π Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 173 dokumenANALISIS DAN PERANCANGAN FONDASI MUDMAT LINGKARAN TAHAP PRE-SERVICE PADA STRUKTUR JACKET TIGA KAKI MENGGUNAKAN PENDEKATAN FAILURE ENVELOPE
abstrak bisa dilihat di filenya:
PERANCANGAN FONDASI DAN PERBAIKAN TANAH PADA SUATU PROYEK BANDARA
Proyek Bandara XXX merupakan proyek pengembangan fasilitas berupa penambahan terminal dan area apron. Berdasarkan hasil penyelidikan tanah, lapisan tanah hingga kedalaman 20 meter didominasi oleh tanah lunak dengan daya dukung rendah, kompresibilitas tinggi, dan potensi penurunan konsolidasi yang besar. Kondisi tersebut mendasari perlunya perancangan fondasi dalam pada area terminal serta perbaikan tanah pada area apron menggunakan kombinasi Prefabricated Vertical Drain (PVD) dan vacuum preloading. Perancangan fondasi dilakukan melalui analisis daya dukung aksial dan lateral tiang tunggal, daya dukung kelompok tiang, penurunan, dan penulangan dengan bantuan perangkat lunak LPILE dan GROUP, sedangkan perancangan perbaikan tanah dilakukan dengan metode manual dan metode elemen hingga (FEM). Hasil perancangan menunjukkan fondasi berupa tiang bor berdiameter 0.6 meter dan kedalaman 35 meter, kelompok tiang berkonfigurasi 2x2 sebanyak 4 tiang dengan spasi 2 meter, tulangan longitudinal 10D22, tulangan transversal D13-100 pada zona confinement dan D13-200 di luar zona tersebut, serta pile cap berdimensi 3.2 m Γ 3.2 m Γ 1.2 m. Perbaikan tanah dirancang menggunakan vacuum preloading dengan tekanan vakum 80 kPa, timbunan setinggi 1 meter, PVD berdimensi a=100 mm dan b=3 mm dengan spasi 1.3 meter dan panjang 23 meter, cutoff wall sepanjang 17 meter, serta durasi vakum selama 4 bulan. Setelah perbaikan tanah, stabilitas daya dukung dan penurunan tanah memenuhi kriteria desain.
STUDI LAPANGAN DAN NUMERIK RESPON LATERAL FONDASI TIANG BOR PADA ABUTMEN JEMBATAN AKIBAT PEMBEBANAN TIMBUNAN BERTAHAP DI SEKITARNYA
Konstruksi abutmen jembatan di atas tanah lunak menghadirkan tantangan geoteknik yang signifikan, terutama ketika pekerjaan fondasi dan penimbunan dilakukan secara bersamaan. Umumnya penyelesaian soil improvement dan peningkatan stabilitas oprit terlebih dahulu lebih disukai. Namun dalam kenyataannya pekerjaan konstruksi timbunan & struktur abutment seringkali beriringan. Keberiringan pekerjaan penimbunan dan fondasi dapat menyebabkan akumulasi tegangan lateral yang signifikan, yang mengubah fungsi utama tiang dari penyalur beban aksial menjadi elemen penahan gaya lateral yang tidak direncanakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi respons lateral fondasi tiang bor yang mengalami penimbunan bertahap disertai pengaruh Pre-fabricated Vertical Drain (PVD) di sekitar tiang serta adanya kontribusi dari lapisan penyangga (buffer layer) yang dipadatkan. Instrumentasi lapangan seperti inklinometer dan settlement plate, digunakan untuk mengamati perilaku tanah dan tiang yang telah terpasang di lapangan. Setelah dilakukan analisis back-calculation terhadap kondisi lapangan aktual menggunakan data monitoring instrumentasi lapangan, dilakukan studi parametrik dengan memvariasikan jarak timbunan, ketebalan lapisan penyangga, dan spasi antar-PVD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa memperluas pemasangan PVD hingga dekat dengan tiang bor memberikan pengurangan yang signifikan terhadap deformasi lateral dan gaya dalam fondasi, yang efektivitasnya semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jarak timbunan, menebalnya lapisan penyangga, dan semakin rapatnya jarak antar-PVD. Temuan ini berkontribusi pada peningkatan pemahaman interaksi tanahβstruktur pada kondisi pembebanan bertahap, serta memberikan gambaran efektivitas pemanfaatan PVD dan peranan lapisan penyangga dalam kasus penimbunan bertahap di sekitar tiang fondasi eksisting.
