📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 3 dokumen

PERANCANGAN CONCEPT ART ANIMASI FANTASI ”REMPAYU” SEBAGAI UPAYA REVITALISASI CITRA JAMU UNTUK GENERASI Z (18-25 TAHUN)

Jamu merupakan warisan budaya Indonesia yang memiliki nilai historis, filosofis, dan kesehatan, namun saat ini mengalami krisis citra di kalangan Generasi Z. Dominasi budaya global dan minimnya representasi visual jamu dalam media digital menyebabkan jamu dipersepsikan sebagai produk kuno, tidak praktis, dan kurang relevan dengan gaya hidup modern. Penelitian ini bertujuan untuk merancang concept art animasi fantasi berjudul “Rempayu” sebagai strategi revitalisasi citra jamu melalui pendekatan Desain Komunikasi Visual. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui studi literatur, wawancara dengan pakar etnofarmakologi dan praktisi kreatif, serta analisis preferensi visual Generasi Z. Perancangan dilakukan menggunakan kerangka Double Diamond Design Process yang mencakup tahap riset, pengolahan insight, ideasi, dan prototyping. Hasil perancangan berupa visual style guide yang mengintegrasikan filosofi jamu ke dalam world-building animasi fantasi dengan gaya visual estetis dan naratif. Penelitian ini menunjukkan bahwa concept art animasi fantasi memiliki potensi sebagai media komunikasi visual yang efektif untuk merevitalisasi citra jamu dan memperkuat keterhubungan Generasi Z dengan budaya lokal.

2026
👤 Penulis: Rebecca Beatta Diarina Marbun
🏷️ Desain Komunikasi Visual 🏷️ Hidrologi Tradisional 🏷️ Kreativitas Digital

PELESTARIAN WARISAN BUDAYA TAKBENDA RITUAL MAPAG TOYA DI GIANYAR BALI BERBASIS ARSIP NARASI VISUAL DIGITAL

Ritual Mapag Toya adalah tradisi budaya agraris yang masih terjaga oleh masyarakat Hindu Bali dalam tata kelola pengairan tradisional di subak yang diakui sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO. Tradisi praktik budaya Ritual Mapag Toya dicirikan oleh kekuatan mitos dan simbol yang mengandung nilai luhur serta makna relasi harmonis manusia, alam, dan Sang Pencipta sebagai manifestasi konsep Tri Hita Karana (parhyangan, pawongan, palemahan) untuk mencapai keseimbangan alam semesta, kebahagiaan kesejahteraan, kebahagiaan, dan kemakmuran (jagadhita) melalui unsur air dan padi. Ritual Mapag Toya saat ini masih terjaga untuk tetap dilaksanakan sebagai tradisi namun di sisi lain generasi muda masyarakat Bali mulai terimbas modernisasi sehingga berdampak pada pola pikir dan perilaku ke arah modern dan ekonomis, memberikan dampak kepunahan subak karena alih fungsi lahan, ketersediaan air bersih yang terbatas, kerusakan lingkungan, kurangnya minat generasi muda untuk bekerja sebagai petani, serta memengaruhi pesan yang terkandung dalam praktik budaya Ritual Mapag Toya seiring berjalannya waktu hingga saat ini. Ritual Mapag Toya dalam konteks warisan budaya takbenda, saat ini menjadi penting untuk dilestarikan karena pengetahuan tradisional semakin sulit dipahami dengan masifnya penyerapan budaya global melalui kemudahan akses pada teknologi informasi. Perlunya mengkomunikasikan kembali pengetahuan tradisional praktik budaya Ritual Mapag Toya beserta nilai-nilai pemuliaan air sebagai upaya transmisi pengetahuan kepada generasi penerus melalui pengarsipan secara digital. Pengarsipan digital praktik budaya Mapag Toya mencakup ritual, simbol, dan mitos dengan proses remediasi berbasis Narasi Visual Digital Mitografi untuk memberikan pemahaman yang lengkap tentang nilai-nilai yang direfleksikan dalam praktik Ritual Mapag Toya kepada generasi muda masyarakat Bali.

2024
👤 Penulis: Maria Josef Retno Budi Wahyuni
🏷️ Arsitektur Subak Hindu Bali 🏷️ Hidrologi Tradisional 🏷️ Pengkomunikasian Budaya Digital

VISUALISASI FESTIVAL TANABATA DENGAN PEMANFAATAN LIMBAH KAIN PRODUKSI SPREI

Tanabata Matsuri merupaka festival tradisional Jepang yang dirayakan berdasarkan legenda tentang dua kekasih, Orihime dan Hikoboshi, terinspirasi oleh Festival Qixi di Tiongkok yang menceritakan kisah cinta antara gadis penenun dan pengembala sapi. Kedua kekasih tersebut dipisahkan oleh Raja Langit dan hanya diizinkan untuk bertemu setahun sekali pada tanggal 7 bulan 7 penanggalan lunar, yang diperingati sebagai Festival Qixi dan Tanabata. Festival ini juga dikenal sebagai Kikkoden atau "Festival memohon keterampilan". Pada festival Tanabata, masyarakat memiliki tradisi untuk menuliskan permohonan pada kertas Tanzaku yang berwarna-warni dan diikatkan pada ranting bambu. Selain itu suasana festival terasa lebih megah dan indah berkat berbagai dekorasi yang dipajang sepanjang jalanan kota hingga ruangan, dekorasi tersebut dinamai Nanatsu no Kazari. Dekorasi ini terbuat dari kertas warna-warni yang dibentuk menjadi berbagai bentuk yang indah. Sayangnya keindahan dekorasi festival tersebut hanya dapat disaksikan di jepang, dan setelah festival berlalu, kebanyakan dekorasi tersebut dibuang atau dibakar sebagai persembahan (Anna, 2021). Penulisan tugas akhir ini bertujuan untuk memvisualkan suasana Festival Tanabata dengan memanfaatkan kain limbah produksi sprei dan metode upcycling sehingga dapat menjadi objek estetika serta instalasi pada ruangan yang dapat memberikan kesempatan kepada orang luar yang tidak bisa menikmati festival tersebut secara langsung untuk bisa menikmati atmosfernya melalui instalasi. Adapun penggunaan kain limbah produksi sprei diharapkan dapat menjadi upaya upaya untuk memperpanjang masa pakai dari kain tersebut.

2024
👤 Penulis: Adila Nurkhalida
🏷️ Visualisasi Seni 🏷️ Manajemen Limbah 🏷️ Hidrologi Tradisional
💬