📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 12 dokumen

DINAMIKA PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN DI SEKITAR STASIUN TEGALLUAR DAN PADALARANG DALAM KONTEKS PEMBANGUNAN KERETA CEPAT JAKARTA BANDUNG (KCJB)

Pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) menghadirkan intervensi fisik dan keruangan pada kawasan Stasiun Tegalluar dan Padalarang yang berada dalam sistem Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung dan telah menghadapi tekanan urbanisasi sejak sebelum KCJB dibangun, sehingga perubahan tutupan lahan di sekitarnya tidak dapat langsung dinyatakan sebagai akibat tunggal KCJB, penelitian ini menganalisis dinamika perubahan tutupan lahan di kedua kawasan pada tahun 2015, 2020, dan 2025, faktor spasial yang memengaruhi peluang perubahannya, serta kesesuaian kondisi tutupan lahan eskisting terhadap arahan RTRW yang berlaku, menggunakan klasifikasi Random Forest melalui Google Earth Engine, regresi logistik biner untuk faktor pendorong, dan overlay tutupan lahan terhadap peta pola ruang RTRW untuk kesesuaian ruang. Hasil menunjukkan bahwa Tegalluar, yang pada 2015 masih didominasi sawah (80,95%) dan kehilangan 404,92 hektare sawah hingga 2025 disertai pertambahan tanah terbuka yang signifikan (260,44 hektare), sedangkan Padalarang, yang sejak 2015 telah lebih berkembang (50,69% sawah, 26,34% terbangun), mengalami pertambahan lahan terbangun (122,83 hektare) yang hampir sebanding dengan penurunan sawahnya (119,30 hektare), jarak terhadap lahan terbangun eksisting dan arahan RTRW konsisten signifikan memengaruhi peluang perubahan pada kedua kawasan sementara jarak terhadap stasiun dan jalur KCJB tidak signifikan pada keduanya, dengan pusat pelayanan menjadi faktor khusus di Tegalluar dan kemiringan lereng di Padalarang, serta Tegalluar memiliki proporsi arahan RTRW belum terealisasi jauh lebih besar (70,63%) dibandingkan Padalarang (51,81%) dan Padalarang memiliki keselarasan lebih tinggi (41,25%). Hal ini menunjukkan bahwa kedekatan terhadap KCJB bukan faktor spasial yang signifikan secara langsung terhadap perubahan tutupan lahan di kedua kawasan.

2026
👤 Penulis: Dhifa Salsabila Ramadina
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Geografi Ekonomi

KAJIAN PENETAPAN NJOP PBB-P2 UNTUK KOTA BANDUNG

Dengan diberlakukannya Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (UU PDRD), PBB Pedesaan dan Perkotaan (disingkat PBB-P2) diserahkan pengelolan pemungutannya kepada Kabupaten/Kota untuk menjadi Pajak Daerah. Dasar pengenaan PBB-P2 adalah Nilai Jual Objek Pajak atau biasa disingkat NJOP. Seiring dengan beralihnya kewenangan pemungutan PBB-P2, dipandang perlu dilakukan kajian terhadap NJOP di Kota Bandung. Oleh sebab itu, penelitian ini dilakukan untuk mengakomodir hal-hal tersebut sebagai langkah lanjutan Pemerintah Kota Bandung dalam mempersiapkan pemungutan PBB-P2 di awal tahun 2014. Literatur penelitian ini bersumber dari sejumlah tulisan ilmiah, serta peraturan perundang-undangan. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah citra Quickbird wilayah kota Bandung, Peta Rencana Pola Ruang Kota Bandung 2011-2031, Peta Tata Guna Lahan Eksisting Tahun 2011, dan Peta Analisa Kelas Tanah tiap kelurahan. Adapun 5 kelurahan yang diteliti pada penelitian ini adalah Kelurahan Citarum, Kelurahan Pasir Jati, Kelurahan Hegarmanah, Kelurahan Pasirluyu dan Kelurahan Cisaranteun Kidul. Pengolahan serta pengidentifikasian tentang data yang berkaitan dengan penentuan NJOP PBB-P2 dilakukan dengan menggunakan software Arcmap 10 dengan hasil berupa overlay antara peta tata ruang dengan peta analisa kelas tanah. Dan, berdasarkan Tabel Kenaikan NJOP dari tahun 2000 hingga tahun 2007, dilakukan perhitungan proyeksi NJOP dengan menggunakan prinsip perhitungan regresi linear sederhana. Berdasarkan hasil analisis prediksi kenaikan NJOP tahun 2000, 2004 dan 2007 kenaikan nilai NJOP di lima kelurahan yaitu Kelurahan Citarum (61%), Kelurahan Pasir Jati (70%), Kelurahan Hegarmanah (64%), Kelurahan Pasirluyu (75%) dan Kelurahan Cisaranteun Kidul (72%). Nilai rata-rata kenaikan terhadap kelima kelurahan adalah 68%.

