📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 7 dokumen

INVESTIGASI MEGATHRUST SULAWESI UTARA MENGGUNAKAN DATA GNSS

Sulawesi Utara merupakan wilayah dengan aktivitas tektonik yang kompleks akibat interaksi antara Lempeng Laut Sulawesi, mikroblok Sulawesi Utara, dan berbagai sistem sesar aktif. Kondisi tersebut memengaruhi distribusi deformasi dan tingkat coupling pada Megathrust Sulawesi Utara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola deformasi berdasarkan data GNSS kontinu periode 2019–2023, mengestimasi distribusi slip deficit, serta menghitung magnitudo gempa pada Megathrust Sulawesi Utara. Data GNSS diolah untuk memperoleh kecepatan dan baseline change rate yang digunakan dalam pemodelan interplate coupling melalui pendekatan inversi geodetik. Baseline change rate hasil observasi berkisar antara 0,01–1,57 cm/tahun dengan dominasi ekstensi yang cenderung meningkat ke arah timur, sedangkan hasil model berkisar antara ?0,35 hingga 1,18 cm/tahun. Distribusi coupling menunjukkan pola yang heterogen dan tersegmentasi, dengan 199 patch (76,5%) mengalami slip excess yang dominan pada segmen barat hingga tengah megathrust, serta 61 patch (23,5%) mengalami slip deficit yang terkonsentrasi pada segmen timur pada kedalaman sekitar 20–40 km. Nilai slip deficit maksimum mencapai 4,76 cm/tahun atau ~95,2% dari laju konvergensi regional sebesar 5 cm/tahun. Estimasi momen seismik dari slip deficit 3,9 × 1027dyne cm, ekuivalen dengan Mw 7,7. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sulawesi Megathrust tidak sepenuhnya creeping maupun locking, melainkan memiliki tingkat coupling yang bervariasi secara spasial.

2026
👤 Penulis: Intan Murni Yunika
🏷️ Geodinamika 🏷️ Megathrust Sulawesi Utara 🏷️ Analisis Gnss

ANALISIS REGANGAN ANTARA BAGIAN SELATAN PULAU SUMATERA DAN BARAT PULAU JAWA BERDASARKAN DATA PENGAMATAN GPS

Bagian barat Indonesia merupakan wilayah dari batas lempeng antara lempeng Australia dan lempeng Sunda dengan aktivitas seismik yang sangat tinggi. Hal ini disebabkan oleh adanya subduksi dari lempeng tektonik yang terus berlangsung sampai ke selatan dan timur/tenggara sepanjang Palung Jawa. Pulau Sumatera sangat berpotensi untuk terjadi gempa yang sangat besar. Sedangkan untuk Pulau Jawa, gempa jarang terjadi dan radiusnya pun lebih kecil. Akan tetapi, di Pulau Jawa juga sewaktu-waktu dapat terjadi gempa yang sangat besar, bahkan beberapa ada yang disusul dengan tsunami. Untuk itu masih perlu diselidiki lebih lanjut pola deformasi di Pulau Jawa dan Sumatera. GPS telah banyak digunakan untuk mempelajari dinamika Bumi (geodinamika) seperti yang berkaitan dengan pergerakan sesar-sesar maupun lempeng-lempeng benua, yang selanjutnya digunakan untuk memprediksi terjadinya gempa bumi atau letusan gunung berapi [Sato and Shimada, 1993 ; Shimada and Imakiire, 1993 ; Segall and Davis, 1997]. Data titik hasil pengamatan GPS di bagian selatan Pulau Sumatera dan bagian barat Pulau Jawa kemudian diolah dengan software ilmiah Bernese, selanjutnya dilakukan perhitungan vektor pergeseran dan nilai parameter regangannya, sehingga dapat dilakukan analisis regangan. Berdasarkan nilai pergeseran dari titik-titik pengamatan, bagian selatan Pulau Sumatera mengalami pergeseran horizontal berkisar 1-6 cm/tahun dominan ke arah timur dan bagian barat Pulau Jawa berkisar 1-5 cm/tahun dominan ke arah tenggara. Berdasarkan hasil pola regangannya, bagian selatan Pulau Sumatera dan bagian barat Jawa dominan mengalami regangan. Deformasi bagian barat Pulau Jawa dipengaruhi oleh aktivitas Sesar Cimandiri dan deformasi di selatan Pulau Sumatera dipengaruhi oleh Sesar Sumatera. Analisis regangan dalam Tugas Akhir ini menganalisis kondisi regangan antara bagian selatan Pulau Sumatera dan bagian barat Pulau Jawa berdasarkan data pengamatan GPS untuk mengidentifikasi pola deformasinya (termasuk parameter regangan) sehingga dapat dilakukan prediksi terhadap posisi dan pergerakan lempeng di Pulau Sumatera dan Jawa pada masa yang akan datang

