📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 6 dokumenPEMBANGUNAN BASISDATA SPASIAL DENGAN SISTEM GRID SKALA RAGAM UNTUK EMISI GAS RUMAH KACA (STUDI KASUS: KOTA BANDUNG)
Perkembangan zaman belakangan ini memiliki dampak meningkatnya jumlah penduduk, tingginya jumlah penduduk tersebut berpengaruh terhadap sektor transportasi. Polusi udara yang dihasilkan dari sektor transportasi terdiri dari gas-gas yang memiliki efek beranekaragam seperti halnya gas rumah kaca. Emisi gas rumah kaca merupakan bagian dari gas-gas yang berada di atmosfer, gas-gas tersebut menyerap dan memancarakan radiasi pada gelombang tertentu. Untuk memantau emisi gas rumah kaca dibutuhkan pengelolaan data emisi gas rumah kaca secara terintegrasi. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengelola data emisi gas rumah kaca adalah dengan menggunakan basisdata spasial dan sistem grid skala ragam. Penggunaan basisdata spasial sebagai media penyimpanan suatu data sangat baik terlebih apabila data yang akan disimpan berjumlah sangat banyak. Basisdata spasial dapat berguna sebagai media penyimpanan suatu data yang memiliki objek spasial berupa titik, garis, maupun poligon. Penggunaan sistem grid skala ragam untuk emisi gas rumah kaca dapat dilakukan dalam merepresentasikan fenomena geografis yang bersifat kontinyu dan berubah secara gradual. Maka perlu kiranya informasi emisi gas rumah kaca disajikan dengan visualisi webGIS agar pengguna dengan mudah dapat mencari dan menerima informasi yang diberikan mengenai besarnya emisi gas rumah kaca serta pengguna dapat melakukan penambahan atau perubahan data emisi gas rumah kaca secara kontinyu. Untuk merealisasikan hal tersebut maka dirasakan perlu dibangun suatu basisdata spasial yang dapat menyimpan informasi emisi gas rumah kaca dengan menggunakan sistem grid skala ragam.
EVALUASI KINERJA SISTEM CO-FIRING BATUBARA DAN BIOMASSA WOODCHIP DI PLTU PUNAGAYA UNIT 1
Dalam rangka mendukung program Net Zero Emission (NZE) 2060, PLN melaksanakan transisi energi salah satunya melalui strategi pencampuran bahan bakar fosil dengan biomassa sebagai sumber energi terbarukan. Co-firing antara batu bara dan biomassa menjadi salah satu pendekatan yang diterapkan untuk menghasilkan listrik bersih dan menurunkan emisi gas rumah kaca. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi sistem co-firing terhadap karakteristik bahan bakar, performa pembangkit, dan emisi gas buang pada PLTU Punagaya Unit 1 dengan tipe boiler circulating fluidized bed (CFB). Metode yang digunakan adalah direct co-firing dengan rasio biomassa woodchip sebesar 5 %, tanpa modifikasi peralatan utama. Biomassa yang digunakan berasal dari sumber potensi lokal, terdiri atas kayu lamtoro, tammate, gamal, serta limbah hasil pengolahan kayu. Pengujian dilakukan pada kondisi load stabil sebesar 107 MW, dengan parameter operasi boiler (fuel flow, furnace exit gas temperature, air-fuel ratio, dan total air flow) tetap berada dalam batas toleransi. Hasil menunjukkan bahwa co-firing 5 % woodchip meningkatkan specific fuel consumption (SFC) dibandingkan pembakaran batu bara murni, akibat penurunan nilai kalor dan tingginya kadar kelembapan. Dari sisi biaya produksi, potensi penghematan biaya produksi sebesar Rp 2,26/kWh dan co-firing memberikan dampak positif berupa penurunan emisi SO? sebesar 29,6 % dan NOx sebesar 58,3 %. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi sebagai tambahan referensi mengenai penerapan co-firing biomassa woodchip pada PLTU dengan boiler CFB di Indonesia.
