πŸ“š Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 15 dokumen

DELINEASI STRUKTUR KECEPATAN GELOMBANG GESER (VS) BAWAH PERMUKAAN SESAR LEMBANG BAGIAN BARAT MENGGUNAKAN AMBIENT NOISE TOMOGRAPHY

Sesar Lembang merupakan salah satu sesar aktif di Jawa Barat sehingga informasi mengenai kondisi bawah permukaannya diperlukan untuk mendukung kajian struktur geologi dan bahaya seismik. Penelitian ini bertujuan mendelineasi distribusi kecepatan gelombang geser (Vs) bawah permukaan pada bagian barat Sesar Lembang menggunakan metode Ambient Noise Tomography (ANT). Data yang digunakan berupa rekaman ambient seismic noise selama 20 hari dari 10 stasiun seismometer broadband tiga komponen. Empirical Green's Function (EGF) diperoleh melalui proses cross-correlation komponen vertikal antar pasangan stasiun, kemudian dilakukan ekstraksi kurva dispersi kecepatan grup gelombang Rayleigh menggunakan metode Continuous Wavelet Transform (CWT). Kurva dispersi yang memenuhi kriteria kualitas selanjutnya diinversi menggunakan perangkat lunak DSurfTomo untuk memperoleh model tiga dimensi distribusi Vs bawah permukaan. Hasil inversi menunjukkan adanya heterogenitas kecepatan gelombang geser yang ditandai oleh berkembangnya zona anomali ?Vs negatif dan ?Vs positif. Zona ?Vs negatif berkembang relatif menerus pada bagian tengah daerah penelitian dan berasosiasi dengan jalur Sesar Lembang, sedangkan zona ?Vs positif umumnya berkembang di bagian utara dan selatan daerah penelitian. Hasil checkerboard test menunjukkan bahwa model memiliki resolusi yang memadai sehingga layak digunakan untuk interpretasi. Berdasarkan pola distribusi anomali tersebut, zona ?Vs negatif diinterpretasikan sebagai zona batuan yang mengalami deformasi di sekitar Sesar Lembang. Model distribusi Vs yang dihasilkan memberikan gambaran karakteristik bawah permukaan yang dapat dimanfaatkan sebagai informasi pendukung dalam kajian struktur geologi, karakterisasi zona sesar, serta evaluasi bahaya seismik di wilayah Bandung dan sekitarnya.

2026
πŸ‘€ Penulis: Ahmad Fauzan
🏷️ Geofisis 🏷️ Tomografi Suara Ambien 🏷️ Analisis Struktur Geologi

PEMODELAN SEMIVARIOGRAM ANISOTROPIK GEOMETRI 3D DENGAN JARAK HAVERSINE BERBASIS DEEP NEURAL NETWORK (STUDI KASUS: DATA GEMPA MEGATHRUST JAWA)

Gempa bumi megathrust di selatan Pulau Jawa memiliki pola spasial kompleks akibat aktivitas subduksi lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Penelitian ini bertujuan membangun model semivariogram anisotropik geometri 3D berbasis jarak Haversine serta membandingkan pendekatan semivariogram teoretis dan semivariogram nonparametrik berbasis Deep Neural Network (DNN) dalam interpolasi magnitudo menggunakan Ordinary Kriging (OK). Data yang digunakan merupakan data gempa bumi megathrust Jawa dan aftershock tahun 1990–2024 yang diperoleh dari katalog United States Geological Survey (USGS). Analisis dilakukan melalui pembentukan semivariogram eksperimental Cressie-Hawkins, identifikasi anisotropi berdasarkan arah azimuth dan dip, fitting model semivariogram teoretis spherical, serta penaksiran parameter semivariogram menggunakan DNN. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model semivariogram anisotropik mampu menangkap perbedaan kontinuitas spasial antar arah pada data gempa bumi megathrust Jawa. Pendekatan semivariogram teoretis menghasilkan pola interpolasi yang lebih halus, stabil, dan terkontrol, sedangkan pendekatan DNN lebih adaptif dan fleksibel dalam merepresentasikan variasi lokal dan heterogenitas spasial. Visualisasi 3D dan kontur 2D menunjukkan bahwa zona magnitudo tinggi cenderung mengikuti arah memanjang dari barat ke timur, selaras dengan jalur subduksi di selatan Pulau Jawa.

