📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 8 dokumenPERMASALAHAN DAN ANALISIS GEODESI BATAS DARAT RI DANMALAYSIA DI PULAU SEBATIK
Batas darat di Pulau Sebatik antara Indonesia dan Malaysia berdasarkan Konvensi 1891 adalah lintang astronomi 4º10’ LU, yang kemudian ditegaskan dengan Traktat 1915. Permasalahan perbatasan yang dihadapi Indonesia–Malaysia di Pulau Sebatik utamanya adalah adanya perbedaan antara koordinat pilar batas yang ditegaskan dalam Plan No.7276 dengan garis batas yang didefiniskan dalam Konvensi 1891. Salah satu alternatif penyelesaian kasus perbatasan ini adalah pihak Indonesia dan Malaysia perlu merekonstruksi kembali lintang astronomi 4º10’ LU sesuai Konvensi 1891 di lapangan. Rekonstruksi tersebut bisa dilakukan dengan metode penentuan astronomi GPS maupun metode pengamatan survey geodetik dengan GPS. Skripsi ini akan membahas dan mendiskusikan permasalahan rekonstruksi dengan menggunakan metode survei GPS. Pada rekonstruksi dengan metode survey GPS ini diperlukan nilai komponen defleksi vertikal untuk mentransformasikan koordinat astronomi menjadi koordinat koordinat geodetik. Dalam penelitian ini nilai defleksi vertikal terutama dihitung dari 8 model geopotensial global. Nilai defleksi vertikal juga dihitung dengan metode astrogeodetik menggunakan hasil survei GPS tahun 2012 dan koordinat astronomi pada Plan No.7276, sebagai pembanding untuk analisa hasil dari metode geopotensial global. Dalam hal ini terdapat perbedaan nilai defleksi vertikal dari 8 model geopotensial global dengan nilai defleksi vertikal yang diperoleh dengan metode astrogeodetik. Untuk komponen defleksi vertikal utara-selatan dari 8 model geopotensial tersebut rata-rata bernilai –1.2”, dan nilai defleksi vertikal dari metode astrogeodetik bernilai 2.9”; sehingga ada perbedaan nilai defleksi vertikal sebesara ± 4.1”. Karena nilai defleksi vertikal akan sangat menentukan lokasi garis batas di lapangan, maka nilainya harus ditentukan secara bersama dengan sebaik mungkin oleh pihak Indonesia dan Malaysia.
PEMANTAUAN LONGSORAN MENGGUNAKAN TEKNOLOGI TERRESTRIAL LASER SCANNER DAN GLOBAL POSITIONING SYSTEM (DAERAH STUDI : CILOTO, JAWA BARAT)
Fenomena longsor, khususnya pada area Ciloto, Jawa Barat sebelumnya telah dipantau menggunakan metode geodetik seperti pengamatan Global Positioning System. Metode ini digunakan dengan pengamatan pergerakan titik kontrol secara 3D dalam domain waktu yang linier. Namun metode ini belum dapat menghasilkan model area secara visual dalam 3D yang dapat diekstraksi informasi geometriknya. Pemanfaatan teknologi Terrestrial Laser Scanner memungkinkan tercapainya hal tersebut. Metodologi penelitian yang digunakan adalah studi literatur, membuat perencanaan pengukuran, melaksanakan pengambilan data, dan pengolahan data untuk memperoleh model 3D zona longsor dari dua kala pengukuran, yaitu pada bulan April 2013 dan September 2013. Dari hasil penelitian ini didapatkan dua model 3D yang berdasarkan hasil analisis terjadi pergerakan tanah rata-rata sebesar 4.9 mm dalam jangka waktu lima bulan. Didapatkan juga data pengamatan posisi dan pergerakan titik pantau hasil pengukuran Global Positioning System sebagai pembanding. Data GPS yang diperoleh pada penelitian ini masih belum optimal untuk digunakan dalam validasi data dikarenakan durasi pengamatan GPS yang belum optimal. Hasil pemodelan 3D dari pengukuran Terrestrial Laser Scanner dapat diaplikasikan untuk pemetaan dan pemantauan deformasi area longsor Ciloto, Jawa Barat. Namun demikian pemodelan tersebut masih memiliki galat akibat berbagai faktor. Hal ini disebabkan oleh faktor kesalahan dari alat, lingkungan, obyek yang dipindai dan kesalahan metodologis pada pengambilan data kala pertama dan kedua. Penelitian ini juga memberikan kelebihan dan kekurangan pemanfaatan teknologi Terresttrial Laser Scanner dibandingkan dengan teknologi Global Positioning System dalam aplikasi pemantauan longsoran.
