📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 16 dokumen

STUDI PEMBENTUKAN DAN PENGENDALIAN BIOFILM PADA INDUSTRI PANGAN

Biofilm pada permukaan yang bersentuhan dengan pangan dapat meningkatkan risiko kontaminasi silang dan menurunkan efektivitas sanitasi. Penelitian ini mengevaluasi pembentukan biofilm oleh Pseudomonas aeruginosa dan Bacillus subtilis dalam susu UHT pada permukaan polivinil klorida (PVC) dan stainless steel pada suhu 5 dan 28°C selama 4 dan 20 jam, baik tanpa maupun dengan perlakuan disinfektan berbasis natrium hipoklorit. Total biomassa yang melekat, jumlah sel hidup, dan morfologi biofilm masing-masing dianalisis menggunakan pengukuran densitas optik dengan pewarnaan crystal violet, metode hitung cawan, dan scanning electron microscopy (SEM). Permukaan PVC menghasilkan biomassa yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan stainless steel (p < 0,001), sedangkan jenis material tidak berpengaruh signifikan terhadap viabilitas sel. Waktu inkubasi yang lebih lama secara signifikan meningkatkan jumlah sel hidup, sementara temperatur tidak memberikan pengaruh signifikan sebagai faktor tunggal. Perlakuan disinfeksi secara signifikan menurunkan viabilitas sel (p < 0,001), tetapi tidak menurunkan biomassa secara signifikan. Hasil pengamatan SEM mengonfirmasi bahwa residu extracellular polymeric substances yang telah mengalami kerusakan tetap melekat pada permukaan setelah perlakuan. Oleh karena itu, pengendalian biofilm yang efektif memerlukan proses pembersihan untuk menghilangkan matriks sebelum dilakukan disinfeksi akhir.

2026
👤 Penulis: Sofi Aini Zahra
🏷️ Biofilim 🏷️ Sanitasi Pangan 🏷️ Hidrologi Industri

STRATEGI DAN KEBIJAKAN INDUSTRI SEMIKONDUKTOR INDONESIA : PETA JALAN PERCEPATAN 2026-2030 & ARSITEKTUR PEMBIAYAAN

Industri semikonduktor global yang pada tahun 2025 bernilai lebih dari USD 700 miliar mengalami rekonfigurasi struktural akibat rivalitas geopolitik AS-Tiongkok. Hal ini mendorong strategi "China Plus One" yang membuka peluang bagi negara berkembang. Indonesia menghadapi kontradiksi mendasar: memiliki pasar domestik USD 5,08 miliar dan sumber daya mineral strategis, namun bergantung pada impor lebih dari 90% kebutuhan semikonduktor dengan defisit perdagangan IC signifikan. Kondisi ini membentuk "mess" dalam kerangka Ackoff — sistem masalah saling terkait mencakup keterlambatan industrialisasi, defisit infrastruktur, kesenjangan SDM, dan fragmentasi kebijakan. Penelitian ini menggunakan pendekatan campuran (mixed methods) dengan dominasi kualitatif, mengintegrasikan analisis kebijakan Bardach dan perencanaan interaktif Ackoff, diperkuat survei pakar dari beberapa lembaga internasional dan industri perbankan. Penelitian ini memberikan dukungan kuat terhadap tiga proposisi: strategi hybrid yang mengkombinasikan OSAT-first di Batam, desain Edge-AI, dan fab-lite GaN bertahap memberikan keseimbangan optimal berdasarkan tujuh kriteria evaluasi; arsitektur pembiayaan Sovereign Stack melalui SPV berlapis memungkinkan mobilisasi CAPEX program inti sekitar USD 0,57–1,07 miliar, atau sekitar USD 0,75–1,37 miliar pada skenario 2030 yang mencakup opsi GaN pilot fab, tanpa membebani fiskal secara berlebihan; dan tata kelola berbasis misi melalui PSMO sebagai LPNK dapat mengatasi fragmentasi kebijakan. Proyeksi dampak ekonomi menunjukkan kontribusi sekitar USD 0,6–1,1 miliar terhadap PDB per tahun, 30–37 ribu lapangan kerja, dan perbaikan neraca perdagangan sekitar USD 0,5–1,1 miliar per tahun, dengan estimasi arus masuk modal asing dan pembiayaan eksternal pada kisaran USD 0,56–0,65 miliar hingga 2030. Transformasi kelembagaan dari Satgas koordinatif menjadi PSMO eksekutif merupakan prasyarat institusional utama yang menentukan keberhasilan implementasi.

