📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 7 dokumenSTUDI BARRIER LAYER DI LAUT BANDA DAN HUBUNGANNYA DENGAN EL NIÑO-SOUTHERN OSCILLATION (ENSO)
Barrier Layer Thickness (BLT) merupakan lapisan yang berperan penting dalam mengontrol pertukaran panas vertikal di laut. Penelitian ini bertujuan menganalisis variasi dan mekanisme pembentukan BLT, Isothermal Layer Depth (ILD), dan Mixed Layer Depth (MLD) selama kondisi El Niño-Southern Oscillation (ENSO) di Laut Banda menggunakan data Bluelink Reanalysis (BRAN) periode 1993- 2023 dengan kejadian ENSO ditentukan berdasarkan Ocean Niño Index (ONI). Hasil analisis menunjukkan bahwa BLT terbentuk sepanjang tahun dengan ketebalan maksimum pada musim timur dan minimum pada musim transisi kedua. Variasi BLT terutama dikontrol oleh perbedaan kedalaman ILD dan MLD. Selama fase La Niña, BLT cenderung lebih tebal sekitar 5-10 m dibandingkan klimatologi akibat ILD yang lebih dalam dan penguatan stratifikasi upper layer. Sebaliknya, selama fase El Niño, BLT menjadi lebih tipis dengan anomali negatif hingga sekitar -10 m akibat pendangkalan ILD dan melemahnya stratifikasi upper layer. Sementara itu, MLD pada kedua fase ENSO relatif tidak berubah signifikan dengan perbedaan sekitar ±5 m. Hasil ini menunjukkan bahwa variabilitas BLT di Laut Banda terutama dikontrol oleh dinamika termoklin dan stratifikasi upper layer yang dimodulasi oleh ENSO.
PENGARUH EL NINO-SOUTHERN OSCILLATION (ENSO) DAN INDIAN OCEAN DIPOLE (IOD) TERHADAP ANOMALI CURAH HUJAN DI PROVINSI LAMPUNG
Fenomena iklim global seperti El Niño-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) diketahui memengaruhi variabilitas curah hujan di Indonesia, termasuk Provinsi Lampung yang sangat rentan terhadap perubahan iklim global karena lokasinya yang strategis di ujung selatan Sumatra dan kondisi topografinya yang rumit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh ENSO dan IOD terhadap anomali curah hujan di Provinsi Lampung serta mengidentifikasi interaksi keduanya. Data curah hujan satelit GPM-IMERG periode 1998-2023 digunakan untuk menghitung anomali bulanan, sedangkan indeks ONI dan DMI digunakan sebagai representasi ENSO dan IOD. Analisis dilakukan melalui wavelet transform untuk mengidentifikasi dominasi skala periode, bandpass filter (2-8 tahun) untuk mengekstraksi sinyal terkait variabilitas iklimglobal, dan regresi multivariat dengan variabel interaksi untuk menilai signifikansi statistic pengaruh ENSO dan IOD. Hasil wavelet spectrum menunjukkan dominasi periode sekitar 4 tahun yang konsisten dengan siklus ENSO. Regresi multivariat mengindikasikan bahwa DMI memiliki pengaruh signifikan secara statistik terhadap anomali curah hujan (p < 0.01), sementara ONI tidak signifikan secara individu (p > 0.05). Interaksi ENSO dan IOD tidak signifikan secara statistic, namun secara fisik kombinasi El Niño x IOD berasosiasi dengan penurunan curah hujan paling ekstrem, sedangkan La Niña x IOD- berasosiasi dengan peningkatan curah hujan tertinggi.
