📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 13 dokumenANALISIS WAWASAN KONSUMEN PRIA GEN Z UNTUK MERUMUSKAN STRATEGI PERTUMBUHAN BISNIS: STUDI PADA SILVERMACY DENGAN KERANGKA KERJA MATRIKS ANSOFF
Industri perhiasan di Bandung dipengaruhi oleh pola konsumsi Gen Z pria yang berubah dengan cepat, menciptakan ketidakpastian strategis bagi merek-merek yang berfokus pada Gen Z seperti Silvermacy. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi wawasan konsumen Gen Z laki-laki sebagai dasar penentuan strategi pertumbuhan menggunakan Matriks Ansoff dan merumuskan solusi bisnis untuk Silvermacy. Penelitian ini menerapkan pendekatan deskriptif kuantitatif melalui kuesioner daring yang dibagikan kepada 121 responden Gen Z laki-laki berusia 18-28 tahun di perkotaan Bandung (N=121). Data dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif dan nilai indeks. Temuan menunjukkan bahwa indeks sumbu produk mencapai 79,53%, yang berada di bawah ambang batas 80%, menunjukkan arah kemiringan produk baru. Sementara itu, 72,73% responden lebih memilih untuk tetap berada di pasar yang ada, yang mengarah pada pemetaan strategis menuju Pengembangan Produk. Hasil ini menyiratkan bahwa Silvermacy harus memprioritaskan inovasi produk yang selaras dengan preferensi Gen Z pria sambil memastikan kesiapan internal sebelum menjalankan strategi pengembangan produk.
EKSPEKTASI KESEIMBANGAN KERJA DAN KEHIDUPAN YANG DIBENTUK MEDIA DI KALANGAN GEN Z INDONESIA: STUDI KUALITATIF MULTI-INDUSTRI
Studi kualitatif ini mengeksplorasi bagaimana pekerja Gen Z di Indonesia membentuk ekspektasi terhadap keseimbangan kerja dan kehidupan (work-life balance/WLB) melalui representasi media terhadap berbagai industri. Menggunakan teori kontrak psikologis, teori sinyal, dan employer branding sebagai kerangka utama, penelitian ini menelaah kesenjangan antara ekspektasi dan realitas pengalaman kerja Gen Z yang bekerja di sektor teknologi, industri kreatif, dan kesehatan. Data dikumpulkan melalui enam wawancara mendalam dengan pekerja Gen Z dan dianalisis menggunakan analisis tematik. Temuan menunjukkan bahwa media sering kali menampilkan versi ideal dari keseimbangan kerja dan kehidupan—terutama dalam industri teknologi dan kreatif—namun gambaran tersebut hanya sebagian yang mencerminkan realitas di tempat kerja. Banyak responden yang menyesuaikan kembali ekspektasinya setelah memasuki dunia kerja, yang mengindikasikan pentingnya employer branding yang lebih autentik dan realistis di ruang digital.
NOSTALGIA AND BEYOND: FAKTOR PSIKOLOGIS YANG MENDORONG KEBANGKITAN TREN 2000-AN DAN NIAT BELI DI TIKTOK DI KALANGAN GEN Z DI DAERAH JABODETABEK
Penelitian ini mengkaji bagaimana faktor psikologis— nostalgia, lingkungan sosial, tren, kepercayaan terhadap pengaruh influencer, serta sumber hiburan— membentuk persepsi Generasi Z terhadap kembalinya tren tahun 2000an di TikTok serta peningkatan minat beli terhadap produk atau layanan terkait. Penelitian ini menarik responden Gen Z berusia 18–28 tahun yang berasal dari wilayah Jabodetabek, dengan menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif setelah adanya kendala reliabilitas yang membatasi penggunaan analisis regresi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa konten bernuansa nostalgia dan dibagikan secara sosial, disertai dengan kepercayaan terhadap influencer dan pesan yang mudah diterima, menjadi pendorong utama keterlibatan audiens. Sementara itu, nilai hiburan dan kebangkitan tren menunjukkan konsistensi interpretasi yang beragam. Meskipun nostalgia dapat menumbuhkan ikatan emosional, faktor ini tidak secara langsung mendorong minat beli; sebaliknya, autentisitas, pengaruh teman sebaya, dan kredibilitas kreator memiliki peran yang lebih kuat. Studi ini menyarankan agar pemasar dan pembuat konten dapat lebih efektif menarik perhatian Gen Z melalui strategi yang relevan secara emosional, selaras dengan budaya, dan autentik, serta merekomendasikan penelitian selanjutnya dengan jumlah sampel yang lebih besar, lebih beragam, dan menggunakan instrumen pengukuran yang lebih matang.