2026
👤 Penulis: Ginanjar Utama
🏷️ Industri Semikonduktor 🏷️ Hidrologi Industri 🏷️ Manajemen Strategis

STUDI KETAHANAN KOROSI STAINLESS STEEL 316L DENGAN VARIASI TEMPERATUR DALAM LARUTAN ISOTONIK

Stainless steel 316L banyak digunakan pada aplikasi industri dan biomedis karena memiliki ketahanan korosi yang baik terutama didukung oleh kemampuannya membentuk lapisan pasif yang protektif. Namun, keberadaan ion klorida (Cl-) dan kenaikan temperatur dapat menurunkan stabilitas lapisan pasif dan memicu korosi setempat. Pada pabrik minuman isotonik, digunakan pipa stainless steel 316L dengan lasan untuk mendistribusikan produk pada temperatur ruang hingga 99°C. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh variasi temperatur dan perbedaan komposisi kimia antara formula minuman isotonik terhadap ketahanan korosi stainless steel 316L. Ruang lingkup penelitian difokuskan pada evaluasi perilaku korosi melalui pendekatan uji elektrokimia dan uji perendaman, serta identifikasi perubahan morfologi permukaan sebelum dan sesudah pengujian menggunakan Optical Microscope (OM) dan Scanning Electron Microscope-Energy Dispersive Spectroscopy (SEM-EDS). Uji elektrokimia meliputi pengukuran Open Circuit Potential (OCP) dan pengujian Potentiodynamic Polarization untuk mengidentifikasi perilaku pasivasi, kecenderungan pitting, serta karakteristik daerah histeresis. Uji perendaman dilakukan dengan variasi temperatur (temperatur ruang dan 99°C) serta variasi formula larutan isotonik (Formula A sebagai kontrol eksisting, serta Formula B dan C sebagai formula baru) untuk menentukan laju korosi berdasarkan metode kehilangan massa. Sebelum pengujian, mikrostruktur sampel diamati dengan OM. Setelah pengujian elektrokimia, permukaan sampel dikarakterisasi menggunakan SEM-EDS untuk mengamati morfologi permukaan. Hasil uji perendaman menunjukkan bahwa peningkatan temperatur dari ruang ke 99°C meningkatkan laju korosi stainless steel 316L, dengan laju korosi tertinggi dialami oleh sampel dalam larutan yang direndam pada temperatur 99°C, yaitu sebesar 0,1020 mm/tahun. Hasil uji elektrokimia pada temperatur ruang menunjukkan kurva polarisasi dengan kenaikan arus anodik dan terbentuknya positive hysteresis loop yang mengindikasikan terjadinya kerusakan lapisan pasif. Meskipun hasil polarisasi menunjukkan terbentuknya pitting, pengamatan dengan SEM tidak menunjukkan pit yang khas, melainkan serangan yang mengikuti batas butir terutama pada daerah HAZ, sehingga mekanisme yang terjadi diindikasikan sebagai korosi intergranular. Uji elektrokimia pada temperatur 80°C menunjukkan rentang potensial pasif menyempit dan potensial korosi (Ecorr) bergeser ke arah lebih positif disertai peningkatan arus anodik.

2026
👤 Penulis: Angel
🏷️ Korosi 🏷️ Stainless Steel 316L 🏷️ Hidrologi Industri

PENGARUH WAKTU PENAHANAN RAPID TEMPERING PADA METODE PERLAKUAN PANAS RAPID AUSTENITIZATION TERHADAP MIKROSTRUKTUR DAN SIFAT MEKANIK BAJA KARBON RENDAH

Tuntutan dari berbagai sektor industri untuk menghasilkan baja yang berkualitas tinggi terus meningkat seiring dengan pertumbuhan sektor konstruksi, otomotif, dan aplikasi industri lainnya. Peningkatan kebutuhan ini menimbulkan tantangan serius terhadap lingkungan, terutama dalam hal konsumsi energi dan emisi karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan dari proses peleburan bijih besi dan produksi baja dalam skala besar. Upaya untuk meningkatkan sifat mekanis sekaligus efisiensi energi dan waktu produksi, serta mengurangi emisi CO? yang dihasilkan dalam proses produksi baja masih menjadi tantangan tersendiri dalam proses manufaktur. Hal ini dapat diatasi dengan meningkatkan laju tempering melalui penerapan metode rapid tempering. Rapid tempering akan meningkatkan kekuatan material melalui proses perlakuan panas singkat yang menghasilkan mikrostruktur halus dan seragam. Melalui peningkatan kekuatan hasil rapid tempering, struktur baja dapat dirancang lebih ringan namun tetap memenuhi standar beban, sehingga jumlah baja yang digunakan dalam produksi berkurang. Implikasinya, kebutuhan terhadap proses peleburan dan pembentukan baja juga menurun, yang secara langsung berkontribusi terhadap pengurangan emisi karbon dioksida (CO?) yang dihasilkan dalam proses produksi baja. Serangkaian percobaan rapid tempering telah dilakukan untuk mempelajari pengaruh dari waktu penahanan terhadap mikrostruktur dan sifat mekanik baja karbon rendah. Percobaan dilakukan dengan perlakuan panas rapid austenitization pada induction furnace 7 kW selama 90 detik dengan temperatur 1000 °C pada masing-masing spesimen. Setelah dilakukan austenisasi, dilakukan quenching menggunakan air es. Setelah itu, spesimen dilakukan perlakuan panas rapid tempering menggunakan induction furnace dengan variasi waktu perendaman dilakukan selama 5, 15, dan 20 detik dengan pendinginan celup pada air es. Dilakukan percobaan perlakuan panas konvensional sebagai pembanding. Pada percobaan perlakuan panas konvensional dilakukan perlakuan panas austenisasi konvensional pada muffle furnace dengan temperatur 1000 °C selama 30 menit pada masing-masing spesimen dan dilakukan quenching menggunakan air es. Setelah itu, spesimen dilakukan perlakuan panas tempering konvensional menggunakan muffle furnace dengan temperatur 200, 400, dan 600 °C selama 1 jam dan dilakukan pendinginan celup pada air es. Hasil penelitian rapid tempering menunjukkan terbentuknya mikrostruktur berupa tempered martensite dengan perubahan martensit yang tidak begitu signifikan berubah dibandingkan pada tempering konvensional, serta presipitasi sementit yang terbentuk sangat halus. Perlakuan rapid tempering memberikan hasil yang lebih optimal dibandingkan pada perlakuan tempering konvensional untuk hampir seluruh sifat mekanik. Nilai kekerasan tertinggi sebesar 422,667 HV, kekuatan tarik maksimum 1308,9 MPa, dan kekuatan luluh maksimum 1270 MPa diperoleh pada perlakuan rapid tempering pada waktu penahanan 5 detik, sedangkan ketangguhan dan elongasi tertinggi masing-masing tercapai pada 20 detik, yaitu 139,336 J/cm² dan 33,833%. Berdasarkan keseimbangan antara kekuatan tarik, kekerasan, dan ketangguhan, spesimen RA-RT 5s menunjukkan performa paling optimal.

