📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 109 dokumen

PERANCANGAN INFRASTRUKTUR PENGISIAN DAYA DC FAST CHARGER OFF-GRID BERBASIS PLTS DENGAN BATTERY ENERGY STORAGE SYSTEM (BESS) UNTUK KAPAL NELAYAN 1 GT DI PELABUHAN ATAPUPU, KABUPATEN BELU, NUSA TENGGARA TIMUR (NTT)

Sektor perikanan Indonesia masih bergantung pada bahan bakar fosil dan menyumbang emisi gas rumah kaca, sementara Pelabuhan Atapupu, Kabupaten Belu, NTT, berada di ujung jaringan transmisi yang lemah (weak grid) sehingga tidak andal untuk menopang pengisian daya cepat. Penelitian ini merancang sistem propulsi elektrik dan infrastruktur DC Fast Charger off-grid berbasis PLTS untuk kapal nelayan 1 GT, menggunakan analisis kebutuhan energi, sizing komponen, serta verifikasi dinamika sistem pada MATLAB/Simulink dan PVSyst. Sistem propulsi menggunakan motor PMSM 5,1 kW dan baterai LiFePO4 400 Ah (usable 16,384 kWh) yang memenuhi kebutuhan energi harian 5,316 kWh dengan otonomi sekitar 3 hari, didukung boat-mounted PV CIGS 200 Wp untuk beban auxiliary. Infrastruktur darat terdiri atas PLTS 11 kWp, konverter Buck DC-DC 11 kW berkendali CV/CC (riak arus 3,43%, riak tegangan 0,022%), dan BESS 56,32 kWh (1.100 Ah), yang mampu mengisi baterai kapal dari 20% hingga 80% dalam 1 jam 7 menit pada daya penuh. Analisis tekno-ekonomi menghasilkan LCOE PLTS Rp689,66/kWh dan LCOS BESS Rp6.304,11/kWh dibandingkan propulsi diesel setara (>Rp9.000/kWh), sistem ini berpotensi menghemat biaya energi operasional sekitar 30–92% tergantung sumber pasokan (BESS versus PLTS langsung), sekaligus mendukung target Net Zero Emission 2060.

2026
👤 Penulis: Natanael C Pangaribuan
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Kepeloparan Kapal Nelayan

VALUASI OPSI RIIL ATAS PROYEK PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA TERAPUNG DAN SISTEM PENYIMPANAN ENERGI BATERAI: STUDI KASUS PADA VOID PASCATAMBANG DI INDONESIA

Keputusan investasi pada sistem fotovoltaik terapung yang terintegrasi dengan sistem penyimpanan energi baterai (FPV-BESS) di void pascatambang memiliki ketidakpastian majemuk, mencakup variabilitas hasil energi, perkembangan tarif listrik, dan arah perkembangan biaya teknologi. Analisis arus kas terdiskonto (DCF) yang bersifat deterministik tidak dapat menggambarkan nilai strategis dari fleksibilitas manajerial dalam investasi tersebut. Studi ini mengembangkan kerangka penilaian opsi riil (ROV) untuk proyek FPV berkapasitas 9,9 MWp yang terintegrasi dengan BESS berkapasitas 36,4 MWh di void bekas tambang batu bara di Kalimantan Utara, Indonesia. Simulasi Monte Carlo dengan 10.000 percobaan digunakan untuk mendapatkan distribusi nilai proyek dan mengkalibrasi volatilitas (?), menghasilkan nilai ? sebesar 11,05% untuk penilaian latis binomial. Dua opsi manajerial dikuantifikasi: opsi gaya Amerika untuk menunda investasi, yang dinilai sebesar USD 2,29 juta, dan opsi gaya Eropa untuk ekspansi kapasitas menjadi 20 MWp pada tahun ke-6, yang dinilai sebesar USD 0,79 juta. Nilai Sekarang Bersih yang Diperluas (ENPV) yang dihasilkan sebesar USD 3,08 juta melampaui NPV kasus dasar deterministik yang bernilai nol, sehingga membuktikan bahwa fleksibilitas memberikan nilai ekonomis yang signifikan dibandingkan dengan DCF statis. Temuan ini menegaskan pentingnya memasukkan analisis opsi riil dalam penilaian investasi FPV-BESS, khususnya untuk proyek energi terbarukan berbasis kontrak dengan skema behind-the-meter di negara berkembang. Studi ini menyajikan penerapan baru Penilaian Opsi Riil (ROV) pada sistem fotovoltaik apung yang terintegrasi dengan sistem penyimpanan energi baterai (FPV-BESS) dan merupakan penerapan ROV pertama untuk studi FPV-BESS di Indonesia. Kebaruan ini menjawab kesenjangan dalam literatur yang ada, yang sebagian besar berfokus pada analisis investasi PV saja, FPV saja, atau penyimpanan energi secara independen. Studi ini mengintegrasikan keterkaitan antara FPV dan BESS di bawah ketidakpastian operasional dan pasar, sehingga memungkinkan fleksibilitas manajerial untuk dievaluasi dalam kerangka yang terpadu.