DAMPAK ULASAN PELANGGAN DI TIKTOK TERHADAP NIAT PEMBELIAN ONLINE PRODUK KECANTIKAN
Pertumbuhan pesat pengguna TikTok di Indonesia telah mengubah cara konsumen, khususnya Generasi Z, menemukan dan memutuskan pembelian produk kecantikan. Namun, masih terbatas penelitian yang mengkaji bagaimana ulasan konten kreator pada platform ini memengaruhi niat beli secara online. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kredibilitas konten kreator, yang mencakup kepercayaan, daya tarik, dan keahlian, serta keterlibatan konsumen (likes, komentar, dan share) terhadap niat beli online produk kecantikan pada konsumen Gen Z di Jawa Barat. Pendekatan kuantitatif digunakan dalam penelitian ini dengan metode Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) terhadap 241 responden aktif pengguna TikTok yang sering menonton ulasan produk kecantikan dan telah melakukan pembelian online. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua variabel yang diuji berpengaruh positif dan signifikan terhadap niat beli. Keahlian konten kreator memiliki pengaruh paling kuat, diikuti oleh keterlibatan konsumen, daya tarik, dan terakhir kepercayaan. Temuan ini memperkuat penerapan Model Kredibilitas Sumber dalam konteks platform video pendek serta memberikan implikasi praktis bagi brand dan pemasar dalam merancang strategi influencer marketing untuk meningkatkan niat beli produk kecantikan pada Gen Z.
MEMAHAMI FAKTOR-FAKTOR YANG MENDORONG KETERLIBATAN GEN Z TERHADAP KONTEN EDUKASI DI TIKTOK
Adopsi teknologi digital yang cepat telah membawa perubahan signifikan dalam dunia pendidikan, termasuk penggunaan platform media sosial seperti TikTok sebagai sarana pembelajaran informal. Sebagai salah satu platform paling populer di kalangan Gen Z, TikTok memberikan tipe video pendek yang menarik secara visual dan sesuai dengan preferensi Gen Z, sehingga berpotensi menjadi media penyampaian konten edukatif yang ringan, seperti tips, wawasan akademik singkat, atau fakta menarik. Meskipun memiliki potensi tersebut, tingkat keterlibatan terhadap konten e dukasi di TikTok masih relatif rendah dibandingkan dengan kategori konten lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk memahami faktor-faktor yang dapat mendorong keterlibatan Gen Z terhadap konten edukasi di TikTok yang berfokus pada lima variabel, yaitu keahlian (expertise), kepercayaan (trustworthiness), daya tarik (attractiveness), informatif (informativeness), dan nilai hiburan (entertainment value). Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan menyebarkan kuesioner secara daring melalui Google Forms dengan mengumpulkan data dari 240 responden menggunakan teknik non-probability dengan purposive sampling. Adapun kriteria responden adalah Generasi Z (usia 18-25 tahun) di Indonesia, pengguna TikTok harian dengan minimal 5 hari penggunaan dalam seminggu, dan pernah menonton konten edukasi di TikTok. Data dianalisis menggunakan metode Regresi Linier Berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh variabel yaitu keahlian, kepercayaan, daya tarik, informatif, dan nilai hiburan berpengaruh positif dan signifikan terhadap keterlibatan Gen Z dalam konten edukasi di TikTok. Temuan ini memberikan wawasan praktis bagi para kreator konten dalam membuat konten edukatif yang lebih menarik dan efektif sesuai dengan preferensi serta kebiasaan konsumsi digital Gen Z.