ANALISIS KELAYAKAN TEKNO EKONOMI PROYEK PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA TERAPUNG 100 MW DI WADUK JATILUHUR INDONESIA MENGGUNAKAN RETSCREEN UNTUK MENCAPAI TARGET NZE TAHUN 2060
Pergeseran global menuju sistem energi terbarukan termasuk tenaga surya, angin, hidrogen, pasang surut, panas bumi, dan biomassa didorong oleh kebutuhan mendesak untuk memerangi perubahan iklim dan menurunnya ketersediaan sumber daya bahan bakar fosil. Pada tahun 2050, hampir 90% pembangkitan listrik global diharapkan berasal dari sumber terbarukan, dengan tenaga surya fotovoltaik (PV) dan energi angin secara kolektif berkontribusi sekitar 70%. Indonesia, yang diberkahi dengan potensi energi terbarukan yang signifikan terutama dalam energi surya karena iklim tropisnya telah menetapkan target untuk mencapai Emisi Nol Bersih (NZE) pada tahun 2060. Studi ini mengevaluasi kelayakan tekno-ekonomi dari proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung 100 MW di Waduk Jatiluhur di Indonesia menggunakan RETScreen. Lima skenario dianalisis untuk menilai kelayakan proyek. Temuan tersebut menyoroti bahwa penerapan feed-in tariff dan tax holiday secara signifikan meningkatkan kelayakan finansial dan teknis proyek. Selain itu, analisis emisi mengungkap bahwa proyek FSPV Jatiluhur berpotensi mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 149.133 tCO2 per tahun, yang berkontribusi terhadap target NZE Indonesia pada tahun 2060. Hasil ini menggarisbawahi pentingnya dukungan kebijakan dan investasi energi terbarukan dalam mencapai transisi energi berkelanjutan.
PENGARUH KEPUASAN ATAS KEBIJAKAN INSENTIF DAN TINGKAT KEPERCAYAAN TEKNOLOGI TERHADAP ITENSI PENGGUNAAN SEPEDA MOTOR LISTRIK
Perubahan iklim yang semakin parah mendorong perlunya solusi untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, salah satunya melalui adopsi kendaraan listrik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi niat konsumen dalam menggunakan sepeda motor listrik di Indonesia dengan mengembangkan model konseptual yang diperluas dari Unified Theory of Acceptance and Use of Technology 2 (UTAUT2). Model ini menambahkan dua konstruk baru, yaitu kepuasan terhadap kebijakan insentif dan kepercayaan terhadap teknologi. Data dikumpulkan melalui survei terhadap pengguna potensial sepeda motor listrik, yang disebarkan secara online menggunakan kuesioner melalui platform WhatsApp. Penelitian ini menggunakan teknik convenience sampling dengan kriteria kelas ekonomi menengah ke atas, dan dari 354 responden yang mengisi kuesioner, 342 responden memenuhi kriteria. Setelah pembersihan data, 12 responden dihapus karena tidak memenuhi kriteria dan 2 responden yang terdeteksi sebagai outlier dikeluarkan, sehingga 340 data valid digunakan untuk analisis lebih lanjut. Data dianalisis menggunakan Covariance-Based Structural Equation Modeling (CB-SEM) dengan bantuan perangkat lunak SmartPLS 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tujuh faktor yang berpengaruh signifikan terhadap niat untuk menggunakan sepeda motor listrik, yaitu Performance Expectancy (PE), Technology Trust (TT), Effort Expectancy (EE), Social Influence (SI), Satisfaction with Incentive Policies (SIP), Facilitating Conditions (FC), dan Price Value (PV). Di antara faktor-faktor tersebut, Performance Expectancy (PE), Technology Trust (TT), dan Effort Expectancy (EE) ditemukan sebagai tiga faktor yang paling kuat memengaruhi niat konsumen. Sebaliknya, faktor Habit (HB) dan Hedonic Motivation (HM) tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap keputusan untuk menggunakan sepeda motor listrik. Temuan ini memberikan wawasan yang penting bagi PT. PLN (Persero) untuk merancang strategi pemasaran yang efektif, termasuk pemanfaat peluang dari kebijakan insentif dan pembangunan infrastruktur pendukung, guna mempercepat transisi ke penggunaan kendaraan listrik di Indonesia. Penelitian ini juga memberikan kontribusi terhadap upaya pengurangan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dan pengurangan emisi karbon yang berbahaya bagi lingkungan. ii Dengan demikian, penelitian ini berkontribusi pada pencapaian tujuan Indonesia untuk mencapai net zero emission pada tahun 2060, serta mendukung pencapaian target nasional dalam memitigasi dampak perubahan iklim secara global.