ANALISIS DAYA DUKUNG ENDAPAN ALUVIAL KUARTER UNTUK MENUNJANG RENCANA PEMBANGUNAN DERMAGA GOSPIER DI SURABAYA, JAWA TIMUR
Dermaga Gospier Surabaya mengalami kerusakan akibat pergerakan tanah sehingga perlu direvitalisasi untuk mendukung distribusi energi di Jawa Timur. Dermaga ini berdiri di atas Endapan Aluvial Kuarter yang belum terlitifikasi sehingga masih dalam proses konsolidasi dan kompaksi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sifat fisik dan mekanik endapan tersebut serta daya dukung fondasi berdasarkan data pengeboran BH-01, BH-02, dan BH-03. Penelitian ini menggunakan Uji Penetrasi Standar (SPT) dan hasil uji mekanika tanah di laboratorium. SPT digunakan untuk menentukan jenis tanahβmetode Meyerhof, Reese dan Wright, dan Decourt untuk menghitung daya dukung. Hasil penelitian menunjukkan indeks plastisitas tanah berada pada kisaran 60β90% yang menunjukkan potensi pengembangan tinggi. Aktivitas tanah di BH-01 >1,25 sehingga tergolong lempung aktif, sedangkan BH-02 dan BH-03 berada pada rentang 0,75β1,25 sehingga termasuk lempung normal. Kapasitas daya dukung izin untuk tiang pancang berdiameter 0,7 m pada kedalaman 45 m pada titik bor BH-01, BH-02, dan BH-3 secara berturut-turut adalah 23,84 ton, 43,69 ton, dan 38,17 ton (Meyerhof); 18,68 ton, 37,64 ton, dan 34,63 ton (Reese dan Wright); serta 37,82 ton, 66,32 ton, dan 62,38 ton (Decourt). Kapasitas daya dukung izin untuk tiang pancang berdiameter 0,8 m pada kedalaman 45 m pada titik bor BH-01, BH-02, dan BH-3 secara berturut-turut adalah 28,36 ton, 52,85 ton, dan 45,63 ton (Meyerhof); 21,96 ton, 44,26 ton, dan 40,55 ton (Reese dan Wright); serta 46,01 ton, 79,63 ton, dan 75,28 ton (Decourt). Kapasitas daya dukung izin untuk tiang pancang berdiameter 0,9 m pada kedalaman 45 m pada titik bor BH-01, BH-02, dan BH-3 secara berturut-turut adalah 36,19 ton, 68,87 ton, dan 58,60 ton (Meyerhof); 27,58 ton, 55,63 ton, dan 50,66 ton (Reese dan Wright); serta 60,01 ton, 102,44 ton, dan 96,55 ton (Decourt). Kapasitas daya dukung izin untuk tiang pancang berdiameter 1,0 m pada kedalaman 45 m pada titik bor BH-01, BH-02, dan BH-3 secara berturut-turut adalah 38,41 ton, 73,73 ton, dan 62,36 ton (Meyerhof); 29,08 ton, 58,67 ton, dan 53,30 ton (Reese dan Wright); serta 63,65 ton, 108,48 ton, dan 102,08 ton (Decourt). Pada kedalaman 65 m, terjadi peningkatan nilai daya dukung izin sebesar 160-β180% dibandingkan nilai daya dukung izin pada kedalaman 45 m. Potensi penurunan pada BH-01, adalah sebesar 21,03 cm, sementara BH-02 dan BH-03 lebih kecil dengan total masing-masing 12,63 cm dan 13,11 cm.
