📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 3 dokumen

PEMODELAN GEOMEKANIKA 1D DAN ANALISIS KESTABILAN LUBANG BOR UNTUK PENENTUAN JENDELA AMAN BERAT LUMPUR PENGEBORAN PADA LAPANGAN ‘IQ’, SUB-CEKUNGAN BALAM, CEKUNGAN SUMATRA TENGAH

Lapangan 'IQ' merupakan salah satu lapangan minyak skala sub-cekungan yang termasuk dalam wilayah kerja PT Pertamina Hulu Rokan dan terletak di Sub-Cekungan Balam, Cekungan Sumatra Tengah. Lapangan ini berada dalam tatanan stratigrafi dan tektonik yang kompleks sehingga menimbulkan tantangan tersendiri dalam operasi pengeboran. Permasalahan operasi pengeboran, seperti struktur breakout, sloughing hole, dan wellbore enlargement teridentifikasi pada Formasi Telisa dan Formasi Brown Shale di Lapangan 'IQ' berdasarkan laporan pengeboran dan interpretasi data log gambar. Penelitian ini membahas jendela aman berat lumpur pengeboran beserta karakteristik kestabilannya melalui pemodelan geomekanika 1D dan analisis kestabilan lubang bor pada Lapangan 'IQ', terutama pada Formasi Telisa dan Formasi Brown Shale. Pemodelan dilakukan dengan pendekatan empiris berbasis data log tali kawat yang dikalibrasi dengan data uji sumur dan data pengeboran lainnya, seperti laporan pengeboran dan deskripsi batuan inti. Hasil pemodelan berdasarkan analisis kriteria Mohr Coulomb menunjukkan bahwa Formasi Telisa memiliki rentang jendela aman berat lumpur pengeboran 11,54-14,42 ppg pada kedalaman 1358-1710 kaki (414-521 m) dan 11,9-14,42 ppg pada kedalaman 2324-2728 kaki (708-831 m). Sementara itu, Formasi Brown Shale memiliki rentang jendela aman berat lumpur pengeboran 11,54-15,38 ppg pada kedalaman 2642-5038 kaki (805-1536 m) dan 11,54-13,46 ppg pada kedalaman 4674-6647 kaki (1425-2026 m). Kedua formasi sama-sama berada pada rezim tegasan sesar normal dengan orientasi tegasan horizontal maksimum N 35° E. Formasi Telisa memiliki karakteristik geomekanika serpih lunak dengan kerentanan yang lebih tinggi terhadap kegagalan geser, sedangkan Formasi Brown Shale menunjukkan karakter serpih lunak hingga agak kaku. Ketidakstabilan pada Formasi Brown Shale turut dipengaruhi oleh kondisi overpressure pada interval yang lebih dalam serta potensi swelling clay akibat dominasi mineral Smektit pada interval yang lebih dangkal.

2026
👤 Penulis: Muhammad Iqbal Haritsyah
🏷️ Geomekaniika 🏷️ Stabilitas Pengeboran 🏷️ Tektonik Sub-Cekungan Balam

PEMODELAN GEOMEKANIKA TIGA DIMENSI UNTUK PENGEMBANGAN MIGAS NON KONVENSIONAL FORMASI TANJUNG, CEKUNGAN BARITO, KALIMANTAN SELATAN

Potensi sumberdaya migas non konvensional di Indonesia sangat besar. Potensi ini tersebar di beberapa cekungan di seluruh Indonesia termasuk Cekungan Barito. Formasi Tanjung sudah lama diketahui sebagai batuan induk penghasil hidrokarbon pada Cekungan Barito. Ekstraksi sumberdaya migas non konvensional memerlukan perlakuan khusus dikarenakan batuan reservoir serpih, yang sekaligus merupakan batuan induk, memiliki permeabilitas sangat rendah. Peningkatan permeabilitas umumnya diciptakan melalui proses perekahan hidrolik yang memerlukan karakterisasi tegangan in-situ. Analisis geomekanika satu dimensi meliputi estimasi besaran tegangan in-situ, properti elastik batuan, dan parameter kekuatan batuan dilakukan melalui analisis batuan inti dan log talikawat melalui beberapa perhitungan. Selanjutnya, pemodelan geomekanika tiga dimensi dilakukan untuk melihat distribusi tegangan dan variasi properti mekanik batuan secara spasial. Penyebaran properti mekanik batuan dan tegangan in-situ dalam pemodelan tiga dimensi lebih kompleks dikarenakan properti tersebut cenderung untuk tidak memiliki tren persebaran layaknya properti fisik (seperti volume serpih) yang mengikuti tren pengendapan batuan. Dalam penelitian ini, penyebaran properti mekanik dalam pemodelan tiga dimensi dilakukan menggunakan pendekatan berbasis data seismik dengan metode resampling seisimik. Pendekatan ini melibatkan proses inversi seismik untuk menghubungkan atribut seismik dengan properti mekanik batuan. Prediksi tekanan pori dalam analisis geomekanika satu dimensi menunjukkan kondisi tekanan rendah hingga normal (0.382-0.451 psi/ft) sedangkan gradien tegangan vertikal sebesar 1.028 psi/ft. Nilai rata-rata Modulus Young untuk litologi serpih adalah 15.44 GPa dan untuk batupasir sebesar 21.06 GPa, dengan nilai rata-rata Nisbah Poisson untuk litologi serpih dan batupasir sebesar 0.31. Kekuatan batuan Formasi Tanjung memiliki rata-rata nilai 86.6 MPa untuk litologi serpih dan 87.7 MPa untuk litologi batupasir serta sudut friksi rata-rata 33.2°. Estimasi tegangan horizontal menunjukkan nilai rata-rata gradien ????????????????? sebesar 0.975 psi/ft dan nilai rata-rata gradien ???????????????????? 2.001 psi/ft. Rezim stress yang bekerja saat ini di daerah penelitian adalah reverse faulting (????????????????????> ????????????????? > ????????) pada kedalaman dangkal (0 – ±2000 ft) dan strike-slip faulting (???????????????????? > ???????? > ?????????????????) pada kedalaman lebih dalam (±2000 – ±5000 ft). Evaluasi keakuratan model tiga dimensi terhadap data sumur, baik secara visual maupun statistik, menunjukkan tingkat kecocokan dan akurasi yang baik. Hal ini mengindikasikan bahwa pemodelan menggunakan pendekatan berbasis data seismik (dengan metode resampling seismik) berhasil mendistribusikan properti mekanik batuan dan tegangan in-situ secara optimal. Interval TFA1 diidentifikasi sebagai interval target terbaik untuk perekahan hidrolik karena memiliki Modulus Young yang paling tinggi dan Nisbah Poisson yang paling rendah dibandingkan dengan interval lain pada Formasi Tanjung. Orientasi pengeboran horizontal yang disarankan adalah N330° - 350°E atau paralel orientasi ?????????????????.

