πŸ“š Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 7 dokumen

MENENUN KEHIDUPAN DI ATAS PASAR: HUNIAN VERTIKAL INKLUSIF BAGI MASYARAKAT BERPENGHASILAN RENDAH DI SADANG SERANG, BANDUNG

Urbanisasi yang terus meningkat di Kota Bandung menyebabkan kebutuhan hunian semakin tinggi di tengah keterbatasan lahan perkotaan. Kondisi tersebut mendorong kenaikan harga tanah dan rumah yang melampaui daya beli masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), sehingga memperbesar backlog perumahan dan mendorong munculnya permukiman berkualitas rendah. Di sisi lain, kawasan Pasar Sadang Serang merupakan pusat aktivitas ekonomi masyarakat yang berada pada lokasi strategis, namun belum mampu mengakomodasi kebutuhan hunian yang layak bagi para pedagang dan masyarakat berpenghasilan rendah di sekitarnya. Perancangan Menenun Kehidupan di Atas Pasar mengusulkan regenerasi Pasar Sadang Serang melalui pengembangan kawasan mixed-use yang mengintegrasikan fungsi pasar tradisional dengan hunian vertikal inklusif bagi MBR. Integrasi ini bertujuan mempertahankan kedekatan masyarakat dengan sumber mata pencaharian sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan lahan perkotaan. Program hunian dilengkapi ruang usaha, ruang komunal, fasilitas publik, ruang bermain anak, serta area pelatihan yang mendukung interaksi sosial dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Perancangan menerapkan pendekatan community-based design yang berorientasi pada manusia (people-oriented) dengan mengedepankan prinsip inklusivitas, konektivitas spasial, efisiensi penggunaan lahan, dan keberlanjutan lingkungan. Strategi desain diwujudkan melalui integrasi pasar dan hunian, sirkulasi terbuka yang meningkatkan interaksi sosial, aksesibilitas bagi seluruh pengguna termasuk penyandang disabilitas, sistem ventilasi alami dan desain pasif yang sesuai dengan iklim tropis, serta penyediaan ruang komunal yang memperkuat kehidupan bertetangga. Unit hunian dirancang dalam tipe 24 dan tipe 36 guna mengakomodasi kebutuhan berbagai kelompok keluarga MBR dengan tetap menjaga keterjangkauan biaya. Hasil perancangan diharapkan mampu menghadirkan model hunian vertikal yang tidak hanya menyediakan tempat tinggal layak dan terjangkau, tetapi juga memperkuat keberlangsungan ekonomi pasar tradisional serta membangun komunitas yang inklusif, sehat, dan berkelanjutan. Proyek ini menjadi alternatif regenerasi pasar tradisional di kawasan perkotaan padat melalui integrasi fungsi hunian dan perdagangan yang mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) 1 (No Poverty), SDGs 11 (Sustainable Cities and Communities), dan SDGs 8 (Decent Work and Economic Growth).

2026
πŸ‘€ Penulis: Yosephine Gamasilva Br. Bukit
🏷️ Desain Komunitas 🏷️ Hidrologi Kota 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

DINAMIKA SPASIAL LINGKUNGAN ALUN-ALUN CIANJUR SEJAK 1808 HINGGA 2026

Penelitian ini mengkaji dinamika spasial lingkungan Alun-alun Cianjur sebagai ruang publik yang mengalami perkembangan sejak masa kolonial hingga kini. Alun-alun Cianjur memiliki peran penting sebagai pusat aktivitas sosial, budaya, dan keagamaan masyarakat. Seiring dengan perubahan zaman, ruang ini mengalami transformasi yang tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga mencakup perubahan fungsi, struktur ruang, dan karakter kawasan yang dipengaruhi oleh faktor historis, kebijakan, serta kebutuhan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan dinamika perkembangan historis Alun-alun Cianjur, serta menganalisis perubahan kualitas ruang publik melalui pengalaman, aktivitas, dan persepsi pengguna. Selain itu, penelitian ini juga menggali pemahaman historis masyarakat terhadap Alun-alun Cianjur. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif, melalui analisis data historis, kajian dokumentasi, pengolahan data kuesioner pengguna, serta wawancara terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dinamika spasial lingkungan Alun-alun Cianjur berlangsung melalui proses transformasi bertahap yang dipengaruhi oleh perubahan sistem pemerintahan, perkembangan kota, serta kebijakan penataan ruang dari masa ke masa. Transformasi tersebut tidak hanya mengubah struktur dan elemen fisik kawasan, tetapi juga memperluas fungsi alun-alun menjadi ruang publik multifungsi yang mendukung aktivitas sosial, keagamaan, budaya, dan rekreasi masyarakat. Hasil analisis persepsi pengguna menunjukkan bahwa Alun-alun Cianjur memiliki kualitas ruang publik yang baik serta masih mempertahankan identitas budaya lokal melalui berbagai elemen simbolik kawasan. Dengan demikian, Alun-alun Cianjur berkembang tidak hanya sebagai ruang publik yang fungsional, tetapi juga sebagai ruang yang merepresentasikan sejarah, budaya, dan identitas masyarakat Cianjur.

