📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 146 dokumen

PENILAIAN KESESUAIAN INTENSITAS PEMANFAATAN RUANG TERHADAP DAYA DUKUNG TANAH (STUDI KASUS: JAKARTA UTARA)

Penurunan muka tanah merupakan ancaman kritis bagi kawasan perkotaan pesisir, yang diperparah oleh faktor antropogenik berupa tingginya intensitas pembangunan dan beban bangunan makro di atas lapisan tanah lunak. Regulasi rencana tata ruang pada umumnya belum mengintegrasikan aspek geo-lingkungan, khususnya daya dukung tanah, dalam pengaturan intensitas pemanfaatan ruang, sehingga berpotensi menimbulkan ketidaksesuaian antara arahan pemanfaatan ruang dan kapasitas tanah. Kota Administrasi Jakarta Utara dipilih sebagai kasus studi karena merepresentasikan kawasan bertanah lunak dengan tekanan pembangunan tinggi, sekaligus telah memiliki Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Provinsi DKI Jakarta Tahun 2022 sebagai acuan intensitas pemanfaatan ruang yang dapat diuji kesesuaiannya. Penelitian ini bertujuan menilai kesesuaian rencana intensitas pemanfaatan ruang dalam RDTR tersebut terhadap nilai daya dukung tanah di wilayah kajian. Metode yang digunakan adalah metode campuran bersifat eksploratif-evaluatif dengan pendekatan fisik dan geo-lingkungan, melalui teknik desk study terhadap data sekunder spasial dan teknis tanah yang diolah dengan analisis deskriptif kualitatif, spasial, dan kuantitatif. Analisis batas nilai intensitas difokuskan pada zona-zona yang berkaitan langsung dengan tekanan aktivitas manusia, seperti zona peruntukan industri, perumahan, dan zona lainnya. Hasil analisis menunjukkan bahwa mayoritas tekanan bangunan aktual di Jakarta Utara tidak melampaui daya dukung tanah, meski masih terdapat beberapa bangunan yang melebihinya. Sementara itu, evaluasi terhadap ketentuan RDTR Provinsi DKI Jakarta Tahun 2022 menunjukkan bahwa batas lantai maksimal yang ditetapkan justru melebihi kemampuan tanah. Kedua temuan ini menunjukkan bahwa arahan intensitas ruang dalam RDTR DKI Jakarta Tahun 2022 belum sepenuhnya selaras dengan kapasitas geo-lingkungan wilayah terkait, sehingga direkomendasikan peninjauan kembali ketentuan intensitas pemanfaatan ruang yang diintegrasikan langsung berbasis zonasi daya dukung tanah untuk memitigasi risiko penurunan muka tanah yang lebih masif.

2026
👤 Penulis: Tara Saria Jemima Manurung
🏷️ Geologi 🏷️ Manajemen Ruang 🏷️ Analisis Deskriptif

STUDI GEOLOGI DAN GEOKIMIA FLUIDA PANAS BUMI DAERAH CIATER, KABUPATEN SUBANG, PROVINSI JAWA BARAT

Sistem Panas Bumi Ciater merupakan salah satu daerah prospek untuk pengembangan pemanfaatan energi panas bumi secara langsung (direct use). Meskipun demikian, pemahaman mengenai karakteristik sistem dan sumber dayanya masih memerlukan studi lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik sistem dan mengestimasi potensi sumber daya panas bumi di daerah Ciater. Metode penelitian meliputi integrasi data pemetaan geologi dan geokimia fluida panas bumi yang diperoleh dari Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara, dan Panas Bumi (PSDMBP-ESDM). Integrasi kedua data tersebut menjadi dasar pengembangan model konseptual Sistem Panas Bumi Ciater. Litologi daerah penelitian yang berkembang sejak fase Pra-Sunda hingga Tangkuban Parahu Muda dari tua ke muda tersusun atas Satuan Basalt Pilotaksitik (35%), Satuan Basalt Vesikular (15%), serta tuf litik dan tuf gelas Satuan Piroklastik (50%). Struktur geologi dominan berorientasi timur laut-barat daya (NE-SW) yang mengontrol permeabilitas reservoir dan jalur migrasi fluida ke permukaan. Sistem Panas Bumi Ciater berasosiasi dengan sistem utama Gunung Tangkuban Parahu. Zona upflow Sistem Panas Bumi Ciater berada di area selatan, sementara zona outflow berada di area utara. Manifestasi panas bumi di daerah penelitian berupa mata air panas. Fluida hidrotermal dominan berasal dari air meteorik lokal yang mendapat pengaruh gas magmatik Tangkuban Parahu. Air panas Ciater bertipe klorida-sulfat tidak setimbang (immature water). Sistem Ciater diklasifikasikan sebagai sistem entalpi sedang dengan estimasi temperatur reservoir 170±10? berdasarkan diagram pencampuran SiO2. Dengan estimasi sumber daya spekulatif sebesar 25±5 MWe berdasarkan metode hilang panas alamiah, sistem ini berpotensi untuk dikembangkan dalam pemanfaatan panas bumi secara langsung (direct use).

