πŸ“š Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 15 dokumen

PEMANFAATAN KINEMATIK GPS UNTUK ANALISIS DEFORMASI KERAK BUMI AKIBAT GEMPA BENGKULU 2007

Wilayah Indonesia merupakan daerah seismik aktif (tektonik dan vulkanik). Pernyataan ini diperkuat dengan sering terjadinya gempa bumi di Indonesia beberapa tahun belakangan ini. Dimulai dengan gempa Aceh pada 26 Desember 2004 sebesar M (Magnitude) 9.1 hingga gempa terbaru yang terjadi di daerah Bengkulu pada pukul 22.40 WIB hari minggu tanggal 25 Februari 2008 dengan kekuatan M 7. Dengan demikian studi mengenai gempa bumi menjadi sangat penting. Studi yang dapat dilakukan mengenai gempa bumi adalah melalui pemantauan deformasi kerak bumi yang terjadi akibat gempa bumi tersebut. Teknologi GPS yang terus berkembang menjadi salah satu metoda yang paling sering digunakan untuk pemantauan deformasi akibat gempa bumi. Hingga saat ini metoda statik GPS digunakan untuk studi deformasi akibat gempa bumi. Dengan keterbatasan statik GPS dalam melihat tahapan gempa yang terjadi pada selang waktu yang singkat, maka metoda kinematik GPS diharapkan dapat diterapkan untuk dapat menganalisis tahapan gempa bumi secara lebih mendetail. Pemantaun deformasi akibat gempa bumi menggunakan metoda kinematik diterapkan untuk menganalisis tahapan gempa Bengkulu September 2007 secara lebih detail. Berdasarkan hasil kinematik GPS dapat dilihat deformasi coseismic pada setiap gempa yang terjadi. Deformasi terbesar terjadi pada tahap coseismic gempa M 8.4 di stasion PRKB sebesar -0.939 m arah utara dan -0.732 m arah barat dan deformasi di stasion-stasion pengamatan yang diakibatkan oleh gempa bumi Bengkulu 2007 semuanya dominan mengarah ke arah barat daya. Stasion pengamatan GPS yang digunakan pada penelitian ini adalah beberapa stasion dari jaring stasion GPS kontunyu SUGAR (Sumatran GPS Array) yang dekat dengan episenter gempa. Hasil penelitian ini berupa vektor pergeseran setiap tahapan gempa dan juga keterandalan metoda kinematik GPS untuk pemantauan deformasi kerak bumi serta mekanisme gempa Bengkulu berdasarkan besarnya momen geodetik dan seismik.

2026
πŸ‘€ Penulis: Ichfan Rosmawan
🏷️ Deformasi Kerak Bumi 🏷️ Gempa Bumi 🏷️ Kinematik Gps

ANALISIS DEFORMASI KOSEISMIK GEMPA SIMEULUE FEBRUARI 2008

Sumatra mengakomodasi tumbukan lempeng Indo-Australia yang men-subduksi lempeng Eurasia. Manifestasi dari tumbukan tersebut telah menghasilkan serangkaian gempabumi di sepanjang pantai barat Sumatra dan salah satunya adalah gempa Simeuleu yang terjadi pada bulan Februari 2008. Gempa Simeulue dengan magnitude 7.4 merupakan bagian dari rangkaian gempa yang sudah terjadi sebelumnya sehingga penting untuk dilakukan studi pemodelan gempa dari siklus gempa yang terjadi melalui pemantauan deformasi kerak bumi. Teknologi GPS yang terus berkembang menjadi salah satu metoda yang handal digunakan untuk pemantauan deformasi akibat gempa bumi. Sumatran GPS Array network (SuGAr) sebagai stasiun GPS kontinyu yang di pasang di sepanjang pulau Sumatra digunakan untuk studi deformasi akibat gempa. Studi deformasi koseismik sebagai upaya pemantauan terjadinya pergeseran pada saat gempa memberikan nilai pergeseran yang besar pada area disekitar episenter. Dalam penelitian yang dilakukan besarnya deformasi koseismik pada gempa Simeulue mengakibatkan pergeseran yang sangat signifikan pada stasiun gps SuGAr yang berada di pulau Simeulue yaitu stasiun gps LEWK bergeser kearah barat daya sebesar 8.87 cm dan stasiun gps BSIM bergeser kearah tenggara sebesar 1.87 cm dengan mekanisme gempa berupa sesar naik (Reverse fault). Gempa Simeulue tidak memberi pengaruh yang signifikan pada stasiun GPS yang berada diluar pulau Simeulue.

2026
πŸ‘€ Penulis: HIKMAT HIDAYATULLOH
🏷️ Deformasi Kerak Bumi 🏷️ Gempa Bumi 🏷️ Teknologi Gps

METODE SIMPIFIKASI DEFORMASI 2D PADA BENDUNGAN TIPE URUGAN TANAH ATAU BATU PADA SAAT KONDISI GEMPA.

