📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 13 dokumenSTUDI PERENCANAAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MINIHIDRO PADA BENDUNGAN WAY APU KABUPATEN BURU, MALUKU
Tingginya ketergantungan Indonesia terhadap sumber energi fosil serta masih adanya 0,17% wilayah terpencil yang belum teraliri listrik mendorong perlunya pemerataan sumber energi yang lebih berkelanjutan. Dengan potensi sumber daya air yang melimpah, Indonesia memiliki peluang besar untuk mendukung transisi energi menuju pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT). Perencanaan PLTM Way Apu berlokasi di Kecamatan Waeapo, Kabupaten Buru, Provinsi Maluku. Debit banjir rencana dengan periode ulang 100 tahun diperoleh sebesar 1.415,69 m³/s. Daya bangkitan PLTM Way Apu dihitung berdasarkan debit andalan 70% sebesar 25,34 m³/s dan net head sebesar 40,45 meter serta efisiensi turbin sebesar 90%, sehingga menghasilkan daya bangkitan total sebesar 8,6 MW. Keuntungan maksimal yang dapat diperoleh per tahun pada PLTM Way Apu adalah sekitar Rp100 miliar, dengan tarif harga listrik yang dijual ke PLN sebesar Rp1.352/kWh. Dengan nilai keuntungan tersebut, diperoleh Net Present Value (NPV) sebesar Rp381.424.828.321 (setara Rp381 miliar) dan Benefit Cost Ratio (BCR) sebesar 3,47, sehingga dapat disimpulkan bahwa investasi PLTM Way Apu layak secara ekonomi.
ENERGY AND EXERGY AUDITS TO IMPROVE THE PERFORMANCE OF GEOTHERMAL POWER PLANTS CASE STUDY: PATUHA GEOTHERMAL POWER PLANT
Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat, disertai dengan meningkatnya kebutuhan listrik. Berdasarkan RUPTL 2025 2034, PLN memproyeksikan pertumbuhan rata-rata kebutuhan listrik sebesar 5,3% per tahun, dengan rencana pembangunan pembangkit total 69.512 MW, termasuk 42.569 MW dari energi baru terbarukan dan 10.256 MW dari sistem penyimpanan energi. Energi panas bumi menjadi salah satu kontributor utama, dengan potensi nasional mencapai 23.965,5 MW, terbesar kedua di dunia. Jawa Barat memiliki cadangan terbesar, dengan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Patuha sebagai salah satu fasilitas utamanya. Penelitian ini mengevaluasi kinerja PLTP Patuha melalui audit energi dan eksergi. Data operasional perusahaan tahun 2021 2024 digunakan dalam simulasi Aspen HYSYS, dengan perhitungan tambahan menggunakan MS Excel. Hasil simulasi divalidasi melalui perhitungan manual sebelum dilakukan identifikasi konsumsi internal terbesar serta peluang optimasi, termasuk analisis ekonominya. Hasil analisis menunjukkan bahwa rasio pemakaian sendiri turun dari 5,02% pada 2021 menjadi 4,23% pada 2024, menandakan pengurangan konsumsi internal. Hot Well Pump (HWP), Liquid Ring Vacuum Pump (LRVP), dan Cooling Tower Fan teridentifikasi sebagai konsumen internal terbesar. Pemasangan Variable Speed Drive (VSD) pada HWP menghasilkan penghematan bersih tahunan sebesar Rp 2,12 miliar dengan periode balik modal 2,08 tahun, sedangkan penerapan VSD pada Cooling Tower Fan memberikan penghematan bersih tahunan Rp 3,93 miliar dengan periode balik modal hanya 0,37 tahun. Dari sisi eksergi, komponen dengan irreversibilitas terbesar adalah kondensor, cooling tower, dan turbin, dengan fokus perbaikan diarahkan pada pengurangan irreversibilitas kondensor melalui optimasi kinerja cooling tower.
PERENCANAAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKROHIDRO DI WAEREBO, KABUPATEN MANGGARAI, NUSA TENGGARA TIMUR
Potensi sumber daya air yang melimpah di Indonesia membuka peluang pemanfaatan energi baru terbarukan, salah satunya melalui pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH). Di tengah meningkatnya kebutuhan listrik dan dominasi energi fosil, dan dengan adanya kondisi dimana 0.17% wilayah desa di Indonesia tak kunjung teraliri listrik, PLTMH menjadi solusi strategis menuju bauran EBT nasional dan target Net Zero Emission 2060. Desa Waerebo di Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu wilayah off-grid yang memiliki potensi pengembangan PLTMH berkat ketersediaan air dan kondisi topografi yang mendukung. Studi ini bertujuan merancang sistem PLTMH secara teknis, menyusun rencana operasional dan biaya konstruksi, serta menganalisis kelayakan ekonominya sebagai bentuk pemanfaatan sumber daya air berkelanjutan di wilayah terpencil. Berdasarkan perencanaan yang telah dilakukan, dengan debit andalan 50% sebesar 0.25 m3/s, PLTMH Waerebo dapat menghasilkan daya sebesar 2 x 99.4 kWatt. Adapun total biaya konstruksi sebesar Rp4.7 Milyar mengasilkan nilai benefit cost ratio sebesar 1.24 yang menunjukkan bahwa PLTMH Waerebo layak secara finansial.
PENILAIAN DAUR HIDUP PADA PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA UAP (STUDI KASUS PLTU DI LOMBOK BARAT)
Sektor ketenagalistrikan yang berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batubara adalah penyumbang signifikan emisi gas rumah kaca. PLTU PT X di Lombok Barat berperan sebagai backbone kelistrikan di sistem Lombok sebesar 19%. Metode pendekatan yang digunakan untuk mengevaluasi dampak lingkungan adalah Life Cycle Assessment (LCA) berdasarkan ISO 14040:2006. Melalui penerapan LCA, penelitian ini bertujuan untuk memberikan wawasan mengenai dampak lingkungan PLTU PT X yang dapat digunakan untuk memberikan rekomendasi perbaikan dalam kegiatan operasionalnya dalam mengurangi emisi serta dampak negatif terhadap lingkungan. Penelitian ini menggunakan ruang lingkup gate to gate dan 1 kWh sebagai unit fungsional. Kegiatan operasional dibagi menjadi empat subsistem, yaitu subsistem 1 penyiapan energi, subsistem 2 penyiapan air produksi, subsistem 3 produksi listrik, dan subsistem 4 kegiatan pendukung. Pada tahap klasifikasi, penentuan kategori dampak lingkungan dilakukan berdasarkan ketersediaan data perusahaan termasuk data emisi cerobong, sehingga dipilih Global Warming Potential (GWP), Acidification Potential (AP), Eutrophication Potential (EP), dan Human Toxicity Potential (HTP). Untuk menghasilkan 1 kWh listrik, PLTU PT X membutuhkan 1,036 kg batubara, 0,0628 kg biomassa, dan 3,51E-07 m³ high speed diesel, serta menggunakan 0,142 m³ air laut dan 0,153 kWh listrik internal. Emisi per kWh meliputi 2,02 kg CO?, 4,28E-05 kg CH?, 3,14E-05 kg N?O, dan polutan lainnya. Berdasarkan Life Cycle Impact Assessment (LCIA), potensi dampak terbesar terdapat pada GWP sebesar 2,02 kg CO? eq, terutama berasal dari emisi boiler pada subsistem produksi listrik yang menjadikan boiler sebagai hotspot. Tiga skenario perbaikan diajukan untuk menurunkan emisi CO?, dengan peningkatan rasio biomassa menjadi 20% sebagai opsi paling realistis, yang mampu menurunkan GWP sebesar 12%.
