📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 124 dokumen

IDENTIFIKASI BADAI GEOMAGNETIK BERDASARKAN EFEK RUSSELL – MCPHERRON PADA PERIODE 2008-2025

Badai geomagnetik merupakan gangguan global pada medan magnet Bumi yang dipicu oleh interaksi angin surya dengan magnetosfer dan diketahui menunjukkan pola musiman berupa peningkatan aktivitas pada periode ekuinoks (Maret dan September). Salah satu mekanisme yang menjelaskan pola ini adalah efek Russell-McPherron (R-M), yaitu efek geometris akibat transformasi koordinat GSE ke GSM yang menyebabkan komponen By medan magnet antarplanet (IMF) terproyeksi menjadi komponen Bz southward. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik kejadian badai geomagnetik, menganalisis perbedaan pola musiman pada fase minimum dan maksimum siklus Matahari, serta mengevaluasi kontribusi efek R-M pada periode 2008–2025 menggunakan data OMNIWeb NASA resolusi per jam. Identifikasi badai dilakukan dengan kriteria Dst ? ?50 nT, menghasilkan 515 kejadian badai yang didominasi kategori Moderate (89.71%). Analisis korelasi menunjukkan Kp memiliki keterkaitan paling kuat dengan Dst (r = ?0.52), sedangkan clock angle dan cone angle hampir tidak berkorelasi linear dengan intensitas badai. Proporsi kejadian badai pada bulan ekuinoks terhadap total kejadian per fase menurun konsisten seiring meningkatnya aktivitas Matahari, dari 46.15% pada fase minimum hingga 23.19% pada fase maksimum. Evaluasi lebih lanjut menunjukkan bahwa efek R-M tidak termanifestasi sebagai IMF Bz yang selalu lebih negatif pada ekuinoks, melainkan sebagai peningkatan efektivitas orientasi IMF dalam menghasilkan komponen southward sehingga menurunkan ambang batas terjadinya badai periode tersebut. Kontribusi efek ini terbukti jauh lebih besar pada fase minimum dibandingkan fase maksimum, karena pada fase maksimum, badai dapat dipicu sepanjang tahun oleh sumber lain seperti CME yang sering kali sudah membawa komponen Bz southward yang kuat tanpa bergantung pada geometri musiman.

2026
👤 Penulis: Sevilla Rahmathya Hasan
🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Data Meteorologi 🏷️ Kecerdasan Buatan

PENYUSUNAN PETA RISIKO BENCANA BERKETELITIAN TINGGI DI BANDUNG

Kota Bandung memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap berbagai bencana hidrometeorologi dan geologi, seperti banjir, gempabumi, dan tanah longsor. Namun, informasi risiko bencana yang tersedia umumnya masih disajikan pada skala administratif sehingga belum mampu menggambarkan variasi risiko secara rinci hingga tingkat persil. Proyek ini bertujuan menyusun peta risiko bencana berketelitian tinggi di Kota Bandung dengan mengintegrasikan komponen bahaya, kerentanan, dan kapasitas sesuai pedoman BNPB. Analisis dilakukan untuk bencana banjir, gempabumi, tanah longsor, serta multibahaya pada skala 1:5.000 menggunakan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil analisis disajikan dalam bentuk peta digital per kelurahan dan platform WebGIS yang memungkinkan eksplorasi informasi risiko secara interaktif hingga tingkat persil. Produk yang dihasilkan diharapkan dapat mendukung pengambilan keputusan dalam mitigasi bencana, perencanaan tata ruang, serta meningkatkan akses masyarakat terhadap informasi risiko bencana yang lebih detail dan mudah dipahami.