Kegagalan pada suatu struktur bendung tipe urugan yang terjadi bisa dikarenakan oleh kegagalan akibat erosi dan rembesan, kerusakan akibat retakan, longsoran (landslide), peluapan (overtopping) maupun kegagalan akibat adanya gempa bumi. Deformasi pada bendungan tipe urugan akibat gempa adalah fenomena kompleks yang mempengaruhi integritas struktural dan keamanan bangunan tersebut. berbagai metode dalam memprediksi deformasi akibat gempa telah dikembangkan, mulai dari metode sederhana satu dimensi (1D) seperti metode Newmark (1965) dan Makdisi & Seed (1977), hingga analisis dinamik lanjutan tiga dimensi (3D) berbasis effective stress coupled dynamic analysis dengan input riwayat waktu percepatan. Saat ini metode simplifikasi deformasi 2D yang dipakai dalam menghitung deformasi gempa akibat beban gempa masih belum familiar, metode 2D dan 3D biasanya langsung menggunakan metode riwayat yang memerlukan biaya komputasi tinggi dan waktu analisis relatif lama. Metode Simplifikasi 2D yang dirumuskan Jitno (2019) dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif dalam perhitungan dan prediksi deformasi seismik pada bendungan urugan, dengan pengujian pada beberapa studi kasus tambahan sebagai upaya validasu dan pembuktian keandalannya.

2026
πŸ‘€ Penulis: Pramesti Wardani
🏷️ Deformasi Bendungan 🏷️ Gempa Bumi 🏷️ Metode Simpatisasi

ANALISIS KESIAPSIAGAAN PELAKU USAHA WISATA TERHADAP BENCANA GEMPA BUMI DI DESTINASI WISATA BANDA NEIRA

Indonesia sebagai negara kepulauan berada di kawasan rawan bencana geologi, termasuk gempa bumi dan tsunami, yang memberikan tantangan besar bagi pembangunan pariwisata berkelanjutan. Banda Neira, sebagai destinasi wisata unggulan di Indonesia Timur, menghadapi risiko tinggi gempa bumi, namun belum banyak kajian yang secara khusus meneliti kesiapsiagaan pelaku usaha wisata di wilayah ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kesiapsiagaan pelaku usaha wisata di Banda Neira khususnya wilayah Negeri Administratif Nusantara terhadap bencana gempa bumi serta menilai keselarasan kebijakan nasional dan daerah dengan prinsip-prinsip kesiapsiagaan dalam Sendai Framework for Disaster Risk Reduction (SFDRR) 2015-2030. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, studi dokumentasi, dan analisis konten kebijakan. Data dianalisis secara tematik menggunakan software NVivo dengan kerangka empat prioritas SFDRR: pemahaman risiko, tata kelola, investasi pengurangan risiko, serta kesiapsiagaan dan pemulihan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesiapsiagaan pelaku usaha skala mikro dan kecil di Banda Neira masih rendah, terutama dalam aspek perencanaan evakuasi, penyediaan jalur evakuasi, serta pelatihan kebencanaan. Kebijakan nasional dan daerah telah mengadopsi prinsip SFDRR, namun belum sepenuhnya terintegrasi dalam praktik sektor informal pariwisata. Dibandingkan dengan studi sebelumnya di daerah lain, penelitian ini menyoroti pentingnya pelibatan pelaku usaha lokal sebagai aktor strategis dalam sistem kesiapsiagaan. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada fokusnya terhadap sektor UMK pariwisata di wilayah kepulauan rawan gempa yang selama ini luput dari perhatian kebijakan. Temuan ini memberikan kontribusi penting bagi pengembangan model pariwisata tangguh bencana berbasis kolaborasi pentahelix dan kontekstual lokal. Penelitian ini memperkaya literatur tentang integrasi kebencanaan dan pariwisata serta menjadi rujukan strategis dalam perencanaan destinasi wisata berkelanjutan dan adaptif.

2026
πŸ‘€ Penulis: Meity Intan Suryadi
🏷️ Gempa Bumi 🏷️ Pariwisata Berkelanjutan 🏷️ Manajemen Risiko

EFEK GEMPA BERVARIASI SPASIAL TERHADAP PERPINDAHAN RELATIF ANTAR BENTANG DAN POTENSI TUMBUKAN PADA STRUKTUR JEMBATAN MULTI-SPAN BENTANG PANJANG TERISOLASI SEISMIK

Gempa bervariasi spasial (SVEGM) adalah fenomena dimana gempa yang direkam pada lokasi berbeda tidak identik, namun masih menunjukkan kemiripan. Objek penelitian tesis ini berupa jembatan panjang multi-span yang terisolasi seismik menggunakan Lead Rubber Bearing (LRB ). Jembatan memiliki panjang total 630 m, terdiri atas 19 pier, dengan panjang bentang seragam 35 meter. Model struktur tiga dimensi disusun menggunakan perangkat lunak SAP2000. Tujuan utama analisis adalah mengevaluasi simpangan relatif longitudinal antar girder yang diakibatkan oleh SVEGM serta mengevaluasi apakah expansion joint yang umum digunakan sebesar 10 cm masih memadai dengan eksitasi gempa tersebut. Simpangan relatif menjadi penting karena berhubung dengan potensi tumbukan. Set rekaman SVEGM pada penelitian ini didasarkan pada dua model koherensi spasial, model Luco-Wong dan model Harichandran-Vanmarcke. Generasi SVEGM dilakukan menggunakan metode Spectral Representation Method (SRM) yang dikombinasikan dengan pendekatan evoluationary power spectral density berbasis Wavelet Packet Transform (WPT). Hasil analisis menunjukkan bahwa, untuk konfigurasi jembatan dan input seismik yang ditinjau, expansion joint setebal 10 cm masih memadai. Namun, hasil juga menunjukkan bahwa SVEGM dapat menghasilkan perpindahan relatif yang cukup signifikan, bahkan pada jembatan dengan panjang bentang individu yang relatif pendek. Hal ini memberikan indikasi awal bahwa analisis gap tidak dapat diabaikan.

