📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 6 dokumen

ANALISIS POTENSI ENERGI GELOMBANG LAUT DAN ANGIN LEPAS PANTAI DI PESISIR SELATAN JAWA

Pemanasan global mendorong urgensi transisi energi menuju sumber energi baru terbarukan (EBT) sesuai target pemerintah Indonesia, dengan perairan selatan Jawa memiliki potensi EBT yang besar dari gelombang laut dan angin, namun belum dikaji secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik variabilitas spasial-temporal EBT dari energi gelombang laut dan energi angin, serta mengestimasi potensi energi listrik di 12 lokasi perairan selatan Jawa (Pandeglang, Sukabumi, Cianjur, Pangandaran, Cilacap, Kebumen, Yogyakarta, Trenggalek, Tulungagung, Malang, Jember dan Alas Purwo). Kajian ini menggunakan data dari hindcast European Centre for Medium-Range Weather Forecasts 5th Generation (ERA5) selama 35 tahun (1990–2024). Penelitian ini menerapkan analisis distribusi Weibull untuk angin dan joint probability untuk gelombang laut. Hal tersebut dilakukan guna menghitung produksi energi tahunan serta kapasitas faktor perangkat Wave Energy Converter (WEC) dan turbin angin, yang terdiri dari Wave Dragon, Archimedes Waveswing (AWS), Pelamis, dan Haliade-150. Berdasarkan analisis yang dilakukan, perairan selatan Jawa didominasi oleh gelombang swell yang dicirikan oleh periode gelombang 10–14 detik, serta arah datang gelombang dominan dari selatan. Selain itu, hasil analisis menunjukkan bahwa ketersediaan energi tahunan rata-rata sebesar 21,42 kW/m untuk gelombang dan 239,9 W/m2 (0,239 kW/m2) untuk angin. Kemudian mencapai puncaknya pada periode monsun timur (Juni–Agustus) di seluruh lokasi dengan rata-rata sebesar 29,58 kW/m untuk gelombang dan 379,64 W/m2 (0,379 kW/m2) untuk angin. Selain itu, penelitian ini menghitung kapasitas faktor untuk seluruh lokasi dengan rata-rata 21,6% untuk Wave Dragon dan 15,32% untuk Haliade-150. Secara spasial, area perairan Pandeglang merupakan lokasi paling prospektif untuk energi gelombang laut dan angin, hal tersebut ditunjukkan dengan kapasitas faktor mencapai 21,33% dengan alat Wave Dragon dan turbin angin dengan kapasitas faktor mencapai 35,5% dengan alat Haliade-150. Secara umum, penelitian ini menunjukkan bahwa pembangunan EBT di selatan Jawa dengan WEC dan turbin angin cukup menjanjikan pada beberapa lokasi. Hal ini penting guna mendukung langkah pemerintah Indonesia untuk mewujudkan transisi energi berkelanjutan.

2026
👤 Penulis: Andika Mochammad Zidane
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Hidrologi Laut 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Energi

BIODEGRADASI MIKROPLASTIK POLYETHYLENE (PE) OLEH YEAST YANG DIISOLASI DARI KAWASAN PANTAI DI SURABAYA DAN BANYUWANGI, JAWA TIMUR