2026
👤 Penulis: Wahyu Parbowo
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Energi 🏷️ Analisis Opsi Riil

VALUASI INVESTASI BATTERY ENERGY STORAGE SYSTEM DENGAN MEMPERTIMBANGKAN FLEKSIBILITAS STRATEGIS: BUKTI DARI PENDEKATAN REAL OPTIONS PADA SISTEM KELISTRIKAN SUMATRA, INDONESIA

Battery Energy Storage System (BESS) semakin penting dalam mendukung integrasi energi terbarukan, pengelolaan beban puncak, keandalan pasokan, dan fleksibilitas sistem tenaga listrik di Indonesia. Namun, nilai investasinya masih sulit diukur karena berbagai manfaat penyimpanan energi belum sepenuhnya dikonversi menjadi aliran pendapatan yang eksplisit dan bankable dalam sektor ketenagalistrikan yang teregulasi. Isu ini relevan di Aceh, yang berada di ujung sistem tenaga listrik Sumatra dan menghadapi karakteristik saluran transmisi yang panjang, jaringan radial, serta kendala keandalan. Meskipun BESS dapat mendukung pergeseran energi, penghematan biaya pembangkitan pada periode beban puncak, potensi layanan ancillary, dan peningkatan ketahanan sistem, pendekatan Discounted Cash Flow (DCF) konvensional dapat menurunkan nilai strategis proyek apabila ketidakpastian dan fleksibilitas manajerial tidak diperhitungkan. Tesis ini mengevaluasi kelayakan ekonomi dan nilai investasi strategis dari proyek BESS berkapasitas 50 MW di Aceh dengan membandingkan skenario durasi penyimpanan 2 jam, 4 jam, dan 6 jam. Penelitian ini menilai bagaimana durasi penyimpanan, CAPEX, WACC, penghematan biaya pembangkitan, degradasi baterai, dukungan kebijakan, dan fleksibilitas manajerial memengaruhi keputusan investasi. Penelitian ini juga menguji apakah Expanded Net Present Value (ENPV) dapat menjadi indikator strategis yang lebih kuat dibandingkan static Net Present Value (NPV) untuk investasi penyimpanan energi yang padat modal dan berada dalam kondisi ketidakpastian. Kerangka penelitian ini dibangun dari literatur DCF, Monte Carlo simulation (MCS), real options valuation (ROV), dan ENPV, serta memperluas penerapannya pada BESS skala utilitas dalam konteks sistem ketenagalistrikan Indonesia yang teregulasi. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus kuantitatif dengan proses valuasi yang saling berkesinambungan. Analisis dimulai dari definisi kasus dan perencanaan skenario, kemudian dilanjutkan dengan valuasi DCF statis, analisis sensitivitas, MCS, pemetaan input ROV, valuasi opsi berbasis binomial lattice, perhitungan ENPV, perbandingan skenario, pengujian robustness, dan rekomendasi investasi. DCF digunakan untuk mengestimasi static NPV, Internal Rate of Return (IRR), Benefit-Cost Ratio (BCR), dan Levelized Energy Generation Cost (LEGC). Analisis sensitivitas mengidentifikasi faktor utama pembentuk nilai, MCS mengestimasi risiko investasi secara probabilistik, dan ROV mengevaluasi defer option, expand option, dan staged investment option. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh skenario belum layak secara finansial berdasarkan asumsi dasar DCF statis, meskipun kinerja membaik seiring peningkatan durasi penyimpanan. BESS 6 jam memberikan hasil statis terbaik, dengan Static NPV sebesar -Rp 174,78 miliar, IRR sebesar 5,98%, BCR sebesar 0,91, dan LEGC sebesar 15,33 cUSD/kWh. Analisis sensitivitas menegaskan bahwa CAPEX, WACC, penghematan biaya pembangkitan, degradasi baterai, dan dukungan kebijakan merupakan faktor utama yang memengaruhi kelayakan. MCS memperkuat preferensi terhadap BESS 6 jam, dengan mean NPV sebesar -Rp 146,07 miliar, P90 NPV sebesar Rp 223,10 miliar, dan probabilitas NPV positif sebesar 30,63%. ROV mengubah interpretasi investasi dengan menunjukkan bahwa fleksibilitas manajerial menciptakan nilai strategis. Defer option menghasilkan real option value tertinggi pada seluruh durasi, dan skenario BESS 6 jam dengan defer option menghasilkan ENPV tertinggi sebesar Rp 144,74 miliar. Alternatif terbaik berikutnya adalah BESS 6 jam dengan staged investment option yang menghasilkan ENPV sebesar Rp 76,51 miliar, sedangkan BESS 4 jam hanya menjadi positif melalui defer option dengan ENPV sebesar Rp 13,11 miliar. Expand option tetap lebih lemah karena nilai keekonomian proyek pada kondisi statis belum cukup kuat untuk memberikan nilai ekspansi tambahan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan BESS secara langsung dan tanpa pertimbangan di Aceh belum dapat dibenarkan secara ekonomi. Namun, BESS 6 jam dengan strategi defer-to-invest merupakan opsi yang paling dapat dipertanggungjawabkan secara ekonomi karena memberikan kombinasi terkuat antara kinerja DCF statis, potensi kenaikan nilai dalam kondisi ketidakpastian, real option value, ENPV, dan robustness. Secara ilmiah, tesis ini berkontribusi melalui kerangka terintegrasi DCF, analisis sensitivitas, MCS, ROV, dan ENPV untuk valuasi BESS skala utilitas di bawah ketidakpastian. Secara praktis, penelitian ini mendukung utilitas dan pembuat kebijakan dalam menyelaraskan waktu investasi BESS dengan pertimbangan nilai fleksibilitas yang lebih jelas, monetisasi layanan ancillary yang lebih baik, dan biaya modal yang lebih rendah.

