📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 4,000 dokumen

PERANCANGAN “JAGAT KERTHI” LIVING HERITAGECENTER SEBAGAI PUSAT EDUKASI WARISAN BUDAYA BALI DENGAN PENDEKATAN NARATIF-MULTISENSORI

Perkembangan masif pariwisata di Bali selama beberapa dekade terakhir telah memicu krisis sosial yang tidak hanya berdampak pada degradasi ekosistem, tetapi juga pada terputusnya relasi manusia dengan nilai budaya yang selama ini menjadi dasar keharmonisan kehidupan masyarakat Bali. Alih fungsi lahan, degradasi lingkungan, dan overturisme pada ruang pariwisata telah menggeser praktik budaya dari sistem pengetahuan hidup menjadi komoditas simbol yang terlepas dari konteksnya. Kondisi ini menunjukkan kelemahan ruang edukasi publik dalam mentransmisikan makna budaya secara utuh, baik kepada masyarakat urban maupun wisatawan. Untuk menjembatani permasalahan tersebut, diperlukan sebuah pusat warisan budaya yang tidak hanya berfungsi sebagai wadah pelestarian budaya, tetapi juga dirancang untuk menerjemahkan nilai-nilai kearifan lokal Bali menjadi sebuah narasi ruang yang relevan terhadap kondisi masa kini dan dapat diapresiasi oleh pengunjung. Penelitian ini mengusulkan perancangan sebuah pusat warisan budaya sebagai fasilitas edukasi publik di Uluwatu, Bali, dengan fokus pada penciptaan ruang edukasi yang interaktif. Metode penelitian kualitatif berupa pengumpulan data studi literatur, observasi lapangan, dan studi preseden diterjemahkan ke dalam strategi desain interior berbasis naratif dan desain multisensori untuk membangun pengalaman belajar yang lebih imersif dan meningkatkan keterlibatan emosional pengunjung. Berlandaskan pada teori persepsi spasial yang memandang pengalaman ruang sebagai hasil interaksi antara stimulus lingkungan dengan proses kognitif dan sensorik pengguna, hasil perancangan menghadirkan desain interior yang mendukung aktivitas pembelajaran budaya Bali melalui pendekatan desain naratif-multisensori yang diimplementasikan pada materialitas, tata ruang, pencahayaan, tata suara, aroma, tekstur, serta sekuens antar program ruang.

2026
👤 Penulis: I Made Primasandya
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

DESAIN DAN IMPLEMENTASI SISTEM MANAJEMEN BATERAI DAN SELUBUNG PELINDUNG UNTUK SISTEM PRESENSI BIOMETRIK PORTABEL

Tingkat kehadiran mahasiswa dalam kegiatan perkuliahan telah terbukti memiliki korelasi yang kuat terhadap keberhasilan proses pembelajaran dan pencapaian akademik. Namun, metode pencatatan kehadiran yang digunakan di Institut Teknologi Bandung, baik melalui Sistem Informasi Akademik berbasis web maupun aplikasi mySIX, masih memiliki beberapa keterbatasan, seperti potensi terjadinya kecurangan dan belum tersedianya mekanisme autentikasi yang mampu memastikan identitas pengguna secara langsung. Selain itu, metode presensi menggunakan kertas masih memungkinkan terjadinya praktik penitipan tanda tangan sehingga mengurangi validitas data kehadiran. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, dikembangkan sistem presensi biometrik portabel berbasis sidik jari bernama SIXSEVEN yang dapat dioperasikan secara mandiri dan diedarkan secara estafet di dalam kelas tanpa mengganggu jalannya proses pembelajaran. Tugas akhir ini merupakan bagian dari pengembangan sistem SIXSEVEN secara keseluruhan dengan ruang lingkup penelitian yang difokuskan pada perancangan, implementasi, dan pengujian Battery Management System serta Protective Casing. Kedua subsistem tersebut berperan dalam memenuhi kebutuhan portabilitas, keandalan, dan ketahanan perangkat sesuai konstrain yang ditetapkan pada dokumen kebutuhan produk, yaitu manufakturabilitas, portabilitas, kemudahan penggunaan, biaya yang terjangkau, serta ketahanan perangkat terhadap penggunaan berulang pada lingkungan perkuliahan. Spesifikasi teknis yang harus dipenuhi meliputi durasi operasi minimum selama 10 jam, massa perangkat kurang dari 600 gram, dimensi maksimum 20×10×5 cm³, serta kemampuan bertahan terhadap benturan dan percikan air. Subsistem Battery Management System dirancang menggunakan baterai Lithium Polymer 1S berkapasitas 5000 mAh dengan energi sebesar 18,5 Wh sebagai sumber daya utama. Proses pengisian baterai menggunakan modul IP2312 yang menerapkan metode Constant Current–Constant Voltage serta dilengkapi proteksi terhadap overcharge, over-discharge, over-current, dan short circuit. Tegangan keluaran baterai kemudian dinaikkan menjadi 5 V menggunakan konverter DC-DC boost berbasis IC MT3608 untuk menyuplai kebutuhan daya mikrokontroler ESP32, sensor sidik jari R503, LCD 20×4, keypad, dan modul pendukung lainnya. Analisis konsumsi daya dilakukan berdasarkan kebutuhan arus masing-masing komponen sehingga diperoleh estimasi waktu operasi teoritis sebesar 10,48 jam dengan asumsi efisiensi konverter sebesar 85%. Subsistem Protective Casing dirancang menggunakan perangkat lunak Autodesk Fusion 360 dengan konsep modular yang terdiri atas top cover dan base enclosure. Casing diproduksi menggunakan teknologi Fused Deposition Modeling berbahan PLA+ dengan ketebalan dinding sebesar 5 mm dan fillet beradius 5 mm untuk meningkatkan kekuatan mekanis serta mengurangi konsentrasi tegangan pada sudut-sudut struktur. Selain itu, casing dilengkapi PCB standoff, internal divider, alignment lip, dan foam gasket guna meningkatkan kekakuan struktur sekaligus memberikan perlindungan terhadap percikan air sesuai target IPX4. Implementasi dilakukan menggunakan metode penyolderan point-to-point permanen agar sistem memiliki keandalan yang lebih baik. Pengujian dilakukan terhadap seluruh spesifikasi yang ditetapkan, meliputi pengujian durasi operasi baterai, dimensi, massa, ketahanan mekanis, ketahanan terhadap percikan air, serta pengujian sistem terintegrasi pada proses registrasi dan presensi mahasiswa di lingkungan perkuliahan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa Battery Management System mampu mempertahankan operasi perangkat selama 12 jam 50 menit. Waktu pengisian baterai dari kondisi kosong hingga penuh tercatat sekitar 4 jam 30 menit. Protective Casing berhasil direalisasikan dengan dimensi akhir 20×10×6,7 cm dan massa 548 gram. Meskipun tinggi perangkat mengalami deviasi terhadap spesifikasi awal akibat penambahan ruang pelindung sensor sidik jari dan penempatan modul elektronik bertingkat, perangkat tetap memenuhi kebutuhan portabilitas serta nyaman digunakan pada proses presensi di kelas. Pengujian free-fall yang diadaptasi dari standar IEC 60068-2-31 menunjukkan bahwa perangkat tetap berfungsi normal setelah dijatuhkan dari ketinggian hingga 1 meter, sedangkan pengujian ketahanan terhadap percikan air berdasarkan adaptasi IEC 60529 (IPX4) menunjukkan tidak adanya air yang masuk ke dalam kompartemen elektronik. Selain itu, pengujian sistem secara terintegrasi membuktikan bahwa proses registrasi, autentikasi sidik jari, penyimpanan data lokal, serta sinkronisasi menuju basis data cloud dapat berjalan dengan baik tanpa kehilangan data. Berdasarkan hasil perancangan, implementasi, dan pengujian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa subsistem Battery Management System dan Protective Casing berhasil memenuhi sebagian besar spesifikasi teknis serta konstrain produk yang ditetapkan. Kedua subsistem mampu mendukung pengoperasian perangkat presensi biometrik SIXSEVEN secara mandiri, portabel, aman, dan andal sehingga layak digunakan untuk mendukung proses presensi saat perkuliahan.

