📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 57 dokumenPERANCANGAN SISTEM PASCAPANEN FILLET IKAN PATIN (PANGASIUS SP.) DENGAN EDIBLE COATING KITOSAN DAN CARBOXYMETHYL CELLULOSE (CMC) UNTUK MEMPERTAHANKAN KUALITAS DAN MEMPERPANJANG UMUR SIMPAN
Industri pengolahan ikan patin (Pangasius sp.) saat ini menghadapi tantangan kritis berupa kehilangan pangan (food loss) pascapanen yang mencapai 35%, akibat degradasi mikrobiologis dan oksidatif yang berlangsung selama proses penanganan dan penyimpanan. Kondisi ini secara langsung menurunkan efisiensi rantai pasok sekaligus membatasi daya saing produk Fillet patin di pasar yang menuntut standar mutu dan keamanan pangan tinggi. Menjawab tantangan tersebut, dirancang sebuah fasilitas pengolahan Fillet patin berkapasitas 120.000 kg/tahun yang secara menyeluruh mengintegrasikan standar Good Manufacturing Practices (GMP), ISO 22000, dan sistem HACCP guna memastikan keamanan, mutu, dan daya saing produk secara berkelanjutan. Sebagai inovasi utama, sistem ini menerapkan active packaging berbasis Edible Coating kitosan–Carboxymethyl Cellulose (CMC). Terpilih melalui analisis matriks keputusan sebagai solusi paling optimal, formulasi ini menghadirkan sinergi antara sifat antimikroba kitosan dan stabilitas mekanik CMC. Efektivitas formulasi ini dibuktikan melalui aktivitas antibakteri sebesar 12,7 mm terhadap Staphylococcus aureus dan 12,6 mm terhadap Escherichia coli, yang mengindikasikan laju deteriorasi produk dapat berjalan lebih lambat sehingga mutu dan daya simpan produk lebih terjaga. Komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan turut diwujudkan melalui penerapan prinsip zero waste industry, di mana seluruh hasil samping produksi dikonversi menjadi produk bernilai tambah, yaitu tepung ikan (fish meal) dan minyak ikan (crude fish oil). Kelayakan finansial perancangan ditentukan melalui analisis investasi dengan total Capital Expenditure (CAPEX) sebesar Rp8.843.085.472. Hasil analisis menunjukkan bahwa perancangan ini layak untuk diimplementasikan, ditunjukkan oleh Net Present Value (NPV) bernilai positif sebesar Rp4.656.760.761, Internal Rate of Return (IRR) sebesar 15,11% yang berada di atas BI-Rate acuan sebesar 5,25%, serta Benefit-Cost Ratio (BCR) sebesar 1,527. Selain itu, diperoleh Gross Profit Margin (GPM) sebesar 33,93%, Return on Investment (ROI) sebesar 10,85%, dan periode pengembalian modal (Payback Period) selama 5 tahun dari total umur proyek 10 tahun. Secara keseluruhan, perancangan sistem ini menunjukkan proposisi bisnis yang teruji secara teknis, berwawasan lingkungan, dan stabil secara finansial, sekaligus menjadi model modernisasi rantai pasok perikanan lokal yang berkelanjutan dan berstandar internasional. Mengingat analisis sensitivitas menunjukkan harga jual produk dan harga bahan baku ikan patin segar sebagai parameter paling kritis terhadap kelayakan proyek, disarankan penerapan strategi mitigasi risiko harga melalui kontrak jangka panjang dengan mitra distribusi dan pemasok, serta validasi lanjutan performa coating pada skala produksi komersial sebelum implementasi penuh.