2026
👤 Penulis: ANGGIAT M.H. SIAHAAN (NIM : 15107041); Pembimbing : Dr. Andri Hernandi, ST, MT. & Dr. Ir. Bamban
🏷️ Pengelolaan Pajak Daerah 🏷️ Analisis Kecerdasan Buatan 🏷️ Geografi Ekonomi

DINAMIKA PERSEPSI HARGA LAHAN DI SEKITAR RUMAH PENSIUN PRESIDEN DI KAWASAN PINGGIRAN KOTA SURAKARTA

Pembangunan rumah pensiun presiden di Desa Blulukan, kawasan pinggiran Kota Surakarta, mencerminkan sebuah paradoks: proyek berskala fisik kecil, namun berdampak besar terhadap dinamika harga lahan. Penelitian ini bertujuan memahami bagaimana persepsi masyarakat dan pelaku pasar merespons kehadiran RPP, serta sejauh mana pengaruh spasial dan simboliknya membentuk nilai lahan secara sosial dan ekonomi. Dengan pendekatan mixed-methods, studi ini menggabungkan analisis kuantitatif, meliputi Ordinary Kriging, Hedonic Pricing Model, dan Difference-in-Differences berbasis Buffer Zone Filtering, dengan eksplorasi kualitatif melalui wawancara mendalam dengan para pemangku kepentingan. Hasil menunjukkan bahwa baik model HPM maupun DiD secara konsisten mengindikasikan kontribusi signifikan kedekatan spasial terhadap peningkatan harga lahan. Berdasarkan analisis HPM mengonfirmasi bahwa atribut spasial seperti jarak ke RPP menjadi prediktor signifikan dalam pembentukan harga lahan, temuan ini didukung dengan analisis DiD yang menunjukkan bahwa kedekatan spasial terhadap rumah pensiun presiden berkontribusi signifikan terhadap kenaikan harga lahan, dengan rata-rata peningkatan sebesar Rp 5,78 juta/m² dari tahun 2023 ke 2025 dalam radius 462,78 meter dari lokasi proyek. Faktor aksesibilitas, ekspektasi pembangunan, dan lokasi strategis menjadi pendorong utama. Lebih dari itu, rumah pensiun presiden berfungsi sebagai katalisator yang mempercepat dinamika pasar, terutama melalui daya simbolik figur mantan presiden. Celebrity effect, magical contagion, dan symbolic capital membentuk persepsi kolektif bahwa kawasan ini memiliki prospek nilai yang meningkat, bahkan sebelum pemanfaatan aktual berlangsung. Penelitian ini menyimpulkan bahwa harga lahan di kawasan pinggiran tidak semata-mata ditentukan oleh atribut fisik dan ekonomi, tetapi juga oleh konstruksi sosial dan kekuatan simbolik. Meski demikian, penelitian ini memiliki keterbatasan pada jumlah sampel perlakuan, potensi omitted variable bias, serta keterbatasan data historis. Oleh karena itu, hasil ini sebaiknya dipandang sebagai indikasi kuat namun belum final, yang perlu dikembangkan dengan cakupan data lebih luas dan metode kualitatif yang lebih dalam.