2026
👤 Penulis: Muhammad Yusuf Al Azmi
🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Biometrik Portabel 🏷️ Hidrologi

PENINGKATAN SIFAT FISIKOMEKANIK KAOLIN MENGGUNAKAN AMILUM DAN AEROSIL MELALUI METODE KOPRESIPITASI DENGAN PENGARUH KONDISI ASAM

Tablet merupakan sediaan padat yang dibuat dengan mengempa atau mencetak zat aktif dan eksipien menjadi unit dosis seragam. Pada metode kempa langsung, pembuatan tablet hanya meliputi pencampuran serbuk dan pengempaan sehingga keberhasilan metode ini sangat ditentukan oleh performa eksipien yang digunakan. Eksipien harus memiliki karakteristik alir yang baik, kompresibilitas yang memadai, serta variasi ukuran partikel yang sesuai. Kaolin merupakan mineral yang murah, mudah diperoleh, inert, dan stabil secara kimia, namun kompaktibilitas atau kemampuan pemadatan kaolin bernilai rendah. Peningkatan karakteristik fisik dan mekanik kaolin dapat dilakukan melalui metode kopresipitasi menggunakan amilum dan aerosil. Hasil kopresipitasi menunjukkan peningkatan sifat fisikomekanik dan penurunan kerapuhan tanpa mengubah struktur kimia. Produk kopresipitasi kaolin dan amilum dengan rasio 5:5 menghasilkan tensile strength sebesar 1,87 ± 0,01 MPa. Produk kopresipitasi kaolin dan amilum dengan penambahan aerosil sebesar 0,4% menghasilkan peningkatan tensile strength menjadi 2,11 ± 0,304 MPa. Produk kopresipitasi juga menunjukkan perbaikan laju alir dan kompresibilitas melalui rasio Hausner sebesar 11,79 ± 3,75; indeks kompresibilitas 1,13 ± 0,05; dan sudut istirahat 25 ± 1,00°. Hasil karakterisasi fisikokimia serbuk kopresipitasi menggunakan FTIR, DSC, dan XRD menunjukkan tidak terjadi perubahan struktur kimia pada produk hasil kopresipitasi. Namun demikian, pengamatan menggunakan mikroskop polarisasi dan SEM memperlihatkan adanya perubahan morfologi permukaan partikel yang menjadi lebih kasar dan tidak beraturan yang berpotensi meningkatkan interaksi antar partikel. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa modifikasi kaolin melalui kopresipitasi dengan amilum dan aerosil menghasilkan eksipien dengan sifat fisikomekanik yang lebih baik tanpa mengubah karakter kimianya sehingga mendukung penggunaannya untuk formulasi tablet kempa langsung.

2026
👤 Penulis: Nashwa Muftiarinta Fadila
🏷️ Kopresipitasi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

KUANTIFIKASI SERAPAN AIR DAN NERACA ENERGI BUDIDAYA SELADA MERAH (LACTUCA SATIVA L.) PADA BERBAGAI SPEKTRUM CAHAYA BUATAN