PERANCANGAN SISTEM PASCAPANEN FILLET IKAN PATIN (PANGASIUS SP.) DENGAN EDIBLE COATING KITOSAN DAN CARBOXYMETHYL CELLULOSE (CMC) UNTUK MEMPERTAHANKAN KUALITAS DAN MEMPERPANJANG UMUR SIMPAN
Industri pengolahan ikan patin (Pangasius sp.) saat ini menghadapi tantangan kritis berupa kehilangan pangan (food loss) pascapanen yang mencapai 35%, akibat degradasi mikrobiologis dan oksidatif yang berlangsung selama proses penanganan dan penyimpanan. Kondisi ini secara langsung menurunkan efisiensi rantai pasok sekaligus membatasi daya saing produk Fillet patin di pasar yang menuntut standar mutu dan keamanan pangan tinggi. Menjawab tantangan tersebut, dirancang sebuah fasilitas pengolahan Fillet patin berkapasitas 120.000 kg/tahun yang secara menyeluruh mengintegrasikan standar Good Manufacturing Practices (GMP), ISO 22000, dan sistem HACCP guna memastikan keamanan, mutu, dan daya saing produk secara berkelanjutan. Sebagai inovasi utama, sistem ini menerapkan active packaging berbasis Edible Coating kitosan–Carboxymethyl Cellulose (CMC). Terpilih melalui analisis matriks keputusan sebagai solusi paling optimal, formulasi ini menghadirkan sinergi antara sifat antimikroba kitosan dan stabilitas mekanik CMC. Efektivitas formulasi ini dibuktikan melalui aktivitas antibakteri sebesar 12,7 mm terhadap Staphylococcus aureus dan 12,6 mm terhadap Escherichia coli, yang mengindikasikan laju deteriorasi produk dapat berjalan lebih lambat sehingga mutu dan daya simpan produk lebih terjaga. Komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan turut diwujudkan melalui penerapan prinsip zero waste industry, di mana seluruh hasil samping produksi dikonversi menjadi produk bernilai tambah, yaitu tepung ikan (fish meal) dan minyak ikan (crude fish oil). Kelayakan finansial perancangan ditentukan melalui analisis investasi dengan total Capital Expenditure (CAPEX) sebesar Rp8.843.085.472. Hasil analisis menunjukkan bahwa perancangan ini layak untuk diimplementasikan, ditunjukkan oleh Net Present Value (NPV) bernilai positif sebesar Rp4.656.760.761, Internal Rate of Return (IRR) sebesar 15,11% yang berada di atas BI-Rate acuan sebesar 5,25%, serta Benefit-Cost Ratio (BCR) sebesar 1,527. Selain itu, diperoleh Gross Profit Margin (GPM) sebesar 33,93%, Return on Investment (ROI) sebesar 10,85%, dan periode pengembalian modal (Payback Period) selama 5 tahun dari total umur proyek 10 tahun. Secara keseluruhan, perancangan sistem ini menunjukkan proposisi bisnis yang teruji secara teknis, berwawasan lingkungan, dan stabil secara finansial, sekaligus menjadi model modernisasi rantai pasok perikanan lokal yang berkelanjutan dan berstandar internasional. Mengingat analisis sensitivitas menunjukkan harga jual produk dan harga bahan baku ikan patin segar sebagai parameter paling kritis terhadap kelayakan proyek, disarankan penerapan strategi mitigasi risiko harga melalui kontrak jangka panjang dengan mitra distribusi dan pemasok, serta validasi lanjutan performa coating pada skala produksi komersial sebelum implementasi penuh.
KAJIAN POTENSI TIMBULAN DAN PENGELOLAAN SAMPAH MENGANDUNG BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN RUMAH TANGGA DI KOTA CIREBON
Kota Cirebon sebagai pusat ekonomi dan jasa di wilayah Jawa Barat bagian timur menghadapi peningkatan timbulan sampah spesifik B3 (SSB3) dan sampah yang mengandung Limbah B3 (SSLB3) akibat pertumbuhan penduduk dan konsumsi rumah tangga. Penelitian ini bertujuan menentukan timbulan, proyeksi, komposisi dan karakteristik, serta mengevaluasi pengelolaan SSB3 dan SSLB3. Metode yang digunakan meliputi penyebaran kuesioner kepada 100 responden (rumus Slovin, tingkat kepercayaan 90%), pengukuran timbulan sampah pada 40 rumah tangga terpilih, observasi lapangan, dan wawancara. Hasil menunjukkan rata-rata timbulan SSB3 dan SSLB3 sebesar 0,0434 kg/orang/hari, dengan timbulan sampah infeksius rumah tangga sebesar 0,0085 kg/orang/hari yang didominasi pembalut bekas dan masker. Proyeksi timbulan meningkat dari 14.620 kg/hari (2021) menjadi 17.935 kg/hari (2030), seiring proyeksi penduduk mencapai 413.240 jiwa. Komposisi sampah kemasan/sisa B3 didominasi obat nyamuk pada