📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 22 dokumenSTUDI GEOLOGI DAN APLIKASI PEMBELAJARAN MESIN (UNSUPERVISED MACHINE LEARNING) UNTUK CLUSTERING PROFIL NIKEL LATERIT, DAERAH HALMAHERA TIMUR, MALUKU UTARA
Permintaan nikel kian meningkat karena perkembangan teknologi baterai dan kendaraan listrik. Indonesia memegang posisi krusial dalam pasar nikel dunia yang didukung oleh cadangan nikel yang besar. Walaupun demikian, eksplorasi nikel tetap membutuhkan banyak tenaga manusia dan memakan waktu. Salah satu tahap krusial dalam eksplorasi nikel adalah pembuatan domain profil nikel laterit yang bergantung pada data geokimia. Tahap ini rentan terhadap bias, kesalahan manusia, dan inefisiensi. Untuk menanggulangi tantangan ini, pembelajaran mesin dapat diaplikasikan sebagai alat untuk membuat domain nikel laterit. Dalam penelitian ini, studi geologi dan algoritma K-means digunakan untuk membuat tiga domain (limonit, saprolit, dan batuan dasar) pada sebuah endapan nikel laterit di Halmahera Timur dengan 745 data bor. Studi geologi meliputi pengambilan sampel batuan, analisis geomorfologi, interpretasi struktur geologi, dan analisis sayatan tipis. Pra-pemrosesan data meliputi transformasi Yeo-Johnson, scaling, dan Principal Component Analysis (PCA) untuk menormalisasi data dan mengurangi efek outlier. Within-cluster sum of squares, skor silhouette, dan confusion matrix digunakan sebagai indikator performa. Model pembelajaran mesin berhasil mencapai akurasi keseluruhan 81% relatif terhadap logging manual. Akurasi tinggi ditemukan pada zona limonit karena ciri khas geokimia dan pemisahan yang tegas oleh PCA, sedangkan akurasi rendah pada batuan dasar mencerminkan kondisi yang sebaliknya. Hasil pada studi ini mengimplikasikan bahwa pembelajaran mesin bersama studi geologi memiliki potensi kuat untuk membantu geolog dalam melakukan eksplorasi endapan nikel laterit.
ESTIMASI SUMBER DAYA NIKEL LATERIT MENGGUNAKAN METODE GEOSTATISTIK ORDINARY KRIGING DI DAERAH SOROWAKO, KABUPATEN LUWU TIMUR, PROVINSI SULAWESI SELATAN
Kompleksitas dan variabilitas geologi yang sangat tinggi pada endapan nikel laterit menuntut adanya metode estimasi sumber daya yang valid dan terintegrasi dengan kontrol geologi guna meminimalkan risiko ketidakakuratan. Penelitian ini dilaksanakan di area Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT Vale Indonesia Tbk, Blok Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, dengan luas area kurang lebih 0,7 km². Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik endapan nikel laterit, melakukan pemodelan geologi tiga dimensi, dan menentukan estimasi jumlah sumber daya nikel laterit menggunakan Metode Geostatistik Ordinary Kriging. Penelitian ini mengintegrasikan data primer berupa struktur lapangan dan petrografi serta sekunder berupa data bor, topografi, dan DEM. Pengolahan diawali dengan mendeliniasi domain geologi (limonit, saprolit, dan batuan dasar) menggunakan Leapfrog Geo 5.1. Setelah domain tervalidasi secara statistik, pemodelan variogram dan estimasi blok model dilakukan menggunakan metode geostatistik pada Isatis.neo-mining 2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik endapan nikel laterit di area kajian memiliki batuan dasar berupa peridotit (lherzolit dan harzburgit) serta dunit, di mana proses laterisasinya sangat dikontrol oleh topografi dan struktur geologi. Secara geokimia, pelindian intensif unsur mobile memicu pengayaan residu unsur immobile pada zona limonit serta pengayaan supergen yang mengonsentrasikan unsur ekonomis pada zona saprolit. Berdasarkan pemodelan Ordinary Kriging, total sumber daya nikel pada zona limonit (cut-off grade 0,8%) mencapai 7,16 juta ton, yang terdiri dari kategori terukur sebesar 5,41 juta ton, tertunjuk 840 ribu ton, dan tereka 909 ribu ton. Sementara itu, total sumber daya pada zona saprolit (cut-off grade 1,5%) adalah sebesar 2,76 juta ton, dengan klasifikasi terukur 597 ribu ton, tertunjuk 1,02 juta ton, dan tereka 1,13 juta ton.