Pencahayaan buatan berbasis light-emitting diode (LED) merupakan inovasi pertanian modern dengan potensi tinggi dalam sistem controlled environment agriculture yang memungkinkan pengaturan informasi pencahayaan spesifik. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan spektrum pencahayaan buatan paling ideal dalam proses konversi energi foton dan listrik menjadi energi biomassa selada merah (Lactuca sativa L.) serta menentukan spektrum pencahayaan buatan paling ideal dalam akumulasi biomassa selada merah (Lactuca sativa L.) per serapan air. Penelitian membandingkan pengaruh perlakuan pencahayaan buatan berbasis high power LED P1 (warm white 3000 K), P2 (pure white 6000 K), P3 (cool white 8000 K), P4 (monokromatik 1R:1B), dan P5 (monokromatik 3R:1B) terhadap karakterisasi rangkaian pencahayaan buatan, kandungan energi biomassa, neraca konversi energi, dan serapan air budidaya. Setiap perlakuan diulang dalam empat ruang pertumbuhan dengan posisi yang diacak menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Analisis statistika dilakukan menggunakan uji one-way ANOVA dan Tukey HSD, Welch’s ANOVA dan Games-Howell, serta Kruskal-Wallis dan Dunn. Karakterisasi rangkaian pencahayaan buatan mengukur daya foton pencahayaan (PAR), total konsumsi energi listrik (TEEC), dan efikasi produksi foton (PPE) melalui pengukuran daya listrik dan spektroradiometri. PAR mencapai nilai tertinggi pada P3 sebesar 0.221 + 0.009 MJ?m?2?h?1. TEEC tertinggi terdapat pada P1 sebesar 28.63 + 0.00 kWh. PPE mencapai nilai tertinggi pada P4 sebesar 0.680 + 0.008 ?mol?J-1. Kandungan energi biomassa dianalisis melalui pengukuran nilai kalor (HHV) melalui kalorimetri dan perhitungan akumulasi energi kimia (CEY) biomassa kering. Tidak terdapat perbedaan nyata perlakuan pencahayaan terhadap nilai HHV dengan rata-rata total sebesar 15.07 + 0.48 MJ?kg-1. CEY mencapai nilai tertinggi pada P1 sebesar 0.251 + 0.045 MJ. Neraca konversi energi meninjau efisiensi konversi energi foton (LUE) dan listrik (ECE) menjadi energi kimia dalam biomassa serta akumulasi biomassa segar (EUE, fresh) dan kering (EUE, dry) per konsumsi energi listrik. LUE mencapai nilai tertinggi pada P1 sebesar 1.61 + 0.07%. ECE mencapai nilai tertinggi pada P5 sebesar 0.29 + 0.08%. EUE, fresh mencapai nilai tertinggi pada P5 sebesar 9.91 + 2.61 g?kWh-1. EUE, dry mencapai nilai tertinggi pada P5 sebesar 0.69 + 0.18 g?kWh-1. Serapan air dikuantifikasi dengan menghitung akumulasi biomassa segar (WUE, fresh) dan kering (WUE, dry) per serapan air tanaman. WUE, fresh mencapai nilai tertinggi pada P1 sebesar 49.29 + 7.62 g?L-1. WUE, dry mencapai nilai tertinggi pada P1 sebesar 3.53 + 0.69 g?L-1. Dari penelitian ini, didapatkan bahwa P1 memiliki efisiensi tertinggi dalam mengonversi energi foton menjadi energi kimia biomassa serta mengakumulasi biomassa per volume penyerapan air, sedangkan P5 memiliki efisiensi tertinggi dalam mengonversi energi listrik menjadi energi kimia biomassa.

2026
👤 Penulis: Samuel Balapradana Simanjuntak
🏷️ Kehutanan 🏷️ Controlled Environment Agriculture (Cea) 🏷️ Hidrologi

ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH (IPAL) BERBASIS MOVING BED BIOFILM REACTOR (MBBR) DI JAKARTA MENGGUNAKAN METODE LIFE CYCLE ASSESSMENT (LCA).

Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) berbasis Moving Bed Biofilm Reactor (MBBR) semakin banyak diadopsi untuk pengolahan air limbah domestik karena efisiensinya dalam menyisihkan BOD, COD, dan amonia. Namun, operasionalnya yang mengandalkan aerasi intensif berpotensi menimbulkan beban lingkungan yang signifikan dan kajian kuantitatif mengenai hal ini di Indonesia masih sangat terbatas. Penelitian ini menganalisis dampak lingkungan IPAL MBBR X di Jakarta Selatan menggunakan metode Life Cycle Assessment (LCA) dengan pendekatan gate-to-gate dan metode karakterisasi CML Baseline 2001. Tiga kategori dampak yang dikaji adalah Global Warming Potential (GWP), Acidification Potential (AP), dan Eutrophication Potential (EP), dengan unit fungsional 1 m³ air limbah terolah. Data operasional diperoleh selama periode Oktober–Desember 2025. Hasil analisis menunjukkan nilai GWP sebesar 1,4091 kg CO?-eq/m³, AP sebesar 0,0303 kg SO?- eq/m³, dan EP sebesar 0,024 kg PO?³?-eq/m³. Unit MBBR BOD/COD menjadi hotspot utama untuk GWP (61,65%) dan AP (49,2%), yang sebagian besar didorong oleh konsumsi energi blower aerasi. Temuan menarik diperoleh pada kategori EP yaitu unit MBBR amonia mendominasi dampak eutrofikasi (42,16%) bukan karena kandungan nutrien sisa di efluen, melainkan akibat pelepasan fosfor intraseluler dari lisis sel bakteri nitrifikasi yang mengalami tekanan metabolik ditandai dengan lonjakan total fosfor hingga 13,2 kali lipat. Tiga skenario perbaikan diusulkan yaitu instalasi Solar Panel yang berpotensi menurunkan GWP sebesar 26,9% dan AP sebesar 9,22%, Variable Frequency Drive (VFD) berpotensi menurunkan GWP sebesar 14% dan AP sebesar 4,8%, serta peningkatan dosis PAC sebesar 30% untuk menurunkan EP sebesar 3,89%. Analisis sensitivitas lanjut menunjukkan bahwa dekarbonisasi jaringan listrik PLN dalam jangka panjang berpotensi memberikan penurunan GWP hingga 79,6% pada skenario energi terbarukan penuh.

2026
👤 Penulis: Putri Fatimah Azzahra
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

IDENTIFIKASI FAKTOR PEMICU FENOMENA KEMARAU BASAH AGUSTUS TAHUN 2025 DI BENUA MARITIM INDONESIA

Bulan Agustus di Benua Maritim Indonesia (BMI) secara klimatologis merupakan puncak defisit curah hujan akibat dominasi sirkulasi Monsun Australia. Namun, pada Agustus 2025 terjadi fenomena kemarau basah dengan anomali curah hujan yang meluas secara spasial, menampilkan pola yang berbeda dari kejadian historis pada tahun 2021. Fenomena ini terjadi bersamaan dengan meluasnya anomali pemanasan sea surface temperature (SST) di perairan Indonesia yang diduga kuat bertindak sebagai penyuplai uap air lokal. Secara keseluruhan, kejadian anomali ini ditengarai dipicu oleh interaksi forcing lintas skala yang kompleks, mencakup skala dasar monsun, pengaruh iklim global, skala intraseasonal dan sinoptik, hingga termodinamika lautan lokal dan modifikasi siklus diurnal. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkuantifikasi tingkat keekstreman anomali tersebut, mengidentifikasi faktor pemicu beserta mekanisme fisis lintas skalanya, dan mengkuantifikasi porsi kontribusi anomali SST lokal terhadap presipitasi menggunakan pemodelan numerik Weather Research and Forecasting (WRF). Data observasi menggunakan reanalisis ERA5, Outgoing Longwave Radiation (OLR), dan SST satelit untuk menganalisis dinamika atmosfer dari skala dasarian hingga diurnal. Eksperimen sensitivitas pemodelan WRF dilakukan untuk memvalidasi kontribusi termodinamika lautan terhadap presipitasi. Simulasi dijalankan dalam Skenario Aktual (SST 2025) dan Skenario Klimatologi (SST rata rata historis). Hasil analisis menunjukkan bahwa kemarau basah Agustus 2025 dipicu oleh terjadinya pelemahan monsun Australia yang bertepatan dengan fase Indian Ocean Dipole (IOD) negatif dalam kondisi ENSO netral. Kondisi ini memicu pemanasan SST di perairan barat Indonesia, bersamaan dengan pemanasan SST independen di Pasifik Utara. Gangguan Gelombang Kelvin, Equatorial Rossby, dan Madden Julian Oscillation (MJO) bertindak sebagai mekanisme pengangkatan. Interaksi dinamik ini mengubah siklus diurnal lokal, menggeser puncak presipitasi ke dini hari, dan memicu propagasi sistem konvektif dari laut ke daratan. Eksperimen WRF mengonfirmasi bahwa tanpa suplai energi laten tambahan dari anomali SST lokal tersebut, gangguan gelombang atmosfer tidak mampu menghasilkan curah hujan di periode kemarau.

