📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 11 dokumenANALISIS POTENSI AIR TANAH MENGGUNAKAN METODE GEOLISTRIK RESISTIVITAS, ISOTOP STABIL ?¹?O–?²H, DAN PEMODELAN MODFLOW DALAM RANGKA PEMENUHAN KEBUTUHAN AIR DI DISTRIK ABEPURA DAN SEKITARNYA, KOTA JAYAPURA, PAPUA
Distrik Abepura dan sekitarnya di Kota Jayapura menghadapi krisis ketersediaan air bersih akibat ketergantungan tinggi pada sumber air permukaan dari Pegunungan Cycloop yang debitnya semakin terbatas. Selama 20 tahun terakhir belum ada penambahan sumber air baru, sementara PDAM telah menerapkan sistem pengaliran bergilir yang mengindikasikan kapasitas produksi tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan secara kontinu. Penelitian ini bertujuan menganalisis potensi air tanah sebagai sumber alternatif melalui integrasi empat metode: survei geolistrik resistivitas VES, analisis isotop stabil ?¹?O–?²H, pengukuran kualitas air in-situ, dan pemodelan numerik MODFLOW. Survei geolistrik VES konfigurasi Schlumberger dilakukan pada 13 titik pengukuran dan diolah menggunakan IPI2win serta Progress 3.0. Analisis isotop stabil dilakukan pada 9 sampel air dari berbagai sumber (air hujan, mata air, air sumur, air danau, dan air laut) menggunakan instrumen Picarro L2130-i di Laboratorium Hidrogeologi dan Hidrogeokimia ITB. Pengukuran kualitas air in-situ dilakukan pada 17 titik menggunakan Water Quality Meter 7-in-1. Model numerik dibangun menggunakan Visual MODFLOW dengan simulasi steady state dan transien selama 14 tahun (2026–2040). Hasil survei VES mengidentifikasi 11 dari 13 titik yang mengkonfirmasi keberadaan akuifer Pasir Tufan pada kedalaman 3–84 m, dengan akuifer paling tebal di titik Aspol (50,6 m), Kotaraja Dalam (39,7 m), Yotefa (32,6 m), dan UNCEN (20,3 m). Material vulkaniklastik berupa Tufa Breksi (100–200 Ohm.m) dan Breksi Tufa (>200 Ohm.m) yang dijumpai di beberapa titik tidak berfungsi sebagai akuifer karena bersifat matrix-supported dengan matriks abu vulkanik teralterasi yang impermeabel. Zona air payau terdeteksi di titik Otonom (0,27 Ohm.m pada kedalaman 50,4–79,2 m), mengindikasikan pengaruh intrusi air laut. Analisis isotop stabil mengkonfirmasi bahwa air tanah di dataran rendah (?¹?O = ?8,5 hingga ?9,0‰) bukan merupakan infiltrasi hujan lokal secara langsung (?¹?O hujan = ?14,3 hingga ?14,4‰), melainkan hasil percampuran dengan komponen aliran regional dari zona imbuhan di lereng Pegunungan Cycloop (>1.800 m dpl). Perbandingan isotopik antara Danau Sentani (?¹?O = ?6,0‰; d-excess +6,96‰) dan Mata Air Padang Bulan (?¹?O = ?8,974‰; d-excess +16,9‰) selisih ?¹?O 2,974‰ disertai kontras d-excess yang nyata itu membuktikan bahwa Danau Sentani bersifat gaining lake atau disconnected terhadap akuifer dan tidak memberikan kontribusi signifikan terhadap imbuhan air tanah. Gradien isotopik konsisten dengan pola aliran model MODFLOW dari Cycloop menuju Teluk Yos Sudarso. Pengukuran kualitas air pada 17 titik menunjukkan seluruh parameter memenuhi atau mendekati baku mutu PerMenKes 492/2010 dan WHO 2011 dengan kondisi aerobik di seluruh titik. Model MODFLOW dikalibrasi dengan R² = 99% dan Normalized RMS = 3,681%. Simulasi pemompaan 32 sumur bor (total 6.400 m³/hari) selama 14 tahun menghasilkan rata-rata penurunan head sebesar 10,45 m dengan head minimum 1,90 m dpl (W16 Yotefa Lama) yang masih di atas muka air laut sehingga tidak memicu intrusi; namun zonasi Permen ESDM No. 31 Tahun 2018 menunjukkan mayoritas titik berada pada status KRITIS (10 titik) hingga RUSAK (1 titik) tanpa titik AMAN, sehingga pemenuhan defisit direkomendasikan melalui skema hibrida 16 