VARIABILITAS ENERGI ARUS LAUT DI PERAIRAN LABUAN BAJO BERDASARKAN PENGAMATAN DATA HIGH FREQUENCY RADAR
Indonesia menetapkan target bauran energi primer dari energi baru terbarukan (EBT) mencapai 25% pada tahun 2025 dan 31% pada tahun 2050. Namun pada tahun 2023, bauran energi primer dari EBT baru mencapai 13,29%. Salah satu potensi EBT yang dapat dimanfaatkan adalah energi arus laut, terutama di perairan Labuan Bajo yang merupakan pertemuan Selat Linta dan Selat Molo yang memiliki kecepatan arus melebihi satu meter per detik. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan distribusi spasial energi arus laut di perairan Labuan Bajo, menentukan lokasi yang optimum untuk penempatan turbin arus laut di perairan Labuan Bajo, serta menganalisis variabilitas energi arus laut selama satu tahun pengamatan. Data yang digunakan meliputi data kecepatan arus permukaan dari High Frequency (HF) Radar dan data elevasi muka air laut dari stasiun pasang surut Labuan Bajo. Pengukuran HF Radar memanfaatkan gelombang elektromagnetik untuk mendapatkan nilai kecepatan arus permukaan. Metode yang digunakan adalah analisis harmonik data elevasi dan kecepatan arus untuk mendapatkan amplitudo dan fase. Titik potensial ditentukan melalui perhitungan persentase jumlah kejadian arus yang melebihi syarat batas cut-in speed turbin. Perairan Labuan Bajo memiliki tipe pasang surut campuran condong ganda. Kecepatan arus meningkat ketika kondisi menuju pasang dan menuju surut, sedangkan melemah saat pasang dan surut. Persentase jumlah kejadian arus melebihi cut-in speed turbin di titik potensial mencapai 71,33%. Arus di titik potensial didominasi oleh arus pasang surut dengan pola arus bergerak bolak balik ke selatan dan utara perairan. Variabilitas energi arus laut di titik potensial memiliki rata-rata kecepatan paling besar pada bulan Januari sebesar 0,84 m/s dan nilai arus maksimum mencapai 1,992 m/s. Nilai rapat daya rata-rata maksimum di titik potensial terjadi pada bulan Januari mencapai 0,3056 kW/m2 dan rapat daya maksimum mencapai 4,05 kW/m2.
EVALUASI PENERAPAN DAN RENCANA PERBAIKAN PENGGUNAAN ENERGY DAN KONTROL POLUSI DI PT BORNEO INDOBARA (BIB) DI PELABUHAN BUNATI UNTUK MENSUPPORT PERBAIKAN PROGRAM ESG
Industri pertambangan batu bara mulai dari proses penambangan hingga pengapalan semakin menjadi perhatian karena dampak lingkungannya yang besar dan salah satunya dalam hal konsumsi energi dan emisi gas buang. PT Borneo Indobara sebagai salah satu produsen batu bara di Indonesia mengoperasikan fasilitas crusher plant yang terletak di pelabuhan Bunati. Fasilitas ini memiliki peran penting dalam proses penanganan batu bara sebelum dikirim ke konsumen. Aktivitas operasional yang masih bergantung pada alat berat dan menggunakan bahan bakar solar telah menimbulkan dampak signifikan terhadap tingginya emisi gas rumah kaca dan rendahnya efisiensi energi. Issue energi dan emisi menjadi dorongan dari tingkat nasional dan global untuk diperbaiki kinerjanya dan ini mendorong perusahaan untuk mengambil langkah-langkah strategis guna menurunkan intensitas energi serta dampak lingkungannya untuk menurunkan peringkat ESG nya yang saat ini masih termasuk highrisk. Crusher plant Bunati 2017 hingga 2024 telah berubah sangat significant baik dari desain hingga operasionalnya. Pada tahun 2017 semua operasi berjalan secara konvensional yang sangat bergantung pada alat berat. Pada tahun 2024 alat berat sudah sangat jauh berkurang dari tahun tahun sbelumnya. Beberapa inisiatif utama yang telah dilakukan oleh perusahaan adalah penataan ulang sistem bongkar muat batubara dan crushernya dan pengalihan sumber energi dari diesel generator ke listrik PLN. Sejak 2017 dan tahun berikutnya, secara bertahap operasional semakin efiesien. Ini terlihat dari semakin berkurangnya jumlah alat berat di crusher plant bunati ditengah produksi yang terus meningkat. Penelitian berfokus untuk mengukur sejauh mana dampak perubahan yang telah dilakukan berhasil menurunkan konsumsi energi per ton batubara (intensitas energy) sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca yang ditimbulkan per ton batubara (intensitas emisi). Meskipun langkah-langkah yang dilakukan menunjukkan dampak positif dalam pengurangan alat berat, belum terdapat evaluasi komprehensif berbasis data terhadap efektivitasnya dan juga dampak secara businessnya. Peluang perbaikan berdasarkan efektifitas operasional berbasis data akan memberikan rekommendasi yang valid yang berpulang besar untuk dapat di iplementasikan. Perbaikan tersebut akan berkontribusi dalam menurunkan dan menjaga tingkat emisi di tengah tuntuan produksi yang tinggi dan juga akan memperbaiki peringkat ESG dari highrisk menjadi lebih baik.