STUDI PEMBANGUNAN SISTEM PEMANTAUAN BAHAYA LONGSOR DENGAN METODE GEODETIK DI WILAYAH PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA PANAS BUMI (STUDI KASUS : CHEVRON GEOTHERMAL SALAK)
Indonesia adalah negara yang kaya akan potensi sumber daya alam, salah satunya adalah panas bumi. Panas bumi dapat dimanfaatkan menjadi sumber energi terbarukan dengan menggunakan teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP). Lokasi reservoir panas bumi yang berada pada wilayah pegunungan yang didominasi oleh lereng curam mengakibatkan timbulnya potensi bencana longsor di wilayah PLTP, dimana bencana tersebut dapat mengakibatkan kerugian secara ekonomi bagi pengelola PLTP maupun konsumen dari listrik yang dihasilkan.Studi dilakukan untuk membangun suatu sistem pengamatan bahaya longsor dengan metode geodetik di wilayah PLTP. Metode yang digunakan untuk studi ini adalah studi literatur dan observasi lapangan. Pembangunan sistem dilakukan dengan mengadaptasi literatur-literatur yang terkait sebagai metode untuk melakukan pemantauan, dengan menggunakan hasil observasi lapangan sebagai acuan kebutuhan serta kecocokan metode pemantauan. Hasil akhir dari studi ini adalah sebuah Sistem Pemantauan Bahaya Longsor yang dapat diterapkan oleh pengelola PLTP sebagai salah satu langkah untuk manajemen aset.Sistem pemantauan tersebut terdiri dari klasifikasi potensi bencana longsor, pemantauan pergerakan tanah dengan metode geodetik, serta analisis deformasi. Sistem ini dapat memberikan informasi mengenai potensi bahaya longsor yang dinyatakan dalam tingkat-tingkat kecepatan dari pergerakan tanah. Informasi tersebut dapat digunakan oleh pengelola PLTP sebagai pertimbangan untuk melakukan tindakan perbaikan sebelum kerusakan yang lebih parah akibat bencana longsor terjadi dan menimbulkan kerugian.
STUDI DEFORMASI SECARA GEOMETRIK DARI SESAR LEMBANG BERDASARKAN DATA PENGAMATAN GPS
Sesar Lembang merupakan salah satu sesar berpotensi aktif yang terdapat di kota Bandung. Menurut Direktorat Tata Lingkungan Geologi dan Kawasan Pertambangan (DTLGKP), sesar Lembang memiliki siklus gempa setiap lima ratus tahun sekali. Dengan melihat korelasi antara panjang patahan dan magnitudo gempa yang berbanding lurus, gempa yang diakibatkan oleh sesar tersebut bisa berkisar pada angka 6.5 SR. Oleh karena itu, untuk meminimalisir dampak buruk gempa bumi maka perlu dilakukan pemantauan tingkat aktivitas dari sesar Lembang. Pemantauan dilakukan secara geodetik untuk menganalisis deformasi sesar Lembang secara geometrik. Pemantauan dilaksanakan melalui survey GPS secara episodik. Survey GPS dilaksanakan dengan menggunakan kerangka jaring pengamatan relatif. Analisis deformasi dilakukan secara geometrik, yaitu memberikan informasi kuantitatif untuk menentukan arah, besar, serta model pergerakan deformasinya. Analisis deformasi secara geometrik dibagi atas 3, yaitu analisis pergeseran (displacement), estimasi laju geser, serta analisis regangan (strain).
