π Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 3 dokumenSTUDI PROPERTI GUGUS GALAKSI ABELL 2255
Gugus galaksi merupakan struktur skala terbesar di alam semesta yang terikat secara gravitasi dan menjadi laboratorium alami yang penting untuk memahami evolusi galaksi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan keanggotaan dan mengetahui kestabilan gugus galaksi Abell 2255 dari profil histogram kerapatan, serta mengidentifikasi indikasi keberadaan substruktur. Data penelitian bersumber dari Sloan Digital Sky Survey Data Release 19 (SDSS DR19) yang diolah menggunakan perangkat lunak TOPCAT, Microsoft Excel, serta bahasa pemrograman Python. Penentuan keanggotaan gugus dilakukan dengan mengombinasikan metode statistik Bukhari?Cram dan seleksi Color Cut, yang menghasilkan 129 galaksi sebagai anggota final. Berdasarkan galaksi anggota tersebut, diperoleh nilai redshift rata?rata sebesar 0.08018 dengan koordinat pusat gugus terletak pada RA = 258.205067? dan Dec = 64.066059?, serta jarak luminositas sebesar DL = 377.8 Mpc. Profil kerapatan Dressler menunjukkan adanya distribusi bimodal (dua puncak) pada histogram kerapatan lokal, yang mengindikasikan bahwa gugus ini memiliki konsentrasi rendah atau gugus yang non-relaxed. Selain itu, distribusi spasial galaksi anggota memperlihatkan morfologi gugus yang tidak terdapat galaksi besar cD. Hasil uji Dressler?Shectman juga menunjukkan adanya korelasi antara substruktur kinematik dengan fitur termal ekstrem pada peta temperatur sinar?X di wilayah pusat gugus. Secara keseluruhan, keberadaan substruktur serta ketidakteraturan profil densitas tersebut mengonfirmasi bahwa Abell 2255 merupakan sistem yang belum terelaksasi secara dinamis (non-relaxed) dan sedang berada dalam fase pasca-penggabungan (post-merger).
STUDI STRUKTUR DAN MORFOLOGI GALAKSI PADA Z>2 DENGAN DATA JWST
Studi tentang evolusi galaksi merupakan salah satu bagian penting dalam mempelajari evolusi alam semesta. Evolusi galaksi meliputi berbagai hal, diantaranya adalah perubahan ukuran dan bentuk galaksi sepanjang waktu kosmik. Galaksi yang baru terbentuk memiliki bentuk yang tak beraturan, sementara galaksi yang telah berevolusi lanjut memiliki struktur yang lebih matang, sebagaimana yang terlihat pada galaksi-galaksi di alam semesta lokal. Pembentukan komponen bulge dan piringan akan mengubah morfologi galaksi yang semula berbentuk tak beraturan menjadi spiral atau elips. Dengan menggunakan data pengamatan James Webb Space Telescope (JWST), kami menemukan bahwa fraksi galaksi dengan fitur piringan dan spheroid lebih mendominasi pada redshift rendah, sementara fraksi galaksi dengan bentuk tak beraturan lebih mendominasi pada redshift tinggi. Dari hasil pemodelan galaksi menggunakan profil sΒ΄ersic, kami menemukan tren radius efektif yang menurun seiring dengan bertambahnya redshift. Nilai radius efektif dari pemodelan galaksi juga menunjukkan distribusi massa dan radius yang sesuai dengan penelitian-penelitian sebelumnya. Dengan memanfaatkan data JWST dari berbagai filter, kami menemukan hubungan radius efektif terhadap panjang gelombang yang tampak stabil dan memiliki kecenderungan penurunan yang landai. Dalam penelitian ini, kami juga menganalisis distribusi struktur dan morfologi terhadap galaksi yang aktif membentuk bintang (star forming) dan galaksi yang pasif membentuk bintang (quiescent). Kami menemukan bahwa sebagian besar galaksi-galaksi yang pasif membentuk bintang memiliki bentuk spheroid, sementara galaksi-galaksi aktif memiliki morfologi yang bervariasi. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan data galaksi pada z > 2, dengan jumlah sampel awal data sebanyak 8743 galaksi. Sampel galaksi tersebut kemudian dimodelkan menggunakan aplikasi galfit dan galfitm, serta diklasifikasikan berdasarkan morfologinya melalui inspeksi visual. Melalui penelitian ini diharapkan dapat diperoleh pemahaman yang lebih baik terkait evolusi struktur galaksi sepanjang waktu kosmik.
EVOLUSI HUBUNGAN DERET UTAMA GALAKSI PEMBENTUK BINTANG PADA SKALA GLOBAL
Proses pembentukan bintang merupakan salah satu kunci untuk memahami evolusi galaksi di sepanjang waktu kosmik. Berbagai studi telah menemukan bahwa terdapat korelasi positif antara laju pembentukan bintang (star formation rate, SFR) dengan total massa bintang di galaksi. Galaksi dengan korelasi tersebut dikenal sebagai galaksi pembentuk bintang dan korelasi ini dikenal sebagai deret utama galaksi pembentuk bintang. Korelasi tersebut menunjukkan bahwa galaksi bermassa besar umumnya membentuk bintang dengan cepat. Pembentukan bintang terus berlanjut hingga gas yang merupakan bahan bakar pembentukan bintang telah habis. Kemudian laju pembentukan bintang akan melambat atau bahkan berhenti. Galaksi dengan laju pembentukan bintang yang rendah ini dikenal sebagai galaksi pasif dan korelasi SFR-massa bintangnya berada di bawah deret utama galaksi pembentuk bintang. Studi tentang mekanisme pembentukan bintang sejauh ini masih sangat terbatas pada galaksi-galaksi di redshift rendah (z < 2) hingga menengah (2 ? z < 6). Penelitian Tugas Akhir ini bertujuan untuk mempelajari evolusi deret utama galaksi pembentuk bintang, dari redshift z ? 0 hingga redshift tinggi (z ? 12) dengan menggunakan gabungan data fotometri dan citra galaksi dari data terbaru James Webb Space Telescope (JWST) dan arsip Hubble Space Telescope (HST). Sampel galaksi yang dianalisis berada pada rentang redshift 0 < z < 12. Properti fisis galaksi seperti massa bintang, SFR, dan redshift fotometrik, ditentukan dengan metode SED fitting menggunakan Dense Basis. Dari properti fisis tersebut kemudian dipelajari evolusi deret utama galaksi pembentuk bintang dan Stellar Mass Function (SMF) pada rentang redshift tersebut. Dari SMF yang diperoleh, diketahui bahwa galaksi pembentuk bintang pada rentang redshift tersebut lebih banyak merupakan galaksi bermassa rendah (< 109M!). Sementara itu normalisasi deret utama galaksi pembentuk bintang diketahui meningkat seiring bertambahnya redshift. Hal ini menunjukkan bahwa kandungan gas pembentuk bintang semakin banyak pada alam semesta awal. Kemiringan deret utama galaksi pembentuk bintang sendiri memiliki lembah pada z ? 4. Hasil ini dapat dijelaskan dengan teori pertumbuhan galaksi yang dimulai dari struktur dalam hingga ke luar (inside-out growth).