2026
πŸ‘€ Penulis: Amalia Nur Afifah
🏷️ Geofisis 🏷️ Analisis Data Gempa Bumi 🏷️ Deep Learning Dalam Geofisika

STUDI PENGEMBANGAN PETA RISK-TARGETED MAXIMUM CONSIDERED EARTHQUAKE (MCER) UNTUK INDONESIA BERDASARKAN PETA GEMPA TAHUN 2024

Studi ini menyajikan pengembangan Risk-Targeted Ground Motions (RTGM) sebagai usulan revisi untuk SNI 1726:2019. Untuk menetapkan basis yang diperbarui, peta analisis bahaya kegempaan probabilistik Indonesia telah direvisi dengan memasukkan katalog gempa bumi terbaru dari tahun 2017 hingga 2024 serta menggunakan Ground Motion Prediction Equations (GMPE) paling mutakhir. Nilai RTGM dihitung sebagai percepatan respons spektral yang mencapai probabilitas keruntuhan bangunan seragam sebesar 1% dalam 50 tahun melalui proses konvolusi numerik dengan kurva fragilitas. Studi ini melakukan analisis sensitivitas pada parameter ketidakpastian kapasitas struktural (????) dan Direction Factor (DF) di enam kota yang mewakili berbagai tingkat kegempaan di Indonesia. Hasil menunjukkan bahwa pengaruh ???? sangat bergantung pada kemiringan hazard curve dengan peningkatan nilai ???? menaikkan nilai desain di wilayah dengan tingkat kegempaan tinggi, dan sebaliknya. Lebih lanjut, parameter DF berfungsi sebagai pengali linier terhadap RTGM. Berdasarkan tinjauan literatur, kesiapan konstruksi nasional, dan kelayakan ekonomi, studi ini merekomendasikan penggunaan nilai ???? = 0.6, dan mempertahankan nilai DF untuk T = 0.2s sebesar 1.1 dan DF untuk T = 1.0s sebesar 1.3. Penerapan parameter yang diusulkan ini, dikombinasikan dengan batasan deterministic seismic hazard untuk menetapkan nilai akhir Risk-Targeted Maximum Considered Earthquake (????????????????), memicu redistribusi beban gempa nasional yang signifikan. Rata-rata, pembaruan ini menghasilkan peningkatan sebesar 22.26% pada percepatan desain periode pendek (????????) dan penurunan sebesar 5.79% untuk periode 1.0 detik (????1 ) dibandingkan dengan SNI 1726:2019. Peta ???????????????? dan Koefisien Risiko (????????) yang disajikan merupakan landasan ilmiah yang kuat untuk revisi standar bangunan gedung nasional yang akan datang.

2026
πŸ‘€ Penulis: Riza Nurdin Syaputra
🏷️ Geofisis 🏷️ Analisis Keamanan Struktural Bangunan 🏷️ Revisi Standar Bangunan Gedung

