📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 5 dokumenPENGEMBANGAN MODEL KADASTER 3D UNTUK JALUR EVAKUASI DARURAT BENCANA GEMPA BUMI (STUDI KASUS: HOTEL HORISON KOTA SUKABUMI)
Evakuasi pada bangunan bertingkat, jalur evakuasi tidak cukup dipahami hanya dari denah dua dimensi. Pergerakan penghuni saat keadaan darurat tidak berjalan pada satu bidang saja, tetapi melewati ruang, pintu, koridor, tangga, akses keluar, hingga titik kumpul. Kondisi ini menjadi penting pada Hotel Horison Kota Sukabumi karena lokasinya berada pada kawasan yang dipengaruhi aktivitas Sesar Cimandiri. Oleh karena itu, diperlukan model jalur evakuasi yang mampu menggambarkan hubungan ruang secara lebih utuh, terutama untuk pergerakan antarlantai. Proyek capstone ini mengembangkan model kadaster 3D untuk mendukung analisis jalur evakuasi darurat gempa bumi pada bangunan hotel bertingkat. Model geometri bangunan dibuat dari gambar teknis menggunakan Autodesk Revit, kemudian diekspor ke format Industry Foundation Classes (IFC). Informasi ruang disusun dengan mengacu pada konsep unit spasial dalam Land Administration Domain Model (LADM), sedangkan hubungan keterhubungan antarruang dibentuk berdasarkan prinsip IndoorGML. Elemen yang berperan dalam evakuasi, seperti ruang, pintu, koridor, tangga, akses keluar, dan titik kumpul, direpresentasikan sebagai node. Hubungan akses antar elemen tersebut kemudian dibentuk sebagai edge dalam jaringan evakuasi. Seluruh informasi semantik, geometri, dan topologi dikelola dalam PostgreSQL/PostGIS. Perhitungan rute dari ruang asal menuju titik kumpul dilakukan menggunakan algoritma Dijkstra melalui pgRouting dengan bobot jarak tiga dimensi. Data occupancy juga digunakan untuk membaca persebaran penghuni pada jaringan evakuasi dan membantu mengenali segmen jalur yang berpotensi menerima beban lebih besar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model geometri bangunan, informasi ruang, dan jaringan evakuasi dapat dihubungkan dalam satu struktur data yang saling terkait. Rute yang dihasilkan bukan merupakan hasil penggambaran manual, tetapi diperoleh dari perhitungan graph berbobot sehingga dapat ditelusuri kembali melalui node, edge, cost, dan accumulated cost pembentuknya. Hasil perhitungan tersebut kemudian diperiksa secara spasial melalui Blender dan disajikan dalam visualisasi web interaktif. Produk akhir ini diharapkan dapat menjadi prototipe jalur evakuasi bangunan bertingkat yang dapat dihitung, dianalisis, dan divisualisasikan dalam lingkungan tiga dimensi.
PENGEMBANGAN MODEL BIM INTERAKTIF UNTUK JALUR EVAKUASI DARURAT GEDUNG
Evakuasi pada bangunan bertingkat, jalur evakuasi tidak cukup dipahami hanya dari denah dua dimensi. Pergerakan penghuni saat keadaan darurat tidak berjalan pada satu bidang saja, tetapi melewati ruang, pintu, koridor, tangga, akses keluar, hingga titik kumpul. Kondisi ini menjadi penting pada Hotel Horison Kota Sukabumi karena lokasinya berada pada kawasan yang dipengaruhi aktivitas Sesar Cimandiri. Oleh karena itu, diperlukan model jalur evakuasi yang mampu menggambarkan hubungan ruang secara lebih utuh, terutama untuk pergerakan antarlantai. Proyek capstone ini mengembangkan model kadaster 3D untuk mendukung analisis jalur evakuasi darurat gempa bumi pada bangunan hotel bertingkat. Model geometri bangunan dibuat dari gambar teknis menggunakan Autodesk Revit, kemudian diekspor ke format Industry Foundation Classes (IFC). Informasi ruang disusun dengan mengacu pada konsep unit spasial dalam Land Administration Domain Model (LADM), sedangkan hubungan keterhubungan antarruang dibentuk berdasarkan prinsip IndoorGML. Elemen yang berperan dalam evakuasi, seperti ruang, pintu, koridor, tangga, akses keluar, dan titik kumpul, direpresentasikan sebagai node. Hubungan akses antar elemen tersebut kemudian dibentuk sebagai edge dalam jaringan evakuasi. Seluruh informasi semantik, geometri, dan topologi dikelola dalam PostgreSQL/PostGIS. Perhitungan rute dari ruang asal menuju titik kumpul dilakukan menggunakan algoritma Dijkstra melalui pgRouting dengan bobot jarak tiga dimensi. Data occupancy juga digunakan untuk membaca persebaran penghuni pada jaringan evakuasi dan membantu mengenali segmen jalur yang berpotensi menerima beban lebih besar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model geometri bangunan, informasi ruang, dan jaringan evakuasi dapat dihubungkan dalam satu struktur data yang saling terkait. Rute yang dihasilkan bukan merupakan hasil penggambaran manual, tetapi diperoleh dari perhitungan graph berbobot sehingga dapat ditelusuri kembali melalui node, edge, cost, dan accumulated cost pembentuknya. Hasil perhitungan tersebut kemudian diperiksa secara spasial melalui Blender dan disajikan dalam visualisasi web interaktif. Produk akhir ini diharapkan dapat menjadi prototipe jalur evakuasi bangunan bertingkat yang dapat dihitung, dianalisis, dan divisualisasikan dalam lingkungan tiga dimensi.
