📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 1 dokumenPERANCANGAN INDUSTRI EKSTRAK PROPOLIS CAIR LEBAH TANPA SENGAT (TRIGONA SP.) SKALA MENENGAH
Pasar produk berbasis propolis tengah mengalami peningkatan permintaan karena pemanfaatannya yang luas, mulai dari aplikasi pada produk kosmetik, kesehatan, hingga pangan. Sebagai negara megabiodiversitas, Indonesia menjadi habitat bagi 46 dari 500 spesies lebah tanpa sengat yang mampu menghasilkan propolis dalam jumlah besar. Potensi ini terkonfirmasi oleh volume produksi propolis domestik yang konsisten meningkat setiap tahunnya, dari 2.300 ton pada tahun 2018, hingga mencapai 2.900 ton pada tahun 2021. Meskipun begitu, sekitar 70% kebutuhan propolis dan madu domestik masih bergantung pada produk impor. Fenomena ini disebabkan oleh rendahnya kuantitas dan kualitas propolis lokal akibat minimnya penerapan teknologi modern dan ketiadaan standardisasi proses ekstraksi propolis. Dilatarbelakangi oleh hal tersebut, dokumen perancangan ini disusun untuk mendukung pengembangan industri dan meningkatkan kemandirian produksi propolis nasional. Sistem pascapanen dan pengolahan ekstrak propolis cair pada umumnya terdiri atas tahapan pre-treatment, ekstraksi, pengujian mutu, pengemasan, dan penyimpanan. Pada perancangan industri ini, dikembangkan inovasi dengan konsep hemat dan zero waste. Konsep hemat diwujudkan dalam penerapan metode maserasi kinetik serta formulasi menggunakan propilen glikol untuk meningkatkan efisiensi ekstraksi dan kestabilan ekstrak dengan biaya terjangkau. Di sisi lain, konsep zero waste direalisasikan melalui integrasi pengolahan residu ekstraksi menjadi aditif pakan ternak untuk mengurangi kuantitas dan biaya penanganan limbah. Analisis Gross Profit Margin (GPM) menunjukkan bahwa sistem pascapanen dengan inovasi ini memiliki efisiensi biaya produksi sebesar 25,88%. Dengan mempertimbangkan ketersediaan bahan baku dan range produksi usaha skala menengah, kapasitas produksi industri ini ditargetkan mencapai 9 L (300 botol) ekstrak propolis cair/hari dan 5 kg (1 pcs) aditif pakan ternak/hari. Perancangan sistem pascapanen yang dilengkapi dengan deskripsi proses, spesifikasi peralatan, neraca massa dan energi, serta sistem utilitas dan sertifikasi ini dinilai layak secara finansial berdasarkan indikator Net Present Value (Rp1.869.288.773), Benefit Cost Ratio (1,04), Internal Rate of Return (18,84%), Profitability Index (1,30), Break Even Point (74.346, unit), dan Payback Period (3,06 tahun). Demikian pula, berdasarkan analisis sensitivitas, sistem pascapanen ini masih layak dijalankan pada skenario peningkatan harga bahan baku hingga 25% maupun skenario penurunan pendapatan hingga 5%.