2025
👤 Penulis: Umi Barokah
🏷️ Geografi Ekonomi 🏷️ Analisis Harga Lahan 🏷️ Simbolisme Politik

PEMETAAN KORELASI PEMENUHAN KEBUTUHAN AIR BAKU DENGAN PENURUNAN MUKA TANAH DI PULAU JAWA

Capstone Design Project ini bertujuan untuk memetakan korelasi antara pemenuhan kebutuhan air baku dengan fenomena penurunan muka tanah (PMT) di tiga kota besar di Pulau Jawa, yaitu Jakarta, Bandung, dan Semarang. Empat peta tematik disusun, terdiri dari tiga peta tematik pendukung berupa peta pencemaran air permukaan dan air tanah dangkal, peta penurunan muka air tanah (PMAT), peta PMT, serta produk utama berupa peta korelasi. Data dari setiap peta tematik pendukung dinormalisasi dan dianalisis dengan metode Multi Criteria Decision Analysis (MCDA). Proses klasifikasi dilakukan menggunakan metode quantile dan equal interval, disesuaikan pada karakteristik distribusi data setiap parameter. Hasil menunjukkan bahwa Jakarta memiliki korelasi positif yang sangat kuat antara ketiga parameter, dengan 52% kelurahan berada dalam kondisi kritis. Di Bandung, korelasi positif cukup terlihat di beberapa wilayah, dengan 3% kecamatan tergolong kritis. Sementara itu, Semarang didominasi oleh zona korelasi positif yang lemah, meskipun terdapat sekitar 7% kelurahan yang termasuk dalam kategori kritis. Perbedaan tingkat korelasi antarwilayah ini mencerminkan variasi dalam tekanan terhadap sumber daya air serta efektivitas infrastruktur penyediaan air baku di setiap kota. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya pendekatan spasial guna merumuskan strategi pengelolaan air yang berkelanjutan di kawasan perkotaan.

2025
👤 Penulis: Faizzurrahman Nilza
🏷️ Geografi Ekonomi 🏷️ Analisis Keputusan Multi Indikator (Mcda) 🏷️ Hidrologi

PEMETAAN KORELASI PEMENUHAN KEBUTUHAN AIR BAKU DENGAN LAND SUBSIDENCE DI PULAU JAWA

Capstone Design Project ini bertujuan untuk memetakan korelasi antara pemenuhan kebutuhan air baku dengan fenomena penurunan muka tanah (PMT) di tiga kota besar di Pulau Jawa, yaitu Jakarta, Bandung, dan Semarang. Empat peta tematik disusun, terdiri dari tiga peta tematik pendukung berupa peta pencemaran air permukaan dan air tanah dangkal, peta penurunan muka air tanah (PMAT), peta PMT, serta produk utama berupa peta korelasi. Data dari setiap peta tematik pendukung dinormalisasi dan dianalisis dengan metode Multi Criteria Decision Analysis (MCDA). Proses klasifikasi dilakukan menggunakan metode quantile dan equal interval, disesuaikan pada karakteristik distribusi data setiap parameter. Hasil menunjukkan bahwa Jakarta memiliki korelasi positif yang sangat kuat antara ketiga parameter, dengan 52% kelurahan berada dalam kondisi kritis. Di Bandung, korelasi positif cukup terlihat di beberapa wilayah, dengan 3% kecamatan tergolong kritis. Sementara itu, Semarang didominasi oleh zona korelasi positif yang lemah, meskipun terdapat sekitar 7% kelurahan yang termasuk dalam kategori kritis. Perbedaan tingkat korelasi antarwilayah ini mencerminkan variasi dalam tekanan terhadap sumber daya air serta efektivitas infrastruktur penyediaan air baku di setiap kota. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya pendekatan spasial guna merumuskan strategi pengelolaan air yang berkelanjutan di kawasan perkotaan

2025
👤 Penulis: Kenny Sanjaya
🏷️ Geografi Ekonomi 🏷️ Analisis Keputusan Multi Indikator (Akki) 🏷️ Hidrologi

