📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 5 dokumen

KO-EVOLUSI KERANGKA INSTITUSIONAL DAN STRATEGI KORPORASI DALAM SEKTOR ENERGI: STUDI KOMPARATIF SIEMENS ENERGY DAN SAUDI ARAMCO (2000–2024)

This thesis examines the co-evolution of national institutional frameworks and corporate strategies in the energy sector through a longitudinal comparative case study of Siemens Energy (Germany) and Saudi Aramco (Saudi Arabia) from 2000 to 2024. Drawing on co-evolutionary and institutional theory and using the Variation–Selection–Retention (VSR) framework to structure the process analysis, the study examines how Germany's Energiewende and Saudi Arabia's Vision 2030 shaped corporate strategic adjustment and how firm actions reinforced institutional priorities. Using secondary sources (policy documents, corporate reports, and industry publications), the findings show that Germany's decentralized, regulation-driven context encouraged Siemens Energy to pursue proactive innovation in renewables, grids, and hydrogen, generating mutual legitimacy between policy and strategy. In contrast, Saudi Arabia's centralized, state-led model guided Aramco toward incremental diversification through carbon management and emerging clean fuels, with feedback occurring mainly through legitimacy and implementation. The thesis contributes a governance-sensitive account of recursive institutional–corporate adaptation in energy transitions.

2026
👤 Penulis: Mohamad Alif Bintang
🏷️ Energi 🏷️ Institusi Energi 🏷️ Ko-Evolusi

STRATEGI PENGEMBANGAN BISNIS UNTUK MENINGKATKAN JUMLAH PENGUNJUNG DI SPBU YANG MENGHADAPI GANGGUAN INDUSTRI

Industri SPBU di Indonesia sedang mengalami perubahan struktural yang didorong oleh kenaikan biaya operasional, tekanan regulasi, persaingan yang semakin ketat, dan tahap awal elektrifikasi mobilitas. SPBU di wilayah perkotaan padat penduduk seperti Jakarta mengalami penyusutan margin keuntungan karena meningkatnya biaya operasional, sementara margin bahan bakar tetap diatur secara ketat. Di saat yang sama, pergeseran ekspektasi konsumen terhadap kualitas layanan yang lebih tinggi, peningkatan fasilitas, dan kemudahan digital semakin membentuk kembali lanskap persaingan. Dengan latar belakang ini, studi ini mengkaji dua pertanyaan penelitian utama: (1) Apa penyebab penurunan jumlah pengunjung di SPBU? dan (2) Bagaimana pemilik SPBU dapat meningkatkan margin keuntungan? Pertanyaan-pertanyaan ini dimotivasi oleh kebutuhan SPBU—terutama yang beroperasi di bawah jaringan Pertamina—untuk mendesain ulang model bisnis dan sistem operasional mereka agar tetap kompetitif dalam industri yang menghadapi disrupsi teknologi dan perilaku. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran, yang mengintegrasikan wawancara kualitatif dengan manajer dan supervisor SPBU, survei pelanggan kuantitatif, dan alat analisis strategis. Studi ini menerapkan kerangka kerja analitis yang mencakup PESTEL, Lima Kekuatan Porter, Resource-Based View (RBV), analisis VRIO, analisis pelanggan, dan formulasi strategi SWOT–TOWS untuk menilai secara komprehensif lingkungan internal dan eksternal SPBU studi kasus (PT Duta Selatan Cemerlang). Wawancara memberikan wawasan tentang tantangan operasional, struktur biaya, dan kendala manajerial, sementara survei pelanggan menangkap preferensi pengguna terkait akurasi, kualitas layanan, kebersihan, kenyamanan, aksesibilitas, layanan digital, dan penawaran pelengkap. Temuan-temuan ini disintesis untuk mengidentifikasi akar penyebab erosi margin dan merumuskan rekomendasi strategis. Temuan menunjukkan bahwa penurunan jumlah pengunjung terutama disebabkan oleh kelemahan operasional internal dan ketidaksesuaian dengan ekspektasi pelanggan yang terus berkembang, bukan faktor harga bahan bakar. Kualitas layanan yang tidak konsisten, kebersihan dan kenyamanan fasilitas yang tidak memadai, disiplin operasional yang lemah, dan loyalitas pelanggan yang terbatas mengurangi kunjungan berulang. Secara eksternal, persaingan yang ketat, meningkatnya ekspektasi pelanggan, dan munculnya solusi mobilitas alternatif semakin memperkuat perilaku pelanggan yang beralih. Untuk mengatasi tantangan ini, penelitian ini mengusulkan kerangka kerja perbaikan strategis yang mengintegrasikan keunggulan operasional dengan peningkatan model bisnis. Strategi jangka pendek menekankan perbaikan fasilitas, peningkatan kebersihan, peningkatan layanan, dan penerapan SOP standar untuk meningkatkan konsistensi di seluruh shift. Strategi jangka menengah berfokus pada sistem pemeliharaan preventif, pelatihan staf, dan optimalisasi manajemen antrean untuk meningkatkan throughput dan mengurangi waktu henti peralatan. Strategi jangka panjang melibatkan inisiatif pengembangan bisnis, termasuk perluasan ritel non-bahan bakar (NFR) seperti minimarket, kafe, layanan nitrogen, kios digital, dan layanan terkait kendaraan, yang menawarkan margin lebih tinggi daripada penjualan bahan bakar. Lebih lanjut, transformasi digital—yang mencakup pembayaran non-tunai, sistem informasi pelanggan, dan pemantauan operasional berbasis data—diidentifikasi sebagai hal yang krusial bagi daya saing di masa depan. Terakhir, studi ini merekomendasikan persiapan strategis untuk infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik (SPKLU) sebagai bagian dari transformasi berwawasan ke depan yang selaras dengan kebijakan transisi energi nasional. Kontribusi penelitian ini terletak pada kerangka kerja analitis terintegrasi yang menggabungkan wawasan pelanggan, penilaian kapabilitas internal, dan dinamika industri eksternal untuk merumuskan strategi praktis bagi transformasi SPBU. Temuan ini memberikan landasan pengambilan keputusan bagi pemilik SPBU yang ingin meningkatkan profitabilitas sekaligus beradaptasi dengan disrupsi industri jangka panjang. Selain itu, studi ini menawarkan kerangka kerja yang terukur dan dapat diterapkan pada SPBU serupa di seluruh Indonesia yang menghadapi tantangan serupa. Dengan menjembatani realitas operasional dengan pandangan ke depan yang strategis, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan model bisnis SPBU yang lebih tangguh dan kompetitif dalam lanskap energi dan mobilitas yang terus berkembang.