2026
👤 Penulis: Nuran Dhiya Annafi
🏷️ Klimatologi 🏷️ Hidrologi 🏷️ Meteorologi

ISOLASI DAN UJI AKTIVITAS PENGHAMBATAN ?-GLUKOSIDASE LIGNAN DIBENZOSIKLOOKTADIENA DARI KAYU BATANG DEHAASIA SUMATRANA (LAURACEAE)

Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan hiperglikemia akibat gangguan sekresi insulin, kerja insulin, atau kombinasi keduanya. Meningkatnya prevalensi diabetes di dunia serta risiko komplikasi yang ditimbulkannya menjadikan pengendalian kadar glukosa darah sebagai salah satu aspek penting dalam terapi. Keterbatasan obat antidiabetes yang tersedia mendorong eksplorasi senyawa alam sebagai kandidat obat baru. Indonesia merupakan negara dengan keanekaragaman hayati yang tinggi, dan salah satu genus yang belum banyak diteliti adalah Dehaasia. Tumbuhan genus ini telah dilaporkan memiliki beragam aktivitas biologis seperti antiplasmodial, antibakteri, sitotoksik, antioksidan, dan antimalaria. Salah satu spesies dari genus Dehaasia adalah Dehaasia sumatrana, yakni pohon atau semak tropis yang dapat tersebar di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Penelitian mengenai metabolit sekunder D. sumatrana yang tumbuh di Indonesia masih sangat terbatas dan penelitian terhadap kayu batangnya belum pernah dilaporkan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk melakukan isolasi senyawa, karakterisasi struktur, serta mengevaluasi aktivitas penghambatan ?-glukosidase dari kayu batang D. sumatrana yang tumbuh di Indonesia. Tahapan isolasi meliputi ekstraksi menggunakan metanol yang kemudian diuapkan dengan rotary vacuum evaporator hingga diperoleh ekstrak kental. Ekstrak dipisahkan dan dimurnikan menggunakan kromatografi cair vakum, kromatografi kolom gravitasi dan kromatografi radial. Kemurnian senyawa hasil isolasi diuji menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT) dengan tiga eluen yang berbeda. Struktur senyawa hasil isolasi dikarakterisasi menggunakan NMR 1D (1H-NMR dan 13C-NMR), NMR 2D (HSQC, HMBC, dan COSY), serta spektrometri massa resolusi tinggi (HR-ESI-TOF-MS), sedangkan konfigurasi absolutnya ditentukan menggunakan analisis putaran optik dan difraksi sinar-X kristal tunggal (SC-XRD). Selanjutnya, aktivitas penghambatan ?-glukosidase dari senyawa hasil isolasi dievaluasi. Penelitian ini berhasil mengisolasi tiga metabolit sekunder dari kayu batang D. sumatrana yang diidentifikasi sebagai kadsulignan L (2,73 g), kadsulignan N (36,4 mg), dan neokadsuranin (56,1 mg). Tiga senyawa tersebut merupakan lignan dengan kerangka dibenzosiklooktadiena yang pertama kali ditemukan dari genus Dehaasia, meskipun sebelumnya telah dilaporkan dari genus Kadsura (Schisandraceae). Selanjutnya, ekstrak metanol kayu batang serta tiga senyawa hasil isolasi diuji terhadap aktivitas penghambatan ?-glukosidase dan menunjukkan aktivitas penghambatan yang lemah.

2026
👤 Penulis: Aisyah Assyifa
🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