PENGARUH FLEXIBLE WORK ARRANGEMENT TERHADAP TURNOVER INTENTION DENGAN PERAN MEDIASI JOB SATISFACTION: STUDI PADA GEN Z DI BANDUNG
Jauh sebelum adanya pandemi COVID-19 flexible work arrangement sudah diterapkan beberapa perusahaan. Kondisi pandemi mengharuskan karyawan untuk tetap melaksanakan pekerjaannya tanpa harus datang ke kantor. Oleh karena itu, perusahaan didorong untuk menerapkan flexible work arrangement sebagai salah satu cara preventif agar pandemi segera berakhir. Hal ini menyebabkan flexible work arrangement di implementasikan secara luas oleh berbagai perusahaan. Penelitian sebelumnya menemukan bahwa flexible work arrangement dapat menurunkan turnover intention pada karyawan secara umum. Namun, terdapat kontradiksi menarik pada Gen Z yang memiliki preferensi kerja secara fleksibel. Gen Z memiliki tingkat turnover intention yang tinggi. Kesenjangan ini mengindikasikan kemungkinan adanya faktor lain yang berperan. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk membuktikan apakah flexible work arrangement berpengaruh terhadap turnover intention pada Gen Z di Bandung? Dan membuktikan apakah job satisfaction memiliki peran mediasi terhadap hubungan tersebut? Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode non-probability sampling yaitu purposive sampling. Data diperoleh melalui survey questionnaire secara online dengan menggunakan skala likert (1-5) dari 142 responden karyawan Gen Z yang bekerja di Bandung secara flexible. Data dianalisis menggunakan SPSS 27 dengan regresi berganda dan software PROCESS Macro yang digunakan untuk menganalisis peran mediasi job satisfaction. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa flexible work arrangement tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap turnover intention pada Gen Z. Namun, flexible work arrangement memiliki pengaruh signifikan terhadap job satisfaction dan job satisfaction memiliki pengaruh signifikan terhadap turnover intention. Hal ini membuktikan bahwa pengaruh flexible work arrangement terhadap turnover intention pada Gen Z terjadi melalui peran job satisfaction. Berdasarkan temuan, perusahaan dapat menerapkan flexible work arrangement yang sesuai dalam meningkatkan job satisfaction dalam menurunkan turnover intention pada Gen Z. Upaya praktis ini diharapkan dapat membantu organisasi mempertahankan talenta muda dengan mendukung keseimbangan kerja, meningkatkan keterlibatan kerja, serta mengantisipasi tanda-tanda awal niat resign.
PENGARUH PENETAPAN TUJUAN KARIR DAN PENYUSUNAN KERJA TERHADAP NIAT UNTUK TETAP BERKARYAWAN GENERASI Z YANG DIPERSEPSI BERKUALIFIKASI TINGGI
Fenomena meningkatnya tingkat turnover di kalangan karyawan Gen Z (Generasi Z) menjadi tantangan serius bagi organisasi. Salah satu penyebabnya adalah ketidaksesuaian kapasitas individu yang melebihi kualifikasi pekerjaan yang dijalani, atau yang dikenal sebagai perasaan overqualified. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dugaan solusi untuk fenomena tersebut melalui penetapan tujuan karier dan penyesuaian pekerjaan secara proaktif. Metode penelitian ini adalah kuantitatif dengan menyebarkan kuesioner kepada responden Gen Z yang merasa overqualified dan bekerja di wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi). Dalam konteks ini, penetapan tujuan karier merujuk pada proses di mana individu menetapkan aspirasi pribadi dan tujuan strategis untuk pengembangan profesional serta arah karier jangka panjangnya. Sementara itu, penyesuaian pekerjaan menggambarkan perubahan proaktif oleh karyawan terhadap tugas atau cara pandangnya terhadap pekerjaan guna menyesuaikan pekerjaan dengan kekuatan, nilai, dan minat pribadi. Adapun penerima overqualification dalam penelitian ini dilihat sepenuhnya dari sudut pandang karyawan, berdasarkan penilaian diri bahwa kemampuan mereka melebihi tuntutan dari pekerjaannya, tanpa penilaian dari pihak perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penetapan tujuan karier tidak memiliki pengaruh langsung yang signifikan terhadap niat untuk bertahan. Namun, ketika dimediasi oleh penyesuaian pekerjaan secara proaktif, hubungan tersebut menjadi signifikan, yang berarti bahwa karyawan Gen Z yang merasa overqualified dapat meningkatkan niat bertahan mereka di organisasi dengan melakukan penyesuaian proaktif terhadap pekerjaan mereka. Temuan ini memperkuat pentingnya peran penyesuaian pekerjaan sebagai jembatan antara aspirasi karier dan keterikatan terhadap pekerjaan. Oleh karena itu, peneliti merekomendasikan agar organisasi menciptakan lingkungan kerja yang mendukung penyesuaian pekerjaan dengan menyediakan wadah eksplorasi karier, sementara karyawan perlu proaktif menetapkan tujuan karier serta membentuk ulang peran mereka agar lebih bermakna.