2025
👤 Penulis: Putu Reidita Artha Putri
🏷️ Karbonisasi 🏷️ Tempering 🏷️ Hidrologi Industri

PENGARUH PENAMBAHAN SELULOSA CLADOPHORA SP. TERHADAP SIFAT FISIK DAN MEKANIK SERAT KARBON BERBASIS LIGNIN

Serat karbon merupakan material dengan kekuatan dan kekakuan tinggi namun berbobot ringan, sehingga banyak digunakan dalam industri dirgantara, otomotif, hingga energi. Produksi serat karbon konvensional umumnya berbasis poliakrilonitril (PAN) yang mahal dan tidak ramah lingkungan. Lignin, sebagai biopolimer melimpah dari limbah industri pulp (black liquor), berpotensi menjadi prekursor alternatif karena kandungan karbonnya tinggi. Akan tetapi, lignin murni memiliki keterbatasan berupa spinnability rendah dan sifat mekanik serat yang kurang optimal. Penelitian ini mengkaji pengaruh penambahan selulosa dari alga Cladophora sp. yang memiliki kristalinitas hingga 95%—ke dalam sistem ligninpolivinil alkohol (PVA) untuk menghasilkan prekursor serat karbon dengan sifat fisik dan mekanik yang lebih baik. Prekursor disintesis melalui metode wet spinning dengan variasi kandungan selulosa 0%, 5%, 10%, dan 15% (b/b). Karakterisasi dilakukan menggunakan SEM, FTIR, CHNS/O elemental analyzer, TGA-DSC, uji densitas, serta uji tarik. Hasil menunjukkan bahwa penambahan selulosa mampu meningkatkan stabilitas bentuk serat, persentase pori, kadar karbon, serta kekuatan tarik hingga batas optimum. Namun, pada komposisi selulosa 15% terjadi fenomena pore sealing effect yang menurunkan jumlah pori dan kandungan karbon akibat densifikasi serat. Selain itu, peningkatan temperatur karbonisasi berkontribusi pada kenaikan kristalinitas serat karbon meskipun tidak berpengaruh signifikan terhadap kadar karbon. Dengan demikian, blending lignin-PVA-selulosa berpotensi menjadi pendekatan berkelanjutan untuk menghasilkan serat karbon berbasis biomassa, sekaligus mendukung pengurangan limbah industri dan ketahanan material nasional.

2025
👤 Penulis: Jhosephine Estefani Riscila
🏷️ Karbonisasi Biomassa 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi Industri

