📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 9 dokumenPEMBANGUNAN MODEL WEBGIS DALAM PEMANTAUAN PROGRAM PERTUKARAN KARBON
Perdagangan karbon adalah suatu mekanisme perdagangan dimana negara yang menghasilkan emisi karbon dari kuota yang ditentukan diharuskan untuk memberikan sejumlah insentif kepada negara yang bisa menyerap karbon melalui proyek penanaman hutannya. Indonesia sebagai negara ketiga terbesar yang memiliki area hutan tropis dapat menjadikan area hutannya sebagai komoditas dalam perdagangan karbon dunia. ITB bertujuan melakukan penelitian dalam program perdagangan karbon di Indonesia. Penelitian ini mencakup pembuatan sistem basis data spasial dan membangun model WebGIS dalam program perdagangan karbon. Model WebGIS yang dibangun memiliki fitur foto panoramik 360o sehingga pengguna dapat merasakan efek virtual reality karena data yang digunakan merupakan suatu citra/gambar mengenai keadaan di lingkungan sekitarnya. Hasil penelitian adalah sebuah bentuk manajemen data spasial dan menghasilkan model WebGIS yang memiliki tampilan antarmuka yang user friendly. Diharapkan dengan model WebGIS ini dapat menarik minat para negara donatur untuk berinvestasi di area hutan Indonesia.
PEMBANGUNAN MODEL DISTRIBUSI POPULASI PENDUDUK PADA SISTEM GRID SKALA RAGAM (STUDI KASUS: WILAYAH BANDUNG)
Korelasi populasi penduduk terhadap fungsi lahan diperlukan untuk melihat distribusi populasi penduduk di suatu wilayah. Sedangkan dari data statistik jumlah populasi penduduk yang ada, populasi penduduk disajikan berdasarkan wilayah administrasi secara homogen. Sehingga diperlukan suatu model distribusi populasi penduduk secara spasial menurut data landuse/landcover yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Sistem grid skala ragam dapat digunakan untuk penyimpanan data distribusi populasi penduduk. Resolusi grid yang digunakan dalam penelitian ini adalah 5” x 5” (0.155 x 0.155 km) dengan wilayah penelitian berada di wilayah Bandung. Untuk membuat model distribusi populasi penduduk wilayah Bandung dilakukan penggabungan data-data yang diperlukan. yaitu data landuse/landcover, data batas administrasi wilayah, dan data statistik jumlah populasi penduduk per kecamatan wilayah Bandung. Untuk mendapatkan informasi distribusi populasi jumlah penduduk pada setiap sel grid telah dibuat pendekatan model matematis untuk memperoleh nilai densitas populasi tiap kelas lahan per kecamatan dengan memasukan parameter bobot kelas lahan. Dari nilai model matematis tersebut didapatkan nilai densitas populasi penduduk yang kemudian dapat divisualisasikan secara gradual dan spasial dalam bentuk peta sehingga mempermudah pengguna dalam memperoleh informasi distribusi populasi di wilayah Bandung.
PEMBANGUNAN SISTEM INFORMASI TUMBUHAN BERBASISKAN PADA LOKASI MENGGUNAKAN CONTENT MANAGEMENT SYSTEM (STUDI KASUS KOTA BANDUNG)
Salah satu misi Herbarium Bandungense adalah memberikan informasi kepada masyarakat tentang keanekaragaman hayati melalui media elektronik jaring internet. Untuk mewujutkan misi tersebut, Herbarium Bandungense telah membangun basis data mengenai tumbuhan yang ada di Jawa Barat, bahkan basis data tersebut telah diaplikasikan kedalam website, yang sanggup memberikan layanan tentang informasi tumbuhan kepada masyarakat pengguna internet. Namun, basis data yang dimiliki masih bersifat non-spasial sehingga informasi yang disajikan hanya sebatas atribut (tekstual), tanpa mampu menyampaikan informasi terkait spasial (keruangan). Dengan informasi spasial, lokasi persebaran dan distribusi tumbuhan serta akses rute untuk mendapatkan sampel tumbuhan tersebut dapat diketahui secara mudah dan cepat. Untuk memecahkan permasalahan tersebut, dibangunlah suatu Sistem Informasi Tumbuhan (SIT) berbasiskan pada lokasi menggunakan Content management System (CMS). Dengan menggunakan CMS, SIT berbasiskan pada lokasi tersebut dapat dibangun dengan mudah, cepat, dan user friendly. Namun, tetap dapat mengakomodasi kebutuhan Herbarium Bandungense tersebut.