aktivitas kamar (35,09%) dan sampah elektronik didominasi kulkas (57,26%). Karakteristik sampah didominasi oleh sifat beracun, infeksius, mudah menyala, korosif, reaktif, dan mudah meledak, dengan baterai, lampu CFL, obat kadaluwarsa, dan elektronik besar tergolong risiko tinggi. Pengelolaan menunjukkan kondisi yang belum optimal: 96,7% masyarakat belum memilah sampah B3 dan belum tersedianya TPS khusus B3. Untuk pengembangan pengelolaan SSB3 dan SSLB3 diperlukan peningkatan regulasi teknis, edukasi masyarakat, dan pengembangan fasilitas sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2020. Kata kunci: Kota Cirebon,
PERANCANGAN PRODUK PENUNJANG PENCEGAHAN PAPARAN ASAP ROKOK PADA ANAK USIA PRA-SEKOLAH DI LINGKUNGAN HUNIAN
Paparan asap rokok pada anak usia prasekolah masih sering terjadi di lingkungan sosial sehari-hari hingga hunian pribadi. Anak usia 3–7 tahun termasuk kelompok rentan karena belum mampu mengontrol lingkungan sekitarnya. Penelitian ini bertujuan merancang produk wearable sebagai micro breathing-zone support untuk membantu mengurangi paparan partikel asap rokok pada area pernapasan anak. Produk dikembangkan menggunakan sistem HEPA filter, micro fan, PM2.5 sensor, LED indicator, vibrator signal, dan herbal comfort layer berupa biji kapulaga. Pendekatan perancangan dilakukan melalui studi literatur, observasi lapangan, benchmarking, studi ergonomi, eksplorasi bentuk, dan pengembangan prototipe. Pendekatan biomimicry diterapkan dengan mengambil inspirasi dari mekanisme pernapasan paus biru (blue whale) melalui blowhole yang mengarahkan udara ke atas menuju area pernapasan. Hasil perancangan berupa wearable device compact dengan airflow system terarah, attachment magnetic necklace, serta pendekatan visual child-friendly dan non-medical. Produk dirancang melalui tiga fungsi utama, yaitu protect, signal, dan comfort, sebagai bentuk preventive support device bagi anak usia prasekolah terhadap paparan asap rokok di lingkungan sehari-hari.
OPTIMALISASI ELEMEN FISIK DAN RAGAM KEGIATAN DALAM MEMBENTUK PERSEPSI PLACE ATTACHMENT PENGUNJUNG TEBET ECO PARK JAKARTA
Ruang Terbuka Hijau (RTH) publik di Jakarta sering dikembangkan dengan fokus pada perluasan kuantitas dan estetika visual, sehingga mengabaikan interaksi psikologis antara ruang dan manusianya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh elemen fisik dan ragam kegiatan terhadap pembentukan persepsi place attachment pengunjung di Tebet Eco Park Jakarta guna merumuskan arahan intervensi spasial. Studi ini memadukan pemetaan keruangan secara empiris dengan pemodelan kausalitas yang mengaitkan aspek psikologi dan arsitektur. Penelitian ini menggunakan metode campura dengan pendekatan deduktif, melibatkan sampel pengunjung yang pernah beraktivitas di Tebet Eco Park dalam kurun waktu enam bulan terakhir. Analisis data dilakukan melalui reduksi dimensi dengan factor analysis, perbandingan karakteristik antarzona dengan one-way ANOVA yang divisualisasikan melalui pemetaan spasial, pemodelan pengaruh antarvariabel dengan regresi linear berganda dan Exploratory Structural Equation Modeling, serta analisis konten kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa place attachment berbeda secara signifikan di setiap area. Zona komunal dan lanskap ekologis mendominasi ikatan emosional, sementara jalur sirkulasi mencatat tingkat keterikatan terendah. Model statistik membuktikan bahwa ketersediaan amenitas dan perabot taman menjadi faktor fisik paling kuat dalam memicu tingginya aktivitas pasif dan rekreasi sosial. Rutinitas rekreasi menetap inilah yang pada akhirnya menumbuhkan ikatan batin pengunjung secara perlahan, sedangkan penyediaan perkerasan keras (hardscape) yang berlebihan justru menurunkan tingkat kenyamanan. Arahan intervensi spasial disusun secara menyeluruh melalui pemerataan fasilitas dasar dan penyesuaian desain spesifik yang merespons karakter tiap zona. Penelitian ini memberikan wawasan penting bahwa identitas emosional suatu ruang kota tidak muncul seketika dari keindahan arsitekturalnya, melainkan terbangun dari kelengkapan fasilitas taman inklusif yang mampu mewadahi interaksi sosial secara berkelanjutan.