2026
👤 Penulis: Emeralda Putri Andini
🏷️ Geologi 🏷️ Geokimia Fluida Panas Bumi 🏷️ Manajemen Sumber Daya Alam

GEOLOGI DAN PEMODELAN RESERVOIR STATIS 3D PADA FORMASI UPPER GABUS, LEMBU TREND COMPLEX, CEKUNGAN NATUNA BARAT

Kompleks Tren Lembu merupakan akumulasi gas-kondensat dan minyak bumi dengan struktur dan stratigrafi kompleks yang terletak di Cekungan Natuna Barat berumur Tersier, Indonesia. Secara administratif, Lapangan Lembu terletak pada Kepulauan Natuna, provinsi Kepulauan Riau, Indonesia dengan luas ±220 km². Lapangan ini dicirikan oleh heterogenitas reservoir yang tinggi dan kompartementalisasi struktural pada beberapa blok sesar. Penelitian ini berfokus pada Formasi Gabus Atas dengan tujuan untuk membangun model reservoir statis 3D yang valid dan mengestimasi nilai Gas Initially In Place (GIIP) secara akurat guna memitigasi ketidakpastian bawah permukaan. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa log tali kawat, seismik (3D), dan deskripsi keratan bor dan batuan inti. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data sumur termasuk korelasi stratigrafi sekuen dan analisis petrofisik; analisis data seismik; dan pemodelan reservoir yang meliputi analisis fasies dan lingkungan pengendapan, pembuatan model struktur tiga dimensi, pemodelan petrofisika, penentuan kontak hidrokarbon-air, dan perhitungan cadangan hidrokarbon. Hasil dari penerapan metode tersebut menghasilkan gambaran kondisi geologi dan jumlah cadangan hidrokarbon. Analisis struktural menunjukkan bahwa perangkap berupa antiklin berarah Barat-Timur yang dibatasi oleh sesar normal berarah NNW-SSE. Perhitungan volumetrik menghasilkan nilai probabilistik GIIP P50 sebesar 46 BCF untuk reservoir Lembu Peteng dan 29 BCF untuk reservoir Ibu Lembu. Penelitian ini juga memberikan data perhitungan volumetrik yang direkomendasikan sebagai sumur baru yaitu sebesar 21 BCF untuk reservoir Kakak Lembu, 27 BCF untuk reservoir Adik Lembu, dan 14 BCF Paman Lembu.

2026
👤 Penulis: Galilea Steven Jordan
🏷️ Geologi 🏷️ Pemodelan Reservoir 3D 🏷️ Analisis Struktural

PERANCANGAN INTERIOR PUSAT INFORMASI GEOPARK CILETUH-PALABUHANRATU BERBASIS EDUKASI INTERAKTIF SEBAGAI STRATEGI KONSERVASI

Geopark Ciletuh-Pelabuhanratu merupakan kawasan geowisata berkelas internasional dengan nilai geologi, biologi, dan budaya yang tinggi. Status UNESCO Global Geopark (UGGp) yang disandang telah mendorong peningkatan signifikan pada pariwisata. Keistimewaan geologis yang memperlihatkan formasi batuan kuno di Jawa Barat serta fenomena amfiteater alam raksasa yang muncul akibat proses tektonik yang rumit membuat Geopark Ciletuh-Palabuhanratu menjadi destinasi yang berkembang pesat. Meskipun Geopark Ciletuh-Pelabuhan Ratu telah menjadi destinasi unggulan, infrastruktur edukasi yang ada masih minim dan cenderung konvensional, sehingga tidak berhasil membangun pemahaman yang menyeluruh tentang konsep Geopark (konservasi, edukasi, dan pembangunan berkelanjutan) di kalangan pengunjung dan stakeholder lokal. Penelitian ini bertujuan untuk merancang interior pusat informasi Geopark Ciletuh- Pelabuhanratu yang tidak hanya memberikan informasi tetapi juga menciptakan pengalaman dengan pendekatan edukasi yang interaktif sehingga dapat memperkuat hubungan pengunjung dengan konteks geologi dan budaya kawasan. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif, melibatkan studi literatur terkait UGGp dan penyampaian informasi yang interaktif. Dengan demikian, pusat informasi ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyampaian informasi tetapi juga sebagai wadah untuk meningkatkan kesadaran terkait konservasi. Perancangan ini diharapkan dapat menjembatani kesenjangan pengetahuan, kepuasan pengunjung dan memastikan perkembangan ekonomi lokal selaras dengan upaya perlindungan warisan alam Geopark Ciletuh-Palabuhanratu di masa mendatang.