2026
👤 Penulis: Ammar Syahid Rabbani
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Keuangan Strategis

PERENCANAAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKROHIDRO BAGONG, KABUPATEN TRENGGALEK, JAWA TIMUR.

Kebutuhan listrik di Indonesia terus meningkat sehingga diperlukan pemanfaatan energi terbarukan yang lebih berkelanjutan. PLTMH Bagong yang berlokasi di Desa Sengon, Kecamatan Bendungan, Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur merupakan salah satu potensi energi air yang dapat dikembangkan untuk mendukung penyediaan listrik. PLTMH Bagong direncanakan sebagai pembangkit tipe storage dengan memanfaatkan air dari Waduk Bendungan Bagong. Selain berfungsi mereduksi debit banjir rencana periode ulang 100 tahun dari 311.41 m³/s menjadi 217.94 m³/s, tampungan bendungan juga menyediakan debit andalan maksimum dengan probabilitas 80% sebesar 1.88 m³/s untuk pembangkitan listrik. Berdasarkan hasil perhitungan, PLTMH Bagong mampu menghasilkan daya maksimum sebesar 0.88 MW, daya minimum sebesar 0.08 MW, dan produksi energi tahunan sebesar 4.55 GWh. Dari aspek ekonomi, biaya konstruksi PLTMH Bagong direncanakan sebesar Rp16.198 miliar, dengan nilai Payback Period sebesar 9.95 tahun dan Benefit Cost Ratio sebesar 1.76. Nilai tersebut menunjukkan bahwa PLTMH Bagong layak secara ekonomi dan berpotensi memenuhi kebutuhan listrik sekitar 2872 penduduk per tahun.

2026
👤 Penulis: Gefira Nur Shabrina
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Energi 🏷️ Analisis Ekonomi Pembangkit Listrik Mikrohidro

MEMAHAMI KESEDIAAN PEMILIK RUMAH UNTUK MENGADOPSI SISTEM PLTS ATAP DI INDONESIA: SEBUAH SURVEI PURPOSIVE

Indonesia memiliki potensi yang besar dalam pengembangan energi surya, namun adopsi sistem fotovoltaik (PV) atap di kalangan pemilik rumah masih relatif rendah dibandingkan dengan potensi energi surya nasional. Meskipun dukungan pemerintah dan perkembangan pasar energi terbarukan terus meningkat, adopsi PV atap belum berkembang sejalan dengan target energi terbarukan Indonesia. Kondisi ini menunjukkan perlunya pemahaman yang lebih mendalam mengenai faktorfaktor yang memengaruhi kesediaan pemilik rumah untuk mengadopsi sistem PV atap. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kesediaan pemilik rumah di Indonesia untuk mengadopsi sistem PV atap, dengan fokus pada persepsi biaya, kesadaran teknologi, hambatan yang dirasakan, akses terhadap informasi, serta skema kemitraan atau pembiayaan. Penelitian menggunakan survei kuantitatif cross-sectional dengan metode purposive sampling non-probabilitas. Setelah proses penyaringan dan pembersihan data, diperoleh 97 respons valid untuk dianalisis. Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif, korelasi peringkat Spearman, uji multikolinearitas, dan regresi logistik biner. Hasil deskriptif menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki akses listrik yang stabil, ketergantungan yang relatif tinggi terhadap listrik, serta sikap yang positif terhadap energi terbarukan. Hasil inferensial menunjukkan bahwa skema kemitraan atau pembiayaan merupakan satu-satunya variabel yang memiliki pengaruh positif dan signifikan secara statistik terhadap kesediaan mengadopsi sistem PV atap. Sebaliknya, persepsi biaya, kesadaran teknologi, hambatan yang dirasakan, dan akses terhadap informasi tidak menunjukkan pengaruh langsung yang signifikan dalam model regresi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kesediaan mengadopsi sistem PV atap lebih dipengaruhi oleh mekanisme dukungan finansial yang praktis dibandingkan oleh kesadaran, akses informasi, atau hambatan yang dirasakan. Oleh karena itu, strategi bisnis dan kebijakan perlu memprioritaskan skema pembiayaan dan kemitraan yang mudah diakses untuk mengurangi biaya awal dan risiko adopsi. Karena penelitian ini menggunakan sampel purposif sebanyak 97 responden, hasil penelitian perlu dipandang sebagai gambaran awal dan bukan representasi seluruh rumah tangga di Indonesia. Kata Kunci: PLTS Atap; Adopsi Rumah Tangga; Minat Adopsi; Energi Terbarukan

2026
👤 Penulis: Rayyan Attar Zayd Amir
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Energi 🏷️ Analisis Persepsi Biaya Dan Teknologi