2026
👤 Penulis: Syainal Abidin
🏷️ Geodinamika 🏷️ Analisis Reggangan 🏷️ Pola Deformasi Tektonik

ANALISIS DERET WAKTU DATA PENGAMATAN GPS KONTINU DI JAWA BARAT

Daerah Jawa Barat sebenarnya memiliki karakteristik seismik yang unik. Tidak seperti daerah-daerah di Pulau Sumatra yang merupakan daerah rawan gempa, karena sering terjadi gempa dengan magnitude yang besar, daerah Jawa Barat ini jarang terjadi gempa. Gempa yang terjadi pun biasanya dalam magnitude yang lebih kecil dibandingkan dengan gempa bumi di Sumatra. Tetapi, di Jawa Barat juga pernah terjadi gempa dengan skala kerusakan yang besar, seperti Gempa Tasikmalaya (2 September 2009) dan Gempa Pangandaran (17 Juli 2006). Untuk itu masih perlu diselidiki lebih lanjut pola deformasi pada Blok Sunda (Sunda Block) ini, khususnya di Jawa Barat. Saat ini, berbagai studi dan penelitian geodinamika sudah dilakukan. Salah satunya adalah pemasangan (instalasi) jaring GPS kontinu di Jawa Barat. Tujuannya adalah untuk meneliti bagaimana pergerakan titik-titik pengamatan GPS kontinu tersebut sehingga untuk selanjutnya dapat dianalisis bagaimana pola deformasinya. Data hasil pengamatan GPS ini kemudian diolah dengan software ilmiah Bernese, lalu dilakukan plotting deret waktunya, sehingga dapat dilakukan analisis deret waktu. Tahap selanjutnya yaitu melakukan analisis pergeseran dan regangan titik-titik pengamatan GPS di Jawa Barat. Analisis deret waktu dalam Tugas Akhir ini bertujuan untuk memperoleh gambaran pola pergeseran dan regangan di Jawa Barat. Hasil pengolahan data yang diperoleh menunjukkan bahwa Blok Sunda mengalami pergerakan horisontal ke arah tenggara relatif terhadap jaring ITRF-05 dengan kecepatan 2-3 cm/tahun. Sedangkan untuk pergerakan vertikalnya terdapat variasi dalam pergerakannya. Selain itu, diketahui bahwa wilayah Jawa Barat ini didominasi oleh fenomena kompresi (tekanan ke dalam) dengan arah N-S. Sedangkan fenomena dilatasi terdapat di beberapa area Jawa Barat di sekitar sesar Cimandiri.

2026
👤 Penulis: Bagja Aryasa Wijaksana
🏷️ Geodinamika 🏷️ Analisis Deret Waktu 🏷️ Hidrologi

PEMODELAN DATUM DINAMIK WILAYAH KALIMANTAN

Bumi bersifat dinamis dengan segala dinamika kerak bumi seperti pergerakan lempeng, deformasi akibat mekanisme gempa bumi merupakan beberapa contoh yang memperliahatkan bumi bersifat dinamis. Berdasarkan pada wilayah negara kita sebagai salah satu daerah geodinamik dan deformasi paling aktif di dunia, hal ini mengakibatkan status geometrik titik-titik kerangka dasar pemetaan di negara kita dipengaruhi oleh proses tersebut tak terkecuali wilayah Kalimantan yang cukup stabil pun akan terkena dampak dari proses bumi geodinamika bumi. Berdasarkan fenomena diatas maka diperlukan realisasi pemodelan datum yang sesuai dengan tren pergerakan di wilayah tersebut. Tulisan ini dibuat dengan maksud melakukan pemodelan datum dinamik di wilayah Kalimantan dengan menggunakan software Euler Pole untuk melihat seberapa tren dan besar vektor kecepatan di wilayah Kalimantan, dan dilakukan pengolahan data GPS sebagai bentuk validasi.