PENYERAGAMAN SIMBOLISASI GRAFIS PETA MULTIGUNA SKALA 1 : 1000
Realitas yang ada saat ini, setiap instansi memiliki simbol grafis yang berbeda-beda sehingga instansi yang satu tidak bisa menggunakan simbol grafis instansi yang lain karena adanya perbedaan simbol ini. Oleh karena itu, dibutuhkan penyeragaman simbolisasi grafis yang dapat digunakan oleh berbagai pihak untuk berbagai keperluan. Metode yang dilakukan pada penelitian tugas akhir ini adalah studi dan perbandingan simbol dari beberapa instansi dan referensi untuk menghasilkan simbol yang seragam serta melakukan transformasi peta untuk menghasilkan peta multiguna. Hasil dari penelitian tugas akhir ini yaitu simbol/data grafis yang seragam dan peta multiguna kelurahan Sarijadi skala 1 : 1000.
DATUM HIDROGRAFI LEPAS PANTAI: PEMBUATAN MODEL SEPARASI HIDROGRAFI DI SEKITAR DELTA MAHAKAM, KALIMANTAN TIMUR
The Mahakam Delta in East Kalimantan is crucial for oil and gas exploration in Indonesia. However, the reliance on a single chart datum (CD) at Handil for sea level measurements has led to operational disruptions due to the uncertain sea level values. To address these issues, developing a robust system to better define sea level values is essential. One effective solution is to build a hydrographic separation model. The offshore hydrographic separation model is essential for accurately describing and transforming the positions of tidal datums relative to an ellipsoid. This model is particularly useful for converting the position of Mean Sea Level (MSL) to Lowest Astronomical Tide (LAT). In this project, the goal is to create such a model for the area extending from the Mahakam Delta to Peciko-Bekapai, leveraging Global Mean Sea Surface (MSS) models and tidal models. The hydrographic separation model was developed to address the challenges of sea level uncertainty in the Mahakam Delta, crucial for oil and gas exploration and maritime operations. The project utilized the CNES CLS2022 MSS model for Mean Sea Surface (MSS) and the TPXO9v5a tidal model for Lowest Astronomical Tide (LAT) due to their minimal absolute mean error values. The model was implemented as a WebGIS application to enhance accessibility and usability. The implementation of hydrographic separation model as a website application has facilitated real-time, accurate sea level predictions, greatly enhancing shipping operations and safety. The product analysis yielded results indicating an 111.94% increase in the frequency of ship shipping operation windows around the Mahakam area.