PRODUKSI LOGAM TIMAH ZERO CARBON MENGGUNAKAN REDUKSI PELEBURAN PLASMA HIDROGEN

Timah merupakan logam strategis yang digunakan secara luas di sektor elektronik, kimia, tinplate, dan baterai. Indonesia sebagai produsen timah terbesar kedua di dunia memiliki cadangan sebesar 800.000 ton dan tingkat ekspor mencapai 91%. Namun, proses peleburan timah konvensional masih bergantung pada batubara sebagai reduktor, yang menghasilkan emisi CO? dalam jumlah besar dan berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca. Seiring meningkatnya tuntutan produksi logam yang berkelanjutan, teknologi Hydrogen Plasma Smelting Reduction (HPSR) dikaji sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan karena berpotensi menghilangkan emisi CO?. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh variasi durasi reduksi terhadap komposisi kimia logam dan terak hasil reduksi konsentrat timah menggunakan metode Hydrogen Plasma Smelting Reduction (HPSR). Konsentrat timah yang berasal dari PT Timah Tbk, dikarakterisasi awal menggunakan X-ray fluorescence (XRF) dan X-ray diffraction (XRD) dengan fasa dominan berupa SnO? sebanyak 84,30%. Percobaan diawali dengan preparasi briket dan dikeringkan pada temperatur 150 °C selama satu jam. Proses reduksi pada sampel 1 gram dilakukan dalam reaktor plasma dengan variasi waktu 10, 15, 30, dan 45 detik, masing-masing dua kali replikasi, menggunakan campuran gas Ar-80%H2 dengan total laju alir 5 liter/menit. Produk hasil reduksi kemudian di-mounting, dipoles, serta dikarakterisasi akhir menggunakan scanning electron microscope-energy dispersion spectroscopy (SEM-EDS) dan Electron Probe Microanalysis (EPMA) untuk mengidentifikasi morfologi dan komposisi kimia logam serta terak. Data karakterisasi digunakan untuk mengevaluasi pengaruh variasi durasi reduksi terhadap komposisi kimia fasa logam dan terak, serta menilai efektivitas proses reduksi timah menggunakan metode HPSR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi durasi reduksi berpengaruh terhadap komposisi kimia fasa logam dan terak. Kadar Sn dalam fasa logam diperoleh ratarata sebesar 98,69% hingga 99,18%. Sementara itu, kadar oksigen menurun mencapai 1,27% hingga 0,82%. Pada fasa terak, kadar SnO juga cenderung menurun mencapai 68,18% hingga 67,89%. Secara umum, kadar SnO? menunjukkan kecenderungan menurun seiring dengan peningkatan durasi reduksi.

2025
👤 Penulis: Gienna Oceani Prasetyo
🏷️ Reduksi Peleburan 🏷️ Kecerdasan Buatan Dalam Teknologi Industri 🏷️ Hidrologi Industri

DEGRADASI MEKANIK SEMEN KELAS G AKIBAT PENINGKATAN TEKANAN SEIRING WAKTU: STUDI KASUS PENYIMPANAN CO? DI LAPANGAN SNøHVIT MENGGUNAKAN FINITE ELEMENT ANALYSIS

The long-term integrity of cement sheaths in CO? sequestration wells is essential for the safety and effectiveness of carbon storage. During CO? injection, cement is subjected to both tensile and compressive stresses, which over time can lead to degradation and cracking. This study quantitatively models the mechanical degradation of API Class G cement under the pressure conditions experienced in the Snøhvit Field, using the Finite Element Simulator. A 3D radial model of the Tubåen Formation and a time-dependent pressure ramp of approximately 3 years are used to replicate real-world injection conditions. The transient nonlinear analysis reveals that tensile failure initiates on day 154, when the tensile stress of 486 psi exceeds the cement’s tensile strength of 438 psi, causing a sudden crack of approximately 53 ????m. This crack rapidly propagates to 470 ????m by day 176. After this, cyclic confinement leads to oscillating crack widths, stabilizing above 400 ????m, indicating the cement permanent damage. Meanwhile, compressive stresses remain below the cement’s compressive strength throughout the simulation. These results highlight tensile strength as the critical parameter governing cement sheath performance in CO? sequestration wells, offering important insights into the mechanisms of cement degradation under increasing pressures.

2025
👤 Penulis: Athallah Akmal Rama Petrova
🏷️ Kemampuan Penahanan Karbon 🏷️ Analisis Struktur Mekanis 🏷️ Hidrologi Industri

OPTIMIZATION FRAMEWORK FOR A USER-SPECIFIC COMPLIANT PROSTHETIC WRIST

In Indonesia, the rising prevalence of upper-limb amputations, driven by traffic accidents, industrial injuries, and diabetes, creates an urgent need for prosthetic wrists that are affordable, locally manufacturable, and biomechanically effective. Conventional devices depend on bulky, rigid linkages and rarely replicate natural wrist kinematics. This study introduces a compliant, two-degree-of-freedom (2-DoF) prosthetic wrist that uses elastic deformation to deliver smooth, lightweight, and durable motion. A fully parametric CAD model was scripted in SolidWorks, enabling automated generation of thousands of design variants. Each variant was then analysed in a lights-out ANSYS Mechanical pipeline, where ACT scripts applied meshing, material assignments, boundary conditions, and post-processing without user intervention. Key mechanical outputs, directional stiffness and range of motion (RoM), were extracted to train machine-learning surrogate models. These surrogates were fine-tuned with Optuna hyper-parameter optimisation and further enhanced via stacked ensemble learning. Embedded in a Unified Non-dominated Sorting Genetic Algorithm III (UNSGA-III) multi-objective framework, the surrogates enabled high-throughput optimisation, with design selection guided by hyper-volume contribution to balance stiffness and RoM. Five optimal candidates spanning paediatric to adult wrist sizes, representing user-specific customization across a broad anthropometric spectrum, were fabricated in PETG and validated experimentally. High-fidelity simulations and bench tests confirmed full directional RoM (? 85° flexion, 80° extension, 35° radial, 40° ulnar) with von Mises stresses safely below 35 MPa. Average ANSYS–experiment deviations were ? 3 % in most metrics; larger errors in flexion-final and radial-final moments highlighted areas for future surrogate retraining. The resulting wrists are fully 3D-printable, low-cost, and adaptable across users, with stiffness and size parameters customizable for individual needs. This demonstrates that a simulation-driven, data-centric workflow can deliver advanced prosthetic solutions in resource-constrained settings. Beyond prosthetics, the integrated CAD-FEA-ML-optimisation pipeline is transferable to compliant mechanisms in aerospace, automotive, and general industrial design.