2026
πŸ‘€ Penulis: Sean Michael
🏷️ Gempa Bumi 🏷️ Jembatan Multi-Span 🏷️ Analisis Struktur

STUDI AKTIVITAS SESAR BARIBIS BERDASARKAN DATA PENGAMATAN GPS TAHUN 2007 - 2010

Jawa Barat merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang berpotensi akan bencana gempa bumi, hal ini dapat dilihat dari posisi Jawa Barat yang berada di daerah zona subduksi lempeng Eurasia dan lempeng Indo-Australia. Saat ini telah terbentuk tiga buah sesar aktif di Jawa Barat, diantaranya Sesar Cimandiri, Sesar Lembang, dan Sesar Baribis. Sesar Baribis merupakan sesar aktif dengan proses pembentukkan paling terakhir dengan jalur sesar yang terbentang dari daerah Subang hingga daerah perbukitan di sekitar Gunung Ciremai. Sesar Baribis memiliki potensi yang cukup besar akan terjadinya gema bumi, oleh karena itu diperlukan pemantauan aktivitas pada Sesar Baribis. Salah satu metode yang dapat diterapkan untuk memantau aktivitas Sesar Baribis adalah dengan menggunakan metode survei GPS. Data pengamatan GPS tersebut diolah dengan menggunakan software ilmiah Bernese 5.0 yang selanjutnya digunakan untuk menghitung nilai vektor pergeseran, nilai regangan, serta laju geser untuk keperluan analisis deformasi. Berdasarkan analisis deformasi tersebut, dapat diketahui aktivitas sesar yang terjadi di Sesar Baribis. Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa vektor pergeseran di Sesar Baribis mengarah ke barat laut dengan nilai pergeseran berkisar dari 2 mm/tahun sampai dengan 5 cm/tahun. Berdasarkan pola regangannya, di sekitar Sesar Baribis mengalami ekstensi dan kompresi secara merata, namun nilai kompresi cenderung lebih besar dibandingkan dengan nilai ekstensi. Estimasi laju geser dari sesar ini memiliki nilai sebesar 1.9 cm/tahun.

2026
πŸ‘€ Penulis: HANNA FADHILA (NIM 15107007); Pembimbing: Dr. Ir. Dina Anggreni, M.T., dan Irwan Gumilar, S.T, M.si.
🏷️ Gempa Bumi 🏷️ Sesar Baribis 🏷️ Analisis Deformasi

STUDI DEFORMASI POSTSEISMIK GEMPA PANGANDARAN 2006 DENGAN MENGGUNAKAN METODE SURVEI GPS

Gempa dan tsunami Pangandaran 2006 yang terjadi pada tanggal 17 Juli 2006 pukul 15.19 WIB mengakibatkan kerugian materiil dan korban jiwa yang tidak sedikit. Gempa tersebut tercatat dengan magnitude 6,8 skala Ritcher (BMG, 2006). Gempa yang terletak 200 km dari daratan terdekat tersebut merupakan salah satu tahapan dari siklus gempa bumi yang terjadi di sekitar selatan Jawa Barat. Dengan mempelajari siklus gempa bumi dalam hal ini pada tahapan postseismik, diharapkan dapat berkontribusi dalam melihat kemungkinan periode terjadinya pengulangan gempa dan dalam melihat kemungkinan efek postseismik terhadap daerah sekitar akibat gempa Pangandaran 2006 sehingga dapat dijadikan evaluasi potensi gempa di masa yang akan datang sebagai upaya dalam mitigasi bencana. Survei GPS dilakukan dengan mengamati titik-titik pengamatan GPS di sekitar Pangandaran. Pada tanggal 23-30 Juli 2006 survei GPS kala ke-1 dilakukan dengan melakukan pengamatan terhadap 28 titik pengamatan, sedangkan survei GPS kala ke-2 mengamati 30 titik pengamatan pada tanggal 9-14 Agustus 2007. Metode yang digunakan adalah metode diferensial dengan moda jaring. Dari hasil pengolahan dan analisis mengindikasikan bahwa titik-titik di sekitar Pangandaran mengalami pergerakan sebesar 2-4 cm dengan arah ke selatan atau searah dengan tahapan coseismiknya.