PENGARUH PERSEPSI HARGA DAN KUALITAS MAKANAN TERHADAP NIAT BELI ULANG MELALUI KEPUASAN PELANGGAN: PERAN FEAR OF MISSING OUT
Penelitian ini mengkaji faktor-faktor utama yang memengaruhi niat pembelian ulang di kalangan konsumen Generasi Z (Gen Z) dalam industri makanan dan minuman (FnB) di Jabodetabek, dengan fokus pada peran persepsi harga, kualitas makanan, dan kepuasan pelanggan. Meskipun fenomena Fear of Missing Out (FoMO) berperan penting dalam memicu minat pembelian awal, penelitian ini mengungkapkan bahwa keputusan pembelian ulang terutama dipengaruhi oleh faktor yang lebih mendalam dan berkelanjutan. Secara khusus, kualitas makanan dan persepsi harga merupakan faktor penentu utama dalam kepuasan pelanggan, yang pada gilirannya mempengaruhi kemungkinan pembelian ulang. Di era digital, tren media sosial, terutama di platform seperti TikTok dan Instagram, dengan cepat menarik perhatian konsumen Gen Z yang sangat terhubung, mendorong mereka untuk melakukan pembelian impulsif berdasarkan konten viral. Namun, studi ini menunjukkan bahwa kegembiraan awal yang dipicu oleh FoMO cenderung memudar dengan cepat, dan jika pengalaman produk tidak memenuhi ekspektasi konsumen, kepuasan menurun, dan peluang pembelian ulang berkurang secara signifikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, dengan menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) untuk menganalisis data survei dari 300 responden Gen Z yang telah membeli produk FnB viral. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketika konsumen memandang produk makanan sebagai berkualitas tinggi dan harga yang adil, kepuasan mereka meningkat, yang secara signifikan meningkatkan niat pembelian ulang mereka. Sebaliknya, ketika terdapat ketidaksesuaian antara pesan pemasaran produk dan pengalaman produk yang sebenarnya, kepuasan menurun, sehingga membuat kemungkinan pembelian ulang berkurang meskipun pembelian awal dipicu oleh FoMO. Temuan ini memberikan wawasan praktis bagi merek FnB yang ingin memanfaatkan kekuatan tren media sosial sambil memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan. Meskipun memanfaatkan FoMO efektif untuk menarik perhatian dan meningkatkan penjualan jangka pendek, penelitian ini menekankan bahwa kesuksesan jangka panjang dan loyalitas pelanggan bergantung pada kemampuan untuk melampaui ekspektasi pelanggan dengan menawarkan produk berkualitas tinggi dengan harga yang adil, serta memastikan bahwa konten promosi merek mencerminkan nilai produk yang sebenarnya untuk mengubah kesuksesan viral menjadi pembelian ulang.
ANALISIS PENGARUH FAKTOR PERSONAL DAN KONSTRUKSI TPB DALAM MEMBENTUK NIAT PEMBELIAN PRIA GEN Z TERHADAP PRODUK PERAWATAN KULIT DI INDONESIA
Industri perawatan kulit telah mencetak angka yang menjanjikan bagi bisnis dengan permintaan yang sangat besar yang terus tumbuh di antara orang-orang baik di dalam negeri maupun global. Perawatan kulit, yang dulunya dianggap berpusat pada wanita, kini semakin diadopsi oleh pria yang lebih sadar akan pentingnya kesehatan kulit mereka. Pergeseran ini mencerminkan transformasi yang lebih luas dalam perilaku perawatan diri pria, khususnya di kalangan Gen Z, yang lebih berpikiran terbuka dan peduli dengan kesehatan kulit mereka. Dengan segmen perawatan kulit pria yang diproyeksikan tumbuh secara signifikan, pasar menjadi semakin kompetitif, mendorong kebutuhan bisnis untuk lebih memahami perilaku konsumen pria. Berdasarkan Teori Perilaku Terencana (TPB) dan didukung oleh konstruk faktor pribadi seperti efek penuaan, daya tarik fisik, citra diri dan masalah kesehatan kulit, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi faktor-faktor yang memengaruhi niat pembelian pria terhadap produk perawatan kulit. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan purposive sampling dengan metode survei melalui kuesioner kepada 226 peserta pria Gen Z. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan PLS-SEM. Studi ini berasumsi bahwa ada tujuh faktor yang berkontribusi untuk memengaruhi niat pembelian pria dalam hal produk perawatan kulit, yaitu efek penuaan, daya tarik fisik, masalah kesehatan kulit, citra diri, sikap terhadap konsumsi, norma subjektif dan kontrol perilaku yang dirasakan. Temuan menunjukkan hubungan positif antara faktor pribadi dan sikap. Ada juga hubungan positif antara sikap dan kontrol perilaku yang dirasakan dengan niat pembelian. Sementara di sisi lain, norma subjektif tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap niat pembelian. Selain itu, niat pembelian pria sangat dipengaruhi oleh satu faktor langsung yang merupakan kontrol perilaku yang dirasakan. Wawasan penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan praktis yang dapat membantu bisnis perawatan kulit pria untuk lebih memahami target pasar mereka dan meningkatkan pendekatan strategis mereka.
