📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 3 dokumenTINGKAT KEMUDAHAN TAMBANG BERDASARKAN TIPE BONGKAH, RQD DAN SILIKA BEBAS PADA BLOK A, DAERAH ROUTA, KABUPATEN KONAWE, SULAWESI TENGGARA
Dalam pertambangan nikel laterit, tipe bongkah, nilai Rock Quality Designation (RQD), dan kandungan silika bebas merupakan parameter penting dalam kajian geologi teknik untuk menilai kualitas massa batuan, tingkat rekahan, serta kekerasan batuan. Ketiga parameter tersebut berpengaruh terhadap kemudahan penggalian, fragmentasi material, produktivitas alat gali, dan tingkat kemudahan tambang (mineability level). Penelitian ini dilakukan di daerah Routa, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, dengan tujuan menganalisis distribusi tipe bongkah, RQD, dan silika bebas untuk menentukan tingkat kemudahan tambang pada area penelitian. Data yang digunakan meliputi pengamatan geomorfologi lapangan, pengukuran panjang bongkah dan RQD, data assay geokimia dari 408 titik bor, dua sampel petrografi, serta data DEMNAS. Secara umum, profil laterit pada area penelitian terdiri atas zona top soil, limonit, saprolit, dan bedrock. Litologi penyusun daerah penelitian didominasi oleh dunit dan peridotit. Analisis distribusi tipe bongkah, RQD, dan silika bebas pada zona saprolit dilakukan menggunakan metode Inverse Distance Weighted (IDW), sedangkan distribusi kedalaman sumur bor menuju bedrock dianalisis menggunakan metode Triangulated Irregular Network (TIN). Hasil penelitian menunjukkan bahwa area penelitian didominasi oleh tipe bongkah WT3 sebesar 65,7% dan nilai RQD buruk hingga sangat buruk (<50%). Kondisi tersebut mengindikasikan intensitas rekahan yang cukup tinggi. Distribusi silika bebas pada zona saprolit didominasi kandungan SiO? sebesar 35-45%, sehingga tidak menunjukkan adanya pengayaan silika bebas >50%. Secara umum, Blok A masih berpotensi untuk dilakukan penambangan nikel dengan tingkat kemudahan tambang yang baik, meskipun tetap diperlukan kajian lanjutan terkait aspek teknis penambangan lainnya.
ANALISIS KESTABILAN LERENG HIGHWALL AKTUAL DI PIT X, KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA, PROVINSI KALIMANTAN TIMUR
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat produksi batubara Indonesia pada 2023 mencapai 775 juta ton. Angka ini meningkat sebesar 13% dari realisasi produksi pada tahun 2022. Peningkatan produksi ini meningkatkan aktivitas pekerjaan dalam tambang batubara. Dengan begitu area tempat kerja harus sesuai dengan K3L yang berlaku sehingga kestabilan pada lereng tambang menjadi penting. Maksud dari penelitian kali ini adalah mengaplikasikan teori ilmu geologi dan geologi teknik untuk menganalisis kestabilan lereng highwall aktual di Pit X, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur dengan metode klasifikasi massa batuan rock mass rating (RMR) dan slope mass rating (SMR), metode kinematik, dan metode analitik kesetimbangan batas. Survei talipindai dilakukan pada lima lokasi yang memiliki litologi bervariasi antara batubara, batupasir, dan batulempung. Hasil perhitungan dengan metode RMR menunjukkan bahwa lokasi SCP-01, SCP- 03, dan SCP-05 termasuk dalam kelas III (Fair Rock), sedangkan pada SCP-02 dan SCP-04 termasuk ke dalam kelas II (Good Rock). Hasil perhitungan dengan metode SMR menunjukkan bahwa lereng SCP-01, SCP-03, dan SCP-05 termasuk dalam kelas III (Normal/Partially Stable) dengan potensi keruntuhan 40%, sedangkan pada SCP-02 dan SCP-04 termasuk dalam kelas II (Good/Stable) dengan probabilitaas keruntuhan 20%. Potensi jenis runtuhan tertinggi berdasarkan analisis kinematik pada SCP-01, SCP-02, dan SCP- 05 adalah jungkiran, pada SCP-03 adalah planar, sedangkan pada SCP-04 adalah baji. Berdasarkan analisis dengan metode kesetimbangan batas, nilai faktor keamanan pada penampang 1 hingga 5 secara umum sudah lebih dari 1,3 (stabil), namun pada penampang 4 dan 5 dalam skenario 4 (tinggi muka airtanah 80% dari tinggi lereng) dan penampang 1, 4, dan 5 dalam skenario 5 (tinggi muka airtanah 100% dari tinggi lereng) memiliki nilai faktor keamanan kurang dari 1,3 (tidak stabil).
ANALISIS KESTABILAN LERENG BATUAN MENGGUNAKAN METODE KESETIMBANGAN BATAS PADA LERENG DOMAIN 7 FASE 8 TAMBANG BATU HIJAU, PT AMMAN MINERAL NUSA TENGGARA
Tambang Batu Hijau menerapkan sistem penambangan terbuka dan saat ini memasuki penambangan fase 8. Penambangan fase 8 membuat penggalian semakin dalam sehingga membutuhkan analisis geologi teknik untuk menjamin kestabilan lereng. Lokasi penelitian berada pada area Domain 7 Tambang Batu Hijau. Penelitian ini menggunakan metode klasifikasi massa batuan, metode kinematik, serta metode kesetimbangan batas. Data yang digunakan adalah data primer berupa survei diskontinuitas serta data sekunder seperti piezometer, model rock mass rating (RMR) bawah permukaan, dan parameter keteknikan batuan. Pengambilan data diskontinuitas dilakukan dengan window mapping pada 30 titik di area Domain 7 yang termasuk ke dalam satuan Breksi Litik Vulkanik. Nilai RMR pada ke-30 titik tersebut bervariasi dari kelas II (massa batuan baik) hingga kelas IV (massa batuan buruk) dengan nilai 30-70. Analisis kinematik pada lima penampang (A, B, C, D, dan E) menunjukkan potensi longsoran terbesar adalah longsoran baji, dengan persentase masing-masing 2,5%; 5,42%; 2,84%; 4,64%; dan 1,1%. Analisis kesetimbangan batas dilakukan pada lima penampang lereng yang sama, dengan variasi musim (hujan dan kemarau) serta beban gempa (skenario tanpa beban gempa dan penambahan beban gempa). Lereng yang dianalisis untuk setiap penampang adalah keseluruhan lereng yang sudah terbentuk pada Domain 7 fase 8 serta tiga inter-ramp. Hasil analisis kesetimbangan batas menunjukkan bahwa kelima lereng termasuk stabil karena memenuhi nilai faktor keamanan minimum dan probabilitas keruntuhan maksimum yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 1827K/30/MEM/2018. Skenario dengan faktor keamanan terendah yaitu musim hujan dengan penambahan beban gempa dan skenario dengan faktor keamanan tertinggi adalah musim kemarau tanpa beban gempa.