π Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 6 dokumenDAMPAK FAKTOR GEOPOLITIK TERHADAP OPTIMASI INVENTORI MINYAK MENTAH DI RU IV DAN RU V PT PERTAMINA PATRA NIAGA
Meningkatnya ketergantungan Indonesia terhadap minyak mentah impor membuat Indonesia lebih terekspos terhadap gangguan geopolitik dan menjadikan kebijakan persediaan statis kurang andal. Kilang PT PPN, khususnya RU IV Cilacap dan RU V Balikpapan, termasuk yang paling bergantung pada minyak mentah impor. Tesis ini mengkaji cara mengoptimalkan tingkat persediaan minyak mentah dalam ketidakpastian akibat risiko geopolitik: konflik, sanksi, ancaman keamanan maritim, dan sengketa perdagangan, yang dapat mengganggu rute pelayaran, ketersediaan angkutan, premi asuransi, serta keandalan sumber pasokan. Dengan kerangka DMAIC, penelitian ini menggabungkan pemodelan system dynamics, analisis berbasis skenario, dan simulasi Monte Carlo. Causal loop diagram mengidentifikasi hubungan umpan balik antara ketegangan geopolitik dengan rantai pasok, lead time, dan buffer persediaan, sementara simulasi Monte Carlo menghasilkan skenario probabilistik pasokan yang dikalibrasi dengan data historis 2021β2023. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model statis M+3 saat ini secara sistematis menghasilkan estimasi kebutuhan safety stock yang lebih rendah dari kebutuhan aktual: pada tingkat layanan 99%, usulan safety stock 38,6%β134,3% lebih tinggi dibandingkan nilai eksisting pada seluruh kategori minyak mentah, dengan kesenjangan terbesar pada medium crude yang 98% pasokannya berasal dari Nigeria. Variabilitas lead time akibat gangguan geopolitik menjadi pendorong utama risiko persediaan. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merekomendasikan solusi tiga lapis: (1) mengadopsi model persediaan stokastik adaptif; (2) mengamankan kapasitas floating storage (VLCC/FSO) untuk menutup residu eksposur 819β1.644 kbbl pada gangguan ekstrem; dan (3) mendiversifikasi sumber medium crude untuk menurunkan porsi Nigeria di bawah 80%. Secara praktis, model ini mendukung ketahanan energi nasional dengan menjaga operasi kedua kilang; secara akademis, penelitian ini memperluas teori manajemen persediaan melalui kuantifikasi risiko pasokan akibat geopolitik. Ruang lingkup dibatasi pada data operasional historis dan indikator risiko geopolitik publik, sehingga guncangan politik real-time dan risiko black swan tidak tercakup.
PENGARUH RISIKO GEOPOLITIK PADA KINERJA SAHAM DALAM INDUSTRI KESEHATAN (STUDI KASUS DI ASIA TENGGARA)
Sektor kesehatan dianggap sebagai "safe haven" bagi investor karena permintaannya yang non-siklis. Namun, era pascapandemi telah menunjukkan kerentanan di industri ini, terutama pada gangguan rantai pasokan global dan gesekan geopolitik. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki dampak Risiko Geopolitik (GPR) terhadap kinerja saham 76 perusahaan kesehatan yang terdaftar di Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, Vietnam, dan Singapura) dari tahun 2015 hingga 2024. Dengan menggunakan Indeks GPR Caldara dan Iacoviello, penelitian ini menggunakan Panel Autoregressive Distributed Lag (ARDL) dan Error Correction Model (ECM) untuk menganalisis ekuilibrium jangka panjang dan jangka pendek. Hasil empiris menunjukkan adanya "Paradoks Agregasi". Meskipun analisis sektoral gabungan menunjukkan mekanisme ketahanan yang signifikan dengan kecepatan penyesuaian 13,9%, pada tahap analisis tingkat Perusahaan, hasil menunjukkan adanya kerapuhan yang meluas. Studi ini menemukan bahwa 95% perusahaan yang disurvei (72 dari 76) tidak memiliki mekanisme koreksi kesalahan jangka pendek yang valid. Hal ini menunjukkan bahwa ketahanan hanya dimiliki oleh sebagian kecil perusahaan elit. Lebih lanjut, hasil penelitian juga menunjukkan respons pasar yang dualistik: sementara Risiko Geopolitik dan Inflasi secara umum secara signifikan menekan kinerja saham, Tindakan Geopolitik (GPRA) dan Ancaman (GPRT) malah menunjukkan dampak positif, hal ini menunjukkan adanya "premi kebutuhan" di mana investor mengantisipasi lonjakan permintaan pasokan medis selama konflik yang terjadi. Kesimpulan yang di dapat pada penelitian ini adalah sektor kesehatan bukan "safe haven" melainkan lanskap yang sangat terfragmentasi di mana inflasi menimbulkan ancaman yang lebih besar bagi perusahaan daripada ketidakstabilan politik. Rekomendasi dari penelitian ini yaitu investor dapat mengadopsi strategi penyaringan "ketahanan mikro" dari bawah ke atas, sementara manajer perusahaan harus memprioritaskan pemisahan rantai pasokan dan lindung nilai inflasi untuk menavigasi "Kesenjangan Ketahanan" yang teridentifikasi di wilayah tersebut.
