📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 13 dokumen

PENGARUH KELEMBABAN TERHADAP KINERJA SEL SURYA BERBASIS CsPbBr3 UNTUK APLIKASI FOTOVOLTAIK

Gunung Agung merupakan salah satu gunung api aktif yang terletak di Kabupaten Karangasem, Bali, dengan ketinggian 3.142 meter di atas permukaan laut (mdpl), serta menjadi salah satu sumber utama bahaya geologi di Pulau Bali. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi evolusi sistem magmatik Gunung Agung sekaligus mendukung penilaian bahaya erupsi dan perencanaan mitigasi risiko bencana di masa mendatang melalui pendekatan terintegrasi yang mengombinasikan analisis kemagnetan batuan, geokimia, dan petrografi terhadap lima belas aliran lava yang mewakili empat periode erupsi, mulai dari sebelum 3200 ± 60 SM hingga setelah 1040 ± 50 SM. Analisis kemagnetan batuan meliputi pengukuran suseptibilitas magnetik, temperatur Curie, dan karakteristik domain magnetik berdasarkan kurva histeresis, yang digunakan untuk mengidentifikasi variasi dominasi mineral magnetik serta kondisi kristalisasi oksida Fe–Ti. Analisis geokimia menggunakan XRF mendukung interpretasi tersebut, yang menunjukkan bahwa komposisi aliran lava Gunung Agung berkisar dari basaltik hingga basaltikandesit dengan kandungan kalium (K) tinggi. Berbagai mikrotekstur plagioklas berhasil diidentifikasi melalui analisis petrografi menggunakan mikroskop polarisasi, antara lain coarse sieve, fine sieve, dan resorption surface. Mikrotekstur tersebut mencerminkan proses-proses magmatik, seperti dekompresi magma, pencampuran magma, dan pemanasan ulang magma. Evolusi magmatik Gunung Agung menunjukkan pola siklik, yang ditunjukkan oleh keterkaitan antara variasi mikrotekstur plagioklas, kandungan oksida utama, dan parameter kemagnetan batuan. Pola siklik ini ditafsirkan sebagai hasil interaksi antara injeksi magma basaltik yang bersifat episodik dan proses diferensiasi magma dalam suatu sistem magmatik terbuka. Penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi data petrografi, geokimia, dan kemagnetan batuan efektif dalam mengungkap dinamika siklik aliran lava pada gunung api aktif seperti Gunung Agung.

2026
👤 Penulis: Ahmad Fadillah
🏷️ Geologi Vulkanik 🏷️ Petrografi 🏷️ Analisis Kemagnetan Batuan

PROSPEK PANASBUMI DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK PENGINDERAAN JAUH (STUDI KASUS : KAWASAN PATUHA)

Penginderaan jauh memegang peranan penting dalam pemetaan sumber daya energi panas bumi dengan mendeteksi anomali temperatur permukaan dari citra termal. Teknik ini dapat digunakan sebagai survei pendahuluan dalam eksplorasi. Penginderaan jauh menyimpan radiasi energi dalam berbagai panjang gelombang. Daerah Patuha, Jawa Barat, dijadikan objek dari penelitian ini. Kenampakan panasbumi di daerah ini yang menunjukkan adanya potensi panasbumi adalah berupa manifestasi panas, solfatar, fumarol, tanah beruap panas, sinter silika dan alterasi hidrotermal. Data temperatur permukaan yang digunakan adalah citra Landsat ETM+ 2000, 2001, 2002 dan 2003 terutama pada band 6/ band termal. Interpretasi temperatur permukaan diamati dengan memperhatikan aspek warna dan rona dari permukaan. Selanjutnya dilakukan integrasi data temperatur tersebut dengan data dan peta lainnya yang terkait dengan studi area. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan informasi yang lebih pasti tentang potensi panas seperti manifestasi permukaan, analisis geologi, dan fenomena gunung vulkanik.