2026
👤 Penulis: Faisal Irdiansyah
🏷️ Geologi 🏷️ Pendidikan Publik 🏷️ Konservasi Alam

PEMBANGUNAN DASHBOARD KOMUNITAS TSUNAMI READY IOC-UNESCO DI INDONESIA

Indonesia merupakan negara dengan tingkat risiko tsunami yang sangat tinggi karena posisinya berada di pertemuan empat lempeng tektonik besar dan memiliki lebih dari 12.000 desa pesisir. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.013 desa dan kelurahan tergolong dalam zona bahaya tsunami tinggi serta 5.331 desa dan kelurahan berada pada zona bahaya tsunami sedang. Meskipun program TRRP dari IOC-UNESCO telah diluncurkan untuk meningkatkan kesiapsiagaan komunitas pesisir, baru sekitar 22 komunitas yang memperoleh pengakuan resmi. Keterbatasan platform pemantauan terpadu menjadi salah satu faktor lambatnya proses rekognisi terhadap 12 indikator yang terbagi dalam kategori Assessment, Preparedness, dan Response. Capstone Project ini bertujuan membangun dashboard Komunitas Tsunami Ready IOC-UNESCO di Indonesia yang mampu mengintegrasikan data geospasial, statistik kependudukan, jalur evakuasi, serta dokumen verifikasi indikator dalam satu platform berbasis web. Dashboard ini dirancang untuk memfasilitasi tiga peran utama, yaitu masyarakat umum sebagai konsumen informasi kebencanaan, perangkat desa/kelurahan pesisir sebagai pengunggah bukti pemenuhan indikator, dan verifikator nasional sebagai pihak yang memvalidasi seluruh dokumen yang masuk secara realtime. Selain itu, dashboard juga menyajikan otomatisasi peta bahaya tsunami, estimasi jumlah penduduk terpapar, perhitungan bangunan terdampak per tingkat risiko, serta pemetaan jalur evakuasi menuju TES dan TEA berdasarkan koordinat yang diinput oleh perangkat desa. Pengujian dilakukan menggunakan metode Black Box Testing dan UAT pada pengguna umum yang berhasil dilakukan. Hasil pengujian menunjukkan seluruh fitur utama berfungsi sesuai spesifikasi dengan tingkat penerimaan pengguna yang tinggi. Dashboard ini diharapkan dapat mempercepat proses rekognisi Tsunami Ready dan meningkatkan literasi kebencanaan masyarakat pesisir Indonesia.

2026
👤 Penulis: Fathan Faishal Sudrajat
🏷️ Geologi 🏷️ Komunikasi Kebencanaan 🏷️ Desa Pesisir

PEMBANGUNAN DASHBOARD KOMUNITAS TSUNAMI READY IOC-UNESCO DI INDONESIA

Indonesia merupakan negara dengan tingkat risiko tsunami yang sangat tinggi karena posisinya berada di pertemuan empat lempeng tektonik besar dan memiliki lebih dari 12.000 desa pesisir. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.013 desa dan kelurahan tergolong dalam zona bahaya tsunami tinggi serta 5.331 desa dan kelurahan berada pada zona bahaya tsunami sedang. Meskipun program TRRP dari IOC-UNESCO telah diluncurkan untuk meningkatkan kesiapsiagaan komunitas pesisir, baru sekitar 22 komunitas yang memperoleh pengakuan resmi. Keterbatasan platform pemantauan terpadu menjadi salah satu faktor lambatnya proses rekognisi terhadap 12 indikator yang terbagi dalam kategori Assessment, Preparedness, dan Response. Capstone Project ini bertujuan membangun dashboard Komunitas Tsunami Ready IOC-UNESCO di Indonesia yang mampu mengintegrasikan data geospasial, statistik kependudukan, jalur evakuasi, serta dokumen verifikasi indikator dalam satu platform berbasis web. Dashboard ini dirancang untuk memfasilitasi tiga peran utama, yaitu masyarakat umum sebagai konsumen informasi kebencanaan, perangkat desa/kelurahan pesisir sebagai pengunggah bukti pemenuhan indikator, dan verifikator nasional sebagai pihak yang memvalidasi seluruh dokumen yang masuk secara realtime. Selain itu, dashboard juga menyajikan otomatisasi peta bahaya tsunami, estimasi jumlah penduduk terpapar, perhitungan bangunan terdampak per tingkat risiko, serta pemetaan jalur evakuasi menuju TES dan TEA berdasarkan koordinat yang diinput oleh perangkat desa. Pengujian dilakukan menggunakan metode Black Box Testing dan UAT pada pengguna umum yang berhasil dilakukan. Hasil pengujian menunjukkan seluruh fitur utama berfungsi sesuai spesifikasi dengan tingkat penerimaan pengguna yang tinggi. Dashboard ini diharapkan dapat mempercepat proses rekognisi Tsunami Ready dan meningkatkan literasi kebencanaan masyarakat pesisir Indonesia.