MIXED MATRIX MEMBRANE PVDF/MXENE TERMODIFIKASI PEI UNTUK FILTRASI ZAT WARNA METILEN BIRU

Industri tekstil memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan ekonomi di seluruh dunia. Namun, industri tersebut juga menimbulkan masalah seperti limbah zat warna. Limbah zat warna yang dihasilkan salah satunya adalah metilen biru (MB). Jika terbuang ke perairan, keberadaan limbah metilen biru ini dapat merusak lingkungan, karena mempunyai sifat yang sulit terdegradasi dalam perairan. Selain itu, limbah zat warna juga dapat menimbulkan bahaya bagi kesehatan manusia. Pada penelitian ini penanganan limbah metilen biru dilakukan menggunakan teknologi membran filtrasi. Membran filtrasi menawarkan keunggulan seperti efisiensi pemisahan yang relatif tinggi serta aplikasi yang mudah, sederhana dan ekonomis. Polyvinylidene Fluoride (PVDF) merupakan polimer semi-kristalin yang banyak diaplikasikan pada membran karena stabil secara termal dan mekanik. Namun, membran PVDF juga memiliki kelemahan karena sifatnya hidrofobik sehingga rentan mengalami fouling. Oleh karena itu, pada penelitian ini dilakukan modifikasi PVDF dengan material MXene Ti3C2 menjadi mixed matrix membrane (MMM) untuk diaplikasikan pada filtrasi zat warna MB. MXene merupakan material anorganik 2D dengan struktur berlapis nano yang memiliki hidrofilisitas yang baik serta selektivitas yang unggul. Lebih lanjut, MXene dapat dimodifikasi dengan polyethyleneimine (PEI) untuk melihat pengaruhnya terhadap kinerja membran. Penelitian ini dibagi menjadi empat tahap yaitu sintesis MXene dan MXene termodifikasi PEI, sintesis mixed matrix membrane (MMM), filtrasi zat warna metilen biru, dan karakterisasi membran. Sintesis MXene dilakukan dengan melakukan proses etching fasa MAX menggunakan campuran LiF/HCl. Selanjutnya dilakukan delaminasi melalui proses interkalasi DMSO dan sonikasi selama 10 jam agar diperoleh material 2D MXene. Dilakukan juga modifikasi pada MXene menggunakan PEI sehingga diperoleh MXene-PEI. MXene dan MXene- PEI kemudian ditambahkan pada matriks PVDF membentuk membran komposit PVDF/MXene (PM) dan PVDF/MXene-PEI (PM-PEI). Pembuatan membran PM dengan variasi konsentrasi MXene yang berbeda (0,25%; 0,5% dan 1%) dilakukan. Membran komposit disintesis melalui metode inversi fasa dengan bak koagulan berupa aquades. Uji kinerja membran diamati melalui uji permeabilitas, selektivitas, dan antifouling membran. Sementara itu, karakteristik membran diamati melalui hidrofilisitas dan morfologinya. Pada penelitian ini, telah berhasil dilakukan sintesis MXene (Ti3C2) dari fasa MAX (Ti3AlC2). Karakterisasi X-Ray Diffraction (XRD) menunjukkan keberhasilan etching lapisan Al pada fase MAX, ditunjukkan melalui penurunan intensitas puncak khas Al pada 38,8° serta pergeseran puncak (002) pada 2? dari 9,52° ke 5,67°. Pada karakterisasi Scanning Electron Microscope (SEM), MXene Ti3C2 menunjukkan bentuk lembaran-lembaran yang berlapis dan unsur-unsur penyusun material tersebut diperlihatkan melalui karakterisasi Energi Dispersive X-Ray (EDX). Sementara itu, modifikasi MXene oleh PEI dapat dikonfirmasi oleh karakterisasi Fourier Transform Infrared (FTIR) melalui keberadaan pita serapan N-H stretching pada bilangan gelombang 3438 cm-1 dan -NH2 pada bilangan gelombang 1634 cm-1. Penambahan MXene dapat meningkatkan hidrofilisitas membran ditunjukkan dengan penurunan nilai sudut kontak dari PVDF 82,04° menjadi sebesar 65,43° untuk PM 0,25, 69,95° untuk PM 0,5 dan 74,34° untuk PM 1, berturut-turut. Pada filtrasi MB, kondisi optimum dicapai pada konsentrasi MXene 0,25%, memberikan nilai fluks air murni 85,56 L m-2 jam-1 dan rejeksi sebesar 95,73%. Sementara itu, modifikasi MXene menggunakan PEI menurunkan permeabilitas membran namun meningkatkan selektivitas membran terhadap zat warna MB. Membran PVDF/MXene-PEI menunjukkan nilai fluks air murni 51,73 L m-2 jam-1 dan rejeksi sebesar 97,43%. Lebih lanjut, nilai FDR pada membran PVDF/MXene-PEI diperoleh sebesar 95,75%. Nilai FDR tinggi dari PVDF/MXene-PEI menandakan sedikit terjadinya fouling dan membran memiliki sifat antifouling yang cukup baik.

2026
👤 Penulis: Asep Rizki Pradana
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

KUANTIFIKASI NITROGEN DAN BIOMASSA PADA TANAMAN CABAI RAWIT (CAPSICUM FRUSTESCENS L.) DENGAN APLIKASI BIOKONTROL TRICHODERMA HARZIANUM TERHADAP FUSARIUM OXYSPORUM

Cabai rawit (Capsicum frutescens L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura dengan produksi yang tinggi di Indonesia, namun terjadi penurunan produksi pada beberapa tahun kebelakang. Salah satu penurunan produksi ini dikarenakan serangan patogen Fusarium oxysporum yang menyebabkan penyakit layu Fusarium. Penggunaan Trichoderma harzianum pada media tanam dapat menjadi alternatif dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman dan menyediakan unsur hara. Selain itu, penggunaan biokontrol Trichoderma harzianum dapat menekan pertumbuhan Fusarium oxysporum dengan mekanisme kompetisi, mikroparasitisme, dan antibiosis. Penelitian bertujuan untuk menentukan pengaruh pemberian Trichoderma harzianum dan Fusairum oxysporum pada pertumbuhan, produksi biomassa, laju pertumbuhan, pemodelan matematis, serta nitrogen total pada media tanam dan tanaman cabai rawit. Kemudian, menentukan pengaruh pemberian Trichoderma harzianum terhadap neraca massa nitrogen. Rancangan penelitian menggunakan metode destruktif dengan tiga ulangan. Perlakuan yang diberikan yaitu tanpa inokulasi (K0), inokulasi Fusarium oxysporum (K1), inokulasi Fusarium oxysporum dan Trichoderma harzianum (K2), serta inokulasi Trichoderma harzianum saja (K3). Parameter yang diamati berupa tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, diameter batang, dan rasio tajuk-akar pada 44-86 HST, serta kandungan nitrogen dalam media tanam dan tanaman cabai rawit pada 30-143 HST dengan menggunakan metode Kjeldahl. Hasil dari penelitian perlakuan Trichoderma harzianum (K3) meningkatkan pertumbuhan tanaman cabai rawit, seperti tinggi tanaman, luas daun, dan diameter batang terutama pada 44 hingga 65 HST serta shoot-root ratio terbaik pada tiap HST. Sedangkan, pada perlakuan Fusarium oxysporum menyebabkan penurunan pertumbuhan tanaman cabai rawit pada 44 hingga 58 HST dan peningkatan pertumbuhan pada 72 hingga 86 HST dengan spesifikasi Fusarium oxysporum spatial complex odoratissimum. Perlakuan Trichoderma hazianum dan Fusarium oxysporum dapat memberikan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan pemberian Fusarium oxysporum saja. Laju pertumbuhan rata-rata terbaik pada pemberian Fusarium oxysporum sebesar 1,701 cm/hari untuk tinggi tanaman, 2 helai/hari untuk jumlah daun, 3,240 cm²/hari untuk luas daun, dan 0,016 cm/hari untuk diameter batang. Pemodelan matematis pada perlakuan Trichoderma harzianum + Fusarium oxysporum pada parameter tinggi tanaman, luas daun, dan diameter batang menggunakan model Gompertz dengan persamaan berturut-turut, yaitu ???? = 0,334 + 89,522??????????0,054(?????60,736) , ???? = 10,179 + 98,461??????????0,156(?????53,846) , dan ???? = 0,302 + 0,674??????????0,084(?????59,239) . Sedangkan, pada jumlah daun digunakan model logistic dengan persamaan ???? = 57,294 1+?????0,125(?????60,307) . Pemberian Trichoderma harzianum dapat meningkatkan kadar nitrogen pada tanaman cabai rawit dibandingkan perlakuan lainnya serta memiliki nitrogen total dalam tanah paling tinggi dibandingkan perlakuan lainnya pada 30, 44, dan 143 HST. Pemberian Fusarium oxysporum menurunkan nitrogen total pada media tanam dibandingkan perlakuan yang lainnya terutama pada 143 HST. Sedangkan, perlakuan Trichoderma harzianum dan Fusarium oxysporum tidak berbeda nyata dibandingkan tanpa inokulasi. Neraca massa nitrogen pada perlakuan Trichoderma harzianum + Fusarium oxysporum memiliki input sebesar 0,171 g N dan nilai output sebesar 0,101 g N, sehingga terjadi kehilangan nitrogen sebesar 6,62 g N.