ARSITEKTUR EMOSIONAL PADA FASILITAS KEDUKAAN INKLUSIF DI KOTA TANGERANG SELATAN: MENERJEMAHKAN KONSEP MONO NO AWARE KE DALAM RUANG
Diversitas demografi Kota Tangerang Selatan belum diimbangi dengan ketersediaan fasilitas kedukaan integratif yang mampu mengakomodasi keberagaman praktik persemayaman, sekaligus mendukung kebutuhan emosional individu yang berduka. Oleh karena itu, proyek ini merancang sebuah fasilitas kedukaan inklusif terintegrasi di Kota Tangerang Selatan dengan pendekatan arsitektur emosional sebagai upaya menjawab kebutuhan ruang kedukaan yang bersifat universal, kontemplatif, dan adaptif. Konsep mono no aware diterapkan sebagai landasan utama perancangan untuk menerjemahkan kesadaran akan kefanaan ke dalam pengalaman ruang, sehingga tiap tahapan perjalanan mampu membangkitkan proses emosional dari kesedihan, kontemplasi, hingga penerimaan. Pendekatan arsitektur naratif turut digunakan untuk menyusun rangkaian ruang yang merepresentasikan perjalanan batin manusia dalam menghadapi kehilangan, sedangkan prinsip inklusivitas diwujudkan lewat penyediaan program ruang yang mampu mengakomodasi praktik kedukaan beragam agama, kepercayaan, dan etnis. Kriteria perancangan meliputi aspek temporalitas, ritme spasial, kehalusan kontemplatif, respons indrawi-emosional, dialog dengan alam, dan inklusivitas, yang dikaji melalui metode studi literatur, observasi lapangan, analisis tapak, serta eksplorasi desain konseptual. Hasil perancangan berupa fasilitas kedukaan terpadu yang tidak hanya menjawab keterbatasan penyediaan fasilitas kedukaan di Kota Tangerang Selatan, tetapi juga menghadirkan lingkungan yang mendukung proses berduka melalui pengalaman arsitektural yang membantu manusia dalam memahami, mengolah, dan menerima kehilangan sebagai bagian dari siklus kehidupan mortal.
ANALISIS DAMPAK PAJANAN PM2.5 TERHADAP KESEHATAN PEKERJA PANDAI BESI DI DESA MEKARMAJU, KECAMATAN PASIRJAMBU, KABUPATEN BANDUNG
Industri pandai besi merupakan sektor informal yang berpotensi menghasilkan pencemaran udara berupa partikulat halus PM2.5 dari proses pembakaran dan penempaan logam. Paparan PM2.5 secara terus-menerus dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan dan penurunan fungsi paru pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsentrasi PM2.5 di lingkungan kerja, menghitung nilai intake dan risiko kesehatan pekerja, serta menganalisis pengaruh intake PM2.5 terhadap fungsi paru pekerja pandai besi di Desa Mekarmaju, Kabupaten Bandung. Penelitian menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL). Pengukuran konsentrasi PM2.5 dilakukan menggunakan alat PurpleAir PA-II pada beberapa titik lokasi kerja. Subjek penelitian terdiri atas 20 pekerja pandai besi dan 10 responden kontrol. Analisis statistik dilakukan menggunakan uji ANCOVA dengan pengendalian variabel usia, berat badan, lama kerja, dan status merokok. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata konsentrasi PM2.5 sebesar 101,82 µg/m³, melebihi baku mutu PM2.5 berdasarkan Permenkes RI No. 2 Tahun 2023 sebesar 25 µg/m³. Sebagian besar pekerja memiliki nilai Hazard Quotient (HQ) > 1 yang menunjukkan adanya potensi risiko non-karsinogenik. Hasil uji ANCOVA menunjukkan bahwa intake PM2.5 berpengaruh signifikan terhadap rasio FEV1/FVC setelah dikontrol oleh variabel kovariat (p<0,05). Selain itu, berat badan juga menunjukkan pengaruh signifikan terhadap rasio FEV1/FVC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan intake PM2.5 berpotensi menurunkan fungsi paru pekerja pandai besi. Upaya pengendalian diperlukan melalui peningkatan ventilasi, penggunaan alat pelindung diri (APD), dan pemantauan kualitas udara secara berkala.