2026
👤 Penulis: Nabila Nurhaliza Ramdhan
🏷️ Geologi 🏷️ Komunikasi Kebencanaan 🏷️ Desa Pesisir

STUDI GEOLOGI DAN MINERALISASI TIMAH DAN UNSUR TANAH JARANG PADA ENDAPAN PRIMER DI DAERAH TANJUNG GUNUNG, KABUPATEN BANGKA TENGAH, PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Pulau Bangka dikenal memiliki potensi endapan timah primer dan unsur tanah jarang (UTJ), namun keterkaitan antara keduanya masih belum diteliti secara mendalam. Penelitian berlokasi pada daerah Tanjung Gunung, Kecamatan Pangkalan Baru, Kabupaten Bangka Tengah, dalam IUP PT Timah Tbk. dengan luas sekitar 12 km2. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kondisi geologi beserta kontrolnya terhadap proses alterasi dan mineralisasi, menganalisis karakteristik geokimia granitoid, serta mengidentifikasi zona alterasi, karakteristik, dan persebaran mineralisasi timah dan UTJ di daerah penelitian. Data dikumpulkan melalui pemetaan lapangan pada 79 titik observasi, kemudian diintegrasikan dengan analisis petrografi, mineragrafi, X-Ray Fluorescence (XRF), X-Ray Diffraction (XRD), dan Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry (ICP-MS). Secara geomorfologi, daerah penelitian diklasifikasikan menjadi dua satuan berupa Satuan Perbukitan Struktural Tanjung Gunung dan Satuan Dataran Denudasional Tanjung Gunung. Daerah penelitian tersusun atas empat satuan batuan, yaitu metabatupasir, batupasir, granit, dan endapan aluvial. Berdasarkan data geokimia, granit terbentuk akibat kolisi Blok Sibumasu dengan Sukhothai Arc–Indochina pada Trias Akhir–Jura Awal yang menghasilkan intrusi granitoid tipe-S peraluminous yang dikonfirmasi oleh nilai A/CNK sebesar 1,28 dan posisi sampel pada field syn-collision granites. Karakteristik geokimia granitoid dicirikan oleh pengayaan LREE, anomali negatif Eu, serta deplesi Ba, Sr, P, dan Ti yang mencerminkan evolusi magmatik lanjut. Struktur geologi didominasi oleh sesar mendatar menganan berarah NW-SE yang mengontrol bukaan rekahan tarik NNW-SSE sebagai jalur utama migrasi fluida hidrotermal. Lima zona alterasi teridentifikasi dengan urutan pembentukan dari fase suhu tinggi ke rendah berupa albitisasi, greisenisasi, serisitisasi, argilisasi, dan silisifikasi, dengan zona greisenisasi sebagai target paling prospektif mineralisasi timah. Mineralisasi timah primer hadir dalam empat tipe struktur berupa diseminasi, single vein, sheeted vein, dan lode vein berarah dominan NNW-SSE hingga WNW-ESE yang terbentuk dalam tiga fase paragenesis berupa fase magmatik, hidrotermal, dan supergen. Mineralisasi UTJ bersumber dari mineral aksesori berupa monasit, apatit, dan zirkon, dengan pengayaan maksimum yang terkonsentrasi di dalam zona albitisasi.

2026
👤 Penulis: A. Zaky Aditya
🏷️ Geologi 🏷️ Mineralisasi Timah 🏷️ Hidrologi

ANALISIS LINGKUNGAN PENGENDAPAN DAN KARAKTERISTIK BATUBARA PADA PIT LASKAR SEMESTA ALAM (LSA), KECAMATAN PARINGIN, KABUPATEN BALANGAN, KALIMANTAN SELATAN