ANALISIS BAHAYA GEMPA PROBABILISTIK: PEMODELAN SUMBER GEMPA BERBASIS KATALOG GEMPA DAN DATA GEODETIK DI PULAU KALIMANTAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan mengevaluasi kerangka optimal dalam pemodelan sumber gempa di wilayah Kalimantan yang dicirikan oleh tingkat seismisitas rendah dan keterbatasan informasi struktur aktif, melalui integrasi data katalog gempa dan deformasi geodetik dalam kerangka probabilistik. Berbeda dengan pendekatan konvensional yang umumnya hanya mengandalkan model berbasis katalog atau memperlakukan data geodetik sebagai prediktor langsung laju seismisitas, penelitian ini memperkenalkan kerangka evaluasi prediktif yang secara konsisten mengintegrasikan validasi statistik dan kendala fisik. Model berbasis katalog dikembangkan menggunakan pendekatan pemulusan (smoothing) tetap (fixed) dan adaptif (adaptive), serta dievaluasi secara retrospektif dengan skema pseudo-prospektif (out-of-sample) dalam kerangka Collaboratory for the Study of Earthquake Predictability (CSEP). Hasil menunjukkan bahwa pendekatan adaptive smoothing memberikan representasi spasial yang lebih stabil, khususnya pada horizon waktu menengah (3–5 tahun), sementara model fixed dengan bandwidth kecil cenderung menghasilkan distribusi yang terlalu terlokalisasi dan menunjukkan performa spasial yang lebih rendah. Model geodetik dikembangkan melalui konversi medan laju regangan GNSS menjadi laju momen dan laju seismisitas. Hasil menunjukkan bahwa model geodetik tidak secara langsung merepresentasikan realisasi kejadian gempa dalam jangka pendek, sehingga lebih tepat diposisikan sebagai sumber informasi tambahan, bukan sebagai prediktor langsung laju seismisitas. Integrasi kedua sumber informasi dilakukan melalui model hibrida dengan pendekatan multiplikatif (tipe-1) dan berbasis peringkat (tipe-2), di mana informasi geodetik dimanfaatkan sebagai kovariat spasial. Dalam kerangka ini, transformasi kovariat geodetik dilakukan secara terkontrol menggunakan pendekatan berbasis machine learning tanpa melanggar asumsi Poisson dan struktur spasial model berbasis katalog. Hasil menunjukkan bahwa model hibrida tidak secara universal meningkatkan performa statistik dibandingkan model katalog, namun mampu mempertahankan konsistensi probabilistik dan memperbaiki distribusi spasial secara moderat. Temuan ini menegaskan bahwa hubungan antara deformasi geodetik dan seismisitas bersifat tidak linier, serta bahwa informasi geodetik berperan sebagai pengendali atau korektor spasial, bukan sebagai penentu langsung jumlah kejadian gempa. Implementasi model dalam analisis bahaya (hazard) menunjukkan bahwa distribusi bahaya gempa di Kalimantan didominasi oleh gradien spasial barat–timur yang konsisten, dengan peningkatan hazard pada periode ulang yang lebih panjang terjadi secara proporsional tanpa mengubah pola spasial utama. Hazard didominasi oleh respons periode pendek hingga menengah (T ? 0,1–0,2 s), yang mencerminkan dominasi sumber gempa kerak dangkal regional. Secara keseluruhan, penelitian ini menghasilkan kerangka metodologis yang mengintegrasikan evaluasi statistik berbasis out-of-sample dan kendala fisik berbasis deformasi geodetik dalam pemodelan sumber gempa. Pendekatan ini menghasilkan model yang stabil secara statistik, konsisten secara geofisika, serta memberikan kontribusi sebagai alternatif dalam penyusunan logic tree PSHA, khususnya pada wilayah dengan keterbatasan data seperti Kalimantan.

2026
πŸ‘€ Penulis: Yuliastuti
🏷️ Geofisis 🏷️ Model Geodetik 🏷️ Analisis Bahaya Gempa

PEMODELAN TINGKAT AKTIFITAS SESAR CIMANDIRI BERDASARKAN DATA PENGAMATAN DEFORMASI PERMUKAAN

Sesar Cimandiri adalah sesar aktif yang berada di daerah Sukabumi Selatan, yang memanjang dari Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Cianjur sampai Padalarang. Sesar Cimandiri terbentuk akibat adanya gaya tekan yang timbul dari proses subduksi lempeng samudera Indoaustralia ke bawah lempeng benua Erasia di selatan Pulau Jawa. Sesar Cimandiri terletak pada kawasan yang relatif padat penduduk sehingga bila terjadi gempa akan menyebabkan korban jiwa dan kerusakan yang besar, sehingga tingkat aktivitas sesar Cimandiri perlu dipantau, agar dapat dilakukan antisipasi dan mitigasi terhadap bencana gempa yang akan terjadi. Untuk keperluan tersebut dilakukan pengukuran GPS dengan metode penentuan posisi statik geodetik (penentuan posisi differensial) tipe episodik sebanyak empat kali, yaitu pada 1-4 Desember 2006, 20-23 Agustus 2007, 8-12 Agustus 2008 dan 21-24 Juli 2009. Survei GPS dilaksanakan menggunakan sejumlah receiver GPS tipe geodetik dua frekuensi dan pengolahan datanya menggunakan perangkat lunak ilmiah Bernese 5.0, selanjutnya dilakukan perhitungan vektor pergeseran, nilai parameter regangan dan pembuatan model tingkat aktivitas. Berdasarkan hasil pengolahan data memberikan kesimpulan bahwa sesar Cimandiri merupakan sesar geser mengiri dan kawasan zona sesar Cimandiri dan sekitarnya bergerak dengan kecepatan 1 hingga 20 mm/tahun, besarnya regangan berkisar 0,1 hingga 4 mikrostrain yang bervariasi secara spasial dan tingkat akumulasi pergeseran sebesar 10 mm/tahun.