ANALISIS PERUBAHAN DENSITAS RESERVOIR MENGGUNAKAN INVERSI MICROGRAVITY TIME-LAPSE DI LAPANGAN KAMOJANG
Penelitian ini bertujuan menganalisis perubahan densitas bawah permukaan akibat dinamika fluida reservoir dengan membandingkan anomali gravitasi periode Juni– November 2006 dan Juni 2006–Juli 2007, serta menafsirkan perubahan massa zona reservoir melalui pemodelan inversi 3D data Time-Lapse Microgravity (TLM) di Lapangan Panas Bumi Kamojang. Data gravitasi observasi yang telah dikoreksi, beserta informasi penurunan tanah (subsidence) dan perubahan muka air tanah, diolah menjadi Anomali Bouguer Lengkap (CBA), kemudian dianalisis menggunakan Radial Average Power Spectrum (RAPS) untuk mengestimasi kedalaman tren regional dan residual sekitar 1.350 m dan 568 m, yang selanjutnya dipisahkan dengan filter Moving Average jendela 35×35. Selisih anomali antarperiode digunakan sebagai TLM dan dimodelkan dengan inversi 3D berbasis blok menggunakan pendekatan Occam-D pada perangkat lunak Grablox–Bloxer, dengan F-option (FOPT) = 1 sebagai konfigurasi optimum. Peta TLM memperlihatkan dominasi anomali negatif pada kedua interval (sekitar 0,05 hingga ?0,16 mGal dan 0,081 hingga ?0,16 mGal), yang merepresentasikan defisit massa akibat produksi, sedangkan anomali positif yang bersifat lokal dan lebih jelas pada interval 12 bulan ditafsirkan sebagai indikasi penambahan massa terkait injeksi atau recharge. Hasil inversi menunjukkan dominasi perubahan densitas negatif dengan rata-rata penurunan densitas sekitar ?0,028 gr/cm³ dan ?0,024 gr/cm³, namun tetap muncul zona densitas positif lokal yang terlokalisasi sepanjang struktur utama berarah NE–SW dan NW–SE, mencerminkan respons reservoir terhadap kombinasi aktivitas produksi dan injeksi di Lapangan Panas Bumi Kamojang.
STUDI FURNITUR HEMAT RUANG PADA HUNIAN SEMPIT DI JAKARTA UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS HIDUP PENGHUNI
Seiring dengan perkembangan ekonomi Indonesia, berkembanglah juga populasi Indonesia (BPS Sulawesi Utara, 2022). Dengan bertambahnya populasi, maka kebutuhan hunian juga akan terus bertambah. Namun, dengan bertambahnya hunian, maka ruang yang ada untuk hunian juga akan berkurang. Maka dari itu, hunian di Indonesia perlu dibuat lebih padat, namun tanpa mengurangi kualitas hidup. Untuk membantu dalam hal tersebut, Indonesia perlu menggunakan furnitur hemat ruang (space saving furniture) pada skala yang cukup luas untuk mengantisipasi kekurangan ruang yang akan terjadi karena bertambahnya populasi. Namun, furnitur hemat ruang masih belum sering digunakan pada hunian di Indonesia. Penelitian ini akan bertujuan untuk mengetahui alasan dari kurangnya penggunaan furnitur penghemat ruang, dari sisi finansial, budaya, dan estetik, serta memberikan rekomendasi dalam bentuk contoh desain furnitur hemat ruang yang disesuaikan dengan keperluan hunian Indonesia.