PEMETAAN KORELASI PEMENUHAN KEBUTUHAN AIR BAKU DENGAN PENURUNAN MUKA TANAH DI PULAU JAWA

Capstone Design Project ini bertujuan untuk memetakan korelasi antara pemenuhan kebutuhan air baku dengan fenomena penurunan muka tanah (PMT) di tiga kota besar di Pulau Jawa, yaitu Jakarta, Bandung, dan Semarang. Empat peta tematik disusun, terdiri dari tiga peta tematik pendukung berupa peta pencemaran air permukaan dan air tanah dangkal, peta penurunan muka air tanah (PMAT), peta PMT, serta produk utama berupa peta korelasi. Data dari setiap peta tematik pendukung dinormalisasi dan dianalisis dengan metode Multi Criteria Decision Analysis (MCDA). Proses klasifikasi dilakukan menggunakan metode quantile dan equal interval, disesuaikan pada karakteristik distribusi data setiap parameter. Hasil menunjukkan bahwa Jakarta memiliki korelasi positif yang sangat kuat antara ketiga parameter, dengan 52% kelurahan berada dalam kondisi kritis. Di Bandung, korelasi positif cukup terlihat di beberapa wilayah, dengan 3% kecamatan tergolong kritis. Sementara itu, Semarang didominasi oleh zona korelasi positif yang lemah, meskipun terdapat sekitar 7% kelurahan yang termasuk dalam kategori kritis. Perbedaan tingkat korelasi antarwilayah ini mencerminkan variasi dalam tekanan terhadap sumber daya air serta efektivitas infrastruktur penyediaan air baku di setiap kota. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya pendekatan spasial guna merumuskan strategi pengelolaan air yang berkelanjutan di kawasan perkotaan.

2025
👤 Penulis: Prima Dhea Carrisa
🏷️ Geografi Ekonomi 🏷️ Analisis Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Sumber Daya Air

PEMETAAN HARGA LAHAN DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HARGA LAHAN DI KAWASAN PERKOTAAN YOGYAKARTA DAN KAWASAN PERI-URBAN YOGYAKARTA

Kenaikan harga lahan yang signifikan di kawasan perkotaan dan peri-urban Yogyakarta telah menjadi isu penting dalam perencanaan wilayah. Kota Yogyakarta dikenal sebagai kota pendidikan dan pariwisata, yang menyebabkan tingginya permintaan lahan, terutama di sekitar pusat kota dan kampus-kampus utama. Selain itu, pembangunan infrastruktur, seperti Bandara Internasional Yogyakarta di Kulon Progo, turut mendorong lonjakan harga lahan di wilayah sekitarnya. Fenomena ini menimbulkan tantangan bagi pemerintah dalam mengendalikan spekulasi lahan dan memastikan ketersediaan lahan yang berkelanjutan bagi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola harga lahan serta faktor-faktor yang mempengaruhinya di Kawasan Perkotaan dan Peri-Urban Yogyakarta. Metode yang digunakan adalah kriging yang bertujuan untuk melihat pola harga lahan serta regresi linier berganda dengan 16 variabel bebas yang bertujuan untuk mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi harga lahan. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dengan pengumpulan data melalui KJPP, scrapping, GIS. Harga lahan yang digunakan adalah harga kemungkinan transaksi per meter persegi tahun 2024. Hasil analisis menunjukkan bahwa pola harga lahan tertinggi terdapat di lokasi dengan aksesibilitas tinggi dan pusat kegiatan utama, seperti Kecamatan Gondokusuman di Kota Yogyakarta, Kecamatan Depok di Kabupaten Sleman, Kecamatan Temon di Kabupaten Kulon Progo, serta Kecamatan Banguntapan di Kabupaten Bantul. Variabel yang berpengaruh signifikan terhadap harga lahan mencakup jarak ke CBD, jarak ke stasiun kereta api, jarak ke bandara, jarak ke fasilitas pendidikan, jarak ke sarana perdagangan jasa, jarak ke cagar budaya, jarak ke perguruan tinggi, jarak ke jalan utama, lebar jalan di depan lahan, dilalui kendaraan umum, rencana pola ruang, luas lahan, dan rawan banjir. Hasil penelitian ini menggarisbawahi pentingnya kebijakan tata ruang dan pengelolaan aksesibilitas dalam menentukan nilai lahan. Rekomendasi yang dapat diberikan berdasarkan penelitian ini bahwa pemerintah perlu mengontrol harga lahan yang sangat tinggi terutama di kawasan perkotaan dengan membuat berbagai macam kebijakan agar masyarakat menengah ke bawah dapat memiliki lahan dan rumah untuk tempat tinggal.