ANALISIS LAJU GESER DAN POTENSI BAHAYA GEMPA SESAR CIMANDIRI BERDASARKAN DATA PENGAMATAN GPS TAHUN 2006-2010
Sesar Cimandiri merupakan salah satu sesar aktif di Jawa Barat yang terletak di Sukabumi Selatan. Sesar ini mempunyai potensi bahaya gempa yang cukup besar, hal ini terlihat dari sejarah kegempaan yang pernah terjadi di wilayah Sesar Cimandiri yang tergolong cukup besar dan juga tergolong gempa merusak, apalagi jalur Sesar Cimandiri merupakan kawasan yang padat penduduk dan banyaknya bangunan serta infrastruktur yang terdapat pada wilayah ini. Oleh sebab itu, perlu dilakukan pengamatan untuk memantau aktivitas Sesar Cimandiri. Salah satunya adalah dengan menggunakan metode geodetik yang dilakukan dengan cara melakukan pengamatan GPS di sekitar jalur Sesar Cimandiri. Untuk mempelajari karakteristik dari pergerakan Sesar Cimandiri, maka dilakukan pengamatan GPS secara episodik terhadap titik-titik pengamatan yang tersebar di sekitar wilayah sesar Cimandiri. Pengamatan ini telah dilakukan sebanyak lima kali sejak tahun 2006-2010. Berdasarkan hasil pengolahan data, titik-titik pengamatan bergeser ke arah tenggara dengan besar pergeseran berkisar antara 1-4cm/tahum. Setelah pengaruh block motion dihilangkan, titik-titik pengamatan mengalami pergerakan horizontal yang berkisar antara 3mm/tahun-2 cm/tahun.
PEMANFAATAN METODE INSAR UNTUK PEMANTAUAN AKTIVITAS GUNUNG SEMERU
Indonesia terletak pada 6o LU hingga 11o LS dan 95o BT hingga 141o BT yang memiliki iklim tropis serta dilalui jalur “Ring of fire”(daerah yang memiliki banyak gunungapi aktif). Hal itu terbukti dengan kepemilikan gunungapi aktif Indonesia sebanyak 129 gunungapi. Hal ini berarti Indonesia berada di daerah yang rawan bencana akibat letusan gunungapi. Untuk mengurangi dampak dari bencana yang dapat terjadi kapan saja itu, perlu dilakukan mitigasi. Dalam rangka mitigasi tersebut terdapat pokok bagian yang penting, yaitu pemantauan aktivitas gunungapi. Banyak metode yang dapat digunakan untuk pemantauan gunungapi. Salah satunya adalah secara geodetik menggunakan teknologi InSAR. Penelitian ini menerapkan teknologi InSAR untuk memantau aktivitas Gunung Semeru, Jawa Timur, Indonesia. Sebanyak 8 data ALOS PALSAR level 1.0 dari Oktober 2009 hingga Februari 2011 digunakan dalam penelitian ini. Metode pengolahannya dengan menggunakan metode two-pass dengan model tinggi digitalnya dari SRTM3. Perangkat lunak yang digunakan untuk pengolahannya adalah GMTSAR. Setelah dilakukan pengolahan, diperoleh 7 interferogram dengan memasangkan data yang memiliki interval data terpendek. Interferogram yang terbentuk ternyata masih memiliki kesalahan yang besar dari fase orbit dan atmosfer sehingga tidak dapat dianalisis hubungan antara aktivitas Gunung Semeru dengan hasil yang diperoleh. Hal ini menunjukkan GMTSAR masih perlu dikembangkan agar dapat digunakan untuk memantau aktivitas gunungapi dengan teknologi InSAR.
SISTEM CORS (CONTINUOUSLY OPERATING REFERENCE STATION) DI INDONESIA DAN DI BEBERAPA NEGARA LAINNYA
CORS (Continuously Operating Reference Station) adalah salah satu teknologi berbasis GNSS yang dimanfaatkan untuk berbagai aplikasi terkait penentuan posisi. CORS merupakan jaring kerangka geodetik aktif berupa stasiun permanen yang dilengkapi dengan receiver yang dapat menerima sinyal dari satelit GPS dan satelit GNSS lainnya, yang beroperasi secara kontinyu selama dua puluh empat jam. Dalam pemanfaatannya CORS dapat menyediakan data penentuan posisi secara real time ataupun post-processing dan menyediakan jaringan terbuka agar data-data posisi yang dihasilkan dapat diakses secara aktif oleh pengguna. Sistem serupa di seluruh dunia memiliki istilah berbagai macam istiliah yang berbeda untuk setiap negara. CORS di Indonesia sendiri pertama kali dioperasikan oleh Badan Informasi Geospasial (sebelumnya bernama Bakosurtanal) pada tahun 1996 dan disebut juga IPGSN (Indonesia Permanent GNSS Station Network). Pada bulan April 2012, jaringan CORS IPGSN telah memiliki 117 stasiun yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia. Selain jaringan IPGSN, jaringan CORS di Indonesia juga dikembangan oleh BPN (Badan Pertanahan Nasional) yang pada bulan April 2012 telah memiliki 93 stasiun dan 70 diantaranya berada di Pulau Jawa. Selain itu juga dijelaskan sistem CORS lainnya yang terdapat di dunia yaitu IGS, EPN, SWEPOS, TUSAGA-Aktif, GEONET, CORSnet-NSW, dan MyRTKnet. Pada penelitian ini diketahui bahwa jaringan CORS IPGSN milik BIG dan BPN belum berfungsi optimal dan jika dibandingkan dengan jaringan CORS lainnya yang ada di dunia, maka jaringan CORS IPGSN dan BPN masih harus dilakukan perbaikan pada berbagai aspek.