2026
πŸ‘€ Penulis: TEUKU MOCHAMAD NAWAKSARA (NIM 15103019)
🏷️ Geologi 🏷️ Gempa Bumi 🏷️ Survei Gps

PERANCANGAN STRUKTUR TAHAN GEMPA MIXED-USE BUILDING CICAHEUM CONNECT

Bandung merupakan salah satu kota wisata yang populer di Indonesia karena keragaman wisata yang ada di dalamnya, salah satunya adalah Saung Angklung Udjo. Tingginya potensi wisata Saung Angklung Udjo perlu didukung dengan perkembangan infrastruktur dan fasilitas yang memadai agar mampu meningkatkan minat wisatawan dan menggerakkan ekonomi masyarakat. Maka dari itu, dilakukan perencaanaan Mixed-Use Building Cicaheum Connect di lokasi Terminal Cicaheum dan Pasar Cicaheum yang berada sekitar 600 meter di jalur sirkulasi dari Saung Angklung Udjo dengan menggabungkan berbagai fungsi bangunan dengan harapan mampu mendukung aktivitas dan ekonomi warga sekitar. Untuk memberikan dukungan aktivitas dan ekonomi, struktur harus mampu menjaga keselamatan dan kenyamanan penggunanya terutama dalam kondisi adanya gempa bumi. Hal ini disebabkan oleh lokasi Indonesia yang rawan terhadap gempa menuntut adanya perencanaan struktur tahan gempa agar masyarakat dapat menggunakan infrastruktur dengan aman dan nyaman. Dalam tugas akhir desain ini, akan dilakukan perancangan struktur tahan gempa untuk Mixed-Use Building Cicaheum Connect dengan mengidentifikasi beban yang bekerja pada struktur, melakukan pemodelan dan analisis struktur menggunakan perangkat lunak ETABS, spColumn, dan Ms. Excel, dan menentukan detailing yang diperlukan untuk elemen struktur dengan acuan SNI 1726:2019, SNI 1727:2020, dan SNI 2847:2019.

2025
πŸ‘€ Penulis: Rheina Yovial Kusumastuti
🏷️ Struktural 🏷️ Mixed-Use Building 🏷️ Gempa Bumi

STUDI KOMPARASI RESPONS STRUKTUR BANGUNAN RANGKA BAJA 20 LANTAI DENGAN FLUID VISCOUS DAMPER (FVD) DAN LEAD RUBBER BEARING (LRB)

Indonesia merupakan salah satu negara yang terletak pada zona Cincin Api, sehingga memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap gempa bumi. Dua perangkat yang dapat meningkatkan ketahanan struktural terhadap gempa adalah Fluid Viscous Damper (FVD) dan Lead Rubber Bearing (LRB). Penelitian ini membandingkan tiga model struktur rangka baja 20 lantai, yaitu: (1) struktur tanpa perangkat (bareframe), (2) struktur dengan FVD, dan (3) struktur dengan LRB. Tahapan penelitian diawali dengan pengecekan struktur studi kasus pada ETABS untuk memastikan pemenuhan persyaratan simpangan antar lantai sesuai SNI 1726:2019. Karena persyaratan tersebut belum terpenuhi, struktur tidak dimodifikasi lebih lanjut. Analisis menggunakan 11 pasang ground motion dari tiga jenis zona tektonik berbeda, yaitu Megathrust, Benioff, dan Shallow Crustal, yang telah disesuaikan secara spektral dengan respons spektra target. FVD yang digunakan berasal dari Taylor Devices dan LRB dari Bridgestone. Untuk FVD, dihitung koefisien damping dari masing-masing model; sedangkan untuk LRB, dipilih jenis model yang sesuai dan direkapitulasi data yang diperlukan. Ketiga struktur dianalisis menggunakan Non-Linear Time History Analysis (NLTHA) di ETABS. Struktur dengan FVD dan LRB diiterasi hingga memenuhi persyaratan desain, yaitu simpangan antar lantai sesuai SNI 1726:2019, stroke maksimum untuk FVD, dan elongasi geser maksimum untuk LRB. Penempatan dan pemilihan model FVD serta LRB diatur sedemikian rupa hingga seluruh persyaratan tersebut terpenuhi. Hasil analisis menunjukkan bahwa baik FVD maupun LRB secara signifikan mengurangi respons dinamis dibandingkan bareframe untuk seluruh ground motion yang digunakan. Secara umum, semakin tinggi lantai, respons struktur dengan FVD cenderung lebih kecil dibandingkan dengan LRB, baik pada simpangan antar lantai maksimum, perpindahan lantai rata-rata, gaya geser lantai, maupun momen guling lantai. Pada respons percepatan maksimum, FVD menghasilkan percepatan lantai yang lebih rendah dibandingkan LRB di seluruh ketinggian struktur dengan selisih yang bervariasi, serta cenderung lebih seragam dibandingkan bareframe dan LRB. Kurva histeresis FVD memiliki luas yang sama atau lebih besar dari LRB, namun kurva LRB lebih lebar. Selain itu, energi kumulatif yang diserap oleh seluruh FVD lebih besar dibandingkan dengan seluruh LRB, dengan perbedaan yang bersifat moderat.