Formasi Warukin merupakan salah satu formasi pembawa batubara utama di Cekungan Barito yang memiliki potensi sumber daya besar, sehingga diperlukan pemahaman mengenai kondisi geologi, lingkungan pengendapan, dan karakteristik batubara guna mendukung pengelolaan sumber daya secara optimal. Penelitian ini dilakukan pada area Pit LSA dengan luas sekitar 6,1 km² yang termasuk dalam wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP) milik PT Laskar Semesta Alam, Kecamatan Paringin, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kondisi geologi di lokasi penelitian, serta mengidentifikasi lingkungan pengendapan dan karakteristik batubara di lokasi penelitian. Untuk memetakan kondisi geologi daerah penelitian digunakan data observasi singkapan serta data lubang bor, kemudian data pengukuran penampang stratigrafi untuk analisis litofasies dalam penentuan lingkungan pengendapan batubara. Data lubang bor juga digunakan untuk korelasi lubang bor, sedangkan data hasil uji proksimat dan ultimat batubara lapisan A dan B digunakan untuk analisis kualitas dan peringkat batubara. Lokasi penelitian terdiri atas empat satuan batuan tidak resmi dari tua ke muda yaitu, satuan batugamping, satuan batulempung, satuan batulempung batupasir, dan satuan batupasir, dengan struktur geologi berupa antiklin tipe steeply inclined horizontal fold (Fleuty, 1964) dan sesar naik interpretatif. Batubara di lokasi penelitian diendapkan pada lingkungan transitional lower delta plain dengan asosiasi fasies channel, crevasse splay, interdistributary bay dan swamp. Karakteristik lapisan batubara A dan B dengan kadar abu rata-rata sekitar 1,36 %adb yang termasuk kategori sangat rendah (ISO 11760, 2005), serta kadar sulfur rata-rata sekitar 0,10 %adb yang termasuk kategori rendah (Chou, 2012). Berdasarkan ASTM D388-19a (2019), lapisan batubara A dan B termasuk kategori peringkat Subbituminous C Coal dengan nilai kalori rata-rata sebesar 9.180,21 btu/lb sekitar 21,35 MJ/kg.

2026
👤 Penulis: Rizka Sabrina Rianty
🏷️ Geologi 🏷️ Manajemen Sumber Daya Mineral 🏷️ Hidrologi

GEOLOGI, ALTERASI, DAN MINERALISASI ENDAPAN TIMAH PRIMER DI DAERAH TANJUNG GUNUNG, KECAMATAN PANGKALAN BARU, KABUPATEN BANGKA TENGAH, PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Daerah Tanjung Gunung, Bangka Tengah, termasuk dalam Granit Klabat yang merupakan bagian dari Southeast Asian Tin Belt dan berasosiasi dengan sistem greisen pembawa mineralisasi timah primer. Salah satu aspek penting dalam eksplorasi endapan timah primer adalah kajian alterasi dan mineralisasi. Penelitian ini dilakukan di Daerah Tanjung Gunung, Kecamatan Pangkalan Baru, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, pada wilayah izin usaha pertambangan (IUP) PT Timah Tbk. Penelitian bertujuan mengidentifikasi geologi, geomorfologi, struktur geologi, alterasi dan mineralisasi, serta asosiasi unsur Sn. Metode penelitian meliputi pemetaan geomorfologi, geologi, dan zona alterasi pada 43 titik pengamatan, pemerian lima titik bor, analisis sayatan tipis dan sayatan poles pada sampel representatif, analisis x-ray fluorescence (XRF) terhadap 29 sampel batuan singkapan untuk menghasilkan interpolasi inverse distance weighting (IDW) dan peta kadar timah, serta analisis inductively coupled plasma-mass spectrometry/optical emission spectrometry (ICP-MS/OES) pada 10 sampel batuan induk untuk analisis korelasi Pearson. Satuan geomorfologi terbagi menjadi empat satuan, yaitu Dataran Aluvial, Dataran Denudasional, Punggungan Sesar, dan Dataran Antropogenik. Daerah penelitian tersusun atas empat satuan batuan, yaitu metabatupasir, batupasir, granit, dan endapan aluvial. Zona alterasi terdiri atas zona greisen (muskovit + kuarsa + serisit + turmalin), zona serisitisasi (serisit + kuarsa ± mineral lempung), zona silisifikasi (kuarsa + serisit), dan zona argilik (kaolinit + kuarsa + montmorilonit). Peta kadar timah menunjukkan kadar tertinggi pada satuan granit dan metabatupasir dengan arah sebaran NNW–SSE. Hasil analisis korelasi Pearson menunjukkan bahwa W dan Li memiliki korelasi positif kuat dengan Sn sehingga dapat dijadikan unsur asosiasi dalam eksplorasi timah.