sumur bor (3.200 m³/hari) dan pemanfaatan Danau Sentani via IPA (3.132 m³/hari), bukan eksploitasi penuh 32 sumur.. Neraca air model meningkat dari 6.425,7 m³/hari (steady state) menjadi 10.103 m³/hari (transien 14 tahun) melalui mekanisme capture zone effect. Simulasi MT3DMS mengkonfirmasi tidak terjadinya intrusi air laut pada debit pemompaan normal. Kawasan Aspol, UNCEN, dan Yotefa direkomendasikan sebagai zona prioritas tinggi untuk pengembangan sumur bor, dengan catatan pembatasan penambahan sumur di zona Aspol (penurunan head 36 m) dan monitoring prioritas di zona pesisir (W16, W14).
ANALISIS BIDANG GELINCIR LONGSOR MENGGUNAKAN METODE GEOLISTRIK DI KABUPATEN CIANJUR
Kabupaten Cianjur terletak pada Kawasan Rawan Bencana (KRB) gempa tinggi. Gempa bumi dapat menimbulkan bencana susulan salah satunya yaitu tanah longsor. Salah satu faktor penyebab longsoran yang sangat berpengaruh adalah bidang gelincir (slip surface). Pada umumnya tanah yang mengalami longsoran akan bergerak di atas bidang gelincir tersebut. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk menginvestigasi bidang gelincir adalah metode geolistrik. Metode geolistrik ini bersifat tidak merusak lingkungan, biaya relatif murah dan mampu mendeteksi perlapisan tanah sampai kedalaman beberapa meter di bawah permukaan tanah. Oleh karena itu metode ini dapat dimanfaatkan untuk survey daerah rawan longsor, khususnya untuk menentukan ketebalan lapisan yang berpotensi longsor serta litologi perlapisan batuan bawah permukaan. Bidang gelincir teletak diantara zona dengan resistivitas rendah dan resistivitas tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis bidang gelincir akibat longsor yang terjadi di Cianjur dengan menggunakan metode Geolistrik. Akuisisi data dilakukan dengan menggunakan konfigurasi wenner-schlumberger dengan panjang lintasan 80 m dan jarak spasi elektroda 5 meter di dua lokasi berbeda di Kabupaten Cianjur. Lokasi 1 terdapat 2 lintasan sedangkan lokasi 2 terdapat 4 lintasan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa, untuk Lokasi penelitian pertama berada pada satuan Qot (Hasil Gunungapi Tua), menunjukkan bahwa lokasi pengukuran terdiri dari breksi andesit piroksen. Tingkat pelapukan yang lebih berkembang menyebabkan material pada satuan ini cenderung lebih halus, memiliki porositas yang lebih tinggi, serta berpotensi menunjukkan nilai tahanan jenis yang lebih rendah terutama pada kondisi jenuh air. Hal ini ditunjukan denganresistivitas bawah tanah pada lokasi 1 berkisar antara 1 ?m hingga 1012 ?m. Kedalaman bidang gelincir di Lokasi 1 berkisar antara 3,75 – 12,6 meter yang mana termasuk kategori dalam dengan resistivitas sebesar 319 ?m. Kemiringan lereng sekitar 160 dan jenis longsoran merupakan tipe translasi. Pada lokasi 2 termasuk dalam satuan Qyg (Breksi dan Lahar gunung Gede) yang merupakan endapan breksi dan lahar yang berasal dari aktivitas vulkanik yang lebih muda, khususnya yang berkaitan dengan sistem vulkanik Gunung Gede. Litologi pada satuan ini umumnya bersifat lebih heterogen, terdiri atas fragmen batuan berukuran kasar dengan matriks pasir atau tufaan, serta memiliki variasi tingkat pelapukan yang lebih beragam. Hal ini ditunjukan dengan nilai resistivitas bawah tanah di Lokasi 2 berkisar antara 1 ?m hingga 3205 ?m, Kedalaman bidang gelincir di Lokasi 2 berkisar antara 6,38 – 9,25 meter yang mana termasuk kategori dalam dengan resistivitas antara 740 – 746 ?m. Kemiringan lereng bekisar antara 80 – 110 dengan tipe longsoran adalah translasi. Lapisan bedrock dikedua lokasi penelitian berupa breksi dengan dominan fragmen andesit.