STUDI PENDAHULUAN UNTUK INVENTARISASI POTENSI UNSUR TANAH JARANG PADA ENDAPAN DI PULAU BELITUNG, PROVINSI KEP. BANGKA BELITUNG
Unsur tanah jarang (UTJ), dapat dijumpai pada berbagai jenis endapan, merupakan salah satu unsur yang sangat penting untuk menunjang perkembangan teknologi di permukaan bumi ini. Mineral yang mengandung unsur tanah jarang terdapat sebagai mineral ikutan pada komoditas utama, salah satunya timah aluvial, yang mempunyai peluang untuk diusahakan sebagai produk sampingan yang dapat memberikan nilai tambah dari seluruh potensi bahan galian. Namun, masih sedikit penelitian yang membahas mengenai inventarisasi potensi unsur tanah jarang pada endapan plaser di Indonesia, terutama di Pulau Belitung. Penelitian ini bertujuan untuk mendata sebaran potensi unsur tanah jarang yang berasal dari endapan plaser di Pulau Belitung serta menentukan strategi eksplorasi yang akan dilakukan terhadap potensi unsur tanah jarang di Pulau Belitung agar dapat dikembangkan dan dikelola dengan baik. Pengambilan sampel dilakukan pada 34 titik sampel yang direduksi menjadi 20 titik sampel representatif mengikuti aliran sungai purba di Pulau Belitung. Sampel dianalisis menggunakan metode perhitungan butir yang bertujuan untuk mendapatkan persentase berat mineral dan metode Inductively Coupled Plasma – Mass Spectrometry (ICP–MS) yang bertujuan untuk mendapatkan kadar unsur tanah jarang. Berdasarkan analisis ICP– MS, diperoleh potensi unsur tanah jarang di Pulau Belitung lebih terkayakan pada unsur tanah jarang ringan pada endapan plaser dibandingkan pada endapan primer. Analisis mineral butir menunjukkan sebaran potensi unsur tanah jarang di Pulau Belitung berada pada daerah Kecamatan Sijuk (arah baratlaut Pulau Belitung), Kecamatan Kalapa Kampit meluas kearah Kecamatan Damar hingga Kecamatan Gantung bagian atas (arah timurlaut ke arah timur Pulau Belitung), dan Kecamatan Membalong bagian bawah (arah baratdaya Pulau Belitung).
STUDI PEMODELAN GEOLOGI 3D DAN ESTIMASI SUMBER DAYA TERUKUR NIKEL LATERIT DENGAN METODE INVERSE DISTANCE WEIGHT (IDW) DI AREA TAMBANG X, DAERAH POMALAA, KABUPATEN KOLAKA, SULAWESI TENGGARA
Nikel merupakan komoditas dengan permintaan global yang terus meningkat. Permintaan yang terus tumbuh menyebabkan perlu suatu tahapan untuk memperkirakan potensi sumber daya nikel baru di suatu wilayah. Salah satu tahapan penting tersebut adalah pemodelan zona endapan dan estimasi sumber daya nikel laterit. Penelitian ini bertujuan untuk memahami karakteristik geologi dan zona endapan nikel laterit, melakukan pemodelan geologi 3D zona laterit berdasarkan karakteristiknya, serta mengestimasi sumber daya terukur nikel laterit di area penelitian yang berlokasi di Pomalaa, Sulawesi Tenggara. Data yang digunakan adalah data pengamatan singkapan, sayatan tipis batuan dasar, topografi orisinil hasil akuisisi LiDAR, dan inti bor. Endapan nikel laterit di lokasi penelitian terdiri atas empat zona utama, yaitu tanah pucuk, limonit, saprolit, dan batuan dasar. Keempat zona ini menunjukkan kemenerusan geologi yang baik. Batuan dasar terdiri dari harzburgit, lherzolit, dunit, dan serpentinit. Pengayaan nikel tertinggi ditemukan pada zona limonit dan saprolit dengan kemenerusan kadar yang baik. Pemodelan geologi 3D dan pemodelan blok dilakukan di area penelitian. Model 3D dibangun dengan mengorelasikan empat domain utama laterit berdasarkan data titik bor. Domain limonit serta saprolit dari model 3D ditransformasikan menjadi blok-blok kubus dalam pemodelan blok yang kemudian diisi dengan interpolasi kadar Ni menggunakan metode Inverse Distance Weight (IDW). Nilai power optimal masing-masing sebesar 3 untuk limonit dan 4 untuk saprolit. Estimasi kadar nikel dibatasi oleh nilai cut-off grade (COG), yaitu 1,2% untuk domain limonit dan 1,5% untuk domain saprolit. Hasil estimasi menunjukkan bahwa domain limonit memiliki sumber daya terukur sebesar 1,42 juta ton dengan kadar rata-rata nikel 1,36%, sedangkan domain saprolit memiliki sumber daya terukur sebesar 1,84 juta ton dengan kadar rata-rata nikel 1,86%.
