📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 9 dokumen

STUDI EKSPERIMENTAL KONVERSI LIMBAH BAN MOTOR MENJADI BAHAN BAKAR CAIR MENGGUNAKAN PROSES PIROLISIS

dilakukan evaluasi mengenai kemandirian energi pada proses pirolisis yang dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa parameter optimal dari variasi ukuran sampel dan temperatur proses yang digunakan berada pada temperatur 500 °C dengan ukuran sampel 4x4 cm yang menghasilkan produk cair dengan massa tertinggi, yaitu sebesar 47 % dari total massa limbah ban motor. Produk cair yang dihasilkan memiliki nilai kalor sebesar 47,7 MJ/kg, nilai viskositas kinematik sebesar 4,04 cSt yang memenuhi spesifikasi dari bahan bakar diesel, angka setana yang kurang dari 20,6 dan densitas sebesar 923 kg/m3 masih belum memenuhi spesifikasi. Meski demikian, proses pirolisis dengan parameter optimal telah mencapai kemandirian energi dengan kebutuhan energi sebesar 79,3% dari total energi yang dihasilkan pada produk cair. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa proses pirolisis dapat digunakan sebagai metode pengolahan limbah ban motor sekaligus menjadi sumber energi alternatif, meskipun diperlukan proses lanjutan untuk meningkatkan kualitas dari produk cair agar memenuhi spesifikasi bahan bakar cair yang berlaku.

2026
👤 Penulis: Joaquin Hanif
🏷️ Proses Pirolisis 🏷️ Energi Alternatif 🏷️ Kecerdasan Buatan

PEMODELAN SISTEM DINAMIS UNTUK EVALUASI KEBIJAKAN PENINGKATAN PRODUKSI BIOETANOL FUEL-GRADE BERBASIS TEBU DI INDONESIA

Abstrak bisa dilihat di filenya

2026
👤 Penulis: M Syolahudin Abdurrahman
🏷️ Energi Alternatif 🏷️ Analisis Dinamis 🏷️ Bioetanol

ANALISIS POTENSI EMISI GAS RUMAH KACA DARI SEKTOR PENGELOLAAN LIMBAH CAIR DOMESTIK(STUDI KASUS: IPAL KOMUNAL DAN TANGKI SEPTIK DI KOTA BANDUNG)