2026
πŸ‘€ Penulis: Aris Phyrus Honggorahardjo
🏷️ Geofisis 🏷️ Analisis Deformasi Permukaan 🏷️ Pengelolaan Bencana Gempa

PENGAMATAN DEFORMASI SESAR BARIBIS BERDASARKAN DATA GPSEPISODIK DAN KONTINYU

Sesar Baribis adalah salah satu sesar aktif di Jawa Barat yang memiliki komponen sesar naik selain sesar geser. Struktur sesar tersebut dapat diamati jejak-jejaknya sepanjang kurang lebih 70 km, mulai dari Subang hingga ke daerah perbukitan Baribis, sebelah barat Gunung Ciremai. Sesar Baribis melalui daerah sekitar yang padat penduduk, Sesar Baribis memiliki potensi cukup besar akan terjadinya gempa bumi, sehingga diperlukan pemantauan pergerakan sesar secara berlanjut untuk keperluan mitigasi bencana. Pengamatan pergerakan Sesar Baribis pada penelitian ini menggunakan Metode GPS Episodik dan Kontinyu untuk menganalisis aktivitas deformasinya. Hasil pengolahan data pengamatan tahun 2007, 2009, 2010, dan 2011 diperoleh pola pergerakan titik pengamatan GPS bagian timur berupa pola sesar geser, dan bagian barat berupa pola sesar naik dengan mengindikasikan rata-rata besaran pergeseran Sesar Baribis 5.2 mm/tahun Β± 2.2 mm.

2026
πŸ‘€ Penulis: Adi Nepson
🏷️ Geofisis 🏷️ Analisis Data Gps 🏷️ Mitigasi Bencana Gempa Bumi

STUDI DEFORMASI POST-SEISMIC GEMPA ACEH 2004 DENGAN MENGGUNAKAN METODE GPS

Gempa dan tsunami yang terjadi pada tahun 2004 di Propinsi Nangroe Aceh Darussalam dan sekitarnya, merupakan salah satu bencana alam yang sangat besar. Bencana ini mengakibatkan kerusakan berbagai macam infrastruktur yang ada. Untuk itu, mitigasi bencana alam diperlukan sebagai tindakan preventif jika suatu saat terjadi pengulangan suatu bencana. Salah satu cara untuk melakukan mitigasi ialah mempelajari tahap post-seismic dari suatu siklus gempa. Dengan mempelajari tahap post-seismic diharapkan dapat melihat kemungkinan terjadinya pengulangan gempa dan mengetahui besarnya pergeseran yang terjadi sehingga dapat dijadikan evaluasi potensi gempa di masa yang akan datang sebagai upaya dalam mitigasi bencana. Pengamatan post-seismic dapat dilakukan dengan metode survey GPS. GPS dapat memberikan nilai vektor pergeseran dengan tingkat presisi sampai beberapa milimeter. Penggunaan GPS dalam studi post-seismic adalah tindakan yang tepat, karena ketelitian pergeseran posisi yang dicari adalah dalam level milimeter. Berdasarkan pengamatan tahun 2007 sampai 2009, besar pergeseran akibat post-seismic gempa tsunami Aceh 2004, berkisar antara 5 sampai 15 cm pertahun. Berdasarkan penghitungan model, nilai deformasi post-seismic pada bidang gempa yaitu sebesar 35 cm pertahun.

2026
πŸ‘€ Penulis: MOHAMMAD REZI MOCHTAR (NIM 15105035); Pembimbing: Dr. Irwan Meilano, ST., M.Sc., dan Heri Andreas ST
🏷️ Geofisis 🏷️ Analisis Deformasi Geologi 🏷️ Metodologi Gps Dalam Mitigasi Bencana

PEMODELAN GEMPA BENGKULU 2007 BERDASARKAN DATA GPS

Sumatera merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki aktivitas tektonik paling aktif di dunia. Sumatera dilewati jalur subduksi antara lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia, hal ini memicu potensi Gempabumi bila terjadi pergerakan di dalam struktur bumi akibat sifat bumi yang dinamis. Pada 12 September 2007, Gempabumi besar dengan kekuatan M8.5 mengguncang wilayah pantai barat sumatera, sebelah barat daya Bengkulu. Gempabumi Bengkulu M8.5 September tahun 2007 dimodelkan untuk mempelajari mekanisme pada saat kejadian gempa serta untuk mengetahui pola pergeseran akibat gempa di wilayah barat daya Sumatera. Studi ini memperkenalkan salah satu metode yang dapat digunakan dalam memodelkan parameter mekanisme gempabumi berdasarkan data pergeseran permukaan. Paramater-parameter ini dihitung untuk memecahkan model dislokasi yang dimanfaatkan pada zona subduksi, seperti di Sumatera. Pola pergeseran gempabumi diketahui melalui pengamatan GPS. Pemodelan ini diharapkan dapat memberikan manfaat dalam upaya mitigasi bencana Gempabumi dan sekaligus kewaspadaan terhadap ancaman bahaya tsunami untuk meminimalisasi korban jiwa.

