📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 9 dokumen

MONITORING FENOMENA URBAN SPRAWL DENGAN TEKNIK ANALISIS SPEKTRAL CAMPURAN DARI DATA SATELIT LANDSAT DAN MODIS MULTITEMPORAL

Indonesia sebagai salah satu negara berkembang masih menghadapi permasalahan besar dalam perkembangan kota-kotanya. Gejala urban sprawl memberikan dampak terhadap perkembangan kota ke wilayah pinggiran bersifat sporadis dan tidak terpola dengan baik Sehubungan dengan hal tersebut, maka diperlukan suatu metode pemantauan perkembangan kota, salah satunya adalah melalui metode penginderaan jauh. Pada metode klasifikasi konvensional, satu piksel citra diasumsikan hanya mengandung satu jenis obyek saja. Namun pada kenyataannya untuk satu piksel pada citra bisa memiliki lebih dari satu jenis obyek. Oleh karenanya, pemantauan fenomena urban sprawl pada studi ini dilakukan dengan menggunakan metode Spectral Mixture Analysis (SMA) dengan menggunakan model pemisahan linier (linier unmixing) yang memungkinkan untuk melakukan identifikasi serta penentuan proporsi spasialnya. Hasil yang diperoleh dari studi ini adalah citra fraksi dari endmember beserta proporsi spasialnya Selain waktu perolehan informasinya cepat dan murah, juga cakupan wilayah surveinya luas dan informasinya dapat diperoleh lebih berkesinambungan.

2026
👤 Penulis: Ivan Pratama
🏷️ Hidrologi 🏷️ Analisis Spektral Campuran 🏷️ Geografi Urban

ANALISIS SPASIAL PENENTUAN KECAMATAN POTENSIAL UNTUK PENGEMBANGAN 15-MINUTE NEIGHBOURHOOD DI DKI JAKARTA

Perubahan iklim yang disebabkan tingginya emisi gas rumah kaca telah menjadi permasalahan dunia yang mendorong penerapan konsep pembangunan perkotaan yang lebih berkelanjutan. Salah satu pendekatan untuk mengatasi masalah tersebut adalah 15-Minute City, yaitu konsep tata kota yang memungkinkan masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka dengan berjalan kaki sekitar 15 menit sehingga dapat mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan bermotor. Sejalan dengan target DKI Jakarta untuk menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 50% pada tahun 2030 dan mencapai nol emisi pada tahun 2050, penelitian ini bertujuan menganalisis kecamatan yang memiliki potensi tinggi untuk dikembangkan sebagai 15-Minute Neighbourhood. Pada penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan menggunakan pendekatan spasial. Pembobotan kriteria dan subkriteria 15-Minute Neighbourhood dilakukan menggunakan metode AHP, kemudian kondisi eksisting wilayah diidentifikasi berdasarkan dimensi 15-Minute Neighbourhood diantaranya adalah density, proximity, diversity, dan digitalization. Berdasarkan hasil AHP, proximity memiliki bobot global tertinggi, disusul oleh kepadatan penduduk dan keragaman fasilitas dasar. Bobot tersebut diintegrasikan ke dalam formula indeks komposit 15-Minute Neighbourhood untuk menentukan indeks pada setiap kecamatan. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa Kecamatan Cempaka Putih dan Kecamatan Tambora memperoleh nilai indeks tertinggi, sehingga menjadi kecamatan yang paling berpotensi untuk dikembangkan sebagai 15-Minute Neighbourhood di DKI Jakarta. Sebaliknya, sebagian besar kecamatan yang berada di wilayah pinggiran Jakarta cenderung memiliki nilai indeks yang lebih rendah yang disebabkan oleh tingkat aksesibilitas layanan, kepadatan, dan keragaman fasilitas yang relatif lebih rendah dibandingkan wilayah perkotaan yang lebih terpusat. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa kecamatan yang memiliki nilai tinggi pada satu indikator tertentu tidak selalu memperoleh nilai indeks yang tinggi. Beberapa kecamatan seperti Gambir, Tanah Abang, Kebayoran Baru, Menteng, dan Setiabudi menunjukkan performa yang baik pada dimensi tertentu, seperti keragaman guna lahan maupun keragaman fasilitas dasar, namun tidak termasuk ke dalam kelompok kecamatan dengan nilai indeks tertinggi. Temuan ini mengindikasikan bahwa pencapaian karakteristik 15-Minute Neighbourhood bergantung pada sinergi antar seluruh dimensi penilaian, sehingga performa yang5 tinggi pada satu dimensi saja belum cukup untuk menghasilkan tingkat kesiapan wilayah yang optimal. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperluas wawasan terkait pengembangan kajian 15-Minute Neighbourhood serta menjadi dasar perencanaan kebijakan untuk pembangunan perkotaan berkelanjutan di DKI Jakarta. Hasil penelitian juga memperkaya studi empiris mengenai pengukuran 15- Minute Neighbourhood melalui integrasi pembobotan AHP dan analisis spasial.