2025
👤 Penulis: Avatar Sargamantha Ndoen
🏷️ Optimisasi 🏷️ Protesi Tangan 🏷️ Hidrologi Industri

USULAN STRATEGI PEMASARAN DAN RENCANA IMPLEMENTASI UNTUK MENINGKATKAN PENJUALAN X-RAY FLUORESCENCE (XRF) DI SEKTOR PERTAMBANGAN NIKEL INDONESIA

Industri pertambangan nikel di Indonesia saat ini sedang mengalami pertumbuhan pesat karena meningkatnya permintaan global terhadap nikel yang menjadi komponen penting dalam baterai kendaraan listrik (EV) dan baja tahan karat. Namun, PT Rindu Makmur, selaku agen tunggal instrumen X-Ray Fluoresensi (XRF), mengalami stagnasi dalam penjualan produknya meskipun kondisi pasar mendukung. Stagnasi ini timbul dari beberapa tantangan operasional dan pemasaran antara lain kurang memadainya aktivitas pemasaran dan program pemasaran serta strategi pemasaran saat ini yang tidak lagi disukai pasar dan tertinggal dari pesaing. Untuk mengatasi masalah ini, penelitian ini akan menyelidiki pengembangan strategi pemasaran baru dan implementasinya untuk meningkatkan daya saing dan pangsa pasar PT Rindu Makmur. Penelitian diawali dengan mengidentifikasi akar penyebab menggunakan metode 5 whys yang didukung oleh data yang diperoleh dari asesmen internal and eksternal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, termasuk wawancara dan diskusi kelompok terfokus (FGD), dianalisis melalui pengkodean tematik menggunakan QDA Miner Lite. Pendekatan ini memastikan identifikasi tema yang sistematis dan wawasan yang dapat ditindaklanjuti dari umpan balik pelanggan dan pemangku kepentingan. Rekomendasi utama mencakup pembaruan lini produk XRF bekerja sama dengan prinsipal, memperkenalkan model penetapan harga cicilan melalui kemitraan dengan lembaga keuangan, menerapkan program loyalitas dan bundling, serta mendirikan kantor cabang di Kendari untuk mengatasi tantangan pengiriman dan layanan. Selain itu, studi ini menekankan pentingnya riset pasar dan keterlibatan pelanggan melalui seminar offline, kolaborasi dengan pakar pertambangan untuk menyoroti diferensiasi produk dan menetapkan Prosedur Operasi Standar (SOP) untuk aktivitas penjualan dan pemasaran. Hasilnya berkontribusi pada pemahaman akademis tentang pengembangan strategi pemasaran dalam konteks industri B2B, khususnya di pasar negara berkembang seperti sektor pertambangan nikel di Indonesia. Dengan mengintegrasikan kerangka teoritis dengan rekomendasi praktis, penelitian ini memberikan model yang dapat ditiru bagi perusahaan lain yang menghadapi tantangan serupa.

2025
👤 Penulis: Alvian Iacocca Hanafani
🏷️ Industri Pertambangan Nikel 🏷️ Pemasaran Bisnis B2B 🏷️ Hidrologi Industri

INTEGRASI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA DAN BATTERY ENERGY STORAGE SYSTEMS UNTUK PEMENUHAN ENERGI INDUSTRI DI PULAU TERPENCIL: STUDI KASUS PULAU BUNYU INDONESIA

Pulau Bunyu, yang terletak di Kalimantan Utara, Indonesia, mengalami peningkatan kebutuhan energi yang didorong oleh pertumbuhan sektor industri. Sistem energi yang ada saat ini, yang bergantung pada Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) dan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD), menghadapi tantangan keberlanjutan. Penelitian ini mengevaluasi potensi integrasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan Battery Energy Storage Systems (BESS) sebagai Solusi energi yang lebih ramah lingkungan. Pendekatan perhitungan cepat digunakan untuk menganalisis kelayakan sistem hibrid ini, yang kemudian diverifikasi melalui simulasi. Sistem yang diusulkan mencakup PLTS berkapasitas 26,6 MWp, penyimpanan baterai sebesar 70,4 MWh, dan inverter 25,3 MW. Meskipun Levelized Cost of Electricity (LCOE) yang dihasilkan lebih tinggi dibandingkan sistem saat ini, manfaat jangka Panjang seperti pengurangan konsumsi bahan bakar fosil, emisi yang lebih rendah, dan keandalan energi yang lebih baik, menjadikan sistem ini solusi yang menjanjikan. Penelitian ini juga merekomendasikan penghapusan PLTD secara bertahap, menggantinya dengan kombinasi PLTMG dan PLTS+BESS untuk meningkatkan keandalan energi di Pulau ini. Pendekatan ini dapat menjadi modul bagi integrasi energi terbarukan di wilayah terpencil lainnya di Indonesia.