2026
👤 Penulis: MONA NATALIA SIAHAAN (NIM 15107080); Pembimbing: Dr. Ir. Ketut Wikantika, M.Sc., dan Ir. Andri Slame
🏷️ Penginderaan Jauh 🏷️ Geologi Vulkanik 🏷️ Analisis Temperatur Permukaan

ANALISIS DEFORMASI GUNUNGAPI PAPANDAYAN BERDASARKAN DATA PENGAMATAN GPS TAHUN 2002 - 2011

Gunung api Papandayan adalah gunung api yang terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Gunung api dengan ketinggian 2665 meter di atas permukaan laut itu terletak sekitar 70 km sebelah tenggara Kota Bandung. Gunung api Papandayan merupakan salah satu gunung api aktif di Indonesia. Salah satu metoda pemantaun aktivitas vulkanik gunung api adalah dengan metoda deformasi. Dalam melakukan penelitian deformasi yang terjadi, digunakan data pengamatan survei GPS (Global Positioning System). Pada dasarnya survei ini dilakukan untuk mengetahui pola dan kecepatan deformasi yang terjadi pada Gunung api Papandayan. Dari analisis unsur deformasi ini, dapat diketahui karakteristik deformasi yang terjadi pada gunung api tersebut. Pada Gunung api Papandayan deformasi yang terjadi dipengaruhi oleh tekanan magma dari dalam gunung. Dari analisis yang dilakukan, sumber magma dalam dan sumber magma dangkal mempengaruhi aktivitas gunung. Pada tahun 2003-2005 terdapat dua sumber magma dimana di sana terjadi proses inflasi. Pada tahun 2005-2008 hanya satu sumber yang mempengaruhi dimana di sana terjadi proses deflasi. Pada tahun 2008-Juli 2011 terdapat dua sumber magma yang mempengaruhi dimana di sana terjadi proses deflasi dan inflasi. Pada Juli 2011-Agustus 2011 terdapat satu sumber magma dimana di sana terjadi proses inflasi. Pada tahun 2003-Agustus 2011 terdapat dua sumber magma dimana di sana terjadi proses deflasi dan inflasi.

2026
👤 Penulis: ILHAM JAMEL (NIM 15107058); Pembimbing: Dr. Irwan Meilano, S.T., M.Sc. dan Irwan Gumilar, S.T., M.Si
🏷️ Deformasi Gunung Api 🏷️ Analisis Data Gps 🏷️ Geologi Vulkanik

PEMODELAN STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN BERDASARKAN DATA MAGNETIK DI WILAYAH DANAU MAAR RANU GRATI, JAWA TIMUR

Maar merupakan salah satu bentuk danau vulkanik yang terbentuk akibat letusan freatomagmatik ketika magma basaltik berinteraksi dengan air tanah sehingga menghasilkan ledakan eksplosif dan membentuk cekungan berbentuk kawah. Ranu Grati di Jawa Timur merupakan contoh maar Kuarter yang berkembang pada zona vulkanik aktif, namun informasi mengenai struktur bawah permukaan dan keberadaan intrusi magma di bawah danau masih terbatas. Penelitian ini bertujuan memetakan anomali magnetik dan memodelkan struktur bawah permukaan untuk mengidentifikasi sebaran litologi dan indikasi jalur intrusi pada kawasan Ranu Grati. Data magnetik diproses melalui koreksi harian dan koreksi IGRF untuk memperoleh Total Magnetic Intensity (TMI). Transformasi RTP dan RTE dievaluasi, namun TMI digunakan sebagai dasar interpretasi karena memberikan bentuk anomali yang lebih konsisten terhadap geometri geologi lokal. Pemodelan ke depan dilakukan menggunakan tiga lintasan sayatan yang mewakili area danau dan bagian luar maar. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa bagian atas litologi tersusun oleh air dan sedimen, diikuti Tuf Rabano (Qvtr) dengan suseptibilitas sangat rendah (10?? - 10?³ cgs), dan Batuan Gunungapi Tengger Tua (Qvtt) sebagai basement vulkanik dengan suseptibilitas menengah (10?² - 3×10?² cgs). Tubuh lava basaltik (~10?² cgs) muncul hanya pada lintasan yang melintasi danau dan memanjang hingga kedalaman lebih dari 1,5 km, menunjukkan jalur intrusi yang terfokus di bawah pusat maar. Konfigurasi ini mengindikasikan bahwa pembentukan Ranu Grati sangat dipengaruhi oleh mekanisme freatomagmatik dan jalur magma yang terkonsentrasi pada pusat danau, konsisten dengan karakteristik maar pada sistem vulkanik Kuarter di Jawa Timur.