2026
👤 Penulis: Luthfi Aulia Hakim
🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Risiko Bencana 🏷️ Sistem Informasi Geografis

PENYUSUNAN PETA RISIKO BENCANA BERKETELITIAN TINGGI DI BANDUNG

Kota Bandung memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap berbagai bencana hidrometeorologi dan geologi, seperti banjir, gempabumi, dan tanah longsor. Namun, informasi risiko bencana yang tersedia umumnya masih disajikan pada skala administratif sehingga belum mampu menggambarkan variasi risiko secara rinci hingga tingkat persil. Proyek ini bertujuan menyusun peta risiko bencana berketelitian tinggi di Kota Bandung dengan mengintegrasikan komponen bahaya, kerentanan, dan kapasitas sesuai pedoman BNPB. Analisis dilakukan untuk bencana banjir, gempabumi, tanah longsor, serta multibahaya pada skala 1:5.000 menggunakan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil analisis disajikan dalam bentuk peta digital per kelurahan dan platform WebGIS yang memungkinkan eksplorasi informasi risiko secara interaktif hingga tingkat persil. Produk yang dihasilkan diharapkan dapat mendukung pengambilan keputusan dalam mitigasi bencana, perencanaan tata ruang, serta meningkatkan akses masyarakat terhadap informasi risiko bencana yang lebih detail dan mudah dipahami.

2026
👤 Penulis: Aura Nisa Arianti
🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Risiko Bencana 🏷️ Sistem Informasi Geografis

PENYUSUNAN PETA RISIKO BENCANA BERKETELITIAN TINGGI DI KOTA BANDUNG

Kota Bandung memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap berbagai bencana hidrometeorologi dan geologi, seperti banjir, gempabumi, dan tanah longsor. Namun, informasi risiko bencana yang tersedia umumnya masih disajikan pada skala administratif sehingga belum mampu menggambarkan variasi risiko secara rinci hingga tingkat persil. Proyek ini bertujuan menyusun peta risiko bencana berketelitian tinggi di Kota Bandung dengan mengintegrasikan komponen bahaya, kerentanan, dan kapasitas sesuai pedoman BNPB. Analisis dilakukan untuk bencana banjir, gempabumi, tanah longsor, serta multibahaya pada skala 1:5.000 menggunakan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil analisis disajikan dalam bentuk peta digital per kelurahan dan platform WebGIS yang memungkinkan eksplorasi informasi risiko secara interaktif hingga tingkat persil. Produk yang dihasilkan diharapkan dapat mendukung pengambilan keputusan dalam mitigasi bencana, perencanaan tata ruang, serta meningkatkan akses masyarakat terhadap informasi risiko bencana yang lebih detail dan mudah dipahami.

2026
👤 Penulis: Varina Erawati Martina
🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Risiko Bencana 🏷️ Sistem Informasi Geografis

PENYUSUNAN PETA RISIKO BENCANA BERKETELITIAN TINGGI DI BANDUNG

Kota Bandung memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap berbagai bencana hidrometeorologi dan geologi, seperti banjir, gempabumi, dan tanah longsor. Namun, informasi risiko bencana yang tersedia umumnya masih disajikan pada skala administratif sehingga belum mampu menggambarkan variasi risiko secara rinci hingga tingkat persil. Proyek ini bertujuan menyusun peta risiko bencana berketelitian tinggi di Kota Bandung dengan mengintegrasikan komponen bahaya, kerentanan, dan kapasitas sesuai pedoman BNPB. Analisis dilakukan untuk bencana banjir, gempabumi, tanah longsor, serta multibahaya pada skala 1:5.000 menggunakan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil analisis disajikan dalam bentuk peta digital per kelurahan dan platform WebGIS yang memungkinkan eksplorasi informasi risiko secara interaktif hingga tingkat persil. Produk yang dihasilkan diharapkan dapat mendukung pengambilan keputusan dalam mitigasi bencana, perencanaan tata ruang, serta meningkatkan akses masyarakat terhadap informasi risiko bencana yang lebih detail dan mudah dipahami.

