📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 6 dokumenANALISIS KESTABILAN LERENG BATUAN PADA TAMBANG TERBUKA DENGAN MENGGUNAKAN METODE KESETIMBANGAN BATAS DAN KLASIFIKASI MASSA BATUAN PADA PIT “X”, KABUPATEN BARITO UTARA, KALIMANTAN TENGAH, PT PAMAPERSADA NUSANTARA
Lereng merupakan komponen penting dalam pertambangan terbuka. Dalam hal ini, pada Pit “X” yang terletak pada Cekungan Barito pada Formasi Tanjung perlu dilakukan analisis dalam mengoptimalkan kegiatan penambangan dan menjamin keselamatan. Perlu adanya analisis kestabilan lereng dalam pelaksanaannya sehingga pertambangan dapat aman. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi geologi, karakterisasi massa batuan, mengetahui potensi jenis longsoran pada lereng, dan menganalisis Faktor Keamanan (FK) lereng, serta memberikan rekomendasi optimisasi pada lereng. Metode penelitian yang mencakup pemetaan lapangan, survei talipindai, Rock Mass Rating (RMR), Slope Mass Rating (SMR), analisis kinematik, dan metode kesetimbangan bata menggunakan perangkat lunak Slide2. Pemodelan dengan menggunakan kriteria keruntuhan Generalized Hoek-Brown. Hasil analisis menunjukkan bahwa daerah penelitian tersusun atas satuan batulanau A, satuan batupasir, satuan batulempung A, satuan batulanau B, dan satuan batulempung B. Kualitas massa batuan berdasarkan nilai RMR pada setiap lereng memiliki kelas III (fair rock) dengan rentang 46,826 sampai dengan 52,812. Potensi longsoran pada lereng bervariasi antara wedge sliding, oblique toppling, dan planar sliding. Sementara nilai SMR pada setiap lereng memiliki nilai 43,023 sampai 53,869 dengan klasifikasi kelas III (normal) dengan stabilitas yang dikategorikan sebagai partially stable. Dalam analisis metode kesetimbangan batas didapatkan bahwa penampang A-A’, C-C’, dan E-E’ highwall memiliki kondisi tidak aman pada kondisi jenuh sepenuhnya, sementara penampang B-B’, D-D’, dan E-E’ lowwall memiliki kondisi yang aman. Nilai FK yang ada mengharuskan lereng dioptimisasi agar dapat lebih aman dan ekonomis dalam penambangannya. Rekomendasi yang dilakukan dengan mengubah bentuk geometri, mengubah sudut, dan menambah lereng tunggal pada area pertambangan.
ANALISIS SPASI LUBANG BOR UNTUK EVALUASI SUMBER DAYA BATUBARA SEAM X CEKUNGAN TARAKAN, KABUPATEN BERAU, PROVINSI KALIMANTAN TIMUR
Klasifikasi sumber daya berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) berfungsi sebagai pedoman dalam klasifikasi sumber daya batubara di Indonesia. Penentuan klasifikasi ini mempertimbangkan tingkat kompleksitas geologi serta konfigurasi geometri pengeboran yang direpresentasikan melalui jarak antar lubang bor. Seiring berkembangnya ilmu geologi dalam industri eksplorasi pertambangan, diperlukan kajian lanjutan untuk memahami lebih mendalam pengaruh kompleksitas geologi, terutama jika dikaitkan dengan parameter kuantitatif seperti ketebalan lapisan batubara, serta parameter kualitatif yang mencakup ash, calorific value, fixed carbon, total moisture, total sulfur, dan volatile matter. Rata-rata jarak lubang bor yang sudah ada digunakan sebagai variabel utama dalam menganalisis distribusi data pengeboran. Kompleksitas geologi di wilayah penelitian dikategorikan sebagai kompleksitas sederhana, yang memungkinkan klasifikasi sumber daya sebagai sumber daya terukur berdasarkan jarak antar lubang bor yang telah tersedia. Untuk mengevaluasi jarak optimal lubang bor pada Seam X, digunakan metode global estimation variance (GEV) yang didasarkan pada prinsip geostatistik. Dalam analisis ini, estimasi