Pencemaran mikroplastik (MP) pada lingkungan laut, terutama kawasan pantai, telah menjadi perhatian besar dalam beberapa tahun terakhir. Polyethylene (PE) merupakan salah satu sumber utama cemaran MP di lingkungan laut. Yeast ditemukan pada permukaan plastik dan menjadi bagian dari komunitas mikroba yang dapat hidup pada lingkungan tersebut atau dikenal sebagai plastisfer. Hingga saat ini, peran yeast sebagai penyusun plastisfer dalam mendegradasi MP PE belum banyak diungkap. Penelitian bertujuan untuk: (i) menyelidiki kemampuan isolat yeast dalam mendegradasi MP PE berdasarkan uji penapisan; (ii) menyelidiki kemampuan yeast dalam mendegradasi PE berdasarkan penapisan pada sistem kokultur plastisfer air laut; dan (iii) mengidentifikasi peran spesies yeast terbaik dalam biodegradasi PE pada kondisi plastisfer air laut. Penelitian ini menggunakan pendekatan berbasis karakteristik fungsional, molekuler, dan genomik untuk mengkaji kemampuan, model dan pathway biodegradasi PE oleh yeast. Hasil uji penapisan menunjukkan bahwa semua isolat yeast mampu mendegradasi MP PE pada medium cair, dengan persentase penurunan berat kering tertinggi dicapai oleh isolat M6.0.2 dengan nilai sebesar 0,4923±0,1870% pada waktu inkubasi 10 hari. Berdasarkan analisis Scanning Electron Microscope (SEM) dan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) menunjukkan perubahan topografi permukaan serta pembentukan gugus teroksidasi pada PE yang mengindikasikan terjadinya proses degradasi PE. Berdasarkan hasil analisis BLAST dan konstruksi pohon filogenetik, isolat M6.0.2, K3.1.2, BI.4.1.1, M5.0.1, M5.0.3, dan M6.0.1 masing-masing diidentifikasi sebagai Meyerozyma carpophila, Rhodotorula mucilaginosa, Rhodotorula mucilaginosa, Candida tropicalis, Crinitomyces flavificans, dan Moesziomyces antarcticus. Lima isolat terpilih berdasarkan nilai degradasi tertinggi dan ketahanan terhadap salinitas dilanjutkan pada tahap uji plastisfer air laut. Hasil uji penapisan pada sistem kokultur plastisfer air laut non-steril menunjukkan bahwa kokultur lima spesies yeast mampu mendegradasi PE, dengan degradasi tertinggi sebesar 1,61 ± 0,20% dicapai pada jam ke-72 (hari ke-3), yang menunjukkan bahwa yeast dapat berperan sebagai bagian aktif di fase awal inkubasi dari komunitas plastisfer alami. Dominasi Meyerozyma carpophila M6.0.2 dan Candida tropicalis M5.0.1 pada fase planktonik dan biofilm mengindikasikan peran penting kedua spesies tersebut dalam proses kolonisasi dan tahap awal degradasi PE. Perubahan topografi PE serta pembentukan puncak baru mengonfirmasi bahwa proses degradasi telah berlangsung secara cepat pada awal inkubasi dengan pembentukan produk polar dari proses oksidasi, seperti alkohol. Hasil uji penapisan pada sistem kokultur plastisfer air laut steril dengan kosubstrat, degradasi MP PE tetap berlangsung meskipun pada tingkat yang lebih rendah (0,57 ± 0,28%), dengan dominasi Meyerozyma carpophila M6.0.2. Pengujian peran Meyerozyma carpophila M6.0.2 secara tunggal pada kondisi plastisfer air laut menunjukkan bahwa spesies ini mampu mendegradasi PE secara mandiri, dengan capaian persentase degradasi sebesar 0,69± 0,16% atau mampu mencapai sekitar 46% dari tingkat degradasi yang diperoleh pada kondisi plastisfer air laut non-steril. Tahap biofragmentasi berlangsung dominan pada fase awal inkubasi, yang dibuktikan dari tingginya laju degradasi pada hari ke-0 hingga hari ke-4, sedangkan pada periode selanjutnya (hari ke-4 hingga hari ke-10) proses biodegradasi dominan pada fase bioasimilasi. Analisis FTIR dan SEM mengonfirmasi terjadinya degradasi PE melalui perubahan intensitas transmitansi dan kerusakan permukaan PE. Profil metabolik Meyerozyma carpophila M6.0.2 berdasarkan uji Biolog EcoPlate™ menunjukkan bahwa di tahap awal degradasi (hari ke-2 hingga hari ke-4), sel cenderung mensintesis senyawa osmoprotektan dan sumber karbon cepat untuk mengaktifkan serangkaian jalur oksidasi lipid serta degradasi asam lemak, siklus glioksilat dan glukoneogenesis hingga dihasilkan glukosa. Seiring pematangan biofilm (sekitar hari ke-10), terjadi peningkatan kebutuhan energi untuk pembelahan sel dan pembentukan biofilm. Analisis LCHRMS mengonfirmasi terbentuknya berbagai senyawa yang diduga merupakan produk antara dan turunan yang menguatkan dugaan keterlibatan jalur oksidasi alkana dan asam lemak dalam proses degradasi PE. Hasil Whole Genome Sequencing (WGS) menunjukkan bahwa genom M6.0.2 memiliki gen pengkode enzim yang berkaitan dengan degradasi PE, termasuk lakase, peroksidase, Cytochrome P450 52A13; Cytochrome P450 52A12, alkohol oksidase, alkohol dehidrogenase, aldehida dehidrogenase, lipase, dan esterase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Meyerozyma carpophila M6.0.2 prospektif dikembangkan sebagai agen pendegradasi PE dan berpotensi diaplikasikan dalam bioremediasi limbah plastik di lingkungan laut.

