📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 1 dokumenANALISIS PENGARUH PERUBAHAN FASA CO2 SELAMA DEKOMPRESI TERHADAP PENURUNAN KETANGGUHAN DAN PERAMBATAN RETAK MATERIAL API 5L X65 AKIBAT DUCTILE-TO-BRITTLE TRANSITION TEMPERATURE PADA PIPELINE CO2 DENSE PHASE
Pengembangan Carbon Capture and Storage (CCS) meningkatkan kebutuhan sistem transportasi CO? berkapasitas besar yang aman dan andal. Pada kondisi dense-phase atau supercritical, dekompresi akibat kebocoran dapat menyebabkan perubahan fasa CO?, penurunan temperatur yang signifikan, serta menurunkan ketangguhan material sehingga meningkatkan risiko ductile-to-brittle transition (DBTT), Leak Before Break (LBB), dan Running Ductile Fracture (RDF). Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh penurunan ketangguhan material akibat DBTT terhadap integritas fraktur pipeline CO? dense-phase berbahan API 5L X65. Penelitian dilakukan menggunakan data desain dan kondisi operasi sistem transportasi CO? serta pengujian impak Charpy V-Notch pada berbagai temperatur. Ketebalan minimum pipeline dihitung berdasarkan SNI 3473 dan SNI 3474 kemudian diverifikasi menggunakan DNV-ST-F101. Nilai energi impak kemudian dikonversi menjadi fracture toughness untuk evaluasi Failure Assessment Diagram (FAD) berdasarkan BS 7910. Analisis Leak Before Break (LBB) dilakukan pada berbagai geometri retak, sedangkan evaluasi kemampuan penghentian propagasi retak dilakukan menggunakan kurva hubungan Rf-R?. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan temperatur menurunkan fracture toughness API 5L X65 seamless dari 214,3 menjadi 59,2 MPa.m1/2 dan API 5L X65 rolled dari 123,38 menjadi 13,55 MPa.m1/2. Evaluasi FAD menunjukkan pipeline masih memenuhi kriteria BS 7910 pada kondisi existing flaw. Pada kondisi limiting flaw, energi impak Charpy minimum agar pipeline tetap memenuhi kriteria penerimaan adalah 26 J untuk Section A dan 27 J untuk Section B. Analisis LBB menunjukkan bahwa seluruh geometri retak pada daerah upper shelf memenuhi kriteria LBB pada kondisi existing flaw, sedangkan pada kondisi limiting flaw hanya geometri retak tertentu yang masih memenuhi kriteria tersebut. Evaluasi kurva hubungan Rf–R? menunjukkan bahwa penurunan ketangguhan material menggeser kondisi menuju wilayah tidak pasti dan wilayah propagasi retak, dengan kebutuhan energi impak Charpy minimum sebesar 117,99 J berdasarkan DNV RPF104 sebagai kriteria paling konservatif.