PEMETAAN RUAS JALAN MENGGUNAKAN TEKNIK MOBILE MAPPING SYSTEM (MMS) UNTUK MENYEDIAKAN DATA GEOSPASIAL 3D DALAM PEMBUATAN LEGER JALAN
Pengelolaanjaringanjalan menuntut ketersediaan data geospasial yang akurat, mutakhir, dan terstandarisasi guna mendukung inventarisasi kondisi fisik, pemeliharaan, serta perencanaan infrastruktur secara berkelanjutan. Praktik survei terestris yang masih banyak digunakan dalam penyusunan leger jalan menghadapi keterbatasan dari segi efisiensi waktu, kebutuhan sumber daya manusia, dan gangguan terhadap lalu lintas temtama pada kawasan perkotaan padat seperti Kota Bandung. Tugas akhir capstone ini menerapkan teknologi Mobile Mapping System (MMS) sebagai pendekatan akuisisi data yang modem dan terintegrasi. MMS mengombinasikan sensor GNSS, IMU, SLAM, dan LiDAR yang beroperasi secara simultan untuk menghasilkan data point cloud 3D. Akuisisi data dilaksanakan pada beberapa mas jalan utama di Kota Bandung. Tahapan pelaksanaan mencakup perencanaan, akuisisi data pengukuran, pengolahan data, serta validasi data. Produk akhir yang dihasilkan meliputi profil memanjang dan melintang, kontur, data spasial leger jalan beserta visualisasinya, serta visualisasi model 3D mas jalan. Seluruh produk telah memenuhi standar yang ditetapkan dalam Pedoman Leger Jalan 07/P/BM/2024, membuktikan bahwa MMS mempakan altematif yang efisien, cukup akurat, dan minim gangguan untuk mendukung pengelolaan jaringan jalan perkotaan.
PEMETAAN RUAS JALAN MENGGUNAKAN TEKNIK MOBILE MAPPING SYSTEM (MMS) UNTUK MENYEDIAKAN DATA GEOSPASIAL 3D DALAM PEMBUATAN LEGER JALAN
Pengelolaanjaringanjalan menuntut ketersediaan data geospasial yang akurat, mutakhir, dan terstandarisasi guna mendukung inventarisasi kondisi fisik, pemeliharaan, serta perencanaan infrastruktur secara berkelanjutan. Praktik survei terestris yang masih banyak digunakan dalam penyusunan leger jalan menghadapi keterbatasan dari segi efisiensi waktu, kebutuhan sumber daya manusia, dan gangguan terhadap lalu lintas temtama pada kawasan perkotaan padat seperti Kota Bandung. Tugas akhir capstone ini menerapkan teknologi Mobile Mapping System (MMS) sebagai pendekatan akuisisi data yang modem dan terintegrasi. MMS mengombinasikan sensor GNSS, IMU, SLAM, dan LiDAR yang beroperasi secara simultan untuk menghasilkan data point cloud 3D. Akuisisi data dilaksanakan pada beberapa mas jalan utama di Kota Bandung. Tahapan pelaksanaan mencakup perencanaan, akuisisi data pengukuran, pengolahan data, serta validasi data. Produk akhir yang dihasilkan meliputi profil memanjang dan melintang, kontur, data spasial leger jalan beserta visualisasinya, serta visualisasi model 3D mas jalan. Seluruh produk telah memenuhi standar yang ditetapkan dalam Pedoman Leger Jalan 07/P/BM/2024, membuktikan bahwa MMS mempakan altematif yang efisien, cukup akurat, dan minim gangguan untuk mendukung pengelolaan jaringan jalan perkotaan.