Isu perubahan iklim global semakin menguatkan urgensi untuk menilai dan menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) dari berbagai sektor, termasuk pengelolaan air limbah domestik di kawasan urban. Kota Bandung, sebagai salah satu kota besar dengan kepadatan penduduk yang tinggi, menghadapi tantangan kompleks dalam penyediaan layanan sanitasi yang efisien dan berkelanjutan. Sistem pengelolaan limbah domestik yang digunakan saat ini masih didominasi oleh sistem individual berupa tangki septik, dengan sebagian lainnya mengandalkan fasilitas pengolahan terpusat (IPAL komunal) yang belum optimal secara operasional. Dalam konteks ini, penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi, mengukur dan menganalisis kontribusi emisi GRK, khususnya metana (CH?), karbon dioksida (CO?) dan dinitrogen oksida (N?O), dari dua sistem utama untuk air limbah di Kota Bandung, yaitu IPAL komunal dan tangki septik. Tujuan utama dari penelitian ini adalah mengukur dan membandingkan tingkat emisi GRK yang dihasilkan oleh sistem pengolahan air limbah domestik komunal dan individual, serta mengevaluasi efisiensi sistem tersebut dalam menekan dampak lingkungan. Untuk mencapai tujuan tersebut, pendekatan yang digunakan mencakup pengukuran langsung dengan metode ruang fluks dan gas analyser, pengambilan dan analisis sampel di laboratorium menggunakan teknik Gas Chromatography (GC-TCD), serta perhitungan teoritis berbasis panduan IPCC 2019. Studi dilakukan pada empat lokasi penelitian yang mewakili kedua sistem, dengan pengambilan data empiris selama satu hari di masing-masing lokasi. Data primer dikumpulkan melalui pengukuran fluks emisi, diiringi dengan pengambilan sampel air limbah dan gas. Data sekunder diperoleh dari berbagai lembaga, termasuk BPS, KLHK, serta wawancara dengan pengelola unit sistem sanitasi.Hasil pengukuran menunjukkan bahwa sistem tangki septik menghasilkan emisi GRK lebih tinggi dibanding IPAL komunal. CH? pada tangki septik tercatat sebesar 0,44 kg/orang/tahun, sementara IPAL komunal berkisar 0,58 kg/orang/tahun. Emisi CO? dari tangki septik jauh lebih tinggi, mencapai 1,88kg/orang/tahun, dibanding IPAL (0,31 kg/orang/tahun). Untuk N?O, hasil GC menunjukkan konsentrasi 0,01 kg/orang/tahun dari tangki septik dan 0,03 kg/orang/tahun dari IPAL. Sehingga, estimasi total emisi tahunan Kota Bandung dari sektor limbah domestik masing-masing GRK, gas CO? seberat 2,2 Gg, gas CH? 0,8 Gg dan N?O 0,04 Gg, dengan dominasi dari sistem tangki septik. Jika dibandingkan dengan penelitian sejenis, seperti Leverenz et al. (2010) dan Ddiba et al. (2024), penelitian ini menawarkan dua keunggulan penting: penggunaan metode gabungan pengukuran langsung dan perhitungan teoritis, serta penerapan pendekatan lokasi-spesifik yang relevan dengan karakteristik wilayah tropis dan urban di Indonesia. Pendekatan analisis diferensial terhadap fluks gas secara waktu nyata menghasilkan data emisi yang lebih akurat daripada model default IPCC semata. Selain itu, integrasi uji statistik komparasi dan korelasi memungkinkan identifikasi parameter utama yang berpengaruh terhadap variasi emisi GRK antar sistem, seperti kadar BOD, COD dan suhu limbah. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada integrasi pengukuran emisi GRK dari sistem pengelolaan limbah domestik di lingkungan urban padat, yang memadukan metode ruang fluks dengan evaluasi laboratorium dan simulasi IPCC dalam satu studi terpadu. Belum ada studi sebelumnya yang mengkaji secara komprehensif perbedaan emisi CH?, CO? dan N?O antar sistem IPAL komunal dan tangki septik di wilayah perkotaan Indonesia, apalagi dengan memperhitungkan skala populasi dan distribusi sistem secara aktual.Kontribusi utama penelitian ini terhadap ilmu pengetahuan adalah penyediaan data dasar emisi GRK dari sektor sanitasi domestik di negara berkembang, khususnya dalam konteks urbanisasi dan sistem sanitasi campuran. Temuan ini memberikan landasan empiris untuk kebijakan pengurangan emisi GRK dari sektor limbah, termasuk peningkatan efisiensi sistem IPAL komunal, adopsi teknologi pemanfaatan biogas dari tangki septik, serta pengembangan strategi sanitasi rendah karbon di tingkat kota. Penelitian ini juga membuka peluang untuk integrasi data emisi sektor sanitasi dalam inventarisasi GRK nasional, serta pengembangan model mitigasi berbasis spasial dan sosial-ekonomi.

2025
👤 Penulis: Aiman Muin
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Energi Alternatif