2026
👤 Penulis: Syalala Loovy
🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Risiko Bencana 🏷️ Sistem Informasi Geografis

PENYUSUNAN PETA RISIKO BENCANA BERKETELITIAN TINGGI DI KOTA BANDUNG

Kota Bandung memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap berbagai bencana hidrometeorologi dan geologi, seperti banjir, gempabumi, dan tanah longsor. Namun, informasi risiko bencana yang tersedia umumnya masih disajikan pada skala administratif sehingga belum mampu menggambarkan variasi risiko secara rinci hingga tingkat persil. Proyek ini bertujuan menyusun peta risiko bencana berketelitian tinggi di Kota Bandung dengan mengintegrasikan komponen bahaya, kerentanan, dan kapasitas sesuai pedoman BNPB. Analisis dilakukan untuk bencana banjir, gempabumi, tanah longsor, serta multibahaya pada skala 1:5.000 menggunakan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil analisis disajikan dalam bentuk peta digital per kelurahan dan platform WebGIS yang memungkinkan eksplorasi informasi risiko secara interaktif hingga tingkat persil. Produk yang dihasilkan diharapkan dapat mendukung pengambilan keputusan dalam mitigasi bencana, perencanaan tata ruang, serta meningkatkan akses masyarakat terhadap informasi risiko bencana yang lebih detail dan mudah dipahami.

2026
👤 Penulis: Raihan Hady Permana
🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Risiko Bencana 🏷️ Sistem Informasi Geografis

STUDI KARAKTERISTIK SESAR LEMBANG BANDUNG DENGAN TEKNOLOGI GPS

Penyelidikan-penyelidikan terdahulu telah menghubungkan bahwa Sesar Lembang adalah sesar normal terjadi setelah letusan besar G. Sunda yang berlangsung pada zaman Kuarter Tua. Kemudian hasil analisis gaya berat dari hasil pengukuran beberapa penampang yang melintas Sesar Lembang, ternyata memberikan suatu interpretasi di bawah permukaan adanya bidang sebagai sesar yang mempunyai kemiringan berlawanan dengan kemiringan gawir morfologi Sesar Lembang yaitu ke arah selatan, ke arah depresi Bandung. Suatu studi dengan mengimplementasilkan teknologi GPS untuk mengamati aktifitas Sesar Lembang dilakukan pada bulan Juni dan September 2006. Kemudian hasil pengolahan data GPS dua kala dengan software Bernesse 4.2 tersebut belum dapat memberi informasi lebih jauh mengenai karakteristik Sesar Lembang sehingga memang perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.

2026
👤 Penulis: Mohammad Iqbal
🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Data Geografi 🏷️ Teknologi Gps

STRUKTUR KECEPATAN GELOMBANG GESER DI BAWAH NUSANTARA (IBU KOTA BARU INDONESIA) DAN WILAYAH SEKITARNYA MENGGUNAKAN AMBIENT NOISE TOMOGRAPHY

Ibu Kota Nusantara ditetapkan melalui Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2022 di Kalimantan Timur, di atas Cekungan Kutai yang merupakan cekungan sedimen Tersier terbesar di Indonesia. Meskipun kawasan ini dipilih karena risiko geologi yang relatif rendah, kondisi tektonik regionalnya dicirikan oleh sistem sesar aktif, termasuk Sesar Naik Loa Haur-Separi yang baru teridentifikasi. Penelitian ini menerapkan metode ambient noise tomography (ANT) menggunakan rekaman 13 seismometer broadband selama enam bulan untuk mengkarakterisasi struktur kerak dangkal secara tiga dimensi. Korelasi silang antar pasangan stasiun menghasilkan fungsi Green empiris, dari mana kurva dispersi kecepatan grup gelombang Rayleigh pada rentang periode 0,4–6,3 s diekstraksi. Inversi tomografi gelombang permukaan menghasilkan model kecepatan gelombang geser (Vs) tiga dimensi hingga kedalaman ~6,5 km. Hasil tomografi menunjukkan nilai Vs absolut yang rendah dan konsisten (1,4–1,9 km/s) pada kedalaman 0–6,5 km, mengindikasikan dominasi sedimen tebal Cekungan Kutai. Anomali perturbasi Vs positif pada zona Antiklin Samarinda berorientasi NNE-SSW mencerminkan struktur fold-and-thrust belt, sedangkan wilayah Nusantara menunjukkan anomali negatif yang mengindikasikan sedimen Tersier belum terkonsolidasi dengan porositas tinggi. Kontras lateral Vs yang signifikan memungkinkan identifikasi Sesar Naik Loa Haur-Separi dari kedalaman 2–6,5 km dengan sudut kemiringan ~7°, konsisten dengan geometri low-angle thrust fault. Penelitian ini menghasilkan model Vs kerak dangkal tiga dimensi pertama di bawah wilayah Nusantara, sekaligus memberikan informasi penting mengenai geometri sesar bawah permukaan dan implikasinya terhadap bahaya seismik ibu kota baru Indonesia.