STUDI VISKOSITAS BATUAN HASIL ALTERASI HIDROTERMAL DAN PEMODELAN 3D-NYA PADA PIT PURNAMA, BATANGTORU, TAPANULI SELATAN, SUMATRA UTARA
Proses ekstraksi emas melalui metode pelindian sering kali menghadapi kendala akibat sifat fisik batuan yang diolah, salah satunya adalah tingginya viskositas batuan. Viskositas batuan yang tinggi setelah menjadi slurry menyebabkan penurunan efisiensi pemisahan partikel emas dengan gangue. Permasalahan tersebut terdapat pada daerah penelitian, yaitu di Pit Purnama, salah satu pit pada Tambang Emas Martabe yang dikelola oleh PT Agincourt Resources dan terletak di Kecamatan Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatra Utara. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi geologi, sebaran alterasi, serta zona alterasi yang berpotensi memiliki viskositas tinggi. Metode yang digunakan meliputi pemetaan geologi, analisis petrografi, analisis ASD (Analytical Spectral Device), uji viskositas menggunakan viskometer, analisis XRD (X-ray Diffraction), serta rekonstruksi model tiga dimensi secara implisit menggunakan perangkat lunak Leapfrog Geo. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa daerah penelitian terdiri dari tujuh satuan batuan, yaitu Satuan Batulanau, Satuan Lava Andesit, Satuan Breksi Volkanik, Satuan Breksi Diatrema A, Satuan Breksi Diatrema B, Satuan Kubah Lava Andesit Hornblenda, Satuan Breksi Hidrotermal. Struktur geologi yang berkembang di daerah penelitian terdiri dari sesar geser menganan berarah barat laut–tenggara dan sesar geser mengiri timur laut–barat daya. Alterasi yang terdapat di daerah penelitian, yaitu zona smektit - klorit, zona illit ± kaolinit ± illit - smektit, zona kuarsa - dikit ± kaolinit, dan zona kuarsa - alunit ± dikit ± kaolinit. Hasil uji viskositas menunjukkan bahwa nilai rata-rata pada masing-masing zona alterasi adalah sebagai berikut: zona smektit–klorit sebesar 37,6 cP, zona illit ± kaolinit sebesar 217,7 cP, zona kuarsa–dikit ± kaolinit sebesar 31,8 cP, dan zona kuarsa–alunit ± dikit ± kaolinit sebesar 23,2 cP. Dengan demikian, zona alterasi yang berpotensi menghasilkan batuan dengan viskositas tinggi adalah zona illit ± kaolinit.
ANALISIS SPASI DATA PADA SUMBER DAYA BAUKSIT MENGGUNAKAN PENDEKATAN GLOBAL ESTIMATION VARIANCE DI PT XYZ, TAYAN, KALIMANTAN BARAT
Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah ruah. Indonesia tercatat memiliki tiga sumber daya alam terbesar di dunia yang salah satunya adalah bauksit.Indonesia bahkan tercatat memiliki sumber daya bauksit berupa bijih sebanyak 7.475.842.602 ton dengan total cadangan berbentuk bijih sebanyak 2.777.981.035 ton. Dengan jumlah yang sangat melimpah ini, bauksit akan dapat menghasilkan olahan berupa aluminium. Aluminium sendiri tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, karena aluminium adalah bahan dasar untuk beberapa elemen penting dalam kebutuhan primer, sekunder, maupun tersier manusia seperti kerangka bangunan, kendaraan, hingga alat makan. Dalam eksplorasinya, seringkali spasi lubang bor yang dibuat untuk tiap klasifikasi sumber daya bersifat terlalu rapat atau terlalu jauh, ini membuat eksplorasi bersifat tidak optimum baik dari segi akurasi maupun biaya. Penelitian tugas akhir ini bertujuan untuk menganalisis spasi data menggunakan metode data spacing analysis (DSA) dengan pendekatan global estimation variance (GEV) untuk menentukan spasi data optimum untuk tiap klasifikasi sumber daya berdasarkan nilai relative error-nya. Penelitian tugas akhir ini menghasilkan kesimpulan bahwa untuk sumber daya bauksit terukur di daerah penelitian memiliki spasi data optimum sebesar 35 m, tertunjuk sebesar 60 m, dan terukur sebesar 110 m berdasarkan skenario 1 dan 60 m, 110 m, dan 150 m berdasarkan skenario 2.