ANALISIS POTENSI ENERGI GELOMBANG LAUT DAN ANGIN LEPAS PANTAI DI PESISIR SELATAN JAWA

Pemanasan global mendorong urgensi transisi energi menuju sumber energi baru terbarukan (EBT) sesuai target pemerintah Indonesia, dengan perairan selatan Jawa memiliki potensi EBT yang besar dari gelombang laut dan angin, namun belum dikaji secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik variabilitas spasial-temporal EBT dari energi gelombang laut dan energi angin, serta mengestimasi potensi energi listrik di 12 lokasi perairan selatan Jawa (Pandeglang, Sukabumi, Cianjur, Pangandaran, Cilacap, Kebumen, Yogyakarta, Trenggalek, Tulungagung, Malang, Jember dan Alas Purwo). Kajian ini menggunakan data dari hindcast European Centre for Medium-Range Weather Forecasts 5th Generation (ERA5) selama 35 tahun (1990–2024). Penelitian ini menerapkan analisis distribusi Weibull untuk angin dan joint probability untuk gelombang laut. Hal tersebut dilakukan guna menghitung produksi energi tahunan serta kapasitas faktor perangkat Wave Energy Converter (WEC) dan turbin angin, yang terdiri dari Wave Dragon, Archimedes Waveswing (AWS), Pelamis, dan Haliade-150. Berdasarkan analisis yang dilakukan, perairan selatan Jawa didominasi oleh gelombang swell yang dicirikan oleh periode gelombang 10–14 detik, serta arah datang gelombang dominan dari selatan. Selain itu, hasil analisis menunjukkan bahwa ketersediaan energi tahunan rata-rata sebesar 21,42 kW/m untuk gelombang dan 239,9 W/m2 (0,239 kW/m2) untuk angin. Kemudian mencapai puncaknya pada periode monsun timur (Juni–Agustus) di seluruh lokasi dengan rata-rata sebesar 29,58 kW/m untuk gelombang dan 379,64 W/m2 (0,379 kW/m2) untuk angin. Selain itu, penelitian ini menghitung kapasitas faktor untuk seluruh lokasi dengan rata-rata 21,6% untuk Wave Dragon dan 15,32% untuk Haliade-150. Secara spasial, area perairan Pandeglang merupakan lokasi paling prospektif untuk energi gelombang laut dan angin, hal tersebut ditunjukkan dengan kapasitas faktor mencapai 21,33% dengan alat Wave Dragon dan turbin angin dengan kapasitas faktor mencapai 35,5% dengan alat Haliade-150. Secara umum, penelitian ini menunjukkan bahwa pembangunan EBT di selatan Jawa dengan WEC dan turbin angin cukup menjanjikan pada beberapa lokasi. Hal ini penting guna mendukung langkah pemerintah Indonesia untuk mewujudkan transisi energi berkelanjutan.

2026
👤 Penulis: Andika Mochammad Zidane
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Hidrologi Laut 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Energi

STUDI POTENSI ENERGI GELOMBANG LAUT DAN KELAYAKAN EKONOMI PEMASANGAN WAVE ENERGY CONVERTER (WEC) DI PERAIRAN TULUNGAGUNG

Pertumbuhan ekonomi dan populasi yang pesat mendorong peningkatan konsumsi energi global, termasuk kebutuhan energi listrik di Indonesia yang masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil sehingga dibutuhkan transisi menuju energi baru terbarukan (EBT). Sebagai upaya mendukung optimalisasi potensi tersebut, penelitian ini bertujuan menentukan lokasi potensial pemasangan Wave Energy Converter (WEC), menghitung produksi energi, serta menilai kelayakan ekonomi menggunakan metode Levelized Cost of Energy (LCoE) di perairan Tulungagung. Simulasi numerik dilakukan menggunakan model Simulating WAve Nearshore (SWAN) tahun 2024 dengan resolusi spasial mencapai 50 m di pesisir. Lokasi potensial ditentukan berdasarkan enam parameter, yakni daya gelombang rata-rata ( ), optimum hotspot identifier (OHI), coefficient of variance (CoV), wave energy development index (WEDI), batimetri, dan jarak dari pantai. Jenis WEC yang digunakan adalah Wave Dragon dan Wave Roller. Analisis kelayakan ekonomi mempertimbangkan tiga skenario capital expenditure (CAPEX), yakni optimis, realistis, dan pesimis. Hasil verifikasi model menunjukkan kesesuaian yang baik antara simulasi dengan data observasi dan reanalisis ERA5. Karakteristik medan gelombang dipengaruhi oleh angin musiman dan swell dari Samudra Hindia, dengan potensi energi tertinggi pada musim JJA dan terendah pada musim DJF. Terdapat (4) empat lokasi rekomendasi pemasangan WEC, yakni T1, T2, T3, dan T4. Produksi energi tahunan tertinggi dicapai oleh T2 sebesar 11.529,72 MWh (Wave Dragon) dan T4 sebesar 2.806,48 MWh (Wave Roller), namun jika ditinjau dari capacity factor (Cf) sebagai indikator efisiensi, T4 memiliki performa terbaik sebesar 31,95%, diikuti T1 (25,53%), T2 (22,25%), dan T3 (9,50%). Hasil perhitungan LCoE menunjukkan bahwa T4 memiliki nilai termurah pada seluruh skenario CAPEX, yakni 1.911–6.392 IDR/kWh, sedangkan T3 memiliki nilai LCoE termahal sebesar 6.441–21.482 IDR/kWh. Dengan demikian, T4 direkomendasikan sebagai lokasi prioritas pemasangan WEC di perairan Tulungagung berdasarkan efisiensi penyerapan energi dan kelayakan ekonomi terbaik.