PENGEMBANGAN MODEL KADASTER 3D UNTUK JALUR EVAKUASI DARURAT BENCANA GEMPA BUMI (STUDI KASUS: HOTEL HORISON KOTA SUKABUMI)
Evakuasi pada bangunan bertingkat, jalur evakuasi tidak cukup dipahami hanya dari denah dua dimensi. Pergerakan penghuni saat keadaan darurat tidak berjalan pada satu bidang saja, tetapi melewati ruang, pintu, koridor, tangga, akses keluar, hingga titik kumpul. Kondisi ini menjadi penting pada Hotel Horison Kota Sukabumi karena lokasinya berada pada kawasan yang dipengaruhi aktivitas Sesar Cimandiri. Oleh karena itu, diperlukan model jalur evakuasi yang mampu menggambarkan hubungan ruang secara lebih utuh, terutama untuk pergerakan antarlantai. Proyek capstone ini mengembangkan model kadaster 3D untuk mendukung analisis jalur evakuasi darurat gempa bumi pada bangunan hotel bertingkat. Model geometri bangunan dibuat dari gambar teknis menggunakan Autodesk Revit, kemudian diekspor ke format Industry Foundation Classes (IFC). Informasi ruang disusun dengan mengacu pada konsep unit spasial dalam Land Administration Domain Model (LADM), sedangkan hubungan keterhubungan antarruang dibentuk berdasarkan prinsip IndoorGML. Elemen yang berperan dalam evakuasi, seperti ruang, pintu, koridor, tangga, akses keluar, dan titik kumpul, direpresentasikan sebagai node. Hubungan akses antar elemen tersebut kemudian dibentuk sebagai edge dalam jaringan evakuasi. Seluruh informasi semantik, geometri, dan topologi dikelola dalam PostgreSQL/PostGIS. Perhitungan rute dari ruang asal menuju titik kumpul dilakukan menggunakan algoritma Dijkstra melalui pgRouting dengan bobot jarak tiga dimensi. Data occupancy juga digunakan untuk membaca persebaran penghuni pada jaringan evakuasi dan membantu mengenali segmen jalur yang berpotensi menerima beban lebih besar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model geometri bangunan, informasi ruang, dan jaringan evakuasi dapat dihubungkan dalam satu struktur data yang saling terkait. Rute yang dihasilkan bukan merupakan hasil penggambaran manual, tetapi diperoleh dari perhitungan graph berbobot sehingga dapat ditelusuri kembali melalui node, edge, cost, dan accumulated cost pembentuknya. Hasil perhitungan tersebut kemudian diperiksa secara spasial melalui Blender dan disajikan dalam visualisasi web interaktif. Produk akhir ini diharapkan dapat menjadi prototipe jalur evakuasi bangunan bertingkat yang dapat dihitung, dianalisis, dan divisualisasikan dalam lingkungan tiga dimensi.
