πŸ“š Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 43 dokumen

ANALISIS STRUKTUS VS DI KECAMATAN KERTASARI, KABUPATEN BANDUNG MENGGUNAKAN HVSR MIKROTREMOR

Gempa bumi tektonik berkekuatan 4,9 Mw mengguncang wilayah Kertasari, kabupaten Bandung, provinsi Jawa Barat pada 18 September 2024 dan menyebabkan kerusakan infrastruktur yang signifikan. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi karakteristik bawah permukaan melalui parameter frekuensi dominan (f0), amplifikasi (A0), dan Vs30 yang akan diintegrasikan ke dalam mikrozonasi bahaya seismik. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data rekaman sinyal mikrotremor dari 26 stasiun titik stasiun. Analisis data mikrotremor dilakukan menggunakan metode HVSR dengan menggunakan perangkat lunak Geopsy. Hasil pengolahan HVSR menunjukkan nilai frekuensi dominan berada pada rentang nilai 0,71 hingga 6,58 Hz dan nilai amplifikasi berada pada rentang nilai 2,15 hingga 7,77. Berdasarkan analisis mikrotremor, wilayah Kertasari didominasi oleh nilai f0 yang rendah yang mengindikasikan adanya endapan piroklastik tebal yang dapat memperkuat amplifikasi dan meningkatkan kerusakan akibat resonansi tanah. Inversi Vs30 dilakukan menggunakan modul Dinver berbasis Neighborhood Algorithm (NA). Hasil inversi menunjukkan nilai Vs30 di daerah Kertasari berkisar antara 392,35 hingga 742,24 m/s. Secara teknis, rentang nilai ini termasuk dalam kategori kelas situs C berdasarkan pedoman Standar Nasional Indonesia (SNI 1726:2019). Temuan ini dapat menjadi acuan dalam perencanaan pembangunan infrastruktur yang berbasis mitigasi gempa bumi di wilayah Kertasari.

2026
πŸ‘€ Penulis: Yelika Maelissa
🏷️ Geotermal 🏷️ Mikrotremor 🏷️ Analisis Resonansi Tanah

PERANCANGAN SUMUR PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA PANAS BUMI (PLTP) PADA SUMBER PANAS BUMI MEDIUM-LOW ENTALPHY DI SEMBALUN, LOMBOK

Indonesia memiliki banyak sumber panas bumi bertemperatur rendah hingga menengah yang belum dimanfaatkan secara optimal karena sistem konvensional berbasis air atau uap sering menghadapi keterbatasan teknis dan ekonomi. Penelitian ini bertujuan merancang sistem sumur panas bumi dengan supercritical carbon dioxide (sCO?) sebagai fluida kerja dan membandingkannya dengan sistem berbasis air. Pemodelan dilakukan menggunakan CMG Builder dengan acuan data PLTP Darajat, literatur, dan standar teknis. Model mencakup sumur injeksi, reservoir, sumur produksi, dan wellbore selama 35 tahun, dengan variabel berupa kondisi injeksi, laju alir massa, jarak dan konfigurasi sumur, insulasi, material, potensi panas, serta biaya utama. Hasil simulasi menunjukkan bahwa sCO? menghasilkan temperatur dan potensi panas lebih tinggi daripada air pada laju produksi yang sebanding, sedangkan air memberikan operasi yang lebih stabil dan sederhana. Konfigurasi sCO? terpilih menggunakan pola radial, jarak sumur 400 m, kondisi injeksi 32Β°C dan 73,8 bar, batas produksi sekitar 50 kg/s per sumur, serta insulasi 20 mm. Rancangan sumur menggunakan kedalaman 1.400 m, casing 18? inci, dan material Super 13Cr pada bagian yang berisiko terkena CO? basah. Setelah mempertimbangkan sistem konversi listrik dan ekonomi, skenario sCO? dengan laju produksi sekitar 150 kg/s pada asumsi best case dipilih sebagai rancangan terbaik. Kelayakannya tetap dipengaruhi oleh biaya pengadaan dan transportasi CO?, sehingga penerapan lebih lanjut memerlukan validasi lapangan dan data reservoir yang lebih lengkap.