2026
👤 Penulis: Yosefha Br Sebayang
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Energi 🏷️ Hidrologi

ECONOMIC FEASIBILITY OF PT. PEMBANGKIT LISTRIK INDURING MINIHYDRO POWER PLANT PROJECT

Energi terbarukan berasal dari proses alam yang diisi ulang terus-menerus. Dalam berbagai bentuknya, berasal langsung dari matahari, atau dari panas yang dihasilkan jauh di dalam bumi. Termasuk dalam definisi adalah listrik dan panas yang dihasilkan dari matahari, angin, laut, tenaga air, biomassa, sumber daya panas bumi, dan bahan bakar bio dan hidrogen berasal dari sumber daya terbarukan. Energi terbarukan menggantikan bahan bakar konvensional di empat bidang yang berbeda: jasa energi pembangkit listrik, air panas / pemanasan ruang, bahan bakar transportasi, dan pedesaan (off-grid). Di banyak tempat, energi pembangkit listrik terbarukan dibangun dalam skala besar, tapi teknologi ini juga cocok untuk dengan daerah pedesaan dan terpencil. Skala kecil proyek yang diperlukan untuk memberikan akses energi modern untuk rakyat, khususnya di negara berkembang, baik untuk rumah tangga dan industri kecil. Mini-hidro adalah pengembangan pembangkit listrik tenaga air pada skala melayani komunitas kecil atau tanaman industri. Definisi dari proyek hydro kecil bervariasi tetapi kapasitas pembangkit hingga 10megawatts (MW) secara umum diterima sebagai batas atas apa yang dapat disebut mini-hidro. Listrik tenaga air adalah generasi tenaga listrik dari gerakan air. Sebuah fasilitas listrik tenaga air membutuhkan aliran diandalkan air dan ketinggian yang wajar dari jatuhnya air, yang disebut head. Dalam instalasi, air disuplai dari reservoir melalui saluran atau pipa ke turbin. Tekanan air yang mengalir pada bilah turbin menyebabkan poros untuk berputar. Poros yang berputar dihubungkan ke generator elektrik yang mengubah gerakan poros menjadi energi listrik. Di Indonesia, listrik masih menjadi masalah. Pasokan listrik yang diproduksi oleh perusahaan milik negara, PT. Anak pajak tangguhan Listrik Negara (PLN), tidak bisa memenuhi permintaan penggunaan listrik warga. Dari kesempatan ini, PT. Pembangkit Listrik Induring ingin membuat mini tenaga air proyek pembangkit di Batang Jalamu River, Induring, Batang Kapas, Sumatera Barat yang memiliki kapasitas 2 x 600 kW. Output listrik dari pembangkit listrik akan dibeli oleh PT. PLN dalam rangka mengikuti ESDM Permen no. 31/2009. Jumlah Net Present Value (NPV) adalah Rp 12.594.869.237. Internal Rate of Return (IRR) adalah 22,43%. The Payback Period (PBP) dari proyek ini adalah 8 tahun 3 bulan dan 11 hari. Kata kunci: mini hidro, studi kelayakan, analisis sensitivitas

2026
👤 Penulis: Andre Marthino
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Manajemen Energi Pembangkit Listrik 🏷️ Analisis Keuangan

PERANCANGAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA TERAPUNG DI AREA PELABUHAN

Patimban menghadapi peningkatan permintaan daya listrik akibat besarnya skala aktivitas operasional, dengan kebutuhan listrik tahunan yang diproyeksikan mencapai 38,86 GWh pada tahap pengembangan akhir. Walaupun pemerintah Indonesia berkomitmen pada konsep "Green Port", yang mana memprioritaskan energi berkelanjutan untuk mengurangi emisi, pasokan listrik saat ini masih sangat bergantung pada sumber bahan bakar fosil. Situasi ini menciptakan konflik manajemen energi bagi kegiatan operasional Pelabuhan Patimban. Oleh karena itu, untuk mengatasi masalah tersebut, studi ini mengusulkan pembangkit listrik tenaga surya terapung (Floating Photovoltaic/FPV) berkapasitas 78,6 MWp. Tata letak yang diusulkan terdiri dari 20 pulau terapung yang dikategorikan ke dalam tiga tipe berbeda: enam pulau masing-masing berkapasitas 3,09 MWp, tujuh pulau berkapasitas 3,64 MWp, dan tujuh pulau berkapasitas 4,93 MWp. Penempatan pulau-pulau ini secara khusus mempertimbangkan alur navigasi maintenance boat untuk memastikan akses operasional yang efisien. Kelayakan desain ini dievaluasi menggunakan simulasi numerik, di mana setiap pulau PV terapung dimodelkan sebagai rigid body yang dirangkai dari beberapa jenis modul floater yang tersedia. Pertama, karakteristik hidrodinamika struktur dimodelkan menggunakan OrcaWave, sebuah perangkat lunak berbasis boundary element method (BEM). Setiap pulau kemudian dikenakan beban lingkungan yang berasal dari angin, arus, serta gelombang air laut, baik first-order maupun second-order wave. Gaya ini dihitung secara analitis dan diaplikasikan sebagai beban titik (point load) selama simulasi dinamis di OrcaFlex. Sistem penambatan (station-keeping) menggunakan material polyester berdiameter 18 mm untuk mengamankan struktur. Analisis difokuskan pada faktor-faktor kritis seperti offset pulau dan tegangan tali tambat (mooring tension) untuk memastikan struktur tetap stabil dan mematuhi standar yang relevan. Terakhir, gaya reaksi yang dihasilkan pada dasar laut akibat mooring dianalisis untuk merancang angkur pemberat (deadweight anchors) dengan mempertimbangkan kriteria spesifik untuk stabilitas vertikal, lateral, guling (overturning), dan daya dukung tanah (bearing capacity).