GAYA PENGAMBILAN KEPUTUSAN KONSUMEN GEN Z DAN MILENIAL DALAM MEMILIH PAKAIAN OLAHRAGA (STUDI KASUS: EIGER ACT)
Meningkatnya fokus pada kesehatan sejak pandemi telah memicu pertumbuhan industri kebugaran, menjadikan pasar activewear (pakaian olahraga) sangat menarik. Merespons tren ini, Eiger Tropical Adventure, merek terkemuka Indonesia, memperkenalkan Eiger Act, sebuah submerek baru yang didedikasikan untuk pakaian olahraga. Namun, persaingan di pasar ini sangat ketat. Agar berhasil, Eiger Act harus memahami secara mendalam bagaimana target konsumen utamanya—Gen Z dan Milenial—membuat keputusan pembelian. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan wawasan tersebut dengan mengeksplorasi gaya pengambilan keputusan, preferensi produk, dan perilaku belanja kedua kelompok generasi ini. Melalui pendekatan kuantitatif deskriptif dan komparatif, data primer dikumpulkan melalui survei daring kepada responden Gen Z dan Milenial di area urban yang rutin berolahraga. Kerangka Consumer Style Inventory (CSI) diadaptasi untuk memetakan orientasi belanja, sementara Visual Preference Test digunakan untuk mengukur preferensi estetika terhadap produk inti seperti kaus, celana pendek, sports bra, dan legging. Hasil penelitian menunjukkan lebih banyak kesamaan daripada perbedaan antara kedua generasi. Baik Gen Z maupun Milenial sangat sadar akan kualitas, nilai (value for money), dan kemudahan dalam berbelanja. Keduanya juga secara konsisten menunjukkan preferensi kuat terhadap desain yang sederhana, bersih, dan minimalis, seperti kaus dengan logo kecil, dan sama-sama menolak desain dengan corak ramai atau logo besar. Perbedaan paling signifikan terletak pada hubungan mereka dengan merek. Milenial lebih terbuka untuk mencoba merek baru atau lokal (Creative-Variety Seeking), sementara Gen Z menunjukkan loyalitas yang lebih kuat pada merek-merek global besar seperti Nike dan Adidas, yang reputasinya dianggap sebagai jaminan kualitas. Temuan ini menjadi landasan untuk merumuskan strategi Segmenting, Targeting, dan Positioning (STP) yang jelas bagi Eiger Act. Rekomendasi strategi bisnis difokuskan pada pengembangan produk yang selaras dengan preferensi desain minimalis yang universal, serta strategi pemasaran digital yang terdiferensiasi: membangun citra merek yang kuat dan kredibel untuk menarik Gen Z, sekaligus menonjolkan keunikan dan nilai produk untuk menjangkau Milenial yang lebih eksploratif. Pada akhirnya, penelitian ini memberikan Eiger Act panduan strategis berbasis data untuk membangun merek yang relevan dan kompetitif.