2026
πŸ‘€ Penulis: MEIRISKA YUSFANIA (NIM 15104072)
🏷️ Geofisis 🏷️ Model Geologi 🏷️ Peramalan Bencana

STUDI PENGARUH DEFORMASI CO-SEISMIC GEMPA ACEH TERHADAP BATAS DAERAH DAN NEGARA

Abstrak : Gempa dahsyat yang diiringi oleh tsunami di Aceh kemungkinan akan menghasilkan nilai co-seismic deformation yang cukup besar. Wilayah Aceh dan sekitarnya diprediksikan telah bergeser sekitar 2 meter bahkan lebih. Dengan deformasi sebesar ini, maka akan berdampak terhadap masalah geometrik data spasial di wilayah Aceh. Salah satunya adalah status geometri batas baik itu batas negara maupun batas daerah. Dengan data GPS yang diperoleh dari pengukuran lapangan di segmen Aceh setelah gempa tersebut terjadi, dapat dibuat model deformasi co-seismic dengan elastic half space. Dari model tersebut, dapat diturunkan besarnya pergeseran pada titik-titik batas baik itu batas negara maupun batas daerah yang berada pada segmen Aceh dan sekitarnya. Pergeseran titik-titik batas yang berada di sekitar Aceh akibat deformasi co-seimic memberikan dampak beragam, mulai dari 9.45 cm di titik batas prov1 di pantai barat batas Aceh-Sumut, sampai dengan yang tertinggi sebesar 260.3 cm, di titik batas kabupaten, antara Kabupaten Aceh Barat dan Aceh Besar yang berada di pantai barat dekat dengan pusat gempa. Deformasi co-seimic gempa Aceh ini memiliki arah apergeseran dikisaran 241 derajat sampai dengan 275 derajat atau rata-rata ke arah barat daya. Dengan diketahuinya pergeseran pada titik-titik batas daerah dan negara (dengan rata-rata orde meter) yang melebihi batas ketelitian yang harus dipenuhi untuk di darat (Untuk PBU dan PABU (Pilar Acuan Batas Utama) = +/- 15 cm dan untuk PBA dan PABA (Pilar Acuan Batas Antara) = +/- 25 cm) dan untuk di laut +/- 1.5 m. Maka status geometri titik-titik batas yang terdeformasi melebihi batas ketelitian tersebut sudah tidak sesuai dengan aspek teknis dan aspek legal yang harus dipenuhi oleh titik-titik batas tersebut. Sehingga seharusnya perlu dilakukan langkah-langkah dalam menyelesaikan masalah geometri titik batas ini.

2026
πŸ‘€ Penulis: Sanny Samudra Nugraha (NIM 151 03 055)
🏷️ Geofisis 🏷️ Analisis Deformasi Geometrik 🏷️ Manajemen Batas Geografis

PENINGKATAN CITRA BAWAH PERMUKAAN DENGAN APLIKASI METODE ANISOTROPI PRESTACK DEPTH MIGRATION PADA CEKUNGAN JAWA TIMUR UTARA