PEMETAAN RUAS JALAN MENGGUNAKAN TEKNIK MOBILE MAPPING SYSTEM (MMS) UNTUK MENYEDIAKAN DATA GEOSPASIAL 3D DALAM PEMBUATAN LEGER JALAN
Pengelolaanjaringanjalan menuntut ketersediaan data geospasial yang akurat, mutakhir, dan terstandarisasi guna mendukung inventarisasi kondisi fisik, pemeliharaan, serta perencanaan infrastruktur secara berkelanjutan. Praktik survei terestris yang masih banyak digunakan dalam penyusunan leger jalan menghadapi keterbatasan dari segi efisiensi waktu, kebutuhan sumber daya manusia, dan gangguan terhadap lalu lintas temtama pada kawasan perkotaan padat seperti Kota Bandung. Tugas akhir capstone ini menerapkan teknologi Mobile Mapping System (MMS) sebagai pendekatan akuisisi data yang modem dan terintegrasi. MMS mengombinasikan sensor GNSS, IMU, SLAM, dan LiDAR yang beroperasi secara simultan untuk menghasilkan data point cloud 3D. Akuisisi data dilaksanakan pada beberapa mas jalan utama di Kota Bandung. Tahapan pelaksanaan mencakup perencanaan, akuisisi data pengukuran, pengolahan data, serta validasi data. Produk akhir yang dihasilkan meliputi profil memanjang dan melintang, kontur, data spasial leger jalan beserta visualisasinya, serta visualisasi model 3D mas jalan. Seluruh produk telah memenuhi standar yang ditetapkan dalam Pedoman Leger Jalan 07/P/BM/2024, membuktikan bahwa MMS mempakan altematif yang efisien, cukup akurat, dan minim gangguan untuk mendukung pengelolaan jaringan jalan perkotaan.
PEMETAAN RUAS JALAN MENGGUNAKAN TEKNIK MOBILE MAPPING SYSTEM (MMS) UNTUK MENYEDIAKAN DATA GEOSPASIAL 3D DALAM PEMBUATAN LEGER JALAN
Pengelolaanjaringanjalan menuntut ketersediaan data geospasial yang akurat, mutakhir, dan terstandarisasi guna mendukung inventarisasi kondisi fisik, pemeliharaan, serta perencanaan infrastruktur secara berkelanjutan. Praktik survei terestris yang masih banyak digunakan dalam penyusunan leger jalan menghadapi keterbatasan dari segi efisiensi waktu, kebutuhan sumber daya manusia, dan gangguan terhadap lalu lintas temtama pada kawasan perkotaan padat seperti Kota Bandung. Tugas akhir capstone ini menerapkan teknologi Mobile Mapping System (MMS) sebagai pendekatan akuisisi data yang modem dan terintegrasi. MMS mengombinasikan sensor GNSS, IMU, SLAM, dan LiDAR yang beroperasi secara simultan untuk menghasilkan data point cloud 3D. Akuisisi data dilaksanakan pada beberapa mas jalan utama di Kota Bandung. Tahapan pelaksanaan mencakup perencanaan, akuisisi data pengukuran, pengolahan data, serta validasi data. Produk akhir yang dihasilkan meliputi profil memanjang dan melintang, kontur, data spasial leger jalan beserta visualisasinya, serta visualisasi model 3D mas jalan. Seluruh produk telah memenuhi standar yang ditetapkan dalam Pedoman Leger Jalan 07/P/BM/2024, membuktikan bahwa MMS mempakan altematif yang efisien, cukup akurat, dan minim gangguan untuk mendukung pengelolaan jaringan jalan perkotaan.
PEMETAAN RUAS JALAN MENGGUNAKAN TEKNIK MOBILE MAPPING SYSTEM (MMS) UNTUK MENYEDIAKAN DATA GEOSPASIAL 3D DALAM PEMBUATAN LEGER JALAN
Pengelolaanjaringanjalan menuntut ketersediaan data geospasial yang akurat, mutakhir, dan terstandarisasi guna mendukung inventarisasi kondisi fisik, pemeliharaan, serta perencanaan infrastruktur secara berkelanjutan. Praktik survei terestris yang masih banyak digunakan dalam penyusunan leger jalan menghadapi keterbatasan dari segi efisiensi waktu, kebutuhan sumber daya manusia, dan gangguan terhadap lalu lintas temtama pada kawasan perkotaan padat seperti Kota Bandung. Tugas akhir capstone ini menerapkan teknologi Mobile Mapping System (MMS) sebagai pendekatan akuisisi data yang modem dan terintegrasi. MMS mengombinasikan sensor GNSS, IMU, SLAM, dan LiDAR yang beroperasi secara simultan untuk menghasilkan data point cloud 3D. Akuisisi data dilaksanakan pada beberapa mas jalan utama di Kota Bandung. Tahapan pelaksanaan mencakup perencanaan, akuisisi data pengukuran, pengolahan data, serta validasi data. Produk akhir yang dihasilkan meliputi profil memanjang dan melintang, kontur, data spasial leger jalan beserta visualisasinya, serta visualisasi model 3D mas jalan. Seluruh produk telah memenuhi standar yang ditetapkan dalam Pedoman Leger Jalan 07/P/BM/2024, membuktikan bahwa MMS mempakan altematif yang efisien, cukup akurat, dan minim gangguan untuk mendukung pengelolaan jaringan jalan perkotaan.
