📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 40 dokumen

STRATEGI PENGEMBANGAN PASAR UNTUK SOLUSI GEOSPASIAL: STUDI KASUS GEOSURV INDONESIA

Pada pertengahan 2025, sebuah perusahaan solusi geospasial melakukan rebranding strategis dengan mengadopsi nama GeoSurv Indonesia dan memperbarui visi serta misinya. Hal tersebut disebabkan oleh persaingan harga yang ketat, tidak adanya fungsi pemasaran yang terstruktur, serta ketergantungan yang tinggi pada jaringan pribadi pendiri dan tender pemerintah untuk memperoleh klien. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun strategi pengembangan pasar bagi GeoSurv dengan menentukan pasar sasaran yang paling sesuai dari tiga pasar potensial, yaitu pengembangan gim, konstruksi dan perencanaan kota, serta pemerintah daerah, mengidentifikasi kebutuhan dan tantangan pelanggan pada pasar yang dipilih, dan merancang strategi pemasaran yang tepat. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif dengan data primer yang diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap dua perwakilan perusahaan dan enam perwakilan dari ketiga pasar potensial. Data tersebut didukung oleh data sekunder yang meliputi laporan industri, dokumen regulasi, catatan internal perusahaan, dan informasi kompetitor. Data wawancara dianalisis menggunakan metodologi Gioia dan beberapa kerangka analisis strategis. Analisis wawancara pasar potensial menghasilkan enam dimensi agregat yang meliputi permintaan, hambatan adopsi, unit pengambil keputusan, kriteria pemilihan vendor, faktor retensi vendor, dan ekspektasi layanan. Pada industri pengembangan gim, permintaan masih terbatas karena rendahnya kesadaran terhadap layanan serta ketersediaan alternatif gratis. Pada pasar konstruksi dan perencanaan kota, permintaan bersifat stabil dan pelanggan membutuhkan data yang lengkap serta siap digunakan, khususnya untuk perhitungan pekerjaan tanah, sementara keputusan pembelian ditentukan oleh insinyur dan tim teknis. Pada pasar pemerintah daerah, permintaan juga relatif stabil, namun sering kali terhambat oleh keterbatasan anggaran. Tantangan yang ditemukan pada ketiga pasar meliputi persaingan dari metode manual dan alternatif gratis, rendahnya kesadaran terhadap nilai layanan yang ditawarkan, ketidakjelasan struktur harga, serta preferensi terhadap vendor yang memiliki rekam jejak yang telah terbukti. Berdasarkan temuan tersebut serta hasil analisis industri dan internal perusahaan, pasar konstruksi dan perencanaan kota dipilih sebagai pasar sasaran yang paling sesuai dengan fokus awal pada proyek design-and-build swasta dengan nilai di bawah sekitar satu miliar rupiah. Pasar pemerintah daerah diposisikan sebagai pasar sekunder yang akan dikembangkan setelah perusahaan memiliki rekam jejak yang lebih kuat, sedangkan pasar pengembangan gim dipertahankan sebagai peluang jangka panjang. Untuk memasuki pasar sasaran tersebut, GeoSurv perlu menerapkan strategi pengembangan pasar blue ocean yang berfokus pada pembeli teknis dalam proyek design-and-build. Sebelumnya perusahaan mengasumsikan bahwa arsitek merupakan pengguna utama layanannya, namun hasil penelitian menunjukkan bahwa pengguna dan pengambil keputusan yang sebenarnya adalah fungsi teknis seperti insinyur sipil dan tim design-and-build. Berdasarkan temuan tersebut, produk MapReady perlu diposisikan ulang sebagai solusi siap pakai untuk kebutuhan teknik yang menggabungkan data medan tiga dimensi yang akurat, analisis cut-and-fill, pemetaan infrastruktur, dan jaminan layanan. Didukung oleh bauran pemasaran tujuh P dan rencana implementasi bertahap selama dua puluh empat bulan, strategi ini bertujuan membangun fungsi pemasaran dan penjualan yang khusus, menciptakan jalur pemasaran multi-kanal, serta mengurangi ketergantungan pada jaringan pribadi pendiri. Dengan mengutamakan transparansi harga, posisi berbasis nilai, dan dokumentasi referensi proyek, GeoSurv dapat bersaing berdasarkan nilai yang diberikan dibandingkan semata mata berdasarkan harga.

2026
👤 Penulis: Fasya Indy Salsabilla
🏷️ Geospasial 🏷️ Pemasaran Solusi Geospasial 🏷️ Analisis Pasar