2026
πŸ‘€ Penulis: Sulthan Antar Aulia Yunus
🏷️ Geotermal 🏷️ Sumur Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (Pltp) 🏷️ Modeling Teknik Sipil

DETEKSI DAN KLASIFIKASI MANIFESTASI GEOTERMAL PERMUKAAN MENGGUNAKAN CITRA MULTISENSOR DI DAERAH SEMENDO, KABUPATEN MUARA ENIM, SUMATRA SELATAN

Pemetaan manifestasi geotermal di lapangan dengan kondisi topografi yang terjal dan tutupan vegetasi yang lebat dapat mengurangi efektivitas dalam eksplorasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi dan mengklasifikasikan sebaran titik manifestasi meliputi fumarola, mata air panas, kaipohan serta menganalisis efektivitas citra Landsat-8, Advanced Spaceborne Thermal Emission and Reflection Radiometer (ASTER) Thermal Infrared Radiometer (TIR), Digital Elevation Model Nasional (DEMNAS), dan Advanced Land Observing Satellite (ALOS) Phased Array type L-band Synthetic Aperture Radar (PALSAR) di lapangan geotermal Rantau Dedap, Sumatra Selatan. Citra Landsat-8 dan ASTER TIR yang telah dilakukan pansharpening metode Local Mean and Variance Matching (LMVM), kemudian digunakan untuk menurunkan parameter Land Surface Temperature (LST), Normalized Difference Vegetation Index (NDVI), dan band ratio alterasi hidrotermal permukaan. Sedangkan citra ALOS PALSAR dengan metode speckle filtering digunakan untuk mendeteksi kelurusan struktur geologi dengan lebih jelas. Sebaran 94 data manifestasi eksisting dominan berada di dekat pusat erupsi gunung api, struktur orientasi NE-SW, dan dataran kaki gunung api. Sedangkan pada hasil analisis parameter, sebaran data manifestasi eksisting menunjukkan nilai NDVI pada vegetasi sedang, band ratio pada mineral alterasi, dan suhu LST sebesar 15?C. Hasil deteksi sebaran delineasi prospek manifestasi fumarola dan mata air panas menghasilkan sebaran ke arah barat laut dan prospek manifestasi kaipohan ke arah timur laut dari pusat erupsi Semendo. Klasifikasi delineasi prospek manifestasi menghasilkan tipe fumarola A dan B, mata air panas A dan B, serta kaipohan A dan B. Penggunaan metode Multi-Criteria Evaluation (MCE) pada data manifestasi permukaan di lapangan, dapat menghasilkan tingkat efektivitas dengan memperhatikan ambang batas dengan hasil untuk manifestasi kaipohan sebesar 28,6%, mata air panas sebesar 15,5%, dan fumarola sebesar 10,3%. Metode MCE juga digunakan untuk menganalisis tingkat sensitivitas sebesar 85,7% untuk band ratio, 69% untuk NDVI, dan 62% untuk LST. Kemudian, analisis titik manifestasi yang berada di dalam radius kurang dari atau sama dengan 200 meter dari kelurusan geologi membuktikan manifestasi dikontrol oleh struktur lokal berarah NE-SW dan N-S. Tingkat kesesuaian lokasi manifestasi fumarola terhadap struktur geologi sebesar 27,6% sedangkan mata air panas sebesar 20,7% terhadap data lapangan.

2026
πŸ‘€ Penulis: Rafly Wahyu Syahryan
🏷️ Geotermal 🏷️ Analisis Citra Multisensor 🏷️ Klasifikasi Geologi

ANALISIS POTENSI LIKUEFAKSI PADA ENDAPAN ALUVIAL KUARTER DI AREA DERMAGA GOSPIER, SURABAYA BERDASARKAN UJI PENETRASI STANDAR (SPT)

Proyek Revitalisasi Dermaga Gospier terletak di wilayah Tanjung Perak, Surabaya dan berada pada endapan aluvial berumur Kuarter yang bersifat lunak dan belum terkonsolidasi, membuat daerah tersebut lebih rentan terhadap gempabumi. Karenanya, diperlukan analisis terhadap potensi likuefaksi dalam proses pembangunan Dermaga Gospier. Penelitian dilakukan untuk menganalisis potensi likuefaksi serta besar displacement akibat lateral spreading dan settlement pada sedimen Kuarter yang terdapat di area Dermaga Gospier. Penelitian dilakukan menggunakan data Uji Penetrasi Standar (SPT) pada lima titik bor (BH1, BH2, BH3, BH4, dan BH5) dengan nilai PGA yang didapatkan melalui Analisis Deterministik Bahaya Gempabumi (DSHA). Analisis potensi likuefaksi dilakukan dengan menggunakan metode Tokimatsu-Yoshimi, NCEER, Idriss-Boulanger, serta Liquefaction Potential Index (LPI) dan Liquefaction Severity Index (LSI). Analisis lateral spreading dilakukan menggunakan metode Lateral Displacement Index (LDI) oleh Zhang dkk., sedangkan untuk analisis settlement menggunakan metode Ishihara-Yoshimine. Hasil analisis likuefaksi menunjukkan bahwa dari 5 titik bor hanya BH1, BH2, dan BH3 yang berpotensi mengalami likuefaksi, dengan lapisan tanah yang berpotensi berupa lapisan pasir dengan kandungan butiran halus rendah. Hasil perhitungan Liquefaction Potential Index (LPI) menunjukkan kategori medium (6,32) hingga high (32,26). Hasil perhitungan Liquefaction Severity Index (LSI) menunjukkan bahwa kategori very low (14,21) hingga moderate (46,31). Hasil perhitungan Lateral Displacement Index (LDI) menunjukkan nilai LDI terendah sebesar 1,38 m dan nilai LDI tertinggi mencapai 4,32 m. Hasil perhitungan settlement menunjukkan nilai terendah sebesar 10,74 cm dan nilai tertinggi sebesar 24,18.