SKENARIO PENGEMBANGAN OPTIMAL UNTUK PRODUKSI MINYAK DAN GAS PT PERTAMINA HULU ENERGI PADA RJPP 2025-2029

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi skenario pengembangan optimal pada produksi minyak dan gas di PT Pertamina Hulu Energi (PHE) selama periode 2025-2029. PHE menghadapi tantangan keberlanjutan produksi dan harus beradaptasi dengan tren energi global yang dinamis. Penelitian ini menganalisis tiga skenario yaitu Ordinary State, Appropriate Sustainability, dan Economic Renaissance melalui metodologi SWOT, TOWS matrix dan SMART untuk menentukan pendekatan strategis yang paling efektif. Penelitian ini menunjukkan bahwa skenario keberlanjutan yang tepat menawarkan keseimbangan terbaik, mencapai tingkat pertumbuhan produksi 5% sekaligus memastikan kelayakan investasi, kepatuhan ESG, dan penyelarasan strategis. Inisiatif strategis untuk menjembatani kesenjangan produksi termasuk eksplorasi agresif, prioritas pengeboran pengembangan, merger dan akuisisi yang selektif, dan ekspansi bisnis rendah karbon tahap awal melalui proyek CCS/CCUS. Studi ini menyoroti pentingnya penerapan lima pilar strategis yaitu, menjaga baseline produksi, pertumbuhan produksi, transisi energi, daya saing, dan pengembangan bisnis bernilai tambah. Pilar-pilar ini sangat penting untuk mencapai target produksi 1.513 MBOEPD pada tahun 2029 dan memastikan ketahanan operasional dan keuangan jangka panjang PHE. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan analisa dan strategic recommendation yang dapat PT Pertamina Hulu Energi implementasikan, PHE diharapkan dapat mempertahankan posisinya sebagai penggerak utama ketahanan energi nasional, transisi energi global harus secara proaktif dimitigasi melalui manajemen risiko adaptif dan memperkuat perannya sebagai pemain energi kelas dunia.

2025
👤 Penulis: Tri Devrianita
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi 🏷️ Energi Alternatif

PENGARUH PENGGUNAAN BAHAN BAKAR B40 TERHADAP MOTOR DIESEL 2400 CC BERSTANDAR EMISI EURO 2 DAN EURO 4

Peningkatan kebutuhan energi dan tekanan pengurangan emisi kendaraan bermotor mendorong adopsi bahan bakar alternatif seperti biodiesel. Program B40 yang merupakan campuran 40% biodiesel dan 60% solar murni telah diterapkan di Indonesia sejak awal 2025 sebagai bagian dari strategi transisi energi nasional. Namun, karena populasi kendaraan diesel di Indonesia masih terdiri dari standar emisi EURO 2 dan EURO 4, diperlukan kajian komparatif untuk menilai kompatibilitas dan dampak penggunaan B40 terhadap kedua jenis kendaraan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penggunaan bahan bakar B40 terhadap performa dan emisi motor diesel 2400 cc pada dua kendaraan uji dengan standar emisi EURO 2 dan EURO 4. Pengujian dilakukan melalui kombinasi uji driveability, road test, chassis dynamometer, dan laboratorium. Kedua kendaraan diuji dalam kondisi yang setara dengan bahan bakar B40 sebagai variabel tetap. Hasil menunjukkan bahwa kendaraan uji EURO 2 memiliki keunggulan performa dibandingkan kendaraan uji EURO 4 seperti efisiensi konsumsi bahan bakar lebih baik 0,7 km/l, daya puncak lebih tinggi 19,5 HP, dan torsi maksimum yang lebih besar 56 Nm. Namun dalam jangka panjang Innova EURO 4 justru lebih stabil yang dapat mempertahankan nilai performa baik sebelum dan sesudah road test. Kendaraan uji EURO 2 lebih baik dalam mempertahankan kondisi komponen motor pada katup isap, ruang bakar, dan filter bahan bakar dibandingkan kendaraan uji EURO 4. Namun, kendaraan uji EURO 4 menunjukkan hasil yang lebih baik dari segi emisi dibandingkan EURO 2 berkat penggunaan sistem after treatment yang lebih canggih. Kondisi pelumas kendaraan uji EURO 4 lebih unggul karena tidak adanya kandungan FAME setelah pengujian dan berhasil mempertahankan 3,8% nilai Total Base Number (TBN) lebih baik dibandingkan kendaraan uji EURO 2.