KARAKTERISASI LOGAM BERAT DALAM FRAKSI RESPIRABLE PARTICULATES PADA SISWA SEKOLAH DASAR DI JAKARTA TIMUR
Pajanan respirable particulate matter (RPM) mengandung logam berat berpotensi menimbulkan dampak kesehatan pada anak-anak. Penelitian ini bertujuan mengkarakterisasi logam berat dalam fraksi RPM serta menilai risiko kesehatan lingkungan pada siswa Sekolah Dasar A (SD-A) dan swasta (SD-B) di Jakarta Timur. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan personal air sampling pump dengan cyclone yang merepresentasikan fraksi RPM, analisis unsur menggunakan ED-XRF, serta penentuan massa partikulat melalui metode gravimetri terkoreksi. Terdapat 14 jenis logam dalam RPM yang teridentifikasi dalam penelitian ini, yaitu Al, Si, S, K, Ca, Ti, V, Cr, Mn, Fe, Cu, Zn, As, dan Pb, dengan proporsi komposisi serupa di kedua sekolah dan Ca sebagai kontributor terbesar. Rata-rata total pajanan logam per anak lebih tinggi di SD-A (8,9×10-3 mg/m3 ) dibandingkan SD-B (3,8×10- 3 mg/m3 ), dengan konsentrasi setiap logam konsisten lebih tinggi pada SD-A. Risiko kesehatan dievaluasi menggunakan Hazard Quotient (HQ) dan Excess Cancer Risk (ECR). Hasil menunjukkan bahwa unsur dengan HQ aman (Si, Al, S, Ti, Ca, K, dan Fe) terutama berasal dari emisi lalu lintas, debu jalan, dan aktivitas konstruksi yang merepresentasikan sumber latar perkotaan dan unsur kerak bumi sehingga diperlakukan sebagai kontribusi unsur latar. Sebaliknya, unsur dengan HQ tidak aman (Pb, Cr, As, Mn, Cu, Zn, dan V) menunjukkan keterkaitan kuat dengan aktivitas industri lokal, khususnya di sekitar SD-A, sehingga diidentifikasi sebagai pencemar utama yang berkontribusi terhadap peningkatan risiko kesehatan. Seluruh risiko karsinogenik berada dalam batas aman (ECR ?10??). Hasil pengukuran spirometry menemukan gangguan restriktif dominan pada SD-A, dengan gangguan obstruktif hanya terdapat pada SD-B. Berdasarkan analisis korelasi, pada SD-A peningkatan CDInk (Chronic daily intake non-karsinogenik) total lebih sering berkaitan dengan kecenderungan gangguan restriktif, sedangkan pada SD-B lebih sering berkaitan dengan gangguan obstruktif. Pada SD-A, jarak tempuh yang lebih pendek cenderung muncul pada kategori restriktif, sementara pada SD-B jarak tempuh yang lebih jauh lebih sering berkaitan dengan kategori restriktif. Korelasi antara Cpajanan dan faktor meteorologis juga bervariasi, dengan pola yang lebih jelas pada SD-A.
KAJIAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN OTONOMI DESA DI INDONESIA: STUDI KASUS PROGRAM TEKNOLOGI SMART FARMING DI DESA CIBODAS
Semenjak era reformasi di tahun 1999, desa di Indonesia ditetapkan menjadi daerah otonomi untuk mengembangkan lokalitas desa berupa asal-usul desa, adat istiadat, prakarsa Masyarakat yang sudah terbentuk dan melekat di desa sejak dulu. Bersamaan dengan itu, perkembangan teknologi digital dalam revolusi industri 4.0 dirujuk sebagai arah pembangunan global untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi perekonomian. Arah pembangunan global di adopsi menjadi kebijakan pembangunan di Indonesia yang mengarah ke desa, salah satunya kebijakan digitalisasi desa. Di sisi lain, kebijakan digitalisasi desa berpotensi mengganggu kebijakan otonomi desa itu karena kebijakan agenda global yang berasal dari luar diterapkan di desa dapat membentuk berbagai aspek dari perdesaan itu sendiri, seperti aspek sosial, budaya, teknologi, dan sebagainya. Kajian dilakukan terhadap teknologi smart farming di Desa Cibodas dalam program desa digital dengan analisis Multi-Level Perspective untuk melihat transisi dari praktik digitalisasi yang terjadi di Desa Cibodas dan implikasi kebijakan digitalisasi desa terhadap kebijakan otonomi desa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keberadaan teknologi digital di Desa Cibodas merubah arah pembangunan desa ke arah pembangunan teknologi digital. Hal ini dibuktikan dengan semakin banyak masyarakat yang berurusan dengan teknologi digital sehingga menggeser aktivitas utama Desa Cibodas yang sudah melekat selama berabad-abad dan kebijakan pembangunan berbasis agenda global tanpa mempertimbangkan unsur lokalitas desa menggeser konsep otonomi desa di Indonesia.
