📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 4 dokumen

PENILAIAN KUANTITATIF TEKTONIK BERDASARKAN KARAKTERISTIK MORFOMETRI DAN RESPON GEOMORFIK VULKANIK-TEKTONIK DAS CIMANUK, JAWA BARAT

DAS Cimanuk di Jawa Barat, Indonesia, merupakan wilayah morfotektonik yang kompleks yang dipengaruhi oleh interaksi antara vulkanisme aktif di selatan dan struktur geologi di utara. Memahami variasi spasial aktivitas tektonik di lingkungan vulkanik-tektonik ini sangat penting untuk merekonstruksi evolusi geomorfik wilayah tersebut dan menilai bahaya tektonik aktif. Evaluasi tektonik aktif dilakukan pada drainase yang diturunkan dari DEM dan indeks geomorfik dengan total 69 Sub-DAS. Studi ini bertujuan untuk mengukur aktivitas tektonik relatif di DAS Cimanuk dengan mengintegrasikan beberapa indeks geomorfik: Hipsometri Integral (HI), Indeks Gradien Panjang Aliran (SL), Rasio Lebar Dasar Lembah terhadap Tinggi Lembah (Vf), Indeks Bentuk Daerah Aliran Sungai (Bs), dan Faktor Asimetri (Af) menjadi Indeks Aktivitas Tektonik Relatif (IATR) komposit. Rata-rata dari lima indeks geomorfik yang diukur digunakan untuk mengevaluasi distribusi aktivitas tektonik relatif di wilayah studi. Empat kelas digunakan untuk mengklasifikasikan tingkat aktivitas tektonik relatif, yaitu kelas 1 dengan nilai 1,60–1,95 aktivitas tektonik sangat tinggi; kelas 2 dengan 1,96–2,30 aktivitas tektonik tinggi; kelas 3 dengan 2,31–2,65 aktivitas tektonik sedang; serta kelas 4 dengan 2,66–3,00 aktivitas tektonik rendah. Hubungan antara nilai Indeks Aktivitas Tektonik Relatif (IATR) dan indeks geomorfik menunjukkan perbedaan respon geomorfologi yang jelas antara domain tektonik dan vulkanik di DAS Cimanuk. Domain tektonik dicirikan oleh kombinasi nilai SL tinggi, Vf rendah, Bs memanjang, dan Af tinggi yang merefleksikan pengangkatan diferensial serta pengaruh struktur terhadap sistem aliran sungai, sedangkan domain vulkanik menunjukkan nilai IATR yang lebih rendah akibat dominasi proses vulkanik, seperti pola drainase radial dan litologi piroklastik muda. Hasil ini menegaskan bahwa interpretasi IATR perlu mempertimbangkan mekanisme geomorfik yang berbeda antara proses tektonik dan vulkanik yang bekerja secara bersamaan. Integrasi data morfometri dan geologi menegaskan bahwa DAS Cimanuk merupakan bentang alam yang mengalami deformasi aktif, dibentuk oleh vulkanik dan tektonik kompresional regional. Hasil pada area vulkanik memiliki hasil yang bias, dan perlu untuk konfirmasi secara cek lapangan atau analisis dari parameter lain.

2026
👤 Penulis: Hamzah Haz
🏷️ Tektonika 🏷️ Geomorfologi 🏷️ Vulkanisme

INTEGRASI ANALISIS SPASIAL DAN GEOMORFOLOGI UNTUK MENGIDENTIFIKASI PERUBAHAN FISIS SUNGAI CITARUM DI SEKITAR CANDI BATUJAYA