2026
👤 Penulis: Aisa Kansha Amany
🏷️ Geografi Urban 🏷️ Analisis Spasial 🏷️ Pengembangan Perkotaan Berkelanjutan

DINAMIKA SPASIAL LINGKUNGAN ALUN-ALUN CIANJUR SEJAK 1808 HINGGA 2026

Penelitian ini mengkaji dinamika spasial lingkungan Alun-alun Cianjur sebagai ruang publik yang mengalami perkembangan sejak masa kolonial hingga kini. Alun-alun Cianjur memiliki peran penting sebagai pusat aktivitas sosial, budaya, dan keagamaan masyarakat. Seiring dengan perubahan zaman, ruang ini mengalami transformasi yang tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga mencakup perubahan fungsi, struktur ruang, dan karakter kawasan yang dipengaruhi oleh faktor historis, kebijakan, serta kebutuhan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan dinamika perkembangan historis Alun-alun Cianjur, serta menganalisis perubahan kualitas ruang publik melalui pengalaman, aktivitas, dan persepsi pengguna. Selain itu, penelitian ini juga menggali pemahaman historis masyarakat terhadap Alun-alun Cianjur. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif, melalui analisis data historis, kajian dokumentasi, pengolahan data kuesioner pengguna, serta wawancara terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dinamika spasial lingkungan Alun-alun Cianjur berlangsung melalui proses transformasi bertahap yang dipengaruhi oleh perubahan sistem pemerintahan, perkembangan kota, serta kebijakan penataan ruang dari masa ke masa. Transformasi tersebut tidak hanya mengubah struktur dan elemen fisik kawasan, tetapi juga memperluas fungsi alun-alun menjadi ruang publik multifungsi yang mendukung aktivitas sosial, keagamaan, budaya, dan rekreasi masyarakat. Hasil analisis persepsi pengguna menunjukkan bahwa Alun-alun Cianjur memiliki kualitas ruang publik yang baik serta masih mempertahankan identitas budaya lokal melalui berbagai elemen simbolik kawasan. Dengan demikian, Alun-alun Cianjur berkembang tidak hanya sebagai ruang publik yang fungsional, tetapi juga sebagai ruang yang merepresentasikan sejarah, budaya, dan identitas masyarakat Cianjur.

2026
👤 Penulis: Bintang Aulia Yasmin
🏷️ Geografi Urban 🏷️ Manajemen Ruang Publik 🏷️ Hidrologi Kota

ASSESSING THE POTENTIAL UTILIZATION OF POI DATA FOR ZONE FORMULATION IN DETAILED SPATIAL PLAN: A CASE STUDY IN PEKANBARU, INDONESIA

This study explores the use of Point of Interest (POI) data as a planning support tool within the Detailed Spatial Plan (DSP) framework. While POI data has been widely used in urban research, its integration into regulatory zoning remains limited. Using a case study in Pekanbaru, Indonesia, POI-based zones were developed from Google Maps data and assessed for reliability, spatial distribution, and planning relevance. Functional classification was conducted using the Category-to-Ratio (CR) Index and Simpson Index. To address data sparsity and capture complex spatial patterns, Graph Attention Networks (GAT) were applied to generate synthetic POI embeddings and simulate activity scenarios across different urban contexts. Validation included manual POI checks and assessment of zoning outcomes through green area comparison, alignment with regional plans, and usability via the Analytic Hierarchy Process (AHP), focusing on efficiency, legality, availability, and reliability. Findings demonstrate the value of POI-based zoning for highlighting urban structure and diversity, especially in early planning stages. The model offers a spatially grounded, transferable approach aligned with Planning Support Science, bridging data-driven tools with institutional processes.