2024
👤 Penulis: Oddy Permana Putra Sinaga
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Energi 🏷️ Hidrologi Industri

ADSORPSI SENYAWA FENOLIK DENGAN BIOSORBEN KULIT JERUK: PENGARUH KONDISI OPERASI DAN METODE REGENERASI

Industri pangan dalam prosesnya menghasilkan berbagai jenis limbah, salah satunya adalah limbah cair. Pada limbah cair sering ditemukan kandungan berbahaya seperti adanya senyawa fenolik pada konsentrasi yang tinggi sehingga tergolong dalam limbah berbahaya dan beracun (B3). Salah satu metode untuk menindaklanjuti pengurangan senyawa fenolik pada limbah industri adalah dengan metode adsorpsi, salah satunya menggunakan adsorben karbon aktif yang berasal dari kulit jeruk. Selain memiliki biaya yang rendah, pemanfaatan kulit jeruk sebagai adsorben ini mendukung prinsip ekonomi sirkular dengan mengurangi limbah dari industri pangan dan mendaur ulang sumber daya yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis adsorben, waktu kontak, dan metode regenerasi biosorben terhadap kapasitas dan efisiensi penjerapan senyawa fenolik serta menentukan model isoterm dan model kinetika yang sesuai untuk menggambarkan proses adsorpsi yang terjadi. Penelitian ini dilakukan dengan metode adsorpsi partaian menggunakan larutan fenol sintetis sebagai adsorbat. Pada tahap pertama, dilakukan proses adsorpsi (siklus 1) dengan variasi dosis 12 g/L ; 24 g/L ; 48 g/L dan variasi waktu kontak dalam rentang antara 0-180 menit. Tahap selanjutnya dilakukan variasi metode regenerasi (siklus 2) dengan regenerasi fisika pada suhu 800oC, regenerasi kimia (HNO3 dan H2SO4). Berdasarkan percobaan yang dilakukan, diperoleh dosis terbaik dalam menyerap senyawa fenolik adalah sebesar 48 g/L karena memiliki kapasitas dan efisiensi penjerapan paling tinggi yaitu 5,9 mg/g dan 90,43% pada menit ke-180. Metode regenerasi yang menghasilkan efisiensi penjerapan tertinggi (99,95%) adalah regenerasi kimia. Adsorpsi karbon aktif regenerasi kimia (HNO3) diteliti hingga tiga siklus dan menghasilkan efisiensi penjerapan yang lebih tinggi sebesar 99,69%. Dalam penelitian ini, model isoterm Langmuir dan model kinetika pseudo orde dua paling representatif dalam menggambarkan proses adsorpsi yang terjadi.

2024
👤 Penulis: Yunitza Indah Trifenasari
🏷️ Adsorpsi 🏷️ Karbon Aktif 🏷️ Hidrologi Industri

ADSORPSI SENYAWA FENOLIK DENGAN BIOSORBEN KULIT JERUK: PENGARUH KONDISI OPERASI DAN METODE REGENERASI

Industri pangan dalam prosesnya menghasilkan berbagai jenis limbah, salah satunya adalah limbah cair. Pada limbah cair sering ditemukan kandungan berbahaya seperti adanya senyawa fenolik pada konsentrasi yang tinggi sehingga tergolong dalam limbah berbahaya dan beracun (B3). Salah satu metode untuk menindaklanjuti pengurangan senyawa fenolik pada limbah industri adalah dengan metode adsorpsi, salah satunya menggunakan adsorben karbon aktif yang berasal dari kulit jeruk. Selain memiliki biaya yang rendah, pemanfaatan kulit jeruk sebagai adsorben ini mendukung prinsip ekonomi sirkular dengan mengurangi limbah dari industri pangan dan mendaur ulang sumber daya yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis adsorben, waktu kontak, dan metode regenerasi biosorben terhadap kapasitas dan efisiensi penjerapan senyawa fenolik serta menentukan model isoterm dan model kinetika yang sesuai untuk menggambarkan proses adsorpsi yang terjadi. Penelitian ini dilakukan dengan metode adsorpsi partaian menggunakan larutan fenol sintetis sebagai adsorbat. Pada tahap pertama, dilakukan proses adsorpsi (siklus 1) dengan variasi dosis 12 g/L ; 24 g/L ; 48 g/L dan variasi waktu kontak dalam rentang antara 0-180 menit. Tahap selanjutnya dilakukan variasi metode regenerasi (siklus 2) dengan regenerasi fisika pada suhu 800oC, regenerasi kimia (HNO3 dan H2SO4). Berdasarkan percobaan yang dilakukan, diperoleh dosis terbaik dalam menyerap senyawa fenolik adalah sebesar 48 g/L karena memiliki kapasitas dan efisiensi penjerapan paling tinggi yaitu 5,9 mg/g dan 90,43% pada menit ke-180. Metode regenerasi yang menghasilkan efisiensi penjerapan tertinggi (99,95%) adalah regenerasi kimia. Adsorpsi karbon aktif regenerasi kimia (HNO3) diteliti hingga tiga siklus dan menghasilkan efisiensi penjerapan yang lebih tinggi sebesar 99,69%. Dalam penelitian ini, model isoterm Langmuir dan model kinetika pseudo orde dua paling representatif dalam menggambarkan proses adsorpsi yang terjadi.