2026
👤 Penulis: Iqwal Ramadhan
🏷️ Geofisika 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Teknik Geologi

PEMODELAN MEKANISME DEFORMASI POST - SEISMIC DARI GEMPA BENGKULU 2007

Kepulauan Sumatra merupakan salah satu daerah dengan aktivitas tektonik paling aktif di dunia. Kepulauan Sumatra berada pada sekitar pertemuan dua buah lempeng, yaitu lempeng benua Eurasia dan lempeng samudra indoaustralia (zona subduksi), sehingga di Kepulauan tersebut sering terjadi gempa. Pada tahun tanggal 12 September 2007 telah terjadi gempa besar dengan Magnitude 8.4 yang disusul dengan gempa magnitude 7.8 dan 7.1 pada keesokan harinya. Gempa tersebut telah menelan ratusan korban jiwa, merusak infrastruktur yang ada. Untuk meminimalkan dampak dari bencana alam gempa bumi, baik itu pada saat gempa maupun setelah kejadian gempa, maka dirasa perlu untuk mempelajari mekanisme dari proses kejadian gempa tersebut. Gempa bumi selalu terjadi secara berulang, diawali dengan kejadian interseismik, coseismik dan kemudian postseismik. Pada setiap tahap kejadian gempa tersebut, biasanya selalu diikuti dengan perubahan posisi yang disebut dengan proses deformasi. Teknologi GPS dapat digunakan untuk mengamati setiap tahap kejadian gempa berdasarkan perubahan posisi yang disebabkan oleh gempa tersebut. Tahapan postseismik, sebagai tahap pelepasan energi gempa dapat terus dipantau berdasarkan perubahan posisinya untuk mempelajari gempa yang terjadi secara labih detail. Dengan data yang cukup tahapan deformasi postseismik dapat dimodelkan untuk selanjutnya dapat digunakan untuk memprediksi lama dari kejadian deformasi postseismik tersebut pada area yang terkena dampak gempa. Sehingga besarnya perkiraan pergeseran pada suatu waktu dan kapan perkiraan tahapan postseismik akan berakhir untuk selanjutnya gempa mengalami perulangan kembali dapat diketahui.

2026
👤 Penulis: Dede Gunawan
🏷️ Geofisika 🏷️ Deformasi Tanah 🏷️ Teknologi Gps

OPTIMASI LEAST-SQUARES COLLOCATION MULTI-BLOCK MENGGUNAKAN TILING ADAPTIF DAN DEKOMPOSISI MATRIKS UNTUK PEMODELAN GEOID REGIONAL SKALA BESAR

