📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 4 dokumen

KAJIAN TRANSFORMASI FISIK PADA KAWASAN GENTRIFIKASI KOMERSIAL JALAN L.L.R.E. MARTADINATA, BANDUNG

Koridor Jalan L.L.R.E. Martadinata merupakan salah satu koridor bersejarah di Kota Bandung yang mengalami perubahan fungsi dan bentuk fisik secara bertahap. Kawasan ini pada masa awal berkembang sebagai lingkungan hunian kolonial di Bandung Utara, kemudian berubah menjadi koridor perdagangan, jasa, kuliner, wisata belanja, dan aktivitas konsumsi perkotaan. Perubahan tersebut terlihat dari berkurangnya fungsi hunian, meningkatnya fungsi komersial, pemanfaatan kembali bangunan lama, perubahan fasad, penyesuaian ruang depan, serta perubahan karakter visual kawasan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis periodisasi dan tipologi transformasi fisik pada koridor Jalan L.L.R.E. Martadinata serta menjelaskan keterkaitannya dengan dinamika komersialisasi dan gejala gentrifikasi komersial. Metode yang digunakan adalah pendekatan campuran melalui analisis spasial-temporal, analisis perubahan fungsi bangunan, observasi lapangan, interpretasi Google Street View, studi dokumen, serta wawancara. Data penelitian meliputi peta fungsi bangunan tahun 2014, 2019, 2020, dan 2026, data hak bangunan dari Bhumi ATR/BPN, dokumen tata ruang, dokumen cagar budaya, dokumentasi visual, dan hasil wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi Jalan L.L.R.E. Martadinata berlangsung melalui fase hunian kolonial, perubahan menuju fungsi jasa dan pemerintahan, penguatan factory outlet dan wisata belanja, diversifikasi hotel dan kuliner, serta komersialisasi kontemporer berbasis kafe, retail, dan ruang konsumsi gaya hidup. Pada periode 2014–2019, rumah tinggal menurun dari 45 menjadi 42 bangunan, sedangkan kafe meningkat dari 19 menjadi 31 bangunan. Pada periode 2020–2026, rumah tinggal menurun dari 40 menjadi 30 bangunan, sementara kafe meningkat dari 35 menjadi 58 bangunan. Temuan ini menunjukkan bahwa fungsi hunian semakin melemah dan fungsi konsumsi semakin dominan. Gejala gentrifikasi komersial pada koridor ini tidak hanya berlangsung melalui jual-beli lahan, tetapi juga melalui sewa, kerja sama pemanfaatan, dan perubahan pengguna bangunan. Dengan demikian, transformasi Jalan L.L.R.E. Martadinata merupakan proses perubahan kawasan yang melibatkan sejarah kawasan, kebijakan tata ruang, nilai ekonomi lahan, perubahan fungsi bangunan, dan tekanan komersialisasi terhadap karakter kawasan lama.

2026
👤 Penulis: Austin Elwi
🏷️ Gentrifikasi Komersial 🏷️ Kawasan Rantai Pasok 🏷️ Analisis Fungsi Bangunan

DAMPAK GENTRIFIKASI KOMERSIAL PADA PENGRAJIN YANG TERGUSUR (STUDI KASUS: KAWASAN SENTRA SEPATU CIBADUYUT)

Kawasan Sentra Sepatu Cibaduyut merupakan sentra industri yang telah lama berfungsi sebagai pusat produksi alas kaki berbasis keluarga dan menjadi salah satu identitas ekonomi Kota Bandung. Penetapan Cibaduyut sebagai Kawasan Strategis Kota (KSK) Bandung serta citranya sebagai tujuan wisata belanja, mendorong peningkatan arus pengunjung, investasi, dan pembangunan baru yang meningkatkan nilai ekonomi ruang secara signifikan. Perubahan ini menggeser orientasi pemanfaatan ruang kawasan dan menimbulkan indikasi gentrifikasi komersial. Gentrifikasi komersial terjadi ketika bisnis-bisnis baru yang memiliki tingkat lebih tinggi menggeser toko-toko lokal yang telah lama beroperasi. Dampak paling nyata dari proses ini di Kawasan Sentra Sepatu Cibaduyut adalah displacement pengrajin sepatu yang telah lama membuka usaha di kawasan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak gentrifikasi komersial terhadap displacement pengrajin sepatu serta respons pengrajin atas perubahan yang terjadi. Penelitian ini menggunakan metode mixed method, dengan kuesioner yang disebar melalui teknik snowballing kepada pengrajin sepatu yang mengalami displacement, kemudian ditriangulasikan dengan temuan wawancara. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif, dan analisis tabulasi silang (crosstab). Hasil penelitian menunjukkan bahwa gentrifikasi komersial di Kawasan Sentra Sepatu Cibaduyut berlangsung secara bertahap, dengan displacement pengrajin sepatu yang didominasi bentuk indirect displacement. Displacement yang terjadi berdampak pada perubahan omzet, jaringan pasar, akses bahan baku, dan pergeseran lokasi produksi ke luar Kawasan Cibaduyut.