KAJIAN TEKNO EKONOMI RENCANA PEMBANGUNAN PLTS TANJUNG SATAI DI KALIMANTAN BARAT
Tanjung Satai yang terletak di Kecamatan Pulau Maya, Kabupaten Kayong Utara merupakan salah satu desa dengan sistem kelistriksn isolated di Kalimantan Barat. Pasokan listrik di Tanjung Satai bersumber dari Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Tanjung Satai. Saat ini PLTD Tanjung Satai rata-rata beroperasi memasok listik selama 10-14 Jam. Daerah Tanjung Satai sendiri memiliki potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) untuk pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan Global Horizon Irradiation (GHI) sebesar 1.830,10 kWh/m²/tahun. Program Dedieselisasi PLTD Tanjung Satai dengan PLTS merupakan program yang dapat meningkatkan jam nyala pelanggan di Daerah Tanjung Satai menjadi 24 Jam nyala. Pemanfaatan potensi energi surya sebagai Pembangkit listrik turut mendukung program pemerintah dalam meningkatkan pemanfaat Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 23% pada tahun 2025 yang berbanding lurus dengan penurunan emisi CO2. Untuk melaksanakan program Dedieselisasi pembangkit Diesel ke pembangkit Energi Surya baik secara keseluruhan atau sebagian, perlu dilakukan kajian dari sisi teknis mau pun keekonomiannya untuk menentukan konfigurasi yang paling tepat menggunakan Aplikasi PVsyst, HOMER dan DIgSILENT Power Factor. Terdapat 4 skenario konfigurasi yaitu skenario a: Diesel eksisting, skenario b: PV-Diesel-Baterai, skenario c: PV-Diesel dan skenario d: PV-Baterai. Dari hasil penelitian, diperoleh konfigurasi paling berkelanjutan untuk rencana pembangunan PLTS Tanjung Satai yaitu dengan skenario b dengan konfigurasi Hibrid PV 1.465 kWp-Diesel 568 kW-Baterai 3.700 kW. Dengan konfigurasi PV-Diesel-Baterai, diperoleh nilai IRR dan Payback Period yang positif pada matrik ekonomi. Pada ringkasan biaya nilai NPC dan LCOE konfigurasi ini paling rendah dengan nilai $5,28 Million dan $0,185. Dengan fraksi EBT sebesar 65%, dapat menurunkan penggunaan bahan bakar hingga 51% dan emisi CO2 hingga 45%. Tegangan dan frekuensi yang dihasilkan dari konfigurasi ini pun masih dalam rentang normal sesuai regulasi yang berlaku yaitu rata-rata tegangan 19,883 kV dan frekuensi pada 50,006 Hz.
KELAYAKAN EKONOMI DAN FLEKSIBILITAS PROYEK BATUBARA PASOPATI SELATAN, INDONESIA: PENDEKATAN REAL OPTIONS DALAM MENGHADAPI VOLATILITAS PASAR DAN CARBON PRICING
Harga batubara tetap fluktuatif sejak pandemi dan diperkirakan akan tetap tidak stabil. Perubahan iklim telah mendorong komitmen global terhadap Net Zero Emissions (NZE) dengan mekanisme Carbon Pricing. Kebijakan ini mendorong inovasi dan transisi energi, tetapi implementasinya menghadapi tantangan regulasi, biaya tinggi, dan daya saing ekonomi. Studi ini mengevaluasi kelayakan ekonomi tambang batubara Pasopati Selatan menggunakan metode Discounted Cash Flow (DCF) dan Real Options Valuation (ROV), dengan mempertimbangkan volatilitas harga batubara dan kebijakan NZE. Ini menganalisis tiga skenario berdasarkan rantai batubara dan rute logistik serta penetapan harga karbon. Skenario Dasar layak dengan NPV sebesar USD 7,10 juta, IRR 54%, dan periode pengembalian tiga tahun. Namun, skenario penetapan harga karbon menghasilkan NPV terendah sebesar USD 1,32 juta, menyoroti dampak finansial dari kebijakan penetapan harga karbon terhadap kelangsungan proyek. Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa harga batubara dan biaya operasional berdampak signifikan pada penilaian proyek. Metode ROV, menggunakan Monte Carlo Simulation (MCS) dan model Binomial Lattice (BLM), menghargai fleksibilitas manajerial sebesar USD 0,95 juta, meningkatkan Extended NPV (ENPV) proyek menjadi USD 8,05 juta. Hal ini menyoroti perlunya fleksibilitas dalam mengelola ketidakpastian harga batubara dan kebijakan karbon. Studi ini merekomendasikan mitigasi risiko melalui efisiensi operasional, kontrak harga tetap, dan evaluasi pasar berkelanjutan untuk meningkatkan ketahanan proyek.