DAMPAK ENSO TERHADAP DEBIT WADUK PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR (PLTA) SAGULING UNTUK KEBERLANGSUNGAN OPERASI
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak fenomena El Niño–Southern Oscillation (ENSO) terhadap debit air Waduk Saguling dan implikasinya terhadap keberlangsungan operasi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Waduk Saguling merupakan bagian penting dari sistem kelistrikan di wilayah Jawa Barat, sehingga ketersediaan air yang stabil menjadi faktor kunci dalam mendukung kapasitas pembangkitan. Dalam studi ini, digunakan pendekatan kuantitatif melalui analisis statistik korelasi Pearson dan Spearman, klasifikasi fase ENSO, serta transformasi wavelet kontinu (Continuous Wavelet Transform/CWT) untuk mengeksplorasi keterkaitan antara indeks ENSO (ONI), curah hujan, dan debit inflow selama periode 1986–2024. Hasil analisis menunjukkan bahwa ENSO memiliki pengaruh terhadap variabilitas debit inflow, meskipun hubungan linier secara bulanan tidak selalu konsisten. Transformasi wavelet mengungkap adanya periodisitas kuat dalam rentang 2–4 tahun yang menunjukkan keterkaitan ENSO dengan pola jangka panjang curah hujan dan debit. Uji korelasi musiman memperlihatkan bahwa pengaruh ENSO paling jelas terjadi pada puncak musim hujan (DJF) dan awal musim transisi (MAM), peningkatan atau penurunan indeks ONI berkaitan erat dengan fluktuasi debit inflow. Sebaliknya, musim kemarau dan transisi akhir (JJA–SON) menunjukkan pola korelasi negatif yang merefleksikan kekeringan akibat El Niño. Studi kasus El Niño 2015 dan La Niña 2022 memperkuat temuan bahwa fluktuasi curah hujan dan debit inflow akibat ENSO berdampak langsung terhadap kondisi operasional waduk. Oleh karena itu, integrasi informasi iklim global, terutama indeks ONI, dalam sistem pemantauan dan perencanaan operasional PLTA menjadi sangat penting. Penelitian ini merekomendasikan penggunaan pendekatan berbasis musim dan prediksi ENSO sebagai dasar pengambilan keputusan untuk menjaga keberlanjutan dan efisiensi pembangkitan energi di masa depan.
IDENTIFIKASI SUMBER KELEMBAPAN DI BENUA MARITIM INDONESIA KETIKA MONSUN-ASIA-MUSIM-DINGIN DAN VARIABILITASNYA BERDASARKAN ENSO
Benua maritim Indonesia (BMI) memiliki peran yang sangat penting dalam dinamika atmosfer global, sebagai wilayah pertemuan antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Tidak hanya sebagai penghasil kelembapan lokal tapi juga penerima kelembapan dari wilayah sekitarnya. Pada musim dingin (Desember - Februari), BMI dipengaruhi oleh Monsun Asia Musim Dingin (MAMD) yang membawa kelembapan dari Pasifik Barat, Laut China Selatan dan Samudra Hindia. Variabilitas ENSO (El Niño-Southern Oscillation) juga berpengaruh besar terhadap transpor kelembapan dan distribusi curah hujan di BMI. Namun, hingga saat ini, sumber – sumber kelembapan dan distribusi curah hujan di wilayah Benua Maritim Indonesia masih belum sepenuhnya diidentifikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi lintasan transpor kelembapan dan area sumber kelembapan yang masuk ke wilayah BMI serta variabilitasnya saat ENSO (El Niño kuat dan La Niña kuat) di periode MAMD. Analisis dilakukan dengan menggunakan data ERA5 untuk periode MAMD selama September Februari, di saat La Niña kuat 2010-2011, El Niño kuat 2015-2016 dan kondisi normal 2013-204. Identifikasi dilakukan selama 10 harian dengan pendekatan analisis lintasan mundur menggunakan model Hybrid Single-Particle Lagrangian Integrated Trajectory (HYSPLIT) untuk mensimulasikan setiap 36 titik yang disebar di wilayah target A dan B (diidentifikasi sebagai pintu masuk kelembapan spesifik ke wilayah BMI) pada 3 level ketinggian yang mewakili boundary layer. Lalu analisi perhitungan persen Contribution Ratio (Cri) untuk wilayah penyerapan (moisture uptake) yang masuk ke lokasi target A dan B. Hasil menunjukan bahwa wilayah target A saat MAMD dengan persen CRi >10% secara umum bervariasi diwilayah sumber daratan China ketika kondisi normal maupun ENSO kuat terjadi. Dan wilayah B secara umum bervariasi di wilayah sumber Samudra Pasifik Barat dengan persen CRi >10% saat La Niña, 8% saat El Niño dan 7% saat kondisi normal. Temuan ini mengidentifikasi bahwa variabilitas ENSO mempengaruhi area dan transpor kelembapan yang masuk ke wilayah BMI.