MENCIPTAKAN TEMPAT KERJA INKLUSIF UNTUK MENINGKATKAN KINERJA MILLENNIALS DAN GEN Z: PERAN KEPUASAN KERJA DALAM BISNIS KELUARGA
Penelitian ini menganalisis hubungan antara karakteristik generasi Millennials dan Gen Z, budaya perusahaan keluarga, serta kinerja karyawan, dengan kepuasan kerja sebagai variabel mediasi. Studi ini mengambil Keke Busana, sebuah bisnis fashion keluarga terkemuka di Indonesia, sebagai studi kasus penelitian. Isu yang diangkat pada penelitian ini berasal dari preferensi generasi yang berbeda, khususnya generasi Millennials dan Gen Z, yang kini mendominasi 53,81% dari seluruh total tenaga kerja di Indonesia. Melalui metode analisa kuantitatif, data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner survei yang disebarkan kepada 110 karyawan Millennials dan Gen Z di Keke Busana. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan metode Structural Equation Modeling (SEM-PLS) untuk memahami hubungan kompleks antar variabel laten. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan strategi terbaik bagi bisnis keluarga seperti Keke Busana dalam memaksimalkan potensi generasi Millennials dan Gen Z, yang memiliki kemampuan luar biasa jika dikelola secara tepat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif antara variabel-variabel yang diteliti, yang menyoroti pentingnya keseimbangan kerja dan kehidupan, peluang pengembangan karier, serta adaptasi budaya kerja perusahaan terhadap preferensi generasi muda. Faktor-faktor ini terbukti signifikan dalam meningkatkan kepuasan kerja, yang berpengaruh besar pada produktivitas dan kinerja karyawan secara keseluruhan. Penelitian ini merekomendasikan langkah strategis untuk mengelola keberagaman generasi, mendorong kolaborasi, dan mencapai kesuksesan jangka panjang yang berkelanjutan.
PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN TERHADAP KEPUASAN KERJA KARYAWAN GEN Z DI JAKARTA
Salah satu aspek penting untuk mempengaruhi karyawan dalam suatu organisasi adalah gaya kepemimpinan. Dalam dunia bisnis saat ini, pekerja Gen Z telah mengisi lebih dari 50% peluang kerja di Indonesia. Perbedaan karakteristik antara Generasi Z dengan generasi sebelumnya menimbulkan tantangan baru bagi perusahaan dalam mengelola sumber daya manusia dalam organisasi. Oleh karena itu, gaya kepemimpinan yang sesuai untuk generasi Z harus diperhatikan karena akan mempengaruhi kepuasan kerjanya dan akhirnya akan mempengaruhi tercapainya tujuan organisasi. Memilih gaya kepemimpinan yang lebih baik dapat meningkatkan kepuasan kerja dan tujuan organisasi. Penelitian ini untuk menilai apakah terdapat hubungan antara gaya kepemimpinan dengan kepuasan kerja generasi Z di Jakarta. Besar sampel ditargetkan sebanyak 121 Fresh Graduate yang baru memasuki dunia kerja maksimal 2 tahun. Survei dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dan kuantitatif. Pengolahan Data dilakukan dengan Excel dan SPSS. Hasil penelitian menemukan bahwa Gaya Kepemimpinan berpengaruh signifikan terhadap Kepuasan Kerja Karyawan Gen Z. Kepemimpinan transaksional, kepemimpinan transformasional dan Kepemimpinan Situasional mempunyai dampak positif, sedangkan Kepemimpinan Laissez-Faire mempunyai dampak negatif. Berdasarkan hasil penelitian, Kepemimpinan Transaksional merupakan Gaya Kepemimpinan yang paling cocok untuk Karyawan Gen Z di Jakarta. Berdasarkan temuan yang diperoleh, terdapat hubungan yang signifikan antara gaya kepemimpinan dengan kepuasan kerja Karyawan Gen Z di Jakarta.