2024
👤 Penulis: Alfia Zahra Aisyah
🏷️ Adsorpsi 🏷️ Karbon Aktif 🏷️ Hidrologi Industri

OPTIMASI PH AWAL DAN CEKAMAN TEKANAN OSMOTIK UNTUK PRODUKSI BETA GLUKAN DARI SCLEROTIUM ROLFSII

Sclerotium rolfsii merupakan jamur potensial sebagai sumber beta glukan yang dapat dikembangkan di berbagai industri karena keunggulan sifat fisiknya. Namun, penerapannya untuk industri skala besar memiliki kendala biaya produksi yang tinggi, hasil produksi yang rendah, dan waktu produksi yang lama sehingga perlu dilakukannya optimasi produksi. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan produksi beta glukan total (Struktural + Eksopolisakarida) dari S. rolfsii pada medium MIS (Maizena, Kaldu ikan, dan Sukrosa) dengan strategi bioproses melalui perlakuan pH awal dan cekaman osmotik. Proses optimasi dilakukan 2 tahap dengan dilakukannya optimasi pH awal terlebih dahulu untuk mendapatkan perlakuan pH awal terbaik yang selanjutnya digunakan optimasi cekaman osmotik. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap faktorial yang terdiri dari perlakuan pH awal (3, 4, dan 5), cekaman tekanan osmotik (NaCl 0,5%; 1%; dan 1,5%) dan waktu kultivasi (48, 72, 96, 120 jam) dengan 3 pengulangan. Parameter yang diamati adalah yield beta glukan total, yield biomassa kering dan kandungan asam oksalat. Ekstraksi beta glukan struktural dilakukan pada biomassa yang terbentuk sedangkan ekstraksi beta glukan EPS dilakukan pada medium hasil kultivasi pada jam ke-48 sampai jam ke-120. Perlakuan pH awal 4 menghasilkan rerata yield biomassa kering tertinggi dan rerata yield beta glukan total tertinggi yang berbeda signifikan dibandingkan perlakuan pH awal lainnya dan kontrol. Uji lanjutan interaksi antara pH awal dan waktu kultivasi terhadap yield beta glukan total menunjukkan perlakuan pH awal 4 di jam ke-96 (9,33 mg/ml) menghasilkan yield beta glukan total tertinggi yang berbeda signifikan dengan perlakuan lainnya sehingga ditentukan sebagai perlakuan pH awal terbaik dan digunakan untuk optimasi cekaman tekanan osmotik. Perlakuan pH awal dapat menurunkan kandungan asam oksalat yang merupakan produk sampingan dari produksi beta glukan dari S. rolfsii dengan perlakuan pH awal 3 menunjukkan kandungan terendah. Pada perlakuan cekaman osmotik 1%, didapatkan rerata yield beta glukan total tertinggi yang berbeda signifikan dibandingkan perlakuan cekaman tekanan osmotik lainnya dan kontrol. Rerata yield biomassa pada perlakuan cekaman osmotik didapatkan tidak berbeda signifikan dengan perlakuan kontrol pada perlakuan 1% dan 0,5%, sedangkan pada perlakuan 1,5% teramati terjadinya penurunan biomassa dibanding kontrol. Uji lanjutan interaksi antara cekaman tekanan osmotik dan waktu kultivasi terhadap yield beta glukan total menunjukkan perlakuan cekaman tekanan osmotik 1% di jam ke-96 menghasilkan yield beta glukan total tertinggi (10,58 mg/ml) yang berbeda signifikan dengan perlakuan lainnya. Didapatkan perlakuan pH awal 4 dengan cekaman osmotik 1% di waktu kultivasi 96 jam sebagai perlakuan terbaik yang dapat meningkatkan produksi beta glukan total dari S. rolfsii pada medium MIS.