2026
πŸ‘€ Penulis: Nazmi Nursalma Patia
🏷️ Geotermal 🏷️ Analisis Likuefaksi 🏷️ Manajemen Risiko Gempa

STUDI PERILAKU DAMPAK TIMBUNAN DI ATAS TANAH LUNAK TERHADAP MOMEN DAN DEFORMASI GRUP TIANG FONDASI DI DEKATNYA: STUDI KASUS PROYEK JALAN TOL DI PESISIR UTARA JAWA

Pembangunan timbunan pada tanah lunak di dekat fondasi tiang dapat menyebabkan pergerakan lateral tanah yang menghasilkan tambahan momen lentur dan deformasi pada tiang. Keterbatasan lahan sering menyebabkan konstruksi baru dilakukan berdekatan dengan struktur yang telah ada. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh timbunan terhadap perilaku grup tiang fondasi, khususnya terhadap momen lentur dan deformasi lateral, dengan meninjau pengaruh jarak timbunan terhadap grup tiang, jenis sambungan kepala tiang, serta jenis elemen pemodelan tiang. Penelitian dilakukan menggunakan metode elemen hingga dengan perangkat lunak PLAXIS 2D berdasarkan studi kasus proyek jalan tol di pesisir utara Jawa yang dibangun di atas tanah lempung lunak jenuh. Pemodelan tanah menggunakan kombinasi model konstitutif Soft Soil Creep, Hardening Soil, dan Mohr-Coulomb. Variasi yang ditinjau meliputi jarak timbunan terhadap grup tiang sebesar 20 m, 40 m, 60 m, dan 100 m, jenis sambungan kepala tiang berupa rigid, hinged, dan free, serta pemodelan tiang menggunakan elemen embedded beam dan plate. Hasil analisis menunjukkan bahwa timbunan pada tanah lunak menghasilkan tekanan lateral yang menyebabkan peningkatan momen lentur dan deformasi lateral pada grup tiang. Semakin jauh jarak timbunan terhadap tiang, semakin kecil momen lentur dan deformasi lateral yang terjadi, dengan kecenderungan hubungan yang mendekati linier. Jenis sambungan kepala tiang memberikan pengaruh yang signifikan terhadap distribusi momen lentur, di mana sambungan rigid menghasilkan momen terbesar dibandingkan hinged dan free. Pemodelan tiang menggunakan elemen plate menghasilkan nilai momen lentur dan deformasi lateral yang lebih besar dibandingkan elemen embedded beam akibat perbedaan elemen kontinu dan diskontinu.

2026
πŸ‘€ Penulis: Jonathan Christian Hartono
🏷️ Geotermal 🏷️ Analisis Struktur 🏷️ Modeling Tekanan Tanah

ESTIMASI SEBARAN TEMPERATUR BAWAH PERMUKAAN BERDASARKAN GRADIEN RESISVITAS DATA MAGNETOTELLURIK (MT) PADA LAPANGAN WAESANO, NUSA TENGGARA TIMUR.