2025
👤 Penulis: Rayhan Adri Fulvian
🏷️ Geologi Vulkanik 🏷️ Analisis Magnetik 🏷️ Model Struktur Bawah Permukaan

HIDROGEOLOGI SISTEM PANAS BUMI VULKANIK DI GUNUNG GEDE DAN SEKITARNYA, JAWA BARAT

Daerah penelitian terletak di Gunung Gede dan daerah sekitarnya. Daerah penelitian merupakan komplek gunung api dengan beberapa morfologi punggungan. Daerah penelitian juga terletak di kawasan konservasi dan daerah prospek panas bumi. Oleh karena itu, kajian hidrogeologi secara komprehensif merupakan hal yang penting di daerah ini. Maksud penelitian ini adalah membuat model hidrogeologi serta memperkirakan komponen-komponen hidrogeologi di daerah ini, seperti satuan litologi yang berpotensi dijumpai air tanah, pola aliran air tanah, daerah resapan, dan daerah luahan. Penelitian ini mengintegrasikan hasil analisis geologi dan hasil analisis karakteristik fisik serta kimia air. Satuan litologi yang berpotensi dijumpai air tanah diperkirakan berdasarkan hasil penentuan zona potensi air tanah. Hasil penentuan zona potensi air tanah dibuat berdasarkan beberapa kriteria yang berpengaruh terhadap keberadaan air tanah dan diberi bobot dengan metode multi influencing factor (MIF). Pola aliran air tanah diperkirakan dari hasil analisis topografi dan hasil analisis karakteristik fisik serta kimia air. Daerah resapan diperkirakan dari hasil analisis isotop stabil dan hasil penentuan zona potensi air tanah, sedangkan daerah luahan diperkirakan dari lokasi mata air dan hasil analisis topografi. Penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan sistem hidrogeologi di bagian selatan dan di bagian utara. Perbedaan tersebut teridentifikasi dari komponen sistem hidrogeologi yang berbeda pada dua daerah tersebut. Hal tersebut juga didukung dari hasil analisis karakteristik fisik dan kimia air. Pada penelitian ini, satuan aliran piroklastik dan lahar dapat berpotensi dijumpai air tanah. Pola aliran yang berkembang di daerah penelitian adalah pola aliran lokal dan subregional hingga regional. Daerah resapan untuk air permukaan, mata air dingin, dan manifestasi termal di daerah ini berada di elevasi 1582–2515 m dpl. Hasil analisis karakteristik fisik dan kimia juga menunjukkan adanya pengaruh dari fluida termal yang berasal dari Khuluk Gumuruh kepada air tanah dangkal di sekitar khuluk tersebut.

2024
👤 Penulis: Muhammad Satriyo
🏷️ Hidrologi Sistem Panas Bumi 🏷️ Analisis Karakteristik Fisik Dan Kimia Air 🏷️ Geologi Vulkanik

STUDI LAPANGAN, PETROLOGI ABU VULKANIK, DAN KRONOLOGI KEJADIAN UNTUK MEMAHAMI KEJADIAN AWAN PANAS DAN MEKANISME ERUPSI GUNUNGAPI SEMERU PADA DESEMBER 2020,2021, DAN 2022