EKSPLORASI SUMBER AIR BAWAH TANAH MENGGUNAKAN METODE GEOLISTRIK DENGAN KONFIGURASI SCHLUMBERGER DI DESA PEKUNCEN, KECAMATAN JATILAWANG, KABUPATEN BANYUMAS
Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, merupakan wilayah yang sering mengalami kekurangan air bersih pada musim kemarau. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi sumber air bawah tanah dengan memetakan struktur bawah permukaan serta menentukan lokasi dan kedalaman akuifer potensial menggunakan metode geolistrik konfigurasi Schlumberger. Pengukuran dilakukan pada tiga lintasan dengan panjang bentangan bervariasi menggunakan 32 elektroda. Data resistivitas semu diolah dan diinversi menggunakan perangkat lunak Res2Dinv hingga diperoleh model penampang resistivitas 2D. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur bawah permukaan daerah penelitian tersusun atas tiga lapisan utama, yaitu lapisan permukaan berupa lempung dan tuf halus (resistivitas < 26,9 ?m), lapisan akuifer berupa tuf pasiran hingga breksi halus (resistivitas 7,48 – 168 ?m), dan batuan dasar berupa andesit atau breksi vulkanik kompak (resistivitas > 1045 ?m). Potensi air tanah ditemukan pada kedalaman bervariasi di setiap lintasan. Secara umum, zona akuifer dangkal di daerah penelitian berada pada kedalaman 3 hingga 30 meter, dengan Lintasan 1 dan 3 merupakan target utama pengembangan sumber air tanah. .
PEMODELAN METODE GEOLISTRIK RESISTIVITAS DC 3D MENGGUNAKAN METODE ELEMEN HINGGA DENGAN MENGAPLIKASIKAN TEKNIK SINGULARITY REMOVAL
Sebagai metode yang sering digunakan untuk survei dangkal, maka dibutuhkan pengembangan pemodelan geolistrik resistivitas 3D DC yang ringan, cepat, dan akurat yang dapat dijalankan pada komputer jinjing. Beberapa isu yang masih menjadi tantangan dalam pemodelan geolistrik resistivitas DC menggunakan metode elemen hingga yaitu singularitas solusi, kontruksi elemen 3D, penyelesaian matriks global, dan penanganan solusi potensial di sebarang titik. Untuk mengatasi permasalahan singularitas solusi, penelitian ini menggunakan teknik singularity removal dimana penyelesaian persamaan potensial primer dilakukan secara analitik dan persamaan potensial sekunder secara numerik menggunakan metode elemen hingga pendekatan Galerkin. Tipe elemen 3D yang dipilih yaitu elemen tetrahedral terstruktur orthosceme yang diperoleh dengan membagi kubus heksahedron menjadi enam elemen. Domain pemodelan (area of interest [AOI] + padding) mencakup [-300, 300] m × [-250, 250] m × [0, 250] m, didiskritisasi menjadi elemen othosceme dengan jumlah simpul 59 × 39 × 20. Setelah diperoleh persamaan matriks global untuk potensial sekunder, diuji sifat matematisnya untuk menentukan iterative solver yang tepat. Hasil uji pada model bumi dua lapis mengkonfirmasi bahwa matriks global mempunyai sifat berukuran besar, sparse, riil-simetrik, dan positif definit. Solver iterative yang tepat adalah preconditioned conjugate gradients (PCG) dengan incomplete Cholesky factorization (ICF) sebagai prekondisi. ICF termodifikasi diterapkan untuk meningkatkan kecepatan konvergensi dengan tetap mempertahankan akurasi. Hasil uji dalam tahapan penyelesaian matriks global menunjukkan bahwa iterative solver PCG dengan prekondisi ICF termodifikasi 6,7 kali lebih cepat dibandingkan direct solver. Ketika diterapkan dengan melibatkan perubahan