dilakukan dengan pendekatan blok dua dimensi berukuran 100×100 m, 200×200 m, 300×300 m, 400×400 m, 500×500 m, 1000×1000 m, dan 1500×1500 m. Perhitungan GEV menghasilkan nilai relative error, yang kemudian dibandingkan dengan kriteria klasifikasi: 0–10% untuk sumber daya terukur, 10–20% untuk sumber daya tertunjuk, dan 20–50% untuk sumber daya tereka. Berdasarkan analisis di daerah penelitian yang termasuk ke dalam Formasi Latih, diperoleh jarak optimal lubang bor sebesar 400 m untuk sumber daya terukur, 600 m untuk sumber daya tertunjuk, dan 1200 m untuk sumber daya tereka. Hasil ini menunjukkan bahwa pendekatan GEV efektif dalam menentukan jarak lubang bor yang tepat untuk masing-masing tingkat kepercayaan sumber daya. Penelitian semacam ini penting untuk mengoptimalkan biaya eksplorasi tanpa mengurangi kualitas informasi geologi yang diperlukan untuk pengambilan keputusan dalam pengelolaan sumber daya batubara.
PEMODELAN AIRTANAH TAMBANG TERBUKA BATUBARA PADA PT XYZ PROVINSI KALIMANTAN SELATAN
Pemodelan airtanah sangat penting dalam mendukung pengambilan keputusan teknis, terutama di daerah pertambangan yang memiliki risiko tinggi terhadap perubahan sistem aliran bawah tanah. Struktur geologi dan aktivitas penambangan batubara metode open pit berperan signifikan dalam memengaruhi pola aliran airtanah. Penelitian ini dilakukan pada wilayah pertambangan batubara open pit di Provinsi Kalimantan Selatan dengan menggunakan pendekatan hidrogeologi, hidrologi, serta kondisi batas hidrogeologi melalui metode finite difference atau metode beda hingga untuk memecahkan persamaan diferensial yang dikenal sebagai model numerik. Hasil simulasi steady state menunjukkan elevasi muka airtanah natural berada pada kisaran -65 m hingga 30 m, dengan nilai kalibrasi Root Mean Square (RMS) dari 11 sumur pantau sebesar 34,2%. Sementara itu, hasil simulasi transient pada kondisi Life Of Mine (LOM) menunjukkan elevasi muka airtanah antara -180 m hingga 45 m. Perubahan tersebut berdampak pada pergeseran pola aliran serta peningkatan groundwater inflow ke dalam Pit G dan Pit K seiring bertambahnya bukaan tambang.
IDENTIFIKASI VOID DENGAN METODE INDEKS SPEKTRAL DAN OBIA MEGGUNAKAN CITRA SENTINEL 2 DI KECAMATAN SATUI, KALIMANTAN SELATAN
Indonesia didominasi dengan metode penambangan terbuka, metode penambangan ini menghasilkan bukaan bekas tambang (void) yang berpotensi menimbulkan dampak negatif pada lingkungan jika tidak dikelola dengan baik. Bukaan bekas tambang harus diidentifikasi sebagai upaya penanggulangan serta perencanaan tambang itu kedepannya. Pada penelitian ini, data yang digunakan merupakan citra satelit Sentinel 2. Data tersebut digunakan untuk mengidentifikasi dan memetakan void serta memvalidasi keberadaan void berdasarkan keberadaan endapan batubara. Void dapat diidentifikasi melalui klasifikasi tutupan lahan dengan menggunakan 2 metode yaitu Index Spectral Analisis dan Object Based Image Analysis. Kedua metode dibandingkan dan didapatkan metode dengan akurasi terbaik yaitu Object Based Image Analysis. Klasifikasi void didasari oleh bentuk dan nilai spektrum, dimana void memiliki elongation dan circularity derajat kebundaran yang unik serta memiliki nilai spektrum NDWI > 0. Keberadaan void kemudian divalidasi kembali berdasarkan kelurusan geologi, kesesuaian bentuk void dan batas WIUP. Penelitian ini mengasilkan 49 void yang berada dalam WIUP dan 9 void berada diluar WIUP. Pemetaan void ini dapat dijadikan bahan acuan dan perencanaan penentuan kebijakan pertambangan kedepannya.