2026
👤 Penulis: Wandha Asokawaty Devy
🏷️ Kebudayaan Pertanian 🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

PENGEMBANGAN SEPATU SINGLE PLATFORM CONVERTIBLE BAGI PEKERJA PEREMPUAN DENGAN INTENSITAS KERJA TINGGI

Sepatu hak tinggi banyak digunakan oleh pekerja perempuan sebagai bagian dari penampilan profesional, khususnya di sektor layanan publik dan perhotelan. Namun, penggunaannya dalam durasi panjang menimbulkan risiko gangguan muskuloskeletal yang signifikan meliputi nyeri kaki, lutut, dan punggung bawah akibat perubahan postur tubuh dan pola berjalan yang tidak alami. Data BPS (2024) menunjukkan bahwa pekerja perempuan di sektor jasa Indonesia, yang mencakup 54,6% dari total angkatan kerja perempuan nasional, rata-rata bekerja 45,1 jam per minggu, dengan durasi berdiri hingga 7–9 jam per hari sambil mengenakan alas kaki yang tidak ergonomis. Penelitian ini bertujuan merancang sepatu hak tinggi konvertibel berbasis ergonomi yang mampu menjawab kebutuhan fungsional, kenyamanan jangka panjang, serta tuntutan estetika profesional pekerja perempuan. Pendekatan kualitatif berbasis user-centered design digunakan melalui observasi lapangan etnografis, wawancara terstruktur dengan lima pekerja perempuan berusia 20–45 tahun di sektor jasa, konsultasi ahli dengan praktisi senior industri sepatu, serta tinjauan literatur dan produk eksisting. Temuan lapangan mengidentifikasi tiga pain point utama: (1) nyeri fisik akibat distribusi beban yang tidak merata dan desain toe box yang sempit, menyebabkan lecet pada tumit, ketegangan otot betis, dan nyeri punggung bawah; (2) penurunan stabilitas pola berjalan dan pemendekan langkah setelah pemakaian berkepanjangan; serta (3) ketidakpraktisan membawa alas kaki cadangan. Temuan ini diperkuat oleh literatur yang mengkonfirmasi bahwa penggunaan sepatu hak tinggi secara rutin meningkatkan tekanan plantar di area metatarsal secara signifikan, mengurangi rentang gerak pergelangan kaki, dan meningkatkan risiko jatuh hingga 40% pada perempuan usia kerja. Solusi desain yang dikembangkan adalah prototipe sepatu konvertibel yang memungkinkan pengguna beralih secara efisien antara mode hak tinggi profesional (maksimal 5 cm) dan mode flat untuk istirahat atau aktivitas dinamis. Desain mengintegrasikan berbagai prinsip ergonomi, meliputi toe box luas, dukungan lengkung telapak, bantalan forefoot, lebar dasar hak ?2–3 cm, serta sudut kemiringan hak kurang dari 15°. Mekanisme konversi dirancang agar andal, intuitif, dan tidak mengorbankan estetika profesional sepatu, dengan siluet yang ramping dan material yang breathable. Diharapkan solusi ini dapat menjadi alternatif yang inklusif dan berorientasi kesehatan, mendukung kesejahteraan fisik pekerja perempuan sekaligus menjaga citra profesional mereka dalam lingkungan kerja modern.

2026
👤 Penulis: Najda Afifah
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

SINTESIS DAN OPTIMASI KINERJA MATERIAL ?-ALUMINA MESOPORI HASIL ISOLASI ABU TERBANG BATUBARA PLTU PAITON TERMODIFIKASI POLIDOPAMIN UNTUK ADSORPSI ION NEODIMIUM