PEMANFAATAN WEBGIS SEBAGAI MEDIA VISUALISASI MITIGASI BENCANA ERUPSI GUNUNG SEMERU DENGAN JALUR ALTERNATIF EVAKUASI DAN SIMULASI PERGERAKAN PENDUDUK (STUDI KASUS: DESA SUPITURANG, KECAMATAN PRONOJIWO, KABUPATEN LUMAJANG)
Gunung Semeru, sebagai gunung berapi aktif tertinggi di Pulau Jawa, memiliki potensi erupsi yang dapat membahayakan keselamatan penduduk di sekitarnya. Salah satu desa yang paling terdampak adalah Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang. Pengembangan sistem informasi berbasis web untuk jalur evakuasi sangat penting untuk meminimalkan risiko dan memfasilitasi proses evakuasi yang lebih terorganisir. Tujuan dari proyek ini adalah untuk merancang dan mengimplementasikan sebuah WebGIS yang memberikan informasi jalur evakuasi efektif dan simulasi pergerakan penduduk bagi masyarakat Desa Supiturang. Metodologi yang digunakan dalam proyek ini mencakup pengumpulan data primer melalui survei dan wawancara dengan pihak terkait seperti Pemerintah Desa Supiturang, serta akuisisi data lain dari laman resmi lembaga. Desain website dibuat sesuai dengan spesifikasi pedoman Badan Standar Nasional untuk memastikan kenyamanan dan kemudahan penggunaan bagi pengguna. Pengembangan website dilakukan menggunakan teknologi HTML dengan format data geografis GeoJSON sesuai dengan standar internasional. Hasil dari proyek ini adalah sebuah website yang informatif dan interaktif yang dapat diakses publik melalui berbagai perangkat. WebGIS menyediakan peta jalur evakuasi lengkap dengan informasi navigasi menuju titik evakuasi utama, serta simulasi pergerakan penduduk yang menampilkan skenario mitigasi bencana yang efektif dan efisien berdasarkan keadaan yang sebenarnya. Uji coba sistem dilakukan dengan metode pengujian kegunaan, dengan masyarakat Desa Supiturang mencoba langsung produk, menilai, serta memberikan umpan balik sebagai acuan pengembangan produk. Diharapkan produk WebGIS dengan menu utama peta digital jalur evakuasi dan simulasi pergerakan penduduk saat melakukan evakuasi ini mampu menjadi alat bantu yang efektif dalam upaya mitigasi bencana dan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.
OFFSHORE HYDROGRAPHIC DATUM: ESTABLISHMENT OF HYDROGRAPHIC SEPARATION MODEL AROUND MAHAKAM DELTA, IN EAST KALIMANTAN
The Mahakam Delta in East Kalimantan is crucial for oil and gas exploration in Indonesia. However, the reliance on a single chart datum (CD) at Handil for sea level measurements has led to operational disruptions due to the uncertain sea level values. To address these issues, developing a robust system to better define sea level values is essential. One effective solution is to build a hydrographic separation model. The offshore hydrographic separation model is essential for accurately describing and transforming the positions of tidal datums relative to an ellipsoid. This model is particularly useful for converting the position of Mean Sea Level (MSL) to Lowest Astronomical Tide (LAT). In this project, the goal is to create such a model for the area extending from the Mahakam Delta to Peciko-Bekapai, leveraging Global Mean Sea Surface (MSS) models and tidal models. The hydrographic separation model was developed to address the challenges of sea level uncertainty in the Mahakam Delta, crucial for oil and gas exploration and maritime operations. The project utilized the CNES CLS2022 MSS model for Mean Sea Surface (MSS) and the TPXO9v5a tidal model for Lowest Astronomical Tide (LAT) due to their minimal absolute mean error values. The model was implemented as a WebGIS application to enhance accessibility and usability. The implementation of hydrographic separation model as a website application has facilitated real-time, accurate sea level predictions, greatly enhancing shipping operations and safety. The product analysis yielded results indicating an 111.94% increase in the frequency of ship shipping operation windows around the Mahakam area.