2025
👤 Penulis: Titan Kesuma Endasmoro
🏷️ Geografi Ekonomi 🏷️ Analisis Harga Lahan 🏷️ Pemanfaatan Gis Dalam Penelitian

KETERKAITAN PENURUNAN KEGIATAN KOMERSIAL DI KAWASAN PUSAT KOTA BANDUNG DENGAN POLA SPASIAL HARGA LAHAN

Pergeseran pusat kegiatan perkotaan ke kawasan lain menyebabkan Kawasan Pusat Kota Bandung mengalami penurunan kegiatan komersial. Kawasan ini menunjukkan sisi lain sebagai kawasan pusat kota lama yang secara bisnis sudah menurun, ditinggalkan dan tidak menjadi pilihan untuk membuka usaha baru. Sementara faktor lokasi strategis membuat kawasan ini memiliki harga lahan tinggi. Dengan mengadopsi teori kesenjangan sewa dimana terdapat perbedaan antara nilai aktual dan nilai potensial, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterkaitan antara penurunan kegiatan komersial di kawasan pusat Kota Bandung dengan pola spasial harga lahan. Sasaran dalam penelitian ini yaitu terumuskannya faktor-faktor yang memengaruhi penurunan kegiatan komersial di Kawasan Pusat Kota Bandung, teridentifikasinya pola spasial harga lahan dan terdeskripsikannya keterkaitan antara penurunan kegiatan komersial dengan pola spasial harga lahan. Pendekatan campuran dalam penelitian ini digunakan untuk menggambarkan variabel yang dianggap mengindikasikan penurunan kegiatan komersial secara angka maupun spasial, kemudian menggunakan analisis deskriptif untuk menjelaskan keterkaitannya dengan pola spasial harga lahan. Penurunan kegiatan komersial di Kawasan Pusat Kota Bandung disebabkan oleh harga sewa yang tinggi, jumlah penduduk residensial yang menurun, investasi yang kurang optimal dan pemanfaatan lahan yang kurang intensif sebagai perdagangan dan jasa. Teori kesenjangan sewa menjelaskan meskipun Kawasan Pusat Kota Bandung mengalami penurunan kegiatan komersial, harga lahannya tetap tinggi karena potensi jangka panjang dan nilai strategisnya yang masih tetap menarik.

2024
👤 Penulis: Dwi Rosida
🏷️ Geografi Ekonomi 🏷️ Hidrologi Bisnis 🏷️ Analisis Kesenjangan Sewa