2026
👤 Penulis: Rafi Valencio Rahman
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

KAJIAN TEKNO EKONOMI SISTEM HYBRID PLTD DAN PLTS DI PULAU SIMEULUE

Ketersediaan energi yang andal dan berkelanjutan merupakan tantangan signifikan bagi daerah terpencil di Indonesia, termasuk Pulau Simeulue, yang masih bergantung pada bahan bakar fosil untuk pembangkit listrik. Penelitian ini mengusulkan sistem energi hibrida yang mengintegrasikan energi terbarukan berupa Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan energi konvensional melalui Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD), guna memastikan pasokan listrik yang efisien dan ramah lingkungan. Simulasi dilakukan menggunakan perangkat lunak HOMER Pro, PVSyst untuk optimasi teknis dan ekonomi. Hasil simulasi menunjukkan bahwa sistem energi hibrida yang terdiri dari PLTS berkapasitas 12.344 kWp, PLTD 5.931 kW, dan baterai 3,51 MWh dengan bauran energi terbarukan sebesar 31,5% mampu menghasilkan energi tahunan sebesar 43.343.491 kWh. Sistem ini terbukti efisien dalam memenuhi kebutuhan energi masyarakat dan memiliki stabilitas yang baik. Simulasi dilakukan dengan HOMER Pro dengan menggunakan 4 skema, menunjukkan bahwa skema dengan PLTDPLTS- Inverter-Baterai merupakan skema terbaik yang memiliki investasi awal sebesar Rp 278.252.551.179 dan Levelized Cost of Energy (LCOE) Rp 3.001,02 per kWh, yang lebih rendah dibandingkan dengan skema PLTD yang memiliki LCOE Rp3.524 per kWh dan juga lebih rendah dibandingkan dengan konfigurasi sistem lainnya. Selain itu, penerapan konfigurasi PLTD-PLTS-Inverter-Baterai berbahan bakar biodiesel ini berhasil mengurangi emisi CO2 sebesar 32,75%, dari 37.573.676 kg/tahun menjadi 25.266.545 kg/tahun. Implementasi sistem energi hibrida dengan proporsi energi terbarukan sebesar 31,5%. Simulasi dengan PVSyst untuk skema ini dibutuhkan jumlah modul PV dengan kapasitas 500 Wp sebanyak 24.684 unit dan Inverter 100 kW 95 unit. Secara keseluruhan, studi ini dianggap layak untuk diimplementasikan di daerah Pulau Simeulue.

2026
👤 Penulis: Malfian Distantio
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Energi 🏷️ Analisis Biaya Dan Efisiensi

STUDI TEKNO EKONOMI PROSES PRODUKSI GREEN HYDROGEN DI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKROHIDRO (PLTMH) KRUENG ISEP KABUPATEN NAGAN RAYA PROVINSI ACEH

Penelitian ini mengevaluasi kinerja teknis dan kelayakan ekonomi produksi hidrogen hijau dengan memanfaatkan daya listrik berlebih (excess power) dari PLTMh Krueng Isep di Kabupaten Nagan Raya, Aceh, sebagai strategi optimalisasi energi terbarukan lokal. Dua teknologi elektrolisis air yang dianalisis adalah Alkaline Electrolyzer (AEL) dan Solid Oxide Electrolysis Cell (SOEC). Pemodelan proses dilakukan menggunakan Aspen HYSYS V14 dengan pendekatan steadystate. Pada daya input 40,5 kW, hasil simulasi menunjukkan produksi hidrogen tahunan sebesar 6.146,02 kg untuk AEL dan 9.881,28 kg untuk SOEC. Validasi model AEL dilakukan menggunakan data operasional unit TITAN™ HMXT-100 berkapasitas 40,5 kW di PLTU Tanjung Jati, dengan produksi aktual sebesar 3.527,14 kg/tahun, atau 57,39% dari hasil simulasi. Oleh karena itu, diterapkan faktor koreksi 0,5739 untuk merepresentasikan kondisi operasional nyata. Untuk SOEC, validasi dilakukan melalui perbandingan literatur karena belum tersedia implementasi komersial di Indonesia. Analisis scale-up menuju kapasitas sekitar 1 MW menunjukkan bahwa AEL beroperasi pada daya 1.012,5 kW, sedangkan SOEC memerlukan 1.300 kW akibat tambahan energi pemanas. Evaluasi ekonomi menunjukkan bahwa AEL (Skenario 4) menghasilkan LCOH USD 6,89/kg H?, NPV USD 5,34 juta, IRR 90%, dan Payback Period 1,11 tahun. Sebaliknya, SOEC memiliki LCOH USD 20,59– 23,98/kg H? dengan NPV negatif serta IRR dan PbP tidak tercapai dalam periode analisis 10 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa AEL layak untuk implementasi jangka pendek, sedangkan SOEC memerlukan integrasi panas eksternal dan insentif kebijakan agar dapat mencapai daya saing ekonomi.