PEMANFAATAN WEBGIS SEBAGAI MEDIA VISUALISASI MITIGASI BENCANA ERUPSI GUNUNG SEMERU DENGAN JALUR ALTERNATIF EVAKUASI DAN SIMULASI PERGERAKAN PENDUDUK (STUDI KASUS: DESA SUPITURANG, KECAMATAN PRONOJIWO, KABUPATEN LUMAJANG)
Gunung Semeru, sebagai gunung berapi aktif tertinggi di Pulau Jawa, memiliki potensi erupsi yang dapat membahayakan keselamatan penduduk di sekitarnya. Salah satu desa yang paling terdampak adalah Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang. Pengembangan sistem informasi berbasis web untuk jalur evakuasi sangat penting untuk meminimalkan risiko dan memfasilitasi proses evakuasi yang lebih terorganisir. Tujuan dari proyek ini adalah untuk merancang dan mengimplementasikan sebuah WebGIS yang memberikan informasi jalur evakuasi efektif dan simulasi pergerakan penduduk bagi masyarakat Desa Supiturang. Metodologi yang digunakan dalam proyek ini mencakup pengumpulan data primer melalui survei dan wawancara dengan pihak terkait seperti Pemerintah Desa Supiturang, serta akuisisi data lain dari laman resmi lembaga. Desain website dibuat sesuai dengan spesifikasi pedoman Badan Standar Nasional untuk memastikan kenyamanan dan kemudahan penggunaan bagi pengguna. Pengembangan website dilakukan menggunakan teknologi HTML dengan format data geografis GeoJSON sesuai dengan standar internasional. Hasil dari proyek ini adalah sebuah website yang informatif dan interaktif yang dapat diakses publik melalui berbagai perangkat. WebGIS menyediakan peta jalur evakuasi lengkap dengan informasi navigasi menuju titik evakuasi utama, serta simulasi pergerakan penduduk yang menampilkan skenario mitigasi bencana yang efektif dan efisien berdasarkan keadaan yang sebenarnya. Uji coba sistem dilakukan dengan metode pengujian kegunaan, dengan masyarakat Desa Supiturang mencoba langsung produk, menilai, serta memberikan umpan balik sebagai acuan pengembangan produk. Diharapkan produk WebGIS dengan menu utama peta digital jalur evakuasi dan simulasi pergerakan penduduk saat melakukan evakuasi ini mampu menjadi alat bantu yang efektif dalam upaya mitigasi bencana dan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.
PEMANFAATAN WEBGIS SEBAGAI MEDIA VISUALISASI MITIGASI BENCANA ERUPSI GUNUNG SEMERU DENGAN JALUR ALTERNATIF EVAKUASI DAN SIMULASI PERGERAKAN PENDUDUK (STUDI KASUS: DESA SUPITURANG, KECAMATAN PRONOJIWO, KABUPATEN LUMAJANG)
Gunung Semeru, sebagai gunung berapi aktif tertinggi di Pulau Jawa, memiliki potensi erupsi yang dapat membahayakan keselamatan penduduk di sekitarnya. Salah satu desa yang paling terdampak adalah Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang. Pengembangan sistem informasi berbasis web untuk jalur evakuasi sangat penting untuk meminimalkan risiko dan memfasilitasi proses evakuasi yang lebih terorganisir. Tujuan dari proyek ini adalah untuk merancang dan mengimplementasikan sebuah WebGIS yang memberikan informasi jalur evakuasi efektif dan simulasi pergerakan penduduk bagi masyarakat Desa Supiturang. Metodologi yang digunakan dalam proyek ini mencakup pengumpulan data primer melalui survei dan wawancara dengan pihak terkait seperti Pemerintah Desa Supiturang, serta akuisisi data lain dari laman resmi lembaga. Desain website dibuat sesuai dengan spesifikasi pedoman Badan Standar Nasional untuk memastikan kenyamanan dan kemudahan penggunaan bagi pengguna. Pengembangan website dilakukan menggunakan teknologi HTML dengan format data geografis GeoJSON sesuai dengan standar internasional. Hasil dari proyek ini adalah sebuah website yang informatif dan interaktif yang dapat diakses publik melalui berbagai perangkat. WebGIS menyediakan peta jalur evakuasi lengkap dengan informasi navigasi menuju titik evakuasi utama, serta simulasi pergerakan penduduk yang menampilkan skenario mitigasi bencana yang efektif dan efisien berdasarkan keadaan yang sebenarnya. Uji coba sistem dilakukan dengan metode pengujian kegunaan, dengan masyarakat Desa Supiturang mencoba langsung produk, menilai, serta memberikan umpan balik sebagai acuan pengembangan produk. Diharapkan produk WebGIS dengan menu utama peta digital jalur evakuasi dan simulasi pergerakan penduduk saat melakukan evakuasi ini mampu menjadi alat bantu yang efektif dalam upaya mitigasi bencana dan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.