2026
👤 Penulis: Patrick Ekklesio H Dachi
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi 🏷️ Energi

KELAYAKAN STRATEGIS KOMERSIALISASI GYPSUM FLUE GAS DESULFURIZATION (FGD) DI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA UAP (PLTU)

Lanskap energi global saat ini tengah mengalami pergeseran menuju keberlanjutan, yang mendorong pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) konvensional untuk mencari strategi alternatif dalam pengelolaan limbah dan penciptaan nilai. PT Sumatera Pembangkit, pengelola PLTU mulut tambang berkapasitas 1.320 MW di Sumatera Selatan, menghadapi tantangan yang semakin besar dalam menangani limbah industrinya, khususnya gypsum hasil Flue Gas Desulfurization (FGD) yang saat ini ditimbun sebagai limbah B3 berdasarkan regulasi Indonesia. Meskipun memiliki kemurnian kimia tinggi dan relevan untuk aplikasi industri, material ini belum dimanfaatkan secara optimal. Tesis ini menelaah kelayakan strategis dari upaya komersialisasi gypsum FGD melalui pendekatan product differentiation yang menekankan kualitas teknis, keselarasan dengan prinsip ESG, serta keunggulan logistik wilayah. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi kemungkinan transformasi gypsum FGD dari beban regulasi menjadi peluang bisnis dengan membedakannya dari gypsum alam maupun impor, sehingga yang dapat mengurangi risiko lingkungan dan operasional, sembari membuka potensi pendapatan baru. Inisiatif ini juga sejalan dengan agenda ekonomi sirkular Indonesia dan upaya substitusi impor bahan baku industri, khususnya gypsum. Penilaian dilakukan melalui pendekatan mixed-method yang menggabungkan data kualitatif dan kuantitatif melalui wawancara, survei, serta dokumen internal perusahaan. Faktor eksternal dianalisis menggunakan kerangka PESTEL dan Porter’s Five Forces, sementara kapabilitas internal dievaluasi melalui pemetaan rantai nilai dan analisis sumber daya. Kelayakan finansial dikaji melalui pendekatan Cost-Benefit Analysis (CBA), sementara persepsi pelanggan dihimpun dari pelaku industri semen dan konstruksi di wilayah Jawa dan Sumatera. Alat analisis seperti SWOT dan TOWS digunakan untuk mensintesis temuan dan merumuskan strategi yang dapat diimplementasikan. Di sisi pemasaran, kerangka B2B diterapkan melalui pendekatan STP (Segmentasi, Targeting, Positioning) serta bauran pemasaran (4P). Temuan menunjukkan bahwa gypsum FGD yang dihasilkan PT Sumatera Pembangkit telah memenuhi spesifikasi teknis yang disyaratkan oleh konsumen industri, khususnya produsen semen. Analisis biaya-manfaat menunjukkan bahwa opsi komersialisasi memberikan penghematan signifikan dalam biaya penanganan limbah serta menghasilkan Net Present Value (NPV) yang positif. Meski demikian, terdapat berbagai hambatan internal seperti belum adanya sertifikasi SNI, keterbatasan infrastruktur komersial, serta pembatasan regulasi terhadap pemanfaatan limbah B3. Dari sisi eksternal, kompetisi dari produk impor dan sikap hati-hati pembeli menjadi tantangan tersendiri, meskipun terdapat kecenderungan ketertarikan pasar terhadap gypsum lokal jika jaminan harga, kualitas, dan kontinuitas pasokan terpenuhi. Penelitian ini merekomendasikan strategi tiga pilar: [1] Penyesuaian regulasi dan kesiapan operasional, termasuk revisi izin lingkungan, sertifikasi SNI, dan pembangunan infrastruktur dasar; [2] Pengembangan pasar dan pendekatan pelanggan melalui uji coba produk, promosi terarah, serta komunikasi berbasis ESG; dan [3] Penguatan kapabilitas melalui pembentukan unit komersialisasi khusus dan kerja sama eksternal untuk logistik dan pengujian. Ketiga pilar ini dirancang untuk mentransformasi gypsum FGD dari kewajiban regulatif menjadi input industri yang memiliki nilai strategis dan finansial. Tesis ini memberikan kontribusi terhadap kajian akademik terkait pemanfaatan limbah industri di sektor energi dan menjadi referensi praktis bagi operator PLTU yang tengah menyusun strategi diversifikasi pasca proyek. Penelitian ini menunjukkan bahwa product differentiation yang berlandaskan kepatuhan ESG, responsivitas lokal, dan kualitas teknis yang konsisten dapat menjadi strategi komersialisasi yang efektif untuk menjadikan limbah hasil pembakaran batu bara sebagai input industri yang kompetitif. Bagi PT Sumatera Pembangkit, langkah ke depan bukan hanya soal mengelola limbah, tetapi mengubahnya menjadi sumber nilai jangka panjang.

2025
👤 Penulis: Ferandi Eka Yarsi
🏷️ Energi 🏷️ Limbah Industri 🏷️ Product Differentiation

KAJIAN PASOKAN BATUBARA NASIONAL UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN ENERGI INDONESIA.