STRATEGI PENGEMBANGAN PASAR UNTUK SOLUSI GEOSPASIAL: STUDI KASUS GEOSURV INDONESIA

Pada pertengahan 2025, sebuah perusahaan solusi geospasial melakukan rebranding strategis dengan mengadopsi nama GeoSurv Indonesia dan memperbarui visi serta misinya. Hal tersebut disebabkan oleh persaingan harga yang ketat, tidak adanya fungsi pemasaran yang terstruktur, serta ketergantungan yang tinggi pada jaringan pribadi pendiri dan tender pemerintah untuk memperoleh klien. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun strategi pengembangan pasar bagi GeoSurv dengan menentukan pasar sasaran yang paling sesuai dari tiga pasar potensial, yaitu pengembangan gim, konstruksi dan perencanaan kota, serta pemerintah daerah, mengidentifikasi kebutuhan dan tantangan pelanggan pada pasar yang dipilih, dan merancang strategi pemasaran yang tepat. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif dengan data primer yang diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap dua perwakilan perusahaan dan enam perwakilan dari ketiga pasar potensial. Data tersebut didukung oleh data sekunder yang meliputi laporan industri, dokumen regulasi, catatan internal perusahaan, dan informasi kompetitor. Data wawancara dianalisis menggunakan metodologi Gioia dan beberapa kerangka analisis strategis. Analisis wawancara pasar potensial menghasilkan enam dimensi agregat yang meliputi permintaan, hambatan adopsi, unit pengambil keputusan, kriteria pemilihan vendor, faktor retensi vendor, dan ekspektasi layanan. Pada industri pengembangan gim, permintaan masih terbatas karena rendahnya kesadaran terhadap layanan serta ketersediaan alternatif gratis. Pada pasar konstruksi dan perencanaan kota, permintaan bersifat stabil dan pelanggan membutuhkan data yang lengkap serta siap digunakan, khususnya untuk perhitungan pekerjaan tanah, sementara keputusan pembelian ditentukan oleh insinyur dan tim teknis. Pada pasar pemerintah daerah, permintaan juga relatif stabil, namun sering kali terhambat oleh keterbatasan anggaran. Tantangan yang ditemukan pada ketiga pasar meliputi persaingan dari metode manual dan alternatif gratis, rendahnya kesadaran terhadap nilai layanan yang ditawarkan, ketidakjelasan struktur harga, serta preferensi terhadap vendor yang memiliki rekam jejak yang telah terbukti. Berdasarkan temuan tersebut serta hasil analisis industri dan internal perusahaan, pasar konstruksi dan perencanaan kota dipilih sebagai pasar sasaran yang paling sesuai dengan fokus awal pada proyek design-and-build swasta dengan nilai di bawah sekitar satu miliar rupiah. Pasar pemerintah daerah diposisikan sebagai pasar sekunder yang akan dikembangkan setelah perusahaan memiliki rekam jejak yang lebih kuat, sedangkan pasar pengembangan gim dipertahankan sebagai peluang jangka panjang. Untuk memasuki pasar sasaran tersebut, GeoSurv perlu menerapkan strategi pengembangan pasar blue ocean yang berfokus pada pembeli teknis dalam proyek design-and-build. Sebelumnya perusahaan mengasumsikan bahwa arsitek merupakan pengguna utama layanannya, namun hasil penelitian menunjukkan bahwa pengguna dan pengambil keputusan yang sebenarnya adalah fungsi teknis seperti insinyur sipil dan tim design-and-build. Berdasarkan temuan tersebut, produk MapReady perlu diposisikan ulang sebagai solusi siap pakai untuk kebutuhan teknik yang menggabungkan data medan tiga dimensi yang akurat, analisis cut-and-fill, pemetaan infrastruktur, dan jaminan layanan. Didukung oleh bauran pemasaran tujuh P dan rencana implementasi bertahap selama dua puluh empat bulan, strategi ini bertujuan membangun fungsi pemasaran dan penjualan yang khusus, menciptakan jalur pemasaran multi-kanal, serta mengurangi ketergantungan pada jaringan pribadi pendiri. Dengan mengutamakan transparansi harga, posisi berbasis nilai, dan dokumentasi referensi proyek, GeoSurv dapat bersaing berdasarkan nilai yang diberikan dibandingkan semata mata berdasarkan harga.

2026
👤 Penulis: Haryo Agung Wibowo
🏷️ Geospasial 🏷️ Pemasaran Perusahaan 🏷️ Analisis Pasar

STUDI PENGEMBANGAN LAYANAN ANGKUTAN SUNGAI DAN DANAU: KASUS ANGKUTAN PERAIRAN WADUK SAGULING, KABUPATEN BANDUNG BARAT

Indonesia memiliki kekayaan perairan darat yang berpotensi besar sebagai jalur transportasi alternatif, namun pemanfaatannya masih belum optimal. Waduk Saguling di Kabupaten Bandung Barat merupakan salah satu perairan darat dengan aktivitas angkutan air relatif sibuk sekaligus menjadi penghalang geografis bagi masyarakat sekitarnya akibat terbatasnya akses jalan darat. Kesenjangan antara potensi dan pengelolaan yang belum optimal melatarbelakangi penelitian ini, dengan tujuan mengidentifikasi potensi pengembangan layanan angkutan sungai dan danau di Perairan Waduk Saguling melalui tiga sasaran: karakteristik dan pola pelayanan sistem, cakupan pelayanan aktual dan pascapengembangan pelabuhan baru, serta proyeksi kebutuhan penumpang dan barang. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed-methods, dengan data primer dari wawancara dan data sekunder dari instansi pemerintah. Karakteristik sistem angkutan dianalisis secara deskriptifeksploratif, cakupan pelayanan dianalisis melalui isochrone surface area, sedangkan proyeksi penumpang dan barang dihitung melalui sebagian dari fourstep transport model dan statistical forecasting. Hasil menunjukkan pengelolaan angkutan masih terhambat transisi kewenangan kelembagaan yang belum tuntas. Ditemukan juga 39 pelabuhan bayangan di luar 8 pelabuhan resmi dan terdapat penurunan kapal tradisional dari 244 menjadi 70 unit (2019 2025). Cakupan pelayanan aktual masih rendah (17,90% permukiman perdesaan, 8,22% permukiman perkotaan dalam radius sepuluh menit), dengan enam blank spots teridentifikasi. Dua belas pelabuhan baru diproyeksikan meningkatkan cakupan hingga 67,54% (kawasan perdesaan) dan 87,82% (kawasan perkotaan), dengan populasi catchment area hingga 743.159 jiwa, peningkatan penumpang harian 89 154%, serta volume barang lebih dari dua kali lipat. Kebaruan penelitian terletak pada estimasi pemilihan moda berbasis proporsi luas wilayah tangkapan sebagai alternatif saat data terbatas, sekaligus mengintegrasikan analisis geospasial dan pemodelan permintaan transportasi dalam satu kerangka, sehingga memberikan kerangka metodologis yang dapat direplikasi pada kajian transportasi perairan darat lain serta basis rekomendasi kebijakan bagi pemerintah daerah.