dan pergeseran elektroda arus mengacu pada aturan konfigurasi elektroda tertentu, penggunaan iterative solver PCG dengan prekondisi ICF termodifikasi memberikan peningkatan kecepatan komputasi yang signifikan. Sampai tahap ini, kombinasi dari teknik singularity removal, diskritisasi orthosceme, dan solver PCG telah menghasilkan pemodelan kedepan geolistrik resistivitas DC 3D yang ringan dan cepat serta dapat dijalankan pada komputer jinjing. Pengujian lebih lanjut kinerja pemodelan kedepan geolistrik resistivitas DC 3D juga dilakukan dengan mengamati pola distribusi potensial dalam tampilan 3D, pola rapat arus dan potensial dalam irisan tampang lintang tertentu dan kurva potensial sepanjang lintasan elektroda. Kurva potensial mampu menunjukkan secara jelas pengaruh penggunaan teknik singularity removal dimana di sekitar sumber arus (±1A), potensial mampu mencapai nilai cukup tinggi mencapai sekitar ± 55 V. Pemodelan kedepan dengan dan tanpa teknik singularity removal juga menunjukkan perbedaan nilai potensial yang signifikan (mencapai sekitar 0.3 V), terutama di sekitar sumber arus. Uji akurasi pemodelan kedepan geolistrik resistivitas DC 3D secara kuantitatif dilakukan melalui nilai resistivitas semu. Nilai potensial di sebarang titik di permukaan bumi untuk keperluan perhitungan resistivitas semu-numerik ini diperoleh dengan menggunakan interpolasi skema rasio luas dari potensial di setiap simpul. Uji kuantitatif ini dilakukan dengan membandingkan resistivitas semu-numerik terhadap hasil analitik dan dinyatakan sebagai relative error untuk konfigurasi Wenner dan Schlumberger pada model bumi dua lapis dan tiga lapis. Hasil pemodelan geolistrik resistivitas DC 3D dengan teknik singularity removal menghasilkan resistivitas semu konfigurasi Wenner dengan relative error <5% pada spasi a = 10 s.d 60 m model bumi dua lapis. Sedangkan konfigurasi Schlumberger menghasilkan kinerja pemodelan yang lebih baik yang ditunjukkan dengan nilai resistivitas semu dominan mempunyai relative error <5% baik untuk model bumi dua lapis maupun tiga lapis. Pada model bumi kontak vertikal, pemetaan lateral menghasilkan profil resistivitas semu konfigurasi Wenner dan Schlumberger dengan pola serupa, dengan nilai resistivitas semu yang meningkat ketika menuju ke bidang batas medium dan kemudian memasuki medium kedua. Sebaliknya, konfigurasi dipole-dipole menunjukkan pola perubahan resistivitas semu yang berbeda. Perubahan nilai resistivitas semu ketika mendekati bidang batas dan memasuki medium ke dua jauh lebih kontras bahkan melebihi nilai resistivitas masing-masing medium sehingga konfigurasi dipole-dipole lebih sesuai untuk mendeteksi perubahan struktur lateral. Model bumi anomali blok 3D terpendam memberikan skenario yang realistis untuk penelitian disertasi ini. Dengan menempatkan empat lintasan sejajar sumbu x dan sebuah lintasan sejajar sumbu y (saling berpotongan di atas anomali terpendam) menghasilkan profil resistivitas semu konfigurasi Wenner, Schlumberger, dan dipole-dipole yang mampu merepresentasikan keberadaan anomali blok 3D terpendam dengan baik yang ditandai dengan kontras resistivitas di sekitar batas-batas anomali. Konfigurasi dipole-dipole kembali lagi menunjukkan kinerja lebih baik dengan kontras resistivitas semu yang jelas pada batas-batas anomali terpendam.