2026
πŸ‘€ Penulis: Bintang Aulia Yasmin
🏷️ Geografi Urban 🏷️ Manajemen Ruang Publik 🏷️ Hidrologi Kota

PERANCANGAN KAWASAN MARANATHA SECURE UNIVERSITY TOWN DENGAN PENDEKATAN CRIME PREVENTION THROUGH ENVIRONMENTAL DESIGN (CPTED)

Kota yang aman dan nyaman menjadi salah satu kriteria utama dalam menentukan kualitas sebuah kota. Salah satu tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) adalah sustainable cities and communities . Dalam konteks keberlanjutan kota, isu keamanan menjadi sangat relevan, terutama ketika dikaitkan dengan tingkat kriminalitas di suatu kawasan perkotaan. Perancangan ini mencoba mengkaji ulang desain kawasan di sekitar Kampus Universitas Maranatha, Sukajadi, Kota Bandung, yang menghadapi tantangan tingkat kriminalitas tinggi dan fenomena fear of crime yang menghambat aktivitas masyarakat, terutama mahasiswa yang tinggal di sekitar kawasan tersebut. Kawasan ini menunjukkan adanya persoalan desain seperti minimnya penerangan, ruang negatif yang rentan, rendahnya konektivitas, serta kurangnya fasilitas ruang publik yang menunjang interaksi sosial. Di sisi non-desain, tingginya angka kejahatan, keterbatasan jam operasional, serta kerentanan sosial. Pendekatan Crime Prevention Through Environmental Design (CPTED) diusulkan sebagai solusi inovatif untuk merancang ulang kawasan ini. Perancangan ini mengidentifikasi kriteria, prinsip normatif, dan indikator perancangan guna merumuskan visi, misi, konsep, serta skenario pengembangan kawasan yang aman, nyaman, dan inklusif. Melalui simulasi implementasi CPTED, hasil perancangan diharapkan dapat meningkatkan persepsi keamanan, mengurangi peluang kejahatan, serta mendukung keberhasilan akademis mahasiswa dan kesejahteraan masyarakat. Perancangan ini memberikan kontribusi signifikan dalam mewujudkan kota berkelanjutan sesuai SDGs nomor 5, 11, dan 16. Perancangan ini juga berfungsi sebagai panduan strategis bagi pengambil kebijakan dan perancang kota dalam mengoptimalkan potensi lingkungan fisik untuk menciptakan ruang hidup ideal dan terjamin keamanannya. Perancangan ini menggunakan metode fragmental untuk melakukan perancangan yang komperhensif dan sistematis.

2026
πŸ‘€ Penulis: Abyan Fakhri
🏷️ Desain Lingkungan 🏷️ Kebijakan Publik 🏷️ Hidrologi Kota