RANCANGAN PEMETAAN 3D BERBASIS DATA LIDAR DAN DETEKTOR UTILITAS BAWAH TANAH KAMPUS ITB
Informasi utilitas bawah tanah yang akurat diperlukan untuk mendukung perencanaan, pembangunan, dan pengelolaan infrastruktur serta meminimalkan risiko kerusakan aset akibat ketidakpastian lokasi utilitas. Penelitian ini bertujuan merancang produk pemetaan utilitas bawah tanah tiga dimensi (3D) terintegrasi pada kawasan Kampus ITB Jatinangor dengan menggabungkan informasi permukaan dan bawah permukaan dalam satu model geospasial. Data permukaan diperoleh dari akuisisi LiDAR yang diolah melalui tahapan klasifikasi point cloud, pembuatan Digital Terrain Model (DTM), Digital Surface Model (DSM), dan ekstraksi bangunan Level of Detail 2 (LOD2), sedangkan data bawah permukaan diperoleh melalui survei utilitas menggunakan Pipe and Cable Locator (PCL) yang diintegrasikan dengan GNSS RTK, lalu diolah dalam perangkat lunak GIS. Seluruh data kemudian diintegrasikan dalam sistem koordinat yang sama untuk menghasilkan model 3D yang merepresentasikan hubungan spasial antara bangunan, topografi, dan jaringan utilitas bawah tanah. Hasil penelitian berupa produk pemetaan utilitas bawah tanah 3D yang mampu memvisualisasikan jaringan utilitas pipa dan kabel terhadap kondisi permukaan secara terpadu. Pengujian menunjukkan bahwa komponen permukaan memiliki akurasi horizontal sebesar 0,091 m dan akurasi vertikal sebesar 0,089 m, sedangkan komponen utilitas bawah tanah memiliki akurasi horizontal sebesar 0,155 m dan akurasi vertikal sebesar 0,19 m sehingga memenuhi toleransi PAS 128 Quality Level B (QL-B). Produk yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk inventarisasi aset utilitas, perencanaan dan pemeliharaan infrastruktur, serta mendukung pengambilan keputusan dalam kegiatan konstruksi dan pengembangan wilayah.
RANCANGAN PEMETAAN 3D BERBASIS DATA LIDAR DAN DETEKTOR UTILITAS BAWAH TANAH KAMPUS ITB
Informasi utilitas bawah tanah yang akurat diperlukan untuk mendukung perencanaan, pembangunan, dan pengelolaan infrastruktur serta meminimalkan risiko kerusakan aset akibat ketidakpastian lokasi utilitas. Penelitian ini bertujuan merancang produk pemetaan utilitas bawah tanah tiga dimensi (3D) terintegrasi pada kawasan Kampus ITB Jatinangor dengan menggabungkan informasi permukaan dan bawah permukaan dalam satu model geospasial. Data permukaan diperoleh dari akuisisi LiDAR yang diolah melalui tahapan klasifikasi point cloud, pembuatan Digital Terrain Model (DTM), Digital Surface Model (DSM), dan ekstraksi bangunan Level of Detail 2 (LOD2), sedangkan data bawah permukaan diperoleh melalui survei utilitas menggunakan Pipe and Cable Locator (PCL) yang diintegrasikan dengan GNSS RTK, lalu diolah dalam perangkat lunak GIS. Seluruh data kemudian diintegrasikan dalam sistem koordinat yang sama untuk menghasilkan model 3D yang merepresentasikan hubungan spasial antara bangunan, topografi, dan jaringan utilitas bawah tanah. Hasil penelitian berupa produk pemetaan utilitas bawah tanah 3D yang mampu memvisualisasikan jaringan utilitas pipa dan kabel terhadap kondisi permukaan secara terpadu. Pengujian menunjukkan bahwa komponen permukaan memiliki akurasi horizontal sebesar 0,091 m dan akurasi vertikal sebesar 0,089 m, sedangkan komponen utilitas bawah tanah memiliki akurasi horizontal sebesar 0,155 m dan akurasi vertikal sebesar 0,19 m sehingga memenuhi toleransi PAS 128 Quality Level B (QL-B). Produk yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk inventarisasi aset utilitas, perencanaan dan pemeliharaan infrastruktur, serta mendukung pengambilan keputusan dalam kegiatan konstruksi dan pengembangan wilayah.