2025
👤 Penulis: Arafi Iswara
🏷️ Energi Alternatif 🏷️ Kompatibilitas Kendaraan Diesel 🏷️ Emisi Kendaraan

PROGRAM INISIATIF PENGELOLAAN KENDARAAN RINGAN DALAM RANGKA MENDUKUNG LINGKUNGAN, SOSIAL, DAN TATA KELOLA (ESG) DI ZONA 4 REGIONAL 1 SUBHOLDING UPSTREAM PERTAMINA

Belakangan ini, tantangan perusahaan minyak dan gas semakin bertambah, selain untuk menghasilkan keuntungan, juga harus mempertimbangkan aspek ESG, dimana salah satunya pengurangan emisi karbon. Subholding Upstream Pertamina (SHU) menjadikan hal ini sebagai salah satu target capaian tahunan perusahaan dan dicascading untuk menjadi target setiap Fungsi. Untuk mendukung target Bersama tersebut, setiap fungsi harus mereview bisnis proses masing-masing, apa saja kegiatan yang menghasilkan emisi carbon, dan tentu saja melihat potensi improvement yang dapat dilakukan. Di Fungsi SCM, salah satu kegiatan yang menghasilkan emisi carbon cukup tinggi adalah penyediaan kendarangan ringan penumpang (KRP) yang mencapai lebih dari 440 unit kendaraan. Dalam konteks ini, pemilihan bahan bakar alternatif yang optimal yang menyeimbangkan efisiensi, operasional, dampak lingkungan, dan kepatuhan terhadap peraturan menjadi sangat penting. Projek akhir ini menyajikan evaluasi sistematis terhadap alternative penggunaan 4 (empat) bahan bakar, yaitu Biosolar CN48, Dexlite CN51, Pertadex CN53, dan Biosolar CN48+ Additive, dengan menggunakan tool Analytic Hierarchy Process (AHP). Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi opsi bahan bakar yang paling ramah lingkungan dan efisien yang meminimalkan emisi karbon dan polusi udara sekaligus memastikan kelayakan operasional. Penelitian ini menggunakan AHP sebagai alat pengambilan keputusan multikriteria (MCDM), untuk mengintegrasikan berbagai kriteria dan subkriteria yang penting untuk mengevaluasi opsi bahan bakar alternatif. Kriteria ini meliputi aspek Lingkungan, Ekonomi, Teknis, dan Kualitas. Penilaian ahli dari para Subject Matter Expert (SME) di sektor minyak dan gas dikumpulkan untuk melakukan perbandingan berpasangan, yang menghasilkan penilaian komprehensif untuk setiap alternatif bahan bakar. Hasil analisis mengungkapkan bahwa PT.Pertamina Dex CN53 muncul sebagai alternatif yang paling sesuai. Temuan penelitian ini memberikan wawasan yang dapat ditindaklanjuti bagi perusahaan energi dan pembuat kebijakan yang ingin mengadopsi alternatif bahan bakar yang lebih bersih, yang berkontribusi pada tujuan yang lebih luas dari manajemen energi berkelanjutan dan pelestarian lingkungan.

2025
👤 Penulis: Moh Kholid Yadi
🏷️ Energi Alternatif 🏷️ Manajemen Lingkungan 🏷️ Analisis Multikriteria

ANALISIS PROYEK INVESTASI PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK SISTEM GANDA STUDI KASUS DI LOKASI OPERASI TAMBANG SAMBARATA PT BERAU COAL