Citarum merupakan sungai terbesar di Jawa Barat yang mempunyai pengaruh kuat bagi masyarakat pada pemerintahan Tarumanagara, baik dalam aspek sosiopolitik maupun ekonomi. Para sejarawan meyakini bahwa candi Batujaya, salah satu peninggalan Tarumanagara, dibangun tepat di muara sungai Citarum. Namun, perubahan fisis yang terjadi selama ratusan tahun telah menyebabkan lokasi candi bergeser sekitar 500 meter di utara Citarum. Penelitian mengenai evolusi Citarum masih sangat minim dan hanya mempertimbangkan perspektif arkeologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan fisis Citarum dari aspek spasial dan geomorfologi. Terdapat 3 jenis peta yang digunakan yaitu: peta US Army, peta RBI, dan peta geologi antara tahun 1962 sampai 2001. Ketiga peta tersebut mempunyai cakupan wilayah, format, dan datum yang berbeda, sehingga perlu dilakukan beberapa proses seperti clipping peta, dijitasi peta, dan transformasi datum, agar ketiga peta mengacu pada kerangka kerja yang sama. Berdasarkan analisis yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa terdapat perubahan tutupan lahan di daerah Batujaya dimana daerah persawahan dan pertambakan ikan masih mendominasi. Namun, populasi pohon pelindung seperti mangrove dan palem nipa mengalami penurunan yang sangat drastis dan terkonversi menjadi lahan usaha serta pemukiman. Selain itu, terjadi pula perubahan garis pantai utara akibat tingkat sedimentasi yang cukup tinggi. Hal ini terutama disebabkan oleh aktifitas manusia seperti konversi lahan serta pembuangan limbah ke dalam sungai. Berdasarkan analisis geomorfologi, diketahui bahwa Batujaya didirikan pada daerah point bar endapan banjir sungai Citarum. Dengan adanya sedimentasi yang membuat garis pantai semakin menjorok ke laut dan sungai Citarum yang semakin meander, lokasi geografis Batujaya semakin menjauh dari muara sungai Citarum.

2026
👤 Penulis: DEBBY NURSASTRADININGRUM (NIM : 151090740); Pembimbing : Dr. Ir. Agung Budi Harto, M.Eng.; Dr.
🏷️ Geomorfologi 🏷️ Analisis Spasial 🏷️ Sungai Citarum

GEOLOGI, GEOMORFOLOGI, DAN LATERISASI ENDAPAN BAUKSIT DI BLOK X, KECAMATAN MELIAU HILIR, KABUPATEN SANGGAU, KALIMANTAN BARAT

Kebutuhan aluminium dunia diperkirakan akan terus meningkat, namun produksi dalam negeri hanya memenuhi sekitar 1,3 juta ton meskipun produksi bijih bauksit mencapai 32 juta ton pada tahun 2024. Hal ini menyebabkan ketergantungan pada impor untuk memenuhi sisa kebutuhan tersebut. Potensi cadangan bauksit Indonesia diperkirakan sebesar 2,8 miliar ton yang dapat dimanfaatkan lebih baik lagi melalui hilirisasi tambang bauksit. Akan tetapi pada proses metalurgi terdapat hambatan terutama saat pemisahan bijih bauksit karena beberapa mineral sulit diekstraksi, kecuali gibsit. Sehingga diperlukan penelitian untuk mengetahui jenis mineral pembawa aluminium pada laterit di Indonesia dan menentukan litologi serta morfologi yang sesuai untuk pembentukan bauksit. Penelitian dilakukan pada wilayah blok X, Kecamatan Meliau Hilir, Kabupaten Sanggau, area tersebut milik PT Aneka Tambang Tbk., UBP Bauksit Tayan. Secara geografis, area penelitian ini terletak sekitar 120 km ke arah timur dari Kota Pontianak. Jenis mineral yang ada pada endapan laterit bauksit dapat diketahui melalui metode eksplorasi. Metode tersebut di antaranya adalah pemetaan geologi, pemetaan geomorfologi, pemetaan laterisasi, analisis petrografi, deskripsi sampel, analisis mineralogi, serta analisis mineralisasi batuan. Analisis mineralogi dilakukan melalui metode Analytical Spectral Devices (ASD) dan X-Ray Diffraction (XRD). Penelitian ini menggunakan data primer yang terdiri dari 40 sampel batuan, 52 sampel bauksit dan 582 sampel latosol. Pada area penelitian terdapat empat satuan geomorfologi yaitu Dataran Rawa dan Aluvial, Perbukitan Bergelombang Intrusi, Perbukitan Bergelombang Terjal Intrusi, serta Perbukitan Terjal Malihan. Secara geologi terdapat tujuh satuan yaitu Metasedimen, Diorit, Granit, Tonalit, Diorit Hornblenda, Gabro, dan Endapan Aluvial. Morfologi perbukitan bergelombang dengan litologi diorit memiliki derajat laterisasi tinggi dengan gibsit yang dominan. Mineralisasi pada bauksit menghasilkan gibsit, hematit, gutit, haloisit dan kaolinit. Sedangkan pada latosol terdapat gutit, gibsit, muskovit, paragonit, dan kaolinit.