2024
👤 Penulis: Nazwa Murtasya Sunandi
🏷️ Sclerotium Rolfsii 🏷️ Optimisasi Proses Produksi Beta Glukan 🏷️ Hidrologi Industri

PENINGKATAN KUALITAS DAN PEROLEHAN BIO-FUEL MENGGUNAKAN KONFIGURASI KATALIS DALAM PROSES PERENGKAHAN KATALITIK

Minyak bahan bakar fosil telah menjadi katalis utama untuk kemajuan ekonomi dan teknologi sejak Revolusi Industri abad ke-18. Meskipun bahan bakar fosil sangat penting, penting untuk diakui bahwaketergantungan yang berlebihan pada mereka telah menyebabkan masalah lingkungan seperti pemanasan global dan polusi udara. Oleh karena itu, ada kebutuhan akan bahan bakar terbarukan yang berasal dari biomassa. Bio-fuel adalah jenis cairan yang terbuat dari zat-zat berbasis tanaman. Bio-fueldianggap sebagai pengganti potensial untuk bahan bakar fosil karena karakteristik ramah lingkungannya. Dilakukan proses perengkahan katalitik dalam memproduksi bio-fuel tersebut. Zeolit bermanfaat karena stabilitas termalnya, selektivitas, dan struktur yang sangat terorganisir. Studi ini akan menggunakan katalis ZSM-5 dan Beta zeolit untuk menghasilkan bio-bahan bakar dariminyak kelapa sawit, memeriksa bagaimana rasio katalis dalam bed reaktor memengaruhi produksi bensin dan bagaimana susunan katalis dalam reaktor memengaruhi pemanfaatan umpan. Studi akan dilakukan di bawah parameter operasional suhu 500 ° Celsius, tekanan ambien, WHSV 2.5/jam, massa total katalis 5 gram, dan waktu reaksi 4 jam. Berdasarkan temuan dari eksperimen, dapat disimpulkanbahwa katalis ZSM-5 menghasilkan nilai RON yang lebih tinggi daripada katalis Beta Zeolit karena kelimpahan senyawa aromatik dalam produk yang terpecah. Tiga konfigurasi dilakukan saat menyiapkan pengaturan dua katalis: 5-B, B-5, dan MIX. Di antara ketiga pengaturan ini, diketahui bahwa konfigurasi 5-B menghasilkan hasil yang paling menguntungkan, dengan hasil RON dan kadar senyawa aromatik keduanya berada dalam kisaran 50%. Selain itu, penelitian lebih lanjut dilakukan pada pengaturan 5-B dengan meningkatkan proporsi penggunaan katalis Beta Zeolit menjadi rasio 1:1,1:2, dan 1:2.5. Ditemukan bahwa rasio 1:2 adalah yang paling efektif di antara tiga rasiountukmencapaitujuan penelitian dalam produksi produk.

2024
👤 Penulis: Hibatullah Tsany Hanif
🏷️ Katalisis Katalitik 🏷️ Bio-Fuel 🏷️ Hidrologi Industri

OPTIMASI SUHU DAN RASIO MOLAR C:N PADA FERMENTASI SIRUP JAGUNG TINGGI FRUKTOSA OLEH CLOSTRIDIUM ACETOBUTYLICUM UNTUK PRODUKSI BIO-BUTANOL

Butanol adalah senyawa alkohol dengan struktur empat karbon yang mempunyai kegunaan sebagai pelarut, bahan ekstraksi pada industri farmasi dan kosmetik, bahan produksi butil akrilat dan metakrilat, serta sebagai bahan bakar alternatif. Produksi bio-butanol umumnya dilakukan dengan metode produksi bio-butanol dari petroleum dan fermentasi aseton-butanol-etanol (ABE) oleh Clostridium sp. Proses pembuatan bio-butanol dari petroleum sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga minyak bumi dan menyebabkan masalah lingkungan seperti pemanasan global sehingga produksi bio-butanol melalui fermentasi ABE oleh Clostridium sp. merupakan proses yang lebih berkelanjutan. Sirup jagung tinggi fruktosa dipilih sebagai substrat fermentasi karena harganya yang relatif murah dan mengandung beragam gula sederhana yang bisa meningkatkan perolehan biomassa. Penelitian ini melakukan optimasi parameter suhu dan rasio molar C:N pada media fermentasi untuk memaksimalkan produksi bio-butanol. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, suhu optimal untuk produksi bio-butanol adalah 37? dengan rasio molar C:N 45, sedangkan untuk memaksimalkan pertumbuhan biomassa diperlukan suhu 37? dengan rasio molar C:N 65. Hasil produksi bio-butanol menggunakan rasio molar C:N 45 adalah 3,42 g/L. Produksi pada skala 8 L dengan suhu 37 ? dan rasio molar C:N 65 menghasilkan bio-butanol sebesar 0,6 g/L dan berat kering sel sebesar 1,21 g/L.

2024
👤 Penulis: Sheencia Victoria Fernandez
🏷️ Optimasi Proses Fermentasi 🏷️ Bio-Butanol 🏷️ Hidrologi Industri
Halaman 1 dari 2
💬