📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 2 dokumenCOMPARATIVE ANALYSIS OF TORQUE AND FATIGUE ON CASING CONNECTIONS FOR LEVEL 3 CASING WHILE DRILLING IN THE SID-05 WELL
Casing while Drilling (CwD) Level 3 membebani rangkaian casing dengan torsi rotasi, tegangan aksial, dan tegangan lentur siklik secara simultan, sehingga menimbulkan tuntutan mekanis yang melampaui kondisi pemboran konvensional. Meskipun penerapan CwD di sektor hulu Indonesia terus meningkat, belum terdapat evaluasi komparatif yang sistematis terhadap kinerja sambungan casing di bawah pembebanan CwD Level 3 untuk sumur lepas pantai di Indonesia. Penelitian ini mengevaluasi kapasitas torsi, ketahanan fatik, dan kelayakan ekonomi dari tiga sambungan casing L-80 68 ppf berdiameter 13-3/8 inci, yaitu API BTC, TenarisHydril TXP BTC, dan TenarisHydril Wedge 563, untuk sumur SID-05 di Lapangan Sidayu, Laut Jawa Timur. Profil torsi dan tegangan lentur dihasilkan menggunakan perangkat lunak WellPlan dengan model soft string dan koefisien gesek sebesar 0,30 (lubang terbuka) dan 0,25 (lubang tercasing) pada 30 RPM. Analisis fatik menyusun kurva S-N melalui persamaan Marin (Se = 18.966 psi) dan persamaan Basquin, dengan Faktor Konsentrasi Tegangan sebesar 2,002 (TXP BTC) dan 1,956 (Wedge 563) yang bersumber dari dokumentasi Tenaris HMS. Kerusakan kumulatif dihitung menggunakan kaidah Palmgren-Miner dengan modifikasi Haibach untuk siklus di bawah batas endurance serta koreksi tegangan rata-rata pada setiap stasiun kedalaman. Sambungan API BTC didiskualifikasi dengan faktor keamanan torsi sebesar 0,71, karena kapasitasnya sebesar 13.380 ft-lbf terlampaui oleh torsi simulasi puncak sebesar 18.884,9 ft-lbf. TXP BTC dan Wedge 563 mencapai faktor keamanan masing-masing sebesar 4,55 dan 6,62. Indeks kerusakan fatik menghasilkan D = 0.4295 untuk TXP BTC dan D = 0.3795 untuk Wedge 563, keduanya berada di bawah ambang kegagalan D = 1,0. Analisis sensitivitas K-55 mengonfirmasi bahwa kedua sambungan melampaui D = 1,0 sebelum mencapai kedalaman target, sehingga memvalidasi L-80 sebagai grade minimum yang dapat diterima. Dalam kerangka PSC gross split, TenarisHydril TXP BTC direkomendasikan sebagai sambungan optimal, dengan kinerja mekanis yang memadai pada harga USD 50,41/ft dan penghematan sebesar USD 27.562 dibandingkan Wedge 563 untuk rangkaian sepanjang 3.645 ft.
EVALUASI FATIK PADA JEMBATAN PELENGKUNG BAJA DENGAN BEBAN WEIGH IN MOTION (WIM) (STUDI KASUS JEMBATAN KALIKUTO)
Dalam Pedoman Persyaratan Urnum Perencanaan Jembatan (2015) urnur layan struktur jembatan di Indonesia adalah 75 tahun. Namun demikian terdapat beberapa hal yang menyebabkan ketidak tercapaian umur layan untuk jembatan baja, dalam Kuhn dkk., 2008 fatik menyebabkan kegagalan terbesar pada jembatan dengan material baja yaitu sebesar 38,3%. Penelitian ini mengevaluasi fatik pada Jembatan Kalikuto. Jembatan ini melintasi Sungai Kalikuto pada jalan tol ruas Semarang - Batang, Jawa Tengah. Jembatan selesai dibangun dan beroperasi pada tahun 2019. Bentang utama jembatan Kalilruto memiliki panjang 100 m menggunak:an struktur steel arch. Struktur jembatan baja berpotensi fatik akibat beban repetitif dari lalu lintas kendaraan yang melintasinya. Evaluasi dilakukan terhadap simulasi pembebanan lalu lintas berdasarkan data weigh-in-motion Jalan Raya Pantura, Gringsing, Mentosari, Kee. Gringsing, Kabupaten Batang, Jawa Tengah selama 7 hari beruntun. Perhittmgan umur fatik mengacu pada ketentuan AASHTO The Manual for Bridge Evaluation 2018 dan RSNI T-03-2005 tentang Perencanaan struktur baja untuk jembatan, serta menggunakan metode cumulative fatigue damage. Tegangan yang terjadi akibat beban lalu lintas aktual tergolong rendah dikarenakan elemen jembatan memiliki kapasitas sangat besar sehingga tidak ditemukan tegangan berlebih yang menyebabkan potensi terjadinya fatik. Elemen yang memiliki rentang tegangan efektif terbesar adalah elemen kabel sebesar 23.18 MPa dengan rentang tegangan maksirnumnya sebesar 73.97 M_pa. Hasil evaluasi menggunakan metode AASHTO MBE 2018 menunjukkan umur tak hingga dengan kuantifikasi umur hingga dengan sisa umur fatik paling konservatif adalah 80 tahun. Dengan menggunakan kurva S-N RSNI T-03-2005 diperoleh umur tak hingga dan dengan menggunakan metode cumulative fatigue damage diperoleh umur fatik dari elemen kabel adalah 88 tahun. Simulasi kerusakan diterapkan pada kabel tepi berturut - turut sebesar 15%, 25% dan 35% menyebabkan peningkatan tegangan efektif kabel tepi menjadi 39.65 MPa, 44.93 MPa dan 51.78 MPa. Umur sisa fatik berdasarkan AASHTO MBE adalah 61 tahun, 54 tahun dan 45 tahun sedangkan dengan metode cumulative fatigue damage adalah 81 tahun, 73 tahun dan 60 tahun. Kerusakan pada kabel tepi juga berpengaruh pada kabel yang berada disebelahnya. Tegangan efektif pada kabel yang berada disebelahnya menjadi 35.26 MPa, 35.6 MPa dan 35.95 MPa. Perhitungan umur sisa fatik menggunakan metode AASHTO berada dibawah umur rencana yaitu 68 tahun, 68 tahun dan 67 tahun sedangakan dengan metode cumulative fatigue damage menunjukan bahwa tidak terjadi fatik selama umur rencana karena fatik diprediksi terjadi pada usia jembatan 85 tahun, 85 tahun dan 85 tahun.