2025
👤 Penulis: Amar Hidayatul Mumin
🏷️ Geologi 🏷️ Geomorfologi 🏷️ Laterisasi Endapan Bauksit

STUDI GEOLOGI DAN HIDROGEOLOGI PADA AREA UTARA KOMPLEK GUNUNG PANDAN, JAWA TIMUR

Gunung Pandan merupakan bagian dari Geopark Bojonegoro, sehingga konservasi air tanah diperlukan untuk kebutuhan wisata dan masyarakat sekitar. Namun demikian, penelitian mengenai pola hidrogeologi di daerah penelitian belum tersedia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi geologi dan memetakan hidrogeologi. Pemahaman geologi didasarkan pada pemetaan geologi, struktur geologi, zona alterasi, geomorfologi, serta vulkanostratigrafi. Sedangkan, analisis hidrogeologi meliputi kontrol kemunculan mataair, karakteristik fisik serta kimia mataair, jenis akuifer, zona resapan, dan pola hidrogeologi di daerah penelitian. Berdasarkan analisis geomorfologi dan vulkanostratigrafi, daerah penelitian dapat dibagi menjadi 7 satuan geomorfologi, 5 khuluk, dan 23 gumuk. Berdasarkan pemetaan geologi, daerah penelitian dapat dibagi menjadi 39 satuan batuan tidak resmi. Struktur geologi utama di daerah penelitian berarah NNW-SSE berupa sesar geser mengiri (tear fault). Hal ini menyebabkan terbentuknya sesar mengiri (NE-SW), sesar menganan (NW-SE), dan perlipatan kecil (ENE-WSW). Dua zona alterasi yang berada di sekitar Khuluk Jari dengan mineral alterasi smektit-kaolinit-kuarsa dan oksida besi di sekitar mataair. Pemetaan mataair menunjukkan terdapat 9 mataair dingin dan 7 mataair hangat. Mataair di daerah penelitian dapat dibagi menjadi 5 kelompok, yaitu mataair hangat-dingin yang kemunculannya dikontrol oleh sesar dalam akuifer wackestone pada kelompok air Na-Cl dengan nilai TDS 1070-16200 ppm; mataair dingin yang kemunculannya dikontrol oleh sesar dalam akuifer wackestone pada kelompok air Ca-HCO3-SO4 serta memiliki nilai TDS 424 ppm; mataair hangat yang kemunculannya dikontrol oleh sesar dalam akuifer satuan kubah lava pada kelompok air Mg-HCO3 dengan nilai TDS 756 ppm; mataair dingin yang kemunculannya dikontrol oleh topografi dalam akuifer batuan breksi piroklastik dan breksi sedimen pada kelompok air Ca-Mg-HCO3 dengan nilai TDS 112-363 ppm; mataair hangat asam yang kemunculannya dikontrol oleh sesar dalam akuifer wackestone pada kelompok air Ca-SO4 dengan TDS 350 ppm. Pola hidrogeologi memiliki arah umum selatan-utara dengan memerhatikan kedudukan batuan. Daerah resapan berada di zona sesar dan pada tinggian punggungan aliran piroklastik.

2024
👤 Penulis: Solomon Mulia Timothi
🏷️ Geologi 🏷️ Hidrologi 🏷️ Geomorfologi
💬