Semeru merupakan stratovolkano teraktif di J awa Timur yang juga menj adi sumber bahaya sebab lokasinya yang dekat pusat aktivitas masyarakat. Sejak tahun 1967, aktivitasnya didominasi oleh erupsi Vulkanian serta pertumbuhan dan penghancuran kubah atau lidah lava dengan potensi bahaya primer utama "awan panas" yang meluncur ke arah selatan dan tenggara. Pada rentang tahun 2020-2022, Semeru meluncurkan awan panas dengan jarak terjauh sejak tahun 2002, yaitu pada tanggal 1 Desember 2020, 4 Desember 2021, dan 4 Desember 2022. Meskipun jarak tempuhnya mirip, terdapat anggapan bahwa kejadian 2021 disebabkan oleh longsomya material di puncak akibat proses permukaan yang dipicu hujan, sementara kejadian 2020 dan 2022 berkaitan dengan erupsi magmatik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan membandingkan kejadian "awan panas" Desember 2020--2022 dan karakterisasi endapannya dalam konteks pyroclastic density current (PDC) untuk memahami mekanisme erupsi. Penelitian dilakukan di sektor tenggara Semeru yang berjarak 8-16 km dari puncak. Studi lapangan dilakukan untuk mendapatkan informasi sebaran, fasies endapan, dan komponen penyusunnya yang dapat mencerminkan mekanisme pengendapan. Sementara itu, studi petrologi matriks PDC berukuran abu yang terdiri atas analisis komponen, bentuk butir, dan tekstur mikrofenokris-mikrolit felspar memberikan gambaran asal material, fragmentasi magma, dan proses konduit. Penyusunan kronologi kejadian dan identifikasi perubahan morfologi di sekitar kawah juga dilakukan sebagai pendukung interpretasi. Studi menunjukkan konsistensi endapan PDC 2020-2022 bertipe block-and-ash flow, dominan granular-flow, dengan temperatur relatifhangat dan kondisi lembab. Fragmen blok didominasi oleh lava berwama abu-abu dengan fenokris plagioklas dan piroksen. Ditemukan juga blok dengan struktur kerak roti. Sementara itu, matriksnya tersusun atas lapili dan abu berwama abu-abu kecoklatan. Analisis komponen matriks abu pada erupsi 2020-2022 menunjukkan komposisi yang mirip, yakni butir nonjuvenil litik lava teroksidasi, pecahan kristal plagioklas, piroksen, dan oksida Fe-Ti, serta juvenil lava segar kaya kristal dengan vesikularitas rendah hingga sedang. Fraksi juvenil diklasifikasikan berdasarkan kenampakan warnanya yang hitam hingga coklat muda. Keberadaannya menunjukkan adanya material magmatik segar yang keluar saat erupsi. Sementara itu, analisis bentuk butir juvenil menunjukkan bentuk glassy/microcrystalline dense yang didominasi bentuk blocky dan sedikit bentuk tak beraturan. Hal ini mencerminkan magma dengan waktu kristalisasi yang panjang, relatif minim gas, serta mengalami fragmentasi getas di dekat permukaan. Massa dasar butir juvenil terdiri atas gelas berwarna coklat hingga transparan serta mikrolit felspar, piroksen, dan oksida Fe­Ti. Analisis tekstural kristal menunjukkan bahwa kondisi pembentukan mikrolit didominasi oleh pertumbuhan dibandingkan nukleasi yang juga menunjukkan bentuk dasar kristal prismatik dengan overgrowth dan bentuk akhir swallowtail hingga skeletal. Hal-hal tersebut mencerminkan pendinginan dan kenaikan magma yang lambat di awal, lalu mengalami dekompresi cepat di dekat permukaan. Kronologi kejadian erupsi menunjukkan aktivitas guguran lava dan awan panas skala kecil sebelum erupsi serta terlihatnya lidah lava baru setelah kejadian. Bersamaan dengan studi endapan dan petrologi, hal ini menunjukkan bahwa baik PDC Semeru 2020, 2021, dan 2022 disebabkan oleh mekanisme erupsi yang serupa, yaitu runtuhnya lidah lava aktif akibat peningkatan laju ekstrusi, dengan magma yang terlebih dahulu telah hadir di level dangkal. Ketiga erupsi tersebut berasal dari sistem magma yang sama dan dikontrol oleh proses konduit yang mirip, yang berakibat menghasilkan erupsi yang konsisten. V ariasi yang dijumpai pada tekstur mikrolit dapat mencerminkan kondisi heterogen pada konduit saat proses kenaikan magma.

2024
👤 Penulis: Ratika Benita Nareswari
🏷️ Hidrologi 🏷️ Geologi Vulkanik 🏷️ Kronologi Eruptif

IDENTIFIKASI STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN PULAU BALI, INDONESIA DENGAN METODE MAGNETIK DAN GRAVITASI