2026
👤 Penulis: Wenny Yusvicka
🏷️ Geologi 🏷️ Mineralisasi Endapan Timah Primer 🏷️ Analisis Alterasi

GEOLOGI DAN KONTROL STRUKTUR TERHADAP ALTERASI DAN MINERALISASI DI DAERAH SUMBERMANJING WETAN DAN SEKITARNYA, KABUPATEN MALANG, PROVINSI JAWA TIMUR

Daerah penelitian terletak di Kecamatan Sumbermanjing Wetan dan sekitarnya, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi geologi, zona alterasi dan mineralisasi, serta peran kontrol struktur geologi terhadap distribusi alterasi dan mineralisasi. Metode yang digunakan meliputi pemetaan geologi lapangan permukaan, analisis petrografi, mineragrafi, Analytical Spectral Device (ASD), dan Assay. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah penelitian didominasi oleh batuan hasil proses vulkanisme berumur Oligosen–Miosen yang tersusun atas Satuan Breksi Vulkanik, Andesit Hornblende, Tuf Kristal, Breksi Hidrotermal, dan Batupasir Gampingan dengan tipe alterasi termasuk ke dalam sistem epitermal. Kondisi geologi daerah penelitian dikontrol oleh empat sistem sesar, yaitu sesar geser mengiri berarah Timurlaut – Baratdaya, sesar geser menganan berarah Baratlaut – Tenggara, sesar turun berarah Utara – Selatan, dan sesar turun berarah Timur – Barat. Zona alterasi yang berkembang terdiri dari zona dangkal berupa zona klorit ± smektit ± kuarsa dan zona silisifikasi, serta zona yang lebih dalam meliputi zona klorit ± epidot ± kuarsa, zona ilit ± kaolinit ± kuarsa, zona pirofilit ± alunit ± kuarsa, dan zona dikit ± kaolinit ± kuarsa. Satuan Batupasir Gampingan tidak ditemukan alterasi diduga karena pembentukannya lebih muda dari periode aktif sistem hidrotermal. Mineralisasi yang berkembang berupa pirit, kalkosit, kalkopirit, kovelit, dan enargit dengan tekstur diseminasi, setempat, serta pengisian pada rekahan. Analisis kontrol struktur menunjukkan bahwa alterasi dan mineralisasi dikontrol oleh kombinasi struktur geologi dan litologi. Sesar geser mengiri berarah Timurlaut – Baratdaya, sesar geser menganan berarah Baratlaut – Tenggara, dan sesar turun berarah Utara – Selatan yang membentuk sistem conjugate berperan sebagai sesar syn-mineralisasi, sedangkan sesar turun berarah Timur – Barat yang berumur relatif paling muda merupakan sesar post-mineralisasi.

2026
👤 Penulis: Muh. Alfan Sakti Hidayat
🏷️ Geologi 🏷️ Alterasi Mineralisasi 🏷️ Struktur Geologi

IDENTIFIKASI INTENSITAS ARUS LINTAS INDONESIA (ARLINDO) PADA PERIODE MID HOLOCENE BERDASARKAN FORAMINIFERA PLANKTONIK DAN GRAIN SIZE DI PERAIRAN SANGATTA

Periode Mid Holocene merupakan fase transisi iklim yang memengaruhi dinamika sirkulasi laut wilayah tropis, termasuk jalur utama Arus Lintas Indonesia (Arlindo). Perubahan intensitas Arlindo ini berdampak langsung pada distribusi panas dan stratifikasi kolom air di perairan Indonesia. Namun, bukti dan rekaman detail mengenai fluktuasi intensitas Arlindo pada periode Mid Holocene di Selat Makassar masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi intensitas Arlindo serta hubungannya dengan suhu permukaan laut (SPL), suhu termoklin laut (STL), depth of thermocline (DOT), dan sortable silt di sekitar Selat Makassar, khususnya Perairan Sangatta. Metode yang digunakan yaitu analisis SPL dan STL, penentuan DOT, analisis kelimpahan relatif spesies foraminifera planktonik berdasarkan habitatnya, serta pengukuran grain size pada inti sedimen TR1926B. Hasil penelitian menunjukkan pada awal periode Mid Holocene sekitar 8.000 – 7.000 tahun lalu (thl), kondisi yang mengindikasikan intensitas Arlindo menguat ditandai dengan SPL yang menghangat hingga 29,11 °C dan STL 23,98 °C sehingga terjadi pendalaman DOT. Hal ini didukung dengan meningkatnya nilai sortable silt hingga 28,8 dan log Zr/Rb mencapai 0,24 yang merepresentasikan penguatan energi kinetik arus yang memicu proses winnowing. Ketika akhir periode Mid Holocene sekitar 6.000 – 5.000 thl, indikasi intensitas Arlindo melemah ditunjukkan dengan penurunan SPL hingga 28,30 °C dan STL sebesar 22,54 °C, terjadi pendangkalan DOT, serta penurunan nilai sortable silt yang mencapai 23,5 dan log Zr/Rb hingga 0,10. Fluktuasi ini juga didukung oleh jumlah kelimpahan relatif spesies foraminifera planktonik mixed layer dweller lebih dominan sekitar 61,9% dibandingkan thermocline dweller sekitar 38,1% yang menunjukkan kondisi Perairan Sangatta pada periode Mid Holocene didominasi oleh mixed layer depth yang tebal dan DOT yang dalam. Dapat disimpulkan bahwa intensitas Arlindo di Perairan Sangatta berfluktuasi yang berkaitan dengan perubahan monsun tenggara akibat perubahan parameter orbital insolasi selama periode Mid Holocene.