INVERSI 1 DIMENSI GEOLISTRIK MENGGUNAKAN METODE OCCAM (STUDI KASUS DATA GEOLISTRIK DAERAH CIANJUR)
Indonesia merupakan negara yang rawan gempa bumi karena terletak di kawasan Cincin Api Pasifik, tempat bertemunya tiga lempeng tektonik utama. Salah satu gempa signifikan terjadi di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, pada 21 November 2022, dengan magnitudo 5,6. Metode geolistrik resistivitas digunakan untuk menentukan struktur bawah permukaan berdasarkan perbedaan nilai resistivitas batuan. Inversi merupakan teknik optimasi untuk memperoleh model bawah permukaan yang menghasilkan respons mendekati data observasi lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengaplikasikan metode inversi 1-D geolistrik resistivitas dengan pendekatan Occam serta menganalisis distribusi resistivitas bawah permukaan pada daerah penelitian. Pengambilan data dilakukan di empat titik sounding menggunakan metode geolistrik resistivitas dengan konfigurasi Schlumberger, dan pemodelan dilakukan dengan metode inversi Occam 1-D. Hasil inversi menunjukkan model resistivitas bawah permukaan yang halus dan stabil, dengan nilai RMS antara 3 hingga 21% ?·m. Distribusi resistivitas mengindikasikan dua hingga empat lapisan litologi batuan dengan akuifer potensial pada lokasi pertama. Penelitian ini membuktikan bahwa metode inversi Occam 1-D efektif dalam menggambarkan struktur bawah permukaan. Implikasi aktif dari penelitian ini meliputi sebagai data pendukung dalam upaya mitigasi bencana gempa bumi dan perencanaan penggunaan lahan serta tata ruang wilayah.
INTERPRETASI DATA PENGUKURAN GEOLISTRIK TAHANAN JENIS 2D DAN INVERSI POTENSIAL DIRI DENGAN PENDEKATAN GEOMETRI TETAP UNTUK IDENTIFIKASI AKUIFER
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keberadaan dan karakteristik lapisan akuifer di daerah Menggung, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, dengan menggunakan metode geolistrik tahanan jenis dua dimensi dan potensial diri. Metode geolistrik digunakan untuk menentukan nilai resistivitas bawah permukaan yang berkaitan dengan jenis batuan dan kejenuhan air, sementara metode potensial diri digunakan untuk memetakan arah aliran air bawah tanah berdasarkan distribusi potensial listrik alami. Hasil pengukuran geolistrik menunjukkan adanya dua sistem akuifer. Akuifer bebas terletak pada kedalaman 3– 9.6 meter dengan nilai resistivitas antara 1.68– 4 ?m , sementara akuifer semi-tertekan berada pada kedalaman 11.5– 18 meter dengan nilai resistivitas > 7 ?m . Lapisan penutup berupa batu lempung jenuh air memiliki resistivitas 2.5– 7 ?m, sedangkan lapisan dasar berupa serpih jenuh air memiliki resistivitas sangat rendah, yaitu 1– 2.5 ?m. Distribusi nilai potensial listrik alami yang diperoleh berkisar antara ?150 mV hingga +363 mV, dengan arah aliran air tanah dari selatan (zona recharge) menuju utara (zona discharge). Pemodelan inversi self-potential menggunakan metode Levenberg–Marquardt menghasilkan dua model lempeng dengan parameter: kedalaman pusat lempeng ±6 ? 7 meter, sudut polarisasi 274.81° dan 276.81°, serta nilai momen dipol masing-masing sebesar 472.5 mV dan 558.8 mV. Nilai standard error inversi masing-masing adalah 10.8 mV dan 15.05 mV , menunjukkan kecocokan model yang cukup baik. Pendekatan gabungan ini terbukti efektif dalam memetakan sistem akuifer dan arah alirannya, serta memberikan dasar yang kuat dalam perencanaan dan pengelolaan sumber daya air tanah di daerah dengan kondisi geologi serupa.