ANALISIS KONSENTRASI PM2.5 DI DALAM RUANG KELAS SEKOLAH DASAR DI JAKARTA TIMUR
Studi ini menganalisis konsentrasi PM?.? di dalam ruang pada dua sekolah dasar di Jakarta Timur dengan strategi ventilasi yang berbeda, yaitu ventilasi alami dan ventilasi mekanis. Pengukuran PM?.?, suhu, kelembapan, tingkat hunian, dan rasio bukaan ventilasi dilakukan secara kontinu untuk mengkarakterisasi pola konsentrasi serta mengidentifikasi faktor-faktor dominan yang memengaruhinya. Ruang kelas dengan ventilasi alami di Sekolah A menunjukkan konsentrasi PM?.? yang lebih tinggi dan lebih bervariasi, dengan nilai rerata per jam umumnya berkisar antara 30–50 µg/m³ serta puncak yang jelas pada pagi dan tengah hari selama jam sekolah. Konsentrasi pada koridor semi-terbuka menunjukkan pola temporal yang serupa, yang mengindikasikan pengaruh kuat dari sumber luar ruang. Sebaliknya, ruang kelas dengan ventilasi mekanis di Sekolah B mempertahankan konsentrasi PM?.? yang lebih rendah dan lebih stabil, umumnya berada pada kisaran 12–24 µg/m³ sepanjang hari. Analisis korelasi Spearman dan regresi linear berganda menunjukkan adanya perbedaan faktor pengendali PM?.? pada masingmasing rezim ventilasi. Di Sekolah A, konsentrasi PM?.? terutama dipengaruhi oleh rasio bukaan ventilasi dan kedekatan dengan sumber emisi luar ruang, sedangkan di Sekolah B, rasio hunian muncul sebagai prediktor utama. Rasio dalam–luar (I/O) di Sekolah A lebih tinggi dan lebih bervariasi dibandingkan Sekolah B, yang menunjukkan infiltrasi PM?.? dari luar ruang yang lebih besar pada kondisi ventilasi alami. Temuan ini menunjukkan bahwa strategi ventilasi sangat memengaruhi paparan PM?.? di dalam ruang pada sekolah dasar di kawasan perkotaan.
STUDI DESAIN KAWASAN RAMAH ANAK UNTUK MENDUKUNG PERJALANAN AKTIF BERDASARKAN PERSEPSI SISWA SEKOLAH DASAR (KASUS STUDI: KELAS 4 SDN 200 LEUWIPANJANG, KOTA BANDUNG)
Penurunan praktik Active School Travel (AST) atau perjalanan aktif ke sekolah menjadi fenomena global yang juga terjadi di Indonesia, meskipun kebijakan zonasi pendidikan telah diterapkan untuk mendekatkan jarak tempat tinggal siswa. Penelitian ini didasari oleh permasalahan di SDN 200 Leuwipanjang, Kota Bandung, di mana potensi keterjangkauan spasial di kawasan permukiman padat terhambat oleh rendahnya kualitas ruang yang tidak mendukung keselamatan anak. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan rekomendasi desain kawasan ramah anak yang dapat meningkatkan perjalanan aktif, dengan menjadikan persepsi dan pengalaman subjektif siswa kelas 4 sebagai dasar utama kajian. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran (mixed-methods) dengan strategi sekuensial eksploratori. Fase kualitatif melibatkan observasi, Focus Group Discussion (FGD), Story Map, dan Sticker Voting untuk menggali persepsi anak terhadap lingkungan mereka. Fase kuantitatif dilakukan melalui Visual Preference Survey (VPS) dengan desain Pre-test dan Post-test untuk menguji efektivitas rekomendasi desain yang dianalisis menggunakan Uji Wilcoxon Signed-Rank. Hasil penelitian mengidentifikasi terbentuknya hierarki kebutuhan mobilitas anak, di mana aspek keselamatan dan keamanan dari ancaman lalu lintas serta lingkungan menjadi fondasi mutlak sebelum aspek kenyamanan dan keindahan. Berdasarkan temuan tersebut, dirumuskan intervensi desain yang mencakup penerapan Zona Selamat Sekolah (ZoSS) komprehensif, pemisahan jalur pejalan kaki visual (at-grade separation) pada jalan lingkungan, transformasi gang sempit menjadi ruang aman, serta penyediaan fasilitas Park 'n' Stride dan Pocket Park. Hasil uji validasi menunjukkan bahwa rekomendasi desain tersebut secara statistik signifikan (p < 0.05) mampu meningkatkan persepsi positif anak terhadap keamanan dan kenyamanan kawasan, dengan dampak peningkatan tertinggi tercatat pada intervensi di area gang. Studi ini menyimpulkan bahwa intervensi infrastruktur mikro yang responsif terhadap persepsi anak sangat krusial dalam menciptakan lingkungan yang mendukung keberlanjutan perjalanan aktif di kawasan permukiman padat perkotaan.