2026
👤 Penulis: Daffa Zettira Mazdhania
🏷️ Hidrologi 🏷️ Klimatologi 🏷️ Geologi

STUDI PARAMETRIK PENGARUH KEDALAMAN GALIAN, KELAS SITUS, DAN RASIO GEOMETRI TERHADAP PLANE STRAIN RATIO (PSR) DINDING PENAHAN TANAH PADA KASUS GALIAN DALAM UNTUK KONSTRUKSI TEROWONGAN PEJALAN KAKI

Analisis galian dalam umumnya disederhanakan dengan model dua dimensi (2D) berasumsi plane strain, namun pendekatan ini mengabaikan efek kekangan sudut (corner effect) sehingga menghasilkan prediksi deformasi dan gaya dalam yang konservatif. Untuk mengkuantifikasi pengaruh perilaku tiga dimensi tersebut, digunakan konsep Plane Strain Ratio (PSR) yang diperkenalkan oleh Ou et al. (1996). Penelitian ini bertujuan memberikan validasi PSR yang lebih komprehensif pada galian skala kecil berupa terowongan pejalan kaki, dengan meninjau pengaruh kedalaman galian (????????), kelas situs, dan rasio geometri (B/L) terhadap empat parameter respons: deformasi lateral dinding, penurunan tanah di belakang dinding, momen lentur, dan gaya geser. Analisis dilakukan menggunakan PLAXIS 2D dan PLAXIS 3D dengan model konstitutif Soft Soil dan Hardening Soil, pada variasi dua kelas situs (SD dan SE), tiga kedalaman galian (7.25 m; 11.5 m; 14.5 m), dan enam rasio geometri (B/L = 0.1; 0.25; 0.4; 0.5; 0.75; 1.0) dengan lebar galian konstan B = 9.2 m. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio geometri (B/L) merupakan parameter paling dominan; pada galian persegi (B/L = 1.0), efek tiga dimensi sangat signifikan dengan rata-rata efisiensi desain mencapai 91% untuk deformasi lateral, 78% untuk momen lentur, 76% untuk gaya geser, dan 96% untuk penurunan tanah. Kedalaman galian dan kelas situs berpengaruh lebih kecil, di mana tanah lebih kaku (SD) menghasilkan PSR lebih tinggi dibandingkan tanah lunak (SE). Pola perubahan PSR pada galian skala kecil konsisten dengan temuan galian skala besar, dan kriteria ????/???????? > 6 (Finno et al., 2007) tetap valid sebagai batas konservatif untuk memprediksi kondisi mendekati plane strain.

2026
👤 Penulis: Sky Lee
🏷️ Geologi 🏷️ Analisis Struktur Tanah 🏷️ Teknik Pengeboran

GEOLOGI DAN POTENSI SUMBERDAYA BATUBARA DAERAH MUARA WAHAU DAN SEKITARNYA, KECAMATAN MUARA WAHAU, KABUPATEN KUTAI TIMUR, PROVINSI KALIMANTAN TIMUR.

Daerah penelitian terletak di Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur, pada koordinat 453636,67 – 457514,53 mT dan 130000 – 133672,36 mT (UTM) dengan luas 13,22 km2. Penelitian mencakup pemetaan geologi skala 12.500, perhitungan sumberdaya batubara, dan analisis proksimat batubara yang bertujuan untuk mengetahui tatanan geologi, hubungan kondisi geologi dengan karakteristik batubara, dan potensi sumberdaya batubara baik secara kualitas maupun kuantitas. Daerah penelitian merupakan perbukitan yang disertai rawa pada lembahnya. Sungai Embung merupakan sungai utama yang berada di bagian barat dengan arah aliran relatif utara -selatan. Bagian timur daerah penelitian tersusun atas batulempung gampingan disertai sisipan batugamping bioklastik, dengan pola kedudukan singkapan yang menunjukan kehadiran antiklin sedangkan bagian baratnya tersusun atas batupasir disertai sisipan batulempung dan batubara, dengan pola kedudukan singkapan yang menunjukan kehadiran sinklin. Selain itu, tatanan geologi daerah penelitian dipengaruhi juga oleh kehadiran sesar mendatar dan breksi laharik yang memperlihatkan kontak erosional dengan batupasir dan batulempung gampingan. Secara umum, batubara di daerah penelitian berwarna hitam, kilap minyak – kusam, gores hitam kecoklatan, pecahan choncoidal – irregular, dan tergolong dalam Sub – Bituminous B (ASTM , 1993) dengan tebal 0,21 m – 4,43 m. Batubara hadir sebagai sisipan pada batupasir dengan lapisan atap dan alasnya berupa batulempung. Berdasarkan perbedaan karakter fisik (warna, kilap, gores, & pecahan) dan kemenerusannya, perlapisan batubara terbagi atas tiga perlapisan batubara/seam yang persebarannya dikontrol oleh lipatan/sinklin, sesar mendatar dan faktor stratigrafi. Dengan menggunakan Metode Circular USGS (United States Geological Survey), didapatkan jumlah sumberdaya batubara terukur sebesar 2.276.820,784 ton dan tertunjuk sebesar 10.245.644,83 ton.