2025
πŸ‘€ Penulis: Ernest Agustinus
🏷️ Struktur Bangunan 🏷️ Gempa Bumi 🏷️ Analisis Dinamis

PENILAIAN KAPABILITAS SATELLITE DERIVED BATHYMETRY (SDB) UNTUK OBSERVASI PERUBAHAN BATIMETRI LAUT DANGKAL AKIBAT GEMPA

Indonesia, yang terletak di Cincin Api Pasifik, merupakan negara kepulauan dengan aktivitas tektonik tinggi, menjadikannya rentan terhadap bencana geologi seperti gempa bumi. Gempa signifikan berkekuatan magnitudo 7,6 terjadi di Laut Banda dekat Kepulauan Tanimbar pada Januari 2023, yang diduga menyebabkan perubahan karakteristik dasar laut. Pemantauan perubahan batimetri ini sangat penting untuk keselamatan navigasi dan mitigasi bencana, namun metode konvensional memiliki keterbatasan. Metode Satellite Derived Bathymetry (SDB) menawarkan alternatif efisien dengan memanfaatkan citra satelit Sentinel-2 dan data altimetri LiDAR ICESat-2 untuk estimasi kedalaman. Penelitian ini menyelidiki kapabilitas SDB dengan pendekatan empiris (model Stumpf dan Lyzenga) dalam mendeteksi perubahan batimetri pascagempa. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan memetakan perubahan batimetri di Kepulauan Tanimbar akibat gempa Januari 2023, mengevaluasi kinerja SDB empiris dalam mendeteksi perubahan pascagempa, serta menentukan algoritma SDB yang paling akurat di wilayah studi. Ruang lingkup penelitian mencakup Kepulauan Tanimbar untuk deteksi perubahan dan Pulau Pramuka untuk penilaian akurasi SDB. Data yang digunakan meliputi citra Sentinel-2 multi-temporal, data LiDAR ICESat-2 (ATL03) untuk kalibrasi dan validasi, data Single Beam Echo Sounder (SBES) dari Karang Semak Daun Pulau Pramuka untuk validasi akurasi vertikal SDB, serta titik kedalaman dari Peta Laut No. 463 sebagai referensi di Tanimbar. Data ICESat-2 dan SBES menjalani koreksi refraksi dan pasang surut (model TPXO10) sebelum digunakan. Analisis dilakukan dengan membandingkan model sebelum dan sesudah gempa, serta mengevaluasi akurasi menggunakan metrik statistik RMSE, MAE, dan RΒ². Hasil penelitian menunjukkan bahwa belum ada identifikasi definitif mengenai perubahan batimetri fisik aktual yang terjadi di sekitar Kepulauan Tanimbar dalam periode analisis. Meskipun terdeteksi perubahan yang sangat besar, mencapai 14 meter di beberapa lokasi, analisis lebih lanjut menunjukkan nilai-nilai ekstrem ini kemungkinan besar disebabkan oleh perbedaan batas maksimum pemodelan kedalaman antara citra yang digunakan (misalnya, citra April 2022 mampu memodelkan lebih dalam dibandingkan September 2022), daripada perubahan batimetri fisik murni. Secara umum, perubahan kedalaman di area yang lebih dangkal dari 20 meter tidak signifikan secara statistik, sementara perubahan di area yang lebih dalam dari 20 meter tidak dapat diinterpretasikan sebagai perubahan fisik karena variasi batas pemodelan kedalaman. Metode Satellite Derived Bathymetry dengan pendekatan empiris mampu mendeteksi perubahan kedalaman secara yakin jika perubahan tersebut lebih besar dari 3 kali ambang batas RMSE model kedalaman dan terjadi di kedalaman kurang dari 20 meter. Penerapan ambang batas ini krusial untuk menyaring noise dan fluktuasi, sementara perubahan kedalaman yang terdeteksi di area lebih dalam dari 20 meter harus diabaikan karena variasi batas maksimum pemodelan. Dalam konteks wilayah studi, Algoritma Lyzenga menunjukkan akurasi yang lebih tinggi dan kemampuan prediksi yang lebih baik, terutama di Kepulauan Tanimbar, serta cenderung lebih responsif terhadap variasi batimetri yang kompleks. Sementara itu, Algoritma Stumpf cenderung lebih akurat atau stabil dalam menghasilkan peta kedalaman yang konsisten dari waktu ke waktu di area yang stabil secara fisik.

2025
πŸ‘€ Penulis: Muhammad Zaidan Nafis
🏷️ Gempa Bumi 🏷️ Satellite Derived Bathymetry (Sdb) 🏷️ Analisis Batimetri Laut Dangkal

INVESTIGASI PROFIL BAWAH PERMUKAAN DAN ANALISIS POLA LIKUEFAKSI LONGSORAN FLUIDA (FLOWSLIDE) AKIBAT GEMPA PALU MW 7,5 28 SEPTEMBER 2018