IDENTIFIKASI DAERAH TANGKAPAN BANDAR UDARA INTERNASIONAL JAWA BARAT TERHADAP POTENSI TERJADINYA AIRPORT LEAKAGE

Perkembangan transportasi udara perlu didukung dengan adanya bandar udara yang memadai. Bandar Udara Internasional Jawa Barat mengalami perubahan menjadi bandar udara utama di Jawa Barat pasca pemindahan operasional. Bandar udara akan membentuk daerah tangkapan yang didukung dengan keandalan aksesibilitas, terutama apabila berada di luar pusat kota. Mengingat bahwa jangkauan pelayanan antar bandar udara rentan terhadap adanya tumpang tindih sehingga memicu terjadinya airport leakage, dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi persebaran daerah tangkapan Bandar Udara Internasional Jawa Barat terhadap potensi terjadinya airport leakage. Penelitian ini membandingkan persebaran daerah tangkapan berdasarkan rencana pengembangan, survei penumpang, dan hasil parked vehicle analysis. Daerah tangkapan yang diidentifikasi digunakan untuk melihat hubungan antara jarak tempuh perjalanan dengan jumlah kendaraan yang masuk ke Bandar Udara Internasional Jawa Barat dengan menggunakan analisis regresi eksponensial. Variabel dengan nilai signifikansi yang lebih besar dijadikan sebagai dasar dalam meninjau daerah jangkauan pelayanan dengan network analyst berdasarkan standar yang didapatkan dari hasil tinjauan literatur. Hasil daerah jangkauan pelayanan tersebut dapat menjadi tinjauan dalam mengidentifikasi potensi airport leakage. Penelitian menunjukkan bahwa Bandar Udara Internasional Jawa Barat memiliki daerah tangkapan dari Kab. Karawang hingga ke Kab. Tegal dengan potensi perluasan hingga ke Kawasan Metropolitan Jabodetabek dan Jawa Tengah. Jarak relatif menjadi faktor yang berpengaruh terhadap minat penggunaan bandar udara. Dengan jarak relatif yang optimal, daerah jangkauan pelayanan dapat menjangkau hampir seluruh daerah tangkapan. Akan tetapi, terdapat potensi airport leakage karena adanya tumpang tindih dengan bandar udara lain yang dapat berdampak pada persentase pasar. Adanya penelitian ini dapat menjadi tinjauan awal untuk dilakukan studi lanjutan terkait optimalisasi daerah tangkapan bandar udara dengan melibatkan aspek lain yang berpotensi menjadi pemicu terjadi airport leakage.

2024
👤 Penulis: Aga Sri Dharmestha
🏷️ Geografi Ekonomi 🏷️ Analisis Regresi Eksponensial 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

IDENTIFIKASI PENGARUH KEBERADAAN STASIUN KERETA CEPAT PADALARANG TERHADAP HARGA LAHAN DI SEKITARNYA

Stasiun Kereta Cepat Jakarta Bandung merupakan salah satu proyek strategis nasional yang bertujuan meningkatkan konektivitas dan mobilitas serta mendorong pengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi disekitarnya. Harga lahan menjadi salah satu aspek yang umumnya terdampak dari pembangunan infrastruktur ialah perubahan harga lahan. Saat ini belum terdapatnya penelitian terdahulu yang membahas tentang pengaruh stasiun Kereta Cepat Padalarang terhadap harga lahan disekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh tersebut pada harga lahan disekitar stasiun. Penentuan variabel penelitian menggunakan Content Analysis berdasarkan kumpulan variabel-variabel studi terdahulu yang membahas dampak stasiun terhadap perubahan harga lahan dengan metode Hedonic Pricing Model. Analisis faktor dan analisis regresi dengan Ordinary Least Square dilakukan untuk menilai signifikansi pengaruh faktor-faktor terhadap harga lahan. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa keberadaan Stasiun Kereta Cepat Padalarang belum memberikan pengaru terhadap harga lahan disekitarnya. Harga lahan disekitar stasiun dipengaruhi oleh faktor atribut lingkungan, faktor atribut transportasi, faktor atribut intrinsik, dan faktor atribut disekitar persil lahan. Faktor atribut lingkungan terdiri atas KDB, KLB, dan Zonasi. Faktor atribut transportasi terdiri atas jarak lahan ke CBD, jarak lahan ke fasilitas pendidikan, dan jarak lahan ke fasilitas kesehatan. Faktor atribut intrinsik lahan terdiri atas luas dan bentuk lahan. Faktor atribut disekitar persil lahan terdiri atas lebar jalan dan kondisi wilayah. Berdasarkan studi terdahulu, belum terdapatnya pengaruh keberadaan Stasiun Kereta Cepat terhadap kenaikan lahan mungkin disebabkan oleh beberapa faktor mulai dari masa operasional yang masih kurang dari satu tahun atau diakibatkan mobilitas masyarakat pengguna kereta cepat masih rendah.