REACTIVATE: REVITALISASI TERMINAL BLOK M DENGAN PENDEKATAN ACTIVE DESIGN

Berangkat dari permasalahan meningkatnya kepadatan penduduk perkotaan di Indonesia, khususnya di DKI Jakarta, penelitian ini menyoroti dampaknya terhadap kesehatan masyarakat yang semakin rentan terhadap gaya hidup tidak aktif (sedentary lifestyle). Kondisi ini diperburuk oleh keterbatasan ruang terbuka hijau, polusi udara, serta dominasi penggunaan kendaraan pribadi yang mengurangi aktivitas fisik masyarakat. Data menunjukkan tingginya prevalensi penyakit kardiometabolik seperti obesitas, diabetes, dan penyakit jantung di wilayah perkotaan, yang sebagian besar dipengaruhi oleh rendahnya tingkat aktivitas fisik harian. Untuk menjawab tantangan tersebut, tesis ini mengusulkan penerapan pendekatan Active Design pada perancangan ruang publik di kawasan berorientasi transit. Terminal Blok M dipilih sebagai lokasi studi karena posisinya yang strategis sebagai simpul transportasi sekaligus pusat aktivitas masyarakat. Melalui penerapan Active Design, perancangan diarahkan untuk meningkatkan keaktifan fisik masyarakat kota melalui fungsi transit yang terintegrasi dengan lingkungan binaan yang sehat, sekaligus menghidupkan kembali peran Terminal Blok M sebagai pusat mobilitas dan interaksi sosial. Konsep penerapan Active Design dalam perancangan ini dieksplorasi melalui tiga narasi utama, yaitu Move, bagaimana membuat Terminal Blok M kembali aktif; Arrive, bagaimana mentransformasi terminal dari sekadar ruang transit menjadi destinasi; dan Thrive, bagaimana ruang publik aktif yang dirancang dapat meningkatkan kesehatan penggunanya maupun masyarakat sekitar. Kriteria Active Design yang diterapkan merupakan sintesis dari berbagai rujukan strategi desain, sehingga dirumuskan tujuh kriteria utama: mixed-use, connectivity and accessibility, space activation, pedestrian infrastructure, bicycle infrastructure, active infrastructure, dan vertical circulation design. Implementasi kriteria ini diwujudkan melalui rancangan sirkulasi yang menghubungkan titik-titik magnet kawasan, pemrograman fasilitas multifungsi, penyediaan serta desain sirkulasi vertikal yang melimpah, hingga fasilitas aktif berupa running track di atap podium sebagai generator utama selain fungsi terminal. Kesimpulannya, dalam perancangan revitalisasi Terminal Blok M, pemetaan konteks kawasan serta programming kegiatan dalam tapak menjadi aspek penting untuk menghadirkan aktivitas berkelanjutan yang menjadikan terminal kembali hidup. Tanpa adanya aktivitas yang terus berlangsung, bangunan tidak akan mampu berfungsi secara aktif. Dengan menggunakan pendekatan Active Design, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada terciptanya kawasan perkotaan yang lebih sehat, inklusif, dan berkelanjutan.

2025
πŸ‘€ Penulis: Karin Hanasyanila Salma
🏷️ Desain Aktif 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Publik 🏷️ Hidrologi Kota

IDENTIFIKASI TACTICAL URBANISM DAN LIVABILITY LEVEL PADA RUANG-RUANG TERBUKA PUBLIK DI KAMPUNG KOTA (STUDI KASUS : KAMPUNG LEBAK SILIWANGI, KOTA BANDUNG)

Kampung kota merupakan fenomena unik dalam perkembangan perkotaan yang terjadi di kota-kota besar di Indonesia akibat terjadinya urbanisasi yang cepat. Indonesia menjadi salah satu negara dengan urbanisasi tercepat di dunia. Keterbatasan lahan dan ruang terbuka pada kampung kota menjadi tantangan yang dihadapi dalam kampung kota. Selain itu, perubahan sosial, ekonomi, dan budaya mengharuskan masyarakat beradaptasi, baik dalam ruang privat (rumah tinggal) maupun ruang publik yang mereka miliki. Intervensi-intervensi masyarakat dalam beradaptasi dalam lingkup perancangan kota disebut tactical urbanism. Dalam Menyusun ruang terbuka publik di kampung kota yang baik, maka diperlukan kajian mengenai identifikasi tactical urbanism dan livability level pada ruang terbuka publik yang nantinya dapat menjadi panduan kampung kota dalam memetakan ruang terbuka public dengan segala keterbatasannya. Dalam prosesnya, studi ini dilakukan dengan menggunakan metode campuran berupa kualitatif dan kuantitatif. Metode kuantitatif dilakukan melalui perhitungan livability level menggunakan space syntax dan AHP kemudian dikombinasikan dengan metode kualitatif berupa wawancara mendalam pada lokasi studi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan intervensi dasar tactical urbanism menghasilkan tipologi bentuk ruang lapangan, koridor jalan, dan taman/kebun. Livability level tertinggi ruang terbuka publik berada pada ruang lapangan dan koridor jalan. Panduan pemetaan ruang terbuka publikdi kampung kota harus memenuhi kriteria aktivitas, identitas, keamanan, kenyamanan, aksesibilitas, serta partisipasi sosial. Peningkatan kualitas ruang terbuka publik di kampung kota harus mengutamakan aspek keamanan, partisipasi sosial, dan aksesibilitas baik dalam lingkup lingkungan maupun pengamatan.

2025
πŸ‘€ Penulis: Salsabila Purnomo Ajie
🏷️ Urbanisme Taktikal 🏷️ Manajemen Ruang Publik 🏷️ Hidrologi Kota

PERANCANGAN PENGEMBANGAN TEMPAT PENGOLAHAN SAMPAH TERPADU DI TPS KELURAHAN RANCABOLANG, KECAMATAN GEDEBAGE, KOTA BANDUNG.

