📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 5 dokumen

REDESAIN TERAS MALIOBORO 1 SEBAGAI PUSAT EKONOMI KREATIF BERBASIS BUDAYA YOGYAKARTA

Malioboro dikenal sebagai ikon Yogyakarta yang berperan penting sebagai salah satu pusat perekonomian, hiburan, wisata, dan kuliner Kota Yogyakarta. Kawasan Malioboro dipenuhi oleh pedagang kaki lima (PKL), pertokoan, penduduk lokal, dan wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta. Kebijakan penataan kawasan menghadirkan Teras Malioboro guna mewadahi aktivitas para PKL Malioboro, namun kehadirannya. Namun, relokasi ini menimbulkan tantangan baru, dimana Teras Malioboro belum sepenuhnya mengakomodir kepentingan pelaku usaha (Sumiyar Mahanani et al, 2023), timbulnya dinamika antara kepastian legalitas yang diberikan oleh pemerintah terhadap para pedagang kaki lima dengan keberlanjutan vitalitas ruang, serta Teras Malioboro masih dianggap belum optimal dalam merefleksikan identitas kultural. Fasilitas ini berisiko menjadi sekadar pusat komersial fungsional yang kehilangan koneksi mendalam dengan identitas budaya Yogyakarta akibat tantangan-tantangan tersebut. Melalui metode wawancara, observasi, kuesioner, dan studi literatur, penelitian ini meredesain Teras Malioboro 1 yang menekankan pengalaman ruang serta penguatan identitas visual berbasis budaya lokal. Hasil rancangan ini diharapkan mampu mentransformasi Teras Malioboro 1 menjadi pusat perdagangan sekaligus ruang kreatif berbudaya yang berkelanjutan dan berakar pada kearifan lokal.

2026
👤 Penulis: Azarine Dewita Permadi
🏷️ Desain Ruang 🏷️ Pengelolaan Pusat Ekonomi Kreatif 🏷️ Hidrologi Budaya