Energi berperan besar terhadap pembangunan nasional Indonesia. Bagi sektor perekonomian Indonesia, energi berperan ganda sebagai penghasil devisa negara serta sebagai pendorong kegiatan industrialisasi. Energi primer di Indonesia masih didominasi oleh penggunaan minyak bumi. Dengan jumlah ketersediaan minyak bumi yang semakin berkurang, maka batubara diharapkan dapat menjadi komoditas utama yang menggantikan peran minyak bumi dalam pemenuhan energi nasional. Batubara merupakan salah satu sumber energi primer yang diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan jumlah keterdapatan yang cukup tinggi, maka batubara dirasa mampu untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri. Batubara harus dimanfaatkan secara efektif, efisien, dan ekonomis agar dapat mendorong tercapainya target pertumbuhan ekonomi Indonesia. Saat ini Indonesia masih dikategorikan sebagai negara berkembang dengan nilai PDB per kapita sebesar US$3.592 (World Bank, 2012). Dalam dokumen MP3EI disebutkan bahwa sekitar 14 – 18 tahun ke depan Indonesia dapat dikategorikan sebagai negara maju. Oleh karena itu, Indonesia diharapkan dapat mengejar kesetaraan ekonomi dengan negara maju yang berada di wilayah Asia Pasifik yaitu Australia, Singapura, Jepang, Brunei Darussalam, Selandia Baru, Korea Selatan, dan Taiwan. Berdasarkan tingkat PDB per kapita nominal pada periode 2001 – 2012 didapatkan rata-rata pertumbuhan PDB per kapita Indonesia sebesar 15,5%, Taiwan sebesar 6,5%, dan Korea Selatan sebesar 4%. Dengan kondisi ekonomi tersebut, Indonesia dapat mencapai konvergensi dengan Taiwan pada tahun 2028 dan dengan Korea Selatan pada tahun 2035. Kedua negara tersebut merupakan tolok ukur ekonomi negara maju di kawasan Asia Pasifik dengan nilai PDB per kapita yang masih dapat didekati oleh Indonesia. Dilakukan peramalan jumlah konsumsi total energi dan konsumsi batubara Indonesia dengan menggunakan model ekonometrik dengan metode OLS yang dibentuk dengan menggunakan data historis kondisi ekonomi dan energi Indonesia pada periode 2001 – 2011. Model konsumsi energi Indonesia merupakan variabel terikat yang dibentuk ii oleh beberapa variabel bebas yaitu Produk Domestik Bruto Indonesia, harga jual listrik industri, dan konsumsi energi pada tahun sebelumnya. Dari hasil pemodelan kemudian didapatkan model persamaan konsumsi energi Indonesia adalah Ed = 0,483 PDB - 0,011 Pe - 0,128 Lag Ed + 49,92. Sedangkan, model konsumsi batubara Indonesia merupakan variabel terikat yang dibentuk oleh beberapa variabel bebas yaitu Produk Domestik Bruto Indonesia, harga jual batubara, harga jual minyak bumi, harga jual gas, dan konsumsi energi pada tahun sebelumnya. Model persamaan konsumsi batubara Indonesia yang dibentuk dari model tersebut adalah Cd = 0,1153 PDB + 0,3282 Pc + 0,5375 Po – 1,9909 Pg – 0,2287 Lag Cd + 1,2865. Dari hasil perhitungan dengan persamaan yang telah dibentuk, didapatkan nilai ratarata pertumbuhan konsumsi energi Indonesia hingga tahun 2025 adalah sebesar 4,7% dan nilai rata-rata pertumbuhan konsumsi batubara Indonesia sebesar 5,4%. Jumlah total energi yang dibutuhkan oleh Indonesia untuk mencapai kesetaraan ekonomi dengan Taiwan pada periode 2012 – 2028 adalah sebesar 4.049 Mtoe dengan jumlah batubara sebesar 2.577 juta ton atau sebanding dengan 1.391 Mtoe. Konsumsi total energi yang dibutuhkan oleh Indonesia untuk mencapai kesetaraan ekonomi dengan Korea Selatan pada periode 2012 – 2035 adalah sebesar 6.953 Mtoe dengan jumlah batubara sebesar 4.421 juta ton atau sebanding dengan 2.387 Mtoe. Cadangan batubara Indonesia pada tahun 2012 adalah sebesar 28,9 miliar ton. Dengan hasil peramalan energi seperti pada perhitungan dapat diketahui bahwa dengan asumsi tanpa adanya penambahan cadangan baru dengan nilai konsumsi dalam negeri sebesar 30% dari total produksi, batubara dapat dimanfaatkan untuk konsumsi energi domestik hingga tahun 2046. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa batubara masih dapat digunakan sebagai sumber energi utama untuk mendukung tingkat perekonomian Indonesia agar dapat setara dengan negara-negara maju di kawasan Asia Pasifik.

2025
👤 Penulis: Dwi Pangestu Ramadhani
🏷️ Energi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

KAJIAN PASOKAN BATUBARA NASIONAL UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN ENERGI INDONESIA.