Pulau Bali adalah salah satu contoh busur vulkanik yang letaknya berada pada peralihan dari lempeng benua ke lempeng samudra. Hal tersebut menyebabkan keunikan dari kondisi vulkanik dari Pulau Bali. Di Pulau Bali terdapat beberapa gunung api yang merupakan kompleks vulkanik yang memiliki erupsi pada masa lampau dengan sangat dahsyat dan akhir - akhir ini terjadi beberapa kali gempa swarm dan erupsi. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengetahui seperti sumber magma gunung api, lapisan moho di bawah Pulau Bali, dan kenapa aktivitas gunung api saat ini berada di Gunung Agung berdasarkan pada peran struktur bawah permukaan. Oleh karena itu kenapa metode magnetik dan gravitasi yang digunakan perlu dilakukan pada struktur di bawah Pulau Bali dan analisa anomali magnetik dengan Curie Point Depth (CPD) untuk Pulau Bali. Permodelan menggunakan data magnetik dan gravitasi menghasilkan bentuk struktur di bawah permukaan Pulau Bali yaitu berupa pelapisan produk vulkanik dari gunung api – gunung api di Pulau Bali, lapisan sedimen yang terdiri dari karbonat dan produk vulkanik, kantung magma, sesar dan lain - lain. Analisa magnetik menggunakan CPD kemungkinan berkorelasi dengan kedalaman moho di bawah Pulau Bali. Serta bagaimana kemenerusan lapisan sedimen yang dominan karbonat di bagian tengah Pulau Bali dan implikasinya terhadap tingkat aktivitas dari gunung api di Pulau Bali. Sehingga hasil penelitian ini nantinya dapat digunakan sebagai tambahan informasi untuk keperluan mitigasi bencana gunung api dan gempa bumi.

2024
👤 Penulis: Putu Billy Suryanata
🏷️ Geologi Vulkanik 🏷️ Analisis Magnetik Dan Gravitasi 🏷️ Struktur Bawah Permukaan

PEMODELAN BAWAH PERMUKAAN DI CENTRAL ANATOLIAN VOLCANIC PROVINCE (CAVP), TURKI MENGGUNAKAN DATA GRAVITASI DAN MAGNETIK

Central Anatolian Volcanic Province (CAVP) yang berlokasi di Turki, merupakan wilayah yang terjadi interaksi antara Lempeng Eurasia, Afrika, dan Arab. Interaksi lempeng ini menciptakan kondisi geologi yang sangat dinamis, yang memicu aktivitas vulkanik dan tektonik yang signifikan melalui proses subduksi dan pergerakan lempeng. Kompleksitas geologi di wilayah ini terutama ditandai oleh keberadaan gunung berapi monogenetik yang tersebar luas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kemungkinan adanya penipisan kerak bumi di CAVP, khususnya pada area yang terdapat gunung berapi monogenetik, serta untuk memetakan struktur geologi bawah permukaan, termasuk kedalaman Moho dan ruang magma di wilayah tersebut. Data magnetik dan gravitasi akan digunakan untuk mengungkapkan fitur-fitur penting di wilayah ini. Di wilayah CAVP, terjadi peristiwa Slab Break-off yang menyebabkan material panas dari astenosfer naik untuk mengisi ruang yang ditinggalkan oleh lempeng yang terputus. Proses ini dapat menghasilkan magma yang naik ke permukaan, sehingga memicu aktivitas vulkanik. Naiknya material panas dari astenosfer juga menyebabkan pemanjangan dan penipisan kerak bumi (crustal thinning). Hasil pemodelan menunjukkan adanya dua ruang penyimpanan magma di wilayah CAVP, yaitu ruang magma pada kedalaman 8-12 km dan reservoir magma pada kedalaman 17-20 km di bawah permukaan. Kedalaman Moho di Central Anatolian Volcanic Province (CAVP) diperkirakan berada pada 35 km. Selain itu, terdapat indikasi penipisan kerak bumi karena kenaikan Moho dari kedalaman 47 hingga 35 km di wilayah ini.

2024
👤 Penulis: Farid Muafa
🏷️ Geologi Vulkanik 🏷️ Analisis Data Geofisika 🏷️ Penelitian Struktur Bawah Permukaan