Kejadian gempa Mw 7,5 yang diikuti oleh rangkaian gempa susulan Mw 6,4; Mw 6,3 dan Mw 6,1 yang terjadi dalam kurun waktu 25 menit pada tanggal 28 September 2018 di Kota Palu, Sulawesi Tengah, telah menimbulkan dampak kerusakan dan kerugian yang signifikan. Selain kerusakan akibat guncangan gempa, dua bahaya ikutan berupa tsunami dan likuefaksi telah memperparah dampak kerusakan dan kerugian yang ditimbulkan. Likuefaksi merupakan fenomena alam yang umum terjadi sesaat setelah gempa dengan magnitudo moment (Mw) lebih dari skala 6. Namun, likuefaksi yang terjadi di Palu merupakan fenomena yang unik dan menarik untuk dipelajari. Keunikan likuefaksi yg terjadi di tiga lokasi yaitu Balaroa, Petobo dan Jono Oge, dimana ketiga kota tersebut berjauhan namun akibat gempa utama dan gempa susulan menyebabkan terjadinya flow likuefaksi yang masif. Penelitian ini dilakukan untuk menginvestigasi terjadinya likuefaksi yang masif di Balaroa, Petobo, dan Jono Oge dengan menggunakan metode Horizontal to Vertical Spectral Ratio (HVSR), MultiChannel Analysis of Surface Waves (MASW), dan Spatial Auto Corelation (SPAC) dengan total titik pengukuran secara berurutan masing-masing 150, 40, dan 40 lokasi. Hasil analisis HVSR menunjukkan nilai periode dominan yang tinggi di kota Palu dapat diinterpretasikan sebagai wilayah rawan bahaya gempa. Analisis MASW menunjukkan bahwa nilai Vs30 di wilayah Balaroa berkisar antara 153 m/s sampai dengan 522,57 m/s, wilayah Petobo berkisar antara 154,32 m/s sampai dengan 464,06 m/s, dan di wilayah Jono Oge berkisar antara 207,2 m/s sampai dengan 343,68 m/s. Sedangkan, hasil analisis SPAC menunjukkan bahwa wilayah Balaroa memiliki lapisan bedrock pada kedalaman 90 m sampai dengan 339.20 m, wilayah Petobo berkisar antara 125,71 m sampai dengan 411,33 m, dan wilayah Jono Oge berkisar antara 100 sampai dengan 166,70 m. Analisis likuefaksi menggunakan data Vs30 di wilayah Balaroa, Petobo, dan Jono Oge menunjukkan nilai Factor of Safety (FS) < 1 dan nilai Liquefaction Potential Index (LPI) yang tinggi berasosiasi dengan zona yang memiliki nilai Vs30 rendah hingga sedang (sedimen tebal). Berdasarkan mekanismenya, likuefaksi yang terjadi di tiga wilayah tersebut merupakan likuefaksi longsoran fluida campuran tanah berpasir dan air atau flowslide. Flowslide likuifaksi terjadi karena litologi bawah permukaan di ketiga wilayah tersebut, memiliki kemiringan terrain morfologi dan adanya lapisan penutup (capping layer) yang memerangkap tanah berpasir yang mencair dan mencegahnya mencapai permukaan. Turunnya kohesi tanah akibat naiknya tekanan pori (pore pressure) yang dipicu getaran gempa kuat menyebabkan terjadinya flowslide likuefaksi yang masif. Penelitian ini menghasilkan informasi rinci struktur lapisan bawah permukaan yang berkaitan dengan kriteria terjadinya likuefaksi dan pola mekanisme flowslide likuefaksi. Oleh karena itu, secara keilmuan hasil penelitian ini dapat meningkatkan pemahaman mengenai fenomena dan potensi flowslide likuefaksi di ketiga wilayah tersebut. Pemahaman tentang potensi flowslide likuefaksi bermanfaat untuk kerekayasaan dalam upaya penyusunan program mitigasi dan pengurangan risiko bencana, seismic hazard, dan tata ruang di Kota Palu dan sekitarnya.

2025
πŸ‘€ Penulis: Rahmat Triyono
🏷️ Gempa Bumi 🏷️ Likuefaksi Longsoran Fluida (Flowslide) 🏷️ Analisis Struktur Lapisan Tanah

STUDI PENGARUH NILAI VISKOSITAS FLUIDA TERHADAP KINERJA FLUID VISCOUS DAMPER (FVD) PADA BANGUNAN STRUKTUR RANGKA BAJA 20 LANTAI

Indonesia merupakan salah satu negara yang terletak pada zona Cincin Api. Dengan demikian, Indonesia termasuk rawan terhadap bahaya gempa bumi. Salah satu perangkat yang mampu meningkatkan ketahanan struktural terhadap gempa bumi adalah Fluid Viscous Damper (FVD). Pada Tugas Akhir ini, akan dibandingkan tiga struktur rangka baja 20 lantai. Struktur pertama tidak diberikan FVD, struktur kedua diberikan FVD berviskositas rendah, dan struktur ketiga diberikan FVD berviskositas tinggi. Tugas Akhir dimulai dengan menghitung nilai koefisien damping dari masingmasing model yang dikeluarkan oleh Taylor Devices menggunakan nilai koefisien viskositas fluida rendah dan tinggi. Kemudian, kedua struktur yang dipasang FVD dianalisis dengan riwayat waktu linear menggunakan perangkat lunak ETABS v21.0.0. Kedua struktur tersebut harus memenuhi dua syarat untuk struktur dengan sistem peredam, yaitu perpindahan lantai atap maksimum dan simpangan antar lantai maksimum. Konfigurasi penempatan FVD dari kedua struktur didesain secara iteratif hingga memenuhi kedua syarat tersebut. Berdasarkan hasil dari Tugas Akhir yang diperoleh, struktur dengan FVD berviskositas tinggi memiliki perpindahan dan percepatan lantai yang lebih kecil daripada FVD berviskositas rendah saat terjadi gempa, tetapi pengurangannya tidak signifikan. Namun, FVD berviskositas tinggi yang terletak pada struktur memiliki kurva histeresis yang lebih tinggi secara signifikan daripada FVD berviskositas rendah saat terjadi gempa. Hal ini berarti bahwa struktur dengan FVD berviskositas tinggi memiliki kemampuan meredam geteran gempa yang jauh lebih baik daripada FVD berviskositas rendah.