AUDIT EFISIENSI ENERGI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA GAS DAN UAP (STUDI KASUS : PLTGU DI PRIOK).
`
PEMILIHAN TIPE PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA GELOMBANG UNTUK PERAIRAN DANGKAL DI TATAR, SUMBAWA BARAT, NUSA TENGGARA BARAT
Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) Tahun 2021-2030 merencanakan untuk membangun pembangkit tenaga listrik terbarukan sebesar 20,923 atau setara dengan 51.6% dari total pembangkit tenaga listrik dengan 48.4% untuk pembangkit tenaga listrik energi fosil sebagai upaya penurunan emisi gas rumah kaca. Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) Tahun 2021-2030, potensi energi baru dan terbarukan yang dimiliki Indonesia saat ini berupa panas bumi, hydro, mini-micro hydro, bioenergi, surya, angin, dan gelombang laut. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Rizal, A.M. dan Ningsih, N.S. (2022), potensi energi gelombang tahunan adalah 27.11 kW/m di daerah Sumbawa Barat dan bernilai di atas 10 kW/m dalam sebulan. Potensi energi gelombang tersebut dapat memenuhi kebutuhan hidup 155.5 ribu penduduk daerah Sumbawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang (PLTGL) yang sesuai dan efisien di perairan dangkal Tatar, Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Penelitian ini dilakukan dengan membandingkan potensi energi gelombang antara data hasil hindcasting dengan data gelombang dari ECMWF. Dari hasil perbandingan, didapatkan data gelombang ECMWF yang menghasilkan potensi energi gelombang yang lebih tinggi yaitu 14.81 kW/m dalam Tahun 2023. Data ECMWF perairan laut dalam, batimetri, dan grid digunakan sebagai input pemodelan DELFT3D-WAVE untuk mendapatkan tinggi gelombang signifikan (Hs) dan periode puncak (Tp) di perairan dangkal. Hasil pemodelan, menunjukkan transformasi gelombang terhadap perubahan kedalaman. Data hasil pemodelan didapatkan potensi energi gelombang perairan dangkal sebesar 16.44 kW/m dalam Tahun 2023. Untuk melakukan pemilihan PLTGL yang sesuai, diperlukan perhitungan capacity factor dan capture width ratio. Hasil analisis yang dilakukan antara Bottom Fixed Heave- Buoy Array (B-HBA) dan Bottom Fixed Oscillating Flap (B-OF), didapatkan B-OF menghasilkan nilai capacity factor dan CWR yang lebih tinggi yaitu 71.83% dan 67%.
STUDI KELAYAKAN PROYEK PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR OLEH PERUSAHAAN XYZ
Indonesia mengalami peningkatan jumlah penduduk setiap tahunnya. Peningkatan ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya kebutuhan akan listrik. Sementara itu, pemerintah Indonesia dan lembaga internasional sedang aktif mendorong penggunaan energi baru terbarukan. Situasi ini mendorong perusahaan XYZ, yang bergerak dalam pengadaan barang untuk pemerintah, BUMN, dan perusahaan swasta, untuk memperluas bisnis mereka di sektor utilitas. Selain itu, perusahaan XYZ juga ingin berkontribusi aktif dalam mendukung program-program pemerintah Indonesia. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi kelayakan proyek pembangkit listrik tenaga air yang akan dijalankan oleh perusahaan XYZ. Studi kelayakan ini bertujuan untuk menentukan kelayakan dari proyek pembangkit listrik tenaga air. Penelitian ini diawali dengan pembuatan laporan keuangan pro forma untuk melihat prospek keuangan proyek di masa depan. Analisis perencanaan modal juga dilakukan menggunakan beberapa indikator seperti Nilai Net Present (NPV), Tingkat Pengembalian modal (IRR), Indeks Profitabilitas (PI), dan Periode Pengembalian (Payback Period). Analisis risiko dilakukan dengan menggunakan analisis sensitivitas dan simulasi Monte Carlo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proyek ini layak dilakukan berdasarkan indikator yang diperoleh. Nilai net present dari proyek ini adalah Rp 148.635.753.753, yang merupakan nilai positif dan menunjukkan bahwa pemasukan lebih besar dari pengeluaran. Tingkat Pengembalian modal dari proyek ini adalah 27,61%, yang lebih tinggi dari biaya modal sebesar 9,8% dan juga lebih tinggi dari rata-rata industri. Indeks Profitabilitas dari proyek ini juga lebih dari 1, yaitu 1.079, yang menandakan tingkat keuntungan dari proyek ini. Periode Pengembalian investasi adalah 5 tahun dan 5 bulan, yang jauh lebih cepat dari durasi proyek selama 26 tahun. Penelitian ini juga menilai kelayakan proyek dari sudut pandang investor. Indikator Nilai sekarang bersih, tingkat pengembalian internal, dan indeks profitabilitas menunjukkan bahwa proyek dianggap dapat diterima karena semua indikator melewati batas minimum penerimaan. Analisis risiko yang menggunakan analisis sensitivitas dan simulasi Monte Carlo menunjukkan bahwa proyek ini memiliki risiko yang rendah. Hal ini ditunjukkan dari hasil simulasi Monte Carlo yang menyatakan bahwa nilai net present dari proyek ini memiliki probabilitas 95,6% untuk berada di atas nol. Angka terburuk yang mungkin dari Nilai net present adalah Rp -92,193,838,683, dan angka terbaik yang mungkin adalah Rp 390,072,600,036 dengan rata-rata Rp 142,224,766,305.
PERENCANAAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR BENDUNGAN PAMUKKULU KABUPATEN TAKALAR PROVINSI SULAWESI SELATAN
Pembangunan Bendungan Pamukkulu merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) di bidang sumber daya air. Tujuan utama dari pembangunan bendungan tersebut adalah sebagai pengendali banjir dan mengairi daerah irigasi Tujuan lainnya, yaitu menyediakan air baku untuk penduduk di Kabupaten Takalar dengan debit 160 liter/detik dan potensi pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Rasio elektrifikasi Sulawesi Selatan yang telah mencapai 99% perlu diimbangi dengan penyediaan pembangkit listrik dengan energi baru terbarukan dalam rangka Net Zero Emission 2060. Pemanfaatan potensi Bendungan Pamukkulu sebagai PLTA dapat dijadikan salah satu opsi untuk mewujudkan penyediaan listrik EBT di Sulawesi Selatan. Berdasarkan simulasi operasi waduk untuk kebutuhan air, debit untuk PLTA yang dapat dimanfaatkan hingga sebesar 9.00 m3/s. PLTA Pamukkulu ini diperkirakan dapat menghasilkan daya 1.95 MW dan produksi energi listrik sebesar 14.95 GWh per tahun. Perkiraan biaya investasi sebesar Rp Rp62,371,730,063 dengan pendapatan dari perkiraan harga jual terendah hingga tertinggi menghasilkan kelayakan investasi menggunakan metode NPV, BCR, IRR, dan payback period.
PERANCANGAN INVERTER SATU FASA MODE BUCK BERBASISI KONVERTER BUCK-BOOST YANG DIMODIFIKASI SEBAGAI SEL DASAR
Republik Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia memiliki potensi energi baru terbarukan (EBT) yang besar dan telah mulai dimanfaatkan utamanya dalam pembangkitan kebutuhan listrik, utamanya pada pulau-pulau terpencil dan daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar). Pemanfaatan EBT untuk elektrifikasi pulau-pulau terpencil dan daerah 3T dikembangkan dengan menggunakan DC Microgrid bertegangan tinggi karena pembangkit listrik EBT umumnya menghasilkan listrik arus searah (DC) sehingga kebutuhan akan inverter untuk konversi listrik arus searah (DC) ke arus bolak-balik (AC) sangat diperlukan karena dibutuhkan secara umum. Inverter yang beredar pada umumnya tidak dapat menghasilkan listrik AC berbentuk sinusoidal sehingga memerlukan filter eksternal tambahan baik pada sisi masukkan ataupun keluarannya sehingga memiliki ukuran yang besar, tidak efisien, dan memiliki distorsi harmonik yang tinggi. Pada penelitian diusulkan inverter satu fasa mode Buck (step-down) berbasis konverter Buck-Boost yang dimodifikasi sebagai sel dasar yang memiliki kelebihan berupa listrik AC yang dihasilkan berbentuk sinusoidal dan rendah distorsi harmonik dalam ukuran yang lebih kecil. Pengujian dilakukan dengan prototipe skala kecil dan didapatkan hasil yang mampu memverifikasi kelebihan dari inverter satu fasa yang disusulkan.