VULKANOSTRATIGRAFI DAN PETROGENESA KOMPLEKS KALDERA IDAMDEHE DAN JAILOLO KABUPATEN HALMAHERA BARAT PROVINSI MALUKU UTARA

Letusan eksplosif Krakatau 1883 adalah salah satu letusan katastropik dalam sejarah. Berbagai penelitian geologi telah dilakukan untuk memahami penyebab letusan ini, namun proses yang terjadi pada konduit saat erupsi 1883 masih belum sepenuhnya terjawab. Penelitian ini menyajikan analisis variasi pumice dan komponen batuan dalam batuan piroklastik hasil erupsi, untuk mengungkap urutan detail dinamika proses pada konduit saat erupsi Krakatau 1883. Sampel batuan yang digunakan dalam penelitian ini merupakan batuan piroklastik (pumice) yang merupakan produk erupsi Krakatau 1883 yang dijumpai di sisi bagian barat Pulau Rakata. Secara stratigrafi endapannya tersusun atas produk jatuhan piroklastik pada bagian bawah dan endapan aliran piroklastik pada bagian atas, dengan total sebanyak 14 Layer. Analisis distribusi ukuran butir dan komponentri dilakukan pada setiap Layer. Hasil analisis tersebut kemudian dilakukan analisis tekstural dengan menggunakan 12 sayatan poles (chip), untuk dilakukan pengambilan foto menggunakan SEM, untuk kemudian dilakukan analisis parameter tekstural. Sebanyak 14 Layer untuk sayatan tipis dilakukan untuk pengamatan petrografi untuk mengetahui kandungan mineral dan mikrotekstur plagioklas, dan 9 Layer untuk pengamatan geokimia untuk mengetahui komposisi kimia batuan. Distribusi ukuran butir menunjukan ukuran butir lebih bervariasi pada fase jatuhan piroklastik pada rentang ukuran 4-?16mm, namun cenderung memiliki ukuran butir yang lebih halus untuk fase aliran piroklastik pada rentang 8-0,5 mm. Pada fase jatuhan piroklastik, ukuran butir cenderung kasar, sementara pada fase aliran piroklastik, ukuran butir menjadi lebih halus. Data komponen menunjukan fase jatuhan piroklastik memperlihatkan variasi dalam jenis komponen pumice, sementara pada fase aliran piroklastik, variasi lebih terlihat pada komponen litik. Data geokimia menunjukan bahwa pumice produk erupsi Krakatau 1883 merupakan rhyolit, dengan kandungan silika (72.42-74.59 wt %). Aspek mineralogi menunjukan kehadiran mineral yang rendah pada setiap Layer dengan phenocryst yang dominan dijumpai adalah plagioklas dan piroksen. Analisis tekstural menunjukan nilai BND berkisar pada 1015-1016 mm-3. Perhitungan laju dekompresi menggunakan nilai BND menunjukan nilai laju dekompresi berada pada rentang 1010-1011 Pa/s yang menunjukan laju dekompresi yang tinggi.

2024
👤 Penulis: Wilfridus F. S. Banggur
🏷️ Geologi Vulkanik 🏷️ Analisis Petrogenetika 🏷️ Karakteristik Batuan Piroklastik

KARAKTERISASI LITOLOGI BERDASARKAN DATA PENGEBORAN SUMUR DANGKAL SERTA HUBUNGANNYA DENGAN NILAI RESISTIVITAS GEOLISTIK DAN DATA ANOMALI GAS RADON AREA GUNUNG PATUHA UTARA.

Lapangan Panas Bumi Patuha terletak di Kecamatan Pasirjambu dan Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat berada di area G. Patuha Utara serta G. Patuha selatan. Pada tahun 2022 telah dilakukan pengeboran sumur dangkal (TCH-A dan TCH-B) di area G. Patuha Utara. Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data peta geologi, data Digital Elevation Model (DEM), data manifestasi, data pengeboran (core dan landaian suhu), data resistivitas geolistrik, serta data peta anomali radon. Berdasarkan studi vulkanostratigrafi, letak sumur TCH-A dan sumur TCH-B berada pada khuluk yang berbeda sehingga karakteristik litologinya juga berbeda. Karakteristik litologi pada sumur TCH-A cenderung memiliki asosiasi mineral alterasi pH netral-temperatur rendah dan pH asam-temperatur rendah, sedangkan sumur TCH-B berasosiasi dengan mineral pH netral-temperatur rendah. Zona alterasi pada sumur TCH-A dibagi menjadi dua tahap pembentukan yaitu: tahap 1 (pH netral) merupakan zona kristobalit – monmorilonit – klorit terbentuk pada temperatur 120°C - 160°C dan tahap 2 (pH asam) merupakan zona kristobalit – tridimit ± kaolinit ± alunit terbentuk pada temperatur 100°C - 160°C. Sumur TCH-B dibagi kedalam zona kristobalit – monmorilonit – halosit dengan rentang temperatur pembentukan 37°C - 100°C. Intensitas alterasi yang ditemukan pada sumur penelitian diklasifikasikan teralterasi lemah - sedang. Korelasi data resistivitas geolistrik dengan intensitas alterasi menunjukkan nilai resistivitas rendah berkorelasi dengan intensitas alterasi yang tinggi. Sedangkan zona permeabel ditunjukkan oleh nilai anomali radon tinggi di area sumur TCH-B mencapai 7.400 Bq/m³ berkorelasi dengan nilai Rock Quality Designation (RQD) yang rendah pada sampel core. Berdasarkan studi integrasi data geosain area sumur TCH-A memiliki karakteristik litologi yang berbeda dengan area sumur TCH-B baik secara fisik maupun kimiawi. Litologi area penelitian didominasi oleh batuan piroklastik tuf kristal, breksi piroklastik, dan lava andesit sehingga dianggap bukan sebagai claycap di dalam komponen sistem geotermal Patuha.