PENENTUAN MUKA AIR TANAH MENGGUNAKAN PENAMPANG GEOLISTRIK 2D DENGAN KONFIGURASI DIPOL-DIPOL DI KABUPATEN SIAK PROVINSI RIAU
Penulisan laporan tugas akhir ini bertujuan untuk menentukan posisi muka air tanah menggunakan metode geolistrik 2D dan cara inversi data dengan topografinya serta interpretasi data terkait posisi muka air tanah. Adapun yang menjadi latar belakang penulisan ini karena muka air tanah saat ini memegang peranan penting untuk pemenuhan kebutuhan air dalam kehidupan sehari-hari. Muka air tanah ini erat kaitannya dengan karakteristik lapisan batuan yang mana dapat berperan sebagai akuifer. Muka air tanah dapat dideteksi dengan metode geolistrik karena bersifat konduktif dan memungkinkan arus listrik mengalir ke tanah sehingga dapat digunakan untuk mengidentifikasi keberadaan air di bawah permukaan. Metode yang digunakan yaitu metode geolistrik 2D dengan konfigurasi dipol-dipol dan alatnya yaitu syscal multichannel system buatan IRIS Perancis dengan 48 elektroda yang digunakan. Panjang lintasannya 950 meter dan spasi elektroda masing-masing yaitu 10 meter dilakukan pengukuran di Desa Rantau Bertuah, Kecamatan Minas, Kabupaten Siak, Riau. Karena keterbatasan elektroda, dilakukan overlapping untuk penyesuaian panjang lintasan. Berdasarkan pengukuran geolistrik secara 2D serta interpretasi lapisan menggunakan nilai resistivitas dan pengolahan data menggunakan software Res2DINV diketahui posisi akuifer di Kabupaten Siak, Riau terdapat pada kedalaman kurang lebih 0,5-10 meter di sepanjang lintasan sekitar 200-300 meter dengan nilai resistivitas yaitu antara 10-30 ?m dengan posisi muka air tanah pada kedalaman sekitar 0,5 meter. Kemudian pada kedalaman kurang lebih 1-5 meter di sepanjang lintasan sekitar 870-925 meter terdapat akuifer dengan nilai resistivitas antara 300-700 ?m dengan posisi muka air tanah pada kedalaman sekitar 1 meter. Kedua akuifer yang terdapat pada lintasan sekitar 200- 300 meter dan lintasan sekitar 870-925 meter termasuk kedalam unconfined aquifer atau akuifer bebas. Akuifer ini terletak lebih dekat dengan permukaan, sehingga posisi muka air tanah dangkal.