2024
πŸ‘€ Penulis: Ernest Agustinus
🏷️ Gempa Bumi 🏷️ Fluid Viscous Damper (Fvd) 🏷️ Struktur Rangka Baja

PERANCANGAN STRUKTUR JEMBATAN PCI GIRDER DENGAN PILAR PORTAL (STUDI KASUS RELOKASI JALAN AEK LATONG)

Dalam rangka usaha pemerintah untuk meningkatkan infrastruktur kawasan Aek Latong, pemerintah melakukan relokasi jalan Aek Latong yang pada perencanaannya terdapat suatu lembah pada STA 7+400 yang harus disambung menggunakan jembatan. Pembangunan jembatan pada relokasi jalan Aek Latong STA 7+400 akan direncanakan menggunakan jembatan berjenis jembatan PCIgirder dengan pilar portal. Perancangan jembatan ini akan meliputi perancangan struktur atas, struktur bawah, serta fondasi dari jembatan. Jembatan juga sudah direncanakan untuk tahan terhadap gempa, karena kawasan Aek Latong merupakan kawasan yang cukup rawan terhadap gempa. Seluruh proses perencanaan sudah mengacu pada aturan yang berlaku seperti SNI (Standar Nasional Indonesia), AASHTO (American Association of State Highway and Transportation Officials), serta Caltrans (California Department of Transportation standards). Hasil dari perancangan akan berupa detail desain dari tiap elemen serta gambar teknis yang dapat menjadi acuan proses pembangunan. Di akhir proses perencanaan juga terdapat suatu perbandingan terkait efektifitas dari jenis pilar dan spasi girder yang dipakai dengan jembatan pembanding, yaitu jembatan dengan spasi girder 2,4 m dan menggunakan pilar tunggal.

2024
πŸ‘€ Penulis: Fattarazza Gayendra Putra
🏷️ Konstruksi Jalan 🏷️ Teknik Struktur 🏷️ Gempa Bumi

EVALUASI KEBUTUHAN PENGELOLAAN SAMPAH SPESIFIK AKIBAT BENCANA JENIS KONSTRUKSI PADA GEMPA BUMI DI KABUPATEN CIANJUR (STUDI KASUS KECAMATAN CIANJUR DAN KECAMATAN CUGENANG)

Bencana alam dapat terjadi secara tiba-tiba ataupun melalui proses yang berlangsung secara perlahan. Beberapa bencana seperti gempa bumi, hampir tidak mungkin diperkirakan secara akurat kapan, dimana akan terjadi dan besaran kekuatannya. Pada tahun 2022 lalu tepatnya pada tanggal 21 November terjadi gempa bumi menerpa Kabupaten Cianjur. Bencana yang terjadi memiliki dampak negatif yang merugikan masyarakat salah satunya ialah terjadinya lonjakan timbulan sampah konstruksi. Pengelolaan sampah pasca bencana merupakan salah satu sistem manajemen operasional terpenting yang pernah dikembangkan untuk membantu masyarakat dalam memulihkan kondisi kembali ke situasi stabil setelah terjadinya bencana. Estimasi timbulan sampah yang dihasilkan di Kecamatan Cianjur sebesar 3.448,70 mΒ³ sedangkan untuk Kecamatan Cugenang sebesar 63.372 mΒ³. Sampah konstruksi yang dihasilkan di kedua lokasi penelitian terdiridari beton, kayu, plastik/PVC, kaca, gypsum, keramik, dan logam/bahan lainnya. Berdasarkan hasil evaluasi pengelolaan sampah bencana, pengelolaan sampah bencana di Kabupaten Cianjur masih kurang optimal, baik dari aspek Teknis Operasional, Aspek finansial, maupun dari Aspek Peran Serta Masyarakat. Sedangkan hasil evaluasi kesesuaian pengelolaan sampah bencana yang mengacu pada UN-DWM Guidelines menunjukkan bahwa pengelolaan sampah akibat bencana belum memenuhi pedoman yang telah ditetapkan, sehingga disusunlah SOP pengelolaan sampah akibat bencana. Pembentukan sistem pengelolaan sampah bencana akan berfokus pada pengembangan pedoman teknis dan prosedur operasi standar (SOP) untuk pengelolaan sampah bencana. SOP ini disusun dengan mengacu pada UN-Disaster Waste Management Guidelines SOP ini disusun dengan mengacu pada Pedoman Pengelolaan Sampah Bencana PBB, yang terdiri dari 4 fase, yaitu Fase 1: Fase Tanggap Darurat; Fase 2: Fase Pemulihan Awal; Fase 3: Fase Pemulihan; dan Fase 4: Rencana Kontinjensi dan Mitigasi.