ANALISIS VARIABILITAS MASSA AIR LAUT DI SAMUDRA PASIFIK UTARA BAGIAN BARAT SEPANJANG 137° BT PERIODE 1972–2022
Penelitian ini mengkaji variasi massa air laut di bagian barat Samudra Pasifik Utara sepanjang meridian 137°E selama periode 51 tahun (1972–2022). Penelitian ini berfokus pada analisis komposisi dan perubahan massa air laut selama musim panas dan musim dingin, menggunakan data yang diperoleh dari pengukuran CTD oleh Japan Meteorological Agency. Studi ini mengidentifikasi dan menganalisis North Pacific Intermediate Water (NPIW, salah satu massa air utama didaerah kajian yang merupakan massa air dengan salinitas minimun, serta menilai variasi antar-tahun dan dekadal. Analisis dilakukan dengan menggunakan metode Optimum Multiparameter (OMP) dan Empirical Orthogonal Function (EOF) untuk melakukan kalkulasi kontribusi massa air dan mengidentifikasi mode dominan dari tiap variabilitas, termasuk variabilitas salinitas dan potensial temperatur. Hasil menunjukkan perubahan dalam profil vertikal salinitas dan suhu potensial, dengan tren yang mencolok pada peningkatan lapisan minimum salinitas dan kenaikan potensial temperatur. Studi ini juga menyelidiki pengaruh interaksi laut-atmosfer, seperti El Niño-Southern Oscillation (ENSO), Pacific Decadal Oscillation (PDO), dan Western North Pacific Monsoon (WNPM) pada variabilitas yang diamati, yang melihat peran penting fenomena-fenomena ini dalam melihat variabilitas massa air di wilayah tersebut. Ditemukan juga bahwa Kuroshio extension berperan dalam variabilitas antar-tahun dan dekadal ini. Secara keseluruhan, hasil penelitian memberikan wawasan mengenai variabilitas jangka panjang massa air laut di bagian barat Samudra Pasifik Utara, yang berkontribusi pada pemahaman yang lebih luas tentang proses-proses oseanografi dan implikasinya terhadap dinamika iklim global.
PENGARUH ENSO DAN IOD TERHADAP CURAH HUJAN EKSTREM INDONESIA DI MASA DEPAN
Indonesia, sebagai negara maritim yang melintasi garis khatulistiwa dan terletak antara Samudra Hindia dan Pasifik, rentan terhadap bencana lingkungan seperti banjir dan tanah longsor akibat curah hujan ekstrem. Secara keseluruhan, curah hujan rata-rata Indonesia dipengaruhi oleh variasi iklim antar-tahunan, seperti El Niño-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) dengan pengaruh terbesar terjadi pada musim SON. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan pengaruh ENSO dan IOD terhadap curah hujan ekstrem Indonesia pada musim SON di masa depan. Penelitian ini menggunakan data curah hujan dan sea surface temperature dari model iklim CMIP6 periode historis (1985-2014) serta proyeksi masa depan nearfuture (2031-2060) dan far-future (2061-2090) dengan skenario iklim SSP2-4.5 dan SSP5-8.5. Metode yang digunakan mencakup evaluasi model menggunakan tiga matriks statistik, perhitungan curah hujan ekstrem menggunakan indeks R95p, perhitungan indeks ENSO menggunakan ONI, perhitungan indeks IOD menggunakan DMI, serta analisis hubungan ENSO dan IOD terhadap curah hujan ekstrem menggunakan regresi linier. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan pengaruh ENSO dan IOD terhadap curah hujan esktrem di Indonesia pada periode near-future cenderung negatif di hampir seluruh wilayah, kecuali Pulau Jawa yang mengalami perubahan positif. Pada periode far-future, pengaruh ENSO di beberapa wilayah Kalimantan dan pengaruh IOD di Selatan Sumatera menjadi positif. Setelah menghilangkan pengaruh ENSO dan IOD secara terpisah, terlihat adanya hubungan kompleks antara keduanya, seperti pada periode masa depan IOD independen memiliki perubahan nilai di wilayah Selatan Kalimantan dari negatif menjadi positif. Perubahan signifikan akibat ENSO dan IOD terhadap curah hujan ekstrem terjadi di Kalimantan Utara, mencapai -80 mm/? akibat ENSO dan -180 mm/? akibat IOD. Perubahan-perubahan ini akan semakin signifikan pada skenario perubahan iklim SSP5-8.5.
