mangrove Pulau Pramuka untuk meningkatkan fungsi kawasan dan keberlanjutan lingkungan.