📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 2 dokumenPERANCANGAN SISTEM ELEKTRIFIKASI KAPAL NELAYAN DENGAN BOAT-MOUNTED PV DAN SHORE CHARGING BERBASIS PV DI ATAPUPU, KABUPATEN BELU, NUSA TENGGARA TIMUR
Nelayan kecil di wilayah pesisir timur Indonesia masih bergantung pada mesin tempel bensin yang biaya operasionalnya tinggi dan pasokannya sulit di daerah terpencil. Tugas akhir ini merancang sistem propulsi elektrik untuk kapal nelayan 1 GT di perairan Atapupu, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, sebagai alternatif yang memanfaatkan potensi surya wilayah tersebut. Perancangan mencakup pemodelan lambung, penentuan kapasitas propulsi, sistem boat-mounted photovoltaic, dan verifikasi stabilitas. Lambung kapal dimodelkan dari nol menggunakan Maxsurf Modeler dengan dimensi LOA 6,6 m, lebar 1,2 m, tinggi 0,73 m, dan sarat 0,48 m, sehingga bentuknya dapat dioptimalkan langsung untuk kondisi operasi lokasi. Kebutuhan daya propulsi dihitung dari hasil simulasi resistansi metode Holtrop yang dikoreksi sea margin 15%, menghasilkan daya puncak transit 2,220 kW pada kecepatan jelajah 5 knot dan kebutuhan energi harian 5,316 kWh. Sistem menggunakan motor PMSM AIQIDI E3 2,6 kW dengan baterai propulsi LiFePO? Bonnen 48 V 400 Ah (16,384 kWh usable), serta boat-mounted PV berupa satu unit panel CIGS SNMH200W 200 Wp yang memenuhi beban auxiliary harian 246 Wh dengan rasio produksi 3,02 kali kebutuhan pada kondisi iradiasi terburuk. Energi auxiliary disimpan dalam baterai Kepworth 12,8 V 25 Ah melalui MPPT Lumiax Win20. Hasil simulasi Maxsurf Stability pada kondisi muatan penuh menunjukkan GM? sebesar 0,181 m yang positif, sehingga penambahan seluruh komponen elektrifikasi tidak mengganggu stabilitas melintang kapal. Sistem yang dirancang memenuhi profil operasi harian nelayan dengan kebutuhan propulsi ditopang pengisian di darat dan beban auxiliary dipenuhi secara mandiri oleh panel surya kapal.
ASAL-USUL SOLAR PROTON EVENT (SPE) PADA SIKLUS MATAHARI KE-24 (2009-2019)
Solar Proton Event (SPE) merupakan peristiwa melonjaknya fluks atau intensitas pro ton dari partikel energetik Matahari (Solar Energetic Particle / SEP). Partikel energe tik Matahari berasal dari partikel yang dihasilkan dari mekanisme percepatan. Pada studi-studi yang sudah dilakukan, mekanisme percepatan partikel energetik Matahari diyakini berkaitan dengan fenomena eruptif di Matahari yaitu ledakan Matahari (flare) dan lontaran massa korona (CME). SPE memiliki dampak besar pada cuaca antariksa, yang dapat mengakibatkan gangguan pada magnetosfer Bumi atau terjadinya badai ge omagnetik. Oleh karena itu, diperlukan studi mengenai parameter-parameter dari flare dan CME yang dapat memengaruhi SPE. Hal ini dapat digunakan untuk mengetahui asal-usul partikel energetik, mekanisme percepatan partikel, dan propagasinya di ruang antarplanet menuju ke Bumi. Pada tugas akhir ini, digunakan dataset SPE pada siklus Matahari ke-24 (2009 2019) yang berjumlah 99 SPE dengan fluks maksimum proton lebih dari 1 pfu. Dataset ini terdiri dari data parameter SPE dan juga fenomena eruptif yang terkait dengan SPE (flare dan CME). Dari dataset tersebut, dilakukan distribusi pada data untuk melihat karakteristik SPE pada siklus ke-24, dilakukan juga analisis statistik yaitu regresi linear, korelasi pearson, dan principal component analysis (PCA) untuk mengetahui korelasi antar parameter. Setelah itu, dilakukan analisis beberapa SPE yang merupakan outlier dari hasil analisis statistik untuk dianalisis parameter lain yang terlibat. SPEpada siklus ke-24 didominasi oleh gradual SPE dengan fluks proton yang cen derung rendah. Dari hasil analisis statistik, diperoleh bahwa kecepatan CME menjadi parameter yang paling berkorelasi dengan parameter SPE, terutama fluks maksimum proton. Hasil analisis kasus SPE juga menemukan pengaruh yang kuat dari gelombang kejut yang dihasilkan dari CME terhadap SPE.