Estimasi temperatur bawah permukaan pada tahap eksplorasi awal lapangan panas bumi greenfield menjadi tantangan karena belum tersedianya data sumur dalam. Tingginya biaya dan risiko kegagalan pemboran eksplorasi mendorong perlunya pendekatan tidak langsung yang lebih ekonomis. Metode magnetotellurik (MT) digunakan untuk memperoleh distribusi resistivitas bawah permukaan. Hubungan resistivitas dan temperatur dapat dijelaskan dalam persamaan Arrhenius, di mana gradien resistivitas berbanding lurus dengan gradien temperatur. Penelitian terdahulu terkait hal ini terkendala oleh proses komputasi yang belum otomatis dan terintegrasi. Penelitian ini mengembangkan sebuah algoritma komputasi otomatis yang mengintegrasikan analisis quick look berbasis gradien resistivitas semu dan transformasi Bostick hingga pemodelan tiga dimensi. Pendekatan ini diaplikasikan pada Lapangan Geotermal Waesano menggunakan 102 data MT dan dua sumur landaian suhu. Penelitian ini dibatasi pada zona konduksi termal hingga batas bawah clay cap. Gradien resistivitas tinggi muncul di sisi timur-tenggara serta barat daya dari Danau Sano Nggoang yang diinterpretasikan sebagai zona prospek geotermal. Nilai konstanta Arrhenius diperoleh melalui korelasi antara gradien resistivitas dan gradien temperatur pada sumur WW-1 dan tiga mata air panas. Alur komputasi yang dikembangkan mampu menghasilkan model distribusi temperatur bawah permukaan yang diperoleh dari hasil konversi terhadap gradien resistivitas pada zona konduksi termal, di mana batas bawah dari lapisan penudung berkorelasi dengan isotermal 175 - 200 oC. Pada elevasi -500 mdpl zona dengan kemungkinan temperatur tinggi terdistribusi secara asimetris di sisi timur-tenggara dan barat daya danau. Delineasi prospek yang dihasilkan memperluas zona potensial ke arah timur-tenggara, dengan danau sebagai pusat termal sistem yang menghubungkan kedua zona anomali gradien tinggi. Prosedur yang dihasilkan dapat memberikan alternatif pendekatan pada lapangan greenfield yang minim data sumur untuk delineasi area prospek maupun sebagai panduan awal dalam target pemboran.

2026
πŸ‘€ Penulis: Iqbal Takodama
🏷️ Hidrologi 🏷️ Geotermal 🏷️ Analisis Resivitas Magnetotellurik

DESIGN OF POWER EXTRACTION SYSTEM FOR EXTRACTIONG GEOTHERMAL POWER FROM ABANDONED OIL WELL

Energi panas bumi merupakan sumber energi terbarukan yang andal dan beremisi rendah, tetapi pengembangannya sering terkendala oleh tingginya biaya investasi awal, terutama untuk pengeboran sumur baru. Penelitian ini mengevaluasi kelayakan teknis dan ekonomi pemanfaatan kembali sumur minyak terlantar di Indonesia sebagai sumber panas bumi untuk pembangkitan listrik menggunakan sistem Siklus Rankine Organik tertutup. Kondisi reservoir diperkirakan berdasarkan gradien panas bumi regional dan perhitungan tekanan hidrostatik, yang menunjukkan bahwa temperatur fluida panas bumi sekitar 125 Β°C pada kedalaman 3 km dapat dicapai dengan tetap mempertahankan operasi fluida satu fasa cair. Sistem disimulasikan pada kondisi tunak menggunakan Aspen HYSYS dengan R245fa sebagai fluida kerja. Validasi model dilakukan dengan mereplikasi pembangkit listrik panas bumi biner Chena Hot Springs, dengan deviasi tertinggi terhadap data pembangkit yang dipublikasikan sebesar 3,52%, sehingga menunjukkan tingkat akurasi simulasi yang dapat diterima. Desain yang diusulkan menghasilkan daya bersih sebesar 54,5 kW per sumur, atau sekitar 436 kW untuk konfigurasi delapan sumur, dengan produksi listrik tahunan sebesar 3,44 GWh. Evaluasi ekonomi menunjukkan total biaya investasi sekitar USD 1,50 juta atau Rp25,05 miliar, dengan LCOE sebesar Rp925/kWh, lebih rendah daripada tarif PLN sebesar Rp1.114,74/kWh. Proyek ini juga menghasilkan NPV positif sebesar Rp6,42 miliar, IRR sebesar 11,4%, dan EROI sebesar 12,15, sehingga mengonfirmasi kelayakan teknis dan kelayakan ekonominya.

2026
πŸ‘€ Penulis: Fatah Banyunuki Raziqin
🏷️ Geotermal 🏷️ Desain Sistem Produksi Listrik 🏷️ Analisis Ekonomi Pembangkit Panas Bumi

ESTIMASI NILAI VS30 MENGGUNAKAN METODE MULTICHANNEL ANALYSIS OF SURFACE WAVES (MASW) SEBAGAI PARAMETER AWAL PERHITUNGAN SEISMIC HAZARD DI BENDUNGAN