ANALISIS SPASI LUBANG BOR (DHSA) MENGGUNAKAN PENDEKATAN VARIANSI ESTIMASI GLOBAL (GEV) PADA SUMBER DAYA NIKEL LATERIT DI POMALAA, KABUPATEN KOLAKA, SULAWESI TENGGARA
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan spasi lubang bor optimal pada eksplorasi sumber daya nikel laterit di Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, menggunakan pendekatan drill hole spacing analysis (DHSA) berbasis global estimation variance (GEV). Penelitian dilakukan pada area seluas 36 ha dengan data 491 lubang bor dan 10.804 sampel assay, yang mencakup tiga litologi utama yaitu limonit (LIM), saprolit (SAP), dan bedrock (BRK). Data diolah melalui validasi, compositing, variografi, dan diskritisasi, dengan perhitungan GEV dilakukan untuk konfigurasi spasi 25 m, 50 m, 75 m, 100 m, 125 m, dan 150 m pada model 2D. Tingkat kepercayaan geologi ditentukan berdasarkan deviasi absolut kadar nikel (Ni) pada domain saprolit (SAP) dengan rata-rata 1.5%, di mana kadar 0.05% dari rata-rata dikategorikan sebagai sumber daya measured, 0.1% sebagai indicated, dan 0.2% sebagai inferred, yang kemudian dikonversi menjadi batas error relatif masing-masing 3.33% untuk measured, 6.67% untuk indicated, dan 13.33% untuk inferred. Hasil analisis menunjukkan spasi lubang bor optimal adalah 25 m untuk kategori measured, 50 m untuk indicated, dan 100 m untuk inferred, dengan fokus pada domain SAP yang memiliki error relatif terbesar. Implementasi DHSA melibatkan evaluasi data lubang bor dan simulasi geostatistik untuk meningkatkan akurasi estimasi.
ANALISIS KOMPARATIF PROBABILITAS PEMENUHAN BATASAN PASOKAN, BIAYA PENAMBANGAN, DAN KELAYAKAN EKONOMI: STUDI KASUS METODE PENAMBANGAN KONVENSIONAL DAN SELECTIVE MINING UNTUK KEBUTUHAN SMELTER BIJIH NIKEL RKEF
Permintaan global terhadap bijih nikel laterit terus meningkat seiring pertumbuhan industri kendaraan listrik dan smelter bijih nikel. Namun, variabilitas kadar nikel dalam endapan laterit menimbulkan tantangan besar dalam pemenuhan spesifikasi teknis smelter. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara komparatif metode penambangan konvensional dan selective mining pada tambang nikel laterit di Indonesia, dengan fokus pada probabilitas pemenuhan spesifikasi kadar nikel minimum untuk kebutuhan smelter bijih nikel, total biaya penambangan, serta profitabilitas proyek nikel laterit. Karakteristik geologi endapan nikel laterit yang sangat heterogen, serta keberadaan elemen pengotor seperti rasio SiO?/MgO, menjadi tantangan utama dalam menjaga konsistensi dan kualitas pasokan bijih. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data sekunder dari wilayah IUP PT XYZ di Pulau Gebe, Maluku Utara. Evaluasi probabilitas pada metode konvensional dilakukan melalui simulasi Monte Carlo untuk memodelkan distribusi kadar nikel. Estimasi biaya dilakukan berdasarkan pendekatan berbasis aktivitas penambangan, sedangkan profitabilitas sesuai dengan kelayakan ekonomi dianalisis menggunakan metode Discounted Cash Flow (DCF) dengan parameter Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Payback Period (PBP). iii Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode selective mining memiliki probabilitas pemenuhan kadar Ni ? 1,6% yang lebih tinggi dan risiko penalti kualitas yang lebih rendah dibandingkan metode konvensional. Meskipun biaya penambangan selective mining lebih tinggi (USD 21,41/ton) dibandingkan metode konvensional (USD 20,81/ton), metode selective mining mencatat revenue USD 43,980,000 dan net income ±USD 13,3 juta/tahun, sedangkan metode konvensional dengan revenue USD 28,920,000 dan net income ±USD 4,4 juta/tahun, metode selective mining menghasilkan nilai NPV sebesar USD 63,273,311 dan IRR sebesar 24,4% dengan periode pengembalian investasi (PBP) selama 1 tahun 8 bulan. Sebaliknya, metode konvensional menghasilkan NPV sebesar USD 37,207,819 dan IRR sebesar 12,57% dengan PBP selama 3 tahun 7 bulan. Dengan demikian, metode selective mining dinilai lebih unggul secara teknis dan ekonomis, serta direkomendasikan sebagai strategi penambangan yang lebih berkelanjutan dan sesuai dalam memenuhi kebutuhan spesifik smelter nikel laterit.