2026
👤 Penulis: Julio Giovan Damanik
🏷️ Angkutan Air 🏷️ Perairan Darat 🏷️ Geospasial

PEMBUATAN DATABASE GRAVIMETRI NASIONAL

GravPORT merupakan sistem informasi yang dirancang untuk mengatasi keterbatasan integrasi data gravitasi terestris dan airborne di wilayah Jawa-Bali. Sistem ini dikembangkan untuk menyediakan platform distribusi data anomali gayaberat yang terstandar, lengkap, dan mudah diakses oleh berbagai pengguna seperti akademisi, konsultan, dan institusi pemerintah. Produk yang dihasilkan berupa basis data gravimetri berbasis PostgreSQL/PostGIS yang terintegrasi dengan geoportal berbasis web untuk visualisasi dan distribusi data anomali gayaberat. Data yang dikelola mencakup data Level 1 berupa titik anomali gayaberat dengan nilai Free-Air Anomaly (FAA) atau Bouguer Anomaly (BA), serta data Level 2 berupa grid raster hasil interpolasi. Proses pengembangan sistem menggunakan metode Waterfall yang disesuaikan dengan kebutuhan teknologi geospasial, dengan arsitektur tiga-lapisan (three-tier architecture) mengintegrasikan PostgreSQL/PostGIS sebagai basis data, CodeIgniter 4 dan Node.js sebagai back-end, serta Leaflet.js untuk front-end interaktif. Seluruh metadata dataset disusun mengacu pada SNI ISO 19115:2012 (adopsi identik dari ISO 19115:2003) sebagai standar metadata nasional untuk informasi geospasial, guna menjamin interoperabilitas dan konsistensi dokumentasi data. Sistem yang dikembangkan mampu mengelola lebih dari ratusan ribu titik serta menyediakan layanan OGC (WMS/WFS) untuk akses data yang kompatibel. Geoportal GravPORT diharapkan mampu mendukung pemodelan geoid, analisis geofisika, serta kebijakan nasional Satu Data dan Satu Peta Indonesia, sekaligus meningkatkan efisiensi pengelolaan dan kolaborasi data gravimetri lintas institusi.

2026
👤 Penulis: Darren Avram P.S.
🏷️ Geospasial 🏷️ Data Geologi 🏷️ Interoperabilitas Geospatial

PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI BASIS DATA GRAVIMETRI BERBASIS GEOPORTAL (STUDI KASUS WILAYAH JAWA-BALI)

GravPORT merupakan sistem informasi yang dirancang untuk mengatasi keterbatasan integrasi data gravitasi terestris dan airborne di wilayah Jawa-Bali. Sistem ini dikembangkan untuk menyediakan platform distribusi data anomali gayaberat yang terstandar, lengkap, dan mudah diakses oleh berbagai pengguna seperti akademisi, konsultan, dan institusi pemerintah. Produk yang dihasilkan berupa basis data gravimetri berbasis PostgreSQL/PostGIS yang terintegrasi dengan geoportal berbasis web untuk visualisasi dan distribusi data anomali gayaberat. Data yang dikelola mencakup data Level 1 berupa titik anomali gayaberat dengan nilai Free-Air Anomaly (FAA) atau Bouguer Anomaly (BA), serta data Level 2 berupa grid raster hasil interpolasi. Proses pengembangan sistem menggunakan metode Waterfall yang disesuaikan dengan kebutuhan teknologi geospasial, dengan arsitektur tiga-lapisan (three-tier architecture) mengintegrasikan PostgreSQL/PostGIS sebagai basis data, CodeIgniter 4 dan Node.js sebagai back-end, serta Leaflet.js untuk front-end interaktif. Seluruh metadata dataset disusun mengacu pada SNI ISO 19115:2012 (adopsi identik dari ISO 19115:2003) sebagai standar metadata nasional untuk informasi geospasial, guna menjamin interoperabilitas dan konsistensi dokumentasi data. Sistem yang dikembangkan mampu mengelola lebih dari ratusan ribu titik serta menyediakan layanan OGC (WMS/WFS) untuk akses data yang kompatibel. Geoportal GravPORT diharapkan mampu mendukung pemodelan geoid, analisis geofisika, serta kebijakan nasional Satu Data dan Satu Peta Indonesia, sekaligus meningkatkan efisiensi pengelolaan dan kolaborasi data gravimetri lintas institusi.