VISUALITAS MODERNITAS SAMPUL ALBUM KASET MUSIK POP INDONESIA ERA 1980-AN

Pesatnya laju modernisasi yang digalakkan pemerintah Orde Baru pada dekade 1980-an menempatkan industri musik pop sebagai instrumen kultural yang krusial. Pada periode tersebut, Indonesia mengalami transisi besar-besaran menuju industrialisasi, memicu tegangan antara program pembangunan pemerintah yang pragmatis dengan realitas budaya adaptif masyarakat yang makin terpapar arus globalisasi. Dalam dinamika ini, sampul album kaset musik pop muncul tidak sekadar sebagai kemasan fisik pelindung kaset pita, melainkan bertransformasi menjadi agen visual yang secara masif mengartikulasikan definisi "menjadi modern". Mengingat tinjauan akademis terdahulu dalam studi budaya visual sering kali terpaku pada pembacaan estetika formal semata dan mengabaikan dinamika sosiologis di baliknya. Penelitian ini bertujuan untuk membongkar proses negosiasi jaringan relasi aktor di balik perwujudan visual sampul kaset, sekaligus merumuskan konsep visualitas modernitas yang terepresentasikan di dalamnya. Untuk mengurai fenomena tersebut, penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif dengan pendekatan sosiologi desain, melalui kerangka analitis Actor Network Theory (ANT). Pendekatan ini dipilih secara strategis untuk melampaui kajian desain konvensional yang kerap memosisikan desain semata-mata sebagai produk pasif kreator tunggal. Kajian ini justru memosisikan sampul kaset sebagai "kotak hitam" (black box) yang dikonstruksi secara dinamis melalui benturan agensi para aktor. Pembuktian hipotesis dilakukan dengan menelusuri jejak relasi kuasa serta agensi para aktor terkaitnya, guna membuktikan bahwa setiap elemen estetis—mulai dari foto, tata letak, warna, hingga tipografi—adalah manifestasi dari tindakan sosial yang sarat kepentingan. Hasil analisis mengungkap bahwa visualisasi sampul kaset terbentuk melalui dialektika dua tipologi jaringan. Pertama, ANT Mekanistik, yakni tatanan jaringan yang didominasi oleh hegemoni label rekaman. Pada tatanan ini, produksi visual direduksi menjadi objek massal berorientasi pasar; desainer grafis terpinggirkan sebagai operator teknis, figur musisi diobjektifikasi menjadi komoditas artifisial, dan keputusan visual tunduk mutlak pada determinasi aktor non-manusia (limitasi mesin cetak offset, sempitnya dimensi kaset, serta regulasi sensor Orde Baru). Kedua, ANT Humanistik, sebuah anomali di mana musisi elit berhasil mengendalikan otonomi agensi. Pada jaringan ini, musisi dan desainer i berkolaborasi sebagai mitra intelektual untuk menundukkan batasan material demi mengekspresikan rasionalitas visual. Dialektika kedua jaringan yang cukup berseberangan ini pada akhirnya distabilkan oleh mobilisasi penggemar yang memvalidasi wacana industri melalui ritus konsumsi harian. Konvergensi dari pertarungan agensi tersebut melahirkan perumusan visualitas modernitas yang paradoksal dan tersegmentasi. Melalui kacamata ANT Humanistik, sampul kaset menampilkan citra elitis dan bergaya kosmopolitan sebagai simbol kemerdekaan individu kelas menengah urban. Namun di sisi lain, melalui lensa ANT Mekanistik, artefak ini bertindak sebagai komoditas yang menawarkan ilusi kedekatan bagi kelas pekerja marjinal, sekaligus mengaburkan represi sosial-politik negara di lapis terdalamnya. Konsep modernitas ini dinegosiasikan secara terus-menerus, merepresentasikan identitas masyarakat Indonesia era 1980-an yang sesungguhnya terjebak dalam hibriditas budaya antara tuntutan rasionalitas global dan kepatuhan tradisi. Kebaruan penelitian ini terletak pada postulat teoretis yang secara tegas meredefinisi konsep visualitas—bukan lagi sekadar representasi gambar statis yang tunduk pada aturan estetika formal, melainkan sebuah konstruksi sosio-visual dan arena negosiasi material. Melalui redefinisi ontologis ini, disertasi memberikan sumbangan pemikiran yang signifikan terhadap khazanah keilmuan Desain Komunikasi Visual dan kajian budaya. Penelitian ini membuktikan secara definitif bahwa desain grafis hadir sebagai artefak sosiologis aktif yang membingkai relasi kuasa antar aktor, memediasi dualitas kelas sosial, sekaligus merekam pengalaman eksistensial masyarakat Indonesia dalam merengkuh modernitas.

2026
👤 Penulis: Inko Sakti Dewanto
🏷️ Desain Komunikasi Visual 🏷️ Hidrologi Budaya 🏷️ Sosiologi Desain

ESTETIKA HUDOQ DALAM RITUAL LOM PLAI MASYARAKAT DAYAK WEHEA MELALUI PENDEKATAN ETNOGRAFI

Tradisi Hudoq merupakan ekspresi budaya masyarakat Dayak Wehea yang memiliki peran penting dalam kehidupan spiritual dan agraris mereka. Sebagai bagian dari ritual tahunan Lom Plai, Hudoq tidak hanya menjadi media upacara permohonan kesuburan, tetapi juga mengandung pesan simbolik yang mendalam. Wujud visual Hudoq mulai dari topeng, hiasan kepala, hingga kostum berbahan daun pisang menjadi cerminan dari sistem kosmologi dualistik yang diyakini oleh masyarakat Dayak Wehea. Dalam konteks modernisasi dan tantangan komodifikasi budaya, penting untuk menelaah bagaimana elemen-elemen visual ini tetap mempertahankan nilai filosofis dan spiritualnya. Penelitian ini bertujuan menganalisis visualisasi elemen Hudoq (topi, topeng, kostum) dalam ritual Lom Plai, mengungkap makna simbolisnya, serta merefleksikan estetika visual Hudoq terhadap nilai budaya, kepercayaan, dan filosofi hidup Dayak Wehea. Metode kualitatif-deskriptif digunakan dengan pendekatan Estetika Paradoks dan interpretasi etnografis, mengumpulkan data melalui observasi, dokumentasi visual, studi pustaka, dan wawancara. Analisis dilakukan dengan klasifikasi domain, taksonomi, komponensial, dan tema budaya visual berdasarkan struktur tubuh Hudoq yang merepresentasikan Dunia Atas dan Dunia Bawah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa estetika visual Hudoq mencerminkan paradoks antara penampilannya yang menyeramkan dan fungsi spiritualnya sebagai pembawa berkah dan perlindungan. Visualisasi Hudoq merepresentasikan kosmologi Dayak Wehea yang terbagi menjadi Dunia Atas (kepala/topeng), Dunia Bawah (kostum/kaki), dan "Dunia Tengah" sebagai irisan dinamis dari interaksi keduanya. Estetika Hudoq dengan demikian menegaskan filosofi hidup masyarakat Dayak Wehea dalam menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan dimensi spiritual.