ESTIMASI EROSI TANAH DAN DAMPAKNYA TERHADAP KUALITAS LINGKUNGAN DI TAMBANG NIKEL INDONESIA MELALUI GEO-ENVIRONMENTAL SPATIAL IMAGINARIES
Indonesia memiliki posisi strategis untuk industry nikel baik hulu hingga hilir karena memiliki sumberdaya nikel terbesar di dunia, setara 21 juta ton (22% dari cadangan di dunia). Kegiatan ekstraksi endapan laterit berpotensi menyebabkan perubahan rona lingkungan. Kondisi lingkungan sebagai akibat dari aktivitas pertambangan dapat menyebabkan dampak negatif terutama potensi erosi. Analisa prediksi erosi diperlukan dengan menggunakan metode RUSLE dengan memasukkan berbagai faktor yang berpengaruh, diantaranya disebabkan oleh faktor erosivitas tanah (R), erodibilitas tanah (K), kemiringan lereng (LS), tutupan lahan (C), dan konservasi tanah (P). Berdasarkan analisis spasial dengan menggunakan ArcGIS, diperoleh rentang nilai erosi 0 hingga 401.985 ton per tahun. Akibatnya terdapat potensi pencemaran kandungan logam kromium berada pada rentang 795,7 kilogram/tahun atau sekitar 2,18 kilogram/hari hingga 40.198,5 kilogram/tahun atau 110,13 kilogram/hari. Area yang diprediksi mengalami erosi justru tidak berada di area pertambangan namun di area yang memiliki kemiringan lereng yang cukup ekstrim. Kegiatan reklamasi, revegetasi, maupun geoteknik & hidrologi dapat menjadi solusi untuk menjaga kestabilan lereng.
PREDIKSI LAJU EROSI DAN KUALITAS AIR TAMBANG BERBASIS GIS PENGINDRAAN JAUH UNTUK MENDUKUNG PENGELOLAAN LINGKUNGAN PERTAMBANGAN NIKEL
Kegiatan pertambangan terbuka akan membuka lapisan tanah atas dan juga mengurangi kerapatan vegetasi yang dapat menjadi penyebab meningkatnya laju erosi. Fenomena ini dapat mempengaruhi kualitas air tambang akibat dari terlepasnya partikel tanah yang terbawa oleh air limpasan pada kondisi hujan. Sangat penting untuk bisa memprediksi laju erosi dan juga besarnya debit limpasan. RUSLE-SDR merupakan salah satu metode yang digunakan untuk memprediksi besarnya laju erosi dan sediment yield pada outlet dari catchment area. Laju erosi yang didapatkan bervariasi mulai dari 319.12 ton/tahun hingga 1995.94 ton/tahun. Pengaruh utama laju erosi dari wilayah studi adalah kondisi topografi yang dianalisis melalui uji sensitivitas dengan persentase sensitivitas untuk faktor LS dan P berturut-turut adalah 41.67% dan 41.18%. Selain itu, laju erosi berkontribusi dan mempunyai korelasi terhadap konsentrasi TSS serta Cr6+ dengan nilai rata-rata koefisien determinasi (R2 ) berturut-turut adalah 0.173 dan 0.716. Kecilnya nilai koefisien determinasi ini disebabkan pengukuran TSS akan lebih representatif jika menggunakan perhitungan beban dibandingkan konsentrasi, yang dibuktikan dengan peningkatan nilai R2 dari beban TSS terhadap sediment yield menjadi 0.379. Penelitian ini berguna untuk menentukan pengelolaan erosi yang tepat agar dapat mengurangi beban air tambang di sistem pengolahan dan pengelolaan air tambang yang berkelanjutan.