HUBUNGAN ANTARA FAKTOR-FAKTOR UTAMA DENGAN RETENSI KARYAWAN GEN Z PADA FMCG START-UP DI INDONESIA
Penelitian ini menyelidiki hubungan antara faktor – faktor utama dan tingkat retensi karyawan Generasi Z (Gen-Z) di tempat kerja, menggunakan metode analisis data kualitatif dan kuantitatif. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman komprehensif tentang elemen-elemen yang secara signifikan mempengaruhi retensi karyawan Gen-Z, khususnya di lingkungan startup. Data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara, yang menyoroti kebutuhan finansial yang signifikan, harapan tinggi akan kemajuan karir, dan dampak buruk jam kerja yang panjang terhadap kepuasan kerja dan retensi. Data kuantitatif dianalisis menggunakan statistik deskriptif, regresi linear berganda, dan uji t untuk memvalidasi temuan kualitatif dan mengeksplorasi faktor-faktor tambahan yang mempengaruhi tingkat retensi. Analisis data deskriptif memberikan gambaran umum tentang karakteristik data yang dikumpulkan, dengan menggunakan ukuran statistik seperti mean, median, standar deviasi, dan standar error. Uji Jarque-Bera digunakan untuk memeriksa normalitas distribusi data, sedangkan regresi linear berganda menganalisis hubungan antara variabel dependen dan independen. Penelitian ini menemukan bahwa faktor finansial, keseimbangan kerja-hidup, dan budaya perusahaan yang terbuka dan kolaboratif adalah penentu utama retensi karyawan Gen-Z. Secara spesifik, peluang untuk keuntungan finansial, manfaat karyawan yang komprehensif, dan perasaan dihargai iv secara finansial diidentifikasi sebagai faktor signifikan yang berkontribusi terhadap rasa aman ekonomi karyawan secara keseluruhan. Aspek finansial ini, bersama dengan lingkungan kerja yang mendukung yang mempromosikan komunikasi dan kerja tim yang efektif, ditemukan meningkatkan kepuasan kerja dan loyalitas di kalangan karyawan Gen-Z. Triangulasi data kualitatif dan kuantitatif mengungkapkan bahwa faktor finansial, kondisi kantor, dan tawaran pekerjaan yang lebih baik di tempat lain adalah faktor utama yang mempengaruhi retensi Gen-Z. Di antara faktor-faktor ini, faktor finansial diidentifikasi memiliki pengaruh terbesar. Penelitian ini juga menyoroti faktor-faktor minor seperti sistem perekrutan yang tidak sesuai, globalisasi, dan keberanian Gen-Z untuk mengambil risiko. Globalisasi ditemukan menjadi faktor retensi yang signifikan karena kemudahan akses informasi tentang pekerjaan, gaji, dan peluang karir, memungkinkan karyawan Gen-Z membuat keputusan yang terinformasi tentang pekerjaan mereka. Selain itu, keberanian untuk mengambil risiko juga dilihat sebagai faktor yang mempengaruhi tingkat retensi. Perbandingan hasil regresi linear berganda, baik dengan maupun tanpa variabel kontrol, memberikan wawasan yang lebih dalam tentang faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat retensi. Persamaan regresi mengidentifikasi variabel-variabel signifikan, termasuk peluang untuk keuntungan finansial, manfaat karyawan, perasaan dihargai secara finansial, peluang promosi, komunikasi, kolaborasi, dan usia. Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor finansial, keseimbangan kerja-hidup, dan budaya perusahaan yang terbuka dan kolaboratif sangat penting untuk mempertahankan karyawan Gen-Z. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan finansial dan harapan untuk kemajuan karir adalah faktor utama yang mempengaruhi karyawan Gen-Z di startup. Kebutuhan finansial yang tidak terpenuhi atau harapan karir yang tidak realistis dapat menyebabkan ketidakpuasan kerja dan meningkatnya tingkat perputaran karyawan. Oleh karena itu, startup perlu memprioritaskan upaya untuk memenuhi kebutuhan finansial karyawan dan menerapkan program pengembangan karir yang kuat untuk mempertahankan talenta Gen-Z yang berharga. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merekomendasikan untuk melakukan penelitian longitudinal untuk melacak perubahan faktor-faktor yang mempengaruhi retensi Gen-Z dari waktu ke v waktu. Penelitian komparatif antara startup dan organisasi lain, serta penelitian interseksional yang mengeksplorasi pengaruh gender, latar belakang sosial-ekonomi, atau keragaman budaya terhadap retensi, juga disarankan. Selain itu, penelitian kualitatif yang mendalam untuk mengeksplorasi perasaan, harapan, dan motivasi karyawan Gen-Z direkomendasikan untuk memahami dinamika kompleks di balik keputusan mereka untuk tetap atau meninggalkan perusahaan. Sebagai kesimpulan, penelitian ini memberikan wawasan berharga tentang faktor-faktor yang mempengaruhi retensi karyawan Gen-Z, menekankan pentingnya keamanan finansial, peluang pengembangan karir, dan lingkungan kerja yang mendukung. Dengan menangani faktor-faktor ini, organisasi dapat meningkatkan kepuasan kerja dan loyalitas di kalangan karyawan Gen-Z, yang pada akhirnya meningkatkan tingkat retensi.