2024
👤 Penulis: Dedy Pramudityo
🏷️ Litostratigrafi 🏷️ Geologi Vulkanik 🏷️ Hidrologi Geolistrik

ANALISIS RESPONS ANOMALI GRAVITASI DAN MAGNETIK UNTUK PENDUGAAN POTENSI GEOTHERMAL DI PULAU SUMATRA BAGIAN SELATAN

Pulau Sumatra terbentuk dari proses tektonik yang kompleks menghasilkan berbagai sumber daya geologi, termasuk potensi geothermal. Penelitian analisis respons anomali gravitasi dan magnetik telah dilakukan untuk memetakan sistem geothermal di Sumatra bagian selatan. Pemisahan anomali gravitasi dilakukan dengan metode moving average, diikuti analisis gradien pada anomali residual menggunakan metode Fast Sigmoid-Based Edge Detection (FSED). Anomali magnetik reduce to pole (RTP) dianalisis secara spektral untuk menghitung Curie Point Depth (CDP), gradien termal, dan heatflow. Hasil penelitian ini menunjukkan Sumber panas di Pulau Sumatra berupa batuan intrusi gunung api dengan densitas 2.8 gr/cc dan nilai Suseptibilitas 0.007, membentang dari barat ke selatan dengan pola barat laut–tenggara. Batuan ini masuk dalam formasi Kikim (Tpok) dari sisa magma Gunungapi Bukit Besar, Bukit Lumut, dan Bukit Balai, dengan kedalaman lebih dari 7 km. Lapisan reservoir di bagian tengah kemungkinan disebabkan oleh zona hancuran Sesar Sumatra atau batuan sedimen, tersusun dari Formasi Hulusimpang dan Gumai, dengan densitas 2.6 gr/cm³ dan Suseptibilitas 0.075, pada kedalaman 1000-1500 m. Gradien termal berkisar antara 21,1°C/km hingga 31,6°C/km, dengan heatflow 55,1-79 mW/m². Gradien termal tinggi teramati di bawah kompleks vulkanik, termasuk Kawasan Pegunungan Bukit Barisan. Struktur sesar barat laut–tenggara sejajar dengan Sumatra Fault (SGF), menunjukkan bahwa sistem geothermal di pulau Sumatra dikendalikan oleh sesar ini.

2024
👤 Penulis: Irfan Prasetyo
🏷️ Geologi Vulkanik 🏷️ Analisis Geothermal 🏷️ Hidrologi Geothermal