PENGEMBANGAN MODEL KADASTER 3D UNTUK JALUR EVAKUASI DARURAT BENCANA GEMPA BUMI (STUDI KASUS: HOTEL HORISON KOTA SUKABUMI)
Evakuasi pada bangunan bertingkat, jalur evakuasi tidak cukup dipahami hanya dari denah dua dimensi. Pergerakan penghuni saat keadaan darurat tidak berjalan pada satu bidang saja, tetapi melewati ruang, pintu, koridor, tangga, akses keluar, hingga titik kumpul. Kondisi ini menjadi penting pada Hotel Horison Kota Sukabumi karena lokasinya berada pada kawasan yang dipengaruhi aktivitas Sesar Cimandiri. Oleh karena itu, diperlukan model jalur evakuasi yang mampu menggambarkan hubungan ruang secara lebih utuh, terutama untuk pergerakan antarlantai. Proyek capstone ini mengembangkan model kadaster 3D untuk mendukung analisis jalur evakuasi darurat gempa bumi pada bangunan hotel bertingkat. Model geometri bangunan dibuat dari gambar teknis menggunakan Autodesk Revit, kemudian diekspor ke format Industry Foundation Classes (IFC). Informasi ruang disusun dengan mengacu pada konsep unit spasial dalam Land Administration Domain Model (LADM), sedangkan hubungan keterhubungan antarruang dibentuk berdasarkan prinsip IndoorGML. Elemen yang berperan dalam evakuasi, seperti ruang, pintu, koridor, tangga, akses keluar, dan titik kumpul, direpresentasikan sebagai node. Hubungan akses antar elemen tersebut kemudian dibentuk sebagai edge dalam jaringan evakuasi. Seluruh informasi semantik, geometri, dan topologi dikelola dalam PostgreSQL/PostGIS. Perhitungan rute dari ruang asal menuju titik kumpul dilakukan menggunakan algoritma Dijkstra melalui pgRouting dengan bobot jarak tiga dimensi. Data occupancy juga digunakan untuk membaca persebaran penghuni pada jaringan evakuasi dan membantu mengenali segmen jalur yang berpotensi menerima beban lebih besar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model geometri bangunan, informasi ruang, dan jaringan evakuasi dapat dihubungkan dalam satu struktur data yang saling terkait. Rute yang dihasilkan bukan merupakan hasil penggambaran manual, tetapi diperoleh dari perhitungan graph berbobot sehingga dapat ditelusuri kembali melalui node, edge, cost, dan accumulated cost pembentuknya. Hasil perhitungan tersebut kemudian diperiksa secara spasial melalui Blender dan disajikan dalam visualisasi web interaktif. Produk akhir ini diharapkan dapat menjadi prototipe jalur evakuasi bangunan bertingkat yang dapat dihitung, dianalisis, dan divisualisasikan dalam lingkungan tiga dimensi.
SURVEY PEMETAAN BANGUNAN MENGGUNAKAN TLS UNTUK MENDUKUNG KADASTER 3-DIMENSI (Obyek Studi: Apartemen The Suites at Metro, Bandung)
Pertambahan jumlah penduduk membuat kebutuhan tempat tinggal bertambah, sehingga dibutuhkan bangunan permukiman ke arah vertikal. Bangunan vertikal seperti apartemen atau rumah susun merupakan bangunan diatas satu persil dengan beberapa kepemilikan. Satuan rumah susun (sarusun) dalam pendaftaran tanah masih menggunakan gambar rencana dalam penetapan batas sarusun. Pada kenyataannya, obyek nyata belum tentu sama dengan gambar rencana. Perlu dilakukan as-built survey. As-built survey merupakan survey pemetaan bangunan existing. Survey pemetaan bangunan dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi Terestrial Laser Scanning (TLS). Melalui survey pemetaan bangunan ini diperoleh model dan geometri obyek 3D bangunan yang digunakan untuk mendukung kadaster 3D. Electronic Total Station (ETS) digunakan untuk mendapatkan data koordinat berupa titik referensi sebagai titik awal pengukuran TLS. Survey pemetaan bangunan dengan menggunakan TLS dilakukan dengan cara memindai obyek bangunan dari beberapa titik tempat berdiri alat. Tahap pengolahan data yang dilakukan, yaitu registrasi dengan metode natural point feature baik secara sekaligus maupun bertahap, filtering, georeferencing, wrapping. Pemodelan 3D diperoleh melalui proses wrapping dengan menggunakan perangkat lunak Geomagic. Analisis dilakukan dengan membandingkan galat registrasi dengan ketelitian posisi alat baik pada registrasi sekaligus dan bertahap. Selain itu, dilakukan analisis terhadap jarak hasil ukuran pada mesh model dan jarak hasil ukuran ETS yang dianggap benar. Hasil yang didapat adalah model 3D obyek bangunan. Pada registrasi sekaligus diperoleh galat registrasi melebihi 0.006m. Perlu dilakukan pemilihan ulang titik-titik ikat. Pada registrasi bertahap, di setiap tahap diperoleh galat registrasi yang lebih kecil dari 0.006m. Hasil ukuran jarak pada mesh model sama dengan hasil ukuran jarak ETS.