PENDEKATAN MANAJEMEN EKSPLORASI YANG EFEKTIF DAN EFISIEN UNTUK MENDUKUNG STUDI GEOLOGI PADA PROSPEK SORI HIU DI DAERAH KECAMATAN HU'U DAN SEKITARNYA, NUSA TENGGARA BARAT
Prospek Sori Hiu merupakan endapan sistem porfiri sulfidasi tinggi, berdasarkan hasil penyelidikan eksplorasi sebelumnya data dari lubang bor VHD020 menunjukkan mineralisasi tembaga (Cu) sebesar 0,17% pada kedalaman 604-803m dan emas (Au) sebesar 0,3 ppm pada kedalaman 614-803m. Namun, lokasi ini menghadapi berbagai tantangan, seperti aksesibilitas yang buruk, kondisi komunikasi yang terbatas, topografi perbukitan curam, serta kendala logistik dan risiko keselamatan yang perlu dikelola untuk keberlanjutan eksplorasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengatasi masalah manajemen eksplorasi yang belum efektif di Sori Hiu dengan fokus utama adalah untuk menyeimbangkan aspek teknis, biaya, perizinan, lingkungan, dan sosial, serta menerapkan teknologi modem guna mendukung kegiatan studi geologi. Manajemen eksplorasi yang dilakukan sebelumnya dianggap belum efektif dengan bukti dijumpai beberapa faktor penghambat kegiatan eksplorasi yang terdiri dari aspek keselamatan kerja, aspek perencanaan dan pelaksanaan operasional, aspek teknis pemboran, aspek sumber daya manusia, peralatan dan perlengkapan yang digunakan. Oleh karena itu peningkatan kinerja manajemen eksplorasi sangat penting dalam mengelola risiko teknis maupun non-teknis yang dapat mempengaruhi jadwal kegiatan, biaya dan tujuan itu sendiri. Dalam mendukung studi geologi, dilakukan pengumpulan data-data lapangan yang terdiri dari: pengambilan data singkapan dan struktur geologi dengan metode lintasan kompas dan GPS; pengambilan data conto tanah dan conto batuan dengan menggunakan metode grid dan grab sampling; pengambilan data conto lubang bor dengan metode pengeboran inti dan analisis laboratorium dengan menggunakan metode fire assay-atomic absorption spectoroscopy dan four acid digest/ICP-OES. Dengan dilakukannya pendekatan manajemen eksplorasi yang efektif dan efisien untuk mendukung kegiatan pengambilan data tambahan di prospek Sori Hiu maka telah terbukti bahwa selama kegiatan eksplorasi berlangsung tidak dijumpai adanya kecelakaan kerja yang serius yang dapat menghambat kegiatan operasional pemboran, meningkatkan efektivitas persiapan dan pelaksanaan pembangunan infrastruktur dan kegiatan operasional berjalan sesuai dengan rencana tata waktu, dapat mengelola kegiatan teknis pemboran dalam mengatasi masalah gagal mencapai target kedalaman, waktu dan biaya, serta meningkatkan tingkat kepercayaan pengambilan data bor dengan didukungnya peralatan yang lengkap dan modem. Mineralisasi prospek Sori Hiu dijumpai dilubang bor HDE24-005 yang memotong mineralisasi sepanjang 284m @ 0,18% Cu dan 0,15 git Au di kedalaman 131- 415m, prospek ini memberikan peluang signifikan untuk eksplorasi lebih lanjut didukung dengan pendekatan manajemen eksplorasi dalam penelitian geologi dapat membuka jalan bagi pengembangan sumber daya mineral yang berharga di kawasan tersebut.