2024
πŸ‘€ Penulis: Gusrin Sudirja Pasaribu
🏷️ Gempa Bumi 🏷️ Pengelolaan Sampah Pasca-Bencana 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

STUDI PERMODELAN GEMPA DAN GELOMBANG TSUNAMI AKIBAT MAKASSAR STRAIT FAULT BESERTA ANALISIS LINEAR DAN NONLINEAR PADA DESAIN JEMBATAN INTEGRAL

Indonesia merupakan negara yang memiliki risiko tinggi terhadap gempa dan tsunami karena dikelilingi oleh lempeng tektonik dan banyak patahan aktif. Hal tersebut menjadi tantangan besar terhadap bidang pembangunan infrastruktur, termasuk pembangungan jembatan. Jembatan Palu IV yang terletak di Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah merupakan salah satu contoh jembatan yang runtuh akibat bencana gempabumi dan tsunami yang terjadi pada tahun 2018. Gempabumi tersebut bersumber dari Sesar Palu-Koro yang memiliki mekanisme strike-slip, dimana pada umumnya tidak dapat memicu terjadinya tsunami. Jembatan Palu IV ini kemudian dibangun kembali mulai tahun 2022 dengan struktur beton integral dan panjang total 249,4 m yang terdiri dari bentang utama dengan panjang 116 m dan 2 bentang samping dengan panjang masing-masing 66,7 m. Sehingga berdasarkan hal tersebut pada penelitian ini akan dilakukan pemodelan gempabumi dan gelombang tsunami dengan sumber gempa yang memiliki mekasisme reversefault agar dapat memicu terjadinya tsunami beserta analisis analisis kinerja terhadap desain Jembatan Palu IV. Sumber gempabumi yang akan menjadi tinjauan pada penelitian ini adalah makassar strait fault segmen north dan central yang memiliki mekanisme reversefault agar dapat memicu terjadinya tsunami. Perhitungan beban gempa berupa respon spektra di batuan dasar dilakukan menggunakan metode deterministic seismic hazard analysis (DSHA) dengan ground motion prediction equation (GMPE) mengacu kepada Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2017. Perambatan gelombang gempa ke permukaan dilakukan dengan 2 metode yaitu menggunakan faktor amplifikasi SNI 2833:2016 dan software Deepsoil V.7 untuk mendapatkan respon spektra di permukaan tanah. Pemodelan gelombang tsunami dilakukan menggunakan software Delft Dashboard dan Delft3D dengan skenario 2 tipe ukuran grid yaitu 100x100 meter dan 25x25 meter untuk mendapatkan propagasi gelombang yang lebih detail pada titik tinjauan. Hasil yang akan didapatkan adalah berupa ketinggian maksimum, waktu kedatangan dan kecepatan maksimum tsunami yang kemudian akan digunakan untuk mnghitung beban tsunami berdasarkan FEMA P-646 dan ASCE 7-16. Pemodelan struktur jembatan dilakukan menggunakan software MIDAS CIVIL dan untuk analisis struktur digunakan dua metode yaitu analisis linear dan non-linear time history. Pada analisis linear dilakukan pengecekan gaya dalam, interaksi aksial lentur, gaya geser dan mengidentifikan sumber beban dominan terhadap struktur jembatan. Sedangkan pada analisis non-linear time history dilakukan evaluasi level kinerja struktur berdasarkan regangan material beton dan tulangan baja (NCHRP 949), drift ratio (NCHRP 440) dan sudut rotasi (ASCE 41-17). Hasil dari pemodelan gempa diperoleh respon spektra di permukaan tanah dengan PGA 0,236 g dan 0,079 g. Kemudian pemodelan tsunami menghasilkan data ketinggian maksimum tsunami sebesar 12,67 m dengan waktu kedatangan sekitar 21,6 menit dan kecepatan maksimum tsunami 13,86 m/s. Hasil analisis linear menggambarkan bahwa gempabumi dengan sumber makassar strait fault bukan merupakan gempa dominan yang dapat terjadi karena PGA yang dihasilkan lebih kecil dibandingkan PGA gempa yang terdapat di dalam Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2017 untuk wilayah Kota Palu. Namun beban tsunami menghasilkan gaya aksial, momen-y, P-My-Mz dan geser-z yang lebih besar dibandingkan gempa dominan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa apabila struktur berada pada wilayah dengan risiko gempa dan tsunami yang tinggi, maka direkomendasikan untuk memperhitungkan kedua ancaman bencana tersebut di dalam perencanaan struktur agar tidak menghasilkan desain yang β€˜underestimate’. Sementara itu analisis non-linear time history menghasilkan level kinerja struktur jembatan berdasarkan regangan beton, regangan tulangan baja dan drift ratio yang berada pada level fully operational, dimana hal tersebut telah memenuhi target level kinerja berdasarkan NCHRP 949 untuk jembatan kritis dengan periode ulang gempa 1000 tahun. Sedangkan berdasarkan sudut rasio, diperoleh hasil struktur jembatan berada pada level Immediate Occupancy (IO) untuk arah transversal dan Elastic-IO untuk arah longitudinal, hal tersebut juga telah memenuhi target level kinerja berdasarkan ASCE 41-17 untuk wilayah dengan kategori risiko tsunami III.

2024
πŸ‘€ Penulis: Rizqullah Vinori
🏷️ Gempa Bumi 🏷️ Tsunami 🏷️ Desain Jembatan
πŸ’¬