2025
👤 Penulis: Zahra Witsqa Maghfira
🏷️ Geografi Urban 🏷️ Analisis Kualitatif-Quantitatif 🏷️ Kecerdasan Buatan

IDENTIFIKASI POLA DAN STRUKTUR KAWASAN PERKOTAAN CEKUNGAN BANDUNG DENGAN KONSEP FUNCTIONAL URBAN AREA

Wilayah perkotaan metropolitan selalu berkembang akibat faktor urbanisasi, sehingga pola dan struktur perkotaan wilayah ini selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Hal tersebut tentu terjadi pada Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung yang mencakup 5 kabupaten dan kota saat ini yang pembangunan di dalamnya memiliki indikasi urban sprawling. Selain itu, pada perencanaan wilayah metropolitan, definisi yang digunakan oleh setiap negara berbeda-beda dan cenderung bersifat politis-administratif, padahal wilayah metropolitan sendiri lebih sesuai untuk menjadi terminologi definitif. Metode penentuan batasan metropolitan yang digunakan pada penelitian ini adalah Functional Urban Area karena konsep ini mempertimbangkan kegiatan commuting masyarakat setempat yang identik dengan karakter metropolitan. Untuk itu, tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi pola dan struktur Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung dengan konsep Functional Urban Area yang mencakup penentuan delineasi, penentuan sistem perkotaan, penentuan tingkat konektivitas struktur perkotaan, dan penentuan tingkat urban sprawling kawasan. Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung yang dikaji menggunakan konsep Functional Urban Area pada penelitian ini menunjukkan karakter yang meluas sehingga mencakup 4 kabupaten lain di sekitarnya. Sistem perkotaan wilayah ini yang dikaji dengan metode skoring juga menunjukkan satu struktur dominan di Kota Bandung dan Cimahi yang mengindikasikan monosentrisitas kawasan. Tingkat urban sprawling kawasan ini secara keseluruhan yang diukur dengan metode skoring berada pada tingkat sedang dengan kecenderungan meningkat pada pinggiran kota. Hal ini cukup kontradiktif dengan penelitian lain yang menjelaskan bahwa polisentrisitas merupakan indikasi urban sprawling yang ternyata tidak terjadi pada penelitian ini. Oleh karena itu, penelitian ini merangkum penentuan delineasi, sistem perkotaan, tingkat konektivitas struktur, dan tingkat urban sprawling Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung.

2025
👤 Penulis: Bakas Ramadhani
🏷️ Geografi Urban 🏷️ Metodologi Penelitian 🏷️ Analisis Struktural

KAJIAN PERUBAHAN SPASIAL DAN SOSIAL-EKONOMI DI KAWASAN KAMPUS UNIVERSITAS PARAHYANGAN KOTA BANDUNG

Sejak ekspansi kampus Universitas Parahyangan (UNPAR) ke Ciumbuleuit pada tahun 1974, kawasan telah mengalami perubahan signifikan yang ditandai dengan tumbuhnya hunian mahasiswa, apartemen, dan fasilitas komersial. Kajian ini diharapkan dapat mengisi kesenjangan studi dengan pendekatan interdisipliner di Indonesia terkait peran universitas sebagai katalis perubahan kota dari dalam. Metode penelitian dilakukan dengan pendekatan mixed-method dengan desain convergent parallel. Data kuantitatif menggunakan dataset citra satelit GLC_FCS30D dengan resolusi 30m serta survei mahasiswa yang tinggal di kawasan sekitar kampus, sementara data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara tokoh masyarakat dan pelaku usaha lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa periode 1985–2000 merupakan puncak awal ekspansi tutupan lahan terbangun, yang kemudian berkontribusi pada total peningkatan sebesar 19,38 hektar dan penurunan lahan sawah sebesar 27,64 hektar selama 1985–2022. Uji Moran’s I menunjukkan pola klaster spasial yang signifikan pada beberapa periode (1995 2000, 2010–2015, 2020–2022), serta klastering jangka panjang (1985–2022), mengindikasikan kecenderungan konsentrasi pembangunan. Perubahan kawasan dipengaruhi oleh empat faktor utama: (1) pertumbuhan perkotaan: kedekatan terhadap UNPAR (Cramér’s V = 0,139) dan aksesibilitas jalan (Cramér’s V = 0,086); (2) kebijakan dan regulasi yang menetapkan pembatasan formal, namun lemah dalam pengendalian dan penegakan zonasi; (3) ekonomi dan keuangan, masuknya investasi eksternal dalam sektor hunian mahasiswa; dan (4) faktor kontekstual seperti kondisi geografis dan adaptasi warga. Keberadaan UNPAR mendorong transformasi kawasan melalui pertumbuhan PBSA, pergeseran pola konsumsi digital, dan pengeluaran mahasiswa yang melampaui UMR (Rp5,3 juta), namun juga memicu gentrifikasi, peralihan kepemilikan ruang, dan segregasi sosial laten akibat perbedaan gaya hidup dan pola aktivitas antara mahasiswa dan masyarakat lokal.