PENGARUH KETEGANGAN GEOPOLITIK TERHADAP ALIRAN RANTAI PASOKAN GLOBAL
Ketegangan Geopolitik telah menjadi sumber gangguan yang terus-menerus dalam rantai pasokan global, membentuk kembali arus perdagangan, pasar energi, jaringan logistik, dna lingkungan regulasi. Peristiwa seperti konflik perdagangan AS-Tiongkok dan perang Rusia-Ukraina menunjukan bahwa guncangan geopolitik tidak lagi hanya memengaruhi industri strategies, tetapi juga rantai pasokan komoditas pertanian yang mendukung barang konsumsi sehari-hari. Cocoa adalah salah satu komoditas tersebut. Sebagai produk yang diperdagangkan secara global dengan produksi yang sangat terkonsentrasi dan ketergantungan yang kuat pada petani kecil, rantai pasokan cocoa sangat rentan terhadap gangguan geopolitik dan regulasi. Studi ini meneliti bagaimana ketegangan geopolitik mempengaruhi aliran rantai pasokan global, dengan fokus khusus pada industri cocoa. Menggunakan Tinjauan Literatur Sistematis (SLR), penelitian ini mensintesis studi akademis, dokumen kebijakan, dan laporan institusional yang diterbitkan antara tahun 2010 hingga 2025. Analisis bibliometrik menggunakan VOSviewer untuk mendukung pemetaan tematik dan mengidentifikasi klaster penelitian dominan. Temuan menunjukkan bahwa ketegangan geopolitik mengaggangu rantai pasokan cocoa melalui saluran yang saling terkait, termasuk ketidakpastian perdagangan, volatilitas pasar energi dan pupuk, gangguan logistik, dan peraturan keberlanjutan seperti peraturan Deforestasi Uni Eropa. Tinjauan ini juga menunjukkan bahwa produsen coklat besar merespons melalui diversifikasi, manajemen risiko keuangan, investasi ketertelusuran, dan kolaborasi dengan pemangku kepentingan hulu. Mondelez international digunakan sebagai contoh ilustratif untuk menunjukan bagaimana strategi ini deimplementasikan dalam pratik.
MENGANALISA DAMPAK DARI KETEGANGAN GEOPOLITIK TERHADAP SEKTOR RANTAI PASOK DARI INDUSTRI PENERBANGAN
Di era teknologi yang berkembang pesat saat ini, industri-industri yang mendukung moda transportasi utama manusia, seperti industri penerbangan, turut mengalami evolusi. Industri penerbangan, yang merupakan sektor hiperkompleks, sangat bergantung pada manajemen rantai pasok yang teroptimalkan. Namun, kinerjanya menurun sebesar 20β30% akibat disrupsi yang disebabkan oleh ketegangan geopolitik, perang dagang, sanksi, dan pandemi COVID-19. Meskipun menghadapi berbagai tantangan tersebut, masih terdapat keterbatasan penelitian mengenai bagaimana perusahaan penerbangan mampu membangun ketahanan terhadap ketidakstabilan tersebut. Studi ini bertujuan untuk mengisi tiga kesenjangan utama: kurangnya riset mengenai ketahanan terhadap ketegangan geopolitik, minimnya analisis terhadap strategi diversifikasi, serta perlunya model strategi alternatif. Melalui tinjauan literatur yang komprehensif, wawancara dengan para ahli, dan metode triangulasi, penelitian ini mengidentifikasi tantangan utama seperti gangguan pasokan, keterlambatan regulasi, dan minimnya dukungan pemerintah, khususnya di Indonesia. Perusahaan yang terdampak mencakup produsen peralatan asli (OEM) seperti Boeing dan Airbus beserta para pemasoknya. Sebuah kerangka kerja ketahanan 3D yang mencakup Diversifikasi, Digitalisasi, dan Pengembangan, apabila dipadukan dengan kolaborasi pemerintah serta pemanfaatan teknologi canggih seperti blockchain dan kecerdasan buatan (AI), dapat meningkatkan kelincahan dan ketahanan rantai pasok.