2024
👤 Penulis: Chrisantya Putri Saragih
🏷️ Geografi Ekonomi 🏷️ Analisis Hedonic Pricing Model 🏷️ Manajemen Lahan

IDENTIFIKASI PERUBAHAN HARGA LAHAN AKIBAT PEMBANGUNAN MASJID AL-JABBAR DENGAN HEDONIC PRICING METHOD DI KECAMATAN GEDEBAGE

Penelitian ini menganalisis dampak pembangunan Masjid Al Jabbar terhadap kenaikan harga lahan di sekitarnya menggunakan metode Hedonic Price Method dan menganalisis variabel yang relevan, termasuk karakteristik lahan dan menggunakan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) dalam menilai keterkaitan nilai lahan dengan pembangunan Masjid Al-Jabbar yang ada di Kecamatan Gedebage. Melalui penelitian ini, bertujuan untuk memahami bahwa pembangunan masjid memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kenaikan harga lahan, dengan variabel yang ditentukan dari studi literatur yang dilakukan penulis. Variabel yang diteliti berperan sebagai faktor penting dalam mempengaruhi harga lahan yang dihitung dengan metode regresi untuk mengetahui keterkaitannya dengan nilai dan harga lahan. Penelitian akan mencoba memperlihatkan adanya peningkatan harga lahan yang lebih signifikan di wilayah yang berdekatan secara geografis dengan Masjid Al Jabbar, yang dapat memberikan wawasan penting bagi perencanaan wilayah kota dalam mengelola pertumbuhan kota secara berkelanjutan dengan mempertimbangkan infrastruktur keagamaan sebagai elemen yang signifikan dalam penentuan harga lahan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bermanfaat bagi pengambil keputusan dan praktisi perencanaan wilayah kota.

2024
👤 Penulis: Naufal Zainul Arifin
🏷️ Geografi Ekonomi 🏷️ Analisis Harga Lahan 🏷️ Metode Hedonic Price

ANALISIS SPASIAL PENGARUH CENTRAL BUSINESS DISTRICT (CBD) TERHADAP ZONA NILAI TANAH (ZNT) BERBASISKAN SISTEM GRID (STUDI KASUS : KECAMATAN ANDIR, KOTA BANDUNG, PROVINSI JAWA BARAT)

Tanah sebagai media tempat tinggal memiliki peranan penting dalam mendukung keberlangsungan hidup manusia. Keberlangsungan ini meliputi aktivitas seluruh manusia termasuk aktivitas ekonomi. Kebutuhan akan tanah ini menyebabkan tanah memiliki nilai. Salah satu faktor yang mempengaruhi nilai tanah ialah lokasi tanah tersebut terhadap pusat perekonomian atau Central Business District. Pengaruh adanya keberadaan Central Business District dalam suatu wilayah tentu mempengaruhi nilai tanah yang berada disekitar Central Business District tersebut. Sehingga penelitian ini ditujukan untuk melihat pengaruh Central Business District terhadap Zona Nilai Tanah. Pengaruh antara keduanya dihitung dengan metode interaksi ruang (gaya tarik-menarik). Wilayah yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kecamatan Andir, Kota Bandung, provinsi Jawa Barat dengan Nilai Indikasi Rata-rata dari Zona Nilai Tanah Kecamatan Andir dan Nilai Indikasi Rata-rata dari Central Business District. Central Business District yang dipilih ialah Bandung Trade Center, Bandung Electronic Center dan Festival Citylink. Zona Nilai Tanah dan Central Business District akan dimodelkan dengan sistem grid. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Central Business District Bandung Electronic Center memberikan pengaruh yang besar terhadap yang ada pada Zona Nilai Tanah Kecamatan Andir yang ditunjukkan dari resultan gayanya. Hal ini disebabkan oleh jarak Bandung Electronic Center yang relatif kecil terhadap Zona Nilai Tanah Kecamatan Andir dan memiliki Nilai Indikasi Rata-rata yang relatif besar dibandingkan dengan CBD lainnya yang mana hal ini menjadi komponen utama dalam perhitungan besar interaksi ruang (gaya tarik) antara Central Business District dengan Zona Nilai Tanah.

2024
👤 Penulis: Abdi Pistari Manullang
🏷️ Geografi Ekonomi 🏷️ Analisis Ruang 🏷️ Hidrologi
💬