PT Berau Coal, menghadapi tantangan operasional di tambang Sambarata, terutama karena pasokan listrik yang tidak konsisten akibat sistem pasokan listrik tunggal yang terdiri dari empat generator diesel. Hal ini mempengaruhi efisiensi pabrik pengolahan batubara dan produktivitas. Penggunaan bahan bakar B30, campuran biodiesel dan solar, memiliki dampak lingkungan dan biaya operasional yang signifikan. Untuk mengatasi masalah ini, perusahaan perlu membuat pilihan investasi yang tepat, dengan fokus pada investasi aset yang dapat meningkatkan kinerja operasional dan penggunaan energi, yang berpotensi menghilangkan kerugian produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan solusi catu daya yang dapat diandalkan untuk Tambang Sambarata dengan menilai opsi-opsi investasi potensial, implikasi keuangan, operasional, dan lingkungan, serta menerapkan opsi investasi sistem ganda. Masalah catu daya sistem tunggal tidak menjamin ketersediaan kinerja 100%, yang dapat menyebabkan gangguan dan berdampak negatif terhadap operasi. Studi ini mengusulkan penerapan sistem catu daya redundansi melalui proses multilangkah, termasuk Pendekatan Strategi Bisnis (Metode Kepner-Tregoe), Analisis Anggaran Modal untuk Catu Daya Redundansi, Analisis Finansial, Analisis Risiko, dan Analisis Sensitivitas dan Simulasi Monte Carlo. Studi ini menganalisis potensi masalah yang terkait dengan pasokan listrik sistem ganda, termasuk biaya yang berlebihan, biaya operasi yang tidak berubah, masalah keandalan, dampak operasional terhadap pemrosesan batubara, dan tantangan integrasi dengan sistem yang ada. Solusi yang diusulkan adalah penerapan sistem catu daya ganda, dengan menggabungkan generator yang ada dan berlangganan ke PLN. Rencana investasi untuk PT Berau Coal Site SMO melibatkan perencanaan strategis untuk memastikan ketersediaan kinerja yang maksimal. Perencanaan sistem ini mencakup sistem catu daya ganda dengan berlangganan ke PLN, yang memungkinkan generator yang ada saat ini berfungsi sebagai sistem cadangan selama perbaikan PLN. Nilai belanja modal adalah nilai aktual dari penawaran yang diberikan oleh PLN sebagai penyedia, bersama dengan nilai tender untuk infrastruktur pendukung. Pengeluaran operasional untuk sistem pasokan listrik merupakan komponen biaya yang signifikan, dan perusahaan perlu mengevaluasi untuk efisiensi dan mempertimbangkan potensi dampak dari kebijakan pemerintah terkait pajak karbon dan lingkungan. Perusahaan telah mengidentifikasi tingkat diskonto sebesar 12%, yang dikenal sebagai biaya modal rata-rata tertimbang (WACC), yang akan digunakan dalam analisis nilai bersih sekarang (NPV) untuk proyek investasi ini. Analisis Arus Kas adalah metode yang digunakan untuk menilai dampak proyek terhadap arus kas bebas perusahaan. Metode ini melibatkan penghitungan perubahan pada setiap komponen yang disebabkan oleh proyek dan menjumlahkannya. NPV proyek yang positif, menunjukkan bahwa proyek tersebut diharapkan dapat menciptakan nilai bagi perusahaan selama masa pakainya. Variabel analisis sensitivitas membantu menilai bagaimana perubahan dalam NPV dapat mempengaruhi tingkat investasi yang diharapkan. Simulasi Monte Carlo digunakan untuk mendapatkan pandangan yang lebih menyeluruh tentang risiko dan ketidakpastian dalam model investasi. Solusi yang diusulkan untuk masalah pasokan listrik di Tambang Sambarata PT Berau Coal adalah penerapan sistem pasokan listrik ganda. Sistem ini menawarkan keandalan dan redundansi yang lebih tinggi, mengurangi waktu henti, meningkatkan produksi, dan biaya operasional yang lebih rendah. Implementasi yang sukses membutuhkan perencanaan yang matang, manajemen risiko, perjanjian kontrak, pelatihan staf, serta pemantauan dan evaluasi. PT Berau Coal menerapkan rencana untuk mencapai 100% Ketersediaan Kinerja (Performance Availability/PA) dalam memasok listrik operasional ke SMO (Sambarata Mine Operation) di pabrik pengolahan batu bara. Hal ini melibatkan investasi pada sumber daya tambahan dan berlangganan ke PLN (Perusahaan Listrik Negara), yang memastikan pasokan listrik yang berkelanjutan dan dapat diandalkan. Rencana ini juga mengurangi dampak lingkungan dari penggunaan bahan bakar diesel pada generator yang digunakan untuk operasi. Kepatuhan terhadap peraturan pemerintah mengenai pajak karbon memberikan keuntungan bagi perusahaan dengan memilih berlangganan PLN karena mengurangi emisi karbon dari kegiatan operasional. Rencana implementasi disusun dengan pendekatan yang sistematis dan bertahap, dengan fokus pada tujuan investasi, penilaian kelayakan, dan pengembangan proposal. Justifikasi investasi ini didasarkan pada keandalan pasokan listrik, efektivitas biaya, dampak lingkungan, dan kepatuhan terhadap peraturan. Rencana implementasi membutuhkan kolaborasi dan komitmen dari berbagai pemangku kepentingan.