2025
👤 Penulis: Muhammad Ilham
🏷️ Geografi Urban 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Analisis Geografis

PEMETAAN KORELASI LAND SUBSIDENCE DENGAN PEMENUHAN KEBUTUHAN AIR BAKU DI PULAU JAWA

Capstone Design Project ini bertujuan untuk memetakan korelasi antara pemenuhan kebutuhan air baku dengan fenomena penurunan muka tanah (PMT) di tiga kota besar di Pulau Jawa, yaitu Jakarta, Bandung, dan Semarang. Empat peta tematik disusun, terdiri dari tiga peta tematik pendukung berupa peta pencemaran air permukaan dan air tanah dangkal, peta penurunan muka air tanah (PMAT), peta PMT, serta produk utama berupa peta korelasi. Data dari setiap peta tematik pendukung dinormalisasi dan dianalisis dengan metode Multi Criteria Decision Analysis (MCDA). Proses klasifikasi dilakukan menggunakan metode quantile dan equal interval, disesuaikan pada karakteristik distribusi data setiap parameter. Hasil menunjukkan bahwa Jakarta memiliki korelasi positif yang sangat kuat antara ketiga parameter, dengan 52% kelurahan berada dalam kondisi kritis. Di Bandung, korelasi positif cukup terlihat di beberapa wilayah, dengan 3% kecamatan tergolong kritis. Sementara itu, Semarang didominasi oleh zona korelasi positif yang lemah, meskipun terdapat sekitar 7% kelurahan yang termasuk dalam kategori kritis. Perbedaan tingkat korelasi antarwilayah ini mencerminkan variasi dalam tekanan terhadap sumber daya air serta efektivitas infrastruktur penyediaan air baku di setiap kota. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya pendekatan spasial guna merumuskan strategi pengelolaan air yang berkelanjutan di kawasan perkotaan.

2025
👤 Penulis: M. Iqbal Tasyani
🏷️ Geografi Urban 🏷️ Analisis Kriteria Multikriterian 🏷️ Hidrologi