IDENTIFIKASI SISTEM HIDROGEOLOGI DAERAH TALAGA DAN SEKITARNYA, KABUPATEN CIANJUR
Penelitian ini berada di Daerah Talaga dan sekitarnya, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Luas daerah penelitian adalah 10,23 km², yang seluruhnya tertutup oleh endapan gunung api berumur Kuarter, terkenal sebagai sumber air tanah berkualitas baik. Penelitian ini membahas hidrogeologi, kualitas air tanah untuk konsumsi warga, dan identifikasi lapisan bawah permukaan dengan metode geolistrik dan pengeboran, menggunakan data dari beberapa titik pengukuran (Pengukuran muka air tanah/MAT: 25 titik, pH: 24 titik, suhu: 24 titik, TDS: 24 titik, EC: 24 titik, geolistrik: 3 titik, dan pengeboran hingga kedalaman 50 meter). Secara geomorfologi, daerah penelitian terbagi menjadi tiga satuan geomorfologi: Satuan Perbukitan Sisa Gunung Api pada elevasi 675 - 825 mdpl dengan kerapatan kontur sangat rapat, Satuan Dataran Aliran Lahar Gunung Gede pada elevasi 650 - 800 mdpl dengan kerapatan kontur relatif renggang, dan Satuan Kaki Gunung Gede pada elevasi 575 - 700 mdpl dengan kerapatan kontur renggang. Kemiringan lereng mengarah ke timur dengan zona-zona pemukiman yang telah menyebar hampir merata di bagian lereng dan kaki gunung. Analisis data geolistrik dan deskripsi log bor menghasilkan tiga lapisan utama (atas ke bawah): lapisan tanah pelapukan (kedalaman: 0-3 m) dengan resistivitas rendah (18,3 – 43,5 ohm), lapisan breksi lahar (kedalaman: 3-9 m) memiliki resistivitas sedang (74,4 – 77,3 ohm) yang berfungsi sebagai akuifer 1, lapisan batupasir tufan (kedalaman: 9-75 m) dengan resistivitas sedang (67,4 – 141 ohm) sebagai akuifer 2, serta lapisan breksi (75-100 m) dengan resistivitas tinggi (439 – 984 ohm) yang berfungsi sebagai lapisan impermeabel. Kedua lapisan akuifer di daerah ini adalah akuifer tak tertekan dengan pola aliran air tanah yang mengalir dari barat ke timur. Dari 18 titik pengukuran, seluruhnya menunjukkan nilai TDS yang memenuhi syarat kesehatan (73-124 ppm). Sebanyak 14 titik tidak memenuhi standar pH, sementara 9 sampel memenuhi standar pH (berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 2 Tahun 2023). Hasil ini masih perlu didukung oleh pengujian kandungan unsur utama dan logam untuk mengetahui apakah peningkatan kepadatan pemukiman telah mempengaruhi kualitas air tanah.
PENDUGAAN AKUIFER PADA LAHAN PERSAWAHAN MENGGUNAKAN METODE GEOLISTRIK RESISTIVITAS
Sumber air bawah tanah terletak pada lapisan akuifer yaitu sebuah lapisan dengan batuan yang memiliki rongga sehingga mampu meloloskan air dan sekaligus memiliki kemampuan menyimpan air akibat sifat kedap air batuan pada lapisan di bawah lapisan akuifer. Pendugaan akuifer dapat dilakukan dengan beberapa metode geofisika salah satunya adalah metode geolistrik resistivitas yang menggunakan karakteristik fisis sebuah bahan yaitu tahanan jenis atau resistivitas. Metode geolistrik dapat terbagi menjadi beberapa pengelompokkan yaitu dimensi pemodelan dan konfigurasi yang digunakan. Pada penilitian ini digunakan metode geolistrik dengan konfigurasi Wenner-Schlumberger serta jenis pemodelan yang dilakukan adalah 1-D dan 2-D. Hasil interpretasi yang didapatkan dari pengukuran lapangan pada lahan persawahan Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat adalah terdapat keberadaaan akuifer jenis tertutup yang diduga terbentuk oleh jenis batuan batulempung tufan, batupasir tufan, batupasir, dan kerikil tufan. Akuifer yang ditemukan diketahui memiliki batas atas lapisan akuifer pada kedalaman sekitar 14 meter di bawah permukaan tanah.