2024
👤 Penulis: Dwi Chandra Syaputra
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi 🏷️ Energi Alternatif

MENINGKATKAN ADOPSI KENDARAAN LISTRIK DI JAKARTA: PENDEKATAN DINAMIKA SISTEM DALAM PERUMUSAN KEBIJAKAN

Kendaraan listrik merupakan solusi penting untuk mengatasi perubahan iklim dan ketergantungan pada bahan bakar fosil. Penelitian ini membahas faktor-faktor yang mempengaruhi adopsi kendaraan listrik oleh konsumen, hambatan terhadap penggunaan kendaraan listrik secara luas, seperti kecemasan jangkauan (range anxiety), keterbatasan infrastruktur pengisian daya, biaya pembelian, biaya perawatan, total biaya kepemilikan, dan waktu pengisian daya. Penelitian ini berfokus pada proses pengambilan keputusan konsumen, menganalisis peran kesadaran lingkungan, pertimbangan ekonomi, dan pengaruh sosial. Penelitian ini akan menggunakan Metode dinamika sistem untuk memahami bagaimana faktorfaktor ini membentuk niat konsumen untuk mengadopsi kendaraan listrik, serta dampak lingkungan dari adopsi kendaraan listrik. Selain itu, penelitian ini dapat mengeksplorasi solusi potensial untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik dan meminimalkan emisi karbon seperti subsidi kendaraan listrik, harga bahan bakar minyak, subsidi pajak kendaraan bermotor untuk kendaraan listrik, dan subsidi tarif pengisian daya mobil listrik.

2024
👤 Penulis: Bayu Samudra
🏷️ Kebijakan Publik 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Energi Alternatif

ANALISIS PRODUKSI BATU BARA DENGAN METODE LIFE CYCLE ASSESSMENT DI PT PAMAPERSADA NUSANTARA DISTRIK BAYA, KALIMANTAN TIMUR

Penggunaan batu bara sebagai sumber energi masih akan mencapai 25% pada 2050 menurut Perpres No. 22 Tahun 2017. Hal ini akan membuat proses pertambangan batu bara berlanjut sehingga banyak perusahaan, seperti PT Pamapersada Nusantara selaku kontraktor tambang batu bara terbesar di Indonesia, ingin mengetahui dampak lingkungan yang dihasilkannya. Analisis life cycle assessment ini memiliki unit fungsional 1 ton batu bara. Analisis ini memiliki ruang lingkup berupa proses topsoil removal, overburden removal, coal getting, coal hauling to port, dan mining support dengan faktor dampak adalah acidification potential, eutrophication potential, global warming potential, dan photochemical ozone creation potential. Hotspot utama dari aktivitas pertambangan ada di proses OB removal dengan nilai acidification potential sebesar 0,036 kg SO? eq/ton batu bara atau 52,32%, nilai eutrophication potential sebesar 0,0032 kg PO? eq/ton batu bara atau 46,99%, nilai global warming potential sebesar 5,23 kg CO? eq/ton batu bara atau 52,57%, dan nilai photochemical ozone creation potential sebesar 0,000029 gr C?H? eq/ton batu bara atau 47,99%. Hal ini disebabkan oleh banyaknya penggunaan bahan bakar B35 dan lubricants pada OB removal. Rekomendasi untuk mengurangi faktor dampak lingkungan adalah dengan elektrifikasi yang mencakup 9,81% pendapatan perusahaan dan memiliki return on investment sekitar 2,61% per tahun.

2024
👤 Penulis: Dhanendra Wiryohutomo
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Energi Alternatif
💬