RANCANGAN PEMETAAN 3D BERBASIS DATA LIDAR DAN DETEKTOR UTILITAS BAWAH TANAH KAMPUS ITB
Informasi utilitas bawah tanah yang akurat diperlukan untuk mendukung perencanaan, pembangunan, dan pengelolaan infrastruktur serta meminimalkan risiko kerusakan aset akibat ketidakpastian lokasi utilitas. Penelitian ini bertujuan merancang produk pemetaan utilitas bawah tanah tiga dimensi (3D) terintegrasi pada kawasan Kampus ITB Jatinangor dengan menggabungkan informasi permukaan dan bawah permukaan dalam satu model geospasial. Data permukaan diperoleh dari akuisisi LiDAR yang diolah melalui tahapan klasifikasi point cloud, pembuatan Digital Terrain Model (DTM), Digital Surface Model (DSM), dan ekstraksi bangunan Level of Detail 2 (LOD2), sedangkan data bawah permukaan diperoleh melalui survei utilitas menggunakan Pipe and Cable Locator (PCL) yang diintegrasikan dengan GNSS RTK, lalu diolah dalam perangkat lunak GIS. Seluruh data kemudian diintegrasikan dalam sistem koordinat yang sama untuk menghasilkan model 3D yang merepresentasikan hubungan spasial antara bangunan, topografi, dan jaringan utilitas bawah tanah. Hasil penelitian berupa produk pemetaan utilitas bawah tanah 3D yang mampu memvisualisasikan jaringan utilitas pipa dan kabel terhadap kondisi permukaan secara terpadu. Pengujian menunjukkan bahwa komponen permukaan memiliki akurasi horizontal sebesar 0,091 m dan akurasi vertikal sebesar 0,089 m, sedangkan komponen utilitas bawah tanah memiliki akurasi horizontal sebesar 0,155 m dan akurasi vertikal sebesar 0,19 m sehingga memenuhi toleransi PAS 128 Quality Level B (QL-B). Produk yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk inventarisasi aset utilitas, perencanaan dan pemeliharaan infrastruktur, serta mendukung pengambilan keputusan dalam kegiatan konstruksi dan pengembangan wilayah.