2026
👤 Penulis: Nur Hidayatul Alami
🏷️ Hidrologi Laut 🏷️ Kecerdasan Buatan

IDENTIFICATION AND ABUNDANCE OF MICROPLASTIC IN GREYWATER FROM DOMESTIC WASHING OF TEXTILE GARMENTS

Penggunaan plastik yang luas telah menimbulkan kekhawatiran lingkungan, khususnya polusi mikroplastik dari sumber-sumber seperti tekstil sintetis. Partikelpartikel kecil ini, yang dilepaskan selama proses pencucian, membahayakan kehidupan laut dan berisiko bagi kesehatan manusia karena masuk ke dalam rantai makanan. Sampel air bekas cucian untuk analisis mikroplastik dibuat secara buatan untuk meniru kondisi pencucian domestik. Pakaian yang terbuat dari 100% poliester, 100% nilon, dan campuran 65% katun-35% poliester (masing-masing 0,5 kg) dicuci dengan tangan dalam 3 liter air tanpa deterjen, dengan pengadukan manual selama 15 menit. Setelah setiap pencucian, 100 ml air bekas cucian diambil, dan proses ini diulang lima kali, menghasilkan 15 sampel. Sampel kontrol dari air keran juga diambil. Mikroplastik dianalisis menggunakan metode filtrasi tiga tahap yang melibatkan saringan, destruksi kimia, dan filtrasi akhir melalui kertas Whatman GF/C. Partikel mikroplastik diamati dan dihitung menggunakan mikroskop, dikategorikan berdasarkan warna dan bentuk. Nilon menghasilkan mikroplastik terbanyak, diikuti oleh poliester, sementara campuran katun-poliester menghasilkan paling sedikit, karena sifat bahan. Pakaian nilon menghasilkan lebih banyak fragmen mikroplastik karena aksesori dan kemungkinan dari proses manufaktur, sementara sebagian besar mikroplastik yang ditemukan berupa serat. Mikroplastik transparan mendominasi karena proses destruksi, sementara serat berwarna kemungkinan berasal dari sumber eksternal seperti lingkungan.

2025
👤 Penulis: Safira Aryanti Gunawan
🏷️ Microplastik 🏷️ Pencucian Pakaian 🏷️ Hidrologi Laut

PENGUKURAN ULANG TITIK-TITIK REFERENSI SEPANJANG PERBATASAN ZONA EKONOMI EKSLUSIF (ZEE) INDONESIA DAN MALAYSIA

Selat Malaka merupakan perairan yang berada diantara tiga negara, yaitu Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Pada wilayah tersebut, Indonesia dan Malaysia masih memiliki klaim wilayah laut yang tumpang tindih terkait dengan batas Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). Hingga saat ini, permasalahan batas ZEE antara Indonesia dan Malaysia belum terjadi kesepakatan (BIG, 2020). Belum adanya kesepakatan mengenai batas ZEE oleh kedua negara dapat menimbulkan berbagai macam masalah, contohnya adalah sulitnya pemanfaatan sumber daya alam yang ada di area tersebut karena belum jelasnya batas wewenang Indonesia. Selain itu dengan belum jelasnya batas ZEE maka pertentangan dengan Malaysia tentang hak pemanfaatan laut masih dapat terjadi sewaktu-waktu. Oleh karena itu, penetapan batas ZEE kedua negara harus segera dilakukan. Menurut UNCLOS 1982, penetapan batas laut membutuhkan titik-titik dasar dan titik-titik referensi yang akurat agar hasil batas laut juga akurat. Pada penelitian sebelumnya, telah terjadi perubahan posisi garis pangkal dan titik dasar di Pulau Weh sebesar 21 m ke arah laut antara tahun 2017 dan 2022 (Putra, 2023). Oleh karena itu, diperlukan pengukuran ulang titik-titik referensi di wilayah strategis seperti perbatasan ZEE antara Indonesia dan Malaysia. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur ulang titik-titik referensi batas laut sepanjang perbatasan ZEE Indonesia dan Malaysia segmen Selat Malaka. Dengan demikian, diharapkan penelitian ini dapat mengetahui dan memastikan akurasi titik-titik referensi sepanjang perbatasan ZEE Indonesia & Malaysia sehingga tidak merugikan sebelah pihak. Metode yang penulis gunakan dalam pengerjaan tugas akhir ini meliputi perencanaan penelitian, studi literatur, perencanaan pelaksanaan pengambilan data, pengolahan data, analisis data, serta simpulan dan saran. Metode pengukuran posisi titik-titik referensi dilakukan dengan GPS metode statik. Penelitian ini menghasilkan data bahwa terdapat perubahan kordinat titik-titik referensi perbatasan Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) Indonesia & Malaysia segmen Selat Malaka yaitu pada posisi TR 181, TR 182, dan TR 183. Perubahan posisi dibanding dengan data yang ada dalam PP No. 38 Tahun 2002 yang diperbarui dalam PP No.37 Tahun 2008 yaitu TR 181 sejauh 0.418 m, perubahan posisi TR 182 sejauh 67.747 m, dan perubahan TR 183 sejauh 156.315 m. Diharapkan dari penelitian ini dapat memberikan kontribusi dalam penentuan batas laut terutama untuk daerah strategis perbatasan ZEE antara Indonesia dan Malaysia di segmen Selat Malaka.