2026
👤 Penulis: Abi Yusuf Aulia
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Analisis Biaya Operasional 🏷️ Optimalisasi Rantai Pasok Energi

PERANCANGAN STRATEGI ADOPSI PENGGUNAAN UNBUNDLED RENEWABLE ENERGY CERTIFICATE BERDASARKAN FAKTOR PENDORONG DAN PENGHAMBAT PADA SEKTOR INDUSTRI GARMEN DAN ALAS KAKI DI PROVINSI JAWA TENGAH

Industri garmen dan alas kaki adalah salah satu sektor utama dalam ekspor di Indonesia namun juga menjadi kontributor emisi yang signifikan. Kedua industri tersebut menghadapi tekanan untuk mengurangi karbon dalam operasi perusahaan. Berkaitan dengan hal tersebut, Renewable Energy Certificate (REC) yang diterbitkan PLN hadir sebagai instrumen fleksibel untuk klaim penggunaan EBT. Namun, penggunaan REC di sektor-sektor prioritas di Jawa Tengah masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor pendorong dan penghambat adopsi EBT melalui REC di level mikro, menganalisis interaksi level makro dan meso dalam membentuk dinamika tersebut, serta merumuskan strategi peningkatan adopsi REC yang kontekstual bagi PLN. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan strategi studi kasus multi-kasus. Data primer dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan 12 perusahaan sektor alas kaki dan garmen yang dipilih berdasarkan status adopsi EBT dan pembelian REC. Analisis data dilakukan menggunakan thematic analysis dan dilanjutkan dengan cross-case analysis untuk mengidentifikasi pola dan perbedaan. Temuan penelitian mengonfirmasi menemukan bahwa buyer internasional adalah pendorong utama yang mampu mengatasi hambatan mikro seperti biaya tinggi. Secara khusus, adopsi REC terhambat oleh persepsinya sebagai biaya tambahan tanpa manfaat finansial langsung, kurangnya pengetahuan teknis, dan adanya persepsi legitimasi. Dinamika ini dibentuk oleh interaksi tekanan makro dari buyer menciptakan legitimasi, sementara variasi sumber daya di level meso seperti keuangan dan pengetahuan menyaring respon, menjelaskan mengapa perusahaan dengan sumber daya kuat memilih PLTS Atap sedangkan yang terbatas memilih REC. Berdasarkan analisis tiga level yaitu makro-meso-mikro, disimpulkan bahwa strategi peningkatan adopsi REC bagi PLN harus bersifat multilevel, terintegrasi, dan berurutan. Strategi tersebut mencakup pembangunan legitimasi melalui ko-kreasi regulasi dan diplomasi di level makro, segmentasi pasar berbasis sumber daya di level meso, serta intervensi di level mikro untuk mengubah persepsi nilai dan menyederhanakan akses. Implikasinya, PLN perlu bertransformasi dari seller menjadi market builder, didukung oleh percepatan regulasi pemerintah dan peningkatan kapabilitas industri.

2026
👤 Penulis: Muhammad Hilman Kusnawan
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Industri Garmen Dan Alas Kaki 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

THERMODYNAMIC AND ECONOMIC ASSESSMENT OF SILICA DEPOSITION MITIGATION METHODS AND BOTTOMING CYCLE INTEGRATION IN GEOTHERMAL POWER PLANT: CASE STUDY UNIT I DIENG PAD #A

Abstrak bisa dilihat di filenya

2026
👤 Penulis: Ananda Azhar Habibie
🏷️ Hidrologi 🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Analisis Dinamika Panas

STUDI SIMULASI DAN IDENTIFIKASI DAMPAK PEMBALIKAN ARAH PADA SISTEM PIPA TRANSMISI GAS BUMI

Energi memegang peran penting dalam kehidupan manusia, dan saat ini penggunaannya masih didominasi oleh bahan bakar fosil, terutama batu bara di Asia (Energy Institute, 2024). Namun, ketergantungan ini berkontribusi signifikan terhadap pemanasan global (IPCC, 2014), sehingga perjanjian Paris 2015 mendorong transisi menuju energi terbarukan (United Nations, 2015). Dalam masa transisi ini, gas alam dianggap sebagai alternatif yang lebih bersih dan efisien dibandingkan batu bara (Mohammad dkk., 2021). Konsumsi gas alam terus meningkat secara global, termasuk di Indonesia yang menargetkan porsi gas bumi sebesar 24% dalam bauran energi nasional 2050 (PERPRES No. 22, 2017). Pembangunan infrastruktur gas, terutama jaringan pipa, menjadi krusial. Desain pipa transisi umumnya didasarkan pada kajian kelayakan awal yang mengacu pada pola suplai dan permintaan tertentu. Namun, dinamika kebutuhan industri dan lokasi suplai sumber gas yang berubah dapat menyimpang dari prediksi awal. Salah satu alternatif untuk menyesuaikan kondisi tersebut adalah memodifikasi operasi pipa existing, seperti pembalikan arah aliran. Berbagai kasus pembalikan arah pipa telah dilakukan, seperti Longhorn dan Enbridge Line 9, namun PHMSA menegaskan bahwa pembalikan arah aliran berpotensi memengaruhi operasi, pemeliharaan, dan managemen integritas sistem pipeline. Meskipun terdapat beberapa studi yang membahwas optimasi pembalikan arah, kajian mengenai aspek teknis dan identifikasi peralatan yang terdampak masih terbatas. Oleh karena itu, studi ini mengkaji pembalikan arah aliran pada pipa transmisi gas Cirebon-Semarang (CISEM) melalui evaluasi kondisi operasi existing, simulasi pembalikan arah, identifikasi dampak teknis, serta penyusunan prosedur pembalikan arah. Hasil dari analisis pembalikan arah menunjukkan bahwa pembalikan aliran dapat dilakukan dengan kebutuhan tekanan suplai di Cilamaya sebesar 639 psig. Penyaluran berpotensi ditingkatkan hingga 130 MMSCFD. Implikasi dari pembalihan arah tersebut memerlukan penambahan peralatan pig launcher, pig receiver, valve, serta modifikasi pipa. Prosedur yang diusulkan mencakup tahapan utama seperti studi kelayakan, pra-shutdown, shutdown, dan periode optimasi operasi normal dengan arah aliran baru.