PERAN MEDIASI NILAI TUKAR DALAM HUBUNGAN ANTARA RETURN MINYAK DAN GAS GLOBAL TERHADAP RETURN SAHAM SEKTOR KEUANGAN DI INDONESIA SELAMA KONFLIK RUSIAβUKRAINA (2021β2024)
Konflik geopolitik antara Russia dan Ukraina pada awal tahun 2022 memberikan dampak yang signifikan terhadap harga minyak dan gas alam dunia. Indonesia, sebagai negara pengimpor minyak, sangat terdapak oleh perubahan harga komoditas energi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa harga pengaruh minyak dunia dan gas alam terhadap nilai tukar mata uang Indonesia dan harga saham Perusahaan di sektor keuangan yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia (BEI). Analisa data dilakukan dengan metode Multiple Linear Regression (MLR) dan menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) untuk mengetahui hubungan antar variabel. Penelitian ini menggunakan data harga saham dari Perusahaan keuangan besar yang tercatat di BEI selama periode 2021 hingga 2024 yang dijadikan sebagai indicator representative respons pasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa harga minyak dunia dan gas alam tidak memiliki pengaruh secara bersamaan terhadap harga saham, namun memiliki pengaruh secara bersamaan terhadap nilai tukar Indonesia. Ditemukan pengaruh signifikan secara individual antara harga minyak dunia dengan nilai tukar Indonesia. Ditemukan juga pengaruh bersifat moderat dari nilai tukar Indonesia terhadap harga saham sektor keuangan. Hasil temuan menyarankan agar investor dan orang berkepentingan lainnya untuk lebih memperhatikan dinamika harga komditas global dan nilai tukar dalam menyusun strategi untuk berinvestasi pada sektor keuangan
STUDI MENGOPTIMALKAN LOGISTIK PENGIRIMAN MULTIMODA AKIBAT DAMPAK GEOPOLITIK TERHADAP TERUSAN SUEZ: STUDI KASUS PENANGANAN PENGIRIMAN DARI EROPA BARAT LAUT KE INDONESIA
Penelitian ini mengeksplorasi kelayakan bisnis dari penerapan strategi pengiriman multimoda sebagai respons terhadap gangguan geopolitik yang memengaruhi Terusan Suez, dengan studi kasus pada pengiriman dari Eropa Barat Laut ke Indonesia oleh perusahaan manajemen energi multinasional, Lavinia Power (nama samaran). Terusan Suez, sebagai jalur laut strategis, mengalami ketidakstabilan akibat konflik regional, yang menyebabkan waktu pengiriman lebih lama, peningkatan biaya logistik, dan ketidakefisienan operasional. Kondisi ini mendorong perusahaan global untuk meninjau ulang strategi rantai pasok mereka dan mencari rute alternatif. Dengan pendekatan metode campuran, penelitian ini menggabungkan wawasan kualitatif dari pemangku kepentingan internal dan eksternal dengan analisis kuantitatif melalui studi kelayakan terstruktur. Empat opsi logistik dievaluasi: (A) Kereta-Laut, (B) Udara-Laut, (C) Udara Penuh, dan (D) Laut Penuh. Masing-masing dinilai berdasarkan lima kriteria utama: biaya inventori, biaya logistik, waktu pengiriman, emisi CO?, dan biaya pergudangan. Metode TOPSIS digunakan untuk menentukan peringkat alternatif. Hasil menunjukkan bahwa Opsi A (Kereta-Laut) merupakan solusi paling seimbang, menggabungkan efisiensi biaya, dampak lingkungan yang lebih rendah, dan waktu pengiriman yang lebih baik. Opsi B (Udara-Laut) cocok untuk pengiriman dengan urgensi sedang dan risiko geopolitik, sementara Opsi C (Udara Penuh) digunakan untuk pengiriman kritis yang sangat sensitif terhadap waktu. Opsi D (Laut Penuh), meskipun paling hemat biaya, rentan terhadap gangguan. Penelitian ini ditutup dengan peta jalan manajemen proyek untuk implementasi strategi multimoda, dengan penekanan pada integrasi digital, kolaborasi pemangku kepentingan, dan keberlanjutan