DINAMIKA MAGMA BERDASARKAN TEKSTUR MIKRO PLAGIOKLAS DI GUMUK JANTAN GUNUNG TALANG, SUMATRA BARAT

Gunung Talang merupakan gunungapi komposit tipe A yang terbentuk di zona pull-apart Sesar Sumatra. Studi ini bertujuan untuk memahami dinamika magma dengan fokus pada bagian Gumuk Jantan yang memiliki 4 unit aliran lava. Produk batuan di Gunung Talang adalah andesit basal. Penelitian ini menggunakan analisis tekstur mikro plagioklas dan nilai rata-rata kehadiran anortit-albit untuk menentukan dinamika erupsi dan aktivitas di dapur magma pada produk unit lava Gumuk Jantan. Analisis tekstur mikro plagioklas melibatkan pengamatan pada tekstur coarse-sieve (CS), fine-sieve (FS), glomerocryst (GL), resorption surface (RS), fine-scale oscillatory zoning (FOZ), rounded zone corner (RZ), synneusis (SYN), swallow tail (ST) dan broken crystal (BC). Hasil analisis menunjukan bahwa dinamika magma berasal dari injeksi magma primitif, dengan tekstur mikro plagioklas berupa CS (10-23%), FS (3-15%), GL (5-17%) dan RS (5-15%). Tekstur FOZ (7-15%), RZ (2-8%) dan SYN (10-15%) menunjukan pergerakan arus konveksi di dapur magma. Tekstur ST (2-5%) menunjukan pendingan magma yang singkat karena pergerakan magma yang cepat dari dapur magma dangkal menuju conduit. Tekstur BC (24-30%) menunjukan erupsi yang sangat kuat. Analisis anortit-albit menunjukan fraksionasi kristal di unit Jl1 (39,75%), Jl2 (39,5%) dan Jl4 (34,5%), sementara unit Jl3 mengalami peningkatan sebesar (58,5%). Erupsi dari Jl2 menuju Jl3 disebabkan oleh injeksi magma primitif yang masif sehingga mengakibatkan erupsi yang bersifat dekompresi. Dengan demikian, dinamika magma di Gunung Talang, khususnya pada bagian Gumuk Jantan, mencerminkan proses kompleks yang melibatkan injeksi magma, arus konveksi dan pendinginan cepat, yang akhirnya menyebabkan erupsi kuat.

2024
👤 Penulis: Fachri Vanrenov
🏷️ Teknologi Mineral 🏷️ Geologi Vulkanik 🏷️ Analisis Mikro

ESTIMASI NILAI VS BERDASARKAN DATA MIKROTREMOR DI KAWASAN GUNUNG TANGKUBAN PARAHU, JAWA BARAT

Gn. Tangkuban Parahu merupakan gunungapi aktif tipe stratovolkano berada di Jawa Barat, yang memiliki letusan preatik. Sejak awal abad ke-19, Gn. Tangkuban Parahu telah mengalami 22 kali peningakatan aktivitas, berupa terbentuknya fumarole, peningkatan seismisitas, dhingga terjadi letusan. Rangkaian aktivitas vulkanik yang terjadi pada tahun 2013 dan 2019 diduga berkontribusi terhadap ketebalan sedimen dikasawan gunung Tangkuban Parahu. Pada penelitian ini diterapkan metode HVSR (Horizontal to Vertical Spectral Ratio) yang memanfaatkan data mikrotremor 3 komponen untuk mengetahui distribusi frekuensi dominan dari struktur geologi bawah permukaan di sekitar Gn. Tangkuban Parahu. Penelitian ini dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman tentang hubungan antara struktur geologi dangkal dan mikrotremor di sekitar lingkungan vulkanik dengan memetakan ketebalan endapan vulkanik berdasarkan profil kecepatan gelombang S (Vs). Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data mikrotremor 30 stasiun seismik yang terdiri dari 5 stasiun seismik broadband dan 25 stasiun seismik temporer. Untuk penelitian tesis ini, digunakan data mikrotremor dengan durasi perekaman selama ± 24 jam dalam rentang waktu akhir 2021 – awal 2022. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan bantuan dari perangkat lunak GEOPSY untuk mendapatkan penampang kurva H/V. Parameter penting yang dihasilkan dari metode HVSR ialah frekuensi natural (f0) dan amplifikasi (A0). Proses inversi yang dilakukan dapat memberikan informasi mengenai profil Vs di bawah permukaan Gn. Tangkuban Parahu. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa nilai f0 terendah sebesar 1,15673 Hz berada pada stasiun TPB1 dan f0 tertinggi sebesar 10,9398 Hz berada pada stasiun TPA4. Dari hasil inversi, terlihat nilai Vs30 bervariasi, berkisar antara 171,716 m/s – 332,749 m/s, dengan batuan tipe D (yang dideskripsikan sebagai tanah sedang) mendominasi dengan 29 stasiun dan satu stasiun memiliki batuan tipe E yang dideskripsikan sebagai tanah lunak.

2024
👤 Penulis: Zuhaa Fachrani
🏷️ Geologi Vulkanik 🏷️ Analisis Mikrotremor 🏷️ Metode Hvsr
💬