ANALISIS PENGARUH EL-NIÑO SOUTHERN OSCILLATION (ENSO) TERHADAP KARAKTERISTIK SIKLON TROPIS DI PERAIRAN INDONESIA PADA TAHUN 1973-2022
Siklon tropis (Tropical Cyclone, TC) dikenal luas sebagai sistem badai yang kuat dan dampaknya dapat menyebabkan kerusakan signifikan pada wilayah pesisir yang terkena dampak serta sekitarnya. Selain itu, TC dapat berdampak besar pada masyarakat, menyebabkan kerusakan pada infrastruktur, rumah, dan mata pencaharian. Indonesia rentan terhadap pembentukan TC karena lokasinya yang berada di antara Samudra Pasifik barat dan Samudra Hindia. Selain itu, Indonesia dipengaruhi oleh El Niño-Southern Oscillation (ENSO), yang dapat mengubah parameter atmosfer dan lautan, sehingga mempengaruhi karakteristik TC. Berdasarkan kejadian dan pergerakan TC, Indonesia dapat dibagi menjadi 4 wilayah. Wilayah pertama mencakup Teluk Benggala, wilayah kedua mencakup Samudra Pasifik Barat Laut, wilayah ketiga adalah Samudra Hindia Timur Laut, dan wilayah keempat adalah Perairan Australia Utara. Penelitian ini menganalisis TC di perairan Indonesia dengan menggunakan data dari International Best Track Archive for Climate Stewardship (IBTRaCS) untuk periode 1973-2022 dan Kernel Density Estimation (KDE) untuk mengidentifikasi jumlah TC, intensitas, dan pergeseran area kejadian selama periode El Niño dan La Niña ketika Indian Ocean Dipole (IOD) netral. Selama 50 tahun, terdapat 2.885 TC yang melewati perairan Indonesia dengan daerah paling aktif adalah di wilayah 2. Secara umum ketika terjadi El nino jumlah TC di seluruh wilayah Indonesia meningkat sedangkan ketika La Nina jumlah TC menurun dibandingkan dengan kondisi netral. Hasil penelitian ini menunjukkan perbedaan signifikan dalam total kejadian TC selama La Niña di wilayah 2, 3, dan 4. Di wilayah 2, terjadi penurunan pembentukan TC ketika La Niña dikarenakan parameter lingkungan vertical wind shear (VWS) dan vortisitas yang kurang mendukung, sehingga jumlah TC per bulan berkurang 12,5% dibandingkan netral. Namun, di wilayah 3 dan 4, jumlah TC per bulan lebih tinggi selama La Niña dibandingkan netral (meningkat masing-masing 38,1% dan 45,7%) karena parameter lingkungan (suhu permukaan laut, tekanan permukaan laut, kelembaban, VWS, dan vortisitas) menunjukkan kondisi yang mendukung. Accumulated Cyclone Energy (ACE) digunakan untuk dapat mewakili durasi, intensitas, dan jumlah TC. ACE per bulan juga menunjukkan variasi signifikan, terutama dengan ii peningkatan 65,4% selama La Niña di wilayah 1 dan peningkatan 12,4% selama El Niño serta penurunan 35,3% selama La Niña di wilayah 2. Temuan ini dapat dikaitkan dengan masa hidup TC yang lebih singkat ketika La Niña, dikarenakan TC yang muncul di timur Filipina akan kehabisan energi ketika berpropagasi ke barat karena suhu permukaan laut yang kurang memadai di Laut Cina Selatan. Distribusi spasial KDE bervariasi menurut musim, menyebabkan lebih banyak pergeseran arah zonal, sedangkan ENSO menyebabkan lebih banyak pergeseran meridional. Ketika La Niña, density center di wilayah 1, 3, dan 4 cenderung bergeser lebih ke timur, kecuali wilayah 2 yang bergeser ke barat dibandingkan El Niño. Secara umum, density center cenderung bergeser lebih jauh dari netral ketika El Niño untuk wilayah 1 dan 2 sedangkan di wilayah 3 dan 4 pergeseran lebih jauh ketika La Niña. Pergeseran terjauh terjadi di wilayah 4, sekitar 632,1 km, ketika La Niña, ditunjukkan dari lokasi pembentukan TC yang cenderung terbentuk di selatan Nusa Tenggara Barat (NTB) selama El Niño sedangkan di Laut Timor selama La Niña. Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan wawasan tentang perilaku TC di perairan Indonesia, menyoroti pengaruh fenomena iklim seperti ENSO terhadap karakteristik TC. Temuan ini dapat berkontribusi pada pemahaman yang lebih baik dan kesiapsiagaan terhadap kejadian TC di perairan Indonesia ini