Penelitian tugas akhir ini bertujuan untuk menentukan karakteristik dinamis tanah melalui nilai kecepatan gelombang geser rata-rata pada kedalaman 30 meter (????????30)di tapak Bendungan ”CHOSO”. Penentuan parameter ini sangat krusial mengingat lokasi bendungan yang berada di wilayah seismik aktif akibat pengaruh Flores Back-Arc Thrust. Metode yang digunakan adalah Multichannel Analysis of Surface Waves (MASW) dengan sumber aktif. Pengolahan data dilakukan menggunakan perangkat lunak MASWaves untuk transformasi medan gelombang berbasis algoritma phase-shift dan pickimg kurva dispersi mode fundamental secara manual. Proses inversi data dilakukan menggunakan perangkat lunak Dinver (Geopsy) dengan menerapkan Neighbourhood Algorithm (NA) untuk memperoleh profil kecepatan gelombang geser (Vs) terhadap kedalaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bawah permukaan tapak bendungan tersusun atas variasi lapisan material mulai dari endapan aluvium hingga batuan dasar teknik dari Formasi Nangapanda dan batuan vulkanik. Berdasarkan hasil pengolahan, diperoleh nilai ????????30 dengan rentang sebesar 729 – 1060 m/s. Merujuk pada standar SNI 1726:2019, tapak Bendungan ”CHOSO” diklasifikasikan ke dalam Kelas Situs Batuan Lunak (SC) hingga Batuan (SB). Klasifikasi ini memberikan implikasi bahwa situs penelitian memiliki lapisan batuan breksi vulkanik yang memiliki sifat kekakuan & modulus geser yang tinggi. Hasil ini menjadi parameter input utama dalam menentukan spektrum respons desain guna mitigasi bahaya seismik dan menjamin keamanan struktur fondasi bendungan terhadap guncangan gempa bumi

2026
πŸ‘€ Penulis: Nezar Syahid Alfarizi
🏷️ Seismologi 🏷️ Analisis Multichannel Surface Waves (Masw) 🏷️ Geotermal

STRUKTUR TERMAL REGIONAL PULAU JAWA (INDONESIA) DARI ESTIMASI KEDALAMAN TITIK CURIE BERDASARKAN ANALISIS SPEKTRAL DATA MAGNETIK MENGGUNAKAN METODE IRLS DE-FRACTAL

Pulau Jawa terbentuk di atas zona subduksi antara Lempeng Benua Eurasia dan Lempeng Samudra Indo-Australia. Interaksi antar lempeng ini membentuk busur vulkanik di sepanjang Pulau Jawa, sehingga wilayah ini dikenal dengan potensi geotermal yang signifikan di Indonesia. Kajian struktur termal kerak melalui estimasi kedalaman titik Curie atau Curie Point Depth (CPD) sangat penting untuk memahami geodinamika regional, khususnya keterkaitan antara tektonisme, vulkanisme, dan distribusi geotermal. CPD berperan sebagai parameter proksi dalam pemetaan distribusi gradien geotermal dan aliran panas, yang merupakan komponen utama dari parameter geotermal. Penelitian ini menerapkan sebuah pendekatan baru, yaitu Metode IRLS de-fractal, yang menggabungkan metode Iteratively Reweighted Least Squares (IRLS) dan pendekatan de-fractal yang dimodifikasi, untuk memperkirakan CPD secara lebih robust dan mengurangi pengaruh outlier. Analisis menggunakan data anomali magnetik WDMAM dengan cakupan regional, yang dibagi ke dalam 33 blok berukuran 184 km Γ— 184 km dengan 50% overlap, serta menerapkan teknik reduction-to-the-pole (RTP) pada setiap blok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai CPD di Pulau Jawa berkisar antara 14,21 23,41 km, gradien geotermal antara 23,69-39,03 Β°C/km, dan aliran panas antara 75,21-143,82 mW/mΒ². CPD dangkal, umumnya berkorelasi dengan gradien geotermal dan aliran panas yang tinggi, teridentifikasi di sepanjang sabuk vulkanik Kuarter di Zona Barat dan Zona Timur Pulau Jawa. Anomali termal di Zona Barat diindikasikan berkaitan dengan pengaruh geometri lempeng dan mekanisme perpindahan panas yang dikontrol oleh struktur patahan, sedangkan di Zona Timur lebih dipengaruhi oleh intrusi magmatik dan aktivitas vulkanik yang intens. Secara keseluruhan, hasil ini mengindikasikan peran penting proses tektonik dan magmatik litosfer dalam mengontrol pola struktur termal regional Pulau Jawa, yang secara spasial berasosiasi dengan keberadaan sumber-sumber geotermal di wilayah tersebut.