Least-Squares Collocation (LSC) merupakan metode optimal dalam pemodelan geoid. Pada dataset berskala besar, LSC memiliki kompleksitas komputasi tinggi sehingga perlu dioptimasi menggunakan pendekatan multi-blok. Tujuan penelitian ini adalah membangun pendekatan LSC berbasis pembagian domain (tiling) dengan penerapan overlap, weighting, serta evaluasi metode penyelesaian sistem linier. Data sintetis anomali gayaberat dan anomali tinggi dari model EGM2008 sebanyak 10.585 titik di wilayah Pulau Jawa digunakan untuk mengestimasi nilai anomali tinggi residual menggunakan LSC pada skema konvensional dan berbasis tiling, dengan metode penyelesaian Cholesky, Lower Upper (LU), dan Preconditioned Conjugate Gradient (PCG). Evaluasi difokuskan pada akurasi, efisiensi komputasi, dan kestabilan numerik untuk membandingkan kinerja Cholesky, LU, dan PCG dalam menentukan pendekatan yang paling efektif. Hasil menunjukkan bahwa pendekatan tiling mampu mempertahankan akurasi dengan RMS residual sekitar 0,0048–0,0052 m, sebanding dengan LSC global sebesar 0,0045 m. Dari sisi efisiensi, waktu komputasi berkurang signifikan dari 105,68 detik (konvensional) menjadi hingga 0,99 detik per tile. Edge effect teridentifikasi sebagai sumber utama error pada batas domain, namun berhasil direduksi melalui kombinasi overlap, cosine taper weighting, dan cropping, dengan penurunan simpangan baku dari 0,0177 m menjadi sekitar 0,0045 m. Metode Cholesky menunjukkan performa komputasi terbaik, sementara seluruh metode menghasilkan solusi yang konsisten secara numerik. Pendekatan LSC berbasis multi-blok terbukti efisien dan scalable untuk pemodelan regional skala besar. Estimasi anomali tinggi residual yang dihasilkan dapat digunakan sebagai dasar dalam pemodelan geoid melalui proses quasi-geoid to geoid separation.

2026
👤 Penulis: M. Angga Hadi Pratama
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Geofisika 🏷️ Optimasi Algoritma

PENGEMBANGAN MODEL ESTIMASI CEPAT MAGNITUDO GEMPABUMI DI WILAYAH INDONESIA MENGGUNAKAN DATA HIGH-RATE GNSS CORS

Estimasi magnitudo gempabumi yang akurat dan tepat waktu merupakan komponen krusial dalam sistem peringatan dini gempabumi dan tsunami yang efektif. Namun, fenomena saturasi magnitudo masih sering terjadi pada gempabumi bermagnitudo besar (M > 7,5), terutama akibat clipping sinyal pada sensor seismik yang berdekatan dengan episenter, yang menyebabkan amplitudo sinyal melebihi batas pengukuran instrumen dan menghasilkan estimasi magnitudo yang tidak akurat. Disertasi ini mengembangkan sebuah model estimasi cepat magnitudo gempabumi dengan memanfaatkan data High-Rate Global Navigation Satellite System (HRGNSS) dari jaringan CORS di Indonesia. Sebanyak 87 rekaman pergeseran dari 21 kejadian gempabumi dengan magnitudo menengah hingga besar (Mw 5,6–8,4) diolah untuk memperoleh nilai Peak Ground Displacement (PGD). Berdasarkan data tersebut, dikembangkan regional PGD Scaling Law secara empiris yang menunjukkan hubungan kuat antara PGD, jarak hiposentral, dan magnitudo momen (Mw). Model ini menghasilkan deviasi absolut rata-rata (MAD) sebesar 0,21, lebih baik dibandingkan dengan model PGD global yang telah dipublikasikan sebelumnya. Analisis retrospektif terhadap lima kejadian gempabumi besar yang terekam oleh enam atau lebih stasiun GNSS menunjukkan bahwa hukum skala PGD yang diusulkan bersifat andal dan stabil. Model ini tidak menunjukkan adanya indikasi saturasi magnitudo, bahkan untuk gempabumi besar (Mw > 8,0), dan mampu menghasilkan estimasi magnitudo berbasis PGD dalam waktu 2 hingga 3 menit setelah waktu origin (origin time). Hasil ini sesuai dengan kebutuhan waktu operasional dari sistem peringatan dini tsunami Indonesia (InaTEWS), sekaligus mengonfirmasi potensi integrasi model ini dalam operasional sistem peringatan dini tsunami secara real-time. Kendati demikian, tantangan seperti kerapatan stasiun dan latensi data tetap menjadi perhatian penting yang perlu diselesaikan untuk implementasi operasional yang optimal.