Energi berperan besar terhadap pembangunan nasional Indonesia. Bagi sektor perekonomian Indonesia, energi berperan ganda sebagai penghasil devisa negara serta sebagai pendorong kegiatan industrialisasi. Energi primer di Indonesia masih didominasi oleh penggunaan minyak bumi. Dengan jumlah ketersediaan minyak bumi yang semakin berkurang, maka batubara diharapkan dapat menjadi komoditas utama yang menggantikan peran minyak bumi dalam pemenuhan energi nasional. Batubara merupakan salah satu sumber energi primer yang diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan jumlah keterdapatan yang cukup tinggi, maka batubara dirasa mampu untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri. Batubara harus dimanfaatkan secara efektif, efisien, dan ekonomis agar dapat mendorong tercapainya target pertumbuhan ekonomi Indonesia. Saat ini Indonesia masih dikategorikan sebagai negara berkembang dengan nilai PDB per kapita sebesar US$3.592 (World Bank, 2012). Dalam dokumen MP3EI disebutkan bahwa sekitar 14 – 18 tahun ke depan Indonesia dapat dikategorikan sebagai negara maju. Oleh karena itu, Indonesia diharapkan dapat mengejar kesetaraan ekonomi dengan negara maju yang berada di wilayah Asia Pasifik yaitu Australia, Singapura, Jepang, Brunei Darussalam, Selandia Baru, Korea Selatan, dan Taiwan. Berdasarkan tingkat PDB per kapita nominal pada periode 2001 – 2012 didapatkan rata-rata pertumbuhan PDB per kapita Indonesia sebesar 15,5%, Taiwan sebesar 6,5%, dan Korea Selatan sebesar 4%. Dengan kondisi ekonomi tersebut, Indonesia dapat mencapai konvergensi dengan Taiwan pada tahun 2028 dan dengan Korea Selatan pada tahun 2035. Kedua negara tersebut merupakan tolok ukur ekonomi negara maju di kawasan Asia Pasifik dengan nilai PDB per kapita yang masih dapat didekati oleh Indonesia. Dilakukan peramalan jumlah konsumsi total energi dan konsumsi batubara Indonesia dengan menggunakan model ekonometrik dengan metode OLS yang dibentuk dengan menggunakan data historis kondisi ekonomi dan energi Indonesia pada periode 2001 – 2011. Model konsumsi energi Indonesia merupakan variabel terikat yang dibentuk ii oleh beberapa variabel bebas yaitu Produk Domestik Bruto Indonesia, harga jual listrik industri, dan konsumsi energi pada tahun sebelumnya. Dari hasil pemodelan kemudian didapatkan model persamaan konsumsi energi Indonesia adalah Ed = 0,483 PDB - 0,011 Pe - 0,128 Lag Ed + 49,92. Sedangkan, model konsumsi batubara Indonesia merupakan variabel terikat yang dibentuk oleh beberapa variabel bebas yaitu Produk Domestik Bruto Indonesia, harga jual batubara, harga jual minyak bumi, harga jual gas, dan konsumsi energi pada tahun sebelumnya. Model persamaan konsumsi batubara Indonesia yang dibentuk dari model tersebut adalah Cd = 0,1153 PDB + 0,3282 Pc + 0,5375 Po – 1,9909 Pg – 0,2287 Lag Cd + 1,2865. Dari hasil perhitungan dengan persamaan yang telah dibentuk, didapatkan nilai ratarata pertumbuhan konsumsi energi Indonesia hingga tahun 2025 adalah sebesar 4,7% dan nilai rata-rata pertumbuhan konsumsi batubara Indonesia sebesar 5,4%. Jumlah total energi yang dibutuhkan oleh Indonesia untuk mencapai kesetaraan ekonomi dengan Taiwan pada periode 2012 – 2028 adalah sebesar 4.049 Mtoe dengan jumlah batubara sebesar 2.577 juta ton atau sebanding dengan 1.391 Mtoe. Konsumsi total energi yang dibutuhkan oleh Indonesia untuk mencapai kesetaraan ekonomi dengan Korea Selatan pada periode 2012 – 2035 adalah sebesar 6.953 Mtoe dengan jumlah batubara sebesar 4.421 juta ton atau sebanding dengan 2.387 Mtoe. Cadangan batubara Indonesia pada tahun 2012 adalah sebesar 28,9 miliar ton. Dengan hasil peramalan energi seperti pada perhitungan dapat diketahui bahwa dengan asumsi tanpa adanya penambahan cadangan baru dengan nilai konsumsi dalam negeri sebesar 30% dari total produksi, batubara dapat dimanfaatkan untuk konsumsi energi domestik hingga tahun 2046. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa batubara masih dapat digunakan sebagai sumber energi utama untuk mendukung tingkat perekonomian Indonesia agar dapat setara dengan negara-negara maju di kawasan Asia Pasifik.

2025
👤 Penulis: Dwi Pangestu Ramadhani
🏷️ Energi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi
💬