ANALISIS KONTRIBUSI PENURUNAN MUKA TANAH TERHADAP BANJIR DI KECAMATAN GEDEBAGE, KOTA BANDUNG
Fenomena Penurunan Muka Tanah (PMT) di Cekungan Bandung telah lama diidentifikasi dengan menggunakan teknik geodetik seperti Global Navigation Satellite System (GNSS) dan Interferometric Synthetic Arperture Radar (InSAR). Hingga saat ini, fenomena PMT di wilayah ini diduga masih terjadi sehingga berdampak terhadap kondisi infrastruktur, termasuk peningkatan potensi perluasan genangan banjir. Kecamatan Gedebage merupakan salah satu daerah di Cekungan Bandung yang dilaporkan mengalami laju PMT yang signifikan dan kerap mengalami banjir. Banjir hampir selalu terjadi di kawasan ini, terutama ketika curah hujan tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan PMT terhadap banjir perkotaan di Kecamatan Gedebage akibat curah hujan tinggi dan luapan debit, melalui analisis berbasis data citra SAR serta pemodelan hidraulik menggunakan HEC-RAS 2D. Penelitian diawali dengan melakukan pemetaan laju PMT secara spasial dan temporal menggunakan metode InSAR berbasis citra Sentinel-1 dari tahun 2016-2023. Hasil dari InSAR kemudian akan divalidasi dengan GNSS. Selanjutnya, informasi laju PMT dari InSAR digunakan untuk menyimulasikan topografi pada beberapa skenario tahun: tahun 2014, tahun 2025, dan tahun 2050. Pemodelan banjir dilakukan menggunakan HEC-RAS unsteady flow dengan mempertimbangkan curah hujan serta debit dengan periode ulang 10 tahun yang kemudian disimulasikan terhadap tiga skenario topografi. Model banjir skenario tahun 2025 divalidasi menggunakan data observasi lapangan dan menggunakan parameter statistik Root Mean Square Error (RMSE) serta koefisien korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju PMT di Kecamatan Gedebage berada pada rentang -0,04 hingga -0,15 m/tahun dengan rata-rata laju penurunan sebesar -0,093 m/tahun. Sementara itu, hasil dari GNSS menunjukkan bahwa laju PMT di kawasan ini sebesar -0,086 m/tahun. Hasil laju PMT yang diperoleh dengan metode InSAR menunjukkan kesesuaian yang baik dengan hasil yang diperoleh dari GNSS dan tidak ditemukan perbedaan yang signifikan antar keduanya. Hasil pemodelan banjir di HEC-RAS menunjukkan bahwa PMT memberikan kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan kedalaman genangan. Pada skenario proyeksi tahun 2050, perubahan kedalaman maksimum banjir meningkat hingga 86 cm. Terdapat korelasi yang kuat antara laju PMT dan peningkatan perubahan kedalaman (r = 0,8) yang mengindikasikan hubungan linier yang konsisten antara keduanya. Kontribusi PMT terhadap perluasan genangan juga mulai terlihat signifikan pada kedalaman ?0,4 m dengan peningkatan sebesar +5.99% pada kondisi saat ini (2025) dan meningkat menjadi +9,15% di kondisi mendatang (2050). Perubahan topografi akibat PMT menyebabkan terbentuknya cekungan yang mendorong redistribusi aliran ke wilayah yang lebih rendah sehingga memperbesar konsentrasi genangan dalam.