ANALISIS EMISI GAS RUMAH KACA DENGAN METODE LIFE CYCLE ASSESSMENT DI PT PLN NUSANTARA POWER UP INDRAMAYU
Kesadaran global akan perubahan iklim mendorong berbagai pelaku industri untuk mengevaluasi dampak lingkungan dari kegiatan operasional mereka, khususnya untuk emisi gas rumah kaca yang dihasilkan. PT PLN Nusantara Power UP Indramayu yang merupakan bagian dari sektor industri energi juga menghasilkan emisi gas rumah kaca dengan dampak lingkungan yang signifikan. Makalah ini menganalisis emisi gas rumah kaca di PT PLN Nusantara Power UP Indramayu menggunakan metode Life Cycle Assessment (LCA) dengan unit fungsional 1 kWh dan ruang lingkup gate to gate aktivitas pembangkitan listrik mulai dari unit proses kondensor hingga generator-trafo. Hotspot dari aktivitas pembangkitan listrik ditemukan pada unit proses boiler yang menyumbang 99,98% dampak global warming potential (GWP) dari nilai GWP keseluruhan 0,001020865 ton CO2 eq/kWh. Begitu pula dengan dampak photochemical ozone creation potential (POCP) dimana boiler menyumbang 99,99% dari keseluruhan nilai POCP sebesar 0,000703089752 gr C?H? eq/kWh. Ditemukan juga tren kenaikan emisi gas rumah kaca dari PLTU Indramayu dengan persentase kenaikan emisi dari tahun 2021 ke 2022 adalah sebesar 4,89% dan dari tahun 2022 ke 2023 adalah sebesar 5,31%. Rekomendasi solusi untuk mereduksi emisi gas rumah kaca diantaranya adalah optimalisasi teknologi co-firing, penggunaan teknologi carbon capture, dan penggunaan Ultra Super Critical (USC) Boiler.
KAJIAN EMISI GAS RUMAH KACA DARI AKTIVITAS DI KAMPUS JATINANGOR-INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
Perubahan iklim merupakan salah satu isu yang senantiasa menjadi sorotan utama dalam diskusi-diskusi perihal isu lingkungan. Hal ini disebabkan oleh peningkatan emisi gas rumah kaca yang menyebabkan peningkatan temperatur global. Kampus Jatinangor Institut Teknologi Bandung sedang melalui proses pengembangan guna mencapai status “eco-campus”. Dengan demikian, perlu adanya inventarisasi serta perencanaan mitigasi emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari setiap sektor kegiatan di Kampus ITB Jatinangor. Penelitian ini berupaya untuk menginventarisasi seluruh sumber emisi gas rumah kaca di Kampus ITB Jatinangor, besaran emisi gas rumah kaca yang dihasilkan tiap sumber, serta menyediakan alternatif-alternatif mitigasi emisi gas rumah kaca yang dapat dilakukan. Berdasarkan panduan dari International Panel on Climate Change (IPCC), dilakukan penelitian terhadap besaran emisi gas rumah kaca dari tiga lingkup aktivitas: scope 1 melingkupi kegiatan yang dikelola langsung oleh pihak kampus (kegiatan kantin, shuttle kampus, produksi air, pengelolaan limbah cair, dan pengomposan sampah), scope 2 (penggunaan listrik), dan scope 3 melingkupi kegiatan yang tidak dikelola kampus secara langsung (transportasi mahasiswa, transportasi dosen, dan pengelolaan sampah anorganik). Emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh Kampus ITB Jatinangor diestimasikan mencapai 3.400,68 tonCO2e/tahun. Diajukan alternatif terkait empat sektor aktivitas berbeda untuk membantu reduksi emisi gas rumah kaca, dengan penanaman hutan dan arboretum kampus sebagai alternatif paling efektif (mereduksi 42,92% dari emisi total).