2026
πŸ‘€ Penulis: Dini Andriani
🏷️ Geotermal 🏷️ Tektonika 🏷️ Vulkanisme

ANALISIS LINE OF SIGHT DISPLACEMENT TEKNIK QUASI-PS INSAR DARI CITRA SENTINEL-1A PADA AREA VEGETASI PADAT DAN TOPOGRAFI KOMPLEKS, CASE STUDY: LAPANGAN GEOTERMAL ULUMBU

Lapangan Geotermal Ulumbu memiliki potensi sekitar 40 MWe namun baru termanfaatkan Β±25%, sehingga masih terdapat peluang eksplorasi lebih lanjut dengan zona permeabel sebagai target utama. Analisis standar deviasi laju deformasi vertikal berbasis InSAR merupakan pendekatan yang relevan pada tahap eksplorasi, karena perubahan deformasi dapat mencerminkan aktivitas rekahan dan dinamika tekanan fluida. Vegetasi padat serta topografi kompleks di Ulumbu menimbulkan temporal decorrelation, namun kombinasi teknik Quasi PS InSAR dan integrasi data geosains tetap mampu mengekstraksi informasi deformasi yang diperlukan untuk mempersempit penelusuran zona permeabel . Dataset penelitian terdiri atas 40 citra Sentinel 1A orbit ascending dan 40 descending. Pemrosesan Quasi PS InSAR meliputi seleksi kandidat persistent scatterer (PS) berbasis stabilitas amplitudo dan koherensi temporal, disertai dekomposisi laju deformasi line of sight (LOS) menjadi komponen vertikal dan horizontal. Hasil deformasi vertikal kemudian diintegrasikan dengan peta Fault Fracture Density (FFD), NDVI, struktur geologi, seismisitas mikro, serta rasio Na/Ca untuk memperkuat interpretasi zona permeabel sebagai jalur fluida geotermal mengalir. Hasil menunjukkan bahwa Quasi PS InSAR efektif pada kondisi koherensi parsial, menghasilkan distribusi PS yang memadai dengan hasil pemodelan presisi dengan standar deviasi <2 mm. Integrasi data mengidentifikasi Lungar sebagai zona permeabel utama, ditandai oleh standar deviasi deformasi vertikal Β±11,5 mm/tahun, nilai FFD >670 m/kmΒ², serta karakter upflow yang selaras dengan trajektori sumur ULB E1 yang menjadi rekomendasi kajian sebelumnya. Pada Wewo, hasil penelitian juga mengarah ke zona permeabilitas sesuai trajektori sumur ULB 02 yang telah terbukti mendukung produksi PLTP. Penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi Quasi PS InSAR dan data geosains efektif memperkecil radius penelusuran zona prospek geotermal di Ulumbu.

2026
πŸ‘€ Penulis: Faris Qaumi Zahid Miqdad
🏷️ Geotermal 🏷️ Analisis Insar 🏷️ Integrasi Data Geosains

STUDI PENYEBAB DAN IDENTIFIKASI DAMPAK PENURUNAN TANAH DI WILAYAH SEMARANG

Wilayah Semarang merupakan salah satu kota pesisir yang secara umum terbentuk dari endapan aluvial. Adapun karakteristik dari endapan aluvial ini adalah tanahnya masih mengalami proses konsolidasi. Proses konsolidasi ini mengakibatkan terjadinya penurunan muka tanah pada daerah tersebut. Selain itu, pengambilan airtanah dan pengaruh beban permukaan juga berkontribusi dalam terjadinya penurunan muka tanah di Semarang. Dengan adanya fenomena ini, maka dilakukanlah pengukuran penurunan muka tanah di wilayah Semarang. Pengukuran penurunan muka tanah Semarang dilakukan dengan metode survey GPS. Data pengamatan didapat dari pengukuran lapangan tahun 2008,2009,2010 dan 2011. Data tersebut diolah dengan menggunakan software Bernesse 5.0 sehingga didapat besarnya penurunan muka tanah di wilayah Semarang selama 3 periode yaitu 2008-2009, 2009-2010 dan 2010-2011. Hasil pengolahan data ini kemudian dikorelasikan dengan penurunan muka airtanah (MAT), peta geologi dan tutupan lahan kota Semarang. Hasil dari pengolahan data menunjukkan adanya terjadinya penurunan muka tanah di beberapa titik pemantauan GPS yang tersebar di wilayah Semarang mulai dari 0.7 cm sampai 11.2 cm pertahun dan adanya hubungan antara penurunan muka tanah dengan penurunan muka airtanah (MAT) kota Semarang, kondisi geologi dan tutupan lahan kota Semarang. Dengan melihat fenomena penurunan muka tanah yang terjadi di wilayah Semarang, maka perlu pemantauan dan pengkajian lebih lanjut mengenai karakteristik dan faktor faktor penyebab terjadinya penurunan muka tanah di Semarang. Penelitian pemantauan terhadap penurunan muka tanah di wilayah Semarang ini diharapkan dapat bermanfaat dan berguna dalam pengaturan pengambilan airtanah, pengendalian banjir, konservasi lingkungan, serta pengambilan keputusan dalam pembangunan infrastruktur.