Pada struktur geologi sederhana dengan variasi kecepatan lateral yang kecil, migrasi waktu (PSTM) umumnya mampu menghasilkan citra bawah permukaan yang memadai. Namun, pada struktur kompleks seperti lapisan karbonat yang memicu pull-up effect, metode PSTM menjadi kurang akurat karena tidak mampu mengakomodasi variasi kecepatan lateral, sehingga berpotensi menimbulkan kesalahan interpretasi. Migrasi kedalaman (PSDM) sebagai solusi dengan memanfaatkan kecepatan interval dan mempertimbangkan variasi kecepatan lateral untuk menghasilkan citra reflektor yang lebih akurat. Meski demikian, asumsi isotropi yang umum digunakan pada PSDM sering kali tidak sesuai dengan kondisi geologi sebenarnya yang cenderung bersifat anisotropi, dimana kecepatan gelombang bervariasi sesuai arah rambatnya. Penelitian ini membandingkan hasil isotropi PSDM dan anisotropi PSDM dengan menerapkan parameter anisotropi Thomsen, yaitu epsilon (?) dan delta (?). Parameter delta (?) merepresentasikan anisotropi gelombang P pada arah near vertical dan digunakan untuk mengoreksi kecepatan seismik berdasarkan data sumur, sedangkan epsilon (?) merepresentasikan anisotropi gelombang P pada arah near horizontal yang berkaitan dengan koreksi far offset. Proses pengolahan isotropi PSDM dilakukan dengan perbaikan model kecepatan menggunakan analisis residual moveout dan tomografi iterasi sebanyak lima kali. Koreksi model kecepatan isotropi akhir dengan parameter delta menghasilkan kesesuaian yang lebih baik dengan data sumur. Perbaikan epsilon dilakukan satu kali karena gather telah menunjukkan kedataran setelah iterasi tomografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan anisotropi mampu meningkatkan akurasi model kecepatan seismik terhadap data sumur gelombang P. Perbaikan ini mengoreksi kesalahan struktur yang disebabkan penggunaan kecepatan RMS pada PSTM, termasuk menghilangkan efek pull-up. Dengan demikian, metode PSDM anisotropi dapat meningkatka

2025
πŸ‘€ Penulis: Muhammad Faishal
🏷️ Geofisis 🏷️ Analisis Kecepatan Seismik 🏷️ Koreksi Anisotropi

PENGARUH KORELASI PASANGAN VARIABEL DALAM PEMODELAN SEMIVARIOGRAM ANISOTROPIK MENGGUNAKAN METODE INTERPOLASI COKRIGING (STUDI KASUS: DATA KANDUNGAN LOGAM BERAT DALAM AIR SUMUR DI KABUPATEN BANDUNG)

Air merupakan sumber daya alam utama yang menjadi aset berharga bagi manusia. Masyarakat Indonesia memanfaatkan sumur sebagai sumber air alternatif dalam mencegah kurangnya pasokan air minum. Dari 85 persen rumah tangga yang memiliki akses air minum yang layak, 65,17 persen airnya berasal dari sumur. Air sumur banyak mengandung zat-zat mineral, seperti logam berat, dalam konsentrasi tinggi. Studi ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh korelasi pasangan variabel dalam pemodelan semivariogram anisotropik dari data kandungan logam berat dalam air sumur di Kabupaten Bandung. Variabel yang dipilih adalah Cd, Hg, dan Pb sehingga pasangan variabelnya adalah Cd-Hg dan Cd-Pb. Penaksiran parameter model semivariogram dan cross-semivariogram teoritis menggunakan metode weighted least square (WLS) menghasilkan model kubik sebagai model terbaik untuk Cd, Pb, Cd-Hg, dan Cd-Pb dengan jumlah kuadrat galat (JKG) WLS berturut-turut sebesar 816,4162, 1330,6276, 4481,3052, dan 1315,1843 serta model spherikal sebagai model terbaik untuk Hg dengan JKG WLS sebesar 5407,9254. Nilai kandungan logam berat dalam air sumur di lokasi yang tidak terobservasi diestimasi menggunakan interpolasi cokriging yang dilakukan bersamaan dengan validasi model semivariogram dan cross-semivariogram menggunakan metode jackknife. Interpolasi cokriging di lokasi yang terobservasi menggunakan pasangan Cd-Pb menghasilkan JKG cokriging yang lebih kecil dibandingkan dengan menggunakan pasangan Cd-Hg, yakni sebesar 0,3138 Γ—10?30. Hasil studi ini menunjukkan bahwa nilai koefisien korelasi pasangan variabel berpengaruh terhadap pemodelan anisotropik yang dilakukan.