2025
👤 Penulis: Abdul Majid Sutarya
🏷️ Estetika 🏷️ Ritual Lom Plai 🏷️ Hidrologi Budaya

PEMBANGUNAN DYNAMIC BUILDING INFORMATION MODELING UNTUK KONSERVASI RUANG ADAT (STUDI KASUS: DESA ADAT PENGLIPURAN BALI)

Penelitian ini bertujuan mengembangkan Dynamic Building Information Modeling (D-BIM) untuk konservasi ruang adat di Desa Adat Penglipuran, Bali. Dalam konteks warisan budaya, ruang adat menghadapi tantangan dari modernisasi dan tekanan pariwisata yang berpotensi merusak tata ruang serta nilai-nilai budaya lokal. Di Bali, masyarakat adat memiliki hak khusus untuk menjaga ruang adat berdasarkan hukum adat yang diwariskan turun-temurun. Namun, perkembangan pariwisata mengakibatkan perubahan fungsi ruang dan pola hidup masyarakat, memunculkan urgensi penerapan teknologi mutakhir untuk mendokumentasikan dan mengelola tata ruang adat secara berkelanjutan. Penelitian ini menekankan pentingnya integrasi model Boundary Representation (B-Rep) dan Decision Support System (DSS) dalam D-BIM untuk mengakomodasi perubahan dinamis, selaras dengan kaidah hukum adat Bali. Pendekatan ini memungkinkan masyarakat adat menjaga kelestarian budaya, sembari mendukung keseimbangan dengan kebutuhan pengembangan ekonomi berbasis pariwisata. Metode yang diterapkan mencakup High Definition Survey (HDS) untuk mendokumentasikan ruang adat secara detail, serta penerapan Building Information Modelling (BIM) berbasis 3D yang mendukung visualisasi dan analisis tata ruang adat secara komprehensif. Data spasial diperoleh melalui teknologi Terrestrial Laser Scanning (TLS) dan Unmanned Aerial Vehicle (UAV), yang menghasilkan data point cloud dan peta foto udara dengan ketelitian tinggi. Integrasi data spasial ini dalam model D-BIM berbasis 3D memungkinkan pelacakan perubahan fisik dan penggunaan ruang di wilayah adat secara tepat dan efisien. Proses pemodelan ini meliputi akuisisi data lapangan, pemrosesan data point cloud, serta integrasi informasi hukum adat dalam struktur BIM melalui modifikasi skema Industry Foundation Classes (IFC), yang memungkinkan pengelolaan data spasial dan semantik dalam satu platform digital. Kajian ini menunjukkan bahwa penerapan D-BIM yang dinamis dapat mengatasi keterbatasan BIM tradisional yang bersifat statis. D-BIM memberikan fleksibilitas untuk menyesuaikan perubahan tata ruang yang diatur oleh hukum adat, terutama di Desa Penglipuran yang menerapkan konsep Tri Hita Karana (THK). Dalam konsep ini, tata ruang dibagi menjadi tiga zona: zona utama sebagai pusat ibadah, zona madya sebagai area aktivitas manusia, dan zona nista sebagai tempat interaksi dengan tamu dan kegiatan ekonomi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan teknologi D-BIM yang terintegrasi dengan B-Rep dan DSS dapat mempercepat proses pengambilan keputusan terkait konservasi ruang adat. Model ini membantu mengidentifikasi batas zona adat, menganalisis dampak perubahan ruang, dan memberikan rekomendasi tindakan konservasi yang sesuai dengan norma adat. D-BIM juga memungkinkan visualisasi interaktif dari ruang adat, sehingga setiap perubahan dapat didokumentasikan dengan cepat dan efektif. Kolaborasi teknologi modern ini juga meningkatkan efisiensi dan akurasi dalam pendokumentasian, memberikan solusi berkelanjutan bagi masyarakat adat dalam menjaga lingkungan, budaya, dan struktur fisik warisan mereka. Kebaruan penelitian ini terletak pada pengembangan D-BIM yang mampu merespons perubahan dinamis, menjadikannya sebagai model konservasi yang fleksibel dan berkelanjutan serta pengembangan model IfcCulturalHeritage yang dapat menjadi rujukan dalam format IFC4 untuk wisata budaya dan adat. Dengan adanya D-BIM, potensi konflik antara kepentingan pariwisata dan pelestarian budaya dapat diminimalkan, mengingat model ini mendukung pemantauan berkelanjutan dan pengelolaan perubahan pada bangunan adat sesuai dengan kebutuhan hukum adat. Penelitian ini berkontribusi pada khazanah ilmu pengetahuan dengan memperkenalkan model BIM yang dinamis untuk konservasi ruang adat, sebuah inovasi yang belum banyak dikembangkan dalam konteks budaya di Indonesia.