APLIKASI PENGGUNAAN DATA CITRA RADAR DAN TERMAL UNTUK KARAKTERISASI SEBARAN NIKEL LATERIT DI KOLAKA (SULAWESI TENGGARA)
Isu lingkungan terkait dekarbonisasi untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, khususnya dari sektor transportasi, telah mendorong beberapa negara maju untuk mendorong percepatan transisi penggunaan kendaraan berbahan bakar fosil ke kendaraan berbasis listrik. Hal ini memicu peningkatan industri kendaraan listrik, yang berimbas pada peningkatan permintaan nikel sebagai salah satu bahan baku utama baterai kendaraan berbasis listrik. Sebagai produsen nikel laterit terbesar di dunia, Indonesia membutuhkan metode eksplorasi yang efektif dan efisien untuk meningkatkan produksi nikel laterit dalam rangka memenuhi rantai pasokan global bahan baku baterai kendaraan listrik. Namun, eksplorasi nikel laterit di Indonesia memiliki banyak tantangan antara lain; keterbatasan akses jalan, medan yang berat dan padat, vegetasi yang lebat serta tidak semua area eksplorasi memiliki data geologi atau geokimia yang memadai. Untuk mengatasi masalah tersebut, digunakan penggabungan metode antara Pengindraan jauh aktif dengan Advanced Land Observing Satellite Phased Array Type L Band Synthetic Aperture Radar (ALOS PALSAR) dan Pengindraan jauh pasif dengan Land Satellite 8 Thermal InfraRed Sensors (LANDSAT 8 TIRS). Data ALOS PALSAR, mampu memberikan parameter fisis, yang diturunkan dari metode Magnetic and dielectric from polarimetric SAR (mdPSAR) untuk kemudian digabungkan dengan parameter temperatur permukaan dari LANDSAT 8 TIRS, untuk mengkarakterisasi sebaran nikel laterit di Kabupaten Kolaka, Kecamatan Pomalaa, Provinsi Sulawesi Tenggara. Parameter fisis dari ALOS PALSAR yakni relatif permeabilitas magnetik, dan relatif permitivitas dielektrik sangat penting untuk mendeteksi target geologi di permukaan. Setiap jenis fitur geologi, dapat dibedakan berdasarkan rentang nilai relatif permeabilitas magnetik, dan relatif permitivitas dielektrik, sehingga parameter ini digunakan untuk mengkarakterisasi nikel laterit khususnya mineral hematit (Fe2O3) sebagai mineral penciri zona nikel laterit paling atas dengan kandungan kadar nikel yang rendah atau disebut limonit. Parameter temperatur permukaan digunakan untuk membantu karakterisasi mineral hematit (Fe2O3) yang berkaitan dengan tingkat pelapukan batuan induk. Hasil korelasi antara nilai data citra radar dan nilai data sampel lapangan dalam mengkarakterisasi sebaran nikel laterit, memiliki hasil positif dengan kisaran koefisien determinasi sebesar 0,8. Zona limonit secara umum dapat dikarakterisasi pada nilai permeabilitas magnetik rendah ? 21,04, permitivitas dielektrik rendah ? 0,53, kekasaran permukaan rendah ? 5,84 cm., dan temperatur permukaan yang tinggi ? 21,71oC.
OPTIMASI DATA RESISTIVITAS, GEORADAR DAN DATA PENGEBORAN INTI UNTUK PEMODELAN ENDAPAN NIKEL LATERIT DI POMALAA SULAWESI TENGGARA
Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan penggunaan metode Resistivitas dan Ground Penetrating Radar (GPR) dalam memetakan sebaran laterit nikel di Prospek Pomalaa, Sulawesi Tenggara. Konfigurasi yang digunakan adalah dipoledipole untuk metode resistivitas dan antena GPR dengan frekuensi 25 MHz. Pengukuran dilakukan pada 16 lintasan, terdiri dari 11 lintasan di Bukit XIV dan 5 lintasan di Bukit IV LS, dengan panjang lintasan bervariasi antara 950 hingga 1400 meter. Spasi elektroda sebesar 10 meter digunakan, dengan panjang bentangan maksimum 470 meter untuk mencapai kedalaman target hingga 80 meter. Data resistivitas diproses menggunakan metode Robust Inversion, sementara data GPR diolah melalui tahapan Static Correction, Subtract Mean (dewow), Automatic Gain Control (AGC), Band Pass Filter, Background Removal, dan FK Filter. Sebagai data pendukung, digunakan 84 data bor yang tersebar di sepanjang lintasan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa zona laterit nikel dapat diidentifikasi melalui variasi nilai resistivitas. Zona limonit memiliki resistivitas 40–450 ohm.m, zona saprolit memiliki resistivitas <150 ohm.m, dan zona batuan dasar memiliki resistivitas >450 ohm.m. Korelasi antara data resistivitas dan data bor menunjukkan kesesuaian yang signifikan, memperkuat validitas metode ini dalam eksplorasi nikel laterit. Hasil interpretasi lapisan limonit dan saprolit menunjukkan potensi penebalan laterit nikel di Bukit XIV, dengan estimasi ketebalan lapisan mencapai 60–70 meter ke arah barat. Sebaliknya, hasil pemodelan di Bukit IV LS menunjukkan ketebalan lapisan laterit hanya <10 meter. Hasil korelasi nilai resistivitas dengan kandungan MgO pada kode Bor PML4239 menunjukkan korelasi meningkatnya konsentrasi MgO menyebabkan rendahnya nilai resistivitas yang disebabkan oleh MgO yang berasosiasi dengan mineral serpentin yang bersifat hidrofilik dan sifatnya ini memungkinkan serpentin mengikat air. Penelitian ini memberikan kontribusi signifikan dalam meningkatkan efisiensi dan akurasi eksplorasi nikel laterit di Pomalaa. Metode resistivitas 2D memberikan gambaran bawah permukaan yang lebih jelas dan mendukung perencanaan pemboran dan kegiatan eksplorasi lebih lanjut.