2026
👤 Penulis: Haifa Bilqis
🏷️ Geospasial 🏷️ Data Geologi 🏷️ Interoperabilitas Geospatial

PEMBUATAN DATABASE GRAVIMETRI NASIONAL

GravPORT merupakan sistem informasi yang dirancang untuk mengatasi keterbatasan integrasi data gravitasi terestris dan airborne di wilayah Jawa-Bali. Sistem ini dikembangkan untuk menyediakan platform distribusi data anomali gayaberat yang terstandar, lengkap, dan mudah diakses oleh berbagai pengguna seperti akademisi, konsultan, dan institusi pemerintah. Produk yang dihasilkan berupa basis data gravimetri berbasis PostgreSQL/PostGIS yang terintegrasi dengan geoportal berbasis web untuk visualisasi dan distribusi data anomali gayaberat. Data yang dikelola mencakup data Level 1 berupa titik anomali gayaberat dengan nilai Free-Air Anomaly (FAA) atau Bouguer Anomaly (BA), serta data Level 2 berupa grid raster hasil interpolasi. Proses pengembangan sistem menggunakan metode Waterfall yang disesuaikan dengan kebutuhan teknologi geospasial, dengan arsitektur tiga-lapisan (three-tier architecture) mengintegrasikan PostgreSQL/PostGIS sebagai basis data, CodeIgniter 4 dan Node.js sebagai back-end, serta Leaflet.js untuk front-end interaktif. Seluruh metadata dataset disusun mengacu pada SNI ISO 19115:2012 (adopsi identik dari ISO 19115:2003) sebagai standar metadata nasional untuk informasi geospasial, guna menjamin interoperabilitas dan konsistensi dokumentasi data. Sistem yang dikembangkan mampu mengelola lebih dari ratusan ribu titik serta menyediakan layanan OGC (WMS/WFS) untuk akses data yang kompatibel. Geoportal GravPORT diharapkan mampu mendukung pemodelan geoid, analisis geofisika, serta kebijakan nasional Satu Data dan Satu Peta Indonesia, sekaligus meningkatkan efisiensi pengelolaan dan kolaborasi data gravimetri lintas institusi.

2026
👤 Penulis: Ahmad Hakim Sufyan
🏷️ Geospasial 🏷️ Data Geologi 🏷️ Interoperabilitas Geospatial

PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI BASIS DATA GRAVIMETRI BERBASIS GEOPORTAL (STUDI KASUS WILAYAH JAWA-BALI)

GravPORT merupakan sistem informasi yang dirancang untuk mengatasi keterbatasan integrasi data gravitasi terestris dan airborne di wilayah Jawa-Bali. Sistem ini dikembangkan untuk menyediakan platform distribusi data anomali gayaberat yang terstandar, lengkap, dan mudah diakses oleh berbagai pengguna seperti akademisi, konsultan, dan institusi pemerintah. Produk yang dihasilkan berupa basis data gravimetri berbasis PostgreSQL/PostGIS yang terintegrasi dengan geoportal berbasis web untuk visualisasi dan distribusi data anomali gayaberat. Data yang dikelola mencakup data Level 1 berupa titik anomali gayaberat dengan nilai Free-Air Anomaly (FAA) atau Bouguer Anomaly (BA), serta data Level 2 berupa grid raster hasil interpolasi. Proses pengembangan sistem menggunakan metode Waterfall yang disesuaikan dengan kebutuhan teknologi geospasial, dengan arsitektur tiga-lapisan (three-tier architecture) mengintegrasikan PostgreSQL/PostGIS sebagai basis data, CodeIgniter 4 dan Node.js sebagai back-end, serta Leaflet.js untuk front-end interaktif. Seluruh metadata dataset disusun mengacu pada SNI ISO 19115:2012 (adopsi identik dari ISO 19115:2003) sebagai standar metadata nasional untuk informasi geospasial, guna menjamin interoperabilitas dan konsistensi dokumentasi data. Sistem yang dikembangkan mampu mengelola lebih dari ratusan ribu titik serta menyediakan layanan OGC (WMS/WFS) untuk akses data yang kompatibel. Geoportal GravPORT diharapkan mampu mendukung pemodelan geoid, analisis geofisika, serta kebijakan nasional Satu Data dan Satu Peta Indonesia, sekaligus meningkatkan efisiensi pengelolaan dan kolaborasi data gravimetri lintas institusi.

2026
👤 Penulis: Alfian Rahma Ayu Indrajati
🏷️ Geospasial 🏷️ Data Geologi 🏷️ Interoperabilitas Geospatial