2026
πŸ‘€ Penulis: RIKO MAIYUDI (NIM 15108077); Pembimbing: Prof. Dr. Ir. Hasanuddin Z. Abidin, M.Sc. dan Irwan Gumilar
🏷️ Geotermal 🏷️ Analisis Geologi 🏷️ Pengelolaan Lingkungan

STUDI AWAL MONITORING DEFORMASI STRUKTUR JEMBATAN DENGAN METODE TERRESTRIS (STUDI KASUS : JEMBATAN CIPADA, TOL CIPULARANG)

Pada tanggal 9 Maret 2009 di sebuah sumber media harian online (Republika), diberitakan telah terjadi longsoran tanah di bawah Jembatan Cipada. Untuk mengetahui dampak longsoran terhadap konstruksi jembatan tersebut, diperlukan kegiatan monitoring deformasi secara kontinyu. Studi awal ini digunakan sebagai persiapan dan perencanaan monitoring deformasi jembatan secara terrestris. Studi dilakukan dengan mengumpulkan informasi karakteristik tanah dan objek jembatan, penentuan segmen jembatan, perencanaan kerangka dasar, dan identifikasi target titik pada jembatan. Hasil penelitian ini adalah dokumentasi objek jembatan yang memiliki indikasi terjadinya deformasi, bentuk target titik pada segmen jembatan, dan lokasi kerangka dasar pengukuran,

2026
πŸ‘€ Penulis: RENDI OKTAVIAN (NIM 15107063); Pembimbing: Dr. Ir. S. Hendriatiningsih, MT dan Dr. Andri Hernandi, S
🏷️ Geotermal 🏷️ Analisis Deformasi Struktur Jalan Raya 🏷️ Monitoring Lingkungan

IDENTIFIKASI KONTROL GEOLOGI PADA SISTEM GEOTERMAL GUNUNG UNGARAN, JAWA TENGAH BERDASARKAN ANALISIS VULKANOSTRATIGRAFI DAN GAYA BERAT

Gunung Ungaran yang terletak di Jawa Tengah merupakan salah satu gunung api strato di Pulau Jawa dan wilayah kerja panas bumi (WKP) yang sedang berada pada tahap eksplorasi. Pada tahap ini, diperlukan pemahaman yang menyeluruh dan tepat mengenai sistem geotermal di lokasi ini. Hasil laporan eksplorasi menunjukkan bahwa terdapat multikaldera yang mengelilingi Gunung Ungaran. Keberadaan multikaldera tersebut juga diperkirakan sebagai kondisi geologi yang mengontrol sistem geotermal di WKP ini. Akan tetapi, penelitian-penelitian lainnya serta persebaran manifestasi termal tidak menunjukkan keberadaan multikaldera yang dimaksud. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menentukan kondisi geologi yang tepat yang mengontrol sistem geotermal di WKP ini. Metode analisis vulkanostratigrafi dan analisis gaya berat digunakan untuk mengidentifikasi kondisi geologi yang mengontrol sistem geotermal di WKP ini. Persebaran manifestasi di WKP ini sebagian besar berada pada Khuluk Ungaran. Kemunculan manifestasi-manifestasi tersebut diperkirakan berasosiasi dengan keberadaan struktur geologi berupa sesar yang memotong tubuh Khuluk Ungaran. Beberapa struktur geologi tersebut teridentifikasi juga pada hasil analisis first horizontal derivative (FHD) dan euler deconvolution. Hasil analisis vulkanostratigrafi dan gaya berat juga menunjukkan bahwa hanya ada satu kaldera yang mengelilingi Khuluk Ungaran, yaitu Kaldera Kaligetas. Dengan demikian, sistem geotermal pada WKP ini cenderung dikontrol oleh keberadaan zona permeabel pada tubuh Gunung Ungaran.

2025
πŸ‘€ Penulis: Febrianto Mangopo
🏷️ Vulkanologi 🏷️ Geotermal 🏷️ Analisis Struktur Geologi

STUDI NUMERIK MENGENAI PERILAKU PRODUKSI SIKLIK DAN KETIDAKSTABILAN PRODUKSI PADA SUMUR DENGAN MULTIPLE FEEDZONEE DI LAPANGAN GEOTERMAL LAHENDONG