INTEGRASI DATA GEOLOGI, GEOKIMIA, GEOFISIKA (INDUCED POLARIZATION & RESISTIVITY) UNTUK PENENTUAN ZONA POTENSI MINERAL LOGAM DI DAIRI SUMATRA UTARA
Daerah Bukit Dolok Pangkuruhan pada Kabupaten Dairi berdasarkan dari beberapa kegiatan penyelidikan terdahulu oleh Pusat Sumberdaya Mineral, Batubara dan Panas Bumi (PSDMBP) diketahui terdapat daerah prospek mineral logam dan ditemukan adanya kandungan emas yang mengindikasikan adanya proses endapan mineral. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik mineralisasi dan alterasi daerah penelitian, mengidentifikasi serta mengintegrasi data geologi dan geofisika untuk penentuan zona potensi mineral logam di Dairi Sumatra Utara. Metode analisis yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis data hasil pengamatan laboratorium meliputi data petrografi, mineragrafi, X-ray Difraction (XRD) dan Portable Infrared Mineral Analyzer (PIMA) diperoleh hasil pemetaan litologi serta pemetaan alterasi dan mineralisasi. Selain itu, dilakukan analisis statistik geokimia untuk menmperoleh pemetaan kadar unsur logam dan pemetaan zona anomali kadar unsur mineral logam. Metode analisis geofisika diterapkan untuk menghasilkan penampang dari lintasan pengukuran geolistrik induced polarization dan resistivity. Seluruh hasil analisis dari semua metode tersebut kemudian diintegrasikan untuk memberikan gambaran distribusi zona potensi mineralisasi bawah permukaan di daerah penelitian. Satuan batuan pada daerah penelitian terdiri dari 3 satuan litologi yaitu satuan filit, satuan batupasir metasediment dan satuan tufa. Tipe alterasi pada daerah penelitian terdapat alterasi argilik (illite-halloysite-kaolinite), argilik-propilitik (illite-intchlorite), filik (quatrz-phyrite-chlorite) dan filik-silifikasi (quatrz-muscovite-illite). Hasil interpretasi dari mengintegrasikan data geologi, geokimia dan geofisika maka dapat diidentifikasi zona potensi mineral logam terdapat pada lintasan 5 zona prospek (Zn-Pb-Ag) dan lintasan 8 zona prospek (Au-Pb) dengan masing-masing lintasan memiliki nilai chargeability tinggi (107-190 msec) dan nilai resistivity sedang-tinggi (100-31623 ohm.m). Kadar unsur Zn memiliki nilai tertinggi yaitu (11000 ppm), kadar unsur Pb sebesar (2324-4753 ppm), kadar unsur Ag memiliki nilai yang terkecil yaitu (10-25 ppm), dan kadar unsur Au sebesar (1525-3 ppm).
KARAKTERISTIK DAN GENESA ENDAPAN BIJIH BESI DAERAH MUANG MET PROVINSI VIENTIANE LAOS
The study was carried out in Muang Met district, Vientiane Province, Laos. Iron ore in Laos is associated with hydrothermal skarn-porphyry systems and is partly found as gossan. There is still a dearth of publications and information about the existence of iron ore in Laos because it has not gotten much attention. On the other hand, iron ore is one of the most precious commodities because of its many uses, which include machinery, weapons, building construction, agricultural tools, and other industrial applications. The purpose of this research is to investigate the geological conditions, including stratigraphy, geological structures, geomorphology, alteration and mineralization characteristics, and the origin of iron ore deposits. Fieldwork mapping, petrographic analysis, mineragraphy, XRD (X-Ray Diffraction), mineral spectral analysis, and XRF (X-Ray Fluorescence) are among the research methods used. The geomorphology of the area is categorized into four units: karst hills, fault block ridges, intrusion hills, and alluvial plains. The stratigraphy is also divided into four rock units: limestone, siltstone-sandstone, andesite, and alluvial deposits. Identified geological structures elements include fractures, folds, and faults. Rock alteration occurs in three distinct zones: kaolinit + quartz, chlorite + quartz, and silicification. Mineralization is divided into two stages: an early stage involving the formation of magnetite, covelite, pyrite, gold and chalcopyrite minerals, followed by a late stage characterized by the presence of iron oxide minerals such as hematite, goethite. The genesis of iron ore deposits comes from the gossan type, which is the oxidation process of primary sulfide minerals to iron oxides. Gossan iron ore is characterized by the massive presence of the iron oxide minerals hematite and goethite, as well as special textures resulting from the oxidation of primary sulfide minerals, namely fine cellular boxwork, cellular sponge boxwork, cleavage boxwork.