PEMANFAATAN DATA GEOSPASIAL MULTI-SENSOR MULTI-RESOLUSI UNTUK INSPEKSI KERUSAKAN STUKTUR CAGAR BUDAYA DI INDONESIA

Cagar budaya (CB) merupakan warisan kebendaan bersejarah yang perlu dilestarikan karena fisiknya rentan rusak akibat berbagai faktor ancaman alam, terutama seismisitas. Kerusakan fisik berupa deformasi signifikan bagi keamanan struktur CB. Di Indonesia, pemantauan deformasi (aspek geometrik) yang terkait perubahan posisi, dimensi, dan orientasi CB telah dilakukan secara geospasial memakai berbagai sensor perekaman dan pengindraan. Namun, umumnya masih menganggap struktur CB hanya diwakili oleh beberapa titik pantau, sehingga tidak seluruh struktur CB terwakili. Sementara itu, CB itu morfologinya kompleks terus berpotensi rusak, maka perlu model struktur lengkap dan detail yang bisa dipakai berulang untuk mitigasi deformasinya secara kontinu. Finite Element Method (FEM) yang umum dipakai menyimulasikan respons deformasi kontinu suatu objek akibat gangguan eksternal diajukan menjadi basis solusi masalah ini. Adapun morfologi CB kompleks yang tidak bisa hanya ditangani satu sensor pengindraan, didekati dengan perekaman secara multi-sensor dan multi-resolusi agar lengkap dan detail. Penelitian ini membangun suatu model FEM re-usable yang geometri masukannya berasal dari perekaman CB secara multi-sensor multi-resolusi (MSMR) untuk menyimulasikan deformasi kontinu CB akibat ancaman seismisitas. Penelitian ini memakai gugusan candi Prambanan yang kompleks sebagai studi kasus. Pada tahap awal, Suatu skema perekaman MS-MR, yang direfleksikan dari atribut desain arsitekturnya, diterapkan untuk memperoleh morfologi candi yang lengkap dan detail. Proses tersebut melibatkan penyiaman dengan sensor fotogrametri dan LiDAR multi-moda multi-platform dipakai. Lalu, hasil berupa point-clouds dikonversikan langsung, tanpa representasi permukaan perantara, menjadi model FE yang siap pakai dengan algoritma Cloud2FEM termodifikasi. Kemudian, suatu simulasi FEM secara statik dan dinamik dilakukan untuk mengetahui efek ancaman seismisitas sesaat dan seimsisitas runut waktu terhadap candi. Seismisitas runut waktu (time-history) yang disimulasikan adalah gempa Yogyakarta 2006 yang sangat destruktif terhadap candi. Akibat ketiadaan rekaman seismik di dekat episentrum, maka diterapkan empat skenario input berdasarkan gempa termirip, sintetik #1, artifisial, dan sintetik #2. Hasil respons deformasi iii dinyatakan dengan nilai displacement, strain, dan stress pada seluruh struktur. Keseluruhan proses dari penyiaman hingga ke simulasi FEM ini disebut scan-to-FEM. Terakhir, dilakukan identifikasi titik rentan rusak, analisis dan validasi hasil. Hasil menunjukkan bahwa perekaman MS-MR menghasilkan geometrik candi yang lengkap, akurat, dan presisi. Skema MS-MR refleksi atribut desain candi memberikan pendekatan perekaman data yang terstruktur, sehingga penggabungan data point-clouds menjadi lebih rasional dan terstruktur pula urutannya. Sementara itu, hasil konversi point-clouds ke model FE (volumetric mesh) sukses dilakukan. Efektivitas konversinya berhubungan dengan kelengkapan, jumlah, dan distribusi dari point-clouds di tiap subset potongan horizontal planimetrik yang dibentuk. Cloud2FEM ini tidak sepenuhnya otomatis, karena intervensi operator tetap dibutuhkan. Kemudian, hasil simulasi seismisitas statik sesaat dari FEM menunjukkan bahwa respons deformasi dari candi menunjukkan respons yang sesuai dengan perilaku deformasi hipotetiknya. Titik dengan potensi kerusakan yang tinggi letaknya sesuai dengan sampel kerusakan aktualnya, yaitu di bagian puncak candi dan pertemuan batu Ratna atap dengan atapnya. Factor-of-safety (FoS) dari respons stress candi menunjukkan nilai > 1, atau level aman. Selain itu, hasil simulasi seismisitas dinamis dari FEM, diketahui bahwa tiga titik rawan rusak konsisten terdeteksi rusak pada pertemuan batu Ratna dengan bagian atap candi, dan di door jamb sisi kanan candi. Tiga dari empat skenario input seismisitas menunjukkan bahwa dua titik rawan (node 1298620 dan 1230199) terindikasi fraktur. Dua skenario terkonfirmasi sejalan dengan penelitian sebelumnya yang memakai input seismisitas sama. Letak titik-titik rawan secara umum sejalan dengan laporan kerusakan aktual akibat gempa Yogyakarta 2006. Dengan demikian, model FE yang dibangun dapat disimpulkan mampu memberikan respons deformasi yang seharusnya. Hal ini akan bermanfaat dalam memberikan masukan dalam intervensi pelestarian cagar budaya, khususnya pada Candi Prambanan.

2026
👤 Penulis: Anindya Sricandra Prasidya
🏷️ Geospasial 🏷️ Analisis Struktur Geologi 🏷️ Metode Finite Element