2026
👤 Penulis: Cipta Fakar Nurahman
🏷️ Geologi 🏷️ Sumberdaya Batubara 🏷️ Analisis Proksimat

ANALISIS SPASIAL WILAYAH TERDAMPAK TSUNAMI BERDASARKAN VARIASI MODEL GEMPA DI JAWA BARAT SELATAN

Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara dengan pertemuan empat lempeng tektonik besar, yaitu lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, lempeng Pasifik dan lempeng Filipina. Tugas Akhir ini mengambil studi kasus pada zona subduksi Jawa. Jika disekitar lokasi pertemuan lempeng tersebut akumulasi energi terkumpul sampai suatu titik dimana lapisan bumi tidak lagi sanggup menahan tumpukan energi tersebut. Maka dapat menyebabkan pelepasan energi berupa pergerakan kerak bumi dan mungkin dapat mengakibatkan bencana gempa bumi, tsunami dan pemicu aktifnya gunung berapi. Dalam penulisan Tugas Akhir ini lebih membahas tentang mitigasi bencana tsunami dengan beberapa variasi model gempa zona subduksi Jawa Barat Selatan pemicu tsunami. Lokasi sumber gempa tepatnya pada pada koordinat 105° 03’ 22.70” BT dan 08° 16’ 21.32” LS pada kedalaman 10 kilometer dari permukaan air. Penulisan Tugas Akhir ini dilakukan dengan melalui beberapa metode diantaranya menentukan variasi model gempa, melakukan simulasi tsunami, menganalisis secara spasial dampak tsunami hasil simulasi. Dalam simulasi tsunami ini digunakan perangkat lunak tsunami yang dibuat oleh Mamoru Nakamura dari Universitas Ryukyus, Jepang. Dengan metode-metode tersebut didapatkan suatu informasi mitigasi bencana tsunami berupa tinggi maksimum tsunami dan area genangan tsunami yang didasarkan pada variasi model gempa dan pemodelan tsunami pada perangkat lunak simulasi. Hasil penulisan Tugas Akhir ini juga dapat digunakan sebagai informasi peringatan dini tsunami.

2026
👤 Penulis: Ilman Dea R
🏷️ Geologi 🏷️ Mitigasi Bencana Tsunami 🏷️ Simulasi Geofisika

ANALISIS KARAKTERISTIK PENYEBAB DAN DAMPAK PENURUNAN PERMUKAAN TANAH DI WILAYAH JAKARTA

Penurunan tanah (land subsidence) adalah suatu fenomena alam yang telah cukup lama terjadi di beberapa tempat di wilayah Jakarta. Dalam periode 1982 sampai 1997, penurunan tanah sebesar 20 sampai 200 cm telah dideteksi oleh metode survei sipat datar (leveling). Dari 1997 sampai 2007, metode survei GPS (Global Positioning System) menunjukkan bahwa penurunan tanah di wilayah Jakarta terus berlangsung, dengan laju maksimum sekitar 10-15 cm/tahun di wilayah Jakarta Utara bagian Barat. Metode InSAR (Interferometric Synthetic Aperture Radar) yang berbasiskan pada citra dari satelit radar, menunjukkan bahwa dalam periode Januari sampai November 2007, penurunan tanah di wilayah Jakarta dengan laju sekitar 10 cm/tahun terjadi di banyak tempat di wilayah Jakarta Utara dan Jakarta Pusat. Secara umum penurunan tanah di wilayah Jakarta bervariasi secara spasial maupun temporal, dan disebabkan oleh kombinasi dari pengambilan airtanah yang berlebihan, beban bangunan, kompaksi sedimen, serta aktivitas tektonik. Tugas akhir ini menjelaskan karakteristik, penyebab dan dampak penurunan tanah di wilayah Jakarta, serta korelasinya dengan kondisi tata guna lahan, kedudukan muka air tanah dan kondisi demografi.

2026
👤 Penulis: Ginanjar Puja Lestari
🏷️ Geologi 🏷️ Analisis Perubahan Tanah 🏷️ Manajemen Lahan
Halaman 1 dari 10
💬