Pemanfaatan limbah abu terbang batubara PLTU Paiton masih kurang optimal dan menimbulkan permasalahan lingkungan. Kandungan alumina pada limbah abu terbang batubara dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam sintesis material adsorben termodifikasi untuk adsorpsi logam tanah jarang seperti ion neodimium (Nd(III)). Modifikasi dengan polidopamin dilakukan untuk memperkaya gugus fungsi aktif pada permukaan material sehingga meningkatkan afinitas terhadap ion neodimium dan memperbaiki kinerja adsorpsinya. Penelitian ini bertujuan mengisolasi alumina dari abu terbang batubara serta menyintesis material alumina mesopori yang dimodifikasi dengan polidopamin untuk adsorpsi ion neodimium. Isolasi alumina dilakukan melalui tahapan pra-perlakuan, amorfisasi terkontrol, serta proses hidrometalurgi yang meliputi pelindian asam, pelindian basa, dan penetralan larutan. Alumina hasil isolasi kemudian disintesis menjadi alumina mesopori menggunakan surfaktan Pluronic P123 dan selanjutnya dimodifikasi melalui pelapisan polidopamin. Material yang berhasil disintesis dan dikarakterisasi menggunakan FTIR, XRF, XRD, BET, dan SEM kemudian dilakukan optimasi kinerja adsorpsi pada adsorben.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses isolasi menghasilkan silika, besi, dan alumina dengan tingkat kemurnian masing-masing sebesar 96,63; 10,3; dan 94,3%, serta rendemen masing-masing sebesar 35,66; 56,77; dan 11,40%. Penggunaan Pluronic P123 terbukti meningkatkan luas permukaan material hingga 246,87 m²/g sekaligus membentuk struktur mesopori dengan diameter pori sebesar 4,29 nm. Pada penelitian ini dilakukan optimasi kinerja tiga material meliputi Al(OH)3 hasil ekstraksi tanpa modifikasi (AI), alumina mesopori (AM), dan alumina polidopamin (AP) berpori hierarki pada kondisi optimum pH 6, massa adsorben 15 mg, dan waktu kontak 60 menit. Data hasil adsorpsi mengikuti model isoterm Freundlich melalui fitting non linier dengan nilai Kf untuk material AI, AM, dan AP sebesar 2,4707; 3,266; dan 5,2202 dan nilai n masing-masing sebesar 1,0098; 1,3137; dan 1,6122. Proses adsorpsi mengikuti model kinetika orde dua semu berdasarkan analisis fitting nonlinier dengan nilai kapasitas adsorpsi (Qe) AP sebesar 6,994 atau 4,9 kali lebih besar dari Al(OH)3 hasil ekstraksi tanpa modifikasi (AI) sebesar 1,4287. Selain itu, hasil kajian termodinamika mengindikasikan bahwa proses adsorpsi berlangsung secara spontan dan bersifat endotermik, sedangkan uji ANOVA menunjukkan bahwa model yang diperoleh signifikan secara statistik (p < 0,001), R2 dari persamaan regresi material AI, AM, dan AP masing-masing sebesar 0,9321; 0,9175; dan 0,9299 dengan parameter konsentrasi ion neodimium sebagai variabel paling mempengaruhi adsorpsi. Berdasarkan hasil tersebut, material AP berpori hierarki berpotensi dikembangkan sebagai adsorben yang efektif untuk studi pemisahan ion neodimium.

2026
👤 Penulis: Rima Rachmania Arfida
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PERANCANGAN FRUIT STORAGE CHAMBER (FSC) BERBASIS FOTOKATALIS TIO2/MN PADA SISTEM PENYIMPANAN PASCAPANEN MULTI-PRODUK PISANG CAVENDISH DI PT. EKONOMI SIRKULAR INDONESIA

Indonesia merupakan salah satu produsen pisang terbesar di dunia, namun masih menghadapi tingginya kehilangan pascapanen akibat proses pematangan yang dipicu oleh akumulasi gas etilen. Kondisi ini menyebabkan penurunan mutu dan masa simpan serta kerugian ekonomi di sepanjang rantai pasok. Oleh karena itu, dilakukan perancangan sistem pascapanen Fruit Storage Chamber (FSC) berbasis fotokatalis TiO2/Mn pada penyimpanan pisang Cavendish di PT. Ekonomi Sirkular Indonesia untuk memperpanjang umur simpan, mempertahankan kualitas buah, dan mengurangi kehilangan pascapanen. Sistem ini dirancang sebagaimana proses yang dilakukan oleh PT. Ekonomi Sirkular Indonesia, yakni proses penerimaan bahan baku, pencucian, sortasi dan grading, penyimpanan, produksi buah utuh, buah potong, dan smoothies, pengemasan, hingga distribusi ke retailer. Inovasi utama terletak pada sistem fotokatalis TiO2/Mn pada tahap penyimpanan di warehouse dan retail, yang mampu mendegradasi etilen sehingga proses pematangan dapat diperlambat tanpa bergantung pada sistem cold storage konvensional. Selain itu, sistem ini menerapkan konsep optimalisasi pemanfaatan buah sesuai tingkat kematangannya sehingga dapat menekan kehilangan hasil pascapanen. Berdasarkan analisis 3 altermatif sistem pascapanen, skenario FSC berbasis TiO2/Mn dipilih karena memberikan nilai terbaik antara efisiensi teknis, ekonomi, dan keberlanjutan. Sistem ini memiliki kapasitas penerimaan 500 kg pisang per hari atau 132.000 kg per tahun dengan hasil produksi berupa 63,05% buah utuh, 13% buah potong, dan 5,2% smoothies. Produk yang dihasilkan memiliki keunggulan berupa umur simpan lebih panjang, mutu dan tingkat kematangan lebih seragam, dan meningkatkan nilai tambah buah overripe dari diversifikasi produk sehingga mengurangi food loss serta mendukung efisiensi pemanfaatan bahan baku. Indikator kelayakan finansial yang digunakan menunjukkan performa usaha yang positif. Sistem mencatatkan Gross Profit Margin (GPM) sebesar 42,74%, Net Profit Margin (NPM) sebesar 9,42%, dan Net Present Value (NPV) selama 10 tahun sebesar Rp1,237,135,044.47. Internal Rate of Return (IRR) sebesar 62,56% berada jauh di atas tingkat diskonto 12%, dengan Profitability Index (PI) sebesar 3,56. Titik impas (Break Even Point) tercapai pada utilisasi 76.80% dari kapasitas terpasang, dengan periode pengembalian modal (Payback Period) selama 1,59 tahun. Secara keseluruhan, perancangan FSC berbasis TiO2/Mn layak diterapkan karena mampu menjaga kualitas dan meningkatkan nilai jual pisang Cavendish, mengurangi kehilangan pascapanen, dan mendukung sistem rantai pasok yang lebih efisien dan berkelanjutan.

2026
👤 Penulis: Amelia Syabina Izzati
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PEMANTAUAN EUTROFIKASI LAUT ARU DENGAN ESTIMASI WARNA PERAIRAN MENGGUNAKAN FOREL ULE INDEX (FUI) BERBASIS PENGINDERAAN JAUH