2026
👤 Penulis: WIJANARKO SIWI H. (NIM 15104046); Pembimbing: Ir. Dina Anggreni Sarsito, MT., dan Heri Andreas, ST.,
🏷️ Geodinamika 🏷️ Pemetaan Geografis 🏷️ Analisis Vektor Kecepatan

PENENTUAN LAJU GESER DAN KEDALAMAN KUNCIAN (LOCKING DEPTH) SESAR PALU-KORO BERDASARKAN DATA GPS

Pulau Sulawesi yang memiliki daerah patahan terbanyak di wilayah timur Indonesia sarat dengan aktivitas tektonik. Hal itu karena pulau Sulawesi merupakan bagian dari wilayah Indonesia Timur yang berada pada kawasan pusat pertemuan tiga (3) lempeng tektonik yaitu lempeng Hindia-Australia, lempeng Pasifik dan lempeng Eurasia. Hasil dari aktivitas tektonik yang terjadi yaitu terbentuknya sesar yang tersebar di wilayah pulau Sulawesi, salah satunya sesar yang cukup aktif yaitu sesar Palu – Koro yang berada di wilayah Sulawesi Tengah.Sesar Palu-Koro sebagai salah satu bagian dari studi geodinamika dapat diamati pergerakannya secara teliti dengan menggunakan GPS (Global Positoning System). Berdasarkan data pengamatan GPS pada tahun 2005, 2006, dan 2007, titik-titik pengamatan GPS yang tersebar di sekitar sesar mengalami pergerakan horizontal yang berkisar antara 10 – 30 mm/tahun. Hasil vektor pergerakan sesar juga memperlihatkan bahwa sesar Palu-Koro ini termasuk kedalam jenis sesar geser mengiri (Left-lateral-strike-slip fault).Analisis deformasi dalam Tugas Akhir ini bertujuan untuk mengindikasi pola pergerakan deformasi sesar, serta menghitung laju geser (slip rate) maupun kedalaman bidang sesar yang terkunci (locking depth). Berdasarkan penghitungan, sesar Palu-Koro memiliki laju geser sebesar 32-36 mm/tahun yang terkunci pada kedalaman 5-6 km. Analisis deformasi ini bermanfaat untuk memprediksi kekuatan gempa bumi yang terjadi di sekitar sesar dalam jangka waktu yang panjang.

2026
👤 Penulis: SILVYA RAHAYU RIZKY (NIM 15105049); Pembimbing: Ir. Dina A Sarsito, MT., dan Dr. Ir. Irwan Meilano,
🏷️ Tektonika 🏷️ Geodinamika 🏷️ Deformasi Tanah