2025
πŸ‘€ Penulis: Rara Aliya Khrisna Putri
🏷️ Geofisis 🏷️ Analisis Variabel Geologi 🏷️ Interpolasi Cokriging

INVESTIGASI NILAI LAJU GERAK SESAR DI INDONESIA BERDASARKAN EARTHQUAKE-SCALING RELATIONSHIP

Tatanan tektonik Indonesia membuat negara ini memiliki risiko kejadian gempa bumi yang tinggi. Dari data yang dirilis USGS, setidaknya telah terjadi 5072 gempa bumi dalam rentang 2020 – 2022. Bencana gempa bumi di Indonesia dikategorikan sebagai bencana yang memberikan kerugian signifikan. Dengan keadaan ini, mitigasi adalah upaya yang krusial untuk dilakukan. Salah satu upaya mitigasi yang dapat dilakukan adalah melakukan pemodelan sumber gempa bumi sesar menggunakan metode Probabilistic Seismic Hazard Assessment (PSHA). Data laju gerak (slip-rate) sesar yang diperoleh dari perata-rataan nilai laju gerak sesar geologi dan geodesi adalah salah satu data masukan yang diperlukan untuk membuat model PSHA. Sayangnya, sekitar 60% dari sesar di Indonesia belum memiliki nilai laju gerak sesar geologi dan/atau geodesi. Penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh dan menganalisis nilai laju gerak sesar yang belum diobservasi secara geologi dan/atau geodesi. Penelitian dilakukan dengan mengaplikasikan persamaan-persamaan yang berkaitan dengan earthquakescaling relationship. Data yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia (PuSGeN) Tahun 2017. Dari pengolahan data yang dilakukan, didapatkan rentang nilai magnitudo dan laju sesar di Indonesia. Rentang nilai magnitudo momen sesar di Indonesia berturut-turut dari data PuSGeN, hasil perhitungan dengan formula Cheng dkk., dan hasil perhitungan dengan formula Gunawan: 6.1 – 8.2; 5.8 – 8.2; dan 6.3 – 8.0. Berikutnya, nilai laju gerak sesar di Indonesia berturut-turut dari data PuSGeN, hasil perhitungan dengan formula Cheng dkk., dan hasil perhitungan dengan formula Gunawan berada pada rentang: 0.05 – 35.00; 0.05 – 22.87; dan 0.05 – 19.98. Selisih antara ketiga jenis magnitudo momen tidak terlalu signifikan dengan nilai selisih tertinggi 1.4, sedangkan selisih antara ketiga jenis laju gerak cukup signifikan dengan nilai selisih tertinggi 34.92. Adapun nilai magnitudo momen dan laju gerak hasil perhitungan menggunakan metode Cheng dkk. dan Gunawan memiliki tingkat kemiripan paling tinggi.

2024
πŸ‘€ Penulis: Miftahul Jannah
🏷️ Geofisis 🏷️ Analisis Data Gempa Bumi 🏷️ Manajemen Risiko Geologi

IDENTIFIKASI ZONA MINERALISASI MANGAN MENGGUAKAN METODE POLARISASI TEZIMBAS KAWASAN WAKTU DI KARANGTUNGGAL KEC. KARANGNUNGGAL KABUPATEN TASIKMALAYA, JAWA BARAT

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi zona mineralisasi mangan di Karangnunggal, Tasikmalaya, Jawa Barat. Metode polarisasi terimbas dalam kawasan waktu digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan konfigurasi Wenner serta alat Lippmann Geophysical Instruments 4 Point Light. Data yang diperoleh dari 17 lintasan diolah menggunakan Res2Dinv untuk menghasilkan model 2D resistivitas dengan rentang 0–1500 ohm meter dan model 2D chargeability dengan rentang 0–100 msec. Hasil model dari 17 lintasan menunjukkan potensi endapan mangan primer berada di area timur dan selatan daerah penelitian dengan batas anomali chargeability > 5 msec yang digunakan sebagai acuan dalam penelitian ini. Nilai resistivitas di area timur dan selatan menunjukkan pelapukan batuan sedimen yang menghasilkan lempung serta pelapukan batuan vulkanik yang menghasilkan laterit kaya mangan. Pemodelan quasi 3D menggunakan SketchUp memberikan visualisasi mendalam dan interpretasi yang lebih akurat, mendukung strategi eksplorasi dan eksploitasi mangan yang lebih efektif di Karangnunggal.