2026
👤 Penulis: Yoga Arviansyah
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Gas Bumi 🏷️ Analisis Teknis Pipa

STRATEGI FINANSIAL SEBUAH PROYEK ENERGI TERBARUKAN UNTUK MENINGKATKAN KAPABILITAS PENDAPATAN BERKELANJUTAN DALAM TRANSISI BISNIS (STUDI KASUS: PT ENERGI PANAS INDONESIA, JAKARTA, INDONESIA)

Sektor energi global sedang mengalami transformasi seiring negara-negara berupaya menerapkan transisi energi ke energi terbarukan. Indonesia sebagai salah satu negara yang berpartisipasi dalam Perjanjian Paris dan berkomitmen untuk mencapai nol emisi bersih pada tahun 2060. Namun, pengembangan proyek energi terbarukan, khususnya panas bumi memiliki tantangan yang tinggi karena biaya awal yang tinggi, dan risiko eksplorasi. PT Energi Panas Indonesia (EPI), anak perusahaan PT Indonesia Power, menghadapi tantangan dalam memastikan pendapatan yang stabil sekaligus mendukung transisi energi nasional. Energi surya fotovoltaik (PV) telah muncul sebagai solusi potensial karena biaya modalnya yang relatif rendah, waktu konstruksi yang singkat, serta risiko teknis dan sosial yang lebih rendah. Studi ini menganalisis kelayakan ekonomi, struktur pembiayaan, dan model bisnis strategis untuk pengembangan PLTS dalam berbagai skema proyek guna meningkatkan pendapatan berkelanjutan EPI. Penelitian ini berfokus pada proyek PLTS yang berlokasi di Jawa Barat, menggunakan model Engineering, Procurement, and Construction (EPC) dan Build-Own-Operate-Transfer (BOOT) dengan durasi 15 tahun dan 25 tahun. Tujuannya adalah: (1) menilai kelayakan finansial proyek menggunakan Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Payback Period (PBP); (2) menentukan variabel paling sensitif yang memengaruhi kelayakan proyek; (3) mengidentifikasi sumber pembiayaan yang tersedia; (4) merekomendasikan strategi pembiayaan yang optimal; dan (5) menyarankan model bisnis terbaik untuk mempertahankan pendapatan jangka panjang. Penelitian ini menggunakan pendekatan pemodelan keuangan kuantitatif, yang mengintegrasikan analisis penganggaran modal, analisis sensitivitas, dan kerangka kerja Indeks US’ untuk mengevaluasi optimalisasi utang-ekuitas. Data diperoleh dari asumsi internal perusahaan dan tolok ukur industri, termasuk proyeksi CAPEX, OPEX, dan tarif energi. Analisis ini membandingkan skema EPC, BOOT 15 tahun, dan BOOT 25 tahun menggunakan parameter keuangan yang identik, dengan menerapkan Biaya Modal Rata-Rata Tertimbang (WACC) sebesar 7,38% dan tingkat inflasi sebesar 2,37%. Hasilnya menunjukkan bahwa kedua skema BOOT layak secara finansial dengan nilai NPV dan IRR positif di atas WACC. Skema BOOT 25 tahun memberikan laba kumulatif tertinggi dan stabilitas pendapatan jangka panjang, sementara skema BOOT 15 tahun menawarkan pemulihan modal yang lebih cepat dan fleksibilitas untuk investasi ulang. Skema EPC, sebaliknya, hanya menghasilkan pendapatan jangka pendek dan satu kali. Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa tarif listrik adalah faktor yang paling berpengaruh terhadap kelayakan proyek, diikuti oleh efisiensi system dari pembangkitan tenaga listrik. Analisis pembiayaan mengidentifikasi empat opsi pendanaan utama—ekuitas internal, pinjaman bank domestik, pinjaman internasional, dan leasing—masing-masing dengan biaya dan risiko yang bervariasi. Hasil Indeks US mengonfirmasi bahwa EPI memiliki kemampuan pembayaran yang kuat, yang memungkinkan perusahaan untuk mengakses leverage secara hati-hati sambil mempertahankan struktur modal yang seimbang. Penelitian ini berkontribusi pada pengambilan keputusan manajerial dengan menyediakan kerangka kerja kuantitatif untuk menilai kelayakan proyek energi terbarukan di berbagai model bisnis dalam konteks regulasi dan keuangan Indonesia. Penelitian ini juga menyoroti pentingnya proyek PLTS sebagai bisnis transisi seiring dengan perkembangan pengembangan panas bumi. Penelitian selanjutnya dapat memperluas analisis dengan mengeksplorasi konfigurasi energi terbarukan hibrida (surya + baterai atau surya + panas bumi) dan mengevaluasi kebijakan baru seperti penetapan harga karbon dan sertifikat energi terbarukan untuk memperkuat kelayakan finansial investasi energi terbarukan di Indonesia.

2026
👤 Penulis: Theodorus Tio Wibowo
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Energi 🏷️ Analisis Keuangan Strategis
Halaman 1 dari 8
💬