PEMODELAN TINGKAT REKATAN SUBDUKSI DI SELATAN SUMATERA, BERDASARKAN DATA PENGAMATAN GPS

Bagian barat Indonesia merupakan wilayah dari batas lempeng antara lempeng Australia dan lempeng Sunda dengan aktivitas seismik yang sangat tinggi. Hal ini disebabkan oleh adanya subduksi dari lempeng tektonik yang terus berlangsung sampai ke selatan dan timur/tenggara sepanjang Palung Jawa.Keseluruhan batas lempeng sepanjang Sumatera yang memanjang dari utara sampai Pulau Enggano sangat berpotensi untuk menghasilkan gempa yang sangat besar. Sedangkan informasi kegempaan pada bagian selatan Sumatera masih merupakan sebuah tanda tanya. Untuk itu perlu dilakukan analisis lebih dalam mengenai kondisi subduksi di bagian wilayah tersebut, terutama bagian selatan Pulau Sumatera.GPS sendiri telah banyak digunakan untuk mempelajari dinamika Bumi (geodinamika) seperti yang berkaitan dengan pergerakan sesar-sesar maupun lempeng-lempeng benua, yang selanjutnya digunakan untuk memprediksi terjadinya gempa bumi atau letusan gunung berapi [Segall and Davis, 1997]. Data titik hasil pengamatan GPS di bagian selatan Pulau Sumatera kemudian diolah dengan software ilmiah Bernese, selanjutnya dilakukan perhitungan vektor pergeseran dan nilai parameter regangannya, sehingga tingkat rekatan pada zona subduksi tersebut dapat dimodelkan.Berdasarkan nilai perhitungan, pergeseran dari titik-titik pengamatan di bagian selatan Sumatera mengalami pergeseran horizontal dalam kisaran 1-6 cm/tahun ke arah Timur Laut. Dan berdasarkan hasil pemodelan tingkat rekatan yang terjadi adalah sebesar 33.3 %. Deformasi bagian selatan Sumatera dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu pergerakan lempeng sunda, pengaruh subduksi, dan pengaruh lokal.

2026
👤 Penulis: IRHAM MAULANA (NIM 15105018); Pembimbing: Dr. Irwan Meilano, ST, M.Sc., dan Ir. Heri Andreas, MT.
🏷️ Geodinamika 🏷️ Subduksi Tektonik 🏷️ Analisis Gps

ANALISIS DERET WAKTU DATA PENGAMATAN GPS KONTINU DI JAWA BARAT

Daerah Jawa Barat sebenarnya memiliki karakteristik seismik yang unik. Tidak seperti daerah-daerah di Pulau Sumatra yang merupakan daerah rawan gempa, karena sering terjadi gempa dengan magnitude yang besar, daerah Jawa Barat ini jarang terjadi gempa. Gempa yang terjadi pun biasanya dalam magnitude yang lebih kecil dibandingkan dengan gempa bumi di Sumatra. Tetapi, di Jawa Barat juga pernah terjadi gempa dengan skala kerusakan yang besar, seperti Gempa Tasikmalaya (2 September 2009) dan Gempa Pangandaran (17 Juli 2006). Untuk itu masih perlu diselidiki lebih lanjut pola deformasi pada Blok Sunda (Sunda Block) ini, khususnya di Jawa Barat. Saat ini, berbagai studi dan penelitian geodinamika sudah dilakukan. Salah satunya adalah pemasangan (instalasi) jaring GPS kontinu di Jawa Barat. Tujuannya adalah untuk meneliti bagaimana pergerakan titik-titik pengamatan GPS kontinu tersebut sehingga untuk selanjutnya dapat dianalisis bagaimana pola deformasinya. Data hasil pengamatan GPS ini kemudian diolah dengan software ilmiah Bernese, lalu dilakukan plotting deret waktunya, sehingga dapat dilakukan analisis deret waktu. Tahap selanjutnya yaitu melakukan analisis pergeseran dan regangan titik-titik pengamatan GPS di Jawa Barat. Analisis deret waktu dalam Tugas Akhir ini bertujuan untuk memperoleh gambaran pola pergeseran dan regangan di Jawa Barat. Hasil pengolahan data yang diperoleh menunjukkan bahwa Blok Sunda mengalami pergerakan horisontal ke arah tenggara relatif terhadap jaring ITRF-05 dengan kecepatan 2-3 cm/tahun. Sedangkan untuk pergerakan vertikalnya terdapat variasi dalam pergerakannya. Selain itu, diketahui bahwa wilayah Jawa Barat ini didominasi oleh fenomena kompresi (tekanan ke dalam) dengan arah N-S. Sedangkan fenomena dilatasi terdapat di beberapa area Jawa Barat di sekitar sesar Cimandiri.

2026
👤 Penulis: BAGJA ARYASA WIJAKSANA (NIM 15105058)
🏷️ Geodinamika 🏷️ Hidrologi 🏷️ Analisis Deret Waktu
💬