EKSPLORASI PENGARUH STRUKTUR LANSKAP PERKOTAAN TERHADAP LAND SURFACE TEMPERATURE (LST) DI KOTA BANDUNG

Kota Bandung mengalami perubahan struktur lanskap yang masif dari tahun 1984. Untuk mengimbangi peningkatan lahan terbangun, pemerintah Kota Bandung telah mengupayakan pemenuhan 30% proporsi RTH, namun belum terpenuhi hingga saat ini. Di sisi lain, BPS Kota Bandung menunjukkan peningkatan suhu yang konsisten selama dekade terakhir yang mengindikasikan terjadinya perubahan iklim mikro yang berkontribusi pada meningkatnya fenomena UHI di Kota Bandung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor struktur lanskap perkotaan yang memengaruhi LST di Kota Bandung menggunakan analisis regresi spasial. Struktur lanskap perkotaan dikelompokkan menjadi komposisi lanskap, konfigurasi spasial, dan karakteristik morfologi dan bentuk kota. Penelitian ini menggunakan unit analisis Hexagon H3 resolusi 10 yang lebih detail dan konsisten daripada batas administratif, serta lebih fleksibel bentuknya daripada grid persegi. Data yang digunakan adalah Landsat OLI/TIRS bulan September 2023 dengan kekaburan awan 0,44%. Ditemukan bahwa peningkatan sebaran vegetasi, komposisi pohon, tanaman pangan, badan air, dan tingkat keragaman tutupan lahan dapat menurunkan LST sebesar 2,41?; 0,13?; 0,42?; 0,48?; dan 0,05?. Lalu, penurunan komposisi lahan kosong dan kepadatan bangunan dapat menurunkan LST sebesar 0,23? dan 0,49? di Kota Bandung. Kesimpulannya, upaya penurunan LST di Kota Bandung harus fokus pada peningkatan kualitas dan kuantitas vegetasi serta pengelolaan tata ruang yang mempertimbangkan keberagaman dan distribusi elemen-elemen lanskap secara berkelanjutan. Perlu dicermati bahwa penelitian ini hanya menganalisis pengaruh struktur lanskap perkotaan secara 2D terhadap data LST pada satu waktu saja, sehingga belum melihat pengaruh struktur lanskap secara 3D dan perubahannya dari waktu ke waktu.

2024
👤 Penulis: Siti Salamah Arafat Hakim
🏷️ Geografi Urban 🏷️ Hidrologi 🏷️ Analisis Regresi Spasial

IDENTIFIKASI LOKASI RUMAH SUSUN BERDASARKAN DAERAH PADAT BANGUNAN BERBASISKAN SIG - STUDI KASUS KOTA BANDUNG, PROVINSI JAWA BARAT -

Kota Bandung terletak di wilayah Jawa Barat dan merupakan ibu kota provinsi daerah tingkat I Jawa Barat. Kota Bandung terletak di lokasi yang strategis, dilihat dari segi komunikasi, perekonomian, maupun keamanan. Hal ini disebabkan karena Kota Bandung terletak pada pertemuan poros jalan raya. Kelebihan Kota Bandung ini yang menjadikannya memiliki daya tarik untuk ditinggali oleh orang–orang luar daerah. Karena semakin banyaknya orang–orang luar daerah yang tinggal di Kota Bandung, menyebabkan di beberapa kawasan Kota Bandung memiliki daerah yang padat bangunan. Daerah padat bangunan menimbulkan perumahan dan permukiman memiliki kepadatan bangunan yang tinggi. Kebijakan pembangunan rumah susun muncul untuk mengatasi permasalahan tersebut. Ketidaktahuan cara mengidentifikasi lokasi yang tepat dibangun rumah susun menjadi permasalahan yang berarti. Penelitian ini bertujuan untuk membantu dalam mengidentifikasi lokasi rumah susun di Kota Bandung berdasarkan daerah padat bangunan berbasiskan SIG, untuk membantu dalam penyelesaian penataan ruang dan membantu dalam pengambilan keputusan untuk menciptakan kawasan permukiman yang lengkap serta serasi dan seimbang. Daerah penelitian adalah Kelurahan Lebak Gede, Cipaganti, Taman Sari, dan Lebak Siliwangi yang merupakan kelurahan-kelurahan yang terdapat di Kota Bandung. Kelurahan-kelurahan ini memiliki kawasan bangunan tempat tinggal yang padat di Kota Bandung. Di dalam penelitian ini, data yang digunakan adalah data bangunan dan studi literatur yang berkaitan dengan penelitian ini. Cara mengidentifikasi lokasi rumah susun tersebut adalah berdasarkan dari tingkat kepadatan bangunan yang identifikasikan padat yang dilihat dari kepadatan bangunannya. Hasil yang didapat adalah 17 blok kawasan yang diidentifikasi sebagai daerah padat bangunan dan blok tersebut tepat dan cocok dibangun rumah susun. Identifikasi lokasi rumah susun berbasiskan SIG ini diharapkan dapat mengarahkan pengembangan kawasan perkotaan yang serasi, seimbang, efisien, dan produktif.

2024
👤 Penulis: Boby Arianto
🏷️ Geografi Urban 🏷️ Manajemen Ruang 🏷️ Teknologi Informasi Dalam Pembangunan
💬