2026
👤 Penulis: Thomas Hardy
🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Data Gps 🏷️ Peringatan Dini Tsunami

WISUDA PERTAMA ITB 2023-2024_OKTOBER 2024_BUKU 1, FITB, FMIPA, FTMD, FTI, SBM, SPS

-

2026
👤 Penulis: Tidak diketahui
🏷️ Geofisika 🏷️ Teknik Mesin 🏷️ Manajemen Bisnis

ANALISIS PERUBAHAN DENSITAS RESERVOIR MENGGUNAKAN INVERSI MICROGRAVITY TIME-LAPSE DI LAPANGAN KAMOJANG

Penelitian ini bertujuan menganalisis perubahan densitas bawah permukaan akibat dinamika fluida reservoir dengan membandingkan anomali gravitasi periode Juni– November 2006 dan Juni 2006–Juli 2007, serta menafsirkan perubahan massa zona reservoir melalui pemodelan inversi 3D data Time-Lapse Microgravity (TLM) di Lapangan Panas Bumi Kamojang. Data gravitasi observasi yang telah dikoreksi, beserta informasi penurunan tanah (subsidence) dan perubahan muka air tanah, diolah menjadi Anomali Bouguer Lengkap (CBA), kemudian dianalisis menggunakan Radial Average Power Spectrum (RAPS) untuk mengestimasi kedalaman tren regional dan residual sekitar 1.350 m dan 568 m, yang selanjutnya dipisahkan dengan filter Moving Average jendela 35×35. Selisih anomali antarperiode digunakan sebagai TLM dan dimodelkan dengan inversi 3D berbasis blok menggunakan pendekatan Occam-D pada perangkat lunak Grablox–Bloxer, dengan F-option (FOPT) = 1 sebagai konfigurasi optimum. Peta TLM memperlihatkan dominasi anomali negatif pada kedua interval (sekitar 0,05 hingga ?0,16 mGal dan 0,081 hingga ?0,16 mGal), yang merepresentasikan defisit massa akibat produksi, sedangkan anomali positif yang bersifat lokal dan lebih jelas pada interval 12 bulan ditafsirkan sebagai indikasi penambahan massa terkait injeksi atau recharge. Hasil inversi menunjukkan dominasi perubahan densitas negatif dengan rata-rata penurunan densitas sekitar ?0,028 gr/cm³ dan ?0,024 gr/cm³, namun tetap muncul zona densitas positif lokal yang terlokalisasi sepanjang struktur utama berarah NE–SW dan NW–SE, mencerminkan respons reservoir terhadap kombinasi aktivitas produksi dan injeksi di Lapangan Panas Bumi Kamojang.

2026
👤 Penulis: Arya Azhara Zaini
🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Reservoir 🏷️ Hidrologi Lingkungan