2024
👤 Penulis: Ketut Tomy Suhari
🏷️ Desain Dan Pemanfaatan Ruang Adat 🏷️ Kecerdasan Buatan (Kecerdasan Buatan) 🏷️ Hidrologi Budaya

PERAHU SANDEQ SEBAGAI WARISAN BUDAYA BAHARI MANDARSTUDI KASUS: EVENT CELEBES HERITAGE FESTIVAL

Penelitian ini mengkaji desain perahu Sandeq Mandar dan makna simbolisnya sebagai simbol identitas budaya yang kuat. Melalui observasi langsung dan wawancara pada Mei 2023, serta observasi pada kegiatan Sandeq Race pada Agustus 2023 dan Celebes Heritage Festival pada Desember 2023. Evaluasi akhir pada Januari 2024 akan menilai dampak jangka panjang festival terhadap pelestarian budaya bahari Mandar. Perahu Sandeq, warisan budaya bahari suku Mandar di Sulawesi Barat, mengalami perubahan desain dan fungsi karena dinamika sosial, kebijakan pemerintah, inovasi desain, dan pengaruh agama Islam. Menurut teori Adhi Nugraha tentang artefak, perubahan ini mencerminkan keberlanjutan makna simbolis dan identitas budaya di tengah modernisasi. Perubahan budaya dan ekonomi, seperti globalisasi dan modernisasi, mempengaruhi pandangan masyarakat Mandar terhadap penggunaan dan fungsi perahu Sandeq, meskipun makna filosofisnya tetap tidak berubah. Inovasi seperti Sandeq pappasilumba yang lebih besar dan ramping meningkatkan efisiensi dan adaptasi terhadap pariwisata, sambil menjaga nilai-nilai tradisional. Penambahan motif logo sponsor pada layar adalah upaya pelestarian. Menurut teori Sangsoo Ahn, mempertahankan desain tradisional Sandeq adalah strategi pelestarian budaya yang memungkinkan tradisi ini beradaptasi dengan zaman sambil menjaga esensinya. Pemerintah Indonesia menetapkan Sandeq sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada 2014 untuk mencegah kepunahan. Urgensi kepunahan ditandai dengan jumlah perahu Sandeq yang terus berkurang. Ritual dan praktik Islam mempengaruhi pembuatan dan penggunaan perahu, meskipun ada elemen yang bertentangan dengan ajaran Islam. Festival budaya seperti Celebes Heritage Festival memainkan peran kunci dalam mempromosikan Sandeq kepada generasi muda dan memastikan pelestarian budaya. Teori Jing Liu dan Lu Jun menekankan pentingnya adaptasi dengan tuntutan kontemporer sambil mempertahankan elemen-elemen kunci dari warisan budaya. Ramya Chandran dan Harah Chon menambahkan bahwa festival ini memungkinkan masyarakat untuk merasakan dan menggunakan perahu Sandeq secara langsung, meningkatkan apresiasi terhadap nilai-nilai budaya yang diwariskan.

2024
👤 Penulis: Muh. Satria Nusantara
🏷️ Perahu Sandeq 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Budaya 🏷️ Hidrologi Budaya
💬