Kota Bandung memiliki kepadatan penduduk yang sangat tinggi dimana mencapai 15.051 ????????????????/????????????. Seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan peningkatan konsumsi masyarakat di Kota Bandung akan berdampak pada tingginya timbulan dan beragam jenis sampah yang dihasilkan oleh masyarakat. Hal ini menyebabkan Kota Bandung menghadapi masalah pengelolaan sampah yang semakin kompleks. Kota Bandung menghasilkan timbulan sampah sebesar 1.594,18 ton/hari atau 581.876,52 ton per tahunnya sehingga memerlukan suatu sarana pengolahan sampah yang mampu mengurangi timbulan sampah yang dihasilkan setiap harinya. Dan TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu)merupakan salah satu sarana yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah tersebut. Maka, dilakukan perancangan TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu) skala Kecamatan Gedebage untuk mengolah sampah domestik dan sampah taman. Perancangan dilakukan dengan melakukan sampling timbulan sampah di Kecamatan Gedebage sehingga didapatkan besaran timbulan sampah, persentase komposisi sampah, dan densitas sampahnya. Data tersebut digunakan sebagai dasar pertimbangan awal dalam menentukan teknologi pengolahan yang akan diterapkan. Pemilihan teknologi pengolahan dilakukan dengan metode SAW (Simple Additive Weighting). Konfigurasi dari teknologi pengolahan yang terpilih yaitu pemilahan semi manual, pencacahan, BSF (Black Soldier Fly), Windrow Composting, Pellet plastik, dan kompaksi kertas dan logam. Dan dari hasil perhitungan, fasilitas ini dapat mengolah sampah sebesar 48,03 ton/hari dengan menghasilkan larva kering 1,63 ton/hari dan kompos 0,76 ton/hari. Fasilitas TPST ini memiliki kebutuhan luas lahan minimum sebesar 4.174,65 ????2.

2024
πŸ‘€ Penulis: Adnan Setya Mahendra
🏷️ Sistem Manajemen Sampah 🏷️ Hidrologi Kota 🏷️ Teknologi Pengolahan Sampah

FUTURE LIVING: HOUSING IN TRANSIT DEVELOPMENT AREA TO ALLEVIATE TRAFFIC CONGESTION

Urbanisasi di Jakarta telah menyebabkan pertumbuhan populasi yang cepat dan peningkatan jumlah kendaraan bermotor. Hal ini telah mengakibatkan kemacetan yang parah di berbagai wilayah kota. Untuk mengatasi masalah ini, strategi yang diusulkan adalah pembangunan hunian mixed use di kawasan yang terintegrasi dengan sistem transportasi publik yang ada. Pembangunan hunian mixed use bertujuan untuk menciptakan kawasan yang tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga menawarkan fasilitas komersial, perkantoran, dan area rekreasi dalam satu lingkungan. Kawasan ini dirancang agar penduduknya dapat menjalani kegiatan sehari-hari tanpa perlu menggunakan kendaraan pribadi secara intensif. Pembangunan hunian mixed use yang berorientasi transit akan memberikan akses yang mudah ke sarana transportasi publik seperti stasiun kereta api, terminal bus, atau jalur khusus transportasi massal lainnya. Hal ini akan merangsang penggunaan transportasi umum, mengurangi jumlah kendaraan pribadi yang masuk ke dalam kota, dan secara efektif mengurangi kemacetan. Selain itu, pengembangan kawasan berorientasi transit dapat mempromosikan gaya hidup berkelanjutan dengan menyediakan fasilitas untuk pejalan kaki dan sepeda serta mengurangi kebutuhan akan mobilitas dengan mobil pribadi. Proyek merupakan sebuah bangunan mixed-use di kawasan TOD Blok M yang merupakan kawasan TOD dengan intensitas kegiatan di sekitarnya tinggi, tetapi permukiman sekitarnya masih tergolong permukiman berkepadatan rendah. Analisis permasalahan ini kemudian menghasilkan tiga persoalan, yaitu integrasi fungsi untuk mengurangi mobilitas pengguna sebagai persoalan utama, persoalan tambahan lainnya mengenai lingkungan berbasis transit yang kreatif dan produktif sebagai respon karakteristik kawasan TOD Blok M, serta arsitektur restoratif di kawasan padat penduduk yang sejalan dengan tujuan TOD Blok M, yaitu β€œGreen Creative Hub”.

2024
πŸ‘€ Penulis: Karin Hanasyanila Salma
🏷️ Urbanisasi 🏷️ Hidrologi Kota 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan
πŸ’¬