STUDI ENDAPAN EPITERMAL SULFIDASI TINGGI PADA PIT RAMBA JORING, TAMBANG EMAS MARTABE, TAPANULI SELATAN, SUMATRA UTARA
Penelitian dilakukan di Pit Ramba Joring yang merupakan salah satu pit di Tambang Emas Martabe milik PT Agincourt Resources yang berada di Desa Aek Pining, Kecamatan Batangtoru, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui kondisi geologi, persebaran alterasi, dan mineralisasi pada daerah penelitian. Metode yang digunakan pada penelitian ini diantaranya analisis megaskopis, analisis ASD (Analytical Spectral Device), uji assay AAS (Atomic Absorption Spectrometry), analisis petrografi, dan mineragrafi. Berdasarkan analisis yang dilakukan, teridentifikasi satuan batuan pada daerah penelitian terdiri dari Satuan Kubah Lava Andesit Hornblenda, Satuan Breksi Diatrema, dan Satuan Breksi Hidrotermal. Berdasarkan pengamatan lapangan, analisis ASD, dan analisis petrografi, dapat diidentifikasi zona alterasi pada daerah penelitian yang terdiri dari zona vuggy quartz, zona kuarsa + alunit, zona kuarsa ± pirofilit ± alunit ± dikit, zona kuarsa ± illit ± smektit ± kaolinit, dan zona smektit ± klorit Paragenesis mineralisasi daerah penelitian terdiri dari tahap epitermal sulfidasi tinggi dan tahap supergen. Tahap epitermal sulfidasi tinggi ditandai dengan kehadiran pirit dan kalkopirit yang terdiseminasi serta mengisi rongga batuan dan tahap supergen ditandai dengan kehadiran mineral kovelit dan mineral besi oksida. Berdasarkan analisis assay AAS, kadar emas di daerah penelitian mencapai 8,92 ppm.
KONTROL STRUKTUR TERHADAP ALTERASI DAN MINERALISASI PADA ENDAPAN EPITERMAL SULFIDASI RENDAH DI DAERAH MANTIKULORE, KOTA PALU, SULAWESI TENGAH
Pemahaman terkait pengaruh struktur geologi terhadap alterasi dan mineralisasi dapat menjadi faktor penentu dalam eksplorasi sumber daya mineral. Daerah penelitian berada di Daerah Mantikulore, Kota Palu, Sulawesi Tengah dengan luas sebesar 51,5 km² dan berada dalam wilayah kontrak karya PT Citra Palu Minerals. Daerah Mantikulore diketahui memiliki endapan emas epitermal sulfidasi rendah berdasarkan karakteristik alterasi dan mineralisasinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi geologi beserta pengaruh struktur geologi terhadap persebaran alterasi dan mineralisasi di daerah penelitian. Data yang digunakan dalam penelitian berasal dari pemetaan lapangan dan 52 sampel batuan yang kemudian digunakan untuk analisis petrografi, mineragrafi, atomic absorption spectroscopy (AAS), analytical spectral device (ASD), dan analisis struktur geologi. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa daerah penelitian terdiri dari tujuh satuan batuan, yaitu Satuan Sekis Amfibolit, Genes Biotit, Intrusi Granit, Intrusi Granodiorit, Intrusi Syenit, Endapan Molase, dan Endapan Aluvial. Struktur geologi yang berkembang di daerah penelitian dikelompokan menjadi sesar geser menganan berarah NE-SW dan E-W, sesar geser mengiri berarah NW-SE, sesar turun berarah NW-SE, dan sesar naik berarah NE-SW. Adapun alterasi yang terdapat di daerah penelitian meliputi zona kaolinit ilit (kaolinit – ilit ± kuarsa ± alunit), zona smektit (smektit – ilit ± kuarsa ± kalsit), zona epidot klorit (epidot – klorit ± kuarsa ± kalsit), zona klorit (klorit ± kuarsa ± epidot ± kalsit), dan zona silisifikasi. Mineralisasi di daerah penelitian terkonsentrasi pada urat kuarsa yang memiliki kehadiran Au, Ag, Cu, pirit, dan kalkopirit. Alterasi dan mineralisasi di daerah penelitian menunjukan karakteristik endapan epitermal sulfidasi rendah yang dikontrol oleh keberadaan tiga zona urat kuarsa berarah NW-SE, yaitu Zona Urat Sungai Pondoh, Zona Urat Bukit 1, dan Zona Urat Bukit 2. Ketiga zona urat ini terbentuk oleh adanya sesar-sesar normal berarah NW-SE yang menjadi jalur keluarnya fluida hidrotermal daerah penelitian.