2026
👤 Penulis: Muhammad Huwaidi Rabbani
🏷️ Gentrifikasi Komersial 🏷️ Pengrajin Sepatu 🏷️ Perubahan Ruang Kebijakan

IDENTIFIKASI PENGARUH KEBIJAKAN TERHADAP GENTRIFIKASI KOMERSIAL KAWASAN CIBADUYUT

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh penurunan drastis jumlah unit usaha pengrajin di Sentra Industri Sepatu dan Olahan Kulit Cibaduyut dari 844 unit pada tahun 2014 menjadi 205 unit pada tahun 2025, yang mengindikasikan terjadinya pelemahan basis produksi dan pergeseran fungsi kawasan. Fenomena ini cenderung dipahami sebagai dampak mekanisme pasar, terutama akibat masuknya produk impor murah. Namun, penelitian ini mengajukan argumen bahwa transformasi Cibaduyut tidak semata-mata dipicu oleh dinamika pasar, melainkan merupakan bagian dari proses gentrifikasi komersial yang didorong secara struktural oleh kebijakan publik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi peran kebijakan dalam mendorong gentrifikasi komersial serta menjelaskan bagaimana relasi aktor dan konfigurasi kekuasaan membentuk restrukturisasi ruang dan ekonomi kawasan. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif melalui analisis kronologi kebijakan, analisis hierarki untuk memetakan relasi kebijakan langsung dan tidak langsung, serta analisis argumen untuk menguji hubungan kausal antara kebijakan dan transformasi kawasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gentrifikasi komersial di Cibaduyut terkonfirmasi dan bersifat dominan state-led, dipicu oleh intensifikasi pembangunan, agenda peremajaan kawasan, penguatan industri kreatif, serta kebijakan tata ruang yang mendorong komersialisasi dan peningkatan nilai lahan. Transformasi ini mencerminkan pergeseran dari sentra produksi berbasis komunitas menjadi kawasan perdagangan dan jasa.

2026
👤 Penulis: Annisa Edi Setiyani
🏷️ Gentrifikasi Komersial 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Kebijakan Publik

FENOMENA REINVESTASI DAN GENTRIFIKASI KOMERSIAL DI KAWASAN MALIOBORO KOTA YOGYAKARTA

Transformasi perkotaan sering kali ditandai oleh fenomena reinvestasi, yaitu kegiatan investasi ulang pada suatu properti untuk meningkatkan nilai ekonominya sebagai respon terhadap tingginya kesenjangan sewa (rent gap). Fenomena ini kerap menjadi tahap awal gentrifikasi komersial, yaitu proses perubahan kawasan menjadi aktivitas komersial dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi. Kawasan Malioboro Kota Yogyakarta telah mengalami transformasi kawasan yang ditandai dengan perubahan fungsi bangunan hunian menjadi bangunan komersial. Proses ini melibatkan beberapa aktor seperti pemerintah, investor dan masyarakat yang secara aktif maupun pasif berkontribusi terhadap peningkatan nilai properti dan percepatan komersialisasi kawasan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bagaimana proses dan bentuk reinvestasi yang terjadi di Kawasan Malioboro dan sekitarnya serta implikasinya pada perubahan penggunaan lahan dan pola harga lahan. Adapun sasaran dalam penelitian ini adalah, 1) terumuskannya faktor pemicu dan proses reinvestasi; 2) teridentifikasinya perubahan penggunaan lahan; dan 3) terdeskripsikannya pola harga lahan dan kaitannya dengan reinvestasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan campuran, yaitu analisis kualitatif dan analisis kuantitatif dengan teknik wawancara purposive sampling, observasi, serta telaah dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenomena reinvestasi di Kawasan Malioboro didorong oleh intervensi pemerintah melalui revitalisasi dan deregulasi yang mempermudah perizinan dan investasi. Masyarakat sebagai pelaku dalam fenomena ini menunjukkan karakteristik berpindah, beradaptasi dan melakukan reinvestasi dalam menyesuaikan diri dengan dinamika kawasan. Intensitas reinvestasi ini berdampak signifikan pada perubahan penggunaan lahan dan pola harga lahan yang semakin didominasi oleh aktivitas komersial. Selain itu, kenaikan harga lahan juga dipengaruhi oleh keberadaan situs dan bangunan cagar budaya di Kawasan Malioboro yang memberikan nilai tambah kawasan.

2024
👤 Penulis: Nurul Aulia
🏷️ Gentrifikasi Komersial 🏷️ Reinvestasi Properti 🏷️ Transformasi Perkotaan
💬