PENGEMBANGAN VARIABEL MODEL ALIRAN MATERIAL SAMPAH PLASTIK DI SUMBER DENGAN ANALISA GEOSPASIAL DAN SOSIOEKONOMI

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi variabel sosioekonomi dan spasial yang memengaruhi keputusan rumah tangga dalam pengelolaan sampah plastik di tingkat sumber, serta mengintegrasikan hasil analisis berbasis probabilitas perilaku ke dalam pendekatan koefisien transfer dalam Material Flow Analysis (MFA). Variabel yang diperoleh digunakan untuk memetakan distribusi timbulan sampah plastik dan praktik penanganannya sebagai dasar pengembangan model aliran material berbasis perilaku. Studi ini dilakukan pada 905.935 rumah tangga di Provinsi Bali, dengan pengambilan sampel timbulan dan komposisi sampah pada 200 rumah tangga selama delapan hari berturut-turut, serta 700 responden untuk analisis perilaku dan kondisi sosioekonomi. Data spasial dikombinasikan dengan produk remote sensing untuk merepresentasikan karakteristik wilayah. Pemilihan variabel dalam penelitian ini dilakukan melalui kombinasi analisis korelasi linear, analisis cross tabulation, serta pendekatan berbasis machine learning melalui feature importance dan interpretable machine learning menggunakan model Random Forest (RF). Variabel yang digunakan mencakup dimensi sosioekonomi dan spasial, yang disesuaikan dengan masing-masing praktik pengelolaan sampah plastik. Aktivitas penjualan sampah plastik dijelaskan dengan variabel jarak rumah ke fasilitas pengurangan sampah, luas rumah, besaran timbulan sampah plastik, perbedaan elevasi, penghasilan bulanan, dan klasifikasi area. Pada praktik pembakaran dan pembuangan sampah plastik ke sungai, variabel yang digunakan relatif serupa, yaitu jarak ke fasilitas, luas rumah, timbulan sampah plastik, kepadatan penduduk, penghasilan bulanan, dan klasifikasi area, dengan tambahan variabel jarak ke sungai khusus untuk praktik pembuangan sampah plastik ke sungai. Pendekatan ini memungkinkan identifikasi variabel kunci yang secara signifikan memengaruhi probabilitas keputusan praktik penanganan rumah tangga dalam pengelolaan sampah plastik di tingkat sumber. ? Analisis sebaran timbulan sampah plastik di sumber dilakukan menggunakan supervised machine learning, di mana model regresi Light Gradient Boosting Machine (LGBM) digunakan untuk memproyeksikan timbulan sampah plastik (R² = 0,88), sedangkan model klasifikasi Random Forest digunakan untuk memprediksi praktik pengelolaan sampah plastik. Hasil menunjukkan bahwa sebanyak 26,72% rumah tangga melakukan penjualan sampah plastik, 48% melakukan pembakaran, dan 28% melakukan pembuangan ke sungai. Untuk masing-masing praktik, diperoleh proporsi alokasi sampah plastik di tingkat rumah tangga sebesar 8,47% (penjualan), 16,65% (pembakaran), dan 3,57% (pembuangan ke sungai). Integrasi antara probabilitas perilaku dan timbulan sampah plastik menghasilkan estimasi aliran massa sebesar 3,00 ton/hari untuk penjualan, 10,59 ton/hari untuk pembakaran, dan 1,32 ton/hari untuk pembuangan ke sungai, dengan koefisien transfer masing-masing sebesar 2,26%, 7,98%, dan 1,00%. Hasil ini menunjukkan bahwa kontribusi aliran massa tidak hanya ditentukan oleh prevalensi praktik, tetapi juga oleh intensitas alokasi sampah plastik pada masing-masing praktik. Pendekatan ini menegaskan bahwa probabilitas perilaku rumah tangga tidak secara langsung merepresentasikan koefisien transfer massa, melainkan berperan sebagai representasi distribusi perilaku yang dikombinasikan dengan intensitas praktik untuk menghasilkan estimasi aliran berbasis massa. Dengan demikian, penelitian ini mentransformasikan koefisien transfer dalam MFA dari parameter statis menjadi parameter berbasis perilaku dan kondisi sosioekonomi-spasial, serta menghasilkan peta distribusi praktik pengelolaan sampah plastik yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan berbasis lokasi.

2026
👤 Penulis: Elprida Agustina
🏷️ Geospasial 🏷️ Material Flow Analysis (Mfa) 🏷️ Analisis Perilaku Sosioekonomi

PENGARUH DINAMIKA TUTUPAN LAHAN TERHADAP FENOMENA URBAN HEAT ISLAND DI KOTA CIREBON

Fenomena Urban Heat Island (UHI) menjadi isu krusial dalam kajian lingkungan perkotaan, dimana peningkatan suhu permukaan kota secara signifikan dipengaruhi oleh perubahan tutupan lahan akibat urbanisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara dinamika tutupan lahan dan fenomena UHI di Kota Cirebon selama periode tahun 2003 hingga 2023. Menggunakan pendekatan geospasial dengan data penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG), penelitian ini mengolah citra satelit Landsat 7 ETM+ dan Landsat 8 OLI/TIRS untuk memperoleh parameter suhu permukaan (Land Surface Temperature, LST), indeks vegetasi (Normalized Difference Vegetation Index, NDVI), serta klasifikasi tutupan lahan (Land Cover, LC). Analisis dilakukan melalui menggunakan regresi linear guna memahami keterkaitan antara peningkatan lahan terbangun, penurunan vegetasi, dan perubahan suhu permukaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama dua dekade terakhir, suhu permukaan Kota Cirebon mengalami kenaikan rata-rata sebesar 4,2°C dengan peningkatan dominasi lahan terbangun dari 51,07% menjadi 65,07%. Sebaliknya, luas vegetasi mengalami penurunan sebesar 4,69% yang secara spasial berbanding terbalik dengan intensitas LST. Nilai korelasi antara NDVI dan LST menunjukkan hubungan signifikan negatif (R2 = 0,73) yang menegaskan bahwa penurunan kerapatan vegetasi berkontribusi terhadap peningkatan suhu permukaan kota. Fenomena UHI paling kuat teridentifikasi di Kecamatan Harjamukti, Kesambi, dan Lemahwungkuk dimana ketiga kecamatan ini mengalami konversi lahan tertinggi. Penelitian ini menegaskan pentingnya kebijakan tata ruang melalui peningkatan ruang terbuka hijau, pengendalian zonasi pembangunan, serta pemanfaatan teknologi geospasial untuk pemantauan berkelanjutan. Secara akademis, hasil studi ini memperkuat teori hubungan negatif antara perubahan tutupan lahan dan intensitas termal perkotaan, serta memberikan kontribusi praktis dalam penyusunan kebijakan yang adaptif terhadap perubahan iklim mikro di kawasan urban pesisir.