2024
πŸ‘€ Penulis: Muhammad Hamzah
🏷️ Geofisis 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan

ANALISIS STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN GUNUNG API EGON BERDASARKAN DATA GRAVITASI

Sebaran densitas batuan memberikan informasi penting untuk memahami perilaku gunung api dan mengembangkan strategi mitigasi. Penelitian ini menganalisis struktur bawah permukaan Gunung Api Egon menggunakan data gravitasi yang diperoleh dari citra satelit GGMPlus. Data gravitasi yang dikumpulkan, dianalisis setelah dilakukan koreksi udara bebas, koreksi Bouguer dan koreksi terrain. Hasil analisis menunjukkan peta anomali Bouguer lengkap yang kemudian dipisahkan menggunakan metode moving average, menghasilkan anomali regional dan residual. Anomali gravitasi negatif mengindikasikan keberadaan batuan berdensitas rendah, sementara anomali gravitasi positif menunjukkan batuan berdenitas tinggi. Melalui pemodelan ke depan (forward modelling), diperoleh informasi densitas batuan, yaitu: batuan basalt dengan densitas 2.99 g/cm3 , batuan lava andesit dengan densitas 2.79 g/cm3 , batuan andesit dengan densitas 2.4 g/cm3 , batuan pumis dengan densitas 1.1 g/cm3 dan batuan litik andesit dengan densitas 2.6 g/cm3 .

2024
πŸ‘€ Penulis: Magdalena Ferlina Rere Djogo
🏷️ Geofisis 🏷️ Analisis Struktur Bawah Permukaan 🏷️ Model Densitas Batuan

PENGEMBANGAN MODEL PASANG SURUT LAUT REGIONAL UNTUK REALISASI GEOID LAUT TELITI INDONESIA

Geoid laut teliti Indonesia yang memiliki akurasi lebih baik dari 5 cm, dibutuhkan sebagai infrastruktur dasar kegiatan survei pemetaan dan rekayasa. Pada saat ini, satelit altimetri telah terbukti kegunaannya untuk penentuan geoid laut di wilayah perairan yang luas dengan resolusi spasial yang tinggi, akurasi yang dapat diandalkan, serta data yang tersedia secara bebas. Namun, efek pasang surut laut (pasut) pada data satelit altimetri masih memberikan kontribusi kesalahan yang siginifikan dalam penentuan geoid laut, terutama pada wilayah perairan dangkal dan pesisir. Oleh karena itu, penentuan geoid laut yang teliti membutuhkan model pasut yang teliti. Untuk geoid laut dengan akurasi lebih baik dari 5 cm di wilayah pesisir dan perairan dangkal, dibutuhkan model pasut dengan ketelitian lebih baik dari 15 cm. Pada penelitian ini, akan dikembangkan model pasut Indonesia dengan menggunakan data altimetri di sepanjang jalur pengamatan, dengan memanfaatkan multi-satelit altimetri, yang disebut dengan model pasut empiris. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan resolusi model pasut dan mempertahankan sinyal gelombang pendek di perairan Indonesia. Selain itu, pada proses pemodelan akan dilakukan proses evaluasi berdasarkan tingkat keakuratan data masing-masing satelit altimetri, untuk menentukan kombinasi satelit yang paling optimal dalam pemodelan. Selanjutnya, model pasut yang dihasilkan akan dianalisis dampak ketelitiannya terhadap kesalahan estimasi geoid laut. Hasil dari pengembangan model pasut yang dilakukan pada penelitian ini menunjukkan bahwa model dengan kombinasi satelit TOPEX/Jason series (TOPEX, Jason-1, Jason-2, Jason-3, SENTINEL-6A), GFO, dan ENVISAT, serta stasiun pasut merupakan kombinasi terbaik, yang menghasilkan model dengan ketelitian yang lebih baik dari model pasut global, yaitu sebesar 11,38 cm. Hal ini merupakan bukti empirik bahwa model dengan akurasi yang lebih baik dapat dihasilkan, dengan menerapkan prosedur pemilihan kombinasi satelit. Di sisi lain, dengan mengacu terhadap ketelitian geoid laut yang dibutuhkan Indonesia, yaitu lebih baik dari 5 cm, ketelitian tersebut, tidak berada pada rentang perambatan kesalahan yang dihasilkan terhadap ketelitian geoid laut, yaitu 5 s/d 6 cm, yang menunjukkan bahwa ketelitian model pasut yang dihasilkan belum cukup untuk memenuhi kebutuhan Indonesia. Berdasarkan batas atas dari rentang nilai tersebut, terdapat probabilitas untuk menghasilkan ketelitian yang lebih rendah dari 5 cm. Oleh karena itu, dalam realisasi geoid laut teliti, parameter selain ketelitian model pasut perlu dipertimbangkan.

2024
πŸ‘€ Penulis: Muhammad Syahrullah Fathulhuda
🏷️ Geofisis 🏷️ Model Pasang Surut Laut 🏷️ Pemetaan Geoid
πŸ’¬