Perairan Laut Aru merupakan wilayah produktif strategis bagi perikanan nasional Indonesia, namun dinamika kesuburannya yang tinggi membawa risiko eutrofikasi yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem. Keterbatasan akses dan tingginya biaya pengambilan data lapangan secara konvensional melatarbelakangi kebutuhan sistem pemantauan berbasis penginderaan jauh yang efisien. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung indeks warna air dan konsentrasi klorofil-a menggunakan penginderaan jauh, menentukan tingkat eutrofikasi dan analisis spasial serta temporalnya, serta menganalisis mekanisme pengaruh parameter fisik kimia dan dinamika atmosfer terhadap fluktuasi status trofik di Laut Aru. Data citra satelit periode 2021—2025 diintegrasikan dengan data nutrien (Nitrat dan Fosfat), suhu permukaan laut (SPL), dan curah hujan, kemudian diolah melalui parameter bio-optik Forel-Ule Index (FUI) dan klorofil-a pada tujuh titik pengamatan, serta dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson dan Spearman. Hasil penelitian menunjukkan gradien kesuburan secara spasial yang jelas. Hasil FUI pesisir Papua 4 hingga 7 dan FUI Kepulauan Aru berskala 5 hingga 6 (beberapa titik skala 9) memiliki status oligotrofik hingga mesotrofik akibat beban hara dari daratan, dengan rata-rata konsentrasi klorofil-a 3,62 mg/m3. Sementara itu, wilayah laut lepas berada pada kondisi oligotrofik dengan FUI 2 hingga 6 dan klorofil-a sebesar 1,56 mg/m3. Secara temporal, produktivitas memiliki pola dua puncak. Puncak pertama terjadi pada monsun timur hingga peralihan II (September dan Oktober) akibat input massa air dari fenomena upwelling Laut Banda yang menurunkan SPL hingga 24,23 oC. Puncak kedua terjadi pada monsun barat akibat input nutrien terestrial dari curah hujan. Korelasi positif antara FUI dan klorofil-a diperoleh koefisien sebesar 0,729. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tingkat oligotrofik dan mesotrofik di pesisir Laut Aru dipengaruhi oleh gabungan dinamika atmosfer dan input terestrial, sedangkan di laut lepas dikendalikan oleh dinamika fisik oseanografi. Parameter FUI terbukti efektif sebagai indikator status trofik berbasis penginderaan jauh untuk pemantauan kualitas air di wilayah Laut Aru.

2026
👤 Penulis: Vadelino Dio Maulana
🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

ANALISIS POLA SEBARAN DAN WAKTU TINGGAL POLUTAN DI TELUK JAKARTA MENGGUNAKAN MODEL MITGCM

Teluk Jakarta merupakan kawasan perairan yang menerima beban polutan tinggi akibat aktivitas manusia, sehingga dinamika pergerakan dan akumulasinya yang sangat dipengaruhi oleh sistem angin monsun penting untuk dikaji. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis variabilitas spasio-temporal dari pola sebaran dan waktu tinggal polutan yang diinisiasi dengan pelacak pasif di Teluk Jakarta berdasarkan variasi musim menggunakan pemodelan hidrodinamika tiga dimensi Massachusetts Institute of Technology General Circulation Model (MITgcm) dengan konfigurasi telescoping grid yang berfokus di daerah Teluk Jakarta. Model ini digabungkan dengan modul pelacak pasif, serta diverifikasi menggunakan asimilasi data elevasi pasang surut global TPXO9-atlas. Hasil simulasi menunjukkan bahwa sirkulasi massa air dan kapasitas bilas di Teluk Jakarta memiliki kerentanan yang berbeda-beda, pada puncak musim barat dan musim timur, perairan mampu membilas polutan secara cepat, berkisar 3 hingga 9 hari pada area yang searah dengan arus dominan, namun secara bersamaan memicu jebakan pesisir dengan waktu tinggal maksimal 20-21 hari di arah berlawanan, yakni di pesisir timur saat musim barat dan pesisir barat daya saat musim timur. Kondisi lingkungan paling kritis terjadi pada musim peralihan I dan II, yaitu ketiadaan arus residu dan pemaksaan angin yang kuat menciptakan zona stagnasi khususnya di teluk bagian dalam, menjadikan wilayah perairan mencapai kapasitas bilas terendahnya dengan waktu tinggal mencapai 25 – 30 hari.

2026
👤 Penulis: Muhammad Raihan
🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Lingkungan

METANA BIOGENIK DAN TERMOGENIK PADA SISTEM PESISIR TROPIS INDONESIA: DISTRIBUSI SPASIAL DAN KONTROL LINGKUNGAN

Metana (CH4) merupakan salah satu gas rumah kaca utama yang berperan penting dalam pemanasan global, namun informasi mengenai dinamika CH4 di sistem pesisir Indonesia masih sangat terbatas. Studi ini mengkaji distribusi, akumulasi, transpor, dan kontrol lingkungan CH4 pada beberapa sistem pesisir tropis Indonesia yang merepresentasikan lingkungan biogenik dan geogenik/termogenik, meliputi Teluk Jakarta, Delta Berau, Teluk Cirebon, dan Perairan Sabang. Observasi lapangan dilakukan pada air pori sedimen, CH4 terlarut di kolom air, dan CH4 atmosfer, serta dikombinasikan dengan parameter oseanografi dan lingkungan seperti oksigen terlarut, salinitas, suhu, nutrien, dan kondisi hidrodinamika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Teluk Jakarta memperlihatkan akumulasi CH4 tertinggi di antara sistem biogenik, terutama di wilayah pesisir dan estuari yang dipengaruhi oleh eutrofikasi, masukan antropogenik, dan kondisi oksigen rendah. Konsentrasi CH4 air pori sedimen mencapai 168,97 ?mol L?1 di sekitar Muara Marunda selama musim barat. Sebaliknya, Sabang sebagai sistem hidrotermal dangkal menunjukkan bahwa hotspot emisi udara-laut tidak selalu berasosiasi langsung dengan lokasi sumber CH4, karena distribusi dan pelepasan metana dikontrol oleh transpor kolom air, stratifikasi, dan pertukaran gas yang dipengaruhi angin. Studi ini mengonfirmasi bahwa dinamika CH4 pada sistem pesisir Indonesia dikendalikan oleh interaksi antara produksi bentik, kondisi lingkungan, dan proses transpor fisik yang berbeda pada masing-masing sistem pesisir. Temuan ini menyediakan kerangka konseptual komparatif untuk memahami sistem CH4 pesisir biogenik dan geogenik/termogenik di wilayah tropis. Selain itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah pesisir tropis Indonesia tidak hanya berperan sebagai penyimpan karbon (carbon sink), tetapi dalam kondisi tertentu juga dapat bertindak sebagai sumber CH4 atmosferik (carbon source) yang berkontribusi terhadap dinamika gas rumah kaca regional dan siklus karbon pesisir.

2026
👤 Penulis: Irfan Kampono
🏷️ Metana 🏷️ Sistem Pesisir Indonesia 🏷️ Hidrologi
Halaman 1 dari 267
💬