2026
👤 Penulis: Syafira Adzhani Hentihu
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Geospasial

PENENTUAN KAPASITAS OPTIMAL SISTEM MIKROGRID HIBRID PLTS ESS MENGGUNAKAN INDEKS INTERMITENSI BERBASIS GEOSPASIAL

Peningkatan teknologi berbasis energi terbarukan merupakan strategi utama dalam diversifikasi energi dan mitigasi perubahan iklim, khususnya pada wilayah terpencil dan sistem off-grid dimana pembangkitan konvensional umumnya berbiaya tinggi dan bersifat intensif karbon. Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) memiliki potensi yang signifikan karena karakteristiknya yang modular, scalable, serta menunjukan tren penurunan biaya investasi yang berkelanjutan. Namun demikian, pemanfaatan PLTS masih dibatasi oleh sifat interimitennya sehingga penggunaan sistem penyimpanan energi (ESS) menjadi komponen krusial sekaligus menantang dalam aspek penentuan kapasitas optimal. Makalah ini mengusulkan suatu kerangka kerja dalam PLTS PV terhadap ketersediaan energi harian minimum, yang dikuantifikasi menggunakan indeks intermitensi yang dinotasikan sebagai ????????. Dengan memaksimalkan metrik berbasis intermitensi tersebut, variabilitas daya PLTS direduksi melalui agregasi lokasi pembangkit sebelum dilakukan penentuan kapasitas ESS. Konfigurasi PLTS hasil proses ini selanjutnya digunakan dalam kerangka optimisasi untuk menentukan kapasitas ESS yang diperlukan guna memenuhi target penetrasi energi terbarukan serta batasan operasional sistem.

2026
👤 Penulis: Thomas Dikas Wibiyanto
🏷️ Geospasial 🏷️ Penentuan Kapasitas Optimal 🏷️ Indeks Intermitensi

EVALUASI MODEL DATA SPASIAL TOPOLOGI DAN NON-TOPOLOGI (SPAGHETTI) DALAM PEMELIHARAAN KUALITAS DATA BATAS WILAYAH ADMINISTRASI

Batas wilayah merupakan unsur informasi geospasial dasar yang berperan sebagai data rujukan nasional dalam mendukung perencanaan wilayah, pengelolaan sumber daya, serta integrasi data geospasial lintas sektor. Dalam konteks tata kelola data nasional, kualitas dan konsistensi data batas wilayah menjadi aspek krusial karena inkonsistensi spasial dapat berdampak pada perbedaan luas wilayah, ketidaksinkronan data sektoral, serta permasalahan administratif. Pengelolaan batas wilayah yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan dan tingkat administrasi menuntut mekanisme penyimpanan data yang mampu menjaga konsistensi geometri dan relasi spasial secara berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja model data topologi dan model data spaghetti dalam pengelolaan batas wilayah administrasi, dengan fokus pada efisiensi alur kerja dan dukungannya terhadap tata kelola data yang berorientasi dalam pemeliharaan kualitas data. Penelitian dilakukan melalui implementasi model data topologi pada basis data spasial PostgreSQL/PostGIS menggunakan tipe data TopoGeometry. Evaluasi dilakukan melalui beberapa skenario pengujian yang mencakup evaluasi kinerja operasional model data, pengaruh nilai toleransi terhadap kualitas geometri, kebutuhan kapasitas penyimpanan, serta implementasi versioning data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model data topologi hierarki memiliki kinerja yang lebih unggul pada sebagian besar operasi pengelolaan batas wilayah, khususnya pada proses pemutakhiran batas bersama yang melibatkan berbagai tingkat administrasi. Pemanfaatan kueri relasional berbasis topologi juga terbukti efektif dalam mendukung integrasi data garis batas, termasuk automasi segmentasi batas, pengisian atribut wilayah berbatasan, dan klasifikasi segmen batas. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa pemilihan model data merupakan bagian penting dari mekanisme tata kelola data batas wilayah. Model data topologi direkomendasikan sebagai model utama dalam pengelolaan batas wilayah nasional karena kemampuannya dalam menjaga konsistensi geometri dan relasi hierarkis secara terstruktur, meningkatkan efisiensi alur kerja pemutakhiran, serta mendukung integrasi data lintas tingkat administrasi secara berkelanjutan.