INTEGRASI DATA WGM DAN MEKANISME FOKUS UNTUK IDENTIFIKASI SESAR AKTIF ZONA TEKTONIK TELUK TOMINI

Teluk Tomini merupakan bagian dari sistem tektonik kompleks di Indonesia Timur yang dipengaruhi oleh interaksi blok mikro Sulawesi dan sistem subduksi ganda Laut Maluku. Studi terkini menunjukkan bahwa wilayah ini dikontrol oleh deformasi kerak dangkal dan proses penunjaman slab dalam, namun integrasi antara data gravitasi dan parameter kinematik gempa untuk delineasi struktur aktif masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan mengkarakterisasi struktur sesar aktif di Teluk Tomini melalui integrasi analisis anomali gravitasi dan inversi moment tensor, serta mengestimasi potensi magnitudo maksimum berdasarkan segmentasi sesar. Metode yang digunakan meliputi pemisahan anomali regional dan residual menggunakan analisis spektral radial, ekstraksi lineament melalui Total Horizontal Gradient (THG) dan Fast Sigmoid Edge Detection (FSED), analisis statistik orientasi menggunakan diagram rose, serta interpretasi parameter strike, dip, dan rake dari data inversi moment tensor. Estimasi magnitudo maksimum dilakukan menggunakan persamaan empiris berbasis panjang rupture bawah permukaan (RLD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode gravitasi efektif dalam mengidentifikasi batas struktur dan orientasi sesar pada zona kerak dangkal (Poso, Tinombo, Gorontalo, dan Luwuk), sedangkan pada zona timur (Una-una, Sangihe I, dan Sangihe II) pola residual kurang merepresentasikan struktur akibat dominasi gempa kedalaman menengah hingga dalam. Pada zona tersebut, tren anomali regional lebih konsisten dengan arah strike moment tensor, mengindikasikan kontrol kuat sistem Subduksi Sangihe yang menunjam dari timur ke barat. Estimasi magnitudo maksimum menunjukkan potensi kegempaan berkisar Mw 6,3–7,2. Secara keseluruhan, integrasi data gravitasi dan moment tensor mampu mengidentifikasi struktur aktif secara komprehensif dan mengonfirmasi Teluk Tomini sebagai zona tektonik aktif dan kompleks dengan sumber gempa multipel, baik dari sesar kerak dangkal maupun sistem subduksi regional.

2026
👤 Penulis: Afriansyah
🏷️ Tektonika 🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Struktur Geologi

PENGEMBANGAN DAN PENERAPAN METODE GRAVITY GRADIENT TENSOR UNTUK IDENTIFIKASI STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN: STUDI KASUS SESAR LEMBANG

Metode Gravity Gradient Tensor (GGT) merupakan pengembangan dari metode gayaberat yang memiliki resolusi lebih tinggi dalam mendeteksi variasi densitas bawah permukaan serta delineasi batas struktur geologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kemampuan komponen GGT dalam mendelineasi batas struktur serta mengembangkan metode deteksi tepi berbasis komponen horizontal GGT untuk meningkatkan ketelitian interpretasi struktur bawah permukaan. Metode yang dikembangkan dalam penelitian ini meliputi Modified Horizontal Curvature (MHC), Tilt Modified Horizontal Curvature (TMHC), dan Total Gradient of TMHC (TG-TMHC). Pengujian metode dilakukan menggunakan model sintetis untuk mengevaluasi sensitivitas dan ketelitian masing-masing atribut dalam mendeteksi batas kontras densitas. Hasil pengujian menunjukkan bahwa MHC mampu menonjolkan tren batas struktur secara umum, sementara TMHC memberikan respon yang lebih stabil dan kontinu melalui proses normalisasi berbasis sudut. Metode TG-TMHC menghasilkan respon tepi yang paling terlokalisasi dan tajam dengan mampu menekan efek latar belakang serta artefak di luar batas struktur. Analisis profil horizontal menunjukkan bahwa TG-TMHC memiliki ketelitian spasial paling tinggi dengan posisi puncak respon yang berada sekitar 0,3-0,5 km dari batas struktur sebenarnya serta lebar respon yang lebih sempit dibandingkan atribut lainnya. Metode yang dikembangkan kemudian diaplikasikan pada data anomali gayaberat di wilayah Sesar Lembang, Jawa Barat. Hasil analisis menunjukkan adanya struktur yang berkembang sejajar dengan arah Sesar Lembang di bagian utara jalur utama sesar yang diduga berkaitan dengan kontras densitas bawah permukaan serta aktivitas vulkanik kompleks Gunung Sunda- Tangkubanperahu. Namun demikian, jalur utama Sesar Lembang tidak teridentifikasi secara jelas pada hasil analisis, yang kemungkinan dipengaruhi oleh ketebalan endapan piroklastik serta keterbatasan resolusi data gayaberat yang digunakan.

2026
👤 Penulis: Izzuki Hamida
🏷️ Geofisika 🏷️ Analisis Struktur Geologi 🏷️ Metode Gravity Gradient Tensor
Halaman 1 dari 9
💬