Kestabilan produksi sumur merupakan faktor utama yang menentukan keberlanjutan produksi panas bumi. Namun, pada beberapa kasus, sumur menunjukkan gejala siklik berupa fluktuasi periodik pada tekanan kepala sumur, laju alir, dan entalpi, yang mengganggu pasokan uap ke fasilitas permukaan serta menurunkan efisiensi sistem pembangkit. Fenomena ini sering dipicu oleh dua atau lebih feedzone dengan karakteristik termohidraulik kontras, seperti perbedaan entalpi dan permeabilitas. Feedzone dengan permeabilitas rendah tidak mampu mempertahankan aliran stabil, sehingga tekanan dan produksi berfluktuasi. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi feedzone dominan penyebab siklik pada sumur LHD-? di Lapangan Geotermal Lahendong, menganalisis kontribusinya terhadap perilaku aliran fluida, dan mengevaluasi skenario mitigasi yang efektif. Pemodelan numerik sistem radial digunakan untuk merepresentasikan interaksi simultan sumur, reservoir secara realistis. Model dikalibrasi dengan data lapangan untuk memastikan kesesuaian dengan kondisi aktual sebelum menjalankan skenario produksi. Hasil numerik menunjukkan bahwa dari total empat feedzone, interaksi dominan terjadi antara feedzone 3 dan feedzone 4. Fluktuasi pada feedzone ke-3 selaras dengan perubahan pada feedzone 4, yang menandakan adanya kompetisi aliran sebagai pemicu utama ketidakstabilan signifikan pada laju alir, tekanan, dan entalpi. Skenario simulasi yang menutup tiga feedzone terdalam dan hanya mempertahankan produksi dari feedzone 1, dengan tekanan kepala sumur 13 bar, menghasilkan pola produksi yang stabil. Kondisi ini mampu mempertahankan laju alir sekitar 2 kg/s. Temuan ini menunjukkan bahwa ketidakstabilan produksi terutama dikendalikan oleh interaksi antar feedzone, dan strategi pengaturan kondisi operasi serta penentuan target pengeboran yang tepat dapat secara efektif menekan perilaku siklik. Dengan demikian, untuk pengembangan di area selatan, khususnya pada zona batas lapangan, pengeboran sumur dangkal sudah cukup untuk menjaga stabilitas produksi.

2025
πŸ‘€ Penulis: Am Zulfikri
🏷️ Geotermal 🏷️ Ketidakstabilan Produksi Sumur 🏷️ Analisis Interaksi Feedzone

STUDI KARAKTERISASI DAN LINGKUNGAN PENGENDAPAN BATUBARA METALURGI DI PT X, KECAMATAN LAUNG TUHUP, KALIMANTAN TENGAH

Salah satu bentuk hilirisasi sektor batubara di Indonesia adalah melalui pemanfaatan batubara metalurgi sebagai bahan baku kokas. Formasi Batuayau, yang berumur Eosen Tengah hingga Akhir dan terletak di Sub-Cekungan Kutai Atas, merupakan salah satu formasi pembawa batubara yang berpotensi sebagai sumber batubara metalurgi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lingkungan pengendapan, karakterisasi batubara metalurgi, hubungan lingkungan pengendapan terhadap karakterisasi batubara, serta genesa pembentukan batubara metalurgi Formasi Batuayau yang berlokasi di Provinsi Kalimantan Tengah. Lingkungan pengendapan batubara ditentukan melalui analisis stratigrafi dari Pengukuran Penampang Stratigrafi (PPS) pada singkapan dan deskripsi bor inti. Analisis karakterisasi batubara menggunakan data sekunder berupa uji proksimat serta data Crucible Swelling Number (CSN) dan maximum fluidity untuk mengetahui karakterisasi batubara metalurgi. Lingkungan pengendapan di area penelitian merupakan dataran pasang surut (tidal flats) dengan fasies arsitektur berupa swamp, supratidal, dan intertidal dengan kondisi lingkungan telmatik yang diperoleh dari analisis litofasies dan maseral menggunakan perhitungan Tissue Preservation Index (TPI) dan Gelification Index (GI). Lapisan batubara O, P, Q, dan R menjadi fokus dalam menentukan karakterisasi. Lapisan batubara memiliki kandungan abu rendah hingga sedang (7–14,6 %adb) dan kadar sulfur rendah hingga sedang (0,4–1,1 %adb), serta termasuk dalam peringkat batubara bituminus volatil tinggi A hingga bituminus volatil medium dengan nilai kalor 15.049–15.868 btu/lb (%mmmf). Batubara area penelitian termasuk ke dalam kategori semi-hard hingga standard hard coking coal dan kemampuan mengembang yang kuat (strongly caking). Nilai reflektansi vitrinit yang berkisar 1,1–1,2 % serta gradien geotermal sebesar 3,5 oC/100 m, yang diperkuat oleh data burial history Sub-Cekungan Kutai Atas, menunjukkan bahwa genesa pembentukan batubara metalurgi di area penelitian dipengaruhi oleh proses pembebanan sebagai sumber panas pematangan batubara.

2025
πŸ‘€ Penulis: Simon Matthew S P Butar Butar
🏷️ Geotermal 🏷️ Batubara Metalurgi 🏷️ Analisis Stratigrafi
Halaman 1 dari 3
πŸ’¬