2026
👤 Penulis: Ririn Threesiana
🏷️ Geospasial 🏷️ Data Batas Wilayah Administrasi 🏷️ Kecerdasan Buatan

PEMBUATAN CO-TIDAL CHART PERAIRAN INDONESIA UNTUK KEPERLUAN NAVIGASI

Luas perairan laut Indonesia diperkirakan sebesar 5,8 juta km2 dengan garis pantai sepanjang 81.000 km dan merupakan negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada [TNI AL, 2008]. Untuk mengelola kekayaan laut yang begitu besar diperlukan informasi geospasial yang baik, benar, lengkap, dan detil tentang wilayah laut Indonesia dalam bentuk informasi kelautan. Salah satu bentuk dari informasi kelautan adalah peta pasang surut atau co-tidal chart. Tugas akhir ini berisi pembahasan mengenai pembuatan peta pasang surut atau co-tidal chart perairan Indonesia dan kegunaannya untuk keperluan keselamatan pelayaran atau navigasi.

2026
👤 Penulis: GURUH ADITYA PRAYOGA (NIM 15103025)
🏷️ Geospasial 🏷️ Pemanfaatan Informasi Kelautan 🏷️ Navigasi Laut

KAJIAN DEFINISI DAN TEKNIK PENENTUAN GARIS PANTAI DALAM KAITANNYA DENGAN UU INFORMASI GEOSPASIAL (UU NO.4 TAHUN 2011)

Garis pantai merupakan komponen penting dalam implementasi Undang-Undang Informasi Geospasial (UU IG). Garis pantai yang baik menjadi acuan bagi pembuatan produk Informasi Geospasial. Produk Informasi Geospasial tersebut adalah peta dasar yang mencakup peta Rupa Bumi Indonesia (RBI) yang mengacu pada garis pantai Mean Sea Level (MSL), peta Lingkungan Pantai Indonesia (LPI) dan peta Lingkungan Laut Nasional (LLN) yang mengacu pada garis pantai Low Water Level (LWL). Lembaga yang bertugas membuat peta dasar tersebut adalah Badan Informasi Geospasial (BIG). Untuk memperoleh garis pantai yang akurat tentunya didukung dengan metode pengukuran dan penentuan yang tepat sesuai dengan skala peta yang terdapat dalam UU IG. Metode yang digunakan sebaiknya efektif dari segi waktu pengerjaan serta harus efisien dan ekonomis dalam segi biaya. Penentuan garis pantai terdiri dari empat metode, yaitu metode Terestris, metode Global Navigation Satellite System (GNSS), metode Fotogrametri LIDAR, dan metode Penginderaan Jauh. Berdasarkan hasil kajian pada penelitian ini, metode penentuan garis pantai yang digunakan untuk pembuatan peta RBI skala 1:1.000.000 hingga 1:5.000 adalah metode Penginderaan Jauh. Metode penentuan garis pantai yang digunakan untuk pembuatan peta RBI skala 1:2.500 dan 1:1.000 adalah metode GNSS RTK. Untuk pembuatan peta LPI skala 1:250.000 hingga 1:10.000 dan peta LLN skala 1:250.000 hingga 1:25.000, metode penentuan garis pantai yang digunakan adalah metode Penginderaan Jauh.

2026
👤 Penulis: LUQMAN HERTANTO HERMAN (NIM: 15108053);
🏷️ Geospasial 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Geografis

PENINGKATAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN DENGAN MENGGUNAKAN PETA 3D HASIL TEKNIK FOTOGRAMETRI DAN LIDAR (Wilayah Studi Kelurahan Helvetia Tengah, Kota Medan)

Kegiatan pembangunan yang semakin meningkat, mendorong penggalian potensi sumber keuangan untuk dapat membiayainya. Salah satu sumber keuangan potensial yang dapat ditingkatkan adalah dari sektor Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Untuk menunjang proses identifikasi objek pajak, diperlukan suatu sumber data geospasial yang terbarukan dan akurat karena seiring dengan berjalannya waktu sangat mungkin terjadi perubahan pada objek pajak yang berpotensi menambah penerimaan PBB. Dengan menggunakan teknik fotogrameri dan LIDAR (Light Detection and Ranging), dapat dihasilkan Peta 3 Dimensi yang nantinya dapat dijadikan sebagai salah satu sumber data untuk mengidentifikasi adanya potensi penambahan pada komponen perhitungan pajak, seperti luas bangunan dan luas tanah, serta perubahan fungsi pada tanah dan atau bangunan. Kualitas data spasial dari sumber data yang digunakan dapat dilihat dari beberapa elemen seperti lineage, akurasi posisi, akurasi atribut, konsistensi logikal, dan kelengkapan dengan residual koordinat Peta Foto dengan Peta Garis sebesar 0,436695 meter dan residual koordinat Peta Persil BPN hasil transformasi dengan Peta Garis sebesar 1,49816 meter. Selanjutnya dilakukan analisis spasial dan ekstraksi informasi tematik dengan menggunakan sumber data tersebut. Hasilnya menunjukan adanya indikasi penambahan luas pada objek pajak bangunan sebesar 1,75 % yang dapat meningkatkan pendapatan dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sebesar 0,406 %.

2026
👤 Penulis: LEGINA NUR WIDYA (NIM: 15109015); Tim Pembimbing: Dr. Ir. Agus Suparman, M.Sc.; Dr. Akhmad Riqqi, M
🏷️ Geospasial 🏷️ Analisis Spasial 🏷️ Manajemen Sumber Daya
Halaman 1 dari 3
💬