2024
👤 Penulis: Antu Ridha Falkhan Barizi
🏷️ Geomekaniika 🏷️ Ekstraksi Migas Non Konvensional 🏷️ Reservoir Geologi

PEMODELAN GEOMEKANIKA UNTUK MEMAHAMI KESTABILAN SESAR LAPANGAN UB, CEKUNGAN BINTUNI, PAPUA BARAT

Lapangan UB merupakan lapangan milik BP Indonesia yang berlokasi di Cekungan Bintuni, Papua Barat. Struktur geologi utama yang ada di Lapangan UB yaitu antiklin dan sesar. Bidang sesar yang bertindak sebagai perangkap hidrokarbon mengakibatkan adanya risiko kegegalan perangkap akibat reaktivasi sesar pada lapangan ini. Oleh karena itu, analisis kestabilan sesar penting untuk diperhatikan. Sementara itu, pada Lapangan UB terdapat kondisi overpressure yang dapat mempengaruhi nilai tegasan in-situ dan kestabilan bidang sesar. Penelitian ini dilakukan dengan mengestimasi nilai geomekanika menggunakan data log. Estimasi nilai geomekanika yang dilakukan antara lain tegasan vertikal (Sv) dari log densitas, tegasan horizontal minimum (Shmin) dari data leak off test, dan tegasan horizontal maksimum (SHmax) dari observasi kegagalan pada lubang bor. Selain itu, persamaan empiris juga banyak digunakan berdasarkan berbagai data log untuk mengisi nilai geomekanika yang tidak tersedia dan untuk menyusun properti mekanika batuan. Hasil dari pemodelan geomekanika kemudian digunakan sebagai masukan untuk menganalisis kestabilan sesar yang meliputi slip tendency (Ts), dilation tendency (Td), dan fracture stability (Fs). Berdasarkan hasil pemodelan geomekanika, Lapangan UB berada pada rezim sesar geser (SHmax > Sv > Shmin) dengan arah SHmax sebesar N16°E. Gradien nilai geomekanika pada kondisi tekanan normal yaitu SHmax sebesar 1,46 psi/ft, Sv sebesar 1,1 psi/ft, Shmin sebesar 0,69 psi/ft, dan tekanan pori sebesar 0,43 psi/ft. Terjadi perubahan gradien pada kondisi overpressure yaitu gradien SHmax sebesar 1,205 psi/ft, Shmin sebesar 0,775 psi/ft, dan tekanan pori sebesar 0,525 psi/ft. Keberadaan top overpressure yang berada pada Formasi Waripi ini menyebabkan perubahan gradien nilai geomekanika. Hal ini menyebabkan pengurangan besar tegasan efektif dan perbedaan nilai antara SHmax, Shmin, dan Sv. Pada diagram Mohr, fenomena ini menyebabkan lingkaran Mohr semakin bergeser ke kiri dan mengecil mendekati selubung kegagalan. Hasil analisis kestabilan sesar menunjukkan sesar pada Lapangan UB berada pada kondisi stabil. Sesar yang memiliki tren jurus berarah timur-barat akan cenderung lebih mudah mengalami reaktivasi dan memilki permeabilitas maksimum. Sementara itu, kondisi overpressure pada lapangan ini menyebabkan bidang sesar lebih mudah mengalami reaktivasi sehingga perlu dipertimbangkan saat akan dilakukan penambahan tekanan pori.

2024
👤 Penulis: Ichsan Ghifari Siswandi
🏷️ Geomekaniika 🏷️ Kestabilan Sesar 🏷️ Hidrokarbon
💬