2024
👤 Penulis: Ikhsan Nurdin
🏷️ Geografi Politik 🏷️ Hidrologi Laut 🏷️ Kartografi Laut

STRUKTUR POPULASI MOBULA THURSTONI DAN PERGERAKANNYA DI EKOSISTEM LAUT MOROTAI, INDONESIA

Morotai adalah salah satu destinasi wisata selam di Indonesia, dikenal sebagai lokasi kemunculan Mobula thurstoni. Demi memperbarui dan menambahkan data sebelumnya, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi struktur populasi M. thurstoni dan pergerakannya. Pengamatan dilakukan mulai 24 Juni hingga 14 September 2021 menggunakan metode Remote Underwater Video (RUV) dan Underwater Visual Census (UVC) yang dilakukan bersamaan dengan pencatatan kondisi lingkungan. M. thurstoni hadir di 11 dari 56 penyelaman saat pagi dan siang hari. Individu yang dijumpai diketahui merupakan individu juvenil dan betina. Lokasi kehadiran dengan terumbu karang yang berbentuk vertikal dan yang serupa terumbu karang penghalang diduga menjadi factor yang berkaitan dengan pergerakan M. thurstoni.

2024
👤 Penulis: Isnaini Tiara Baiti
🏷️ Eksplorasi Populasi 🏷️ Hidrologi Laut 🏷️ Manajemen Sumber Daya Alam

INTENSITAS ARUS LINTAS INDONESIA (ARLINDO) PADA PERIODE HEINRICH STADIAL 1 DI SELAT MAKASSAR MENGGUNAKAN PENDEKATAN FORAMINIFERA PLANKTONIK

Heinrich Stadial 1 (HS 1) merupakan peristiwa deglasial di Atlantik Utara yang terjadi sekitar 18.000-15.000 thl. Pada periode ini terjadi pengurangan volume aliran air hangat permukaan dari wilayah tropis ke utara (Atlantik Utara) sehingga panas terakumulasi di belahan bumi selatan (BBS) dan wilayah tropis termasuk Indonesia. Terhambatnya distribusi aliran air permukaan laut memengaruhi sirkulasi laut dan atmosfer baik regional dan global. Studi ini bertujuan untuk mengetahui kondisi paleoseanografi di Selat Makassar dan melihat hubungan kelimpahan foraminifera planktonik dengan perubahan intensitas Arlindo menggunakan inti sedimen TR1926B (0°13,664' LU dan 117°47,436' BT dari kedalaman 616 m). Analisis proksi foraminifera planktonik dilakukan untuk mengetahui suhu permukaan laut (SPL) dan depth of thermocline (DOT) di jalur utama Arus Lintas Indonesia (Arlindo) saat kondisi ekstrem pada HS 1. Hasil penelitian menunjukkan tren suhu permukaan laut pada HS 1 menghangat. SPL pada HS 1 memiliki rata-rata sebesar 26,22°C, sedangkan kondisi modern memiliki rata-rata 29,17°C. Kondisi DOT berdasarkan analisis foraminifera menunjukkan bahwa foraminifera thermocline dwellers 50-78% dan mixed layer dwellers 21- 49%. Hasil analisis foraminifera memperlihatkan bahwa pendangkalan DOT. Hasil tersebut dikonfirmasi dengan hasil profil vertikal suhu yang menunjukkan adanya pendangkalan 7,5 m dibandingkan modern. Penyebab dari pendangkalan DOT di Selat Makassar adalah fenomena mirip El Niño. Intensitas Arlindo juga diketahui mengalami pelemahan berdasarkan gradien suhu S-N (selatan/south(S) – utara/north (N)). Hasil tersebut didukung tren melemah berdasarkan rekonstruksi proksi arus laut log(Zr/Rb).

2024
👤 Penulis: Niken Sitalaksmi Siagian
🏷️ Paleoklimatologi 🏷️ Hidrologi Laut 🏷️ Analisis Proksi Foraminifera
💬