ANALISIS BACKSCATTERING COEFFICIENT CITRA ENVISAT ASAR UNTUK IDENTIFIKASI TUMPAHAN MINYAK (OIL SPILL)
Sebagian besar polusi minyak yang diakibatkan oleh manusia terjadi di darat, tetapi perhatian publik serta peraturan yang ada cenderung fokus pada kejadian tumpahan minyak di laut. Dalam pengelolaan tumpahan minyak di laut, salah satu tahapnya adalah tahapan identifikasi tumpahan minyak dimana dibutuhkan metode yang paling tepat untuk dapat mengindentifikasi suatu tumpahan minyak secara efektif. Penginderaan jauh menggunakan sensor microwave aktif dari ENVISAT ASAR dapat digunakan untuk melakukan identifikasi terhadap tumpahan minyak. Pada tugas akhir ini penulis melakukan identifikasi tumpahan minyak menggunakan citra ENVISAT ASAR single polarization (VV) dengan cara melihat karateristik secara visual dari bentuk tumpahan minyak serta melihat nilai backscatter dari bentuk-bentuk tersebut. Citra ENVISAT ASAR yang telah mengalami reduksi speckle noise dan dikoreksi geometrik kemudian diidentifikasi secara visual dan dianalisis backscattering coefficient-nya. Dari hasil penelitian ini diperoleh bahwa metode analisis visual menggunakan sensor RADAR untuk mengidentifikasi tumpahan minyak dapat dilakukan karena sensor RADAR memiliki keunggulan dapat beroperasi tanpa dibatasi kondisi cuaca dan waktu akuisisi, selain itu diperoleh pula nilai backscatter dari tumpahan minyak yang pada penelitian ini adalah -18 dB sampai -23 dB.
PEMANFAATAN SIG UNTUK ANALISIS KARAKTERISTIK POLA PERUBAHAN LANDUSE DAN LANDCOVER DI JAWA BARAT
Seiring dengan perkembangan zaman, kebutuhan manusia dalam peningkatan kualitas hidup termasuk lahan semakin meningkat dari waktu ke waktu sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan kegiatan sosial yang menyertainya. Peningkatan tersebut mendorong terjadinya perubahan penggunaan lahan dari waktu ke waktu. Jawa Barat sebagai salah satu wilayah provinsi terbesar di Indonesia dengan pertumbuhan penduduk serta aktivitas ekonomi yang terus meningkat telah mengalami perubahan fungsi lahan yang cukup besar seiring dengan waktu. Untuk mengetahui perubahan LULC yang terjadi tersebut diperlukan suatu teknologi yang memberikan informasi mengenai lahan di Jawa Barat. Salah satu teknologi yang dapat memberikan sumber informasi perubahan lahan di suatu wilayah adalah citra satelit wilayah yang sama dari berbagai tahun. Akan tetapi, perbandingan data citra tersebut kadang menimbulkan masalah antara lain adanya perubahan yang hampir tidak mungkin tejadi seperti bangunan menjadi hutan. Salah satu metode analisis yang dapat digunakan untuk menganalisis data spasial adalah analisis berbasiskan Sistem Informasi Geografis (SIG). SIG memiliki kemampuan melakukan analisis dengan menggunakan data spasial. Selain itu, SIG mampu melakukan analisis terhadap beberapa data, salah satunya adalah perbandingan dua buah data LULC. Pada penelitian kali ini, akan dilakukan analisis terhadap data land use Jawa Barat 2005 dan 2010 yang bersumber dari citra satelit Landsat. Proses analisis tersebut meliputi pengolahan data LULC, verifikasi data menggunakan software Google Earth, analisis data serta uji statistik data dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian Tugas Akhir ini adalah indeks perubahan LULC Jawa Barat tahun 2005-2010.