PERUBAHAN RESISTIVITAS RESERVOIR BATUPASIR PADA KASUS INJEKSI CO2 UNTUK PENYIMPANAN GAS KARBON BAWAH PERMUKAAN (CARBON CAPTURE STORAGE)
Penyimpanan karbon pada reservoir bawah permukaan dianggap sebagai salah satu metode paling efektif untuk mengurangi jumlah karbon dioksida di atmosfer dengan tujuan mengurangi perubahan iklim global. Reservoir batupasir adalah salah satu kandidat potensial sebagi reservoir penyimpanan karbon karena memiliki porositas yang tinggi dan diisolasi oleh lapisan kedap air di bawah permukaan bumi. Penelitian ini membahas tentang perubahan resistivitas pada batupasir sebagai respon terhadap injeksi CO2 pada reservoir batupasir untuk penyimpanan karbon bawah permukaan. Perubahan Resistivitas adalah parameter penting untuk pemodelan dan pemantauan proses penyimpanan karbon di bawah permukaan. Metode eksperimen ini melibatkan simulasi laboratorium yang mencakup injeksi CO2 superkritis ke dalam batupasir dan pemantauan perubahan resistivitas dengan metode geolistrik. CO2 diinjeksikan pada sampel core batupasir di dalam sebuah tabung hassler dengan tekanan tinggi yang dipanaskan pada rentang suhu 28 hingga 36 derajat celcius. CO2 superkritis dipilih karena kemampuannya untuk meniru kondisi penyimpanan bawah permukaan pada kedalaman lebih dari 800 meter. Pengukuran resistivitas dilakukan dengan menggunakan alat ukur geolistrik empat elektroda. Hasil pengukuran menunjukan adanya peningkatan resistivitas batupasir selama proses injeksi. Peningkatan resistivitas ini diindikasi oleh perubahan nilai tegangan dan arus yang diukur pada sampel batuan, menunjukkan perubahan sifat fisik batuan terkait dengan penyerapan CO2. Temuan ini memberikan wawasan penting tentang interaksi antara CO2 superkritis dan batupasir, serta implikasinya terhadap potensi penyimpanan CO2 jangka panjang dalam formasi batupasir. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman mendalam tentang dinamika penyimpanan CO2 dalam batupasir, mendukung pengembangan teknologi Carbon Capture Storage (CCS) yang lebih efektif dan aman.
PEMODELAN ZONA POTENSI LIKUEFAKSI DENGAN METODE GEOLISTRIK 2D DI TALANGEMPAT DAN SEKITARNYA, KABUPATEN BENGKULU TENGAH, BENGKULU
Kualitas karakteristik tanah menjadi salah satu peranan penting agar terhindar dari kerusakan dan bencana, seperti bencana likuefaksi. Fenomena likuefaksi dipicu oleh gempabumi sehingga menyebabkan tanah kehilangan kekuatannya. Likuefaksi seringkali terjadi pada endapan yang bersifat urai, lepas, dan belum terkonsolidasi. Area penelitian melintasi Kecamatan Talangempat, Bengkulu Tengah terletak pada zona rawan aktivitas kegempaan dan tersusun atas endapan lepas lempung lanauan – pasir. Penyelidikan tanah sebagai investigasi awal perencanaan dapat dilakukansebagai bentuk mitigasi likuefaksi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menjadi langkah awal dalam penyelidikan tanah untuk menentukan potensi daerah yang tidak mengalami likuefaksi. Penelitian menggunakan metode geolistrik untuk menentukan litologi dan metode geoteknik untuk mengetahui factor of safety (FS) dari nilai cyclic stress ratio (CSR) dan cyclic resistance ratio (CRR) untuk analisis potensi likuefaksi yang terjadi pada daerah penelitian. Hasil analisis menunjukkan lintasan geolistrik L-01 berpotensi mengalami likuefaksi 100%, L-02, berpotensi sebesar 68,75%., L-03 sebesar 62,5%, dan L-04, potensi likuefaksi sebesar 62,5%. jenis litologi yang tersusun pada daerah penelitian merupakan alluvium (14-54 ?.m), pasir tersaturasi (2- 7,6 ?.m), dan lempung (2-7,6 ?.m).