RANCANGAN PEMETAAN 3D BERBASIS DATA LIDAR DAN DETEKTOR UTILITAS BAWAH TANAH KAMPUS ITB
Informasi utilitas bawah tanah yang akurat diperlukan untuk mendukung perencanaan, pembangunan, dan pengelolaan infrastruktur serta meminimalkan risiko kerusakan aset akibat ketidakpastian lokasi utilitas. Penelitian ini bertujuan merancang produk pemetaan utilitas bawah tanah tiga dimensi (3D) terintegrasi pada kawasan Kampus ITB Jatinangor dengan menggabungkan informasi permukaan dan bawah permukaan dalam satu model geospasial. Data permukaan diperoleh dari akuisisi LiDAR yang diolah melalui tahapan klasifikasi point cloud, pembuatan Digital Terrain Model (DTM), Digital Surface Model (DSM), dan ekstraksi bangunan Level of Detail 2 (LOD2), sedangkan data bawah permukaan diperoleh melalui survei utilitas menggunakan Pipe and Cable Locator (PCL) yang diintegrasikan dengan GNSS RTK, lalu diolah dalam perangkat lunak GIS. Seluruh data kemudian diintegrasikan dalam sistem koordinat yang sama untuk menghasilkan model 3D yang merepresentasikan hubungan spasial antara bangunan, topografi, dan jaringan utilitas bawah tanah. Hasil penelitian berupa produk pemetaan utilitas bawah tanah 3D yang mampu memvisualisasikan jaringan utilitas pipa dan kabel terhadap kondisi permukaan secara terpadu. Pengujian menunjukkan bahwa komponen permukaan memiliki akurasi horizontal sebesar 0,091 m dan akurasi vertikal sebesar 0,089 m, sedangkan komponen utilitas bawah tanah memiliki akurasi horizontal sebesar 0,155 m dan akurasi vertikal sebesar 0,19 m sehingga memenuhi toleransi PAS 128 Quality Level B (QL-B). Produk yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk inventarisasi aset utilitas, perencanaan dan pemeliharaan infrastruktur, serta mendukung pengambilan keputusan dalam kegiatan konstruksi dan pengembangan wilayah.
RANCANGAN PEMETAAN 3D BERBASIS DATA LIDAR DAN DETEKTOR UTILITAS BAWAH TANAH KAMPUS ITB
Informasi utilitas bawah tanah yang akurat diperlukan untuk mendukung perencanaan, pembangunan, dan pengelolaan infrastruktur serta meminimalkan risiko kerusakan aset akibat ketidakpastian lokasi utilitas. Penelitian ini bertujuan merancang produk pemetaan utilitas bawah tanah tiga dimensi (3D) terintegrasi pada kawasan Kampus ITB Jatinangor dengan menggabungkan informasi permukaan dan bawah permukaan dalam satu model geospasial. Data permukaan diperoleh dari akuisisi LiDAR yang diolah melalui tahapan klasifikasi point cloud, pembuatan Digital Terrain Model (DTM), Digital Surface Model (DSM), dan ekstraksi bangunan Level of Detail 2 (LOD2), sedangkan data bawah permukaan diperoleh melalui survei utilitas menggunakan Pipe and Cable Locator (PCL) yang diintegrasikan dengan GNSS RTK, lalu diolah dalam perangkat lunak GIS. Seluruh data kemudian diintegrasikan dalam sistem koordinat yang sama untuk menghasilkan model 3D yang merepresentasikan hubungan spasial antara bangunan, topografi, dan jaringan utilitas bawah tanah. Hasil penelitian berupa produk pemetaan utilitas bawah tanah 3D yang mampu memvisualisasikan jaringan utilitas pipa dan kabel terhadap kondisi permukaan secara terpadu. Pengujian menunjukkan bahwa komponen permukaan memiliki akurasi horizontal sebesar 0,091 m dan akurasi vertikal sebesar 0,089 m, sedangkan komponen utilitas bawah tanah memiliki akurasi horizontal sebesar 0,155 m dan akurasi vertikal sebesar 0,19 m sehingga memenuhi toleransi PAS 128 Quality Level B (QL-B). Produk yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk inventarisasi aset utilitas, perencanaan dan pemeliharaan infrastruktur, serta mendukung pengambilan keputusan dalam kegiatan konstruksi dan pengembangan wilayah.
STUDI DEM DARI SPOT PANKROMATIK STEREO UNTUK PEMETAAN TOPOGRAFI
DEM (Digital Elevation Model) merupakan bentuk penyajian ketinggian permukaan bumi secara digital. DEM dapat dibentuk dengan komputerisasi menggunakan data citra satelit stereo. Pada penelitian ini akan dilakukan pembentukan DEM secara otomatis dengan menggunakan data digital SPOT pankromatik stereo, dan menghitung akurasi pada DEM tersebut. Setelah didapatkan akurasi, maka dilakukan penghitungan ketelitian tinggi berdasarkan tabel Probability of errors sehingga didapatkan skala peta yang sesuai untuk DEM hasil pembentukan citra stereo.